Nongkrong

22.45.00
Hari ini, secara tak sengaja, saya kembali melakukan ritual kecil yang sudah lama saya tinggalkan: nongkrong di pinggir jalan. Yak, nongkrong di pinggir jalan menjadi semacam ritual meditatif yang berbiaya murah namun cukup mampu memulihkan jiwa-jiwa yang penat menjadi segar kembali, at least it works for me.

Jadi ceritanya begini. Tadi sore, seusai mentransfer sejumlah uang kepada sejumlah teman di ATM Mandiri SPBU Simpong, saya memesan bakso gerobakan yang mangkal di dekat situ. Selain saya, ada satu keluarga kecil yang juga menikmati jajanan murmer seharga tak lebih dari tujuh ribu rupiah tersebut.

Ketika menikmati bakso yang terasa agak terlalu asin itu, mata saya tertumbu kepada banyak peristiwa kecil yang terjadi di sekitaran SPBU Simpong tersebut. Sebagaimana yang saya bilang sebelumnya, di situ sebuah keluarga kecil yang sedang menikmati bakso, sekumpulan supir taksi Nambo yang sedang menunggu penumpang, sebuah truk kontainer yang dikemudikan oleh seorang kakek disusul truk lainnya yang di bagian kemudinya diisi oleh sebuah keluarga kecil, dan pemandangan remeh temeh lainnya.

Di seberang SPBU tampak supir Innova sedang mengobrol dengan seorang lelaki di pinggir jalan sehingga membuat kemacetan kecil serta seorang pemuda yang mengendarai Yamaha King berwarna kuning sedang berteriak-teriak tak jelas kepada salah satu supir taksi Nambo yang sedang bercerita dengan sesamanya.

Pernah suatu hari, saya tak ingat kapan persisnya, saya ngobrol dengan seorang lelaki muda penjual bakwan Malang gerobakan. Saya tak ingat persis namanya. Yang saya ingat lelaki itu masih sangat muda, jauh lebih muda dari saya. Belum ada sebulan dia tinggal di Luwuk, akunya, dan kini tinggal di rumah kontrakan dekat masjid Pancasila. “Saya aslinya orang Surabaya, Mas, ke Luwuk ini ceritanya mau nyoba-nyoba”, ujarnya ketika itu. Tebakan saya yang mengatakan bahwa lelaki ini adalah orang Toili ternyata salah.

Lelaki itu ternyata sudah berkeluarga, baru saja menikah tepatnya. Istrinya belum dibawa ke Luwuk karena ia masih ingin melihat sikon yang ada di sini dulu. Saya bertanya apakah gerobak bakwan ini menyewa atau miliknya sendiri. Dengan sedikit tersipu lelaki itu mengaku bahwa gerobak tersebut adalah miliknya sendiri.

Saya takjub sekaligus penasaran. Dengan sedikit lancang saya pun menanyakan penghasilan kotor hariannya. Lelaki itu menyebutkan sejumlah angka, angka yang kurang begitu menggembirakan tampaknya. Saya mencoba membesarkan hatinya dan lelaki itu tampak begitu berterima kasih dengan dukungan basa-basi saya.

Ketika akan membayar, saya menyerahkan uang sebesar sepuluh ribu rupiah kepadanya. Lelaki itu kemudian berkata bahwa ia baru saja keluar dan belum memiliki kembalian. Saya pun menyerahkan lebihannya. Sekali lagi, lelaki itu tampak sangat berterima kasih dengan pemberian setengah hati saya.

Sepertinya saya bercerita terlalu banyak tentang si penjual bakwan Malang itu.

Di kesempatan yang lain saya ngobrol dengan penjual es kelapa, penjual es teler, penjual martabak, penjual roti bakar, penjual bensin, penjual pisang, penjual sayur, penjual lemari kayu, tukang tambal ban, tukang sol sepatu, penjual madu, penjual kue, pelayan rumah makan, tukang parkir, tukang ojek, supir taksi, dan lain-lain.

Selain di pinggir jalan, saya terkadang suka duduk-duduk di pinggir laut. Menikmati hembusan angin, mendengar senandung debur ombak, merasai asinnya udara, sambil mengamati langit yang berwarna biru terang atau hitam pekat. Kadang sambil minum es kelapa muda, kadang sambil makan bakso, kadang hanya ditemani air putih, kadang tanpa apapun.

Ritual ini tidak memakan waktu yang lama. Terkadang saya hanya butuh lima belas menit, terkadang dua kali lipatnya, dan tak sampai empat kali lipatnya. Saya memang membatasi agar ritual ini tidak terlalu memakan waktu yang panjang. Kadang saya melakukannya sepekan sekali dan kadang setelah beberapa bulan saya melakukannya lagi. Tentu saja, ritual ini saya jalani tanpa rencana dan sendirian. Lelaki terkadang butuh momen untuk sendiri, dan inilah salah satu momen saya untuk menenangkan diri dari hiruk pikuk duniawi.

Ah, saya baru ingat kalau aktivitas ini sudah saya lakukan sejak saya kuliah dulu. Teknis dan lokasinya kurang lebih berbeda tapi substansinya tetap sama.

Nongkrong di pinggir jalan selalu menyajikan banyak peristiwa sederhana namun penuh makna bagi saya. Tentang guratan hidup orang-orang pinggiran, tentang kondisi kaum-kaum picisan, tentang kesederhanaan, tentang keruwetan mengenai banyak hal. Selalu ada pelajaran yang bisa saya reguk dari ritual sederhana ini. Mungkin suatu hari nanti, saya akan melakukannya lagi. Entah kapan dan di mana. [wahidnugroho.com]



H2, Juli 2012 
Author fakta.id

Wahid Nugroho

Ini adalah blog pribadi. Semua yang tertulis di dalam blog ini adalah pendapat dan sikap saya secara pribadi dan tidak terkait dengan sikap dari instansi tempat saya bekerja.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »