Kamis, 21 November 2013

Marah



Malam itu saya emosi. Marah besar. Kata-kata pedas menghambur, seperti air bah yang melumat semua benda yang ada di hadapannya. Ketika marah, maka saya akan marah sepenuh hati. Tak ada istilah marah setengah hati dalam kamus kehidupan saya. Mungkin bedanya ada di levelisasi marah. Ada marah yang bisa dikompromikan, ada marah yang cukup disimak dan didengarkan. Saat marah, maka saya akan bicara tentang kerangka kemarahan saya, kenapa saya sampai marah, hal apa yang dapat meredam kemarahan saya, dan kapan kemarahan saya akan mereda, dan sebagainya dan semacamnya.

Saya tak suka marah saya disela. Meski tak semua kemarahan itu harus diwakili dengan kata-kata. Kadang dengan lisan yang terdiam, mimik wajah yang mengeras dan pandangan mata yang tajam. Saya sebenarnya tak suka memvisualisasikan kemarahan. Adapun visualisasi yang nampak itu ketika marah saya ada di level terendah. Ketika marah saya masih bisa dikompromikan dan digunting-sana-sini-kan. Ketika marah itu memuncak dan meledak, maka saya akan diam.

Usia pernikahan kami belum seberapa. Masih seumur jagung. Masih belia. Pun dengan usia aktual kami berdua, kami berdua masih belia. Kami masih muda ketika biduk ini mulai kami kayuh bersama. Tak jarang kami bertengkar. Saya marah kepada istri. Istri marah kepada saya. Bila dikomparasi, mungkin saya yang lebih banyak marah ketimbang istri saya. Tak ada awal yang mudah, karena saya tak suka kemarahan saya dijawab dengan kata-kata. Cukup diam dan tak perlu menjawab saat saya marah, begitu ujar saya kepadanya, suatu hari ketika suasana hati kami berdua sedang nyaman.

Istri saya juga suka marah. Saya hafal betul dengan mimik wajahnya, getaran suaranya, intonasi kata-katanya, dan kapan air bening itu akan mulai menggenang di pelupuk matanya ketika marah itu datang, lalu menghebat. Tapi di luar itu semua, istri saya adalah perempuan ke dua yang paling sabar ngopeni saya setelah ibu. Ibu adalah perempuan pertama yang paling bisa mengerti isi kepala dan dada saya. Sangat wajar, karena darah, keringat, dan air matanya telah menggarami saya mulai lahir hingga saat ini.

Terkadang ada marah yang perlu diselesaikan, tak jarang ada marah yang hanya perlu didiamkan dan berlalu seiring berjalannya waktu, lalu terlupa seiring bertambahnya usia. Saya adalah pemarah yang cepat, tapi maaf saya lebih cepat datang sebelum marah saya reda. Seusai marah, saya akan menyesali kemarahan saya, menyesali kata-kata pahit yang kadung saya oleskan ke hatinya, menyesali pandangan tajam yang menusuk relung jiwanya, dan menyesali keheningan yang harusnya pecah dengan renjis tawa. Lalu saat malam mulai larut dan ketiga putri saya sudah terlelap tidur, maka dimulailah fase rekonsiliasi kami berdua yang tak jarang berakhir dengan pelukan hangat atau gelora hasrat.

Terima kasih atas pesanggrahan jiwamu, tempat hati ini tetirah ketika lelah. [wahidnugroho.com]


Kilongan, November 2013 

Rabu, 25 September 2013

Nametag


Nametag berwarna kuning muda dengan gambar foto saya berlatar merah itu sempat saya pandangi lama-lama ketika saya kali pertama kali menerimanya beberapa tahun yang lalu, gak lama setelah saya mulai berkantor di instansi ini. Pada bagian atas, terdapat tulisan Departemen Keuangan RI, lalu diikuti dengan Direktorat Jenderal Pajak, dan ada nama saya, Wahid Nugroho, tertulis jelas di bawah foto jaman kuliah silam. Sementara di baliknya ada data diri saya, seperti nama, nomor induk pegawai, jabatan, unit kerja, dan sebagainya. Ada perasaan campur aduk saat itu. Antara percaya dan tidak, ketika itu saya telah resmi “diakui” sebagai bagian dari keluarga besar Direktorat Jenderal Pajak.

Saya langsung teringat wajah bapak, mamak, adek, dan orang-orang yang telah menghantarkan saya sampai pada titik tersebut (saya gak bisa sebutin satu-satu karena saking banyaknya). Titik ketika saya telah resmi menjadi (calon) buruh negara di sebuah kementerian yang, konon kabarnya, cukup mentereng itu. Sebelumnya, saya nggak pernah ngimpi jadi buruh negara, bil khusus di instansi ini. Dulu ketika saya kelas 3 SMA, almarhum bapak pernah nawarin saya untuk jadi Polisi Pamong Praja, dulu bapak bilangnya Kamtib, di Pemda DKI, tempat dimana almarhum bapak mengabdi sampai pensiun. Tawaran itu tidak saya iyakan dan tidak saya tolak. Menjadi buruh negara ketika itu belum menjadi agenda hidup saya.

Tapi yang namanya garis hidup manusia emang kadang misterius dan gak bisa ditebak kemana arahnya. Ia mengalir seperti air yang melewati sela-sela bebatuan, menyelusup di antara semak dan dedaunan. Sesulit apapun rintangan yang ada di hadapannya, air selalu mencari jalan lain untuk mencari titik dimana ia akan bermuara dan bergabung bersama milyaran tetes air lainnya yang mengalir dari titik yang berbeda-beda. Saya pun diterima di Sekolah Tinggi Akuntansi Negara, di spesialisasi Prodip III Perpajakan pada tahun 2003 silam, dan berhasil lolos dengan nilai memprihatinkan tiga tahun kemudian. Ketika memandangi nametag pertama saya kala itu, bahkan hingga telah berganti nametag beberapa kali sampai sekarang, saya masih belum percaya kalau saya benar-benar telah menjadi seorang buruh negara di instansi yang konon antara jumlah lovers dan hatersnya nyaris seimbang itu.

Saya sadar, kalo saya ini bukan pegawai yang baik. Prestasi kerja saya nyaris nggak ada. Saya pernah membolos ngantor beberapa kali, kualitas pekerjaan saya, well, biasa-biasa aja. Kadang saya lalai dengan tugas yang diberikan ke saya, kadang juga saya menunda-nunda pekerjaan yang seharusnya cepat selesai. Jangan heran kalau pangkat saya sejak enam tahun yang lalu nyaris tak pernah beranjak naik, karena saya memang nggak berminat mengurusnya. Liat aja DUPAK saya yang selalu tertunda diajukannya, atau dosir kepegawaian saya yang terbengkalai. See? Saya ini hanya buruh negara yang biasa-biasa saja.

Meski begitu, saya merasa bangga telah menjadi bagian dari keluarga besar Direktorat Jenderal Pajak. Dengan segala kekurangan yang saya miliki, instansi ini telah begitu berbaik hati memberikan segenap fasilitasnya kepada saya, walau kadang saya merasa bahwa saya tidak pantas mendapatkannya bila dibandingkan dengan apa yang telah saya berikan kepada instansi ini. Meski begitu, saya sendiri nggak bisa jamin apakah saya akan terus berada di instansi ini sampai akhir masa pengabdian kelak. Entahlah, ada banyak sekali kecamuk yang mondar-mandir di kepala saya terkait masa depan yang masih kabur itu. Kecamuk yang saya sendiri masih belum bisa menerjemahkannya dengan jelas. Saya nggak ngerti soal itu semua. Tapi saya akan belajar untuk mengerti dan memahaminya.

Satu hal yang pasti, keberadaan saya di instansi ini telah membanggakan kedua orang tua saya. Saya ingat sekali dengan cerita mamak ketika almarhum bapak menerima uang dari saya yang jumlahnya “hanya” sekian rupiah itu beberapa saat sebelum beliau meninggal dengan wajah berbinar dan penuh rasa bangga. “Uang itu disimpan di dompetnya, selalu dilihat-lihat olehnya dan nyaris nggak pernah digunakan sampai beliau meninggal”, kenang mamak dengan wajah dibasahi air mata kepada saya pada suatu malam.

Semalam saya memandangi kembali nametag berwarna kuning itu, menyesap tumpukan kenangan yang mendesak-desak di memori saya saat menggunakannya dalam berbagai kesempatan: ngantor, dinas luar, diklat, atau sekedar nampang ke swalayan sepulang ngantor. Jadi inget pas jajan di salah satu toko di Luwuk dan koh pemilik toko langsung melambaikan tangannya dan memasang wajah ramah kepada saya, padahal itu adalah kali pertama saya jajan di tokonya. Usut punya usut ternyata sebabnya adalah nametag kuning yang masih terpasang di saku kiri kemeja saya hahaha...

Ah, nulis apa aku ini..? [wahidnugroho.com]


Banggai Laut, September 2013 

Senin, 16 September 2013

Aurat Anak



Mbak Azka dan Ci Fidel, putri pertama dan ke dua saya, sedang bermain di teras rumah. Semua mainan dari dalam rumah dikeluarkan dan dihambur di teras yang tidak terlalu luas itu. Sementara adik bungsu mereka, Gendis, melihat kedua kakak perempuannya yang sedang asyik bermain dari arah pintu yang dipasangi pele-pele papan. Saat bermain, ketiga anak perempuan saya tidak mengenakan jilbab mungil mereka yang berhamburan di nyaris seluruh sudut rumah. Entah kenapa, saya justru merasa malu ketika melihat ketiga putri saya tidak memakai jilbab saat mereka bermain di luar rumah, even cuman di teras. Beginikah perasaan orangtua yang punya anak perempuan?

Saya tidak tahu secara saya masih orangtua kemaren sore, nubitol pakingsit dalam urusan kayak beginian.

Itulah sebabnya saya selalu menyampaikan kepada istri, bahwa anak-anak kita semuanya perempuan. Karena mereka perempuan, maka kita harus mendidik mereka untuk menjadi muslimah yang baik. Membiasakannya dengan hal-hal baik, mengajarinya hal-hal yang laik untuk dilakukan, dan memberitahunya hal-hal yang perlu dihindari sembari menjelaskan alasan-alasannya kenapa hal-hal itu perlu untuk dihindari. Salah satu tema besar yang selalu menjadi concern kami dari awal adalah soal membiasakan anak untuk menutup aurat.

Mereka memang masih sangat kecil, bahkan masih tergolong balita. Tapi saya merasa bahwa pembiasaan untuk menjaga aurat itu perlu dimulai dari sekarang. Biar saja orang lain mau komentar apa soal kebijakan ini, tapi saya merasa bahwa pembiasaan ini perlu untuk ditanamkan dalam benak anak-anak sedini mungkin. Bahwa ketika mereka di luar rumah, maka boleh melepas jilbab. Namun ketika ada temanya yang datang, seperti anak lelaki tetangga yang kerap datang mengaji ke rumah kami, maka mereka harus memakai jilbabnya. Pun ketika bermain di luar rumah, seperti di teras misalnya, atau ketika jalan bareng umminya ke warung, maka jilbab harus melekat erat di atas kepalanya dan dijulurkan sampai ke dada.

Pembiasaan ini memang bukan hal yang mudah. Yang namanya anak-anak pun kadang pengennya ngelakuin hal yang simpel dan ribet. Apalagi dengan kondisi lingkungan, such as oma dan mbahnya yang gak gitu care soal ini, serta kondisi ortu lain yang justru mengumbar aurat putri-putri mereka dengan menggunakan pakaian-pakaian yang minim bahan. Tapi saya dan istri berusaha untuk tidak bosan-bosannya mengingatkan mereka untuk menutup auratnya ketika keluar rumah dan tetap bergeming dengan excuse apapun yang hadir di telinga kami.

Perkara menjaga aurat anak bisa jadi bagi sebagian orang adalah perkara remeh, sehingga mereka melakukan pembiaran dan pemakluman terhadap anak-anaknya, entah itu lelaki atau perempuan. Tapi bagi saya dan istri, ini adalah perkara yang besar. Ini adalah perkara penting yang harus kami jaga dan perhatikan sebaik-baiknya, karena ini adalah urusan martabat dan salah satu cara mengukur harga diri mereka sebagai seorang muslimah di masa depan kelak.

Semoga usaha kecil ini mendapatkan kemudahan dari Allah dan semoga Allah sentiasa menjaga anak-anak kita. Amin. La haula walaa quwwata illa bilaah. [wahidnugroho.com]


Kilongan, September 2013 

Jumat, 13 September 2013

Pillow Talk



Pillow Talk, itu bukan berarti ngomong sama bantal, bukan juga ngomongin bantal dan segala problematikanya yang bisa jadi nggak penting-penting banget. Pillow Talk, menurut saya, adalah salah satu momen paling intim yang perlu dimiliki oleh tiap-tiap pasangan suami istri. Kenapa saya bilang intim? Ya karena omongan ini hanya beredar di antara suami dan istri aja.

Temanya lumayan beragam dan kadang nggak fokus. Mulai dari kerjaan di kantor, hal-hal sepele di perjalanan, gak terkecuali ngomongin orang lain. Kadang juga ngomongin hal-hal yang berbau, err gimana meredaksikannya ya, seks gitu (aih malu), kadang juga ngomongin soal masa depan anak-anak, atau ngevaluasi pribadi pasangan masing-masing, dan gak jarang obrolan ini berujung pada, duh jadi nggak enak nih nulisnya hehehe, hubungan suami istri.

Lho, kenapa ada istilah “nggak jarang berakhir dengan hubungan suami istri”? Karena ketika kita (kita?) lagi Pillow Talk, nggak mungkin lah ngelakuinnya sambil tidur terentang dan mandangin langit-langit rumah yg polos dan tangannya diem aja. Ya paling nggak Pillow Talk itu dilakuin sambil saling memeluk tubuh satu sama lain, membelai-belai rambutnya yang harum, meremas-remas jemarinya yang halus, memijat-mijat, bahkan sampai menyentuh bagian-bagian intim dari pasangan kita masing-masing dan nggak jarang berakhir dengan... halah terusin sendiri deh....

Hais, jadi pengen cepet pulang hehe..

Pillow Talk ini bisa jadi semacam ritual rutin yang dimiliki oleh pasangan suami istri, tak terkecuali mereka yang menjalani Long Distance Relationship atau LDR. Bedanya, mereka yang menjalani LDR hanya bisa bersua lewat udara dan kulit tubuh mereka tidak bisa saling menyapa (ahay).

Saya pribadi suka mengawali tidur malam kami dengan Pillow Talk. Ketika anak-anak sudah tidur semuanya, kendaraan sudah dikandangkan, dan hal-hal lain sudah diselesaikan, atau ditunda untuk diselesaikan keesokan harinya, mulailah kami berdua ngobrol. Obrolan itu kadang berdurasi panjang, kadang singkat kalo pas lagi capek. Kadang saya banyak berbicara sampai istri saya tertidur, lalu saya kembali meja kerja saya di kamar tengah dan nerusin kerjaan saya. Kadang saya duluan yang tertidur ditemani elusan lembut istri di kepala saya.

Momen ini gak jarang menjadi momen of truth. Kadang saya bisa menggali informasi rahasia dari istri saya, sambil saling berjanji untuk tidak saling membocorkannya, tapi istri saya boleh dibilang jarang banget mampu menggali informasi rahasia dari saya hehe... Nggak adil ya? Saya nggak tau kalo ini benar atau salah, tapi saya selalu punya prinsip bahwa Jujur itu bukan berarti mengatakan segala-galanya. Jadi ketika saya berkata jujur kepada siapapun, itu bukan berarti saya telah mengatakan segala yang saya tahu kepadanya. Orang bilang itu namanya Rahasia Lelaki. Bahwa setiap lelaki di atas muka bumi ini pasti punya rahasia yang bahkan pasangannya sendiri tidak mengetahuinya. Rahasia tentang apa? Saya nggak tau dan nggak tertarik untuk tau hehe...

Yang pernah baca cerita Profumo Affair-nya Christine Keeler feat John Profumo pasti tau lah, mengapa Pillow Talk bisa jadi momen of truth. Jadi si Christine ini adalah seorang agen rahasia Sovyet yang menyamar sebagai pelacur di Inggris dan berhasil menguak rahasia-rahasia negara ketika doi lagi ngamar (halah bahasanya) bareng Menteri Pertahanan Inggris ketika itu yang bernama John Profumo. Makanya skandal ini disebut Profumo Affair, secara kalo nama menhan Inggris itu Joko pasti namanya bakalan jadi Joko Affair hehe (nggak lucu). Bagi Anda yang suka nonton film-film holiwud, kadang ada adegan-adegan ketika sang agen (perempuan/lelaki) berhasil mendapatkan informasi berharga saat mereka lagi beradegan syur dengan sumber informasinya (hayoo, sering nonton film James Bond dan semacemnya kan? Hehe).

Lho kok jadi ngelantur gini ya?

Ehem. Jadi inti dari tulisan ini adalah bahwa bagaimanapun permasalahan hidup berumah-tangga mendera hari-hari kita, sehingga kita jadi capek, stress, pusing, dan tekanan batin dibuatnya, selalu ada cara untuk menetralisir semua permasalahan itu sebelum diselesaikan satu demi satu. Cara itu adalah Pillow Talk. Karena kadang tidak semua masalah harus diselesaikan kecuali dengan dibicarakan. Ada hal-hal yang mengganjal dan tak kunjung menguap hanya karena tidak dibicarakan/diungkapkan/disampaikan. Dan bila sepasang suami istri sudah jarang memprioritaskan waktu mereka untuk bicara dari hati ke hati, melepaskan ego-ego sepele dan hal-hal nggak penting, maka tunggu saja bom waktu bernama prahara rumah tangga yang gak jarang berujung pada perceraian, na’udzubillahi min dzalik. Makanya sampe ada iklan sebuah produk minuman yang menggunakan tagline Mari Bicara. Karena hidup kita saat ini sudah sangat gaduh dan padat, sehingga momen-momen intim yang limited edition with unlimited action itu, iykwim, sudah sangat sulit didapatkan.

Selaku suami, saya merasa sentuhan dan perhatian yang diberikan istri saat Pillow Talk ibarat selimut yang diberikan Khadijah r.a kepada Nabi Muhammad saw ketika beliau baru saja menerima wahyu di Gua Hira. Rasulullah yang gemetar dan ketakutan dengan apa yang baru saja dialaminya, langsung merasa tenang ketika ada sosok istri yang menetralisir kegundahan hatinya. Seperti seorang anak yang ketakutan dan langsung merasa tentram ketika ia melihat ada sosok orangtua di sisinya. Tak heran bila sahabat sekelas Umar ra yang begitu keras dan tegas pernah berkata, “Jadilah kalian seperti anak-anak di hadapan istri kalian.”

So, let’s talk. [wahidnugroho.com]


Kilongan, September 2013 

Minggu, 28 Juli 2013

Ayah Muda



Menjadi ayah di usia muda adalah satu dari sekian banyak pilihan dalam hidup. Pilihan yang, menurut saya, nggak mudah. Sulit, sudah pasti. Dan dilematis. Di saat lingkungan terkini yang kebanyakan tidak mengajarkan bagaimana menjadi orang yang bertanggungjawab, menjadi ayah di usia yang masih rentan dengan godaan untuk lari dari tanggungjawab tentunya membawa tantangan tersendiri.

Saya adalah salah satunya. Terkadang, ketika melihat teman sebaya di luar sana yang masih asyik-masyuk dengan hingar-bingar dunia muda, saya pun hanya sibuk di rumah, mengganti celana putri saya karena mengompol atau pup. Atau ketika beberapa kolega berbicara tentang gadget terkini yang hendak dibeli, saya pun hanya menyibukkan diri dengan nutrisi apa yang akan saya berikan untuk anak tercinta saya. Di sisi lain, ada yang sibuk dengan urusan percintaan konyol yang tak kunjung berujung. Atau menggombal tak jelas di forum-forum dunia maya, maupun nyata.

Sebagian ada yang mengkritik saya. Gaji – alhamdulillah cukup – besar, pekerjaan prestisius (pegawai pajak prestisius ya?), dan seabrek fasilitas hidup yang bisa saya dapatkan dengan – cukup – mudah justru saya “tinggalkan” demi menghidupi sebuah keluarga kecil, yang pastinya akan mengandung banyak permasalahan yang nggak ringan. Ah, setiap pilihan  pastilah mengandung resiko. Saya hanya ingin mengambil pilihan dengan resiko ternikmat, meski itu melelahkan. Ya, saya akui, menjadi kepala di dua keluarga pada usia muda memang tidak mudah. Dan melelahkan.

Tapi saya tidak menyesal. Saya malahan bersyukur. Saya bersyukur, Allah telah menyelamatkan hidup saya dua kali. Pertama, ketika saya memutuskan untuk menikah di usia muda. Dan kedua, ketika Allah menakdirkan saya menjadi ayah di usia muda. Mungkin, jika Allah berkehendak lain, entah apa yang sedang saya lakukan di luar sana. Mungkin saya sedang asyik mengikuti khayalan-khayalan liar yang “lazim” terjadi di usia muda. Mungkin. Siapa tahu?

Dan, saya hendak menyampaikan apresiasi saya kepada ayah-ayah muda yang rela menukar usia muda mereka, usia suka-suka, dan usia gaya-gaya mereka dengan tumpukan cucian kain berbau pesing. Dengan tangisan dan rengekan di tengah malam buta. Dengan kegugupan dan kepanikan yang kerap menerpa ketika permasalahan membentur kemudaan yang minim pengalaman. Dan sebagainya.

Menjadi ayah di usia muda adalah sebuah karunia. Karunia untuk mampu bertanggungjawab di masa-masa yang “menggoda”. Meskipun untuk bisa menjadi laki-laki yang bertanggungjawab tidak harus harus menjadi ayah terlebih dulu. Namun setidaknya, tanggungjawab laki-laki yang berposisi sebagai seorang ayah, sudah pasti, tidak bisa disamakan dengan tanggungjawabnya seorang laki-laki lajang terhadap dirinya sendiri – saja.

Semoga Allah membalas amal kita semua dengan sebaik-baik balasan. Baik dunia maupun akhirat. Amin.[wahidnugroho.com]


Maaf, bila ada yang kurang berkenan. Penulis baru saja menjadi ayah
Maahas, April 2009

Sabtu, 13 Juli 2013

Menakar Keberpihakan Kita Dalam Prahara Mesir



Dengan semakin meluasnya dukungan atas presiden Mesir yang dikudeta oleh militer, Muhammad Mursi, dari beberapa pemimpin negara lain, seperti Perdana Menteri Turki recep Tayyip Erdogan, maka pagi ini saya membuka-buka buku Asbabun Nuzul karangan Imam Jalaluddin As Suyuthi pada bagian asbabun nuzul surat Ar Ruum dan mendapati sesuatu yang menarik di sana.

Ketika masa-masa awal kenabian, ada dua imperium besar yang menguasai dunia dan saling bertarung untuk menancapkan pengaruhnya ketika itu yakni Imperium Romawi dan Imperium Persia. Dalam sebuah pertarungan di awal abad ke 7, tersiar kabar bahwa pasukan Persia berhasil mengalahkan Romawi dan berhasil merebut Palestina ketika itu. Kabar kemenangan pasukan Persia ini pun sampai juga ke tanah Arab yang ketika itu tengah bergulat dengan kehadiran seorang laki-laki yang mengaku sebagai Nabi terakhir bernama Muhammad bin Abdullah.

