Minggu, 30 Juni 2013

Tentang Anak Perempuan


Bayangkan Anda punya seorang anak perempuan. Anda tahu betul setiap detil perkembangannya. Anda paham betul dengan simpul-simpul hatinya, baik itu saat ia sedih, senang, gelisah, tenang, menangis, dan tertawa. Anda kenal betul dengan mimik wajahnya saat simpul-simpul hati itu tersentuh, saat simpul-simpul hati itu terbuka, saat simpul-simpul hati itu terurai satu demi satu. Anda akan hapal betul dengan bentuk bibirnya saat tertawa, dengan bentuk kerutan di antara kedua alisnya ketika kesal melanda, atau ekspresi-ekspresi lain yang kerap terbit dari wajahnya yang lugu.

Bertahun pun berlalu. Anak perempuan itu kini tumbuh menjadi gadis dewasa dengan segala dinamika dan problematikanya. Ia mulai belajar mengeja huruf dan angka, ia mulai merapal dan menghafal ayat demi ayat Tuhannya, ia mulai belajar memperbaiki diri, menutup auratnya dengan sempurna, meluruskan niat, dan menjaga kejujuran hatinya. Ia mulai menata kata-katanya, menata ruang jiwanya, menata akhlak dan penampilannya.

Di masa-masa seperti ini, ia mungkin akan sedikit gemar bersolek. Ia mungkin senang dengan beragam wewangian yang dulu asing dengan aroma kecut tubuhnya. Ia mungkin akan senang memandangi wajah belianya di cermin kaca dan menghabiskan waktu mencoba satu dua macam kosmetik yang ada di depannya. Ia mungkin akan mengagumi perubahan fisiknya yang begitu drastis. Ia mungkin akan belajar untuk mandiri, melakukan segala hal yang dimauinya oleh dirinya sendiri. Sehingga ia mungkin tak lagi bersedia digandeng tangannya oleh Anda saat berjalan di tengah keramaian. Ia mungkin agak malu bila diantar bepergian oleh Anda ke sebuah tujuan. Ia mungkin agak sedikit sensitif bila ditanya soal asmara dan gejolak hatinya yang memerah jingga, atau ketika Anda berceritera tentang satu dua nama yang menggetarkan hatinya yang mulai berbunga. Mungkin saja.

Selain itu, kini ia telah mengikrarkan diri untuk menjadi muslimah yang taat dan ketat dalam menjaga aurat. Ia menjaga pergaulannya dengan lelaki yang bukan mahramnya, meski mungkin hatinya menyimpan simpati untuk satu dua orang di antara mereka yang menarik hatinya. Ia menjaga gejolak jiwa muda yang kerap meletup dan meluap-luap di dalam dirinya dengan sebaik mungkin, menyemai benih-benih cinta untuk dipetik tatkala buahnya telah siap untuk dipanen. Ia mungkin berbuat salah, ia bisa jadi melupakan beberapa hal penting, tapi ia segera tersadar dan memperbaikinya.

Maka, orangtua mana yang tak akan sedih bila putrinya yang ia kenali dengan dosis tinggi itu menjadi bulan-bulanan opini? Orangtua mana yang tak akan getir hatinya ketika melihat gambar-gambar putri terkasih mereka mengisi ruang-ruang publik, membumbuinya dengan prasangka dan sensasi murahan? Maka orangtua mana yang tak akan berduka ketika aurat putri tercinta mereka diumbar tanpa perasaan berdosa oleh mata-mata yang lapar syahwat dan lisan yang nyaris tanpa adab?

Saya, bagaimanapun, memiliki anak perempuan. Bukan hanya satu, tapi tiga. Pun begitu dengan perempuan-perempuan lain yang ada di kehidupan saya seperti istri, ibu, dan saudara-saudara perempuan saya yang lain. Saya tidak tahu dengan latar kehidupan mereka yang kerap mencemooh dan mengejek tanpa ada perasaan bersalah kepada perempuan-perempuan mereka: ibu, istri, putri, dan saudara kandung perempuan mereka yang lain. Saya tidak mengerti. Tapi saya ingin mencoba untuk mengerti agar perempuan-perempuan saya bisa menjaga diri dari ketidakberadaban dan ketidaksenonohan seperti itu, dan agar saya bisa melipatgandakan kesabaran bila ketidakberadaban dan ketidaksenonohan itu terjadi pada saya.

Allah ya rahmaan. [wahidnugroho.com]


Muspratama, Juni 2013 

Minggu, 23 Juni 2013

Tanpa Rencana



Aku ingin sekali bepergian bersamamu, tanpa rencana, tanpa persiapan yang berarti, tanpa tujuan yang akan didatangi, pergi begitu saja. Kau hanya perlu mengemasi beberapa potong pakaian milikku, milikmu, milik anak-anak. Membawa uang secukupnya dan juga kartu identitas. Mengisi tangki bensin mobil kita sampai penuh, dan kembali mengisinya saat jarum tangki menjadi seperempatnya. Kita akan menuju ke arah matahari terbenam, melihat langit yang awalnya biru lalu mengelam hitam. Menikmati pemandangan yang dihiasi deretan pohon, semak, dan perdu yang seolah tanpa ujung. Menyimak erangan binatang malam, kerikan serangga, kaokan burung gagak, dan kepakan sayap kelelawar.

Kita akan makan secukupnya, minum secukupnya, mungkin mengemil sesekali saja, lalu berhenti beberapa kali saat kumandang azan mengangkasa. Menunaikan kewajiban, menyelesaikan hajat yang tertahan, dan membersihkan debu serta daki yang melekat di badan.

Mungkin kita perlu juga berhenti sejenak ketika suara gemericik air sungai sudah mulai terdengar. Mematikan mesin mobil yang mulai memanas, melangkah keluar dengan kaki tanpa alas, meregangkan otot-otot yang tegang dan kebas, dan menyesap keheningan yang mulai turun di bibir sebuah sungai kecil yang berarus tak seberapa deras.

Biarkan saja anak-anak bermain di bibir sungai yang tak tenang, biarkan saja mereka saling membasahi, tertawa, dan bercanda dengan air yang mengeruh karenanya. Aku dan kau hanya menyaksikan dari jarak yang tak seberapa, saling menggamit tangan, tanpa suara, hanya bertukar senyum dan pandangan mata.

Kita akan merapat di bibir desa yang sepi penghuni ketika gelap menghampiri. Menyiapkan kasur untuk anak-anak di bagian belakang mobil, merebahkan sandaran kursi yang menyamankan diri, lalu tidur hingga kumandang azan subuh datang.

Saat fajar menyingsing, kita akan kembali melanjutkan perjalanan kita yang tanpa rencana, tanpa persiapan, dan tanpa tujuan itu hingga isi bahan bakar mulai menipis perlahan. Lalu mengisinya hingga penuh ketika kita berhasil menemui stasiun pengisian bahan bakar dan berbalik arah ke tempat kita semula pergi. Ke arah dimana matahari terbit dan mengurapi segarnya pagi. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juni 2013 

Minggu, 16 Juni 2013

Hasrat Yang Membadai


Malam semakin larut. Di luar sana suasana sepi. Tak ada suara gonggongan anjing dari kejauhan, tak ada suara gemerisik daun yang ditiup angin dari rumpun bambu di sebelah rumah, hanya ada udara malam yang terasa dingin menusuk paska hujan yang deras mengguyur bumi beberapa saat yang lalu. Jam menunjukkan pukul satu dini hari kurang lima belas menit.

Rudi tampak terjaga. Ia tak kunjung bisa tidur, seperti sedang terganggu dengan sesuatu. Ia meraih bantal yang ada di jangkauannya dan mulai merebahkan badannya, memejamkan mata, dan mencoba untuk tidur. Tapi tak jua bisa terlelap. Rudi pun jadi gelisah.

Ia bangun dari tempat tidurnya dan beranjak ke kamar sebelah tempat anak-anaknya tidur. Kedua anaknya sudah tertidur lelap. Salah satunya bahkan sampai menumpahkan air liur di bantalnya. Setelah memperbaiki letak tidur kedua anaknya agar dirasa lebih nyaman, Rudi kembali ke kamarnya.

Ketika masuk ke kamar, Rudi memandangi istrinya yang sudah terlelap. Tiba-tiba saja, ada perasaan aneh yang berkelebat dalam dadanya. Rudi lalu mendekati istrinya yang tidur sambil menghadap ke dirinya. Inilah momen ketika istrinya terlihat begitu cantik, pikir Rudi. Ia pun membelai wajah sang istri, yang diikuti dengan terbangunnya ia karenanya.

Sefti, istri Rudi, membuka matanya. Ia tersenyum kepada Rudi yang dibalas dengan senyuman pula oleh suaminya itu. Rudi membelai rambut Sefti yang tampak acak-acakan, menyentuh bagian tertentu dari tubuh istrinya, dan mengerlingkan matanya untuk mengirimkan pertanda. Sefti mengerti dengan arti kerlingan itu. Ia lalu meminta diri kepada Rudi untuk menyiapkan dirinya ke kamar mandi. Rudi pun berjalan ke kran yang ada di sisi kamar mandi di rumahnya, berwudhu dan bersikat gigi. Ia lalu masuk ke kamar anak-anak, memastikan mereka semua sudah terlelap, menutup pintunya, dan masuk ke kamarnya sendiri. Rudi menyemprotkan minyak wangi di sini dan di sana, dan berbaring di tempat tidurnya untuk menyambut kedatangan istrinya yang telah selesai bersiap.

Tak sampai lima menit, Sefti masuk kembali ke kamar mereka. Aroma harum yang semerbak mewarnai udara langsung membuat dada Rudi berdegup kencang. Rudi terduduk di ujung tempat tidurnya bersama Sefti yang kemudian duduk di hadapannya. Kedua pasangan suami istri itu kini saling berhadapan, saling melempar senyum yang penuh arti, dan beberapa saat kemudian larut dalam gairah yang menggelora, nyaris tanpa menimbulkan suara yang dapat membangunkan kedua anaknya yang sedang terlelap pulas. Di luar sana, hujan mulai turun. Suara rintiknya sedikit meramaikan bumi yang awalnya sunyi senyap. Angin dingin yang berhembus menyejukkan udara yang mulai menghangat di kamar itu.

Ada saat-saat tertentu ketika gelora itu terasa menggebu, tak memandang waktu, tak memandang tempat. Tiba-tiba datang begitu saja. Cerita di atas barangkali terjadi dalam situasi yang cukup menguntungkan bagi Rudi dan Sefti, tapi bisa saja ada cerita lain yang agak mirip dengan cerita barusan dengan situasi yang justru bertolak belakang. Di satu sisi ada hajat yang harus ditunaikan, di sisi lain ada situasi yang tidak memungkinkan untuk menunaikannya.

Kadang anak-anak tak kunjung tertidur, kadang tamu yang tengah singgah tak kunjung pulang, kadang acara kenduri tak kunjung berujung, dan acara syukuran tak jua berakhiran. Dan jadilah ada diri yang sedikit gelisah, ada tindak-tanduk yang meresah, dan ada gerak-gerik yang sedikit gundah. Senyum tak lagi sepenuh hati, tertawa tak lagi dengan mulut penuh terbuka.

Maka berbahagialah bagi para suami yang memiliki istri yang shalihah lagi mampu membaca bahasa tubuh sang suaminya yang tengah resah, yang dapat menerjemahkan pandangan penuh arti dengan belaian yang merabai kulit pipi. Karena lisan yang merapat tersebab malu, dan sentuhan mengajak yang tak jua ada karena nyali yang tak bertaji. Dan benarlah, hanya sentuh fisiklah yang dapat mengobati hasrat yang membadai di jiwa, nikmat lagi berpahala. [wahidnugroho.com]


Muspratama, Juni 2013 

Senin, 10 Juni 2013

Sepotong Kisah 'Suram' Istri Saya


Istri saya bukan orang yang biasa bekerja. Ia bukan orang yang prigel dan cekatan. Maklum, waktu kecil dulu ia tidak diperbolehkan bekerja di rumah, dalam artian melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lazimnya dikerjakan oleh anak perempuan: memasak, mengurus rumah, mencuci baju, menyetrika, dan hal-hal semacam itu. Karena konon kabarnya rumah mertua dulu banyak dihuni oleh anak tinggal.

Anak tinggal adalah sebuah istilah bagi anak-anak dari luar kota Luwuk yang menumpang tinggal di sebuah rumah. Anak-anak tinggal itu biasa membayar uang sewa yang tak seberapa kepada tuan rumah, kadang tidak membayar sama sekali asal mereka membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, bebersih, dan hal-hal semacam itu. Jenis anak tinggal yang ke dua itu biasa mereka yang punya hubungan keluarga dengan sang induk semang rumahnya, meski kadang ada yang tidak berhubungan keluarga sama sekali. Untuk kasus rumah mertua saya ini, kebanyakan yang tinggal di rumah mertua saya ketika itu adalah sepupu-sepupu istri saya dari Bualemo dan dari Montop Banggai Kepulauan. Mereka jauh-jauh merantau dari Bualemo ke Luwuk (jarak Bualemo ke Luwuk itu sekitar 120 km) dan Montop untuk melanjutkan sekolahnya.

Maka jadilah istri-cilik saya ketika itu hidup dengan nyaris tanpa pernah turun ke dapur untuk memasak atau melakukan pekerjaan rumah, karena semuanya sudah ada yang mengerjakan. Mau makan tinggal makan, mau ganti baju tinggal ambil baju di lemari yang sudah tersetrika licin dan rapi. Ditambah lagi dengan sikap protektif ibu mertua saya yang melarang istri-cilik saya dan kembarannya untuk bekerja di dapur, makin jos gandos-lah ke-tidak-prigel-an dan ke-klemar-klemer-an istri saya dalam urusan pekerjaan rumah tangga.

Saya, well, dari kecil suka nongkrong di dapur. Kadang membantu ibu memotong-motong sayur, memasak, cuci beras, atau sekedar duduk-duduk sambil melihat ibu saya bekerja. Kebetulan ibu saya juga suka diminta rewangan (memasak untuk hajatan) di rumah tetangga, maka saya pun suka berada dekat-dekat dengan ibu ketika beliau memasak sambil berharap untuk mendapatkan satu dua potong kue atau paha ayam goreng. Saya juga disuruh untuk belajar mencuci dan menyetrika baju sendiri. Ibu saya juga sosok perempuan yang prigel sama kerjaan rumah yang selalu mengharapkan rumah yang rapi jali. Begitulah saya tumbuh dan besar dalam setting lingkungan seperti itu.

Dan akhirnya kami berdua pun bertemu. Saya yang seperti ini dan istri yang seperti itu. Latar belakang kami berdua cukup kontradiktif, ternyata. Meski kadang ada kesalahpahaman dan ketidakcocokan yang kerap terulang, tapi toh akhirnya istri saya bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dulu tak akrab dengan masa tumbuh-kembang-nya juga. Syukurlah, cerita ‘kelam’ itu sudah berlalu. Masakannya tak lagi sehambar dulu, bumbunya sudah lebih ‘berani’, sudah cukup percaya diri dengan level kelezatan masakannya yang dibuktikan dengan membagi-bagikan hasil prakarya dapurnya ke para tetangga, dan cara bekerjanya yang tak lagi se-klemar-klemer dulu, serta sudah cukup cekatan dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Keputusan kami untuk tidak lagi menyewa asisten rumah tangga pun bagian dari pembelajaran dan pembiasaan agar kami mau dan mampu bekerja dan mengurus rumah sendiri.

Ketika anak-anak perempuan kami lahir dan semakin mendewasa, saya mengatakan kepada istri bahwa anak-anak ini jangan sampai seperti dirinya ketika masih anak-anak dulu: tak terampil bekerja. Mereka harus lebih baik dari umminya, bahkan juga saya. Saya juga kerap melibatkan akhwat-akhwat cilik itu untuk pating-kemriyik membantu saya atau umminya ketika memasak, memberikan mereka pekerjaan remeh-temeh seperti mengaduk adonan, mengambilkan garam, atau mengocok telur, yang mereka lakukan sambil cengengesan dan terkadang saling menghamburkan tepung dan bumbu-bumbu. Atau kadang melibatkan mereka membereskan mainan, melipat baju, melap kotoran, memungut barang-barang yang jatuh, dan hal-hal semacam itu. Menurut saya itu adalah pembelajaran dan pembiasaan supaya mereka kelak tak seperti umminya di masa kecil dulu yang tak biasa bekerja.

Karena ketika mereka berumahtangga kelak, bagaimanapun ‘sebagian’ dari takdir perempuan adalah mampu melayani suami mereka dengan sebaik-baiknya, apapun profesi dan posisi mereka di masyarakat, sebagai timbangan amal kebaikan bagi mereka di masa depan nanti.

