Rabu, 30 September 2015

Kronik 30 September 2015: Makassar Day 1

Pelataran parkir Mall Panakukkang tampak lengang. Suara cericit burung terdengar lemah dari pepohonan yang menyesaki tempat parkir itu. Jalanan Pengayoman juga tampak sepi. Berkas-berkas sinar mentari pagi berangsur menerang di ufuk timur. Terdengar deru suara knalpot motor dari kejauhan, dibarengi lantunan suara orang mengaji dari sebuah pengeras suara masjid entah dimana. Saya masih tidur-tiduran di kamar hotel Amaris, menggenggam sebuah buku di tangan dan memandangi kamar hotel tempat saya tinggal malam ini yang berukuran sekitar 3x6 meter.

Kemarin siang, pesawat yang membawa saya dari Luwuk mendarat dengan sempurna di Bandara Sultan Hasanuddin, Maros. Meski sempat dilanda turbulensi hebat dua puluh menit sebelum mendarat, perjalanan kemarin pada umumnya cukup menyenangkan. Saya menghabiskan seratus dua – atau seratus tiga – halaman buku George Orwell yang saya baca sejak menunggu pesawat di Bandara Syukuran Aminuddin Amir, Luwuk. Kedatangan saya di Makassar adalah untuk menghadiri acara IHT e-Audit di Kanwil DJP Sulselbrata selama 3 hari bersama teman seruangan saya, Pavit. Ini adalah kunjungan kedua saya di Makassar yang mengambil durasi cukup panjang setelah kali pertama mengunjungi kota ini selama 2 hari pada tahun 2007 silam.

Sampai di Makassar, teman saya, Pavit dan Haji Anca, sudah menunggu di pintu arrival. Haji Anca menjemput saya dan Pavit dengan mobil Rush hitam milik keluarganya. Ia memang sudah berada di Makassar lebih dulu bersama dengan Rido untuk menghadiri acara Forum Penagihan di Hotel Aston. Cuaca di Makassar terik dan panas. Setelah menaruh barang bawaan di bagasi belakang, mobil yang saya tumpangi membelah lalu-lintas yang tidak terlalu ramai.

Mula-mula Haji Anca mengajak kami ke kompleks GKN, sepertinya ia sedang ada perlu dengan Budi, teman sekantor saya lainnya yang sedang ada acara di Kanwil. Sekitar lima belas menit, Haji Anca keluar dari gedung Kanwil dan mengajak kami ke hotel Amaris untuk melihat-lihat kondisi kamar karena Budi menginap di hotel itu sampai besok, sekaligus menunaikan shalat zuhur. Selesai dari Amaris, saya dan rombongan bertolak ke Lotte Mart Panakukkan untuk mencari makan siang.

Waktu sudah menunjukkan pukul tiga kurang beberapa menit. Setelah sempat kembali ke hotel dengan berjalan kaki karena handphonenya ketinggalan, Haji Anca mengajak kami ke dalam mall. Kami bertiga makan siang di D’Cost, di lantai 3 mall. Saya memesan sayur asam, tahu goreng, dan tempe bakar, sedangkan Pavit memesan mie goreng dan Haji Anca memesan nasi goreng.

Selesai makan, kami berkeliling mall sebentar. Saya ingin mencari kaus untuk anak-anak sebagai oleh-oleh. Setelah berkeliling sebentar di Matahari, saya mendapatkan empat kaos putih lengan panjang untuk anak-anak, kemeja putih lengan panjang untuk saya, dan sebuah kaos hijau toska lengan panjang untuk istri. Usai mencari oleh-oleh untuk anak-anak dan istri, saya mengajak kedua teman saya ke Gramedia untuk mencari buku. Meski saya sempat distop selama beberapa menit oleh sales perkakas rumah tangga yang memberikan penjelasan kepada saya seputar produk jualannya, saya akhirnya menyusul Pavit dan Haji Anca ke Gramedia.

Berkunjung ke toko buku adalah ritual yang harus saya lakukan ketika berkunjung ke kota-kota besar. Ritual yang saya mulai sejak tahun 2007 ketika saya datang ke sebuah kota kecil yang tak memiliki toko buku bernama Luwuk. Maka, kedatangan saya ke Makassar ini harus pula disambut dengan pesiar ke toko buku. Saya lalu membeli lima buku: Pulang karangan Leila S. Chudori, Trilogi Otobiografi Bung Hatta, Buku Ini Tidak Dijual karangan Henny Alifah, Sabar Ya Nak karangan Kusnandar, dan On Writing Well karangan William Zinsser. Khusus buku yang saya sebutkan terakhir, buku itu sebenarnya sudah lama saya cari-cari di toko buku online, tapi saya selalu kehabisan. Pernah suatu hari saya mau membelinya di sebuah situs jual beli tapi urung. Beruntung saya mendapatkannya di Makassar.

Selesai dari Gramedia, kami semua pulang. Telapak kaki saya sudah terasa nyaris remuk pasca menyisiri mall selama kurang lebih tiga jam. Saya sengaja mengakhirkan shalat jamak. Sampai di hotel, Budi menyambut kami. Saya mengambil kamar sendiri terpisah dengan Pavit. Setelah mandi dengan air dingin dan berganti baju, saya mengecas handphone yang baterainya sudah sekarat, membongkar segel buku-buku yang sudah saya beli, membacai sinopsisnya di bagian belakang satu demi satu secara sekilas, merapihkan barang-barang bawaan, meneguk nyaris setengah botol air minum, menyalakan semua lampu, dan mulai membaca pengantar buku Otobiografi Bung Hatta.

Sekitar dua jam saya berdiam di kamar. Membaca buku yang baru saya beli secara bergantian, meneruskan membaca Orwell sambil berbaring di tempat tidur. Perut saya terasa lapar. Saya lalu keluar hotel untuk mencari makan. Sebuah warung sarilaut pinggir jalan menjadi pilihan saya. Saya memesan lele goreng dan segelas es teh. Selesai makan, saya berjalan sebentar ke atm untuk membeli pulsa yang sudah habis sejak dari mall, dan kembali ke hotel. Perut sudah kenyang. Saya meneruskan bacaan yang tertunda sampai waktu menyentuh pukul sebelas lebih beberapa menit. Mata saya tak kunjung mengantuk meski badan ini sudah capek bukan main. Tempat asing selalu membuat saya perlu menyesuaikan diri terlebih dulu sebelum mulai memejamkan mata. Saya membayangkan wajah mamak yang sedang ada di Madiun, wajah istri yang saya tinggalkan tadi pagi, dan wajah ketiga putri saya. Mereka semua pasti sudah tidur malam ini, batin saya.

Matahari sudah mulai meninggi meski sinarnya masih sedikit lemah. Waktu sudah menunjukkan pukul enam dan kamar saya masih cukup berantakan. Saya harus membereskan barang-barang saya, mandi, dan bersiap-siap untuk pergi ke Kanwil, dan tersadar bahwa ikat pinggang saya tertinggal di rumah! Acara pembukaan akan dimulai pukul setengah delapan pagi dan Haji Anca akan menjemput kami pagi ini. Semoga hari ini menyenangkan. [wahidnugroho.com]


Makassar, September 2015 

Senin, 28 September 2015

Kronik 28 September 2015

Hari ini, tiga paket berisi buku datang ke kantor saya. Paket pertama dari Pojok Cerpen, kedua dari bu Warih, dan ketiga dan mbak Bukulawas Menk-Menk. Paket pertama berisi empat buku antologi tulisan di situs Mojok, sebuah buku George Orwell, sebuah buku Fyodor Dostoevsky, dan sebuah antologi tulisan Puthut EA. Sedangkan dari pak bu Warih adalah Negeri Tanpa Laki-Laki dan Menjadi Laki-Laki yang dikarang oleh suaminya, pak Eko Novianto, kami biasa memanggil beliau dengan nama Ekonov. Paket terakhir berisi buku-buku yang dikirim oleh mbak Bukulawas dengan judul yang beragam. Salah satunya adalah kumpulan surat Rosihan Anwar untuk istrinya berjudul Memoar Kasih Sayang dan Percintaan.

Khusus buku-buku pak Ekonov, rencananya akan saya serahkan masing-masing sebuah kepada Rumah Baca Jendela Ilmu chapter Mangkio dan Toili. Sedangkan buku-buku lainnya akan saya simpan dulu sebagai koleksi pribadi.

Dari semua buku yang datang hari ini, salah satu buku yang menarik perhatian saya adalah kumpulan essai Puthut EA yang berjudul Mengantar Dari Luar. Beberapa bulan yang lalu, buku ini sempat saya pesan dari sebuah toko online. Sayang stoknya habis. Beruntung saya mendapatkannya dari mas Pocer dengan harga yang cukup bagus. Ini adalah buku pertama Puthut EA yang saya baca. Sebelumnya saya belum pernah membaca secuilpun tulisan beliau. Setelah membaca beberapa bagian secara sekilas, saya langsung jatuh hati dengan warna tulisannya yang begitu tenang, dan sabar mengetiki detil demi detil yang membuat tulisannya jadi terasa padat tanpa kehilangan daya tariknya.

Buku lain yang menarik perhatian saya akhir-akhir ini adalah buku-buku yang diterbitkan oleh Penerbit Oak. Penerbit kinyis-kinyis asal Yogyakarta ini memberi warna baru dalam dunia penerbitan indie dengan tampilan kaver yang segar dan tata letak yang tidak memegal-linukan mata. Saya mengikuti, meski tidak secara intens, postingan-postingan mas Pocer di linimasa Facebook tentang bagaimana penerbit anyar ini lahir di dunia penerbitan buku ketika situasi ekonomi sedang lesu dengan warna dan karakteristiknya yang khas. Diam-diam, saya bermimpi, andai penerbit buku-buku tarbiyah memiliki concern yang tinggi dengan perwajahan buku sehingga buku yang berpotensi-membuat-mata-mengantuk-kala-membacanya memiliki daya tarik bagi khalayak luas, dan tentu saja lebih nyaman untuk dibaca.

Soal perwajahan buku-buku tarbiyah dan buku-buku keislaman ini sebenarnya saya ingin membuat tulisan tersendiri, tapi masih urung saya lakukan. Meski gambarannya sudah lama terbayang-bayang di dalam kepala, saya masih belum merasa percaya diri untuk mendedahkan kegelisahan saya terhadap tampilan buku-buku tarbiyah yang stagnan dan membosankan itu, meski kontennya sangat bermanfaat. Mungkin lain kali saya akan menuliskan khusus tema itu di blog ini.

Selebihnya hari ini biasa-biasa saja. Supervisor saya belum datang dari Surabaya dan situasi kantor masih agak sepi pasca hari raya kurban. Oh iya, kacamata saya hari ini sudah jadi, tapi istri saya tadi siang bilang bahwa kacamatanya baru bisa diambil nanti malam. Kali pertama saya membuat kacamata adalah pada tahun 2006 silam, nyaris 10 tahun yang lalu. Waktu itu minus saya masih belum seberapa, masih 0,25. Ketika pindah ke Luwuk dan membuat kacamata baru karena yang lama framenya sudah patah, saya terkejut ketika mengetahui bahwa minus mata saya bertambah menjadi 0,75.

Azan ashar dari masjid kantor sudah berkumandang. Sembari menunggu kabar kepastian siapa yang akan berangkat ke IHT e-Audit untuk Fungsional pada hari Rabu besok, saya akan menyelesaikan beberapa pekerjaan yang masih tertunda. Deadline penyelesaian tunggakan pemeriksaan tinggal dua hari dan saya masih belum memenuhi target dengan memuaskan. Saya sejatinya berharap tidak dipanggil ke Makassar dulu meski saya butuh juga dengan pelatihan e-audit itu. Tapi ketok palu tetap di kepala kantor. Saya sebagai pegawai akar rumput mah manut aje.

Oh iya, poster acara Minggu Membaca yang digagas oleh Rumah Baca Jendela Ilmu dan Komunitas Penyala Banggai sudah saya upload pagi ini. Saya membuat logo Gerakan Luwuk Membaca sebagai naungan dari acara itu. Idenya memang spontan dan tidak berdasar masukan dari teman-teman. Tapi tidak apa. Semoga rencananya berjalan lancar dan pesertanya bisa datang sampai membludak. Amin. [wahidnugroho.com]


Tanjung, September 2015 

Buku-Buku Tarbiyah Cetakan Lama

Ada tempat tertentu di salah satu bagian rumah yang dikhususkan untuk menyimpan buku-buku yang telah mewarnai pemikiran dan jalan hidup saya: buku-buku tarbiyah. Letaknya ada di kamar paling belakang berukuran kurang lebih 1.5 x 2 meter. Inilah tempat terhormat yang saya khususkan untuk buku-buku karangan penulis yang lahir dari rahim Al Ikhwan Al Muslimun maupun yang terpengaruh dengannya semisal Hasan Al Banna, Sayyid Quthb, Al Qardhawy, Musthafa Masyhur, Muhammad Imarah, Hasan Hudaibi, Jumah Amin, Abdul Halim Mahmud, Salman Audah, Fathi Yakan, Said Hawwa, Nashih Ulwan, An Nadwi, Al Ghadban, Ahmad ar Rasyid, dan penulis-penulis lokal yang lahir dari rahim komunitas tarbiyah seperti Rahmat Abdullah, Anis Matta, Eko Novianto, Ahmad Dzakirin, Pak Cah, Tate Qomaruddin, dan lain-lain.

Buku-buku yang dikumpulkan satu demi satu sejak saya masih sekolah itulah yang telah menjadi salah satu (atau salah banyak) harta paling berharga yang akan saya wariskan untuk anak-anak saya kelak di samping buku-buku lain yang ditempatkan di ruang tamu, dan, tentu saja, kitab suci yang saya imani.

Sejak dua tahun belakangan ini, hasrat saya untuk mengumpulkan buku-buku tarbiyah cetakan lama begitu menggebu-gebu. Pertemanan dengan beberapa penjual buku online di Facebook menjadi salah satu pemicunya. Saya berhasil mendapatkan buku yang berjudul Tarbiyah Menjawab Tantangan. Sebuah buku yang sudah saya cari-cari sejak masih SMA dulu.

Buku itu kali pertama saya baca ketika masih kelas 1 SMA. Saya meminjamnya dari seorang teman dan langsung jatuh cinta meski saya tidak terlalu mengerti dengan isinya. Saya sempat memfotokopi buku itu waktu masih sekolah dulu, namun karena terlalu sering dibaca, fotokopian itu jadi rusak dan beberapa halamannya sudah banyak yang hilang.

Pencarian buku-buku tarbiyah lawas juga mempertemukan saya dengan buku-buku Sayyid Quthb dan Hasan Al Banna terbitan lama. Salah satu buku yang paling berharga adalah yang dikarang oleh Ishak Mussa Al Husaini berjudul Ikhwanul Muslimun. Buku itu terbit di Indonesia pada tahun 1983 dan memuat banyak sekali foto-foto yang baru saya tahu tentang jamaah Al Ikhwan. Saya juga beruntung bisa mendapatkan buku Diplomasi Revolusi Indonesia di Luar Negeri karangan M Zein Hassan Lc, sebuah buku yang mendokumentasikan pertemuan delegasi Indonesia pada masa-masa awal kemerdekaan ke beberapa negara Arab, termasuk pertemuan Haji Agus Salim dengan Hasan Al Banna.

Soal buku Diplomasi Revolusi itu saya punya catatan tersendiri. Sejak awal membaca buku-buku sejarah ketika masih sekolah, saya bertanya-tanya kenapa justru Mesirlah negara yang kali pertama mengakui kemerdekaan Indonesia? Saya sempat bertanya kepada guru sejarah tapi jawabannya tidak memuaskan. Ketika saya membaca buku Risalah Pergerakan Al Ikhwan Al Muslimun-nya Hasan Al Banna, saya mendapati sub bab yang membahas tentang kaum muslim di Indonesia. Ketika menyingkronkan tahun terbitnya tulisan itu dengan masa-masa persiapan kemerdekaan yang terjadi di Indonesia, saya berfirasat bahwa pengakuan kemerdekaan Indonesia yang dilakukan oleh Mesir ada campur tangan Hasan Al Banna dan jamaah Al Ikhwannya. Hal itu terbukti dengan sebuah artikel yang diturunkan situs harakatuna beberapa tahun yang lalu mengenai peran Al Ikhwan dalam masa-masa awal kemerdekaan Indonesia. Sejak membaca artikel itu, saya bertekad untuk mencari buku Diplomasi Revolusi tersebut. Alhamdulillah, akhirnya bisa bertemu juga.

Selain buku-buku di atas, saya juga beruntung sekali bisa mendapatkan buku-buku lain seperti Risalah Pergerakan Pemuda Islamnya Syaikh Mustafa Muhammad Thahan, Pembunuhan Hasan Al Banna-nya Abdul Mutaal Al Jabari, Pengadilan Terhadap Ikhwanul Muslimin karangan Syabab Pakistan, Geliat Dakwah di Era Baru – kumpulan tulisan para asatidz tarbiyah Indonesia, serta sebuah buku Biografi Hasan Al Banna yang ditulis oleh Anwar Al Jundy.

Pencarian buku-buku tarbiyah cetakan lama ini sebenarnya berawal dari rasa penasaran saya dengan sebuah kalimat yang kerap diulang-ulang tentang mihwar tanzhimi yang dimulai pada akhir tahun 70 sampai awal tahun 80an. Saya lantas berpikir, jika memang mihwar tanzhimi dimulai pada tahun-tahun tersebut, maka pasti diiringi dengan penerbitan buku-buku tarbiyah di tahun yang sama. Apa yang saya duga itu ternyata benar juga. Karena buku-buku tarbiyah itu dicetak pada medio tahun 1978 sampai dengan 1983. Malah saya berhasil mendapatkan buku novel Najib Kailani, sastrawan yang berafiliasi ke Ikhwan, terbitan tahun 80an awal juga.

Ketika membaca buku-buku tarbiyah cetakan lama itu, yang kadang dibubuhi tanda tangan, nama seseorang, dan catatan dari sang pemilik lama, saya kerap membayangkan bagaimana pendapat mereka tentang buku-buku tersebut. Apa kesan yang mereka dapatkan setelah membaca buku itu di tengah serbuan liberalisasi agama yang juga tumbuh berkembang di era yang sama. Para mahasiswa dan pelajar yang dahulu menjalankan proses tarbiyah dengan cara sembunyi-sembunyi, bagaimana cara mereka menyisihkan waktu untuk membaca buku-buku tersebut hingga akhirnya mereka tergugah dan tergerak untuk melakukan sesuatu bagi umat, sampai detik ini.

Saya kadang terpikir, buku-buku apa saja yang dimiliki dan dibaca oleh para asatidz tarbiyah pada masa-masa awal keterlibatan mereka dalam komunitas tersebut, dan buku apa yang berkesan mendalam bagi mereka hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menceburkan dirinya di dalam komunitas itu sampai sekarang. [wahidnugroho.com]


Kilongan, September 2015 

Minggu, 27 September 2015

Guruku

"Ia," tutur Syaikh Ahmad Abdurrahman Al Banna tentang putra sulungnya, Hasan Al Banna, "selalu mengadakan perjalanan olah ruhani. Keluar negeri untuk menuntut ilmu. Mengelilingi setiap sudut kota semata untuk mencari buku-buku, laiknya seolah ulama Cordoba yang sedang berkeliling pasar dalam rangka mencari toko buku. Ia seringkali didatangi para ulama dari berbagai daerah untuk membahas berbagai persoalan atau melakukan penelitian dari rencana buku yang akan disusun."

Syaikh Abdurrahman Al Banna selalu memanggil putranya itu dengan panggilan "Ustadzku" atau guruku, padahal beliau adalah ulama hadits dan penyusun kitab Fathul Rabani Li Tartib Musnad Imam Ahmad bin Hambal asy-Syaibani, sebuah kitab babon berdurasi 20+ juz yang membahas tentang fiqih Hambali, yang disusunnya selama 11 tahun di sela-sela pekerjaannya sebagai seorang tukang reparasi jam.

Ketika Hasan Al Banna syahid diberondong peluru makar, Syaikh Ahmadlah yang menjemput jenazahnya di rumah sakit, menshalatkan dan menguburkannya bersama dua anaknya yang lain karena pemerintah Mesir, negeri yang begitu dicintai oleh sang putra, melarang orang-orang untuk hadir di pemakamannya.

Dalam eleginya, Syaikh Ahmad Abdurrahman menulis kelapangan hati akan musibah tersebut sebagai berikut:

"Wahai anakku, aku teringat saat engkau terbunuh di tengah malam gulita. Engkau dibawa dalam keadaan berlumuran darah. Jiwamu melayang. Badanmu terkoyak-koyak. Setelah ular hutan belantara pergi, ternyata ular erkepala manusia datang menggigitmu. Semua ini adalah bagian dari takdir Allah semata."

"Ketakutan ini pun terjadi. Musibah ini tak dapat kuhindari. Wahai belahan hatiku, ketika kusingkap wajahmu, air mata ini mengalir deras. Hatiku terasa perih. Dan aku tak bisa berkata apa-apa selain mengucapkan kata-kata yang diridhai Allah: innalillahi wa inna ilaihi raaji'uun."

"Wahai anakku," lanjut Syaikh Ahmad, "aku seorang diri memandikan jasadmu, mengkafani dan menyalatimu. Aku juga yang berjalan mengiringi jenazahmu. Kuserahkan semua urusanku kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat hamba-hambaNya."

Sepanjang hayatnya, Syaikh Ahmad menjadi penyokong utama dakwah anaknya yang tertuang dalam wadah jamaah Al Ikhwan Al Muslimun. Ketika aset milik jamaah dan keluarga Hasan Al Banna diberangus oleh pemerintah Mesir, Syaikh Ahmad tetap bersetia mendampingi tumbuh kembang jamaah dakwah ini di masa-masa tribulasi yang penuh fitnah dan cobaan dengan hati yang tegar.

Beliau wafat pada usia 67 tahun, atau delapan tahun setelah syahidnya sang putra. [wahidnugroho.com]


Kilongan, September 2015 

Kumpul-Kumpul di Rumah Ibu Herawati

Sabtu (26/9) kemarin, saya berkunjung ke rumah bu Herawati. Beliau adalah mantan dekan FKM Untika yang sedang mengambil studi doktoral di Unhas. Suaminya, pak Isnanto Bidja atau biasa kami panggil pak Nanto, adalah dekan Fakultas Hukum Untika. Di rumahnya yang tinggi menjulang di komplek BTN Nusagriya, saya datang sekitar pukul 16.40an. Sangat terlambat dari janji awal pukul 16.00. Sebabnya adalah karena saya harus menunggu putri bungsu saya, Gendis, bangun tidur terlebih dahulu. Berhubung dia tidur siang sudah menjelang sore, bangunnya pun jadi terlambat.

Acara kumpul-kumpul ini sebenarnya sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari antara kami para alumni Kelas Inspirasi Banggai #2 dan beberapa teman dari komunitas Penyala Banggai yang akan mengadakan hajatan besar bernama RuBI, atau Ruang Berbagi Inspirasi pada bulan Oktober nanti. Saya sendiri, konon, masuk sebagai panitia di bidang acara, meski saya, jujur saja, belum melihat TOR yang telah direvisi oleh teman-teman panitia yang lain karena memang belum sempat mengunduhnya. Selain rapat tentang persiapan RuBI, acara sore itu sekaligus membahas persiapan acara Perpus On The Road yang embrionya sudah sempat dibicarakan pekan lalu di Hotel Gemilang di komplek Rajawali bersama orang-orang yang sama pula.

Meski sempat salah masuk rumah orang, akhirnya sampai juga saya di rumah bu Hera. Di sana sudah berkumpul banyak orang. Setelah menyerahkan asinan Betawi, sebagaimana janji saya di grup, saya lalu meminta diri sebentar untuk mengantarkan istri mengikuti pengajian di Kampung Baru. Selesai mengantar istri, saya kembali bergabung bersama teman-teman di rumah bu Hera. Dalam pertemuan itu, saya lebih banyak mengambil posisi sebagai pendengar, meski sesekali ikutan nyeletuk juga. Saya ingin mempelajari bagaimana caranya anak-anak muda ini – termasuk saya juga, hehe – mendiskusikan sebuah hajatan yang cukup besar di tengah himpitan masalah, utamanya soal dana. Sebuah masalah yang klise sebenarnya. Akan tetapi, saya mendapati wajah-wajah yang penuh semangat. Wajah-wajah yang menghabiskan masa mudanya memikirkan solusi dari segala problematika bangsa yang begitu menumpuk-numpuk. Saya belajar banyak dari mereka.

