Kamis, 29 Mei 2014

The Bucket List



The Bucket List adalah sebuah film drama komedi yang diperankan oleh Jack Nicholson dan Morgan Freeman yang rilis pada tahun 2007 yang lalu. Film ini menceritakan tentang Edward (Jack) dan Carter (Morgan), dua orang tua penderita kanker yang dirawat di kamar yang sama pada sebuah rumah sakit dalam menjalani waktu senja mereka dengan melakukan hal-hal yang telah mereka rencanakan dalam sebuah daftar bernama The Bucket List. The Bucket List itu sendiri maksudnya adalah daftar keinginan yang ingin dilihat dan dilakukan oleh mereka berdua sebelum mereka mengalami apa yang dinamakan dengan “kick the bucket”, atau meninggal dunia. Review dan resensi film ini sudah cukup banyak tersebar di internet, jadi silakan Anda cari sendiri gambaran rincinya via mesin pencari yang tersedia.

Dulu, waktu masih sangat belia, saya pernah membuat deretan daftar keinginan yang ingin saya capai selama hidup. Seiring berjalannya waktu, beberapa keinginan yang ada di dalam daftar itu tidak semuanya bisa saya penuhi. Ada yang terpaksa harus saya ganti dan hilangkan karena satu dan lain hal. Ada yang tidak mampu saya capai karena sebab-sebab yang tak bisa saya tolak. Tapi saya merasa cukup bahagia dengan beberapa pencapaian yang sudah saya lakukan, meski, dalam level tertentu, saya merasa pencapaian itu masih bisa saya tingkatkan lagi baik dari segi kualitas dan kuantitasnya.

Sore ini, di sela-sela pekerjaan merehab rumah yang sedang berlangsung di rumah, saya membaca kembali sebuah buku, yang sampulnya berwarna abu-abu, yang sudah lama sekali saya abaikan di sudut rumah yang berdebu: Berpikir dan Berjiwa Besar yang ditulis oleh David J. Schwarz. Kali pertama saya membaca buku ini adalah saat saya masih SMA dulu. Saya tidak ingat persis di mana saya membacanya ketika itu, apakah ketika di dalam kelas atau ketika di perpustakaan sekolah, atau justru di tempat lain. Saya lupa. Tapi isi buku itu, dari sebagian besar bagiannya yang telah saya baca secara sekilas, masih saya ingat dengan jelas. Buku ini juga sempat saya baca kembali saat berkuliah di STAN. Adalah kunjungan ke sebuah toko buku di Palasari Bandung yang mengantarkan saya bertemu kembali dengan buku yang pernah saya baca bertahun silam itu. Saya juga tidak ingat persis apa nama toko buku itu. Bagian yang masih saya ingat ketika itu adalah saat saya mengambil buku bercover pink itu dari dalam tumpukan buku-buku yang ditempatkan pada sebuah lemari besi yang cukup tinggi dan saya mulai membacanya hingga nyaris lupa waktu.

Dan hari ini, setelah nyaris setengah hari saya membaca buku itu, bergantian dengan beberapa buku dan ebook lain, saya serasa mendapatkan energi untuk kembali menyusun The Bucket List yang sempat terlupa. Memang, hidup tanpa impian serasa hambar tanpa makna. Hidup yang tak diisi dengan impian hanya akan berjalan seperti rutinitas yang dapat membunuh kreativitas, dan saya tak mau menjalani hidup dengan semangat seperti itu.

Anis Matta, dalam salah satu ceramahnya, pernah berkata bahwa, obsesi terbesar yang mengisi ruang jiwa umat manusia dan karenanya menggerakkan seluruh pikiran, kemauan, dan sikap-sikapnya untuk meraihnya adalah dorongan untuk meraih kebahagiaan, sekaligus upaya untuk menghindarkan diri dari semua bentuk yang bertentangan dengan kebahagiaan. Oleh karena itu, unsur-unsur mendasar yang membentuk sebuah kebahagiaan hidup seseorang, salah satunya, adalah perasaan terarah. Itu karena pertanyaan tentang arah kehidupan adalah pertanyaan paling fitri dalam diri seorang manusia. Dan selama pertanyaan paling fitri itu tidak bisa terjawab, maka selama itulah manusia akan mengalami disorientasi hidup. Wajar bila kejadian bernama “tersesat” adalah kejadian yang paling tidak diinginkan saat hidup ini berjalan. Oleh karena itu, perasaan terarah merupakan unsur yang menciptakan keutuhan kepribadian di dalam diri seorang manusia. Dan keterahan ini dapat terwujud saat kita dapat merumuskan mission statement di dalam hidup kita.

Untuk itulah surat-surat Makkiyah didominasi oleh tema-tema ideologis semisal iman kepada Allah, iman kepada Rasul dan iman kepada Hari Kemudian, termasuk juga mengimani kehidupan setelah kematian berupa surga dan neraka. Itu karena, ketiga hal tersebut merupakan unsur mendasar yang akan menegaskan tentang arah kehidupan kita selanjutnya akan kita jalani dengan cara seperti apa. Misi apa yang akan kita emban saat nafas kehidupan ini terhembus dan bagaimana cara kita mengakhiri hidup yang sementara ini bila dikorelasikan dengan misi hidup tersebut. Maka tidak heran, ketika tema tentang kematian menjadi salah satu bahasan paling mendasar agar kita senantiasa ingat bahwa kita sebenarnya sedang menuju ke “sana”. Ada kehidupan yang lebih hakiki dan abadi di “sana”, dimana kehidupan itulah yang akhirnya akan mengisi ruang jiwa kita saat menjalani hidup yang tak seberapa lama ini. Oleh karenanya, firman Allah dalam surat Al Ankabut ayat 46 seyogyanya menjadi modal penting yang harus senantiasa kita renungkan bahwa, "Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan”. Demikianlah arah “kehidupan” yang harus selalu kita ingat.

Itulah sebabnya, The Bucket List kita bukan hanya soal kesenangan semu yang tidak memiliki korelasi positif dengan kehidupan-yang-sesungguhnya kelak, apalagi bila keinginan-keinginan itu adalah sesuatu yang bertentangan dengan agama. Tapi The Bucket List kita sesungguhnya bisa lebih bermakna dari hal-hal yang semu dan sia-sia itu, yang bisa memberikan kontribusi positif bagi kehidupan-yang-sesungguhnya kita kelak. Bucket List kita, adalah langkah-langkah terarah yang ingin kita jalani selama hidup ini, dimana langkah demi langkah itu kelak akan mengantarkan kita pada fase hidup yang sesungguhnya dan ke arah mana hidup itu akan dihabiskan selamanya.

Saya lalu merenungi banyak hal, utamanya hal-hal yang sudah terlewat. Hal-hal yang sudah saya abaikan dan lewati begitu saja. Peluang-peluang kebaikan yang sudah saya lalaikan sekian lama. Potensi-potensi kebermanfaatan yang tidak saya acuhkan selama ini. Maka, pada malam hari ini, ditemani sayup-sayup suara ceramah dari pengeras suara sebuah masjid yang ada di bawah sana, saya mulai memberanikan diri untuk membuat daftar keinginan saya, my own bucket list, yang semoga saja bisa menjadi ruang besar yang mengkoridori setiap langkah hidup saya ke depan. Saya memulainya dengan mimpi-mimpi besar saya: menghafal qur’an, naik haji, melunasi hutang-hutang, menyaksikan peristiwa-peristiwa yang saya anggap besar (semisal pernikahan adik, anak-anak, termasuk menyaksikan cucu-cucu saya), mencapai kestabilan finansial, dan hal-hal lain yang begitu kuat mewarnai labirin mimpi saya dan dapat menentukan kualitas kehidupan saya yang sesungguhnya kelak. Dalam setiap mimpi yang saya inginkan, saya menyelipkan doa untuk kebaikan saya sendiri, untuk kebaikan masyarakat yang saya diami, dan untuk kebaikan negeri yang saya cintai ini. Moga Allah mudahkan. Amin. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Mei 2014

Rabu, 28 Mei 2014

Jumlah Kebutuhan Itu Berbanding Lurus Dengan Tanggung-jawab


Jumlah kebutuhan itu berbanding lurus dengan tanggung-jawab.

Waktu masih bujangan dulu, saya menganggap bahwa tinggal di kamar kos berukuran tigakalitiga meter, dengan tumpukan buku di salah satu sudutnya dan klumbrukan pakaian yang belum disetrika di sudut yang lain sudah lebih dari cukup. Makan bisa seadanya, sesuai "amunisi" yang tersedia di kantong celana. Ada mie instan ya dimakan, ada ikan cakalang sous ya dinikmati, ada ubi banggai rebus dan dabu-dabu-tarasi ya sudah itu saja yang disantap. Kalau tidak ada makanan ya puasa, kalau tidak punya uang ya melamun saja di kamar sambil baca-baca buku yang jumlahnya tak seberapa. Mau jalan-jalan pun seenaknya. Mau pergi sampai kapanpun tak ada yang bertanya.

Waktu baru menikah, saya menganggap tinggal di rumah kontrakan kecil dengan perabotan seadanya pun tak mengapa. Saya ingat betul perabotan pertama yang saya beli saat baru menikah dulu adalah sebuah kompor minyak tanah, wajan penggorengan, panci, dan perlengkapan dapur lainnya. Sebagian perabot diberikan oleh mertua termasuk rice cooker dan kasur pegas. Lemari es pun diberikan oleh kepala kantor saya yang lama. Perabotan dapur lainnya seperti piring dan mangkok saya “cicil” dengan cara membeli deterjen berhadiah piring dan atau mangkok.

Waktu putri pertama saya belum lahir, saya menganggap bahwa tinggal di mana saja asalkan bersama istri itu bukan suatu masalah. Di lingkungan yang agak berisik dan padat pun tak mengapa. Di rumah kontrakan yang tidak terlalu nyaman asal terlindung dari panas dan hujan pun tidak mengapa. Namun, resiko yang bisa saja timbul saat memutuskan tinggal di lingkungan yang tidak begitu tenang dan padat itu ternyata cukup mengkhawatirkan saya ketika buah hati kami lahir kelak. Maka, diputuskanlah untuk pindah ke kontrakan lain yang lebih tenang, dan kami pun mendapatkannya. Kepindahan itu pun  berakibat pada timbulnya kebutuhan lain yang diperlukan oleh sebuah keluarga kecil yang hendak tumbuh. Maka jadilah barang sekian dan sekian masuk ke dalam daftar kebutuhan keluarga kami ketika itu.

Waktu putri ke dua saya lahir, jumlah kebutuhan lainnya pun meningkat. Pun ketika kami memutuskan untuk merehab total rumah mertua yang sudah tidak layak huni agar nyaman kami sekeluarga tempati juga menjadi salah satu kebutuhan di antara deretan kebutuhan lain yang kami kehendaki menjelang kelahiran putri ketiga kami.

Waktu keluarga kecil kami, keluarga kecil yang masih belia dan hijau itu, datang dan memasuki sebuah komunitas masyarakat baru yang lebih besar dan heterogen, maka hadirlah kebutuhan-kebutuhan lain yang tidak pernah saya pikirkan sebelumnya ketika masih bujangan dulu. Maka mulailah kami membangun dapur yang agak besar, kamar tambahan, mempermak rumah habis-habisan, membuat saluran pembuangan air, membangun garasi, memperbaiki teras, membuat pagar rumah meski sederhana, memplafon langit-langit yang menganga agar tampilan rumah sederhana itu jadi “layak” dan mantesin di mata tetangga, mencari lemari kayu bekas warisan mertua dan dari kantor saya yang sudah tidak terpakai untuk menyimpan koleksi buku saya yang makin tak terbendung, termasuk membeli perabotan yang dulu tak pernah terbayangkan untuk dimiliki seperti oven, mixer, tea set, cetakan puding, dan perabotan lain.

Maka benarlah adanya. Jumlah kebutuhan berbanding lurus dengan tanggung-jawab yang diri kita emban sebagai pribadi, dan pribadi yang memiliki fungsi dan peran tertentu dalam sebuah komunitas tertentu, dengan masalah-masalah tertentunya. Apalagi dengan adanya peran kemasyarakatan yang semakin banyak dan luas. Dipercaya sebagai ini, diminta sebagai itu, dianggap begini, dan disebut begitu, dalam hal positif, tentu saja, mengundang kebutuhan-kebutuhan lain yang sebelumnya hanya dianggap angin lalu dan sepele seperti peci nasional, baju koko yang baru, baju batik yang baru, sendal yang baru, dan sepatu serta celana baru. Saya yang dulunya hanya bersarung dan berkaos saat shalat di masjid, kini harus memperhatikan  penampilan saya, minimal dengan berbaju koko rapi jali, wangi, dan berpeci.

Jumlah kebutuhan dalam hidup berbanding lurus dengan jumlah tanggungjawab dan peran yang kita jalankan. Saya percaya itu, dan sedang belajar agar tidak terlalu gagap dalam memenuhinya. Dulu saya menganggap hidup ini akan saya jalani dengan sederhana, mudah, dan tidak rumit. Namun saat saya masuk ke dalam pusaran aktivitas masyarakat ternyata tidak semudah dan sesederhana yang saya kira, meski dalam beberapa hal, kesederhanaan dan ketidakrumitan itu yang diperlukan untuk mengurai permasalahan yang yang ada. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Mei 2014

Selasa, 27 Mei 2014

Saat Kau Terjaga Hingga Larut Malam

Saat kau terjaga hingga larut malam, sendirian, maka suara-suara yang sebelumnya luput dari indra pendengarmu akan bermunculan satu demi satu. Suara tuts keyboard komputermu, suara jarum jam dinding yang berdetak nyaring, suara binatang malam yang bernyanyi riang, suara tiupan angin, suara gemerisik dedaunan, suara kendaraan bermotor di kejauhan, suara raungan sirene, suara kepak sayap binatang malam, suara lolongan anjing yang saling bersahutan, suara tetesan air dari keran di kamar mandi yang tak tertutup sempurna, suara hembusan nafas anak dan istri yang terlelap di sebelahmu, suara celotehan orang-orang yang masih terjaga di pos ronda, dan suara-suara lain yang kau tak mengerti entah milik siapa.

Saat kau terjaga hingga larut malam, sendirian. Kau terkadang dapat mendengar suara kokok ayam jantan, kau terkadang dapat mendengar raungan kesedihan dan ratapan keputusasaan, kau terkadang dapat mendengar suara igauan anak-anakmu, kau terkadang dapat mendengar bunyi notifikasi dari seluler pintarmu yang berada di bawah tumpukan bantal, kau terkadang dapat mendengar suara tangisan anak-anak dari rumah sebelah, kau terkadang dapat mendengar perselisihan orang-orang yang sedang bermabukan.