Saat kabar kemenangan itu tersiar di tanah Haram, maka banyak orang-orang kafir Quraisy yang mengolok-olok kaum muslimin dengan berkata bahwa kerabat kalian telah dikalahkan oleh kerabat kami. Apa maksud dari olok-olok ini? Untuk diketahui bahwa orang-orang Persia merupakan penyembah api, mereka merupakan paganis yang dalam istilah islam disebut sebagai musyrikun sedangkan orang-orang Romawi menganut agama Nasrani yang disebut sebagai Ahlul Kitab dan karenanya diidentikan dengan pendahulu ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Sebagaimana orang-orang Quraisy yang juga menganut paganisme, yang karenanya sering disebut dalam buku-buku sejarah sebagai Musyrik Quraisy atau Kafir Quraisy, maka kemenangan kawan “seaqidah” mereka di Persia atas lawan mereka Romawi yang Ahlul Kitab merupakan bukti atas kebenaran pemahaman pagan mereka atas ajaran Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad. Maka tidak heran ketika kekalahan Romawi atas Persia itu pun sempat menyedihkan kaum muslimin dan kabar ini sempat diabadikan di bagian awal surat Ar Ruum yang berbunyi:

“Alif Laam Miin. Telah dikalahkan Bangsa Romawi, di negeri yang terdekat dan mereka setelah kekalahannya itu akan menang, dalam beberapa tahun (lagi). Bagi Allah-lah urusan sebelum dan setelah (mereka menang). Dan pada hari (kemenangan bangsa Romawi) itu bergembiralah orang-orang yang beriman.” [Ar Ruum 1-5]

Kabar tentang kemenangan Romawi sebagaimana yang disebutkan dalam surat Ar Ruum itu pun akhirnya tersiar juga ketika Rasulullah dan para sahabatnya tengah menjalani Perang Badar. Kabar kemenangan Romawi inilah yang ditunggu-tunggu oleh kaum muslimin sehingga mereka pun turut bergembira karenanya.

Kita mungkin akan mengerutkan dahi karena heran, kenapa kemenangan bangsa Romawi yang Ahli Kitab itu harus membuat kita gembira? Padahal apa urusannya kita orang Islam dengan para Ahli Kitab itu sehingga kita harus bergembira dengan kemenangan mereka?

Ini karena kedekatan aqidah antara Islam dengan Nasrani yang perbedaannya, menggunakan redaksi King Negus di Habsyi, ibarat sehelai rambut. Memang ada banyak perbedaan yang runcing antara Islam dan Nasrani, tapi itu tidak menjadikan keberpihakan kita terhadap mereka menjadi hilang dan menguap begitu saja. Memang perlu ada kajian yang lebih mendalam tentang status ke-Ahli Kitab-an orang-orang Nasrani saat ini, tapi bukan itu yang ingin saya bahas. Itulah sebabnya, Rasulullah merasa bergembira ketika mendapati kabar kemenangan Romawi atas Persia dan, dalam sebuah riwayat yang dhaif, ada ketidaksukaan yang terbit dari wajah Rasulullah ketika mengetahui bahwa kekalahan Romawi menjadi dalih olok-olok Pagan Quraisy atas orang-orang Islam.

Hari ini, kita bangsa Indonesia, disajikan sebuah drama kudeta yang sangat vulgar dan amoral yang sedang terjadi di bumi Kinanah Mesir. Drama yang dalam perjalanannya melengserpaksakan seorang presiden yang terpilih secara demokratis dan konstitusional, tanpa melalui jalur perebutan kekuasaan berdarah, bernama Muhammad Mursi. Drama kudeta yang mengakibatkan membanjirnya korban jiwa yang tak sedikit dan lebih banyak lagi korban yang luka-luka. Drama kudeta yang telah merampas hak-hak kemanusiaan untuk berpendapat dan menyiarkan fakta dengan cara memberangus kantor-kantor media. Maka sebagai bangsa yang besar, yang mengakui bahwa kemerdekaan adalah hak semua bangsa, dan karenanya unsur-unsur penindasan dan penjajahan harus dihapuskan dari muka bumi, telah menjadi blueprint kebangsaan kita, yang bahkan dalam perjalanan kelahiran bangsa ini pun telah berhutang budi begitu banyak kepada Mesir karena pengakuan mereka terhadap kedaulatan negara ini, adalah sebuah keharusan bagi kita untuk turut mendukung Mursi dalam prahara ini. Dukungan kita mungkin bukan dukungan ideologis, tapi lebih karena dukungan kemanusiaan, akal sehat, dan hak asasi manusia. Itulah landasan keberpihakan kita kepada mereka, dan karena alasan itulah doa-doa yang khusyuk meluncur dalam shalat dan zikir kita untuk kebaikan negara itu dan orang-orang yang tinggal di negerinya.

Maka akan sangat heran bilamana masih ada orang yang gembira dengan kudeta militer di Mesir hanya karena yang dikudeta adalah orang yang berbeda pemahaman dan ideologi dengannya. Adalah sangat disayangkan bila dari lisan orang-orang Islam sendiri mengatakan bahwa kudeta itu akibat kesalahan metode orang-orang Ikhwan dalam memperjuangkan keyakinan mereka.

Maka, inilah wujud keberpihakan saya kepada perjuangan orang-orang Ikhwan di Mesir dan para pendukung Mursi meski saya tidak punya ikatan tanah air dengan mereka, meski saya tidak pernah bertemu dan berinteraksi dengan mereka. Karena ikatan ideologis sebagai seorang muslimlah saya melakukan pembelaan-pembelaan ini. Karena keberpihakan secara aqidah lah saya mendukung dan mendoakan kebaikan untuk mereka semua. Semoga Allah memberikan kemenangan untuk pendukung Mursi dan memberikan mereka kekuatan untuk memperjuangkan hak-hak mereka yang telah dirampas secara menjijikan oleh kaum oposan yang dahulu, ironisnya, justru merupakan anjing penjaga demokrasi yang paling setia. [wahidnugroho.com]


Muspratama, Juli 2013

Jumat, 12 Juli 2013

Tadabbur: Menjadi Kaya



Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah disediakan untuk hamba-hambaNya dan rezeki yang baik-baik? Katakanlah, “Semua itu untuk orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, dan khusus (untuk mereka) pada hari kiamat. Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu untuk orang-orang yang mengetahui. [QS Al A’raaf 32]

Akhir-akhir ini, atau mungkin juga pendapat ini sudah berlangsung sejak lama, saya merasa bahwa menjadi seorang muslim yang kaya itu adalah sebuah kesalahan. Saya merasa bahwa menjadi kaya bukan bagian dari ajaran agama yang agung ini. Agama ini, bagi sebagian orang, menghendaki pemeluknya untuk menjadi golongan fakir miskin. Mereka, sebagian orang itu, menilai bahwa menjadi orang fakir dan miskin lebih terhormat ketimbang menjadi orang kaya. Sekian kisah dari masa lalu pun mereka gelontorkan demi menguatkan pendapat itu. Ada kisah mas kawin Ali r.a yang hanya berupa cincin besi, atau rumah Rasulullah yang nyaris tanpa perabot, serta kisah Umar r.a yang tidur beralaskan pelepah kurma hingga membekas di kulitnya.

Barangkali mereka lupa, bahwa buku-buku sirah Rasulullah sebagian besarnya membahas tentang perang, dimana perang-perang itu membutuhkan dana yang tak sedikit. Barangkali mereka lupa, bahwa para sahabat generasi awal yang berasal dari kalangan budak banyak yang dibebaskan secara cuma-cuma oleh Abu Bakar r.a dengan harta yang dimilikinya. Kita juga ingat dengan kisah dibelinya sumur orang Yahudi oleh Utsman r.a untuk diwakafkan kepada kaum muslimin. Kita mungkin ingat dengan mas kawin Rasulullah kepada Khadijah r.a yang sangat fenomenal bagi seorang pemuda berusia dua puluh lima tahun yang menikahi seorang janda biliuner ketika itu: onta merah, yang bila diibaratkan hari ini seperti membeli sebuah mobil Ferrari seri terbaru dengan harga termahal.

Atau barangkali mereka belum pernah mendengar kisah sahabat Abdurrahman bin ‘Auf r.a, yang merupakan salah satu milyarder di zamannya, yang pernah memberikan santunan kepada veteran perang Badar masing-masing sebesar 400 dinar, dimana jumlah veteran yang disantuni adalah sebanyak seratusan orang, yang bila dijumlahkan ke dalam kurs rupiah saat ini maka nilai santunannya adalah sebesar Rp. 48 Milyar? Belum lagi dengan kisah-kisah sedekah beliau yang lain yang bila dijumlah dengan kurs rupiah saat ini hanya akan membuat kepala kita bergeleng dan lidah kita berdecak kagum. Pertanyaanya, apakah semua infak dan sedekah yang dikeluarkan oleh Abdullah bin ‘Auf membuatnya miskin?

Mari kita baca kisah ini.

Dengan begitu banyak yang diinfaqkan di jalan Allah, ketika beliau meninggal pada usia 72 tahun beliau masih juga meninggalkan harta yang sangat banyak yaitu terdiri dari 1000 ekor unta, 100 ekor kuda, 3,000 ekor kambing dan masing-masing istri mendapatkan warisan 80.000 Dinar. Padahal warisan istri-istri ini masing-masing hanya ¼ dari 1/8 (istri mendapat bagian seperdelapan karena ada anak, lalu seperdelapan ini dibagi 4 karena ada 4 istri). Artinya kekayaan yang ditinggalkan Abdurrahman bin Auf saat itu berjumlah 2,560,000 Dinar atau sebesar Rp 3.072 trilyun untuk kurs uang Rupiah.

Maka tak heran bila penduduk Madinah kala itu berkata tentang sosok Abdurrahman bin ‘Auf ini:

“Seluruh penduduk Madinah berkepentingan dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, sepertiga untuk membayari hutang-hutang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada mereka.”

Maka kita lihat saat ini sebagian besar pemeluk agama ini begitu alergi dengan kekayaan. Mata mereka akan mendelik dan pikiran kotor mereka akan segera menghantui bila melihat satu dua sahabat sesama muslimnya memiliki harta yang berlebih lagi berlimpah. Prasangka mereka akan membusuk ketika melihat sahabat sesama muslimnya memiliki barang-barang yang, katakanlah, berkategori mewah, padahal barang itu dibeli dengan uang yang berasal dari usahanya sendiri dan tidak meminta serta merugikan siapapun. Siapakah kita yang berhak menentukan mana yang boleh dan yang tidak boleh untuk dibelanjakan oleh sahabat kita dengan uangnya sendiri?

Ada banyak hal yang ingin saya tulis, tapi saya cukupkan sampai di sini dulu. Semoga Allah menguatkan sendi-sendi perekonomian kita dengan harta yang baik, melimpah lagi berkah. Amin. [wahidnugroho.com]


Muspratama, Juli 2013 

Rabu, 10 Juli 2013

Untitled

Hujan deras yang baru saja membasuh bumi yang berjelaga perlahan makin mereda meski awan gelap masih menggantung di langit. Antrean kendaraan semakin padat ketika matahari di ufuk barat makin merendah. Lampu-lampu gedung perkantoran sudah mulai dinyalakan sejak beberapa jam yang lalu ketika hujan deras itu turun. Asap dari knalpot mobil-mobil lawas yang berderet di jalan mulai memenuhi udara dan menyesakkan dada. Beberapa pengendara motor tampak ada yang terbatuk sedangkan yang lainnya nyaris tak terpengaruh dengan kondisi oksigen yang mulai menipis. Seorang pengendara vespa tampak menepi dan membuka helm antiknya yang berwarna putih bergaris biru di bagian tengahnya, menyeka dahinya yang berdebu dengan sebuah sapu tangan lusuh, mengambil air mineral yang terpasang di bawah stang, dan meneguknya barang satu dua kali tegukan lalu memasang kembali helm di kepalanya dan kembali melanjutkan perjalanannya. Seorang perempuan tua bertampang kotor dengan anak kecil yang tak kalah kotornya sedang mengemis di persimpangan dekat sebuah warung tenda bertuliskan Warung Sate Madura Cak Tejo yang tampak ramai dengan pengunjung.

Seiring rona langit yang makin menggelap, Jalal mengeluarkan motor Honda Win lawasnya dari deretan motor yang menyesaki tempat parkir di basement kantor. Bekas wudhu yang melekat di wajahnya masih terlihat jelas. Ia baru saja menunaikan shalat Maghrib bersama teman-temannya di Mushola basement. Jalal merapihkan letak jaket kulit yang warnanya sudah memudar di badannya itu, lalu memanggul ransel ke punggungnya dan memasang masker di wajah lelahnya. Setelah menstarter motornya beberapa kali dan gagal hidup, Jalal merundukkan kepalanya. Tangan kirinya lalu menggeser panel bensin yang ada di bawah tangki motornya dan kembali mencoba menstarter motor antiknya itu. Berhasil. Setelah menyapa satpam yang berjaga di bagian depan tempat parkir dan mengarah ke luar, Jalal melajukan kendaraannya ke jalanan yang berangsur sepi dengan kecepatan rendah. Rinai gerimis mulai jatuh kembali dari langit yang hitam. Malam ini nyaris tak ada angin yang sudi bertiup meski hanya sekejap.

Setelah melewati perempatan yang ramai, Jalal membelokkan arah motornya ke sebuah jalan kecil demi menghindari kemacetan di ruas jalan protokol di depan sana, yang meski sudah malam tetap saja dipenuhi antrean kendaraan. Terdengar suara guntur dari langit yang diikuti dengan jatuhnya rintik-rintik air hujan yang makin lama makin deras. Jalal kemudian menepikan motornya ke samping sebuah warung tenda yang berada di dekat kantor polisi dan berniat untuk meneduh di situ. Ketika masuk ke dalam warung, Jalal hanya mendapati dua orang lelaki yang sedang makan soto serta seorang bapak tua yang menyambutnya dengan senyum terkembang. Bagi bapak tua itu, tampaknya kedatangan Jalal merupakan anugerah dari Tuhan di tengah gemuruh hujan yang tumpah dari langit ini.

“Pesan apa, Mas?” tanya Karso ramah kepada Jalal yang belum melepaskan masker di wajah dan helm di kepalanya.

Perut Jalal langsung meronta ketika indra penciumannya menghirup bau soto yang menggugah selera di tengah hujan deras ini. Jalal melepaskan helm dan tasnya lalu meletakkannya di kursi panjang warung tenda itu. Maskernya sendiri ia kantongi di saku jaketnya.

“Soto ayam dan nasi satu porsi, Pak” jawab Jalal.

“Karso. Panggil saja saya Karso, Mas” sahut Karso ramah. Jalal tersenyum dan mengangguk. Matanya memandangi seisi warung tenda itu dan mulai menurunkan resleting jaketnya.

“Minumnya apa, Mas?” taya Karso lagi sambil tangannya meracik soto pesanan Jalal. Kepulan uap soto melayang-layang di atas belanga besar saat Karso mengisi mangkok bergambar ayam jago itu dengan beberapa centong kuah soto.

“Teh hangat saja, Lek.” Jalal merasa panggilan itu sangat pantas dialamatkan bagi Karso yang usianya jauh lebih tua daripada dirinya yang masih sangat muda. Karso mengangguk sambil mengangsurkan mangkok berisi soto ayam dan sepiring nasi putih yang sama-sama mengepulkan uap panas.

“Nama saya Jalal, Lek” ujar Jalal sambil menyiram beberapa sendok kuah soto ke atas nasinya.

“Oh iya, Mas Jalal” sahut Karso sambil menggeserkan letak kaleng berisi kerupuk udang ke dekat Jalal.

“Jalal saja, Lek. Kalau saya menaksir usia Lek Karso, sepertinya saya lebih cocok dipanggil tanpa embel-embel mas” kata Jalal sambil tertawa. Karso ikut tertawa. Uban di rambut dan keriput yang berkumpul di wajahnya terlihat bercahaya di bawah lampu warung yang terang-benderang. Dua orang lelaki yang barusan makan soto tampak sudah menyelesaikan aktifitas makan-makannya dan kini sedang mengobrol sambil merokok. Warung tenda yang kecil itu kini dipenuhi dengan kepulan asap rokok yang bercampur dengan aroma teh melati dan uap soto.

“Tehnya tolong jangan terlalu manis ya, Lek”, pinta Jalal sambil mengunyah nasi dan potongan daging ayam yang dibalas Karso dengan mengacungkan jari jempolnya ke udara. Tangan Jalal mulai membuka kaleng berisi kerupuk udang yang ada di dekatnya dan mengambil isinya sebuah. Suara riuh kerupuk, sendok yang berdenting dengan gelas ketika Karso mengaduk teh, obrolan kedua lelaki dan bunyi air hujan yang jatuh di atap warung yang terbuat dari terpal plastik campur aduk menjadi satu.

Jalal masih asyik menikmati soto dan nasi pulen panas yang terasa nikmat bukan main itu ketika tiba-tiba saja ada serumpun jari lentik mengangsurkan gelas berisi teh beraroma melati kepadanya. Setengah terkejut, Jalal lalu mengikuti gerakan jari-jari lentik itu dengan ujung matanya dan didapatinya ada tangan terbalut kaos lengan panjang berwarna putih susu yang tertangkap indra penglihatannya. Jalal mendongakkan kepalanya dan melihat sesosok perempuan muda berwajah manis berkulit sawo matang cerah dengan jilbab berwarna biru muda ada di hadapannya sedang tersenyum ramah.

“Ini teh hangat yang tidak terlalu manisnya, Mas” kata gadis berjilbab biru muda itu dengan suaranya yang pulen. Sepulen nasi hangat yang sedang dinikmatinya barusan.

Jalal menerimanya dengan mimik gugup dan mengangguk tanda berterima kasih. Lidahnya kelu dan lisannya tak mampu mengeluarkan suara. Seperti baru saja melihat pemandangan yang indah dan tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Kedua lelaki yang barusan mengobrol sambil merokok sudah pergi, meninggalkan Jalal dan berdua saja dengan gadis berjilbab biru muda itu di dalam warung tenda beraroma soto dan teh melati serta sisa-sisa bau asap tembakau. Beberapa saat kemudian, Karso datang dengan tubuh terbalut jas hujan berwarna kuning cerah dan memanggil gadis berjilbab biru muda itu untuk mendekat.

“Nis,” seru Karso sambil melepaskan jas hujan dan menggantungnya pada paku yang ada di salah satu sudut warung. Ia melihat ke arah Jalal yang tampak sedang melamun dan melepas senyum ramah kepadanya. Jalal membalas senyum itu dengan kikuk dan mulai menyesap teh melatinya yang suam kuku. Karso mengatakan sesuatu yang tidak terdengar jelas kepada gadis itu karena riuhnya suara air hujan yang makin lama makin deras.

Pada salah satu sudut di sebuah warung tenda, seorang pemuda tampak sedang memandangi makhluk berjilbab biru muda yang barusan dipanggil dengan nama “Nis” itu dengan pandangan yang tak dapat diterjemahkan artinya sambil berharap bahwa soto dan nasi pulen yang sedang disantapnya saat itu tak akan pernah habis. Entah kenapa, pemuda itu rasanya ingin memesan teh hangat yang tak terlalu manis lagi. [wahidnugroho.com]


Kamis, 04 Juli 2013

Tuh Kan, Gua Bilang Juga Apa?!



“Ia (Rasulullah) menuruti pendapat para sahabatnya,” tutur Abdullah bin Ubay bin Salul, dedengkot munafiqin Madinah kepada Rasulullah sesaat sebelum fajar di medan Uhud menyingsing, “dan tidak menuruti pendapatku. Wahai manusia, untuk apa kita membunuh diri kita sendiri di tempat ini?”

Itulah hasutan Abdullah bin Ubay kepada para pengikutnya untuk membelot dan berbalik arah ke Madinah serta menolak ikut berperang bersama Rasulullah. Maka berkuranglah sepertiga pasukan Rasulullah yang akan berlaga di Uhud karena ulah desertir Abdullah bin Ubay itu. Jumlah pasukan pembelot mungkin akan bertambah dengan pasukan Bani Haritsah dan Bani Salamah bila saja Allah tidak meneguhkan hati mereka untuk bertahan , hingga Allah menurunkan surat Ali Imran ayat 22 karenanya.

“Ketika dua golongan dari kalian ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu, karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal.”

Ketika kita menarik kisah ini ke bagian awal, maka kita akan mengetahui bahwa Abdullah bin Ubay sebagai seorang sesepuh Madinah, yang karena kedatangan Rasulullah menjadi kehilangan pamor dan kesempatan untuk menjadi raja di Yatsrib pun sirna karenanya, merasa bahwa keputusan kaum mukminin keluar kota Madinah untuk menyongsong pasukan dari Makkah adalah keputusan yang tidak menghargai pendapatnya untuk bertahan di dalam kota. Pendapat yang uniknya justru senada dengan pendapat Rasulullah sendiri yang justru dianulir langsung oleh Rasul demi memenuhi permintaan beberapa sahabat yang tidak sempat ikut perang Badar. Hamzah, pamannya, adalah salah satu pihak yang paling getol untuk menyongsong pasukan Quraisy di luar perbatasan kota Madinah.

Kita semua tahu akhir dari kisah pilu di bukit Uhud ini. Pasukan yang dipimpin oleh Rasulullah nyaris kalah telak, beberapa sahabat utama dan penghafal Al Qur’an menemui syahid, termasuk paman Rasulullah, Hamzah bin Abdul Muthalib yang tewas mengenaskan di tangan Wahsyi. Selain itu, secara fisik Rasulullah mengalami patah gigi dan luka di bagian wajahnya. Kita semua tahu betul dengan kisah ini.

Sesampainya di Madinah, pasukan yang lelah dan kalah itu pun datang tanpa diiringi sambutan yang meriah. Berbeda jauh ketika mereka menang gemilang di Badar dahulu. Ketika pasukan yang lelah dan patah semangat ini berkumpul, maka berkatalah Abdullah bin Ubay, “Demi Allah, aku berkata tentang suatu perkara yang besar ketika aku berdiri mengatakan urusannya (Rasulullah).”

Perkataan yang tidak pada tempatnya ini pun memantik emosi para sahabat Rasulullah dari kaum Anshar yang langsung menarik baju Abdullah bin Ubay dan menyuruhnya untuk meminta maaf kepada Rasulullah perihal perkataannya yang tak senonoh itu. Namun Abdullah bin Ubay enggan menarik kata-katanya dan justru berkata, “Demi Allah, aku tidak butuh dia memintakan ampunan untukku.”

Dalam kisah perjuangan, akan selalu ada orang-orang yang merasa dirinya lebih pintar dan lebih besar daripada jamaah yang ketika pendapatnya diterima dia akan tersenyum dan ketawa girang seraya membesarkan peran dirinya, namun langsung berbalik dan merajuk ketika pendapatnya diabaikan. Perkataan Abdullah bin Ubay di atas bila diredaksikan dengan bahasa kita mungkin akan berbunyi seperti ini, “Tuh kan, gue bilang juga apa. Elu sih dulu nggak mau ngikutin kata-kata gue. Jadi kualat kan lu!”

Padahal palu musyawarah sudah diketuk dan kesepakatan sudah diambil. Maka pahit manis dan getirnya akan menjadi tanggungjawab bersama, bukan lagi tanggungjawab perorangan. Ketika rapat atau syuro sudah memutuskan pendapat A, maka meski pendapat A itu bertentangan jauh dengan keyakinan kita, tetap harus dijalankan dengan senang hati. Ketika di kemudian hari pendapat A itu ternyata salah dan mengundang kerugian kepada organisasi dan kita berkata “Tuh kan, gue bilang juga apa” maka itu sama halnya dengan posisi Abdullah bin Ubay, dedengkot munafiqin, paska kekalahan kaum mukmin di perang Uhud.

Hari ini kita disajikan sebuah potret yang memilukan dari negeri Mesir tentang sebuah kudeta tak beradab yang dilakukan oleh orang-orang yang justru sebelumnya menuhankan demokrasi dan mengelu-elukan Hak Asasi Manusia. Ketika Presiden Mursi jatuh, seberapa pun besarnya kekurangan yang ia miliki dan minimnya prestasi yang beliau buat, lalu ada sebagian saudara sesama muslimnya yang berkomentar, “Itulah akibat karena  kalian mengikuti strategi begitu, dan tidak mengikuti strategi kami yang begini”, maka apalah bedanya komentar-komentar itu dengan komentar Abdullah bin Ubay di atas?

Anda mungkin bisa membantu saya untuk menjawabnya. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juli 2013
#prayforegypt
#prayformoursi
#prayforaceh

Minggu, 30 Juni 2013

Tentang Anak Perempuan


Bayangkan Anda punya seorang anak perempuan. Anda tahu betul setiap detil perkembangannya. Anda paham betul dengan simpul-simpul hatinya, baik itu saat ia sedih, senang, gelisah, tenang, menangis, dan tertawa. Anda kenal betul dengan mimik wajahnya saat simpul-simpul hati itu tersentuh, saat simpul-simpul hati itu terbuka, saat simpul-simpul hati itu terurai satu demi satu. Anda akan hapal betul dengan bentuk bibirnya saat tertawa, dengan bentuk kerutan di antara kedua alisnya ketika kesal melanda, atau ekspresi-ekspresi lain yang kerap terbit dari wajahnya yang lugu.

Bertahun pun berlalu. Anak perempuan itu kini tumbuh menjadi gadis dewasa dengan segala dinamika dan problematikanya. Ia mulai belajar mengeja huruf dan angka, ia mulai merapal dan menghafal ayat demi ayat Tuhannya, ia mulai belajar memperbaiki diri, menutup auratnya dengan sempurna, meluruskan niat, dan menjaga kejujuran hatinya. Ia mulai menata kata-katanya, menata ruang jiwanya, menata akhlak dan penampilannya.

Di masa-masa seperti ini, ia mungkin akan sedikit gemar bersolek. Ia mungkin senang dengan beragam wewangian yang dulu asing dengan aroma kecut tubuhnya. Ia mungkin akan senang memandangi wajah belianya di cermin kaca dan menghabiskan waktu mencoba satu dua macam kosmetik yang ada di depannya. Ia mungkin akan mengagumi perubahan fisiknya yang begitu drastis. Ia mungkin akan belajar untuk mandiri, melakukan segala hal yang dimauinya oleh dirinya sendiri. Sehingga ia mungkin tak lagi bersedia digandeng tangannya oleh Anda saat berjalan di tengah keramaian. Ia mungkin agak malu bila diantar bepergian oleh Anda ke sebuah tujuan. Ia mungkin agak sedikit sensitif bila ditanya soal asmara dan gejolak hatinya yang memerah jingga, atau ketika Anda berceritera tentang satu dua nama yang menggetarkan hatinya yang mulai berbunga. Mungkin saja.

Selain itu, kini ia telah mengikrarkan diri untuk menjadi muslimah yang taat dan ketat dalam menjaga aurat. Ia menjaga pergaulannya dengan lelaki yang bukan mahramnya, meski mungkin hatinya menyimpan simpati untuk satu dua orang di antara mereka yang menarik hatinya. Ia menjaga gejolak jiwa muda yang kerap meletup dan meluap-luap di dalam dirinya dengan sebaik mungkin, menyemai benih-benih cinta untuk dipetik tatkala buahnya telah siap untuk dipanen. Ia mungkin berbuat salah, ia bisa jadi melupakan beberapa hal penting, tapi ia segera tersadar dan memperbaikinya.

Maka, orangtua mana yang tak akan sedih bila putrinya yang ia kenali dengan dosis tinggi itu menjadi bulan-bulanan opini? Orangtua mana yang tak akan getir hatinya ketika melihat gambar-gambar putri terkasih mereka mengisi ruang-ruang publik, membumbuinya dengan prasangka dan sensasi murahan? Maka orangtua mana yang tak akan berduka ketika aurat putri tercinta mereka diumbar tanpa perasaan berdosa oleh mata-mata yang lapar syahwat dan lisan yang nyaris tanpa adab?

Saya, bagaimanapun, memiliki anak perempuan. Bukan hanya satu, tapi tiga. Pun begitu dengan perempuan-perempuan lain yang ada di kehidupan saya seperti istri, ibu, dan saudara-saudara perempuan saya yang lain. Saya tidak tahu dengan latar kehidupan mereka yang kerap mencemooh dan mengejek tanpa ada perasaan bersalah kepada perempuan-perempuan mereka: ibu, istri, putri, dan saudara kandung perempuan mereka yang lain. Saya tidak mengerti. Tapi saya ingin mencoba untuk mengerti agar perempuan-perempuan saya bisa menjaga diri dari ketidakberadaban dan ketidaksenonohan seperti itu, dan agar saya bisa melipatgandakan kesabaran bila ketidakberadaban dan ketidaksenonohan itu terjadi pada saya.

Allah ya rahmaan. [wahidnugroho.com]


Muspratama, Juni 2013 

Minggu, 23 Juni 2013

Tanpa Rencana



Aku ingin sekali bepergian bersamamu, tanpa rencana, tanpa persiapan yang berarti, tanpa tujuan yang akan didatangi, pergi begitu saja. Kau hanya perlu mengemasi beberapa potong pakaian milikku, milikmu, milik anak-anak. Membawa uang secukupnya dan juga kartu identitas. Mengisi tangki bensin mobil kita sampai penuh, dan kembali mengisinya saat jarum tangki menjadi seperempatnya. Kita akan menuju ke arah matahari terbenam, melihat langit yang awalnya biru lalu mengelam hitam. Menikmati pemandangan yang dihiasi deretan pohon, semak, dan perdu yang seolah tanpa ujung. Menyimak erangan binatang malam, kerikan serangga, kaokan burung gagak, dan kepakan sayap kelelawar.

Kita akan makan secukupnya, minum secukupnya, mungkin mengemil sesekali saja, lalu berhenti beberapa kali saat kumandang azan mengangkasa. Menunaikan kewajiban, menyelesaikan hajat yang tertahan, dan membersihkan debu serta daki yang melekat di badan.

Mungkin kita perlu juga berhenti sejenak ketika suara gemericik air sungai sudah mulai terdengar. Mematikan mesin mobil yang mulai memanas, melangkah keluar dengan kaki tanpa alas, meregangkan otot-otot yang tegang dan kebas, dan menyesap keheningan yang mulai turun di bibir sebuah sungai kecil yang berarus tak seberapa deras.

Biarkan saja anak-anak bermain di bibir sungai yang tak tenang, biarkan saja mereka saling membasahi, tertawa, dan bercanda dengan air yang mengeruh karenanya. Aku dan kau hanya menyaksikan dari jarak yang tak seberapa, saling menggamit tangan, tanpa suara, hanya bertukar senyum dan pandangan mata.

Kita akan merapat di bibir desa yang sepi penghuni ketika gelap menghampiri. Menyiapkan kasur untuk anak-anak di bagian belakang mobil, merebahkan sandaran kursi yang menyamankan diri, lalu tidur hingga kumandang azan subuh datang.

Saat fajar menyingsing, kita akan kembali melanjutkan perjalanan kita yang tanpa rencana, tanpa persiapan, dan tanpa tujuan itu hingga isi bahan bakar mulai menipis perlahan. Lalu mengisinya hingga penuh ketika kita berhasil menemui stasiun pengisian bahan bakar dan berbalik arah ke tempat kita semula pergi. Ke arah dimana matahari terbit dan mengurapi segarnya pagi. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juni 2013 

Minggu, 16 Juni 2013

Hasrat Yang Membadai


Malam semakin larut. Di luar sana suasana sepi. Tak ada suara gonggongan anjing dari kejauhan, tak ada suara gemerisik daun yang ditiup angin dari rumpun bambu di sebelah rumah, hanya ada udara malam yang terasa dingin menusuk paska hujan yang deras mengguyur bumi beberapa saat yang lalu. Jam menunjukkan pukul satu dini hari kurang lima belas menit.

Rudi tampak terjaga. Ia tak kunjung bisa tidur, seperti sedang terganggu dengan sesuatu. Ia meraih bantal yang ada di jangkauannya dan mulai merebahkan badannya, memejamkan mata, dan mencoba untuk tidur. Tapi tak jua bisa terlelap. Rudi pun jadi gelisah.

Ia bangun dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar sebelah tempat anak-anaknya tidur. Kedua anaknya sudah tertidur lelap. Salah satunya bahkan sampai menumpahkan air liur di bantalnya. Setelah memperbaiki letak tidur kedua anaknya agar dirasa lebih nyaman, Rudi kembali ke kamarnya.

Ketika masuk ke kamar, Rudi memandangi istrinya yang sudah terlelap. Tiba-tiba saja, ada perasaan aneh yang berkelebat dalam dadanya. Rudi lalu mendekati istrinya yang tidur sambil menghadap ke dirinya. Inilah momen ketika istrinya terlihat begitu cantik, pikir Rudi. Ia pun membelai wajah sang istri, yang diikuti dengan terbangunnya ia karenanya.

Sefti, istri Rudi, membuka matanya. Ia tersenyum kepada Rudi yang dibalas dengan senyuman pula oleh suaminya itu. Rudi membelai rambut Sefti yang tampak acak-acakan, menyentuh bagian tertentu dari tubuh istrinya, dan mengerlingkan matanya untuk mengirimkan pertanda. Sefti mengerti dengan arti kerlingan itu. Ia lalu meminta diri kepada Rudi untuk menyiapkan dirinya ke kamar mandi. Rudi pun berjalan ke kran yang ada di sisi kamar mandi di rumahnya, berwudhu dan bersikat gigi. Ia lalu masuk ke kamar anak-anak, memastikan mereka semua sudah terlelap, menutup pintunya, dan masuk ke kamarnya sendiri. Rudi menyemprotkan minyak wangi di sini dan di sana, dan berbaring di tempat tidurnya untuk menyambut kedatangan istrinya yang telah selesai bersiap.

Tak sampai lima menit, Sefti masuk kembali ke kamar mereka. Aroma harum yang semerbak mewarnai udara langsung membuat dada Rudi berdegup kencang. Rudi terduduk di ujung tempat tidurnya bersama Sefti yang kemudian duduk di hadapannya. Kedua pasangan suami istri itu kini saling berhadapan, saling melempar senyum yang penuh arti, dan beberapa saat kemudian larut dalam gairah yang menggelora, nyaris tanpa menimbulkan suara yang dapat membangunkan kedua anaknya yang sedang terlelap pulas. Di luar sana, hujan mulai turun. Suara rintiknya sedikit meramaikan bumi yang awalnya sunyi senyap. Angin dingin yang berhembus menyejukkan udara yang mulai menghangat di kamar itu.

Ada saat-saat tertentu ketika gelora itu terasa menggebu, tak memandang waktu, tak memandang tempat. Tiba-tiba datang begitu saja. Cerita di atas barangkali terjadi dalam situasi yang cukup menguntungkan bagi Rudi dan Sefti, tapi bisa saja ada cerita lain yang agak mirip dengan cerita barusan dengan situasi yang justru bertolak belakang. Di satu sisi ada hajat yang harus ditunaikan, di sisi lain ada situasi yang tidak memungkinkan untuk menunaikannya.

Kadang anak-anak tak kunjung tertidur, kadang tamu yang tengah singgah tak kunjung pulang, kadang acara kenduri tak kunjung berujung, dan acara syukuran tak jua berakhiran. Dan jadilah ada diri yang sedikit gelisah, ada tindak-tanduk yang meresah, dan ada gerak-gerik yang sedikit gundah. Senyum tak lagi sepenuh hati, tertawa tak lagi dengan mulut penuh terbuka.

Maka berbahagialah bagi para suami yang memiliki istri yang shalihah lagi mampu membaca bahasa tubuh sang suaminya yang tengah resah, yang dapat menerjemahkan pandangan penuh arti dengan belaian yang merabai kulit pipi. Karena lisan yang merapat tersebab malu, dan sentuhan mengajak yang tak jua ada karena nyali yang tak bertaji. Dan benarlah, hanya sentuh fisiklah yang dapat mengobati hasrat yang membadai di jiwa, nikmat lagi berpahala. [wahidnugroho.com]


Muspratama, Juni 2013 

Senin, 10 Juni 2013

Sepotong Kisah 'Suram' Istri Saya


Istri saya bukan orang yang biasa bekerja. Ia bukan orang yang prigel dan cekatan. Maklum, waktu kecil dulu ia tidak diperbolehkan bekerja di rumah, dalam artian melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lazimnya dikerjakan oleh anak perempuan: memasak, mengurus rumah, mencuci baju, menyetrika, dan hal-hal semacam itu. Karena konon kabarnya rumah mertua dulu banyak dihuni oleh anak tinggal.

Anak tinggal adalah sebuah istilah bagi anak-anak dari luar kota Luwuk yang menumpang tinggal di sebuah rumah. Anak-anak tinggal itu biasa membayar uang sewa yang tak seberapa kepada tuan rumah, kadang tidak membayar sama sekali asal mereka membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, bebersih, dan hal-hal semacam itu. Jenis anak tinggal yang ke dua itu biasa mereka yang punya hubungan keluarga dengan sang induk semang rumahnya, meski kadang ada yang tidak berhubungan keluarga sama sekali. Untuk kasus rumah mertua saya ini, kebanyakan yang tinggal di rumah mertua saya ketika itu adalah sepupu-sepupu istri saya dari Bualemo dan dari Montop Banggai Kepulauan. Mereka jauh-jauh merantau dari Bualemo ke Luwuk (jarak Bualemo ke Luwuk itu sekitar 120 km) dan Montop untuk melanjutkan sekolahnya.

Maka jadilah istri-cilik saya ketika itu hidup dengan nyaris tanpa pernah turun ke dapur untuk memasak atau melakukan pekerjaan rumah, karena semuanya sudah ada yang mengerjakan. Mau makan tinggal makan, mau ganti baju tinggal ambil baju di lemari yang sudah tersetrika licin dan rapi. Ditambah lagi dengan sikap protektif ibu mertua saya yang melarang istri-cilik saya dan kembarannya untuk bekerja di dapur, makin jos gandos-lah ke-tidak-prigel-an dan ke-klemar-klemer-an istri saya dalam urusan pekerjaan rumah tangga.

Saya, well, dari kecil suka nongkrong di dapur. Kadang membantu ibu memotong-motong sayur, memasak, cuci beras, atau sekedar duduk-duduk sambil melihat ibu saya bekerja. Kebetulan ibu saya juga suka diminta rewangan (memasak untuk hajatan) di rumah tetangga, maka saya pun suka berada dekat-dekat dengan ibu ketika beliau memasak sambil berharap untuk mendapatkan satu dua potong kue atau paha ayam goreng. Saya juga disuruh untuk belajar mencuci dan menyetrika baju sendiri. Ibu saya juga sosok perempuan yang prigel sama kerjaan rumah yang selalu mengharapkan rumah yang rapi jali. Begitulah saya tumbuh dan besar dalam setting lingkungan seperti itu.

Dan akhirnya kami berdua pun bertemu. Saya yang seperti ini dan istri yang seperti itu. Latar belakang kami berdua cukup kontradiktif, ternyata. Meski kadang ada kesalahpahaman dan ketidakcocokan yang kerap terulang, tapi toh akhirnya istri saya bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dulu tak akrab dengan masa tumbuh-kembang-nya juga. Syukurlah, cerita ‘kelam’ itu sudah berlalu. Masakannya tak lagi sehambar dulu, bumbunya sudah lebih ‘berani’, sudah cukup percaya diri dengan level kelezatan masakannya yang dibuktikan dengan membagi-bagikan hasil prakarya dapurnya ke para tetangga, dan cara bekerjanya yang tak lagi se-klemar-klemer dulu, serta sudah cukup cekatan dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Keputusan kami untuk tidak lagi menyewa asisten rumah tangga pun bagian dari pembelajaran dan pembiasaan agar kami mau dan mampu bekerja dan mengurus rumah sendiri.

Ketika anak-anak perempuan kami lahir dan semakin mendewasa, saya mengatakan kepada istri bahwa anak-anak ini jangan sampai seperti dirinya ketika masih anak-anak dulu: tak terampil bekerja. Mereka harus lebih baik dari umminya, bahkan juga saya. Saya juga kerap melibatkan akhwat-akhwat cilik itu untuk pating-kemriyik membantu saya atau umminya ketika memasak, memberikan mereka pekerjaan remeh-temeh seperti mengaduk adonan, mengambilkan garam, atau mengocok telur, yang mereka lakukan sambil cengengesan dan terkadang saling menghamburkan tepung dan bumbu-bumbu. Atau kadang melibatkan mereka membereskan mainan, melipat baju, melap kotoran, memungut barang-barang yang jatuh, dan hal-hal semacam itu. Menurut saya itu adalah pembelajaran dan pembiasaan supaya mereka kelak tak seperti umminya di masa kecil dulu yang tak biasa bekerja.

Karena ketika mereka berumahtangga kelak, bagaimanapun ‘sebagian’ dari takdir perempuan adalah mampu melayani suami mereka dengan sebaik-baiknya, apapun profesi dan posisi mereka di masyarakat, sebagai timbangan amal kebaikan bagi mereka di masa depan nanti.

Beberapa orang mengatakan bahwa ada seberkas kebahagiaan yang kerap terbit di wajah saya. Well, jujur saja, ada andil istri saya yang dulu-tak-biasa-bekerja-dan-sekarang-sudah-cukup-cekatan di sana. Semoga apa yang dilakukannya menjadi tabungan amal shalih baginya yang saya telah ridho dengannya. [wahidnugroho.com]




Muspratama, Juni 2013
Kembali mencacah 

Minggu, 02 Juni 2013

Di Sepanjang Perjalanan




Di sepanjang perjalanan pulang itu tangan kita berdua saling bertaut. Lisanmu tak hentinya mengoceh mengenai banyak cerita yang terjadi di sekolahmu. Tentang si fulan, si fulanah, tentang bu guru ini, bu guru itu. Tentang si anu yang menangis, tentang pemberian permen yang kau tolak karena wanti-wantiku, tentang menu makan hari itu yang tak kau habiskan, tentang uang tabungan yang sudah terkumpul banyak, tentang hafalan Al Qur'an yang kerap kita rapalkan bersama, tentang pelajaran hari itu dan jalan-jalan di sepanjang pantai yang menyenangkan hatimu.

Di sepanjang perjalanan pulang itu tangan kita berdua saling bertaut. Sesekali aku melirik ke arah kaca spion di sebelah yang sengaja ku pantulkan ke arah wajahmu yang sangat belia. Kau telah beranjak besar. Beberapa tahun kemudian, aku mungkin tak lagi menyebutmu dengan sebutan lucu, imut, atau panggilan semacam itu. Atau kau tak lagi mau kusebut sebagai perempuan yang lucu. Kau perempuan dewasa, yang tegar dan tengah mekar, begitu mungkin pikirmu.

Di sepanjang perjalanan pulang itu tangan kita berdua saling bertaut. Aku tahu, tautan kedua tangan kita takkan berlangsung terlalu lama. Aku sadar, aku takkan selamanya menuntun jalanmu, membasuh lukamu, menggendong badanmu yang makin berat, dan mengecup keningmu yang terbakar sinar matari. Aku sadar betul itu. Kelak akan ada tangan lain yang kau pegang dengan erat, kelak akan ada bibir lain yang akan mengecup keningmu, kelak akan ada bahu lain tempat kau bersandar, kelak akan ada dada yang lebih bidang dan perut yang lebih rata sebagai tempat kau tetirah.

Di sepanjang perjalanan pulang itu tangan kita berdua saling bertaut. Aku sadar dengan posisiku. Aku sadar betul. Kelak, ketika tanganku tak lagi mampu memegang tanganmu, ketika bibirku tak mampu lagi mengecup keningmu, ketika perutku yang penuh lemak tak lagi jadi tempat tetirahmu, ketika bahuku yang sudah tak kekar tak lagi jadi tempat bersandarmu, maka hati-hati kita lah yang akan bertaut. Jiwa-jiwa kita lah yang akan saling memagut. Hanya benih-benih rindu yang bisa kita tanam dan menuainya kelak dengan pertemuan-pertemuan singkat dan tak seberapa lama.

Di sepanjang perjalanan pulang itu tangan kita berdua saling bertaut. Aku melepaskannya sejenak demi memeluk pinggang kecilmu, menghirup bau rambutmu yang apak, mencium bau keringatmu yang khas, dan memandangi wajahmu dari balik kaca spion yang kuarahkan kepadamu.



Muspratama, Juni 2013 

Begitulah Pernikahan



Oh kadang pula terdapat
Suami jahat isteri budiman
Isterinya cukup sabar
Perangai suami ya Allah macam setan

Kalau di belakang isteri
Hai joli sana joli sini
Kalau di depan isteri
Amboi pijak semut pun tak mati
[Kisah Rumah Tangga oleh P Ramlee]


Begitulah pernikahan.

Ia merampas kebebasan masa mudamu dengan segenap tetek-bengek yang merepotkan. Kau tahu? Kau harus memaksakan diri untuk bangun di tengah malam ketika anak-anakmu yang masih kecil itu merengek minta diantar buang air ke kamar mandi, kau harus menahan gerutumu ketika anak-anakmu buang air di sembarang tempat, atau bermain hingga rumahmu yang rapi-jali jadi berantakan seperti kapal pecah. Kau tahu? Kau harus menyediakan ruang kesabaran yang besarnya tanpa batas, kau harus menjernihkan fikirmu sebelum memuntahkan rentetan kata-kata di hadapan anak-anakmu, memasang muka semanis mungkin ketika hatimu bergemuruh dengan luapan emosi, dan menahan tanganmu sekuat mungkin agar tak sampai melukai keluargamu.

Begitulah pernikahan.