Setelah mukaddimah tentang persiapan RuBI sudah digelontorkan, tiba waktunya makan-makan. Hidangan yang disediakan oleh tuan rumah sangat menggugah selera meski menunya cukup sederhana. Saya mengambil makanan bernama Putu Palu. Semacam olahan ketan yang dibaluri parutan kelapa – sama kayak lupis – tapi dimakan bareng balado ikan Nikei. Ikan Nikei adalah semacam ikan teri yang hidup di muara sungai yang berbatasan dengan laut. Rasanya asin gurih. Mirip dengan ikan teri nasi atau teri Medan. Rasa-rasanya, sudah lama sekali saya tidak makan putu Palu. Kali terakhir mungkin sekitar delapan atau sembilan bulan yang lalu ketika saya dan istri masih berjualan bubur di depan SD Pembina. Kebetulan pemilik kios yang juga membuka toko kelontong di depan rumahnya menjual putu Palu.

Setelah makan dan salat Maghrib, pembicaraan dilanjutkan. Kali ini rapat dibagi per bidang. Saya di bidang acara bersama Dhian dan Tuti. Didampingi dengan Steva dan Rama. Sayang, kebersamaan saya dengan mereka tertunda sejenak. Istri saya minta dijemput karena acaranya sudah selesai. Setelah meminta diri kepada Dhian cs dan tuan rumah, saya bertolak ke Kampung Baru untuk menjemput istri dan anak-anak saya di sana. Setelah mengantarkan mereka pulang ke rumah, saya shalat Isya sebentar di masjid komplek dan langsung turun ke Nusagriya setelah selesai.

Ketika pembicaraan tentang RuBI sudah selesai, tiba giliran pembahasan tentang acara Perpus On The Road. Tempat sudah ditentukan, tanggal pun sudah, tinggal formatnya seperti apa. Saya menjelaskan dengan ringkas dan meminta kepada teman-teman agar masing-masing komunitas membawa benderanya sendiri saat acara itu dihelat. Saya dengan Rumah Baca Jendela Ilmu dan teman-teman Penyala Banggai dengan benderanya. Menurut saya, semakin banyak bendera semakin bagus karena menunjukkan bahwa Luwuk punya banyak komunitas yang concern ke bidang literasi. Adapun acaranya itu sendiri akan berada di bawah nama Komunitas Literasi Luwuk. Well, setidaknya itu ide saya pribadi yang kemarin terlupa untuk disampaikan kepada teman-teman hehe.

Bu Hera berharap agar acara tersebut melibatkan unsur pemerintah, dalam hal ini Perpusda. Saya sendiri menyambut baik usulan itu dan teman-teman yang lain pun demikian. Hanya saja, kami masih belum menemukan waktu yang tepat untuk mengadakan pertemuan dengan pak Wiwit (Suwitno Abusama) yang merupakan Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Banggai, meski rumahnya hanya berjarak selemparan batu dengan rumah bu Hera. Semoga pekan depan agenda pertemuan itu bisa terlaksana.

Acara kumpul-kumpul malam itu juga sedikit membahas tentang agenda peresmian rumah baca di Moilong yang digagas oleh mas Hanif, Pengajar Muda Indonesia yang ditugaskan di sana. Saya, dengan sangat berat hati, tidak bisa menghadiri acara yang menarik itu. Namun saya menawarkan mobil saya agar bisa dipakai teman-teman yang mau berangkat ke sana. Teman-teman setuju. Rencananya besok mereka akan berangkat pukul 1 siang dan berkumpul di rumah Tuti. Saya sepakat untuk mengantarkan mobil itu ke kantor dan bertemu dengan Anggi yang sedianya akan bertindak sebagai supir ke Moilong.

Selesai acara, saya sempat berbicara dengan bu Hera mengenai beberapa buku yang menarik perhatian saya di rak bukunya. Saya lalu berbincang sebentar mengenai buku-buku itu dan meminta kepada bu Hera agar saya bisa mengasuh buku-buku tersebut. Saya merasa sayang bahwa buku sebagus itu tidak dimanfaatkan dan hanya diselimuti debu. Bu Hera memenuhi keinginan saya dan saya sangat berterima kasih kepada beliau. Ketika kami semua berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, saya menyempatkan diri membaca dua bagian dari dua buku itu yang sejak kali pertama saya baca sudah menarik perhatian saya: tentang PKS dan Hasan Al Banna, sebelum saya tidur.

Benar-benar hari yang padat. Setelah menghadiri aqiqah, membagi daging kurban sisa pemotongan sapi di kantor, dan menghadiri pertemuan di rumah bu Hera, saya baru bisa tidur pukul 00.20 WITA dan terbangun kesiangan karenanya. [wahidnugroho.com]


Kilongan, September 2015 

One Day One Post

Kalau ada gerakan One Day One Juz, maka saya mau memaksa diri untuk kembali menghidupkan kebiasaan lama yang sudah saya tinggalkan: One Day One Post. Artinya adalah saya harus menulis apapun minimal satu postingan satu hari. Dulu, ketika masih bujang, saya sempat punya kebiasaan ini. Berbekal laptop bekas yang sering eror pinjaman dari seseorang saya menulis apapun yang terjadi selama masa-masa awal di Luwuk.  Sayang, tulisan-tulisan itu tidak terselamatkan ketika laptop lawas itu rusak dan tak bisa nyala sampai detik ini.

Tapi sudahlah, nasi sudah menjadi bubur. Saya ingin membiasakan kembali menulis secara spartan, meski itu hanya soal remeh. Oleh karenanya, saya hendak memohon maaf kepada para pemirsa blog picisan ini, andai ada, apabila tulisan-tulisan yang menyesaki blog ini ke depannya akan semakin membosankan dan kebanyakan hanya diisi dengan hal-hal yang remeh lagi sepele. Saya memang ingin melatih kembali stamina menulis saya yang belakangan semakin melemah karena ketidakmampuan saya mengatur waktu (lagi-lagi alasan ini). Apalagi, saya punya semacam ambisi pribadi untuk menerbitkan sebuah buku yang draftnya sudah saya kerjakan dalam beberapa bulan belakangan, namun mandeg karena kesibukan.

So, gerakan ini akan saya mulai sejak diaplotnya tulisan ini. Semoga sampeyan semua bisa memakluminya. Tabik! [wahidnugroho.com]


Kilongan, September 2015 

Undangan Shalat Berjamaah di Masjid Komplek

Tempo hari saya membaca artikel tentang profil masjid Jogokariyan. Salah satu hal yang menarik perhatian saya adalah soal undangan shalat ke masjid yang dibuat secara bagus lalu diedarkan kepada warga sekitar. Saya jadi ingin mempraktekkan teknik itu kepada warga BTN Muspratama, komplek tempat saya tinggal saya ini.

Bukan kenapa. Jumlah jamaah shalat fardhu di masjid Ar Rahman sangat minim. Shalat maghrib kadang tidak sampai dua shaf. Shalat isya dan shubuh lebih sepi lagi. Memang, saya mafhum. Kebanyakan warga komplek adalah orang sibuk; ada pegawai negeri, tukang ojek, buruh, pegawai swasta, dan lain-lain. Ditambah jarak komplek dari kota Luwuk lumayan jauh. Sehingga kebanyakan warga yang baru pulang dari kantor akan langsung beristirahat meski suara speaker masjid merobek keheningan langit. Ditambah dengan lokasi masjid yang berada di bawah komplek yang konturnya menanjak, membuat suara speaker jadi tidak dapat menjangkau blok-blok yang letaknya ada di belakang.

Namun, ide membuat surat undangan ini boleh juga untuk dicoba. Selepas shalat Isya tadi saya sebenarnya berniat untuk mengutarakan ide ini kepada ketua takmir, tapi urung karena beliau tidak hadir di masjid. Mungkin setelah shalat Maghrib besok akan saya sampaikan kepada beliau. Konsepnya sederhana saja. Surat undangan berisi kata-kata singkat untuk mengajak warga shalat berjamaah dan memakmurkan masjid. Targetnya minimal memakmurkan waktu-waktu shalat jahr seperti Maghrib dan Isya, syukur-syukur bisa berlanjut ke shalat Subuh.

