Senin, 25 Maret 2013

Anis Matta Yang Misterius


Kenapa harus menggunakan Khalifah Ottoman (Utsmaniyah) sebagai mukadimah tulisan saya tentang Anis Matta? Saya tidak tahu. Ide itu mengalir begitu saja tanpa bisa dihentikan. Antara Anis Matta dan Ottoman memang tidak berhubungan. Tapi antara keduanya memiliki sebuah kemiripan: misterius.

Sebelum abad ke 20, informasi tentang Kekhalifahan Ottoman yang nyaris berusia tujuh ratus tahun dan penuh dengan kejayaan itu masih sangat terbatas, baik yang berbahasa Arab, apalagi yang berbahasa Latin. Para pakar sejarah pun kesulitan untuk menggali informasi mendetail yang dapat digunakan sebagai argumentasi dalam penelitian mereka. Namun ketika Kekhalifahan Ottoman runtuh pada tahun 1923 dan digantikan oleh Republik Turki, arus penelitian mengenai jati diri Ottoman yang sesungguhnya pun terbuka lebar.

Pun begitu dengan Anis Matta. Sebelum beliau diangkat menjadi Presiden PKS yang baru, kiprahnya nyaris sepi pemberitaan. Hanya golongan ‘terbatas’ saja yang mengetahui sosok yang nyaris untouchable di jabatan Sekjen PKS ini. Bagaimana tidak? Sejak berdirinya PK – yang di kemudian hari bertransformasi menjadi PKS –, Anis Matta selalu bergeming pada posisinya sebagai Sekjen sampai akhirnya terpilih sebagai Presiden PKS lewat musyawarah Majelis Syuro.

Oleh karenanya, paska pengangkatan dirinya sebagai Presiden PKS, Anis Matta seolah mendapatkan ‘panggung’ untuk lebih menegaskan eksistensinya dalam panggung politik tanah air yang – menurut saya – diisi oleh orang yang itu-itu saja. Apalagi ketika banyak media mainstream yang kerap mengulang-ulang orasi politik perdananya yang menggebu-gebu itu, maka secara tidak langsung pemberitaan itu pun menjadi semacam promosi gratis akan sosoknya yang selama ini misterius.

Dan benar saja. Sejak saat itu, namanya mulai bergaung di jagat perpolitikan tanah air. Orang mulai mencari tahu akan sosok seorang Anis Matta yang sebelumnya nyaris tak terdengar ini. Hal ini menjadi sebuah kesulitan tersendiri bagi para pengamat dan juga masyarakat untuk menilai sosok Anis Matta secara utuh. Informasi yang berseliweran di media tentang Anis Matta kala itu tidak terlalu banyak, kalaupun ada hanya berupa opini sepihak yang kedalaman faktanya masih perlu digali dan diuji lagi.

Maka ketidaktahuan itu pun menemui momentumnya saat Anis Matta tampil dalam acara Gestur yang ditayangkan oleh TV One beberapa waktu yang lalu. Hal itu terlihat tatkala pancingan-pancingan komentar yang dilontarkan oleh para pengamat dan presenter di acara tersebut, yang seyogyanya memprovokasi Anis, masih belum mampu menguak apa sebenarnya yang ada di dalam isi kepala seorang Anis Matta.

Itulah sebabnya saya bisa mengatakan bahwa Anis Matta memiliki kepribadian yang berlapis, dalam perspektif positif, tentu saja. Lapisan kepribadian adalah kedalaman – dan kedangkalan – kepribadian yang muncul dari akumulasi berinteraksi kita dengan seseorang. Maka, kerap tampilnya Anis Matta di depan publik akhir-akhir ini, perlahan tapi pasti, mengupas kepribadiannya yang unik itu satu demi satu, hingga akhirnya kita bisa menilai seorang Anis Matta secara utuh dari berbagai sudut.

