Minggu, 24 Maret 2013

Pertanyaan Yang Sulit


Apa yang diharapkan dari sebuah tulisan yang dipublikasi melalui sebuah media bernama blog? Pertanyaan itu cukup mengganggu saya akhir-akhir ini. Apa sebenarnya misi dibuatnya blog ini? Target apa yang hendak saya capai setelah menuliskan apa yang saya rasa dan pikirkan di website yang sudah cukup berumur ini?

Oke, saya pernah membuat tulisan tentang tujuan itu. Mulai dari misi A sampai misi Z. Namun berbilang tahun kemudian, saya perlu untuk memperbarui komitmen itu, atau setidaknya menyegarkannya kembali. Kerap bergantinya template blog ini pun bagian dari ide penyegaran itu.

Saya pun sempat menerbitkan sebuah ebook di tahun 2010 yang lalu – ebook yang, menurut saya, terlalu sederhana. Ebook itu berisi kumpulan tulisan saya selama kurang lebih lima tahun yang tersebar di pelbagai web dan tersimpan rapih di hardis pribadi saya. Tak ada yang spesial, memang. Saya sendiri tidak terlalu menyambut baik penerbitan seadanya itu karena hanya saya bagikan gratis kepada siapapun yang rela menyisihkan sedikit bandwidth-nya untuk mengunduh ebook itu. Namun jawaban dari pertanyaan di atas belum bisa saya dapatkan secara utuh dan memuaskan.

Tempo hari, saya menyempatkan diri untuk membaca kembali semua tulisan saya di blog ini semenjak postingan pertamanya pada Desember tahun 2007 yang lalu. Bila ditarik lebih jauh, saya sudah aktif menulis di dunia maya sejak tahun 2006. Saya sendiri lupa kapan persisnya, berhubung blog lama saya di friendster sudah tidak bisa diakses lagi.

Ya, semuanya bermula dari friendster, kemudian berlanjut di multiply, dan berakhir di domain blogspot – yang kemudian saya upgrade menjadi domain dotkom. Apa alasan mendasar yang mendorong saya untuk menulis di dunia maya? Entahlah. Saya hanya suka menuliskan apa yang saya pikir dan rasa. Saya tidak peduli apakah tulisan saya dibaca atau tidak, disukai atau tidak, diterima atau tidak. Saya hanya ingin menulis. Begitu saja. Tulisan-tulisan di blog ini pun akhirnya mengikuti pola itu.

Maka jadilah isinya, mayoritas, lebih kepada wujud ketidakperdulian saya akan apa kata orang terhadap apa yang saya tulis. Kadang saya begitu menggebu saat menulis, kadang saya mengulurnya. Saya bahkan pernah melewatkan satu tahun tanpa sekalipun memuat tulisan saya di blog ini.

Namun di kemudian hari, saya merasa bahwa ketidakperdulian itu cukup mengganggu saya. Saya merasa bahwa rasa-tidak-peduli itu telah cukup menyianyiakan sekian waktu saya selama ini. Saya melihat banyak dari teman-teman saya yang telah berhasil menelurkan karya dari tulisan mereka. Karya yang bisa dinikmati, menginspirasi, dan karenanya diapresiasi oleh banyak orang. Tapi saya belum mencapai level itu. Bisa jadi salah satu faktor terbesarnya karena ketidakpedulian itu.

Berawal dari situlah, pertanyaan di awal tulisan ini pun muncul. Apa sebenarnya tujuan yang hendak saya capai dari website ini? Eksistensi diri? Sekedar formalitas bahwa saya adalah orang yang melek media, terpelajar, bermartabat, atau apa? Mungkin saya perlu sedikit waktu lagi untuk mendapatkan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang cukup mengganggu saya itu.

Modal utamanya adalah kejujuran hati. Bisa jadi seperti itu. Seberapa jauh saya menggunakan kejujuran hati saya saat menulis. Seberapa besar komitmen saya untuk membersamai dan mengejawantahkan ide-ide yang saya tuliskan itu di dunia nyata, bukan sekedar di dunia kata-kata. Bahkan bila ada satu dua jiwa yang tergerak setelah membacanya – izinkan saya mengutip kata-kata Anis Matta – maka itu sudah menjadi anugerah tersendiri bagi saya. Akan tetapi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah saya sudah sebenar hati untuk jujur kepada diri sendiri saat menulis?

Alat ukur yang paling tepat, bisa jadi, adalah Anda yang membaca tulisan ini. Saya mungkin perlu sedikit mendiamkan diri saya, membuka lebar-lebar telinga dan hati saya, serta mengunci rapat-rapat lisan dan kata-kata saya untuk menyimak penilaian dari Anda, sepahit apapun.

Mendung di atas selat Peling masih tampak tebal. Rerintik air hujan masih menyelimuti kota Luwuk. Di antara tumpukan buku yang sedang saya baca – semoga ini bukan dimaksudkan sebagai sebuah pencitraan – dan sambil menyimak celotehan putri ke dua saya yang sedang menaiki punggung saya sambil mengikat rambut saya dengan karet gelangnya, pencarian  pun dimulai.

Mohon maaf. [wahidnugroho.com]


Kilongan Permai, Maret 2013



Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar