Jumat, 21 Februari 2014

Bisnis Berbasis Customer


Duh, gue gak tau bahasa canggihnya apa. Tapi gue pengen punya bisnis yang customer oriented (nah, itu lu tau) alias bisnis yang gak hanya bisa mendatangkan profit buat gue, tapi juga mendatangkan kebahagiaan buat customer gue (susahsuit!!).

Gue dah tujuh taun ini tinggal di Luwuk, dan gue cukup hafal sama behaviour sebagian besar penjual di sini yang pelit senyum dan kualitas pelayanannya acak adut kayak badut belom mandi seminggu. Pernah suatu hari gue negor seorang kasir yang ngitung belanjaan gue sambil pasang wajah manyun kayak orang abis-kalah judi-trus-digerebek-satpolpp-dan-disuruh-pulang-ke-rumah-sambil-jalan-jongkok. Pas gue tanya, “Manyun aja lu kayak orang abis kalah judi”, eh, langsung nyengir dianya kayak kuda lumping makan beling.

Tapi di Luwuk ini emang begitu sih. Jadi buat ngantisipasi tampang-manyun-kayak-abis-kalah-judi begitu gue biasanya masuk toko dengan tampang sangar, kayak preman di terminal Rajabasa, sok kuli aja. Ntar kalo dah gitu biasa owner tokonya nunduk-nunduk kayak perawan abis dipingit sebulan deh.

Tapi gue gak nggeneralisir kok. Ada juga owner toko atau pegawai penjaga toko yang enak dan asik. Kalo pegawai bank mah pada umumnya asik-asik ya, plus cantik (halah). Gue pernah dikasih bonus semangkok ampela ayam goreng (ebuset, abis mbahas pegawai bank langsung nukik ke ampela ayam hahaha) sama seorang pemilik warung makan yang sering gue datengin buat tempat makan siang. Ada juga pemilik warung makan yang udah hapal kemauan gue dan bakalan nanya, “Lho, kok nggak kayak biasanya?” kalo gue mesen menu yang berbeda. Lah kok jadi ngemengin warung makan muluk? Hehehe...

Makanya gue sekarang lagi nyari artikel-artikel yang mbahas tentang customer oriented business, atau apalah bahasa gahulnya gue gak ngerti. Gue pengen baca sekaligus pengen gue pelajari dan pastinya gue pengen praktekin sesuai dengan ‘warna’ warung yang lagi gue dan bini gue jalanin sekarang ini. Kalo ente-ente pade punya referensi, sok atuh dibeber di sini, coz gue bakalan berterimakasih banget kalo ada di antara ente-ente yang sudi ngasih gue seberkas cahaya di tengah gelapnya malam yang hitam kelam ini (cuih pret!). Supaya bisnis gue ini bisa dikenal orang bukan cuman karena kualitas makanannya yang endang bambang gurindang, tapi juga karena kualitas pelayanan setara bintang lima walopun lapak gue cuman warung selevel kaki lima.

Salam ganteng, dan merdeka! [wahidnugroho.com]


Kilongan, Februari 2014 

Jumat, 14 Februari 2014

Bisnis Kuliner


Dari kecil saya suka banget ngeliatin orang yang jualan makanan; gimana cara mereka meracik dagangan mereka dengan skillnya yang khas dan kegesitan geraknya yang bikin saya melongo penuh kagum. Contohnya kalo beli nasi goreng, saya biasanya bakal berdiri di samping si abang penjualnya sambil ngeliatin cara dia masak nasi goreng. Srak srek srak srek, begitu bunyi wajang yang beradu dengan sotil saat mencampur bumbu dengan nasi dan telur. Atau pas beli martabak manis di Kreo, saya biasanya ngeliatin cara si abang mulai dari ngaduk adonan martabak,  naburin topping meises dan kacang, sampe ketika martabaknya diangkat, dipotong, dimasukkin ke kardus dan dikaretin. Atau pas beli sop buah, saya juga suka ngeliatin pas penjualnya nyampurin semua buah ke dalam mangkok, trus nambahin susu, sirup, dan bahan-bahan lainnya. Nggak tau kenapa, suka aja ngeliatnya hehe...