Dari mozaik itulah kemudian diketahui sejarah hidupnya, siapakah sebenarnya orang ini, bagaimana masa lalunya, koleksi-koleksi bukunya, pola berpikirnya, kecenderungan-kecenderungannya, hal-hal yang menjadi obsesinya, serta hal-hal yang disukai dan tidak disukainya. Orang-orang pun mulai mengumpulkan tulisan-tulisannya, membeli buku-bukunya, mengoleksi ceramah dan orasi-orasinya, serta memerhatikan gerak-geriknya setiap saat. Bahkan banyak di antara mereka yang seolah menunggu, gerangan apa lagi ‘kejutan’ yang akan dihadirkan dalam setiap pertemuan dengannya. Letupan apa lagi yang akan dia berikan dalam setiap statemen-statemennya yang kerap menginspirasi banyak orang.

Maka, penantian dan ekspektasi ini perlu dipelihara dan dijaga frekuensinya, agar mampu melahirkan sebuah harmonisasi jiwa yang selaras dan produktif antara Anis Matta dan para pengagumnya. Caranya bagaimana? Entahlah. Saya belum tahu. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Maret 2013 

Anis Matta

Colin Imber dalam bukunya yang berjudul The Ottoman Empire mengatakan bahwa, di masa lalu, informasi tertulis mengenai kerajaan Ottoman tidak banyak didapati, bahkan di kalangan sejarawan Muslim dan para pencatat sejarah di kalangan Ottoman sendiri. Caroline Finkel dalam Osman’s Dream pun mengamininya. Terbatasnya sumber-sumber bacaan berbahasa latin yang membahas dunia Ottoman secara mendetail menjadi salah satu faktor mengapa kajian tentang kekhalifahan islam terbesar sepanjang sejarah ini cukup sulit untuk didapati di masa lalu.

Jikapun ada, sumber-sumber itu kebanyakan berupa cerita dari mulut-mulut yang kebenarannya sulit untuk dibuktikan. Namun, dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, serta semakin terbukanya dunia saat ini, bahan-bahan yang awalnya sangat sulit didapat itu perlahan mulai membuka dirinya satu demi satu. Apalagi sejak kejatuhan kekhalifahan Ottoman pada tahun 1920an yang lalu.

Tulisan ini tidak akan membahas tentang kedua buku di atas, berhubung saya belum selesai membaca keduanya – entah kapan selesainya –, tulisan ini juga tidak ingin membahas tentang Ottoman dengan segala kerumitan dan kebesaran sejarahnya, tapi tulisan ini akan membicarakan hal yang lain. Preambule di atas anggap saja sedikit usaha saya untuk membuat Anda, pembaca, sedikit terkesan dengan saya.

Beberapa hari yang lalu, saya menelepon bulek saya di Jakarta dengan sebuah misi: menanyakan keberadaan koleksi Majalah Ummi jadulnya beliau yang lumayan lengkap. Buat apa majalah yang ditujukan khusus untuk muslimah itu bagi saya yang lelaki tulen ini? Ehem. Jadi begini. Saya tidak malu untuk mengakui bahwa saya pernah menjadi pembaca setia majalah itu, termasuk tabloid NOVA yang dulu rutin dibeli ibu saya.

Khusus Majalah Ummi, rubrik yang paling saya tunggu itu ada dua: Permata, yang memang ditujukan buat anak-anak; dan Kolom Ayah. Kolom Ayah? Ya, benar. Walaupun saya masih SD ketika itu, tapi Kolom Ayah selalu menjadi rubrik yang saya tunggu-tunggu kehadirannya.

Dari Kolom Ayah inilah saya kemudian mengenal satu nama yang belakangan jadi cukup tenar karena pidato-pidatonya yang menyihir serta mampu membakar semangat pendengarnya. Nama itu adalah Muhammad Anis Matta. Seorang politikus muda yang saat ini diamanahi sebagai Presiden  PKS menggantikan Luthfi Hasan Ishaq yang terkena badai fitnah korupsi – yang kebenaran dan perkembangan kasusnya masih sama-sama kita (saya) tunggu sampai saat ini.

Awalnya saya cukup terkejut dengan proses pemilihan yang sangat singkat itu. Keterkejutan saya bersumber dari elektabilitas beliau di mata publik secara umum yang tidak terlalu menggembirakan. Kenapa bukan Hidayat Nur Wahid yang notabene lebih populer di masyarakat? Dahi masyarakat Indonesia secara umum pasti akan berkerut bila disodorkan nama Anis Matta, meski tidak berlaku bagi para aktivis gerakan Islam yang sudah mengetahui kiprah beliau selama ini. Selain itu, menarik pula untuk diketahui bersama, apakah ide-ide segar yang selama ini hinggap di setiap tulisan dan ceramahnya bisa diejawantahkan untuk menahkodai sebuah partai sebesar PKS yang ketika itu – mengambil redaksi dari beberapa media mainstream – sedang dilanda prahara besar.

Pemikiran Anis Matta, menurut saya, seperti udara. Ia cerkas bergerak dan meliuk kesana dan kemari. Orang yang terbiasa berpikir linear tentu akan cukup sulit untuk mengikuti gaya berpikirnya. Tak jarang statemennya berbuah kontroversi bagi banyak kalangan, termasuk di internal Partai Keadilan Sejahtera, yang kita tahu berbasis kader-kader militan dan terpelajar. Referensinya sungguh kaya dan sumber bacaannya sangat mencengangkan. Belakangan dari sebuah berita diketahui bahwa Anis Matta merupakan pelahap buku kelas kakap. Bil khusus buku-buku sejarah dan biografi tokoh-tokoh dunia. Itulah sebabnya pidato-pidato dan tulisan beliau sangat renyah dibaca dan memiliki jangkauan audiens yang sangat luas. Di samping itu, Anis juga merupakan pencinta sastra. Tak heran bila untaian kata-katanya yang membara itu terkadang beraroma romantis, kadang melankolis.

Kembali ke Majalah Ummi.

Saya termasuk anak ingusan yang cukup beruntung karena dipertemukan dengan tulisan-tulisan beliau tatkala membidani Kolom Ayah di Majalah Ummi ketika itu. Tulisan-tulisan yang sedianya ditujukan untuk orang-orang yang berumur jauh di atas saya itu seperti menyihir akal bocah ingusan seperti saya. Darinya saya mengenal puisi-puisi indah karangan Iqbal dan Sapardi Djoko Damono yang kerap diselipkan dalam setiap tulisannya. Dan karenanya pula saya jadi jatuh cinta dengan dunia seni dan sastra.  Sejak saat itu, saya telah memutuskan diri untuk menjadi penggemar tulisan-tulisannya.

Waktu berlalu beberapa tahun. Saya pun dipertemukan kembali dengan tulisan Anis Matta. Kali ini bukan lagi di Majalah Ummi, tapi di Majalah Tarbawi yang saya temukan di Mushola SMUN 90 ketika itu. Serial Kepahlawanan, begitu judul rubrik terbarunya. Di tahun-tahun itu pula saya bersinggungan dengan tulisan beliau lainnya di Majalah Saksi dan Suara Hidayatullah. Tapi berhubung saya tidak terlalu cerdas untuk melahap tulisan-tulisan bertema politik yang berat, saya memutuskan untuk membaca rubrik Serial Kepahlawanan dan rubrik Assasiyat yang diasuh oleh Almarhum Rahmat Abdullah di Majalah Tarbawi kala itu. Dan sejak itu pula saya mengumpulkan majalah-majalah Tarbawi yang kerap dibagikan gratis setiap ada perayaan hari-hari besar Islam di sekolah.

Ketika Serial Kepahlawanan di Majalah Tarbawi selesai, dan digantikan dengan Serial Cinta, saya memiliki ide untuk mengumpulkan tulisan-tulisan beliau dalam satu bundel. Maka mulailah saya memfotokopinya dari setiap edisi yang saya miliki, dan yang saya pinjam dari teman, menjadi satu bundel tersendiri – bersamaan dengan bundel kolom Assasiyat-nya Almarhum Rahmat Abdullah.

Semasa kuliah, kegemaran saya akan tulisan-tulisannya yang memukau masih berlanjut. Ada banyak sekali buku-buku beliau. Di antaranya adalah:
  1. Mencari Kepahlawanan [Tarbawi Press]
  2. Serial Cinta [Tarbawi Press]
  3. Model Manusia Muslim [Asy Syaamil dan belakangan diterbitkan oleh Progressio]
  4. Setiap Saat Bersama Allah [I’tisham]
  5. Menuju Cahaya [Fitrah Rabbani]
  6. Sebelum Anda Mengambil Keputusan Besar Itu [Asy Syaamil]
  7. Delapan Mata Air Kecemerlangan [Tarbawi Press]
  8. Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga [Ummi]
  9. Arsitek Peradaban [Fitrah Rabbani]
  10. Dari Gerakan Ke Negara [Fitrah Rabbani]
  11. Demi Hidup Lebih Baik [Cakrawala Publishing]
  12. Dan masih banyak lagi
Uniknya, Anis Matta pernah berkata dalam sebuah wawancara bahwa salah satu impiannya yang sulit untuk diwujudkan karena kesibukannya adalah menulis sebuah buku. Lalu, buku-buku di atas itu berasal dari mana? Buku-buku itu ternyata berasal dari tulisan-tulisan dan ceramah beliau yang tersebar di beberapa majalah dan kaset yang akhirnya disatukan dan dibukukan.

Di masa-masa itu, saya juga berinteraksi dengan ceramah-ceramah beliau yang tersebar di dunia maya yang jumlahnya cukup banyak dan temanya yang beragam. Beberapa ceramah yang kerap saya dengar secara berulang adalah Membangun Mahligai Pernikahan, Manajemen Waktu, Penyerbuan Pasukan Gajah (tafsir tematik dari surat Al Fiil), dan masih banyak lagi.

Sampai hari ini, saya masih sering membaca kembali tulisan-tulisan serta mendengarkan ceramah-ceramah lawasnya. Seiring perkembangan dunia politik tanah air, saya pun tak lupa pula mengumpulkan beberapa video orasi-orasi beliau yang menyihir itu. Mulai dari orasi politik paska pengangkatan dirinya sebagai Presiden PKS, sampai yang terakhir ketika beliau berbicara tentang cinta dan harmoni di Jawa Tengah.

Saya selalu merasa ada banyak hal baru yang bisa diambil dari setiap orasinya yang memesona, meski semangat dan luapan cintanya tetap sama dengan takaran yang makin lama makin menguat. Tulisan ini bukan untuk memuji secara membabi-buta akan sosok Anis Matta. Bagaimanapun, ia tetaplah seorang tokoh yang punya kekurangan sebagai manusia biasa. Ada yang menyebutnya sebagai seorang yang hedonis karena gaya hidupnya yang jauh dari kata sederhana, dan sebutan minor lainnya. Namun saya bergeming dengan ungkapan-ungkapan minor itu. Bagaimanapun, beliau adalah salah satu aset berharga, dari sekian banyak aset, yang dimiliki bangsa ini untuk bisa keluar dari krisis yang tengah melandanya. Saya rasa, ini saat yang tepat untuk membuktikan teori dan ide beliau di buku-buku serta ceramah dan kajian yang pernah dibuatnya ke dalam ranah amal nyata.

Apa yang sedang dilakukan oleh Anis Matta saat ini: menyelamatkan bahtera partai dari serangan badai politik dan membalikkan prediksi para pengamat politik yang mengatakan bahwa PKS sudah habis serta ditinggalkan kader dan konstituennya, kemudian membersamai rentetan pilkada di negeri ini yang datang silih berganti dengan orasi-orasinya yang memukau dan menyihir para pendengarnya, serta marathon persiapan PKS dalam berjuang di kancah jihad politik berjudul Pemilu 2014, seakan hendak menahbiskan dirinya sebagai sosok “pahlawan yang dirindu” yang pernah ditulisnya dalam buku Mencari Pahlawan Indonesia, utamanya bagi para pendukung dan kader PKS, serta masyarakat yang mulai memperhatikan segenap gerak-geriknya. Saya termasuk salah satu anak bangsa ini yang hendak menitipkan secuil harapan akan perbaikan bangsa ini di atas pundaknya. Bisa jadi ini sesuatu yang naif, bisa jadi saya terlalu berlebihan. Bisa jadi.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip sepotong tulisannya yang saya ambil dari buku Mencari Pahlawan Indonesia:

"Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata : "Jadilah pahlawan itu". [wahidnugroho.com]


Kilongan, Maret 2013 

Minggu, 24 Maret 2013

Pertanyaan Yang Sulit


Apa yang diharapkan dari sebuah tulisan yang dipublikasi melalui sebuah media bernama blog? Pertanyaan itu cukup mengganggu saya akhir-akhir ini. Apa sebenarnya misi dibuatnya blog ini? Target apa yang hendak saya capai setelah menuliskan apa yang saya rasa dan pikirkan di website yang sudah cukup berumur ini?

Oke, saya pernah membuat tulisan tentang tujuan itu. Mulai dari misi A sampai misi Z. Namun berbilang tahun kemudian, saya perlu untuk memperbarui komitmen itu, atau setidaknya menyegarkannya kembali. Kerap bergantinya template blog ini pun bagian dari ide penyegaran itu.

Saya pun sempat menerbitkan sebuah ebook di tahun 2010 yang lalu – ebook yang, menurut saya, terlalu sederhana. Ebook itu berisi kumpulan tulisan saya selama kurang lebih lima tahun yang tersebar di pelbagai web dan tersimpan rapih di hardis pribadi saya. Tak ada yang spesial, memang. Saya sendiri tidak terlalu menyambut baik penerbitan seadanya itu karena hanya saya bagikan gratis kepada siapapun yang rela menyisihkan sedikit bandwidth-nya untuk mengunduh ebook itu. Namun jawaban dari pertanyaan di atas belum bisa saya dapatkan secara utuh dan memuaskan.

Tempo hari, saya menyempatkan diri untuk membaca kembali semua tulisan saya di blog ini semenjak postingan pertamanya pada Desember tahun 2007 yang lalu. Bila ditarik lebih jauh, saya sudah aktif menulis di dunia maya sejak tahun 2006. Saya sendiri lupa kapan persisnya, berhubung blog lama saya di friendster sudah tidak bisa diakses lagi.

Ya, semuanya bermula dari friendster, kemudian berlanjut di multiply, dan berakhir di domain blogspot – yang kemudian saya upgrade menjadi domain dotkom. Apa alasan mendasar yang mendorong saya untuk menulis di dunia maya? Entahlah. Saya hanya suka menuliskan apa yang saya pikir dan rasa. Saya tidak peduli apakah tulisan saya dibaca atau tidak, disukai atau tidak, diterima atau tidak. Saya hanya ingin menulis. Begitu saja. Tulisan-tulisan di blog ini pun akhirnya mengikuti pola itu.

Maka jadilah isinya, mayoritas, lebih kepada wujud ketidakperdulian saya akan apa kata orang terhadap apa yang saya tulis. Kadang saya begitu menggebu saat menulis, kadang saya mengulurnya. Saya bahkan pernah melewatkan satu tahun tanpa sekalipun memuat tulisan saya di blog ini.

Namun di kemudian hari, saya merasa bahwa ketidakperdulian itu cukup mengganggu saya. Saya merasa bahwa rasa-tidak-peduli itu telah cukup menyianyiakan sekian waktu saya selama ini. Saya melihat banyak dari teman-teman saya yang telah berhasil menelurkan karya dari tulisan mereka. Karya yang bisa dinikmati, menginspirasi, dan karenanya diapresiasi oleh banyak orang. Tapi saya belum mencapai level itu. Bisa jadi salah satu faktor terbesarnya karena ketidakpedulian itu.

Berawal dari situlah, pertanyaan di awal tulisan ini pun muncul. Apa sebenarnya tujuan yang hendak saya capai dari website ini? Eksistensi diri? Sekedar formalitas bahwa saya adalah orang yang melek media, terpelajar, bermartabat, atau apa? Mungkin saya perlu sedikit waktu lagi untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang cukup mengganggu saya itu.

Modal utamanya adalah kejujuran hati. Bisa jadi seperti itu. Seberapa jauh saya menggunakan kejujuran hati saya saat menulis. Seberapa besar komitmen saya untuk membersamai dan mengejawantahkan ide-ide yang saya tuliskan itu di dunia nyata, bukan sekedar di dunia kata-kata. Bahkan bila ada satu dua jiwa yang tergerak setelah membacanya – izinkan saya mengutip kata-kata Anis Matta – maka itu sudah menjadi anugerah tersendiri bagi saya. Akan tetapi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah saya sudah sebenar hati untuk jujur kepada diri sendiri saat menulis?

Alat ukur yang paling tepat, bisa jadi, adalah Anda yang membaca tulisan ini. Saya mungkin perlu sedikit mendiamkan diri saya, membuka lebar-lebar telinga dan hati saya, serta mengunci rapat-rapat lisan dan kata-kata saya untuk menyimak penilaian dari Anda, sepahit apapun.