Beberapa orang mengatakan bahwa ada seberkas kebahagiaan yang kerap terbit di wajah saya. Well, jujur saja, ada andil istri saya yang dulu-tak-biasa-bekerja-dan-sekarang-sudah-cukup-cekatan di sana. Semoga apa yang dilakukannya menjadi tabungan amal shalih baginya yang saya telah ridho dengannya. [wahidnugroho.com]




Muspratama, Juni 2013
Kembali mencacah 

Minggu, 02 Juni 2013

Di Sepanjang Perjalanan




Di sepanjang perjalanan pulang itu tangan kita berdua saling bertaut. Lisanmu tak hentinya mengoceh mengenai banyak cerita yang terjadi di sekolahmu. Tentang si fulan, si fulanah, tentang bu guru ini, bu guru itu. Tentang si anu yang menangis, tentang pemberian permen yang kau tolak karena wanti-wantiku, tentang menu makan hari itu yang tak kau habiskan, tentang uang tabungan yang sudah terkumpul banyak, tentang hafalan Al Qur'an yang kerap kita rapalkan bersama, tentang pelajaran hari itu dan jalan-jalan di sepanjang pantai yang menyenangkan hatimu.

Di sepanjang perjalanan pulang itu tangan kita berdua saling bertaut. Sesekali aku melirik ke arah kaca spion di sebelah yang sengaja ku pantulkan ke arah wajahmu yang sangat belia. Kau telah beranjak besar. Beberapa tahun kemudian, aku mungkin tak lagi menyebutmu dengan sebutan lucu, imut, atau panggilan semacam itu. Atau kau tak lagi mau kusebut sebagai perempuan yang lucu. Kau perempuan dewasa, yang tegar dan tengah mekar, begitu mungkin pikirmu.

Di sepanjang perjalanan pulang itu tangan kita berdua saling bertaut. Aku tahu, tautan kedua tangan kita takkan berlangsung terlalu lama. Aku sadar, aku takkan selamanya menuntun jalanmu, membasuh lukamu, menggendong badanmu yang makin berat, dan mengecup keningmu yang terbakar sinar matari. Aku sadar betul itu. Kelak akan ada tangan lain yang kau pegang dengan erat, kelak akan ada bibir lain yang akan mengecup keningmu, kelak akan ada bahu lain tempat kau bersandar, kelak akan ada dada yang lebih bidang dan perut yang lebih rata sebagai tempat kau tetirah.

Di sepanjang perjalanan pulang itu tangan kita berdua saling bertaut. Aku sadar dengan posisiku. Aku sadar betul. Kelak, ketika tanganku tak lagi mampu memegang tanganmu, ketika bibirku tak mampu lagi mengecup keningmu, ketika perutku yang penuh lemak tak lagi jadi tempat tetirahmu, ketika bahuku yang sudah tak kekar tak lagi jadi tempat bersandarmu, maka hati-hati kita lah yang akan bertaut. Jiwa-jiwa kita lah yang akan saling memagut. Hanya benih-benih rindu yang bisa kita tanam dan menuainya kelak dengan pertemuan-pertemuan singkat dan tak seberapa lama.

Di sepanjang perjalanan pulang itu tangan kita berdua saling bertaut. Aku melepaskannya sejenak demi memeluk pinggang kecilmu, menghirup bau rambutmu yang apak, mencium bau keringatmu yang khas, dan memandangi wajahmu dari balik kaca spion yang kuarahkan kepadamu.



Muspratama, Juni 2013 

Begitulah Pernikahan



Oh kadang pula terdapat
Suami jahat isteri budiman
Isterinya cukup sabar
Perangai suami ya Allah macam setan

Kalau di belakang isteri
Hai joli sana joli sini
Kalau di depan isteri
Amboi pijak semut pun tak mati
[Kisah Rumah Tangga oleh P Ramlee]


Begitulah pernikahan.

Ia merampas kebebasan masa mudamu dengan segenap tetek-bengek yang merepotkan. Kau tahu? Kau harus memaksakan diri untuk bangun di tengah malam ketika anak-anakmu yang masih kecil itu merengek minta diantar buang air ke kamar mandi, kau harus menahan gerutumu ketika anak-anakmu buang air di sembarang tempat, atau bermain hingga rumahmu yang rapi-jali jadi berantakan seperti kapal pecah. Kau tahu? Kau harus menyediakan ruang kesabaran yang besarnya tanpa batas, kau harus menjernihkan fikirmu sebelum memuntahkan rentetan kata-kata di hadapan anak-anakmu, memasang muka semanis mungkin ketika hatimu bergemuruh dengan luapan emosi, dan menahan tanganmu sekuat mungkin agar tak sampai melukai keluargamu.

Begitulah pernikahan.

