Selasa, 10 Juli 2012

Selamat Memilih Untuk Warga DKI Jakarta


Pilkada DKI tinggal hitungan jam. Setiap pasangan, timses dan pendukungnya pasti tengah berdebar dengan hasil kampanye dan promosi mereka selama kurun waktu beberapa hari belakangan. Saya termasuk yang sedikit mengikuti berita-berita serta tulisan seputar pilkada di ibukota negara ini.

Secara pribadi, saya mendukung salah satu calon yang bertarung di pilkada tersebut dan mendoakan kebaikan serta kemenangan, tentu saja, baginya. Namun tulisan ini tidak akan berbicara tentang calon yang saya dukung. Saya hanya ingin memberikan sedikit tips kepada rekan-rekan warga DKI yang besok akan menggunakan hak politiknya.

Pertama; Pelajari dengan benar dan mendalam mengenai keenam sosok cagub dan cawagubnya serta siapa saja elemen partai yang mengajukannya atau elemen masyarakat yang mendukungnya (bagi calon independen). Saya kira ini penting, karena bagaimanapun akan selalu ada tarik-menarik kepentingan atau politik balas budi dari masing-masing calon kepada pendukungnya itu. Oleh karenanya, pelajari dengan benar dan mendalam kontrak politik yang ada (bila ada) dan pastikan Anda tidak memilih kucing dalam karung. Masih tersisa beberapa jam ke depan, dan sumber informasi yang melimpah ruah baik di ruang nyata maupun maya bisa Anda telusuri secara mendetail.

Kedua; Mari kita niatkan pilihan kita tersebut sebagai bagian dari ikhtiar kita untuk bersama-sama menciptakan Jakarta yang lebih baik, Jakarta yang lebih bersahabat dan aman bagi siapapun yang ada di dalamnya. Sebisa mungkin jangan sampai golput atau tidak memilih. Karena, menurut saya, walaupun tidak memilih itu juga pilihan, tapi menggambarkan keapatisan kita sebagai warga negara yang baik. Kalau pun Anda tidak merasa sreg dengan calon manapun, maka tetaplah datang ke bilik suara dan coblos saja semua calon yang ada. Karena gosipnya, bila ada kertas suara yang tidak terpakai maka itu akan rawan disalahgunakan oleh oknum-oknum yang tidak bertanggungjawab. Berita soal ini saya kira bisa kita telusuri riwayatnya di tulisan-tulisan yang tersebar di dunia maya.

Ketiga; Mari kita sama-sama berdoa, supaya dari pilkada esok akan terpilih pemimpin yang benar-benar amanah, beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, serta mampu membawa warganya menuju peradabanyang berbudaya positif dan mengedepankan asas saling menghargai dan menghormati kepada sesama anak bangsa, tanpa melihat asal dan agamanya. Mari kita doakan pula agar pemimpin yang terpilih adalah mereka yang menyayangi warganya melebihi sayangnya kepada keluarganya, mereka yang mau dan mampu berkorban demi terwujudnya kesejahteraan, keamanan dan ketertiban masyarakatnya.
Dan terakhir, mari kita doakan agar pilkada esok berjalan dengan aman, tertib, dan bebas dari kecurangan. Kalaupun tidak bebas dari kecurangan, maka mari kita doakan agar mereka yang curang dan tak jujur itu kelak mendapatkan balasan yang adil dan setimpal dari Tuhan Yang Maha Esa.

Selamat memilih buat warga DKI. Semoga Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa, memberkahi ikhtiar kita dan memberikan kita pemimpin yang adil, amanah, dan takut untuk berbuat dosa kepadaNya. Amin.

Salam hangat dari Luwuk, Sulawesi Tengah.[wahidnugroho.com]


H2, Juli 2012
Tulisan ini juga dimuat disini


Senin, 09 Juli 2012

Hidayat Nur Wahid

Tempo hari saya membaca sebuah tulisan dari salah seorang artis muda Indonesia bernama Panji Pra.. err, saya gak hafal nama panjangnya. Sebut saja namanya Panji. Kalau ada salah ejaan mohon dimaafkan.

Saya tidak kenal Panji, sebagaimana dia pasti tak kenal saya. Yang saya tahu, dia adalah artis muda yang cerdas, kritis, gaul – sebagaimana kebanyakan artis, dan cukup tampak sebagai pemikir. Setidaknya ini kesan yang saya tangkap.

Sebagai seorang artis, wajahnya cukup familiar, tentu. Saya pernah melihat beberapa acaranya di televisi. Beliau juga mantan host sebuah acara dialog interaktif khas anak muda di salah satu saluran televisi swasta yang membahas tema politik dan tema-tema sosial kemasyarakatan yang terjadi di Indonesia. Acara yang sangat bagus di tengah-tengah gelombang hedonisme dan budaya pop yang melanda sebagian acara untuk kaum belia.

Oke, kembali ke soal tulisan.

Panji pernah membuat tulisan tentang dukungannya secara terbuka kepada salah satu calon kandidat Gubernur DKI. Sebuah tulisan yang sangat bagus, argumentasinya juga logis. Saya senang dengan tulisannya. Very open minded, sangat muda, dan aroma ‘beda’nya sangat kuat di sana. Menurut saya tulisan itu sangat layak diapresiasi, terlepas dari unsur subjektifitasnya yang saya kira itu sah-sah saja.

Saya juga ingin membuat tulisan berupa dukungan kepada salah satu kandidat Gubernur DKI. Sayang, saya bukan artis. Nama saya tidak terkenal sebagaimana Panji. Tapi itu tak masalah. Saya hanya ingin berusaha untuk jujur dengan hati saya sendiri sebagaimana Panji yang telah berupaya jujur dengan tulisannya.

Tulisan ini akan berbicara tentang sebuah nama: Hidayat Nurwahid, atau lazim diakronimkan sebagai HNW. Saya lebih nyaman menyebutnya Ustadz.

Saya tidak kenal beliau secara personal. Beliau juga pasti tidak kenal dengan saya. Lagi pula siapa saya sampai beliau harus repot-repot mengenal saya?

Soal kepribadiannya, soal apa dan siapa beliau serta lebih dan kurangnya, ada banyak tulisan yang telah beredar, baik secara digital maupun cetak, yang telah berbicara dengan sangat baik mengenai sosoknya. Tentang komitmen keislamannya, profesionalitasnya, serta integritas dan kebersahajaan hidupnya. Ini sudah menjadi rahasia umum yang nyaris semuanya bisa kita baca.

Sekian banyak tulisan dan informasi yang beredar tentang figurnya tentu akan melahirkan banyak tafsiran. Cari muka lah, pencitraan, kampanye atau apapun. Itu adalah hak mereka untuk berpendapat, dan saya tidak ingin membahasnya dalam tulisan ini. Akan tetapi bagi Anda yang tak gampang lupa, informasi-informasi tersebut tentu sudah Anda dapatkan sejak bertahun-tahun yang lalu, lama sebelum beliau bertarung dalam pilkada DKI.

Kembali soal Ustadz.

Saya merasa bahwa saya tidak terlalu mengenal beliau secara pribadi karena saya belum pernah sekali pun bertemu dengannya. Saya belum pernah berbicara dengannya secara langsung, apalagi berdialog dan berdiskusi dengan beliau. Hanya kisah-kisah tentang beliau yang pernah saya baca dan dengar, sebagaimana Anda yang mungkin juga pernah mendengar kisah-kisah yang sama.

Lalu tulisan ini sebenarnya tentang apa?

Saya memang tidak mengenal beliau secara personal, tapi saya mengenali orang-orang yang berada di balik kerja-kerja beliau. Tidak secara personal, tentu saja, karena saya tidak pernah bertemu orang-orang itu secara langsung, sebagiannya. Tapi jiwa saya dan mereka serasa beresonansi, karena kedekatan fikrah dan ukhuwah tak kasat mata yang terjalin di antara saya dan mereka. Atas resonansi jiwa inilah mengapa saya mencintai dan mendukung beliau.

Terlalu absurd? Anda yang tidak mengalaminya mungkin tidak akan memahaminya karena saya sendiri merasa kesulitan untuk meredaksikan apa yang saya rasa ini dalam bentuk kata-kata. Kadang ungkapan cinta itu tidak membutuhkan penjelasan yang gamblang, karena abstraknya rasa. Anda yang pernah mencinta sesuatu pasti mengerti dengan perasaan cinta yang tak mudah dideskripsikan.

Karena tak mudah mendeskripsikan rasa ini, maka tulisan ini mungkin akan sedikit membingungkan bagi Anda yang sempat membacanya. Tapi tak apalah. Saya hanya ingin menumpahkan apa yang saya rasa dengan apa adanya.

Saya tak dibayar atau diperintah siapapun untuk menulis ini, lagipula siapa saya? Saya hanya satu dari sekian banyak anak bangsa yang dengan tulus hati mencintai dan mendukung beliau. Anda boleh menyebut saya fanatik, atau meredaksikan saya dengan istilah apapun. Silahkan. Saya tidak akan keberatan. Itu adalah hak Anda yang tidak akan saya gugat.

Saya ingin berdoa untuk kebaikan beliau dan keluarga, serta kebaikan bagi kita semua. Dan kepada para warga DKI Jakarta yang akan menggunakan hak pilihnya pada tanggal 11 Juli 2012, semoga kelak terpilih pemimpin yang beriman, adil, serta dapat menjalankan amanahnya dengan baik dan mampu membawa  kemakmuran dan ketentraman rakyatnya. Semoga keberkahan melimpah bagi kita semua. Amin. [wahidnugroho.com]


H2, Juli 2012
Menjelang Subuh di kota Luwuk

Senin, 02 Juli 2012

Subjektif

Beberapa saat yang lalu saya membaca tulisan seorang teman soal resensi, bagaimana meresensi yang baik dan benar, serta teknik-teknik tertentu agar resensi yang kita buat itu enak dibaca dan layak muat di media. Tulisan itu sangat bagus dan sangat mencerahkan. Apalagi bila yang menulis adalah orang yang pernah dan sedang berkecimpung di dalamnya. Tentu tulisan tersebut akan lebih terasa bobotnya.

Saya sendiri mendapatkan banyak pelajaran yang berharga dari tulisan tersebut. Sedikit banyak, saya merasa terkoreksi dengan beberapa poin yang disebutkan sang penulis terkait dengan dunia resensi buku dan pernak-perniknya.

Saya senang meresensi sebuah buku, atau anggap saja seperti itu (Entahlah sepertinya saya terlalu percaya diri dengan mendeklarasikan coretan kecil saya sebagai sebuah resensi?). Membicarakan buku yang sudah kita baca ternyata memiliki keasyikan tersendiri. Ada terapi bagi jiwa dalam aktivitas tersebut. Apalagi bila buku yang kita baca itu menerangi akal dan memberikan kepuasan batin, serasa ada semangat ingin berbagi rasa itu kepada orang-orang yang belum membacanya, serta mencoba untuk meresonansi jiwa-jiwa bersama orang yang telah melahapnya. Ini pendapat saya.

Karena meresensi berhubungan dengan kepuasan batin, saya merasa bahwa tulisan tentang sebuah buku tidak melulu berbenturan dengan regulasi ini dan itu. Pendapat saya ini mungkin terdengar sedikit arogan dan mengundang cemoohan, tapi setidaknya saya berusaha jujur dengan diri saya sendiri.

Saya memang tak suka didikte, apalagi bila bicara soal selera. Saya senang dan puas dengan selera saya dan cukup berbahagia karenanya.  

Itulah sebabnya saya mulai mengganti redaksi “resensi” sebagai ”bincang”. Karena saya merasa bahwa apa yang saya tulis itu tak layak diredaksikan sebagai sebuah resensi. Jadi ketika saya menulis tentang buku yang saya baca, maka saya sedang mengajak Anda untuk berbincang tentang isi buku itu dan segala pernak-pernik yang ada di sekitarnya. Perbincangan ini mungkin akan terasa sedikit membosankan dan penuh aroma subjektifitas, tapi Anda tak perlu khawatir karena hal itu bisa kita kompromikan, tentu saja.

Bila ada yang setuju, maka itu wajar. Bila ada yang tidak, maka tak perlu ada yang dirisaukan. Toh perbedaan pendapat mengenai tema ini tidak menentukan masuk syurga atau tidaknya seseorang. Subjektif. Sungguh tulisan ini terlalu pekat aroma subjektifitasnya.

Mohon maaf.


H2, Juli 2012 

Nongkrong

Hari ini, secara tak sengaja, saya kembali melakukan ritual kecil yang sudah lama saya tinggalkan: nongkrong di pinggir jalan. Yak, nongkrong di pinggir jalan menjadi semacam ritual meditatif yang berbiaya murah namun cukup mampu memulihkan jiwa-jiwa yang penat menjadi segar kembali, at least it works for me.

Jadi ceritanya begini. Tadi sore, seusai mentransfer sejumlah uang kepada sejumlah teman di ATM Mandiri SPBU Simpong, saya memesan bakso gerobakan yang mangkal di dekat situ. Selain saya, ada satu keluarga kecil yang juga menikmati jajanan murmer seharga tak lebih dari tujuh ribu rupiah tersebut.

Ketika menikmati bakso yang terasa agak terlalu asin itu, mata saya tertumbu kepada banyak peristiwa kecil yang terjadi di sekitaran SPBU Simpong tersebut. Sebagaimana yang saya bilang sebelumnya, di situ sebuah keluarga kecil yang sedang menikmati bakso, sekumpulan supir taksi Nambo yang sedang menunggu penumpang, sebuah truk kontainer yang dikemudikan oleh seorang kakek disusul truk lainnya yang di bagian kemudinya diisi oleh sebuah keluarga kecil, dan pemandangan remeh temeh lainnya.

Di seberang SPBU tampak supir Innova sedang mengobrol dengan seorang lelaki di pinggir jalan sehingga membuat kemacetan kecil serta seorang pemuda yang mengendarai Yamaha King berwarna kuning sedang berteriak-teriak tak jelas kepada salah satu supir taksi Nambo yang sedang bercerita dengan sesamanya.

Pernah suatu hari, saya tak ingat kapan persisnya, saya ngobrol dengan seorang lelaki muda penjual bakwan Malang gerobakan. Saya tak ingat persis namanya. Yang saya ingat lelaki itu masih sangat muda, jauh lebih muda dari saya. Belum ada sebulan dia tinggal di Luwuk, akunya, dan kini tinggal di rumah kontrakan dekat masjid Pancasila. “Saya aslinya orang Surabaya, Mas, ke Luwuk ini ceritanya mau nyoba-nyoba”, ujarnya ketika itu. Tebakan saya yang mengatakan bahwa lelaki ini adalah orang Toili ternyata salah.

Lelaki itu ternyata sudah berkeluarga, baru saja menikah tepatnya. Istrinya belum dibawa ke Luwuk karena ia masih ingin melihat sikon yang ada di sini dulu. Saya bertanya apakah gerobak bakwan ini menyewa atau miliknya sendiri. Dengan sedikit tersipu lelaki itu mengaku bahwa gerobak tersebut adalah miliknya sendiri.

Saya takjub sekaligus penasaran. Dengan sedikit lancang saya pun menanyakan penghasilan kotor hariannya. Lelaki itu menyebutkan sejumlah angka, angka yang kurang begitu menggembirakan tampaknya. Saya mencoba membesarkan hatinya dan lelaki itu tampak begitu berterima kasih dengan dukungan basa-basi saya.

Ketika akan membayar, saya menyerahkan uang sebesar sepuluh ribu rupiah kepadanya. Lelaki itu kemudian berkata bahwa ia baru saja keluar dan belum memiliki kembalian. Saya pun menyerahkan lebihannya. Sekali lagi, lelaki itu tampak sangat berterima kasih dengan pemberian setengah hati saya.

Sepertinya saya bercerita terlalu banyak tentang si penjual bakwan Malang itu.

Di kesempatan yang lain saya ngobrol dengan penjual es kelapa, penjual es teler, penjual martabak, penjual roti bakar, penjual bensin, penjual pisang, penjual sayur, penjual lemari kayu, tukang tambal ban, tukang sol sepatu, penjual madu, penjual kue, pelayan rumah makan, tukang parkir, tukang ojek, supir taksi, dan lain-lain.

Selain di pinggir jalan, saya terkadang suka duduk-duduk di pinggir laut. Menikmati hembusan angin, mendengar senandung debur ombak, merasai asinnya udara, sambil mengamati langit yang berwarna biru terang atau hitam pekat. Kadang sambil minum es kelapa muda, kadang sambil makan bakso, kadang hanya ditemani air putih, kadang tanpa apapun.

Ritual ini tidak memakan waktu yang lama. Terkadang saya hanya butuh lima belas menit, terkadang dua kali lipatnya, dan tak sampai empat kali lipatnya. Saya memang membatasi agar ritual ini tidak terlalu memakan waktu yang panjang. Kadang saya melakukannya sepekan sekali dan kadang setelah beberapa bulan saya melakukannya lagi. Tentu saja, ritual ini saya jalani tanpa rencana dan sendirian. Lelaki terkadang butuh momen untuk sendiri, dan inilah salah satu momen saya untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk duniawi.

Ah, saya baru ingat kalau aktivitas ini sudah saya lakukan sejak saya kuliah dulu. Teknis dan lokasinya kurang lebih berbeda tapi substansinya tetap sama.

Nongkrong di pinggir jalan selalu menyajikan banyak peristiwa sederhana namun penuh makna bagi saya. Tentang guratan hidup orang-orang pinggiran, tentang kondisi kaum-kaum picisan, tentang kesederhanaan, tentang keruwetan mengenai banyak hal. Selalu ada pelajaran yang bisa saya reguk dari ritual sederhana ini. Mungkin suatu hari nanti, saya akan melakukannya lagi. Entah kapan dan di mana. [wahidnugroho.com]



H2, Juli 2012 

Terima Kasih

Ini sebenarnya agak sedikit memalukan, tapi, baiklah, saya akan membuat sebuah pengakuan kecil lewat tulisan ini. Hari Selasa (3/7) besok saya diundang sebagai pembicara dalam sebuah pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh sebuah organisasi kemahasiswaan di Luwuk. Sebuah kehormatan, tentu saja. Tapi juga membuat saya bertanya-tanya, gerangan dasar apa yang membuat mereka mengundang saya?

Saya bukan seorang penulis beneran. Saya belum pernah menerbitkan buku, kalau sekedar ebook ecek-ecek sudah pernah sekali lah. Saya hanya orang yang suka menulis, entah di notes handphone, atau minimal di blog. Tulisan-tulisan saya hanya berisi ceracauan dan celotehan yang kadang saya sendiri tidak percaya bahwa saya telah menulisnya. It’s hard for me to believe that i’ve just made an article of my own.

Beberapa pekan sebelum permintaan itu hadir, seorang ustadz meminta saya untuk menulis sebuah buku, buku apapun. Saya merasa tidak percaya diri dengan permintaan itu dan sampai hari ini saya masih belum mendapatkan wangsit buku kayak apa yang bakalan saya tulis? Namun ketika mendengar permintaan teman saya untuk menjadi narasumber pelatihan itu tempo hari, saya merasa bahwa ini adalah momen terbaik bagi saya untuk bangkit dan berbenah. Semacam spirit booster, soul trigger, or whatever they call it, agar saya benar-benar dapat memanfaatkan waktu produktif saya menjadi sesuatu yang bernama sesuatu – err.. maaf, saya belum dapat redaksi ciamiknya, jadi saya redaksikan sebagai “sesuatu” untuk sementara.

Dan begitulah. Paska hari itu, saya mulai membuka-buka kembali arsip lama saya yang bertutur tentang dunia tulis menulis. Saya mulai melahap buku-buku yang telah lama saya abaikan di sudut-sudut rumah kontrakan saya yang berdebu. Saya mulai kembali berselancar di dunia maya untuk mencari tambahan referensi agar apa yang saya sampaikan esok – at least – bisa sedikit lebih berbobot ketimbang saya mengoceh tak jelas dan tak tahu arah. If you know what i mean.

Oleh karenanya, dalam tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada teman-teman panitia yang telah mengajukan saya sebagai narasumber esok karena permintaan itu – bagaimanapun – telah membangunkan kembali spirit yang telah lama terpendam – cia elah – dengan ketidakpandaian saya memanajemen waktu selama ini (Wow! Sebuah kalimat yang panjang!). Ada semacam rasa penyesalan yang menggumpal di dalam dada ketika waktu-waktu yang terlewat itu tidak dimaksimalkan semestinya untuk mengasah kecintaan saya terhadap dunia literasi ini. Dunia yang telah mengisi nyaris seperempat usia saya sampai sekarang.

Evaluasi ini memang sedikit terasa menyesakkan dada dan saya harus berbesar hati untuk mengakui kelalaian saya selama ini terhadap apa yang seharusnya saya lakukan. Semoga Allah ringankan dada ini untuk menerimanya dan semoga Allah melapangkan jiwa-jiwa para peserta esok, sebagaimana jiwa saya yang tengah lapang saat ini, agar bisa menjadi penulis-penulis yang mampu menggerakkan pembacanya untuk berbuat kebaikan.

Semoga acara esok berlangsung dengan lancar. Dan semoga semua peserta esok tidak makin tersesat dengan celotehan saya. Amin. [wahidnugroho.com]


H2, Juli 2012 

Kebersamaan

Suasana di masjid mungil itu terasa begitu syahdu dan menenangkan usai Shubuh di awal fajar yang berkah. Para jama’ah yang jumlahnya hanya segelintir itu telah kembali ke rumahnya masing-masing. Udara pagi terasa begitu menyegarkan. Matari belum juga menyembul penuh di ufuk timur. Tak ada suara yang berarti kecuali debur ombak di kejauhan dan sayup-sayup suara lantunan tilawah seorang perempuan yang entah darimana datangnya.