Mendung di atas selat Peling masih tampak tebal. Rerintik air hujan masih menyelimuti kota Luwuk. Di antara tumpukan buku yang sedang saya baca – semoga ini bukan dimaksudkan sebagai sebuah pencitraan – dan sambil menyimak celotehan putri ke dua saya yang sedang menaiki punggung saya sambil mengikat rambut saya dengan karet gelangnya, pencarian  pun dimulai.

Mohon maaf. [wahidnugroho.com]


Kilongan Permai, Maret 2013



Jumat, 22 Maret 2013

Egois?

Template ini nuansanya memang akan sangat egois. Tanpa blogroll, tanpa tautan ke web lain, tanpa “pemanis” apapun. Hanya ada saya, tentang diri saya, tidak ada yang lain. Anda mungkin akan muak melihat blog ini. Anda bisa jadi akan cepat bosan saat berkunjung ke sini. Tidak masalah. Sungguh tidak menjadi masalah buat saya. Toh saya memakai uang saya sendiri untuk membayar tagihan tahunan untuk "memelihara" web ini. Saya menggunakan laptop saya sendiri, modem saya sendiri, listrik yang saya bayar dengan uang saya sendiri. Minimalitas web ini sebenarnya lebih karena ke-tahudiri-an saya dengan diri saya sendiri, dengan posisi saya sendiri, dengan jati diri saya sendiri. Bahwasanya, di hidup yang makin bergetah ini, gincu dan kosmetikisasi hanya akan membuat hidup makin berat, nekoneko, cenderung ada apanya dan tidak apa adanya. Begitulah. Mohon maaf. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Maret 2013

Sabtu, 09 Maret 2013

Alangkah

Seorang lelaki muda sedang berjalan di pinggir sebuah sawah bersama istrinya. Ketika itu langit mendung dan hujan sebentar lagi akan turun. Sebuah sepeda yang ditumpangi oleh seseorang melewati keduanya dengan perlahan.

Lelaki yang sedang berjalan itu membatin, “Alangkah enaknya punya sepeda seperti itu. Aku bisa mencapai tujuanku dengan lebih cepat ketimbang berjalan kaki dan bisa membonceng istriku di belakang”. Ketika sepeda yang melewatinya sudah hilang dari pandangan, hujan pun turun. Lelaki muda yang sedang berjalan kaki itu tetap melanjutkan perjalanannya di bawah hujan sambil menggerutu pelan dan menggandeng tangan istrinya.

Sementara itu si pengendara sepeda sesaat lagi akan sampai ke tempat yang ditujunya. Beberapa ratus meter sebelum sampai, sebuah sepeda motor melewatinya dengan kecepatan sedang. Saat melihat sepeda motor melewatinya si pengendara sepeda bergumam, “Alangkah enaknya punya motor seperti itu. Aku bisa berjalan jauh tanpa harus lelah mengayuh”.

Motor yang melewati si pengendara sepeda menambah kecepatannya. Mendung di langit semakin menebal. Tak beberapa lama, rinai hujan mulai turun membasahi bumi. ketika sedang memacu motornya, sebuah mobil melewatinya. “Alangkah enaknya bila aku punya mobil seperti itu. Bila hujan tidak kehujanan dan bila panas tidak kepanasan”, batin sang pengendara motor.

Mobil yang barusan lewat ditumpangi oleh dua orang: seorang supir dan sang majikan yang sedang asyik mengutak-atik layar tabletnya. Sang majikan adalah seorang eksekutif muda yang sibuk. Jadwal hariannya sangat padat hingga tak jarang ia tak lagi memiliki waktu untuk bersantai bersama anak dan istrinya. Sang majikan memandangi hujan yang turun dengan deras dari balik jendela berkaca-film itu. Pandangannya tertuju pada sepasang lelaki dan perempuan yang sedang berjalan kaki di tengah hujan deras. Sang majikan kemudian membatin, “Alangkah enaknya menjadi seperti orang itu, dia punya banyak waktu untuk berjalan sambil bergandengan tangan di tengah hujan deras seperti ini bersama kekasihnya”. [wahidnugroho.com]


Jurangmangu, Maret 2013


Kamis, 07 Maret 2013

Si Biru Kesayangan Bapak

Sore tadi saya melihat-lihat lemari buku lawas di rumah. Ketika itu, pandangan saya tertumpu pada sebuah Al Qur’an berukuran cukup besar yang berwarna biru dongker. Sebut saja Si Biru . Covernya tampak lusuh dan berdebu serta di sisi tengahnya sudah banyak tambalan selotip berwarna cokelat. Saya langsung saja mengenali benda itu, yang selama bertahun-tahun menjadi bacaan setia almarhum bapak semasa hidupnya. Ada banyak mushaf lainnya di rumah, tapi almarhum bapak tetap setia dengan Si Biru. “Hurufnya lebih gampang dibaca”, begitu akunya.

Itulah sebabnya, saya terkadang harus bergantian dengan beliau untuk menggunakannya. Karena Al Qur’an lainnya yang ada di rumah kami hurufnya tidak jelas dan tanda bacanya suka bikin bingung. Belakangan ketika SMA, saya sudah punya Al Qur’an sendiri yang berukuran lebih kecil dan ada terjemahannya. Lambat laun, Si Biru pun saya tinggalkan, meski sesekali saya menengoknya.

Si Biru ini sudah lama kami miliki. Saya sendiri sudah lupa kapan pertama kali Al Qur’an berhuruf unik (belakangan saya ketahui itu adalah huruf khas Mushaf Utsmani) ini ada di rumah. Yang saya tahu, Si Biru ini merupakan wakaf dari Raja Fahd ibn Abdul Aziz di Arab Saudi dan dibagikan gratis. Beberapa orang di sekitar rumah juga memiliki Al Qur’an semacam ini.

Ada banyak sekali coretan yang saya buat, dan juga almarhum bapak buat, di dalam Si Biru. Beberapa coretan berupa tulisan latin yang berfungsi sebagai alat bantu saya untuk menghafal, coretan lainnya karena wujud keisengan saya dulu. Ada juga coretan tanpa makna lainnya disana.

Menimang benda ‘bersejarah’ itu, saya jadi terkenang dengan banyak hal. Dulu almarhum bapak punya semacam aturan tak tertulis bagi kami sekeluarga yang isinya adalah melarang kami untuk menonton televisi seusai Maghrib sampai dengan Isya. Karena jangka waktu itu akan beliau habiskan untuk bertadarrus Qur’an. Lantunan suaranya yang lantang menjadi simfoni rutin bagi saya, bahkan setelah saya merantau ke Luwuk. Terkadang di sela-sela pembicaraan saya dengan ibu melalui telepon, saya mendengar sayup-sayup suara almarhum yang sedang mengaji.

Ketika bulan Ramadhan, almarhum akan menghabiskan waktu lebih banyak lagi untuk membacanya. Pernah dalam suatu Ramadhan almarhum berujar dengan bangga bahwa beliau berhasil menamatkan Al Qur’an sepuluh kali dalam satu bulan. Saya yang jauh lebih muda ternyata tak mampu menyamainya, meski hanya setengahnya. Dan kebiasaan membaca Si Biru itu selalu dilakukannya sebelum beliau meninggal.

Saya juga sering mengoreksi bacaan almarhum yang salah, atau ketika mad dan makhrojnya tidak benar. “Lidah bapak udah susah, Nuk”, begitulah ucapannya ketika koreksi dari saya tak bisa diikutinya. Tapi saya sangat bangga dengan almarhum, karena waktu itu beliau satu-satunya bapak-bapak di sekitaran rumah yang paling rajin mengaji. Suaranya yang lantang dan jernih sudah tertangkap telinga ketika saya pulang dari Masjid dan langkah saya berjarak beberapa meter dari rumah.

Kini bapak sudah tiada. Si Biru hanya bisa membisu dan diselimuti debu. Saya hanya bisa berharap agar ia mau menjadi saksi bagi almarhum ketika yaumil akhir kelak, bahwa di sisa umurnya yang pendek itu, beliau sentiasa mengisinya dengan membaca dan mempelajarinya, semampu beliau, lebih dan kurangnya.

Allahummaghfirlahu wa’afiyhi wa’fu’anhu. [wahidnugroho.com]


Jurangmangu, Maret 2013
Titip rindu buat bapak