Saat kau terjaga hingga larut malam, sendirian. Kau tidak mendengarkan apapun kecuali degup jantungmu, desah nafasmu, bunyi persendianmu, pilinan rambutmu, gemertak gigimu, ketukan jemarimu, bahkan suara hatimu sendiri. Dunia serasa kosong. Sepi. Dan kau mulai mendengarkan bisikan di dalam hatimu, erangan jiwamu, gejolak syahwatmu, kegelisahan pikirmu, dan suara-suara lain yang muncul dari dalam dirimu. Bahkan bukan tidak mungkin, kau mulai mendengarkan suara Tuhan di sela sujud-sujud panjang dan doa-doa yang kau lantunkan.

Saat kau terjaga hingga larut malam, sendirian. Suara apa yang ingin kau dengarkan dengan sangat, dan suara apa pula yang hendak kau tolak kuat-kuat? [wahidnugroho.com]

Kilongan, Mei 2014 

Sabtu, 24 Mei 2014

Book Fetish: Semacam Muqaddimah


Fetish berasal dari bahasa Portugis, feticio, yang artinya pesona. Awalnya, istilah fetish digunakan secara umum untuk menggambarkan sebuah kondisi yang melahirkan kecintaan dan hasrat akan sesuatu secara spesifik. Namun belakangan, definisi fetish mengalami penyempitan makna menjadi sebuah gejala penyimpangan seksual, yakni sebuah hasrat seksual terhadap suatu bagian tubuh, objek, atau gerakan pada tubuh.

Dari segi psikologis, penyakit fetish ini membuat penderitanya (fetishist) menjadi sangat terobsesi dengan bagian tubuh, objek, atau gerakan tubuh tertentu dan hanya mencintai pada bagian yang membuatnya terobsesi itu saja. Kenapa gejala ini disebut dengan kelainan? Karena penderita fetishism ini tidak akan tertarik selain objek dari fetish-nya itu sendiri (biasa disebut partialism).

Misalnya begini. Ada yang punya kelainan fetish terhadap, maaf, ketiak perempuan. Orang yang punya obsesi terhadap ketiak akan sangat dimungkinkan mencapai kepuasan seksual hanya dengan melihat bagian tersebut tanpa peduli siapa pemilik ketiak itu, apakah wanitanya sedap dipandang atau tidak, apakah ketiaknya berbulu lebat atau tidak (halah). Kinda weird, huh? Ya begitulah situasinya.

Tulisan ini bukan tentang fetish yang sudah saya terangkan di atas, tapi tentang fetish yang lain yakni buku, atau yang saya sebut sebagai book fetish. Book fetish, atau insatiable appetite for reading, adalah sebuah ketertarikan terhadap bagian tertentu dari sebuah buku, tak peduli siapa penulis buku itu, bahkan mungkin judulnya. Saya pribadi belum menemukan definisi yang baku tentang istilah book fetish ini tepatnya seperti apa.

Jadi, bagaimana book fetish itu? Misalnya saja begini.

Ada orang yang tergila-gila dengan cover sebuah buku tua, makin tua sebuah buku maka makin seksi, katanya. Entah seksi dimananya. Ada yang sangat terobsesi dengan bunyi halaman buku yang sedang dibolak-balik. Bunyi kertas yang bercumbu dengan jari-jemari itu melahirkan sebuah ekstase tersendiri, katanya. Ada juga yang sangat terobsesi dengan aroma sebuah buku, makin kecut dan berbau debu maka semakin menerbitkan nafsu birahinya dengan buku itu, entah nafsu birahi apa. Ada juga yang terobsesi dengan material sebuah buku,  buku yang terbuat dari kulit, misalnya. Atau ada juga yang sudah mencapai kepuasan batiniah hanya dengan memandangi deretan atau tumpukan buku yang ada di lemarinya. Meski begitu, ada juga model fetish yang cukup simpel: buku. Dia hanya akan mengalami, katakanlah, orgasme jiwa saat melihat buku itu sendiri.

Seorang jurnalis bernama Porter Anderson malah menggambarkan sosok seorang book fetishist ini dengan sebuah penjelasan yang sangat sederhana berikut ini;

"A lot of folks have something that sure looks like a fetish about books. They hold physical books to be little short of sacred. It may not matter what’s in them, either. Just books. Any books, as long as they’re physical paperback or hardcover books."

Ada juga model fetish yang lain. Misalnya seperti berikut.

Saat pikiran sedang penat, maka ada orang yang akan mendatangi lemari bukunya, memandangi deretan buku-bukunya dengan pandangan takzim, sesekali mengusap debu yang menempel pada beberapa bagian bukunya, mengambil salah satu buku dan mulai membolak-baliknya, meraba cover dan lembar-lembar halamannya, mencium aromanya, membaca-baca beberapa bagiannya, dan, sim salabim, kepenatannya lalu menguap. Nggak percaya? Tipe terakhir ini terjadi pada diri saya sendiri.

Lalu bagaimana dengan buku digital atau ebook?

Well, saya termasuk orang yang masih berpikiran konservatif bahwa buku adalah buku ketika saya bisa membolak-balik halaman per halamannya dengan ujung jemari saya sendiri dan mampu meraba setiap senti bagian “tubuhnya” dengan tangan saya sendiri. Karena buku digital atau ebook bukanlah sebuah produk buku, bagi saya, ia hanya bagian dari pelayanan penerbit kepada pembacanya untuk dapat “menikmati” buku yang mereka terbitkan dengan cara lain. See? It’s just a part of publisher’s service to their reader, not the book itself. Di samping itu, buku fisikal dapat menghadirkan kepuasan tersendiri saat memandangi sebuah lemari kayu tua yang berisi deretan buku-buku aneka rupa di kala sinar matahari senja jatuh pada salah satu sudutnya dan menghadirkan efek tyndall berupa debu-debu yang beterbangan kesana kemari saat Anda memindahkan satu dua buku dari barisannya, atau sekedar menepuk-nepuk cover berdebunya. Tapi ini bukan berarti saya anti dengan buku digital, lho. Saya hanya merasakan sensasi yang berbeda saat membaca ebook bila dibandingkan dengan membaca buku cetak meski isi dari buku itu mungkin sama saja dan tak ada bedanya. Lagipula, kalau “hanya” berupa ebook, dimana letak fetishnya?

Itu bagi saya. Kalau selera kita ternyata tidak sama ya ndak apa-apa. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Mei 2014 

Kamis, 22 Mei 2014

Bapak...


Suara tarhim terlantun jernih dari arah pengeras suara. Masjid Agung perlahan mulai ramai. Seorang bapak tua berjaket cokelat lusuh lalu berdiri di depan saya. Ia lalu melepas jaket yang sedang dikenakannya dan duduk bersandar di tiang masjid sambil menatap ke arah permadani berwarna merah. Waktu Maghrib sudah mendekat. Sang muadzin yang duduk tak jauh dari tempat saya mulai melihat ke arah jam digital di depannya.