Ia merampas uang yang sudah kau kumpulkan dengan susah payah dalam waktu sekejap, dan kadang untuk urusan remeh nan temeh yang sebenarnya bisa dikesampingkan dan diabaikan. Mungkin pada suatu hari yang cerah, hatimu pun sedang tak kalah cerah dan saldo di dompetmu begitu membuncah, lalu kau meniatkan hati untuk mampir ke sebuah toko mainan dan membelikan beberapa buah sebagai kejutan untuk anak-anakmu. Mainan ini harganya sekian, mainan itu harganya sekian, mainan yang lain harganya sekian. Begitu berbunga hatimu tatkala membayangkan gurat senyum dan rekah tawa yang akan terbit di wajah anak-anakmu ketika mereka membuka hadiah yang sudah kau beli dengan anggaran tak sedikit itu. Namun tak sampai dua tiga hari kemudian, mainan itu sudah tercampakkan ke salah satu sudut sepi di rumahmu, ada yang beberapa bagiannya rusak dan hilang, bahkan salah satunya sudah teronggok di dalam tempat sampah di dekat rumahmu. Kau bisa saja menggumam dan berkata, “Uang yang aku kumpulkan dengan susah payah sedikit demi sedikit ternyata hanya berakhir seperti itu”, tapi tentu kau takkan mampu mengutarakannya kepada mereka. Karena gurat senyum dan rekah tawa yang terbit dari wajah mereka tentu tak bisa diagun dengan seberapapun nilai angka.

Begitulah pernikahan.

Ia mengambil waktumu yang luang dan penuh dengan ambisi pribadi dengan urusan lain yang begitu menyita masa dan usia. Kau tak lagi berpikir tentang dirimu – saja – tapi juga tentang mereka. Keputusan-keputusan yang kau buat tak lagi tentang dirimu – saja, tapi juga mengunduh kepentingan-kepentingan dan keputusan-keputusan mereka. Derap langkah dan gerak hati tak lagi bicara soal dirimu – saja, tapi juga meresonansi dan membersamai derap langkah dan gerak hati mereka.  

Begitulah pernikahan.

Ia tidak hanya memberi tapi juga menerima. Ia bukan cuma menerima tapi juga memberi. Kau perlu melapangkan jiwamu, menerima kelupaan-kealfaan, memaklumi kekurangan-kekurangan, memaafkan kesalahan-kesalahan, meski terasa sakit dan berat, meski malu tak kuasa kau tolak. Tapi kau harus melakukannya. Harus! Kau perlu memotong egomu, kau harus menjaga emosimu, kau harus melebarkan rongga hatimu, kau wajib menata katamu, dan mengekang kuat-kuat nafsu liar yang kerap menggodamu. Kau juga harus memberi. Memberi waktumu, sayangmu, cintamu, hasratmu, hartamu, segalamu. Harus!

Begitulah pernikahan.

Maka bersiaplah menghadapinya. Tak perlu, tak perlu kau takut. Tak usah, tak usah kau gentar. Santai saja. Nikmati perjalanannya saat menanjak dan menurun, saat menikung dan berjalan lurus, saat maju dan berjalan mundur. Nikmati riak-gelombangnya, nikmati resah-gelisahnya, nikmati gundah-gulananya, nikmati pahit-getirnya, duka-nelangsanya, selain tentu saja nikmati harum mewangi dan keindahannya.

Begitulah pernikahan.

Di sebalik bunga-bunganya yang mewarna indah dan aneka rupa, ada rumpun semak yang perlu dibabat dan disiangi, ada rerumputan yang perlu dicabuti, ada kumpulan gulma yang harus dihabisi, ada gundukan tanah yang harus diratakan, dan saluran air yang sesekali perlu dibersihkan agar tak menyumbat. Inilah taman pernikahan kita.

Pernikahan memang bukan soal ringan dan berat, bukan soal indah dan marah, bukan soal senang dan gamang, bukan soal tabah dan resah, bukan soal itu saja. Tapi soal banyak hal. Ia tak hanya soal tawa dan duka, tak hanya soal senyum manis dan wajah meringis, tak hanya soal gembira dan nelangsa, tak soal itu saja. Tapi juga soal banyak hal.

Di taman penuh bunga, rumput, gulma, semak, dan tumpukan tanah yang tak terlalu tertata baik inilah kita hidup dan menghirup. Melata dan bekerja di bawah langitnya. Menanam asa yang kan dipanen di esok masa. Mereguk pahala yang berlimpah jumlahnya, menggapai ridhoNya yang tak terhitung nilai dan angkanya. Aku, kau, kita.



Tanjung, Juni 2013
Maaf, sungguh saya mohon maaf...