Kalo pas lagi agak sepi dan penjualnya nggak terlalu sibuk, saya biasa suka ngajak ngobrol seputar jualannya. Jualannya sejak kapan, sampe ke masalah pendapatan harian dan hal-hal berbau materi lainnya. Misal waktunya agak panjang, kadang suka ngobrol juga tentang suka dukanya jualan makanan, tips dan trik supaya bisnis bisa bertahan lama dan bagaimana caranya menggaet pelanggan, serta obrolan remeh-temeh lain. Saya nggak inget, udah berapa penjual makanan yang saya ajak ngobrol soal itu karena saya nggak pernah saya catet sih. Tapi semua yang mereka sampaikan kepada saya, saya rekam baik-baik dalam pikiran saya.


Begitu juga kalo ada warung makan baru, saya biasanya bakalan mampir sambil icip-icip makanannya, ngetes minumannya, dan ngeliat cara dia melayani pembelinya. Dari sana, saya mencoba untuk mengambil pelajaran sebanyak mungkin perihal bagaimana menjalankan usaha kuliner supaya bisa sukses dan punya pelanggan yang banyak, serta melihat kekurangan yang harus saya hindari supaya bisnis kuliner yang hendak saya jalani tidak banyak dikomplain. Ngarepnya gitu hehe..


Tapi pelajaran tentang dunia kuliner paling banyak saya dapatkan dari ibu saya. antara lain tentang pentingnya mempertahankan kualitas makanan meski harga-harga bahan melambung tinggi, atau soal vitalnya meningkatkan kualitas pelayanan, jadi penjual yang open (huruf ‘e’-nya dibaca kayak pas mbaca ‘kapten’ ) dan prigel. Biar ngambil untung dikit yang penting lakunya banyak, demikian pesan ibu yang selalu saya ingat. Dan yang paling penting dari itu semua adalah kejujuran. Jadilah pedagang yang jujur, karena jujur itu berteman dengan keberkahan.


Dari semua yang saya lihat dan dengar itulah saya ingin coba mempraktekkannya pada usaha yang sedang saya dan istri rintis saat ini: Bubur Ayam Tompotika. Bagaimana menjaga kualitas rasa, menjalin hubungan baik dengan pelanggan, dan tentunya gimana caranya supaya punya pelanggan yang loyal sama bakulan kita dan siap menjadi ‘marketing sukarela’ karena loyalitasnya itu, if you know what i mean hehe. Usaha ini memang baru berjalan beberapa hari, bahkan belum genap seminggu. Tapi dalam kurun waktu yang singkat ini, saya mendapatkan banyak pelajaran tentang tetek-bengek-dunia-bakulan-perbuburan. Meski begitu, saya masih belum merasa puas dan ingin terus belajar, manis dan pahitnya, susah dan senangnya.




Hmmm, saya pingin punya bisnis kuliner yang disukai karena kualitas rasa yang melangit dan standar pelayanannya yang manusiawi dan membumi. Ya intinya sih pengen punya bisnis kuliner yang enak dan everlasting gitu, bahkan bisa dikenang sampe anak cucu hehe... aamiin aamiiin....


Moga Allah mudahkan. [wahidnugroho.com]



Kilongan, Februari 2014 

Selasa, 04 Februari 2014

Momen Kelahiran Anak

Cuaca Luwuk siang itu cukup panas. Sambil memegangi tangan istri saya erat-erat, saya menyaksikan detik-detik kelahiran putri ke tiga saya tanpa sekalipun mengedipkan mata. Sebuah proses antara hidup dan mati. Sebuah proses perjuangan seorang anak manusia dalam mengantarkan kehidupan anak manusia lainnya. Sebuah titik kulminasi dari perjalanan cinta dua anak manusia yang telah mengikrarkan janji suci untuk hidup bersama hingga ke syurgaNya kelak. Menegangkan. Tapi juga indah.

Saya mengamati wajah istri saya yang tampak kesakitan. Membisikkan kalimat thayyibah ke telinganya dan mengingatkannya agar mengikhlaskan rasa sakit itu sebagai wujud jihad di sisiNya. Bidan yang membantu persalinan terus mengatakan kata-kata motivasi kepada istri saya. Sedangkan saya bergantian antara menguatkan istri dan mengamati arah jalan lahir calon anak ke tiga saya. Tak lama berselang, proses itu pun terjadi lagi. Pertama kepalanya yang mungil dan lembut itu keluar. Seperti sebuah balon yang sedang ditiup. Lalu diikuti dengan tangan, tubuh dan kedua kakinya, yang seperti langsung mencelat keluar. Tak lama terdengar suara yang tangisan seorang anak manusia untuk kali pertama di kolong dunia. Riuh ramai. Menyenangkan.

Saya lalu mengucapkan syukur kepadaNya atas anugerah ini, mencium kening dan bibir istri saya seraya menyemangatinya, kedua tangan saya masih menggenggam tangannya yang basah oleh keringat, kemudian mengamati sosok putri ke tiga saya yang sedang dibersihkan oleh sang bidan dengan wajah tegang dan tangan bergetar.

“Semuanya lengkap dan sehat, pak”, ujar sang bidan dengan wajah penuh syukur. Saya mengucapkan terima kasih atas kerja keras sang bidan paruh baya itu lalu meminta waktu untuk mendekati anak saya untuk mengamatinya lekat-lekat. Sementara itu, sang bidan kembali ke arah istri saya dan mulai membersihkan sisa-sisa persalinan yang masih terlihat. Air ketuban bercampur darah, dan ari-ari anak saya yang tampak masih menjuntai.

Allahu akbar! Batin saya ketika memandangi sosok bayi yang terbungkus kain di hadapan saya. Tangisnya terdengar nyaring dan jernih. Setelah mengelus-elus pipinya, saya lalu mengucapkan basmalah dan mulai mengazankannya.

Entah kenapa saya menangis. Lagi.

Momen mengazankan anak selalu membuat saya menangis, tak terkecuali ketika dahulu saya mengazankan putri pertama dan ke dua saya. Momen emosional yang membuat sisi sentimentil saya langsung menyeruak ke permukaan. Momen kudus yang selalu menerbangkan ingatan saya tentang banyak hal.

Saya teringat dengan bayi-bayi yang ditelantarkan orangtuanya di selokan, di tempat sampah, di rerumputan, di kebun kosong, di toilet umum dan kamar mandi sekolah. Saya teringat dengan anak-anak yang tumbuh tanpa kasih sayang orang tua. Saya teringat dengan bayi-bayi yang terbunuh di kecamuk perang: Gaza, Syria, Yerusalem, Andalusia. Saya teringat dengan anak-anak muda Mesir yang ditembak mati oleh para sniper. Saya teringat dengan para gadis muda yang terjebak traficking, mereka yang dieksploitasi fisiknya untuk dijadikan budak seks. Saya teringat dengan gadis-gadis muda yang mengumbar auratnya yang terhormat itu tanpa secuil pun rasa malu. Entah apa yang dipikirkan oleh kedua orang tua sang gadis ketika melihat gambar putri tersayang mereka, yang tumbuh dan kembangnya mereka ketahui betul itu, tampil polos dalam artian yang sebenarnya?

Saya teringat dengan kisah Ummul Mukminin, shahabiyah, ummahat da’iyah, dan para akhwat muslimah yang ketegarannya bak batu karang dan semangatnya seolah baja. Saya teringat wajah ibu saya, semoga Allah merahmatinya. Pengorbanannya. Segala hal tentangnya, lebih maupun kurangnya. Saya teringat dengan anak-anak yang terlindas roda zaman, mengais-ngais belas kasih dari dunia yang tak berpengasihan. Saya teringat dengan anak-anak yang harus menyeberangi jembatan yang nyaris putus, sementara di bawahnya sungai mengalir dengan arus derasnya yang mengancam jiwa. Saya teringat dengan anak-anak yang putus sekolah. Saya teringat dengan terlalu banyak hal.

Jalanan di depan klinik tempat istri saya melahirkan mulai ramai dengan para siswa-siswi yang baru saja ke luar dari sekolahnya. Seorang siswa lelaki tampak sedang mengeluarkan sepeda motor canggihnya dari pekarangan sebuah rumah yang tampaknya dijadikan tempat parkir motor para siswa. Saya kembali mengecup kening istri lalu membiarkannya beristirahat sejenak, sementara putri ke tiga saya tengah terlelap di dalam inkubator kaca.

Maka saya menitipkan selaksa doa untuknya yang baru menghirup udara dunia, dan kepada dua saudari tertuanya yang lain, semoga Allah rabbul izzati menjaga dan memudahkan urusan kalian semuanya.

Ya Allah, karuniakan kami keturunan yang menjadi penyejuk kedua pandangan kami, dan jadikanlah kami serta keturunan-keturunan kami menjadi orang-orang yang sentiasa mendirikan shalat.

Aamiin. [wahidnugroho.com]



Kilongan, Februari 2014