Dari balik punggungnya, saya mengamati sosok lelaki tua yang rambut kelabunya mulai menipis di bagian belakang itu dengan seksama. Posturnya tampak familiar dengan saya. Bahunya yang membungkuk itu seolah pernah saya lihat sebelumnya. Rambut tipis dan uban yang mewarna di kepalanya seperti pernah saya temui di masa yang telah lewat. Saat memandangi punggung lelaki tua itu, saya lalu teringat dengan sosok lelaki yang nyaris tujuh tahun lalu telah meninggalkan saya: bapak.

Adzan Maghrib mulai menggema, memenuhi rongga-rongga masjid di sore yang penat itu. Lelaki tua di depan saya masih duduk bersandar di tiang masjid, sementara ada lelaki lain yang sedang mengamati keberadaannya tanpa disadarinya. Ada rasa hangat yang tiba-tiba muncul dari pelupuk mata yang langsung saya halau kehadirannya.

Adzan Maghrib telah selesai dikumandangkan. Saya lalu merapalkan do'a untuk baginda Nabi dan tak lupa mengirimkan selaksa doa pula kepada bapak, yang sampai detik ini masih belum bisa saya lepas kepergiannya yang sangat tiba-tiba itu.

Duh, Gusti, maafkan hambaMu yang lemah ini.

Allahummaghfir lahu warhamhu, wa’aafihi wa’fu ‘anhu, wa akrim nuzulahu, wa wassi’ madkhalahu, waghsilhu bil-ma’i watstsalji wal-baradi. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Mei 2014 

Menyikapi Masalah Anak


Siang ini saya dan istri menjemput anak-anak di sekolah. Ketika semua anak-anak yang saya jemput sudah masuk ke dalam mobil dan istri saya kembali, ternyata Mbak Azka masih belum nampak. Saya lalu bertanya kenapa Mbak Azka-nya nggak ada? Istri saya lalu menjawab, “Dia nggak mau pulang”.

“Nggak mau pulang gimana maksudnya?” tanya saya heran.

Saya lalu kembali menyuruh istri masuk ke dalam sekolah dan menjemput Mbak Azka agar segera naik mobil. Dua menit berselang istri saya nampak sedang berjalan keluar dari dalam gerbang sekolah. Sendirian. Tidak ada Mbak Azka di sampingnya.

“Dia nangis, bi. Nggak mau pulang, katanya.”

“Loh? Kenapa?”

“Dia mau ikut menari tapi tidak diajak sama ibu gurunya.”

Setengah kesal dan tidak percaya, saya lalu keluar dari dalam mobil dan berjalan ke dalam sekolah. Dari depan pintu kelas, saya melihat beberapa siswi, teman sekolahnya Mbak Azka, sedang berlatih menari. Saya mendapati putri sulung saya sedang duduk di ujung kursi kayu bersama teman-temannya yang sedang melihat latihan menari itu; menangis dan menggigiti jarinya. Ia lalu melihat saya dan menatap dengan matanya yang sendu.

“Mbak Azka kenapa? Ayo pulang, nak”, ajak saya.

Ia tetap menangis. Matanya mengarah kepada teman-temannya yang sedang latihan menari lengkap dengan aksesorisnya. Saya langsung bisa menangkap maksud tangisan putri saya itu dan dengan pandangan mata saya lalu mengajaknya keluar kelas. Ia menurut dan ke luar dari kelas untuk mencari sepatunya. Saat berjalan menuju mobil, saya menggandeng tangannya dan membujuknya untuk diam. “Malu menangis di depan teman-temanmu, nak”, bujuk saya. Ia tetap menangis. Saya lalu bertanya lagi.

“Mbak Azka kenapa menangis?”

“Mbak Azka mau ikutan menari.”

“Oh, gitu. Tapi berhenti dulu nangisnya ya, malu kalo diliat teman-temannya Mbak Azka.”

Ia bergeming.

Saat masuk ke dalam mobil, Mbak Azka lalu duduk di baris ke dua bersama Fidel dan teman-temannya yang lain. Suara isak tangisnya masih terdengar dari balik kemudi. Saya lalu bertanya kepada istri tentang gerangan apa yang terjadi pada putri sulungnya itu.

Istri saya lalu bercerita tentang latihan menari sebagai persiapan untuk acara pengambilan rapot di sekolahnya. Tentang betapa senangnya Mbak Azka yang belakangan ini suka menari sendirian di rumah. Ia ingin ikut ambil bagian sebagai penari dalam acara itu. Namun hasilnya antiklimaks. Karena ia tidak dipilih oleh guru-gurunya. Saat berbicara, suara istri saya bergetar pertanda ia sedang menahan emosinya agar tidak meluap saat bercerita. Saya manggut-manggut tanda mengerti dan menanyakan beberapa poin lagi perihal kriteria apa yang dipakai ibu gurunya Mbak Azka saat menunjuk siswi yang ikut ambil bagian sebagai penari. Istri saya tidak tahu dan mengatakan beberapa kemungkinan. Ada nada investigatif dalam tata bahasanya. Seolah ia hendak memprovokasi saya untuk larut emosional dengan hasil investigasinya. Tapi saya bergeming.

Saya lalu mencari benang merah antara tangisan Mbak Azka yang tidak lolos uji seleksi tim tari dengan standarisasi perekrutan anggota tim tari oleh ibu-ibu gurunya yang, dalam pandangan istri saya, tidak objektif. Ada semacam aroma “ketidakadilan-dalam-pembentukan-anggota-tim-tari” yang terendus oleh istri saya saat itu.

“Harusnya anak-anak itu ditanya, mau ikut atau tidak. Jangan yang itu-itu saja yang ditunjuk”, ujar istri saya. Kesal.

“Memangnya yang ditunjuk untuk tampil beneran yang itu-itu saja? Memangnya kamu sudah tanya sama ibu gurunya?” cecar saya untuk menetralkan kekesalannya. Ia diam dan memuntahkan argumentasi dan kemungkinan lainnya, masih dengan nada kesal dalam suaranya.

Di tengah perjalanan, saya lalu meminta Mbak Azka untuk maju ke depan supaya bisa dipangku oleh umminya dan bisa saya tanyain perihal beberapa poin penting dari peristiwa tangisan di sekolah tadi.

“Mbak Azka suka menari?”

“Suka.”

“Nanti abi mau tanya ke ibu gurunya Mbak Azka dulu ya, kenapa Mbak Azka sampai tidak ikut menari.” Ia mengangguk.

“Tapi..” lanjut saya, “...kalau misalkan Mbak Azka tidak bisa ikutan menari Mbak Azka tidak menangis lagi?”

Ia menggeleng. Menangis.

Kemauannya untuk turut serta dalam tim menari ternyata sangat kuat. Saya melihat air mata yang menganak sungai di pipinya dan menyuruhnya untuk diam. Ah, putriku ini sudah bisa merasa sedih karena ditolak, ternyata.

“Siapa tau Mbak Azka bakalan diajak taun depan. Mbak Azka mau?”

Ia menggeleng. Menangis. Lagi.

Saya lalu menoleh ke arah istri.

“Nanti aku mau bicara sama ibu gurunya. Siapa nama ibu guru yang ngurus acara ini, mi?”

Istri saya menyebut sebuah nama. Saya kenal dengan nama itu.

“Kalau begitu nanti aku mau bicara sama kepala sekolahnya saja.”

Istri saya setuju.

Dalam perjalanan pulang, saya lalu menasihati istri tentang berlaku objektif saat ada, katakanlah, “ketidakadilan” yang menimpa anak-anak kita. Saat anak-anak kita diperlakukan tidak adil oleh keadaan maka respon pertama kita bukanlah mengutuki keadaan itu tapi justru memberikan pemahaman kepada anak-anak bahwa hidup ini tidak selamanya berlaku adil kepada kita. Kita tidak bisa meminta semua orang untuk berlaku baik dan sesuai dengan idealisme yang kita miliki saat bergaul dengan anak-anak yang sudah kita besarkan dengan idealisme tertentu. Adakalanya, kita perlu membiarkan anak-anak merasakan sedih, ditolak, atau dalam hal ini, bersikap legowo saat tidak lolos seleksi yang nampak tidak adil, dan sesekali mengakrabi mereka dengan kepahitan hidup agar mereka bisa belajar menunjukkan sikap terbaik saat menghadapinya. Tugas kita sebagai orangtua bukanlah untuk mengusir jauh-jauh semua permasalahan anak-anak, tapi tugas kita sebagai orangtua adalah mengajari mereka tentang sikap terbaik saat mereka menghadapi masalah. Masalah mereka sendiri.

Lagian, siapa juga sih orangtua yang pengen anaknya dapet masalah? Saya kira nggak ada. Tapi masalah kadang datang tanpa diundang dan mau tidak mau, suka tidak suka, kita perlu membekali diri saat uninvited problem itu datang mengetuk pintu rumah kita.

Sayangnya, ada orangtua yang terlibat terlalu jauh dalam permasalahan anak-anak, bahkan ikut larut dalam masalah tersebut dan membiarkan anak-anaknya menonton kedua orangtuanya berakrobat menyelesaikan masalah yang menimpa dirinya. Hal semacam itu, kalo menurut saya, justru akan melahirkan anak-anak manja yang selalu bergantung dengan belas kasihan dan simpati orang lain.  Anak-anak yang tidak peka dengan dirinya dan cenderung menyalahkan kondisi saat ia menjumpai permasalahan. Ini tentu hal yang ingin kita hindari.

Jadi, saat anak-anak kita diperlakukan tidak adil, tidak sesuai dengan norma hidup yang kita yakini, tidak sejalan dengan idealisme yang kita miliki, maka katakan saja kepada mereka bahwa hidup ini memang tidak akan selalu berbaik hati kepadamu, tapi ia akan menawarkanmu kesempatan ke dua untuk memperbaiki diri agar dapat mengubah kepahitan hidup itu menjadi pelajaran hidup yang dapat mendewasakan akal dan pikirmu.

Saya kira, tugas pertama saya untuk menyamakan frekuensi dengan istri saya saat menyikapi masalah tangisan dan kemungkinan ketidakadilan itu, dari sudut pandang saya sebagai orangtua, sudah saya lakukan. Tugas ke dua saya adalah menasihati Mbak Azka agar ia dapat memberikan respon terbaik dari situasi pelik, pelik sesuai dengan level usianya, yang sedang dihadapinya. Tugas ke tiga saya, tentu saja, mengklarifikasikan hasil “investigasi” istri saya kepada ibu guru yang berwenang agar ada kesepahaman yang didapat dari tragedi kecil tadi siang. Tugas pertama saya sudah selesai. Tugas ke dua sedang saya usahakan, dan tugas ke tiga rencananya akan saya selesaikan malam ini.

Menjadi orangtua memang tidak (selalu) mudah. Ini adalah sebuah proses pembelajaran yang sangat berguna bagi saya dan istri yang masih berstatus sebagai orangtua baru, yang tentu saja masih sangat hijau dengan hal-hal semacam ini. Saya bukan pakar pendidikan anak. Saya juga bukan orang yang punya kompetensi dalam dunia perparentingan. Saya hanya menuruti intuisi dan kata hati saya untuk menyikapi masalah itu sesuai dengan apa yang saya yakini dan pahami selama ini. Semoga apa yang saya, kami, lakukan ini baik adanya. Amin. [wahidnugroho.com]


Tanjung, Mei 2014 

Minggu, 18 Mei 2014

Luwuk di Ujung Senja



Nyanyian tonggeret melengking nyaring dari arah pohon palem yang berdiri tegak. Saat tonggeret bernyanyi itu artinya musim penghujan sudah berada di penghujungnya meski cuaca di Luwuk akhir-akhir ini semakin tidak jelas apakah musim hujan atau musim kemarau. Saya selalu suka mendengar nyanyian serangga yang punya daur hidup menakjubkan itu. Pertama kali saya mendengar suara tonggeret atau dalam istilah jawa garengpung itu adalah saat mamak mengajak saya jalan-jalan ke perbukitan Gondosuli lebih dari dua puluh tahun yang lalu. Suaranya yang berisik tapi menenangkan itu terkadang mampir juga ke plafon rumah di atas bukit kami di kala senja.

Tiupan angin menimbulkan tarian dedaunan yang saling berbisik. Tiga orang anak lelaki sedang bermain di seberang jalan dekat taman di samping kantor Telkom. Seorang lelaki muda tampak sedang memotret seorang gadis belia di dekat sebuah pohon bunga tak jauh dari tempat saya berada. Suara renjis tawa mereka menjadi lantunan yang berpadu harmoni dengan suara lain yang saya sesap di sore itu. Di bawah bayang-bayang pohon palem, saya duduk menyelonjorkan kedua kaki, bersandar pada undakan beton rendah yang saya lapisi dengan sandal jepit agar tidak menyiksa punggung, meletakkan handphone dan tas selempang kecil di dekat sandal jepit lainnya yang berbaring begitu saja di atas rumput. Saya mencoba memotret semua peristiwa yang bergulir di sekitar saya saat itu: langit biru, awan abu-abu, cahaya matari yang temaram, bukit, udara, hijaunya dedaunan, dan mencoba untuk menuangkannya dalam tulisan. Tapi saya tak mampu kecuali hanya sebagian kecilnya saja.

Arus lalu lintas di depan Gelora sudah mulai ramai, begitu juga dengan jalan Ir. Sukarno yang sedang saya belakangi. Sekelompok anak muda, sepertinya fans dari sebuah klub Eropa, tampak sedang menyiapkan booth untuk acara nonton bareng di halaman sebuah rumah besar yang ada di sisi jalan. Saya membuka buku Fatherland yang sebelumnya saya pegang, membolak-balik beberapa halamannya, meletakkan pembatasnya di samping handphone saya dan mulai membaca.

Sore itu saya sedianya mengantarkan teman-teman istri saya ke lokasi pengajian di luar kota, tapi batal karena satu dan lain hal. Saat hendak kembali ke kantor untuk lanjut lembur, saya mengurungkan niat itu dan mengarahkan mobil saya ke arah Masjid Agung. Saya berniat untuk bertetirah sebentar di bawah bayang-bayang menaranya dan membaca buku di situ. Sebuah lagu dari Blake Shelton dan The Band Perry menemani perjalanan saya saat mobil yang saya kendarai memasuki areal Masjid Agung. Sekelompok anak kecil tampak sedang latihan karate di pelataran masjid yang diteduhi bayangan masjid, sementara ada dua orang laki-laki paruh baya tampak sedang duduk di bawah bayang-bayang menara. Menyadari bahwa calon lokasi nongkrong saya sudah digunakan orang lain, saya lalu mengurungkan niat untuk duduk-duduk di lokasi itu dan mengarahkan kendaraan saya ke tempat lain sampai akhirnya sebuah undakan di atas taman Gelora, tempat latihan silat, yang ada di depan kantor Telkom menjadi destinasi akhir saya sore itu.