Ia merampas uang yang sudah kau kumpulkan dengan susah payah dalam waktu sekejap, dan kadang untuk urusan remeh nan temeh yang sebenarnya bisa dikesampingkan dan diabaikan. Mungkin pada suatu hari yang cerah, hatimu pun sedang tak kalah cerah dan saldo di dompetmu begitu membuncah, lalu kau meniatkan hati untuk mampir ke sebuah toko mainan dan membelikan beberapa buah sebagai kejutan untuk anak-anakmu. Mainan ini harganya sekian, mainan itu harganya sekian, mainan yang lain harganya sekian. Begitu berbunga hatimu tatkala membayangkan gurat senyum dan rekah tawa yang akan terbit di wajah anak-anakmu ketika mereka membuka hadiah yang sudah kau beli dengan anggaran tak sedikit itu. Namun tak sampai dua tiga hari kemudian, mainan itu sudah tercampakkan ke salah satu sudut sepi di rumahmu, ada yang beberapa bagiannya rusak dan hilang, bahkan salah satunya sudah teronggok di dalam tempat sampah di dekat rumahmu. Kau bisa saja menggumam dan berkata, “Uang yang aku kumpulkan dengan susah payah sedikit demi sedikit ternyata hanya berakhir seperti itu”, tapi tentu kau takkan mampu mengutarakannya kepada mereka. Karena gurat senyum dan rekah tawa yang terbit dari wajah mereka tentu tak bisa diagun dengan seberapapun nilai angka.

Begitulah pernikahan.

Ia mengambil waktumu yang luang dan penuh dengan ambisi pribadi dengan urusan lain yang begitu menyita masa dan usia. Kau tak lagi berpikir tentang dirimu – saja – tapi juga tentang mereka. Keputusan-keputusan yang kau buat tak lagi tentang dirimu – saja, tapi juga mengunduh kepentingan-kepentingan dan keputusan-keputusan mereka. Derap langkah dan gerak hati tak lagi bicara soal dirimu – saja, tapi juga meresonansi dan membersamai derap langkah dan gerak hati mereka.  

Begitulah pernikahan.

Ia tidak hanya memberi tapi juga menerima. Ia bukan cuma menerima tapi juga memberi. Kau perlu melapangkan jiwamu, menerima kelupaan-kealfaan, memaklumi kekurangan-kekurangan, memaafkan kesalahan-kesalahan, meski terasa sakit dan berat, meski malu tak kuasa kau tolak. Tapi kau harus melakukannya. Harus! Kau perlu memotong egomu, kau harus menjaga emosimu, kau harus melebarkan rongga hatimu, kau wajib menata katamu, dan mengekang kuat-kuat nafsu liar yang kerap menggodamu. Kau juga harus memberi. Memberi waktumu, sayangmu, cintamu, hasratmu, hartamu, segalamu. Harus!

Begitulah pernikahan.

Maka bersiaplah menghadapinya. Tak perlu, tak perlu kau takut. Tak usah, tak usah kau gentar. Santai saja. Nikmati perjalanannya saat menanjak dan menurun, saat menikung dan berjalan lurus, saat maju dan berjalan mundur. Nikmati riak-gelombangnya, nikmati resah-gelisahnya, nikmati gundah-gulananya, nikmati pahit-getirnya, duka-nelangsanya, selain tentu saja nikmati harum mewangi dan keindahannya.

Begitulah pernikahan.

Di sebalik bunga-bunganya yang mewarna indah dan aneka rupa, ada rumpun semak yang perlu dibabat dan disiangi, ada rerumputan yang perlu dicabuti, ada kumpulan gulma yang harus dihabisi, ada gundukan tanah yang harus diratakan, dan saluran air yang sesekali perlu dibersihkan agar tak menyumbat. Inilah taman pernikahan kita.

Pernikahan memang bukan soal ringan dan berat, bukan soal indah dan marah, bukan soal senang dan gamang, bukan soal tabah dan resah, bukan soal itu saja. Tapi soal banyak hal. Ia tak hanya soal tawa dan duka, tak hanya soal senyum manis dan wajah meringis, tak hanya soal gembira dan nelangsa, tak soal itu saja. Tapi juga soal banyak hal.

Di taman penuh bunga, rumput, gulma, semak, dan tumpukan tanah yang tak terlalu tertata baik inilah kita hidup dan menghirup. Melata dan bekerja di bawah langitnya. Menanam asa yang kan dipanen di esok masa. Mereguk pahala yang berlimpah jumlahnya, menggapai ridhoNya yang tak terhitung nilai dan angkanya. Aku, kau, kita.



Tanjung, Juni 2013
Maaf, sungguh saya mohon maaf...

Selasa, 14 Mei 2013

Sesekali, Berdua Saja...



Mungkin kita perlu juga, sesekali, berdua saja, di tengah hujan yang berderai mengurapi bumi berjelaga ini, tanpa perlu berpayung dan tanpa mengalaskan kaki dengan sandal aneka warni dan warna, berjalan dengan tenang, tanpa terburu waktu, tanpa khawatir terserang demam dan flu, atau khawatir kulit kita berkerut seperti kulit jeruk. Kedua tangan kita saling menggamit, erat. Mata kita saling menatap, senyum kita bersua, nyaris tanpa jarak. Tak perlu, tak perlu ada dialog di antara kita yang hanya akan meriuhkan udara. Kali ini kita hanya berdiam diri, menahan luapan kata-kata yang menghujani relung hati. Kita hanya butuh mendengarkan suara bulir hujan yang berdenting membentuk simfoni jiwa, gemuruh yang membadai di ujung angkasa, dan cahya kilat yang memercik di batas cakrawala. Atau ketika pucuk-pucuk pohon mangga, asem, alpukat, rambutan, dan belimbing wuluh yang gemerlap dengan butiran air bening dari langit yang tersapu sinar lemah cahya matari yang mengintip dari balik awan tebal berwarna kelabu, dan ketika awan tebal berwarna kelabu yang menggantung itu perlahan hilang satu demi satu, mengundang burung-burung berwarna putih cerah kembali berani terbang tinggi, dan suara kepakan sayap elang berbulu cokelat yang terbang rendang di atas bukit yang berderet rapi.

Mungkin kita perlu juga, sesekali, berdua saja, di tengah hujan yang berderai mengurapi bumi berjelaga ini, tanpa perlu berpayung dan kaki beralaskan sendal karet aneka warna, berjalan dengan tenang, tanpa terburu waktu, tanpa khawatir terserang demam dan flu, atau khawatir kulit kita berkerut seperti kulit jeruk. Kedua tangan kita saling menggamit, erat dan liat. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Mei 2013 

Minggu, 12 Mei 2013

Bungkamnya PKS

“Apa satu-satunya senjata yang kumiliki, Tiro?” dia bertanya, lalu menjawabnya sendiri. “Ini,” ujarnya sambil menunjuk buku-bukunya. “Kata-kata,” ujarnya mantap. Ia melanjutkan, “Caesar dan Pompeius punya tentara, Crassus punya harta, Clodius punya tukang pukul di jalan. Satu-satunya tentaraku adalah kata-kata. Dengan kata-kata aku meninggikan derajat, dan dengan kata-kata aku akan bertahan.” [Tiro mengutip perkataan Marcus Tullius Cicero]

***

Seorang teman berkata kepada saya, “Kalau memang PKS mengaku tidak bersalah, kenapa tidak mempraperadilankan kasus ini saja? Adu kuat bukti di pengadilan yang sah? Kenapa harus membuat opini publik bahwa PKS tidak bersalah?”

Saya merespon, “Orang-orang media telah menggunakan opini publik untuk ‘menghakimi’ PKS yang secara hukum belum tentu bersalah, kenapa orang-orang PKS tidak bisa melakukan sebaliknya dengan cara yang sama untuk membela teman mereka sendiri?”

Teman saya terdiam. Saya pun tidak ingin ambil pusing soal statement itu, karena jujur aja udah kelewat mainstream hehe.. Jika memang PKS memilih diam dan bungkam seribu basa, itu bukan berarti mereka tidak punya senjata. Jika memang PKS punya bukti kuat yang mampu menyanggah keterlibatan LHI dalam kasus korupsi yang dituduhkannya, mereka pasti tidak akan berbuat gegabah dan kekanak-kanakan untuk mengumbarnya di luar ruang pengadilan negara yang resmi. Menurut saya, ajakan untuk membeberkan bukti yang menjadi kartu as PKS dalam kasus ini tidak akan dipublikasikan begitu saja secara serampangan.

Di sisi lain, bungkamnya PKS ini menjadi semacam berkah tersendiri bagi mereka. Kenapa? Karena kebungkaman ini menjadi semacam penanda bagi PKS, siapa sebenarnya orang-orang yang membersamai mereka, siapa yang selama ini hanya menjadi penunggang gelap, dan siapa yang nyata-nyata menggunting dalam lipatan. Seolah-olah ada tabir yang terbuka lebar-lebar bagi orang-orang PKS tentang siapa kawan dan siapa ‘lawan’ mereka.

Sayangnya, saya merasa sedikit kecewa dengan para tokoh nasional yang ternyata ikut-ikutan bungkam dengan insiden penuh skandal ini. Seolah-olah mereka tutup mata dan tidak mau tahu dengan kegaduhan yang sengaja dibuat untuk menggegerkan negeri ini. Saya tidak tahu apa motivasi mereka dengan bungkamnya itu. Takut dibilang melawan supremasi KPK yang kelewat batas sehingga dicap sebagai pendukung koruptor, atau masih melakukan kalkulasi politis dan non politis bila statement mereka keluar di masa-masa kritis menjelang pemilu dan itu bisa memengaruhi elektabilitas mereka di mata publik? Saya tidak tahu. Hanya Allah dan mereka yang tahu.

Terakhir, saya berharap KPK dapat bermain cantik dan tidak sewenang-wenang dalam menjalankan tupoksi mereka sebagai lembaga yang kelewat superbodi. Saya percaya, di KPK masih ada banyak orang-orang baik dan berhati lurus untuk membersihkan negeri ini dari korupsi. Hanya orang-orang tak tahu malu dan tak punya nyali saja yang menyelewengkan wewenang yang suci dan mulia ini demi kepentingan pribadi mereka dengan cara membelokkan fakta yang sebenarnya. Dan kepada PKS serta tim medianya, terus bangun opini publik bahwa ada yang tak beres dari kasus korupsi ini. Bahwa ada banyak kejanggalan yang lahir dari rahim ketidakberesan itu. Bahwa begini dan bahwa begitu. Bersuaralah meski mereka mencemooh, berkatalah meski mereka tak lelah mencibir dan menghina. Dengan begini, kami bisa melihat bahwa Anda memang orang yang akan ditakdirkanNya untuk membangun bangsa ini menuju peradaban yang gemilang lagi tahan bantingan.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah pepatah arab – sayang saya tidak hapal redaksi aslinya dan hanya mengkopi versi terjemahannya – yang berkata bahwa, "Diamnya orang-orang yang kuat, bukan mencerminkan kelemahan. Namun ia memberikan kesempatan kepada orang-orang lemah untuk puas hati berbicara, sebelum mereka dibungkam dan diam selamanya." [wahidnugroho.com]



Kilongan , Mei 2013

Jumat, 10 Mei 2013

Kolektor Jersey: Sebuah Catatan Dari Pinggir Lemari



Selama kurang lebih empat tahun saya bergelut di dunia peracun-kaen-an (baca: jersey), selama kurun waktu itulah saya berinteraksi dengan banyak orang. Di antaranya adalah: pembeli yang pembelajar karena tanpa dijelaskan panjang kali lebar kali tinggi dia udah ngerti sama aturan mainnya, pembeli yang tukang nanya tapi males mbaca rule yang udah panjang kali lebar kali tinggi ditulis lengkap dengan FAQ dan tetek bengek lainnya, pembeli dengan dana tak terbatas dengan keinginan terbatas, pembeli dengan dana terbatas tapi punya keinginan yang tak terbatas, pembeli yang cerewet, pembeli yang gak-terlalu-care-soal-itungan-yang-penting-gue-dapet-barangnya, pembeli yang ribet soal itung-itungan, pembeli yang nggak ngerti apa-apa soal racun jersey, pembeli yang rada sok tau, pembeli yang bid and run, pembeli yang sering nitip racun tapi lebih sering kalahnya daripada menangnya, pembeli yang suka maen belakang (yunomisowel lah), pembeli yang sering PM buat ngingetin “om, barangnya udah dibid kan? Belom outbid kan? Kalo outbid kabarin ane yak” padahal dia ngirim pesan itu pas saya lagi tidur pules, pembeli yang pesannya sering terlewat saya baca, pembeli yang suka ngasih deposit duit padahal incerannya belom ada, pembeli yang kelewat percaya sama saya, pembeli yang kelewat nggak percaya sama saya, pembeli yang kapok belanja lewat saya, pembeli yang mungkin punya masalah pribadi dengan saya, pembeli yang suka nimbun barang supaya bisa hemat ongkir, pembeli yang selalu nanya soal kurs, pembeli yang gak pernah absen nanya ongkir satuan maupun borongan, pembeli yang sering minta penjelasan soal fee, pembeli yang lebih hafal soal kalkulasi ketimbang saya yang jadi perantaranya, pembeli yang selalu nanya "Om Gus kapan buka kloteran anu ini dan itu?", dan masih banyak lagi variasi pembeli lainnya.