Uniknya, yang meramaikan masjid kebanyakan justru anak-anak muda, termasuk anak-anak remaja dan anak-anak berumur tanggung. Meski mereka harus selalu digesa, kehadiran mereka dalam jumlah yang cukup banyak perlu dikelola dengan baik agar kedatangan mereka ke masjid bisa berimbas pada kondusivitas komplek. Saya sebenarnya berniat mengadakan pengajian remaja, namun masih terkendala waktu. Alhasil, istri saya yang mengambil alih mengisi pengajian anak-anak meski baru bisa dilaksanakan satu jam saja setiap hari Senin sampai Kamis.

Pengajian bapak-bapak pun setali tiga uang. Acara yasinan yang sedianya dilaksanakan setiap pekan di hari Jumat belakangan ini mandeg seiring makin menyusutnya anggota yasinan. Semoga saja, dengan adanya terobosan membuat surat undangan ini bisa kembali memakmurkan masjid dan menghidupkan agenda-agenda silaturahim warga komplek agar kami bisa lebih saling mengenal.

Semoga saja niat ini bisa terlaksana. [wahidnugroho.com]

Kilongan, September 2015 

Jumat, 25 September 2015

Media Sosial dan Terciptanya Ruang Publik Baru

Oleh: Wahid Nugroho
Warga Biasa, PNS di Kemenkeu, dan Pengelola Rumah Baca Jendela Ilmu


Avant-propos

Pilkada serentak yang akan dihelat pada tanggal 9 Desember 2015 mendatang rasa-rasanya hanya tinggal menghitung hari. Hiruk-pikuk mengemuka di berbagai sudut kota. Baliho-baliho dipasang, posko pemenangan aneka rupa didirikan, para relawan direkrut, dan agenda-agenda konsolidasi dilakukan siang sampai malam, bahkan sampai bertemu dengan siang lagi. Tujuannya jelas: menjadi pemenang yang dapat merebut suara rakyat dan dipercaya sebagai bupati dan wakil bupati Banggai periode selanjutnya.

Di luar fenomena yang lazimnya terjadi dalam setiap perhelatan pemilihan kepala daerah, ada fenomena lain yang muncul dari sudut yang ada di sebelah sana: Media Sosial. Sebuah sudut yang tampak sunyi di permukaan namun hidup dan dinamis. Bahkan terkadang keras dan panas.

Media Sosial Pilar Kelima Demokrasi?

Leonard Kleinrock dan Vint Cerf barangkali bisa disebut sebagai Penemu Internet dan Bapak Internet Dunia. Namun, internet yang diibaratkan sebagai negara itu tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya warga yang menjadi penghuninya. Penghuni internet itulah yang disebut sebagai netizen. Dan bicara soal netizen, maka Michael Hauben adalah sosok yang paling tepat dijuluki sebagai Bapak Netizen Dunia. Wajar, karena istilah netizen itu sendiri ditemukan oleh dirinya.

Pada tahun 1992, Michael Hauben, akademisi Columbia University yang meninggal di usia muda karena kecelakaan, pernah membuat sebuah artikel yang menjadi cikal bakal lahirnya istilah netizen di dunia maya. Artikel itu berjudul The Net and Netizens: The Impact the Net Has on People's Lives, atau Internet dan Netizen: Dampak Internet Terhadap Kehidupan Manusia. Artikel itu kemudian menjadi cikal bakal buku yang berjudul Netizens dan diterbitkan oleh The Computer Society. Lahirnya internet dan semakin berdatangannya netizen dari seluruh penjuru dunia, membuat internet menjadi semacam ruang publik baru yang tidak memiliki sekat-sekat wilayah.

J├╝rgen Habermas menjelaskan konsep ‘ruang publik’ sebagai ruang yang mandiri dan terpisah dari negara (state) dan pasar (market). Ruang publik memastikan bahwa setiap warga negara memilik akses untuk menjadi pengusung opini publik. Opini publik ini berperan untuk memengaruhi, termasuk secara informal, perilaku-perilaku yang ada dalam ‘ruang’ negara dan pasar. Itulah sebabnya, filsuf legendaris asal Jerman itu sepertinya perlu mengekskalasi teorinya tersebut ke ranah dunia maya, dimana ruang publik baru yang lebih majemuk dan dinamis telah tercipta paska meledaknya fenomena media sosial sepuluh tahun terakhir, serta menganalisis pola interaksi yang terjadi di dalamnya. Ruang publik baru yang memungkinkan siapapun dan dengan latar belakang sosial apapun berbicara dan berpendapat selama ia terhubung dengan koneksi internet.

Dengan adanya ruang publik yang baru ini, sebuah teori yang berbunyi “Pers Sebagai Pilar Keempat Demokrasi” yang ditawarkan oleh Fred S. Siebert lebih dari lima puluh tahun yang lalu perlu dikaji ulang. Sebabnya adalah, dunia jurnalisme saat ini sudah berkembang terlalu pesat. Media sosial, dalam banyak kesempatan, bahkan telah menggantikan posisi media-media arus utama dalam hal kecepatan dan ketepatan penyampaian berita.

Berangkat dari penjelasan di atas, Hermawan Kertajaya pernah merilis sebuah survey yang diadakan oleh Mark Plus Insight bekerja sama dengan Komunitas Marketeers. Survey yang dilakukan berdasarkan analisis hasil riset sindikasi terhadap 1.500 responden di delapan kota besar Indonesia dengan rentang usia 15-64 tahun itu menghasilkan sebuah kesimpulan berjudul Media Sosial Sebagai Pilar Kelima Demokrasi dan dirilis oleh situs Kompas pada tahun 2010 silam.

Dalam tulisan tersebut, Hermawan mendedahkan dua sisi mata uang media sosial: baik dan buruk. Baik karena media sosial memungkinkan semua orang mengetahui apa yang sedang terjadi di sekitar mereka, termasuk memberikan opini dan sudut pandang lain sesuai dengan apa yang mereka tahu. Media sosial juga bisa berakibat buruk jika digunakan sebagai sarana meneror, memfitnah, melakukan black campaign, pembohongan publik, dan penipuan. Dengan demikian, kehadiran internet dan media sosial ternyata bisa semakin meningkatkan partisipasi masyarakat terkait dengan isu-isu publik. Kondisi ini menyebabkan peran media sebagai pilar ke empat demokrasi, bisa dibilang, semakin terancam.  Melalui  Facebook dan Twitter, masyarakat bisa menggalang kekuatan sendiri untuk menolak kebijakan pemerintah yang dirasakan bertentangan dengan hati nurani masyarakat.

Kita tentu masih ingat dengan peristiwa tsunami Aceh tahun 2004 dimana media arus utama, ketika itu Metro TV, menayangkan secara berulang-ulang video yang direkam oleh seorang warga Aceh yang menjadi korban tsunami. Kita juga ingat dengan peristiwa-peristiwa yang terjadi di dunia maya, dimana peristiwa itu turut mempengaruhi perspektif media arus utama, seperti kasus Prita vs OMNI, Cicak vs Buaya, fenomena Jasmev saat pilkada DKI Jakarta dan Pemilu 2014, dan sebagainya. Kita pun tentu masih ingat pula dengan hashtag bertajuk Mumbai Attack di Twitter beberapa tahun lalu ketika terjadi serangan teroris di Mumbai dan warga yang berada di dekat kejadian melaporkan detik demi detik peristiwa yang tidak tercover media arus utama melalui laman twitter dan facebook. Sebuah laporan tanpa henti dari para warga yang “memaksa” media-media arus utama untuk menayangkan hashtag realtime itu ke dalam ruang berita mereka. Belakangan, karena semakin massivenya media sosial dan jurnalisme warga (citizen reportage), Metro TV bahkan menyediakan acara khusus bertajuk Wide Shot. Acara itu dibuat untuk menampung berita-berita yang terlewat dari pandangan media arus utama. CNN bahkan telah melakukannya jauh lebih dulu dengan menyediakan program bernama i-Report, acara yang menayangkan video-video warga yang mengabarkan segala hal yang terjadi di sekitarnya.

Pilkada Banggai Memasuki Era Cyber

Sekarang waktunya merefleksikan kajian ini dalam skala lokal: Pilkada Banggai.