Entah kapan terakhir kali saya melakukan semacam aktivitas ini: jalan-jalan sendiri, lalu duduk-duduk di tempat yang agak sepi dan membaca buku. Aktivitas yang cukup sering saya lakukan saat masih jomblo dulu. Biasanya saya akan membawa tas berisi satu atau dua buku, lalu duduk di Taman CD kampus STAN, atau spot lain yang sepi dan tenang di sekitaran kampus Jurangmangu dan mulai membaca atau menambah hafalan saya yang tak seberapa itu. Semenjak menikah dan memiliki tiga orang putri yang aktif, aktivitas seperti itu nyaris sudah tak pernah saya lakukan. Di ujung senja yang menua, saya ingin kembali melakukan aktivitas itu dan kini saya sedang mulai untuk menikmatinya meski durasinya tak seberapa lama.

Setelah bergonta-ganti posisi duduk beberapa kali, saya akhirnya menemukan posisi duduk yang enak. Setengah jam, satu jam berlalu, hingga akhirnya suara tilawah dari pengeras suara di Masjid Agung mulai terdengar. Nyaris dua jam saya duduk dan membaca di tempat itu, ternyata. Sesekali saya menghentikan bacaan saya dan melihat ke sekeliling. Mendengar, mengamati, dan sesekali memejamkan mata saya sambil menikmati alunan suara kota Luwuk di kala senja. Saya melihat jam di handphone; sudah setengah enam lewat. Itu artinya, beberapa belas menit ke depan suara tarhim sudah siap dikumandangkan.

Saya membersihkan kaki dan celana dari kerikil dan tanah kering yang menempel, mengembalikan pembatas ke lembar halaman yang terakhir saya baca, memasukkan handphone ke dalam tas selempang dan mulai meregangkan tubuh saya yang terasa agak kaku. Matahari sore masih menyisakan seberkas sinar lembutnya dari balik bukit sementara langit di ufuk barat sudah mulai berwarna abu-abu tua. Saya lalu berjalan ke arah mobil yang saya parkir tak jauh dari tempat saya duduk, membuka pintunya, meletakkan buku dan tas di jok sebelah, menstarternya, dan melaju perlahan membelah lalu lintas Luwuk di Sabtu senja yang penuh warna, ditemani suara Tim McGraw dari pemutar musik di mobil.  Saya mengarahkan mobil ke Masjid Agung, bersiap untuk menunaikan shalat Maghrib di sana dan melanjutkan agenda lembur saya di kantor sebelum akhirnya pesan pendek dari istri saya membuat saya merubah agenda paska senja itu.

Kilau cahaya lampu dari rumah-rumah di atas bukit dan Luwuk Shopping Mall berpendaran lemah di permukaan Teluk Lalong yang tenang. Mungkin lain kali saya akan melakukan kegiatan seperti ini lagi. Mungkin. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Mei 2014 

Sabtu, 03 Mei 2014

Bagian Satu

Udara pagi terasa bersih dan segar. Shubuh baru saja berlalu. Seorang lelaki tampak mengendarai sepeda onthel di  jalanan yang masih lengang. Di bagian belakang jok sepeda itu terdapat beberapa tumpuk koran yang diikat dengan tali rafia. Beberapa toko dan warung terlihat masih tutup meski ada satu dua warung rokok yang sudah buka, termasuk warung bubur ayam yang terletak di dekat persimpangan jalan ke arah pusat kota. Kabut tipis perlahan menghilang seiring sinar matahari yang mulai muncul dari perbukitan. Seekor kucing berwarna abu-abu masih tertidur pulas di bawah meja kayu dekat sebuah warung rokok. Belum ada satupun kendaraan bermotor yang lewat di jalan itu. Sayup-sayup terdengar suara ayam jantan berkokok entah dari mana asalnya.

Aroma tumisan bumbu masak dari beberapa rumah mulai tercium saat langkah perempuan paruh baya itu membelok ke sebuah gang sempit dengan langkah tersaruk-saruk. Tangan kanannya menenteng sebuah plastik keresek hitam sementara tangan kirinya memegang sebuah keranjang berisi sayuran dan buah-buahan. Suara langkah kakinya yang mulai renta menjadi satu-satunya suara yang menggema di gang sempit itu. Indra pendengarannya yang sudah agak payah menangkap suara tangisan bayi dari sebuah rumah di ujung gang. Perempuan itu kemudian berhenti sebentar, meletakkan barang bawaannya yang cukup berat dan mengeluarkan sapu tangan lusuh dari dalam saku celananya. Perempuan itu lalu mengusap dahinya yang penuh keringat sebesar biji jagung, padahal ketika itu udara masih cukup dingin. Saat hendak melanjutkan perjalanan, kedua tangannya menggapai-gapai dua barang bawaan yang sebelumnya diletakkan di dekatnya. Perempuan itu terkejut ketika tidak mendapati plastik dan keranjang itu di sana. Saat menoleh ke belakang, ia melihat sosok seorang pemuda dengan senyum mengembang berdiri di sana sambil menenteng barang bawaan yang sebelumnya dibawa oleh perempuan itu. Pemuda itu lalu menguluk salam kepadanya. Perempuan itu membalas salam sang pemuda dan mengamatinya dengan seksama. Pandangannya yang sudah agak kabur, ditambah intensitas cahaya di dalam gang yang temaram, membuat perempuan itu butuh waktu beberapa detik untuk mengenali sosok pemuda yang ada di hadapannya.

“Rozak!”

Pemuda yang dipanggil Rozak itu lalu berjalan sambil menenteng barang bawaan milik perempuan yang sebelumnya ada di sisinya.

“Dari pasar, bude?”

Perempuan yang dipanggilnya Bude itu mengangguk. Punggungnya terasa jauh lebih ringan setelah dua barang itu berpindah tangan darinya ke Rozak.

Diamatinya sosok Rozak yang saat itu mengenakan sarung dan kaus putih bertuliskan Bike To Work. Wajahnya terlihat segar dan rambutnya tersisir rapi. Tercium aroma parfum yang tidak terlalu menyengat dari tubuh Rozak saat perempuan itu mengikuti langkah cepatnya dari belakang.

Sinar matahari berwarna jingga perlahan mulai tampak di atap-atap rumah yang sebagian besarnya pintunya masih tertutup. Terdengar suara kunci yang sedang dibuka dari salah satu pintu rumah yang mereka lewati, diikuti dengan munculnya seorang lelaki yang sudah mengenakan helm dan mengenakan jaket kulit berwarna hitam sambil mendorong motor matic keluar dari dalam ruang tamunya. Lelaki itu melambaikan tangannya kepada perempuan itu yang langsung membalasnya dengan lambaian tangan dan senyuman di wajahnya.

“Kamu darimana, Zak?”, tanya Bude Wur.

“Biasa, abis apel pagi, bude”, jawab Rozak tanpa menoleh.

“Apel pagi?”

“Sholat Shubuh,” ujar Rozak terkekeh.

Bude Wur ikutan terkekeh.  Keduanya lalu berjalan tanpa suara dan melalui jalan yang lebih terbuka. Puncak bukit di atas sana tampak sudah mulai diterangi cahaya mentari yang bersinar lembut.

Rozak dan Bude Wur akhirnya sampai pada sebuah rumah yang di bagian depannya dijadikan warung kelontong, sementara di teras bagian sampingnya terdapat beberapa tumpuk kursi plastik dan meja kayu yang diletakkan di salah satu sudut rumah. Beberapa pot tanaman hias tampak berjejer rapi di bagian teras yang tidak dikeramik. Bunga bougenville aneka warna tampak menyemak di dekat pagar. Sebuah siluet perempuan yang sedang mengenakan mukena tampak sedang berdiri di depan pintu sambil memegang buku kecil di tangannya. Sepertinya ia sedang memegang Al Qur’an.

Rozak sempat melirik sekilas ke arah perempuan bermukena putih itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dengan gerakan mata dan dagunya, Bude Wur memberikan isyarat kepada perempuan bermukena itu untuk segera membuka pintu gerbang. Perempuan bermukena itu lalu meletakkan Al Qur’an yang sedari tadi dipegangnya di atas salah satu meja kayu dan bergegas ke arah gerbang yang hanya berjarak beberapa meter tersebut. Gerbang besi itu berderit ketika dibuka.

“Assalamu’alaikum.” Bude Wur langsung menghambur ke arah teras, meninggalkan Rozak berdiri sendirian di luar gerbang yang setengah terbuka.

“Wa’alaikumsalam, bu.” Perempuan bermukena itu mengamati sosok ibunya yang langsung melenggang ke arah pintu tanpa membawa apapun di tangannya. Perempuan bermukena itu melirik ke arah lelaki bersarung yang sedang berdiri di depan gerbang sambil membawa tentengan di kedua tangannya. Rozak? Pikirannya berkata bahwa kedua tentengan yang sedang dibawanya itu adalah barang belanjaan milik ibunya.

“Mana barang belanjaannya, bu?” tanya perempuan bermukena itu retoris, seolah tidak mengacuhkan kehadiran Rozak yang masih bergeming di depan gerbang. Terdengar raungan mesin sepeda motor dua tak dari arah rumah yang berjarak tak begitu jauh dari situ. Seekor cicak besar sedang mengintai nyamuk-nyamuk yang masih beterbangan di sekitar lampu di plafon.

Dagu Bude Wur menunjuk ke arah gerbang yang lalu diikuti dengan pandangan perempuan bermukena itu ke arah Rozak. Ara kemudian melangkah ragu-ragu ke arah gerbang dan mengulurkan tangannya ke arah Rozak untuk meminta barang belanjaan milik ibunya dari tangan lelaki itu.

“Terima kasih. Sini, biar aku saja yang bawa ke dalam,” ujar Ara agak datar.

“Aku bawa sampai ke depan pintu saja, bila tidak keberatan. Barang-barang ini lumayan berat,” ucap Rozak mengabaikan uluran tangan Ara.

“Permisi.”

Rozak langsung berjalan melewati Ara yang tampak sedang melongo karena uluran tangannya tidak diacuhkan. Seekor kucing jantan melihat peristiwa di depan gerbang itu dengan pandangan menyelidik sambil sesekali menjilat-jilat kuku dan bulu putihnya yang kotor. Bude Wur menyunggingkan senyum tipis saat mendengar percakapan putrinya dengan Rozak. Ia lalu mengeluarkan sebuah dompet kulit imitasi berwarna hitam, dan meletakkannya di dalam lemari kaca.

Rozak lalu meletakkan kedua barang belanjaan yang berat itu di depan pintu ruang tamu yang langsung diangkat oleh Ara dengan wajah mengernyit karena berat. Kernyitan yang sempat tertangkap oleh pandangan Rozak yang mau tidak mau, dengan alasan kesopanan, harus menahan tawanya sekuat tenaga. Berat sekali barang-barang ini!

“Nggak mau minum teh dulu, Zak?”, ujar Bude Wur kepada Rozak yang masih berdiri di depan pintu.

Mendengar perkataan ibunya, Ara mendadak menghentikan langkah seolah sedang teringat dengan sesuatu yang penting.

“Aku belum masak air panas, bu”, sergah Ara yang seolah tampak keberatan dengan penawaran basa-basi ibunya kepada Rozak.

Rozak tersenyum kepada Bude Wur.

“Terima kasih, de. Aku mau langsung pulang saja. Masih ada urusan lain,” jawab Rozak. Bude Wur manggut-manggut dan menyuruh Ara masuk ke ruang tengah sambil membawa barang belanjaan yang cukup berat itu. Dengan tergopoh-gopoh, Ara menyeret langkahnya ke ruang tamu dan menghilang dari pandangan mereka berdua.

“Terima kasih ya, Zak. Salam buat ibumu. Nanti siang, kalau sempat, kamu mampir ke rumah ya, insya Allah bude mau buat bothok teri. Kebetulan ada pesanan bothok dari Haji Rudi, jadi bude rencananya mau buat lebih. Ibumu paling suka makan bothok kan?”

Rozak mengangguk. Bude Wur lalu mengantar Rozak sampai pintu gerbang. Seorang tukang sayur melintas di depan gerbang sambil mendorong gerobaknya yang penuh dengan sayuran.

“Iya, de  salamnya akan saya sampaikan kepada beliau. Nanti siang insya Allah saya mampir ke sini setelah urusan saya selesai.”

Rozak meminta diri dan mengucapkan salam kepada Bude Wur. Sementara itu, Ara tampak berdiri di balik pintu dan menguping pembicaraan antara Rozak dan ibunya. Kedua tangan dan bahu Ara masih terasa pegal seusai membawa barang-barang belanjaan yang luar biasa berat ke dapur barusan. Kira-kira, apa yang sedang mereka bicarakan ya?

Saat Ara sedang mencari-cari kemungkinan yang ada, tiba-tiba ibunya sudah ada di hadapannya dan mengagetkan dirinya yang saat itu sedang melamun di balik pintu.

Eh, eng, ibu. Rozak dah pulang, bu?”

Ara gelagapan seperti copet tertangkap basah sedang menjambret dompet. Bude Wur mengamati wajah putrinya yang masih mengenakan mukena.

Kok yang ditanya cuma Rozak? Padahal pundak ibu dari tadi berasa mau copot gara-gara nenteng belanjaan yang beratnya nggak ketulungan itu, lho. Emang kamu nggak merasa berat pas nenteng belanjaan ke dapur barusan, Ra?”

Skak mat, kau, Ara! Skak mat!

Perkataan ibunya membuat Ara mati kutu. Ara seperti kehilangan kata-kata untuk menjawabnya seiring rona merah yang terbit di wajah manisnya. Sinar matari sudah mulai jatuh di teras rumah sementara Bude Wur berjalan ke arah dapur, meninggalkan putrinya yang masih gelagapan mencari kata-kata untuk menjawab “serangan” darinya. Ara melangkah ke dalam rumah sambil mengutuki dirinya sendiri.

Entah karena sebab apa, sosok Rozak jadi terngiang-ngiang dalam pikirannya.

Duh!