Sosok-sosok pembeli di atas bisa jadi mewakili orang per orang, bisa jadi dalam satu orang punya karakteristik yang lebih dari satu, bisa jadi dalam satu orang punya semua karakter di atas. Wajar aja, namanya juga manusia. Saya, sebisa mungkin, akan selalu berusaha untuk memberikan penjelasan sebaik-baiknya, pelayanan sebaik-baiknya, perhitungan seakurat-akuratnya, dan pengadvokasian sekuat tenaga bilamana ada masalah di kemudian hari.

Kadang saya memberikan saran, kadang saya yang diberikan saran. Kadang saya mengkritik, kadang saya yang dikritik. Kadang saya yang diajari, kadang saya yang mengajari. Kadang saya yang diberikan penjelasan, kadang saya yang menjelaskan, dan seterusnya. Santai aja, no hurt feeling. Saya orangnya open minded aja. “Om Gus salah itung nih”, oke saya akan mengkoreksi. “Om Gus kok gak pernah bales PM saya?”, mungkin tertimbun di bawah berhubung ada banyak PM yang saya harus balas per hari. “Om Gus cek PM”, oke segera. “Om Gus, buruan bid orderan saya”, sebentar, koneksi di sini lagi cenat-cenut, mau pasang internet di rumah alatnya lagi abis dari sononya soale, dan seterusnya.

Dalam dunia racun kaen ini, saya jadi kenal dengan banyak orang dan lebih banyak dari mereka yang belum pernah saya temui secara langsung tapi sudah berbaik hati untuk mempercayakan uangnya kepada saya. Oleh karenanya saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Memang ada satu dua yang tidak bisa tertolong karena dananya tak bisa dikembalikan, atau barangnya hilang entah kemana (termasuk saya sendiri), tapi saya sebisa mungkin tetap menjaga hubungan baik dengannya. Saya siap menanggung kesalahan yang tidak saya perbuat.

Pernah suatu hari ada pembeli yang marah-marah karena barangnya hilang oleh pihak pos. Saya pun berusaha untuk mengusutnya ke pihak pos, dan jawaban yang diterima pembeli itu mungkin kurang menyenangkannya. Mengatakan bahwa saya tidak jujur, adik saya yang jadi seksi kirim-kirim tidak becus, dan ungkapan menyakitkan lainnya. Pembeli itu juga mengancam ingin menyebarkan reputasi buruk saya ke publik. Saya menyilakannya, meski saya menegur dia supaya mulutnya bisa dijaga perihal mengkritisi kinerja adik saya. Saya lebih mendahulukan hubungan silaturahim ketimbang materi. Uang bisa dicari, tapi hubungan baik (meski kita tidak diperlakukan secara baik) tetap harus dijaga. Maka saya memutuskan untuk merefund semua uangnya, meski kesalahan soal hilangnya paket itu murni bukan kesalahan saya. Kejadian itu sudah berlalu begitu lama, dan saya nyaris melupakannya andai saya tidak menulis seperti ini sekarang.

Saya juga pernah bertemu dengan beberapa pembeli dan pelanggan saya. Ngobrol banyak, mborong banyak, dan diskon yang sama banyaknya pun saya berikan. Di antara sekian banyak pembeli yang pernah berinteraksi dengan saya, tak sedikit yang juga membicarakan masalah-masalah pribadi mereka, curhat gitu. Kalau begitu saya pun mencoba untuk menjadi penyimak yang baik. Bila mereka meminta pendapat atau solusi, saya juga mencoba untuk memberikan pandangan saya yang bisa jadi tidak solutif.

Ala kulli haal, bergelut dalam dunia ini telah membentuk garis-garis ‘keluarga’ baru bagi saya. Keluarga kasat mata yang terkadang saling mengkritisi, saling memberikan pendapat, dan tak jarang saling ngenyek dan gojek satu sama lain.

Terima kasih atas kepercayaan Anda semuanya. Mohon maaf bila ada pesan yang tak terbaca, inceran yang tak tereksekusi, PM yang terlambat dibalas, kalkulasi yang perlu dikoreksi, manner yang perlu diperbaiki, pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa diberikan solusi, refund yang tertunda, hutang yang belum terbayar, dan masih banyak lagi kekurangan-kekurangan saya yang tentu Anda lebih fasih menyebutkannya.  Ada banyak hal lain yang mungkin alfa saya sebutkan dalam tulisan ini, silakan ingatkan saya bila kealfaan itu ternyata merugikan Anda baik secara material maupun immaterial.

Terakhir, keep calm and don’t buy short sleeve (unless murtje). [wahidnugroho.com]



Kilongan, Mei 2013 

Rabu, 08 Mei 2013

Saya dan Seorang Polisi: Sebuah Dialog Imajiner



Siang itu dua orang lelaki nyaris seumuran bertemu di bawah sebuah pohon mangga yang rindang. Sambil menikmati segelas es kelapa muda, keduanya tampak sedang asyik mengobrol. Lelaki pertama adalah seorang berseragam polisi, sementara lelaki kedua mengenakan batik bermotif parang berwarna merah.

“Sebenarnya ketika saya melihat Anda sedang menuntun ibu yang hendak menyeberang tadi, saya sudah mengurangi laju kendaraan saya untuk mempersilakan ibu itu menyeberang”, ucap lelaki kedua yang berbaju batik membuka dialog. “Tapi karena saya tidak mengerti apa maksud kode tangan dari Anda, saya menganggap bahwa kode itu adalah perintah kepada saya untuk meneruskan perjalanan dan Anda berdua bersama ibu itu akan menyeberang setelah saya lewat”, urainya kemudian.

“Jujur aja saya tadi lumayan mangkel ketika Anda tidak memberi kesempatan ibu itu untuk menyeberang”, lelaki berseragam polisi membuka suara. Wajahnya tampak sedikit kesal. “Andai tadi Anda memutuskan untuk berhenti dan meladeni kemangkelan saya, mungkin bakal ada keributan di tengah jalan di awal pagi tadi”, lanjutnya.

Lelaki berbaju batik mengangguk. “Ya, saya tadi juga cukup tergoda dengan bisikan untuk turun dan ‘meladeni’ Anda. Tapi andaipun terjadi, saya tidak akan takut”, ujarnya mantap sambil meneguk es kelapa yang tinggal tersisa setengah gelas.

Wajah lelaki berseragam polisi tampak terkejut. “Anda tidak takut dengan polisi?”, katanya sambil tangannya mengaduk gelas berisi es kelapa bercampur sirup gula merah.

Lelaki berbaju batik menggeleng mantap dan menandaskan sisa es kelapanya.

“Saya itu baru takut kalo berbuat salah. Berhubung tadi pagi saya tidak merasa salah, kenapa saya harus takut. Jangankan Anda yang hanya seorang, Kapolri Anda sekalian pun akan saya hadapi bila saya memang tidak salah”, katanya santai. Gelas kaca bergagang yang sudah kosong diletakkan di hadapannya. “Saya juga bisa saja meladeni emosi sesaat untuk, mungkin, berkelahi atau bergelut dengan Anda di atas aspal tadi. Tapi saya merasa bahwa orang-orang seumuran kita ini tidak lagi menyelesaikan masalah kecil nan sepele itu dengan cara kekanakan seperti itu”.

Lelaki berseragam polisi itu tampak gusar dengan perkataan lelaki berbaju batik barusan. Sambil mengelus dagunya yang licin karena baru dicukur, ia lalu berkata, “Masuk akal. Saya setuju dengan sudut pandang Anda”.

“Jika tadi Anda memberi isyarat stop kepada saya, dengan menyorongkan kelima jari Anda yang bersatu rapat ke arah depan, saya pasti anak berhenti dan mempersilakan ibu itu untuk menyeberang. Tetapi karena Anda tadi memberikan saya isyarat yang tidak saya ketahui artinya, wajarlah bila saya langsung menyelonong”, urai lelaki berseragam batik. “Toh, tidak semua orang di kolong langit ini bisa mengerti isyarat tangan dari seorang polisi, setidaknya isyarat yang tadi Anda berikan kepada saya”, lanjut lelaki berseragam batik yang seolah tidak perduli dengan reaksi lelaki berseragam polisi yang hendak memotong kalimat pertamanya tadi. Lelaki berseragam polisi itu kemudian tampak manggut-manggut.

“Ya, mungkin Anda ada benarnya juga”, ucapnya tulus yang diikuti dengan tenggakan terakhir dari es kelapa muda berwarna cokelat. “Ini memang soal miskomunikasi saja”.

“Tapi saya juga mau minta maaf kepada Anda bila miskomunikasi tadi mungkin menyinggung Anda di hadapan ibu itu”, ujar lelaki berseragam batik tulus. “Tapi..”, perkataan itu menggantung.

“Saya juga ingin Anda meminta maaf kepada saya”, kata lelaki berseragam batik tegas. Sebuah kontainer sarat muatan melewati pohon mangga besar itu sambil membawa debu yang beterbangan.

Lelaki berseragam polisi terperanjat. “Untuk apa?”, tanyanya agak ketus.

“Karena Anda tadi menyebutkan kata-kata yang tidak elok untuk orang sebaik Anda”, urai lelaki berseragam batik kalem. “Anda pasti masih ingat kata-kata apa yang saya maksud”, lanjutnya.

Lelaki berseragam polisi itu tampak kaget dan tersipu malu. “Ah, Anda benar. Saya mohon maaf atas ketidakelokan kata-kata saya tadi”, ucapnya tak kalah tulus.

Lelaki berbaju batik tersenyum. “Termasuk mentraktir saya segelas es kelapa muda?”.

Lelaki berseragam polisi langsung tergelak, “Hahaha... Jangankan segelas, satu gerobak ini pun bila Anda mampu silakan habiskan”, kelakarnya.

“Diuangkan saja kalau begitu”, seloroh lelaki berbaju batik.

Kedua lelaki itu tertawa bersama sekeras-kerasnya, meninggalkan sang penjual es kelapa muda dengan tampang keheranannya.

***

Pagi ini saya nyaris baku hantam dengan seorang oknum polisi hanya karena miskomunikasi sepele. Sayang sekali saya tidak melihat nama yang tercantum di seragamnya. Andai tadi namanya terlihat dengan jelas, saya mungkin akan mencarinya dan mengajaknya minum es kelapa muda di bawah pohon seberang kantor Pelni, yang berjarak tak sampai tiga puluh meter dari markas Polres Luwuk, sambil membicarakan insiden kecil yang terjadi di antara kami berdua tadi pagi di seberang SMK Daerah Luwuk. Saya yakin, dia polisi yang baik. Buktinya dia mau repot-repot membantu seorang ibu untuk menyeberangkan jalan sambil ‘menghadiahi’ saya kata-kata mutiara. [wahidnugroho.com]

 Tanjung, Mei 2013