Kini tinggal sekitar tujuh orang saja yang berada di masjid tersebut. Wajah-wajah mereka tampak segar dan bercahaya. Dipandu oleh seorang lelaki muda yang tampak berwibawa, keenam lelaki muda lainnya mulai membentuk sebuah majelis kecil dan membuka mushaf mereka masing-masing. Beberapa menit kemudian, yang terdengar hanyalah lantunan hafalan Al Qu’ran dari lisan-lisan yang mulia itu.

Sesekali ada hafalan yang terbata, sesekali salah satu di antara mereka mengoreksi kesalahan bacaan temannya yang lain. Ada pula wajah-wajah yang tertunduk malu karena tak  bisa memenuhi hafalan mereka dengan baik. Sebagian yang lain tampak puas karena telah menyelesaikan hafalannya dengan baik seraya mendapatkan pandangan takjub dari saudaranya yang lain.

Di majelis kecil itulah pelbagai permasalahan mereka bahas dan cari solusinya. Tentang si fulan yang belum jua menikah padahal umurnya sudah lebih dari cukup, tentang kondisi si fulan yang istrinya baru saja melahirkan, tentang fulan lainnya yang anaknya sedang sakit keras, tentang fulan di kecamatan nun jauh di sana yang membutuhkan bantuan pembicara dalam acara kajian, tentang permasalahan-permasalahan sosial, politik, hingga ekonomi umat, baik lokal kedaerahan, nasional dan internasional. Waktu pun terasa berlalu dengan cepat ketika sinar matari mulai menembus lubang udara dan menghasilkan seberkas keceriaan.

Majelis penuh berkah itu diperkaya dengan diskusi yang meriah dan terjaga adab-adabnya. Wajah lelaki muda yang memandu mereka itu tampak sangat serius saat memberi nasihat yang menggetarkan jiwa atau menerbitkan senyum terbaiknya ketika menyampaikan kabar bahagia.

Tidak ada ikatan apapun yang mengikat mereka kecuali cinta. Cinta kepadaNya, cinta kepada umat, dan cinta kepada kebaikan. Semangat mereka menyala ketika mendapati permasalahan yang menimpa saudaranya. Semangat untuk mencari solusi atau semangat untuk sekedar bersimpati.

Bertahun sudah saya membersamai majelis tersebut. Dari satu lingkaran ke lingkaran yang lain. Dari satu semangat ke semangat yang lain. Dari cinta yang satu kepada cinta yang lain. Tak ada yang berubah kecuali kecintaan kami kepada umat ini yang begitu menggebu-gebu. Tak ada yang berganti kecuali amanah-amanah yang semakin berat untuk didaki. Tak ada yang hilang kecuali kemaksiatan yang berkarat di dalam jiwa-jiwa lemah kami.

Tidak ada kebersamaan yang sempurna, sebagaimana tak ada perpisahan yang sempurna. Orang-orang datang silih berganti mengisi majelis kecil tersebut. Ada yang datang, ada yang pergi. Namun cinta di antara mereka tetap sama, kebersamaan di antara mereka tetap terjaga, semangat yang ada di dalam dada mereka masih menyala.

Sesekali mereka berpindah tempat dari satu rumah ke rumah yang lain dengan jamuan sederhana dari tuan rumah yang telah berusaha sekuat tenaga untuk menjamu tamu-tamunya. Sesekali mereka mengunjungi saudara lain yang berjarak ratusan kilometer jauhnya. Demi menuntaskan hajat ukhuwah, demi memandang wajah-wajah yang beberapa waktu lalu hilang dari sapa mereka.

Saya bukan manusia yang sempurna. Saya kerap lupa, khilaf, dan berbuat kesalahan. Namun memupuk kebersamaan dengan wajah-wajah itu selalu menyuntikkan energi tersendiri bagi saya untuk sentiasa memupuk kebaikan dan kemanfaatan bagi diri saya, keluarga, dan masyarakat tempat saya tinggal serta bagi agama yang saya yakini kebenarannya.

Betapa indahnya nikmat kebersamaan.

Allahumma innaka ta’lamu anna haadzihil quluub. [wahidnugroho.com]



H2, Juli 2012
Di tengah tumpukan hutang hafalan yang makin tertatih untuk dipenuhi