-- bersambung --


Kamis, 01 Mei 2014

Elegi Motor Mogok



Suatu pagi saya hendak berangkat ke kantor. Saya masih tinggal di Hanga-Hanga ketika itu. Setelah melewati jembatan Kelapa Dua, saya biasanya akan belok ke kanan, lewat rumah Ko Cin, dan seterusnya. Tapi pagi itu saya tidak mengambil jalur yang biasanya saya lewati dan lebih memilih lurus lewat depan PLTD. Ada kejadian menarik saat saya melewati jalan itu. Seorang laki-laki sedang mendorong motor matic yang tampaknya sedang mogok. Di atas motor itu, berdiri seorang anak berusia kurang lebih tiga atau empat tahun. Melihat pemandangan seperti itu, saya teringat kejadian beberapa tahun silam ketika motor Binter Kawasaki 82 yang saya dan almarhum bapak tumpangi terpaksa didorong karena ban belakangnya pecah di kawasan Kalimalang Jakarta Timur. Waktu itu saya masih tahun-tahun akhir di SMP.

Ketika itu saya dan almarhum bapak baru saja menghadiri sebuah acara keluarga di kawasan Pondok Kelapa. Ya, hanya kami berdua. Ketika malam sudah agak larut, bapak mengajak saya pulang. Malang tak dapat ditolak, ban belakang motor kami pecah dan terpaksa bapak harus mendorong motor lawas yang berbobot cukup berat itu untuk mencari tukang tambal ban. Langit malam tampak berwarna kelabu karena hujan deras baru saja turun. Kondisi lalu lintas tidak seberapa ramai. Di pinggir jalan, banyak terdapat penjual makanan seperti Martabak Telur, Nasi Goreng, dan lain-lain. Beruntung saya dan bapak sudah makan malam di tempat salah seorang kenalan bapak sebelum kami pamit untuk pulang.

Selang beberapa menit berjalan, bapak masih belum menemukan tukang tambal ban. Saya mengikuti bapak dari arah belakang, sambil bersiap untuk mengambil posisi beliau untuk mendorong motor tatkala bapak sudah kecapekan. Begitulah, saya dan bapak mendorong motor secara bergantian sambil kepala kami menoleh ke kanan dan ke kiri untuk mencari tukang tambal ban yang masih buka. Malam sudah semakin larut, namun tukang tambal ban yang kami cari masih belum kunjung ketemu. Kami berdua tidak banyak berbicara ketika itu karena memang kami tidak terbiasa saling bicara. Saya selalu mengambil jarak terhadap bapak dan mungkin bapak juga melakukan hal yang sama kepada saya. Kami berdua sama-sama laki-laki keras kepala dan tidak mau mengalah antara satu sama lain. Kami punya selera dan cara berpikir yang berbeda. Selalu ada kecanggungan yang tercipta yang menjadi spasi pertemuan-pertemuan kami sebelumnya.

Ketika posisi saya digantikan bapak dan saya berjalan di belakang beliau, saya lalu menatap punggung bapak yang sudah mulai menua. Tahun itu umur beliau sekitar lima puluh tiga atau lima puluh empat tahun. Mungkin lima puluh lima. Tahun depan saya akan masuk SMA, dan tahun depan itu pula bapak akan pensiun dari pekerjaannya sebagai pegawai negeri. Saat menatap punggungnya, saya seolah sedang menatap masa depan saya yang masih gelap. Sebagai anak laki-laki tertua di keluarga, saya merasa bahwa beban yang ditanggung oleh bapak dalam menjalani tugasnya sebagai seorang kepala keluarga bukan hanya tugasnya seorang, tapi juga tugas saya, atau setidaknya akan beralih ke tangan saya suatu saat nanti. Saat sedang memikirkan masa depan yang segelap langit malam, saya melihat ke arah langit. Bintang-bintang yang tadinya terhalang awan gelap perlahan mulai tampak.

Beberapa supir angkot tampak sedang main kartu gaple di depan warung rokok sambil berteriak-teriak dan tertawa riang. Jalan raya Kalimalang sudah hampir mencapai ujungnya dan flyover Cawang sudah tampak dari kejauhan. Tukang tambal ban pun masih belum jua ketemu. Saya melirik ke arah warung kelontong yang masih buka untuk mencari jam dinding, tapi saya tidak mendapatkannya. Jalan yang akan kami lewati memecah jadi dua. Bapak lalu memutuskan untuk mengambil jalur kanan yang berlawanan dengan jalur yang seharusnya beliau ambil ke arah kiri. Kami berdua terus berjalan melawan arus lalu lintas. Bapak mendorong motornya dengan kecepatan langkah yang terjaga, sementara saya mengikuti beliau dari belakang. Saat flyover sudah tepat berada di hadapan kami, bapak membelokkan motornya ke kanan dan melihat ada seorang tukang tambal ban sedang merokok di pinggir bengkelnya yang kecil dan kumuh. Seingat saya, waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh lewat tiga puluhan menit ketika itu. Setelah berbasa-basi sejenak dengan tukang tambal ban yang merupakan seorang lelaki yang, tampaknya, berumur tidak jauh beda dengan bapak, beliau lalu menstandartengahkan motornya lalu duduk di kursi kayu sambil menunggu ban motornya diperiksa oleh tukang tambal ban. Lagi-lagi, bapak lebih banyak diam dan memerhatikan kerja tukang tambal ban, sementara saya mengambil jarak beberapa meter dari kedua lelaki sebaya itu dan lebih memilih melihat keramaian lalu lintas yang makin menyurut seiring malam yang melarut. Beberapa menit kemudian, tukang tambal ban telah menyelesaikan pekerjaannya. Bapak lalu menstarter motor dan mengajak saya untuk naik. Terdengar raungan motor mesin dua tak yang cempreng dan berisik. Saya lalu naik di belakang bapak dan kami berdua berboncengan membelah lalu lintas Jakarta lepas pukul sebelas malam.

Sekian belas tahun sudah berlalu sejak peristiwa itu hingga akhirnya saya melihat kembali pemandangan yang nyaris tidak jauh beda dengan pemandangan yang pernah saya lihat dan alami dulu. Bedanya, anak yang dibawa oleh lelaki itu masih kecil dan berdiri dengan santai di bagasi bagian depan motor yang sedang dituntun oleh bapaknya, sementara saya dahulu harus bergantian mendorong motor dengan bapak. Saya lalu mengabadikan peristiwa yang berkesan itu dengan kamera ponsel saya dan kembali melanjutkan perjalanan ke kantor yang sempat tertunda.

Saat saya membayangkan kembali peristiwa yang sudah belasan tahun silam terjadi itu, saya baru tersadar bahwa itulah momen terakhir saya dan bapak menghabiskan waktu selama beberapa jam berdua, hanya berdua saja, hingga saya tenggelam dalam kesibukan saya dan bapak dengan kesibukannya beberapa tahun kemudian, sampai akhirnya beliau meninggal dunia tujuh tahun yang lalu akibat sakit yang dideritanya. Andai waktu bisa diputar kembali meski itu tak mungkin terjadi. Ratusan dan ribuan kata-kata “andai” terasa mengiang-ngiang di dalam kepala saya. Rasa sesal menekan dada saya hingga terasa sesak.

Tiba-tiba saja, pelupuk mata saya terasa menghangat. Ada bulir air bening yang menganak sungai di sana. Saya menghapus air bening itu dengan ujung jaket parasut saya. Matahari pagi mulai terasa terik. Tapi hati ini, entah kenapa, serasa gerimis. Robbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayaani shaghiraa. [wahidnugroho.com]


Titip rindu buat bapak.
Kilongan, Mei 2014