Ada perbedaan yang cukup mencolok dari pemilihan kepala daerah tahun ini jika dibandingkan dengan yang terjadi pada tahun 2011 silam. Ketika itu, media sosial belum terlalu booming di kabupaten Banggai. Penggunanya pun sebagian besar hanya anak-anak muda yang belum memiliki kedewasaan memadai di dunia maya. Postingan-postingan mereka pun hanya diisi dengan curhatan kosong, caci maki tanpa makna, dan tulisan-tulisan yang remeh-temeh. Sangat jauh dari hasil analisa Hermawan Kertajaya yang sudah kita sebutkan sebelumnya.

Namun sejak tahun 2014, ketika ledakan media sosial mencapai klimaksnya dalam percaturan dunia politik nasional, para pelaku media sosial di kabupaten Banggai pun ikut terkena pengaruh. Linimasa media sosial yang dulunya hanya diisi dengan keluh kesah dan curhatan personal, kini sudah mulai terisi dengan postingan-postingan yang lebih berbobot. Komunitas-komunitas bermunculan satu demi satu bak jamur di musim penghujan. Masing-masing mereka mengusung warna dan ciri komunitas masing-masing dan mempublikasikan hasil kegiatannya di media sosial seperti aksi bersih lingkungan ormas OI bersama TNI dan warga, gerakan selamatkan Teluk Lalong, gerakan cinta membaca, komunitas menulis, komunitas fotografi, komunitas pecinta alam, komunitas sepeda, komunitas motor, dan masih banyak lagi.

Ketika pemilihan kepala daerah semakin mendekat, perilaku para pelaku media sosial di kabupaten Banggai pun berangsur berubah. Postingan-postingan yang ada sudah mulai membahas perkembangan dunia politik, siapa mendukung siapa, siapa berpasangan dengan siapa, program-program kandidat, kegiatan-kegiatan kandidat, dan tidak ketinggalan: debat para pendukung yang tak jarang berujung pada konflik di dunia nyata. Penulis artikel ini bahkan menjadi salah satu pihak yang terkena “cipratannya” meski dalam level yang masih bisa dimaklumi

Karena media sosial kini memiliki posisi yang cukup penting dengan kecepatan dan kemudahannya, Komisi Pemilihan Umum sampai harus “repot-repot” menyusun rancangan peraturan yang mengatur tentang berkampanye melalui media sosial dalam regulasi tersendiri. Selain untuk mempermudah pengawasan, pembatasan, dan pendaftaran akun kampanye di media sosial juga diperlukan agar sosialisasi informasi kepada masyarakat dapat dilakukan dengan tepat oleh KPU dalam masa kampanye nantinya.

Penutup

Diskursus tentang pilkada di era media sosial ini sebenarnya bisa menjadi bahan kajian yang menarik bagi para pengamat politik, pengamat media, termasuk para pelaku media itu sendiri. Diskursus tersebut bisa dibilang tema yang baru dan perlu dianalisa secara lebih mendalam dalam skala kabupaten Banggai. Karena era cyber membuat segala hal yang ada menggelinding begitu cepat, seperti bola salju yang makin lama makin besar dan melahap semua yang ada di depannya.

Media massa arus utama pun kini memiliki tugas tambahan yang cukup berat untuk sama-sama mengawal apa yang disebut oleh jurnalis senior Kompas, Pepih Nugraha, sebagai Revolusi Sunyi ini agar tercipta kehidupan berbangsa dan bernegara yang sehat dan guyub, produktif dan kreatif, tanpa harus mematikan daya kritisnya terhadap apa saja yang terjadi di sekitarnya. Hati yang bersih, pikiran yang terbuka, dan itikad yang baik harus senantiasa dikedepankan untuk mendampingi tumbuh kembangnya fenomena baru yang menggembirakan di satu sisi, dan mengkhawatirkan di sisi yang lainnya ini.

Mari belajar bersama-sama.

Sabtu, 12 September 2015

Cerita Dari Balantak II


III

Rumah bapak Manto yang menjadi tempat persinggahan Andik tadi malam sudah tampak. Beberapa orang sedang duduk-duduk di pinggir jalan. Mobil-mobil pick up yang terisi pakaian jadi diparkir tak jauh dari tempat mereka duduk sambil berbincang dan mengepulkan asap rokok. Angin bertiup dari arah bukit yang mendongak di sebelah utara rumah. Lelaki itu lalu memutar mobilnya ke arah timur, Andik muncul dari balik pintu dan memanggil-manggil kepada Rahmat dan lelaki itu untuk segera mendekat kepadanya. Ada teh dan kue yang sudah disiapkan oleh tuan rumah untuknya dan Andik seolah meminta bantuan kepada Rahmat dan lelaki itu untuk ikut menghabiskannya.

Lelaki itu dan Rahmat turun dari mobil dan melangkah ke dalam rumah. Mesin mobil dibiarkan menyala. Terdengar suara musik dari dalam mobil. Rahmat menunggu di teras sementara lelaki itu masuk ke dalam rumah. Secangkir teh yang uap panasnya menari-nari di atas permukaannya yang berwarna cokelat tua terhidang di atas meja bersama kue dadar gulung isi kelapa. Setelah menyeruput satu dua tegukan, lelaki itu memberi kode kepada Andik untuk segera berangkat. Waktu sudah menunjukkan pukul setengah tujuh lewat dan pagi ini akan ada upacara bendera di sekolah. Setelah meminta diri kepada pak Manto selaku tuan rumah, mereka bertiga masuk ke dalam mobil yang langsung membelah jalanan dengan kecepatan perlahan.

Dalam perjalanannya menuju SD Muhammadiyah Balantak, lelaki itu terkenang dengan seorang guru yang pernah mengajar matematika ketika ia kelas 2 SMP belasan tahun yang lalu. Sebut saja nama guru itu ibu Rina. Ibu Rina biasa mengenakan blus yang senada dengan roknya ketika mengajar. Kadang berwarna pink, krem, atau abu-abu tua. Rambutnya mengembang dan mirip dengan potongan rambut Tina Turner di tahun 90an. Ibu Rina biasa mengendarai sepeda motor Honda C50 berwarna merah ke sekolah.

Lelaki itu biasa berpapasan dengan ibu Rina di jalan Kreo, di jalan Kejaksaan, jalan Muchtar Raya, atau di sepanjang jalan Cipadu Raya ketika ia bersepeda ke sekolah. Ibu Rina adalah guru yang tidak banyak bicara kecuali saat mengajar. Pembawaannya yang tenang dan pendiam kadang dimanfaatkan oleh para siswanya yang tidak pernah memerhatikan pelajaran yang dibawakannya. Pernah suatu hari ibu Rina marah kepada para siswanya yang tidak mau mendengarkan ia dan meninggalkan kelas begitu saja dengan wajah memerah sambil menahan tangis. Lelaki itu termasuk salah satu siswa yang merasa bersalah karenanya. Suatu ketika, lelaki itu pulang dari sekolah dengan menumpang angkot. Didapatinya ibu Rina sedang menuntun  sepeda motor antiknya yang mogok di sebuah jalanan yang sedikit menanjak. Dari dalam angkot yang semakin menjauhi sosok ibu Rina, lelaki itu memandangi peristiwa itu dengan pandangan penuh arti.

Barangkali, peristiwa itulah yang kemudian menjadi titik balik lelaki itu untuk bercita-cita menjadi seorang guru -- meski akhirnya cita-cita itu kandas karena masalah biaya. Sebuah cita-cita yang belum pernah terpikirkan oleh lelaki itu sebelumnya meski sepanjang hidupnya ia telah bertemu dengan banyak guru di sekolahnya. Ia teringat dengan guru kelasnya yang sabar ketika ia masih SD dulu, juga dengan wali kelasnya di SMP yang belum lama ini meninggal karena sakit. Ia teringat dengan mantan wali kelasnya yang lain ketika masih SMP yang pernah menampar wajahnya hanya karena masalah salah paham sepele. Tamparan yang masih menyisakan rasa sakit di dalam hatinya karena kedua orangtuanya, orangtua kandungnya sendiri, tak pernah menampar wajahnya. Meski demikian, lelaki itu tetap berbesar hati dan mengalah. Ia akhirnya mendatangi rumah sang wali kelas, meminta maaf – meski ia tidak pernah merasa bersalah – dan menutup hari itu dengan sebuah pelajaran hidup bagi dirinya yang masih belia: bahwa hidup terkadang memang tidak adil.

Balantak mulai menggeliat. Terpal-terpal aneka warna sudah mulai digelar di pinggir-pinggir jalan. Terpal itu akan dipakai sebagai tempat menjemur cengkeh. Aroma manis bercumbu dengan udara pagi yang masih segar. Mobil yang mereka tumpangi membelok ke rumah jabatan camat Balantak. Beberapa orang tampak sudah ada di pelatarannya. Setelah memarkir mobil dan menurunkan kedua penumpangnya, lelaki itu berdiam sejenak di dalam mobil. Rahmat sudah mengeluarkan kamera dan berjalan entah kemana untuk merekam suasana pagi yang indah ini. Lelaki itu keluar sebentar, menyapa beberapa orang yang sedang berdiri di dekat situ, dan kembali duduk di dalam mobilnya. Dikeluarkannya buku yang sejak sepekan terakhir ini selalu mengisi tas kecilnya dan ia mulai membaca.

Satu persatu mobil peserta Kelas Inspirasi sudah mulai berdatangan. Anak-anak berseragam sekolah mulai tampak satu demi satu. Ada yang berjalan kaki sendiri-sendiri, berjalan dalam rombongan kecil, diantar oleh orangtuanya, dan ada yang membawa kendaraan sendiri. Lelaki itu melongok ke bagian belakang mobilnya, mencari-cari  makanan ringan dan air mineral kemasan. Setelah yang dicarinya sudah didapat, lelaki itu kembali larut dalam bacaannya.

Beberapa menit kemudian, lelaki itu menyudahi bacaannya, menaruh pembatas di tempat bacaannya yang terakhir, dan keluar dari dalam mobil. Para peserta sudah banyak yang datang, lengkap dengan ‘seragam kebesaran’ mereka masing-masing. Setelah berbincang sejenak dengan beberapa inspirator dan panitia, menanyakan kondisi dan kesiapan mereka terhadap acara hari ini, dan melempar canda dengan satu dua orang, lelaki itu lalu memberikan isyarat kepada teman-temannya untuk masuk ke dalam mobil. Rahmat pergi entah kemana. Lelaki itu menggumam pelan dan menduga bahwa Rahmat sudah berjalan kaki lebih dulu ke sekolah yang jaraknya tidak seberapa itu. Lelaki itu berkata kepada ketiga orang temannya; Andik, Gian, dan Tuti, untuk segera masuk ke dalam mobil. Tuti meminta kepada lelaki itu untuk membuka bagasi belakang mobil. Ia ingin memeriksa beberapa barang bawaannya terlebih dahulu sebelum berangkat. Setelah memastikan barang-barang itu ada, pintu belakang lalu ditutup dan semua orang segera naik ke dalam mobil. Andik bertanya kemana Rahmat dan lelaki itu menjawab sekenanya, “Mungkin dia lagi merekam matahari terbit.”

Angin bertiup dari arah timur. Menerbangkan debu-debu di jalanan. Menggoyangkan batang-batang pohon kelapa yang menjulur bak penari yang sedang melenggak-lenggokkan tubuhnya. Angin, pohon kelapa, penari. Mendapati pemandangan tersebut, lelaki itu langsung teringat dengan buku Bekisar Merah yang ditulis oleh Ahmad Tohari. Sebuah buku yang getir dan penuh kegamangan.

Matahari makin meninggi. Lelaki itu melirik jam di ponselnya, memperbaiki posisi duduknya, dan kembali menyetel musik. Mobil kembali bertolak ke arah barat. Jalanan Balantak sudah disesaki dengan manusia aneka rupa. Mobil-mobil berplat kuning beberapa kali melewati mereka. Anak-anak kecil berseragam sekolah berjalan perlahan di sisi jalan. Orang-orang berseragam linmas hilir mudik kesana kemari. Seorang bapak paruh baya berjalan sambil membawa bungkusan terpal berisi cengkeh. Atap SD Muhammadiyah yang berwarna biru sudah tampak dari kejauhan. Mobil berbelok ke sebuah lorong yang disesaki hamparan terpal tempat menjemur cengkeh di kiri dan kanan jalan. Seorang lelaki bertopi, berkaus putih, dan bercelana pendek tampak sedang meratakan cengkeh-cengkeh yang masih berwarna hijau. Gugup yang menguasai lelaki itu masih belum jua pergi.

bersambung… [wahidnugroho.com]



Tanjung, September 2015 

Kamis, 10 September 2015

Cerita Dari Balantak I


I

Balantak. Pagi hari. Langit masih gelap. Hitam. Suara adzan subuh melayang-layang di udara. Merobek keheningan, membangunkan nyawa-nyawa yang masih tertidur untuk bangkit menata jiwa dan hatinya.

Angin dingin menyusup sampai ke sela-sela kaki. Tubuh yang lelah setelah berkendara sekitar kurang lebih lima jam dari Luwuk itu harus ditambah dengan pencernaan yang sedikit bermasalah. Tempat baru memang selalu mengundang perkara yang satu ini karena tubuh masih mencari frekuensi yang tepat demi menyesuaikan diri dengan sangkan paran barunya.

Lelaki itu sudah terjaga sejak pukul empat meski ia sebenarnya baru saja tidur pukul dua belas lewat. Belum genap empat jam yang lalu. Matanya pun mulai beradaptasi dengan keremangan ruang tengah yang dimasuki sinar lampu dari teras depan. Udara yang dingin membuat punggung lelaki itu sedikit menggigil.

Tangan kanannya lalu meraih telepon genggam yang tertanam di ujung bantal yang empuk dan jemarinya mulai memenceti tombol yang ada di bagian sampingnya. Seberkas sinar pucat menyapu wajahnya yang, sudah pasti, masih kusut.

Masih tidak ada sinyal. Lelaki itu bergumam pelan.

Ia lalu membaca beberapa pesan yang sempat masuk sejak semalam dan belum bisa dibalasnya sampai pagi ini. Ada beberapa pesan dari istrinya. Kebanyakan adalah pesan yang menanyakan apakah lelaki itu sudah sampai di Balantak dan pesan-pesan lain bernada kekhawatiran karena ia tak kunjung membalas pesan-pesannya yang menumpuk. Ada pula pesan dari supervisornya, teman, dan beberapa orang yang berkepentingan dengannya hanya teronggok pasrah tanpa bisa dibalasnya.

“Mungkin towernya sedang bermasalah,” batin lelaki itu dengan wajah yang masih mengantuk.

Rumah ini masih terlelap, termasuk kedua penghuninya dan seorang teman lelaki itu yang tidur di kamar depan, Rahmat. Mungkin ia tidur lebih larut dari dirinya. Karena selepas obrolan mereka berdua yang berlangsung lebih dari dua jam dan berakhir jam dua belas lewat, teman lelaki itu masih harus menyetrika bajunya ketika ia sudah nyaris terlelap. Suara meja setrika yang terjatuh menjadi satu-satunya suara yang didengarnya tadi malam sebelum akhirnya lelaki itu terbuai ke alam mimpi.

Balantak pagi hari. Hening.

Lelaki itu lalu bangkit dari kasur. Usai melepaskan sarung yang meliliti pinggangnya, matanya yang sudah terbiasa dengan cahaya remang-remang itu menuju kepada sebuah tas ransel berukuran sedang yang tergeletak di sofa. la mengambilnya dan meletakkan tas berwarna jingga itu di atas kasur, membuka beberapa kompartemennya dan mengeluarkan handuk kecil, kemeja batik, celana panjang, dan perlengkapan kamar mandi yang sudah disiapkan oleh istrinya beberapa jam sebelum berangkat. Ada seulas senyum yang terbit di wajahnya ketika memandangi barang-barang yang ada di dalam tas itu. Selain barang-barang yang dikeluarkannya tadi, ada dua kaus, satu celana pendek, satu celana panjang, minyak wangi, deodoran, lotion anti nyamuk, dan sepasang kaus kaki baru. Istrinya menyiapkan barang-barang seolah ia akan pergi tiga hari.

Ia lalu bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah dapur dengan langkah berjingkat-jingkat. Berjalan tanpa suara ke arah kamar mandi dan melakukan ritual paginya. Sekitar sepuluh menit kemudian, lelaki itu keluar dari kamar mandi. Suasana di dalam rumah berangsur hidup. Lampu-lampu dinyalakan dan terdengar suara dari arah dapur. Keluar dari kamar mandi, lelaki itu bersirobok dengan seorang perempuan paruh baya yang menyapa lelaki itu dengan senyum cerahnya.

“Sudah mandi?” tanya perempuan itu kepadanya.

“Sudah, bu,” jawab lelaki itu sambil tersenyum.

“Saya bisa pinjam sajadah, bu?” lelaki itu bertanya sambil mengusap-usap kepalanya dengan handuk di tangan kanannya sementara tangan yang satunya lagi menenteng pakaian kotor dan sebuah plastik berisi perlengkapan mandi.

Masdia Lamodjong, atau ibu Masdia, nama perempuan paruh baya itu, yang baru saja hendak ke dapur menghentikan langkahnya dan berjalan ke arah depan.

“Masih pagi,” katanya sambil melirik ke arah jam dinding. Jam empat lewat lima puluh menit.

Sudah agak kesiangan, bu. Batin lelaki itu sambil tersenyum tipis. 

“Sudah masuk waktu subuh, bu,” jawabnya sambil menata barang-barang bawaannya dari kamar mandi itu di atas meja yang ada di ruang tengah.

Ibu Masdia keluar dari kamar dan mengangsurkan sebuah sajadah berwarna merah kepada lelaki itu yang langsung mengucapkan terima kasih kepadanya.

“Saya mau shalat subuh dulu, ya, bu,” ujarnya sambil menggelar sajadah di ruang tengah. Ibu Masdia menyilakannya dan kembali ke dapur.

Lelaki itu lalu shalat.

Selesai shalat, ia berjalan ke kamar depan, membangunkan temannya, Rahmat, yang masih tidur, dan duduk di teras sambil bersandar pada sofa. Ia menghirup udara dalam-dalam. Rongga paru-parunya terisi udara bersih yang beraroma cengkeh dan embun pagi. Langit beranjak terang. Cahaya bintang-bintang berangsur memudar. Hari yang muda mulai menggeliat di rumah ibu Masdia. Oh iya, ibu Masdia adalah kepala sekolah SD Muhammadiyah Balantak.


II


Maka jadilah pagi ini lelaki itu berada di Balantak. Sebuah kecamatan yang terletak di wilayah kepala burung provinsi Sulawesi Tengah bagian timur. Jaraknya sekira 130 kilometer dari Luwuk mungkin lebih, mungkin kurang – setelah mengukur jalanan yang berliku lagi disesaki debu. Memanjati bukit, merayapi jalur-jalur sempit. Mencumbui gravel rusak nan berlubang yang silih berganti dengan aspal mulus bak kulit mangga madu selama kurang lebih empat setengah atau lima jam lamanya. Meski perjalanan itu harus dibumbui dengan beberapa, sebut saja, tragedi; menanti datangnya mobil terakhir yang diduga tersesat di desa Labotan, melacak salah satu mobil lainnya yang mogok lalu meninggalkannya di desa Boloak, termasuk kisah misteri yang tak terduga memperkaya cerita dari perjalanan itu.

Di Balantak, lelaki itu tidak sendiri. Bersamanya dan Rahmat, sekitar tiga puluhan lebih orang tersebar di rumah-rumah yang mengurapi beberapa desa di kecamatan yang indah ini setelah berkumpul sebentar di rumah camat Balantak. Mereka, ketiga puluh orang itu, berasal dari latar belakang dan daerah yang berbeda. Meski demikian, niat dan tekad orang-orang itu beresonansi: menginspirasi anak-anak Balantak untuk memiliki cita-cita setinggi mungkin, memotivasi mereka bahwa masa depan yang gemilang adalah hak bagi siapapun anak bangsa yang ada di kolong langit ini, tak peduli siapa mereka dan darimana mereka berasal. Mereka menyebut acara itu sebagai Kelas Inspirasi. Lelaki itu, bersama Rahmat dan dua orang lainnya yang berprofesi sebagai dosen dan nutrisionis, mendapat jatah berbagi inspirasi di SD Muhammadiyah.

Lelaki itu dan Rahmat kini sedang duduk saling berhadap-hadapan. Di depan mereka ada sebuah meja yang dihuni piring, sendok, mangkok kaca berisi air untuk cuci tangan, sayur tumis, ikan goreng, dan dabu-dabu iris. Aroma gurih dan lezat mewarnai udara pagi yang segar. Ia mengamati Rahmat, lelaki berambut kriwil, yang sedang makan di hadapannya. Semalam, selama kurang lebih dua jam, ia berbincang dengan lelaki yang saat ini bekerja sebagai media relation di perusahaan pertambangan itu. Ditingkahi suara angin yang menabuhi daun kelapa dan pohon cokelat, kedua lelaki itu mengobrol hingga larut. Mereka mengobrol tentang banyak hal: buku, sepakbola, masa kecil, musik, cita-cita, dan sejarah sepele di atas tanah yang indah ini. Mata yang berair dan mulut yang kerap menguap jadi spasi yang menjeda obrolan yang padat itu.

Pagi ini, keduanya kembali bertemu di atas meja makan, menikmati sarapan yang telah disiapkan ibu Masdia. Ia ingin bertanya lebih banyak kepada Rahmat tentang acara Kelas Inspirasi hari ini. Ada rona keraguan di mata lelaki itu yang perlu dikuatkan dengan kata-kata penyemangat dari teman barunya itu. Lelaki itu, meski telah disemangati, masih belum merasa tenang. Ia merasa seperdelapan dirinya sedang tegang, sepertujuhnya panik, sepersembilannya gugup, dan seperlimanya kebingungan. Ia bukan orang yang suka berbicara di depan anak-anak. Masa mudanya lebih sering dihabiskan untuk berkumpul dengan orang-orang yang sebaya, atau bahkan lebih tua darinya. Bicara di depan anak-anak, terlebih anak kecil, adalah hal baru baginya.

Sebenarnya, masih ada rasa ragu yang berdesakan di dalam dadanya yang pagi itu berdetak tak seperti biasanya. Lelaki itu lalu mengambil buku yang ada di dalam tas kecilnya, membacanya sebentar, sekitar dua atau tiga menit, memasukkannya kembali ke dalam tas kecilnya setelah menaruh pembatas, dan menebarkan pandangannya ke arah dinding yang dipasangi banyak foto keluarga yang telah dibingkai. Ia jadi teringat dengan anak-anaknya di rumah. Pagi ini seharusnya mereka sudah bangun, sudah mandi, dan mungkin sedang makan pisang goreng buatan mbahnya. Istrinya mungkin sedang menyiapkan bekal untuk anak-anaknya, memastikan seragam mereka yang wangi itu sudah tersetrika licin, dan sedang bersiap mengantarkan mereka ke sekolah.

Ia mengambil ponselnya yang baterainya sudah terisi penuh. Tiba-tiba saja ia ingin mendengarkan suara mereka semua, istri dan anak-anaknya. Ketika ponsel berkelir putih itu sudah dikeluarkannya dari dalam tas, cahaya di wajahnya yang sempat terbit kembali meredup. Masih belum ada sinyal. Ia mengurungkan niatnya menelepon anak-anak dan istrinya dan berjalan ke teras. Ia duduk di sofa dan mulai memakai sepatu. Rahmat menyusulnya beberapa detik kemudian. Setelah memastikan semuanya sudah siap, kedua lelaki itu berpamitan dengan ibu Masdia untuk berangkat duluan. Ibu Masdia yang ramah itu mengingatkan keduanya untuk makan siang di rumahnya selepas acara nanti. Rahmat, yang berjalan di belakang lelaki itu, menyanggupinya.

“Kita jemput Andik dulu?” tanyanya sambil menyalakan mobil dan menghidupkan musik.

Rahmat mengiyakan.

Lelaki itu memutar mobilnya ke arah barat. Gemuruh di dalam dadanya masih belum jua mereda. Ia merapalkan sebait dua bait doa yang dihafalkannya. Mengharap ketenangan dariNya menyusup ke dalam kalbunya dan menghalau kegelisahannya. Wajah ketiga putrinya kembali membayang di pelupuk matanya.

Mobil berkelir hitam yang diselimuti debu itu kemudian membelah jalanan desa dan bergerak menjauhi matahari yang baru terbit. 


bersambung.. [wahidnugroho.com]



Kilongan, September 2015