Minggu, 02 Juni 2013

Begitulah Pernikahan



Oh kadang pula terdapat
Suami jahat isteri budiman
Isterinya cukup sabar
Perangai suami ya Allah macam setan

Kalau di belakang isteri
Hai joli sana joli sini
Kalau di depan isteri
Amboi pijak semut pun tak mati
[Kisah Rumah Tangga oleh P Ramlee]


Begitulah pernikahan.

Ia merampas kebebasan masa mudamu dengan segenap tetek-bengek yang merepotkan. Kau tahu? Kau harus memaksakan diri untuk bangun di tengah malam ketika anak-anakmu yang masih kecil itu merengek minta diantar buang air ke kamar mandi, kau harus menahan gerutumu ketika anak-anakmu buang air di sembarang tempat, atau bermain hingga rumahmu yang rapi-jali jadi berantakan seperti kapal pecah. Kau tahu? Kau harus menyediakan ruang kesabaran yang besarnya tanpa batas, kau harus menjernihkan fikirmu sebelum memuntahkan rentetan kata-kata di hadapan anak-anakmu, memasang muka semanis mungkin ketika hatimu bergemuruh dengan luapan emosi, dan menahan tanganmu sekuat mungkin agar tak sampai melukai keluargamu.

Begitulah pernikahan.

Ia merampas uang yang sudah kau kumpulkan dengan susah payah dalam waktu sekejap, dan kadang untuk urusan remeh nan temeh yang sebenarnya bisa dikesampingkan dan diabaikan. Mungkin pada suatu hari yang cerah, hatimu pun sedang tak kalah cerah dan saldo di dompetmu begitu membuncah, lalu kau meniatkan hati untuk mampir ke sebuah toko mainan dan membelikan beberapa buah sebagai kejutan untuk anak-anakmu. Mainan ini harganya sekian, mainan itu harganya sekian, mainan yang lain harganya sekian. Begitu berbunga hatimu tatkala membayangkan gurat senyum dan rekah tawa yang akan terbit di wajah anak-anakmu ketika mereka membuka hadiah yang sudah kau beli dengan anggaran tak sedikit itu. Namun tak sampai dua tiga hari kemudian, mainan itu sudah tercampakkan ke salah satu sudut sepi di rumahmu, ada yang beberapa bagiannya rusak dan hilang, bahkan salah satunya sudah teronggok di dalam tempat sampah di dekat rumahmu. Kau bisa saja menggumam dan berkata, “Uang yang aku kumpulkan dengan susah payah sedikit demi sedikit ternyata hanya berakhir seperti itu”, tapi tentu kau takkan mampu mengutarakannya kepada mereka. Karena gurat senyum dan rekah tawa yang terbit dari wajah mereka tentu tak bisa diagun dengan seberapapun nilai angka.

Begitulah pernikahan.

Ia mengambil waktumu yang luang dan penuh dengan ambisi pribadi dengan urusan lain yang begitu menyita masa dan usia. Kau tak lagi berpikir tentang dirimu – saja – tapi juga tentang mereka. Keputusan-keputusan yang kau buat tak lagi tentang dirimu – saja, tapi juga mengunduh kepentingan-kepentingan dan keputusan-keputusan mereka. Derap langkah dan gerak hati tak lagi bicara soal dirimu – saja, tapi juga meresonansi dan membersamai derap langkah dan gerak hati mereka.  

Begitulah pernikahan.

Ia tidak hanya memberi tapi juga menerima. Ia bukan cuma menerima tapi juga memberi. Kau perlu melapangkan jiwamu, menerima kelupaan-kealfaan, memaklumi kekurangan-kekurangan, memaafkan kesalahan-kesalahan, meski terasa sakit dan berat, meski malu tak kuasa kau tolak. Tapi kau harus melakukannya. Harus! Kau perlu memotong egomu, kau harus menjaga emosimu, kau harus melebarkan rongga hatimu, kau wajib menata katamu, dan mengekang kuat-kuat nafsu liar yang kerap menggodamu. Kau juga harus memberi. Memberi waktumu, sayangmu, cintamu, hasratmu, hartamu, segalamu. Harus!

Begitulah pernikahan.

Maka bersiaplah menghadapinya. Tak perlu, tak perlu kau takut. Tak usah, tak usah kau gentar. Santai saja. Nikmati perjalanannya saat menanjak dan menurun, saat menikung dan berjalan lurus, saat maju dan berjalan mundur. Nikmati riak-gelombangnya, nikmati resah-gelisahnya, nikmati gundah-gulananya, nikmati pahit-getirnya, duka-nelangsanya, selain tentu saja nikmati harum mewangi dan keindahannya.

Begitulah pernikahan.

Di sebalik bunga-bunganya yang mewarna indah dan aneka rupa, ada rumpun semak yang perlu dibabat dan disiangi, ada rerumputan yang perlu dicabuti, ada kumpulan gulma yang harus dihabisi, ada gundukan tanah yang harus diratakan, dan saluran air yang sesekali perlu dibersihkan agar tak menyumbat. Inilah taman pernikahan kita.

Pernikahan memang bukan soal ringan dan berat, bukan soal indah dan marah, bukan soal senang dan gamang, bukan soal tabah dan resah, bukan soal itu saja. Tapi soal banyak hal. Ia tak hanya soal tawa dan duka, tak hanya soal senyum manis dan wajah meringis, tak hanya soal gembira dan nelangsa, tak soal itu saja. Tapi juga soal banyak hal.

Di taman penuh bunga, rumput, gulma, semak, dan tumpukan tanah yang tak terlalu tertata baik inilah kita hidup dan menghirup. Melata dan bekerja di bawah langitnya. Menanam asa yang kan dipanen di esok masa. Mereguk pahala yang berlimpah jumlahnya, menggapai ridhoNya yang tak terhitung nilai dan angkanya. Aku, kau, kita.



Tanjung, Juni 2013
Maaf, sungguh saya mohon maaf...
Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar