Minggu, 27 September 2015

Kumpul-Kumpul di Rumah Ibu Herawati

Sabtu (26/9) kemarin, saya berkunjung ke rumah bu Herawati. Beliau adalah mantan dekan FKM Untika yang sedang mengambil studi doktoral di Unhas. Suaminya, pak Isnanto Bidja atau biasa kami panggil pak Nanto, adalah dekan Fakultas Hukum Untika. Di rumahnya yang tinggi menjulang di komplek BTN Nusagriya, saya datang sekitar pukul 16.40an. Sangat terlambat dari janji awal pukul 16.00. Sebabnya adalah karena saya harus menunggu putri bungsu saya, Gendis, bangun tidur terlebih dahulu. Berhubung dia tidur siang sudah menjelang sore, bangunnya pun jadi terlambat.

Acara kumpul-kumpul ini sebenarnya sudah direncanakan sejak jauh-jauh hari antara kami para alumni Kelas Inspirasi Banggai #2 dan beberapa teman dari komunitas Penyala Banggai yang akan mengadakan hajatan besar bernama RuBI, atau Ruang Berbagi Inspirasi pada bulan Oktober nanti. Saya sendiri, konon, masuk sebagai panitia di bidang acara, meski saya, jujur saja, belum melihat TOR yang telah direvisi oleh teman-teman panitia yang lain karena memang belum sempat mengunduhnya. Selain rapat tentang persiapan RuBI, acara sore itu sekaligus membahas persiapan acara Perpus On The Road yang embrionya sudah sempat dibicarakan pekan lalu di Hotel Gemilang di komplek Rajawali bersama orang-orang yang sama pula.

Meski sempat salah masuk rumah orang, akhirnya sampai juga saya di rumah bu Hera. Di sana sudah berkumpul banyak orang. Setelah menyerahkan asinan Betawi, sebagaimana janji saya di grup, saya lalu meminta diri sebentar untuk mengantarkan istri mengikuti pengajian di Kampung Baru. Selesai mengantar istri, saya kembali bergabung bersama teman-teman di rumah bu Hera. Dalam pertemuan itu, saya lebih banyak mengambil posisi sebagai pendengar, meski sesekali ikutan nyeletuk juga. Saya ingin mempelajari bagaimana caranya anak-anak muda ini – termasuk saya juga, hehe – mendiskusikan sebuah hajatan yang cukup besar di tengah himpitan masalah, utamanya soal dana. Sebuah masalah yang klise sebenarnya. Akan tetapi, saya mendapati wajah-wajah yang penuh semangat. Wajah-wajah yang menghabiskan masa mudanya memikirkan solusi dari segala problematika bangsa yang begitu menumpuk-numpuk. Saya belajar banyak dari mereka.

Setelah mukaddimah tentang persiapan RuBI sudah digelontorkan, tiba waktunya makan-makan. Hidangan yang disediakan oleh tuan rumah sangat menggugah selera meski menunya cukup sederhana. Saya mengambil makanan bernama Putu Palu. Semacam olahan ketan yang dibaluri parutan kelapa – sama kayak lupis – tapi dimakan bareng balado ikan Nikei. Ikan Nikei adalah semacam ikan teri yang hidup di muara sungai yang berbatasan dengan laut. Rasanya asin gurih. Mirip dengan ikan teri nasi atau teri Medan. Rasa-rasanya, sudah lama sekali saya tidak makan putu Palu. Kali terakhir mungkin sekitar delapan atau sembilan bulan yang lalu ketika saya dan istri masih berjualan bubur di depan SD Pembina. Kebetulan pemilik kios yang juga membuka toko kelontong di depan rumahnya menjual putu Palu.

Setelah makan dan salat Maghrib, pembicaraan dilanjutkan. Kali ini rapat dibagi per bidang. Saya di bidang acara bersama Dhian dan Tuti. Didampingi dengan Steva dan Rama. Sayang, kebersamaan saya dengan mereka tertunda sejenak. Istri saya minta dijemput karena acaranya sudah selesai. Setelah meminta diri kepada Dhian cs dan tuan rumah, saya bertolak ke Kampung Baru untuk menjemput istri dan anak-anak saya di sana. Setelah mengantarkan mereka pulang ke rumah, saya shalat Isya sebentar di masjid komplek dan langsung turun ke Nusagriya setelah selesai.

Ketika pembicaraan tentang RuBI sudah selesai, tiba giliran pembahasan tentang acara Perpus On The Road. Tempat sudah ditentukan, tanggal pun sudah, tinggal formatnya seperti apa. Saya menjelaskan dengan ringkas dan meminta kepada teman-teman agar masing-masing komunitas membawa benderanya sendiri saat acara itu dihelat. Saya dengan Rumah Baca Jendela Ilmu dan teman-teman Penyala Banggai dengan benderanya. Menurut saya, semakin banyak bendera semakin bagus karena menunjukkan bahwa Luwuk punya banyak komunitas yang concern ke bidang literasi. Adapun acaranya itu sendiri akan berada di bawah nama Komunitas Literasi Luwuk. Well, setidaknya itu ide saya pribadi yang kemarin terlupa untuk disampaikan kepada teman-teman hehe.

Bu Hera berharap agar acara tersebut melibatkan unsur pemerintah, dalam hal ini Perpusda. Saya sendiri menyambut baik usulan itu dan teman-teman yang lain pun demikian. Hanya saja, kami masih belum menemukan waktu yang tepat untuk mengadakan pertemuan dengan pak Wiwit (Suwitno Abusama) yang merupakan Kepala Badan Perpustakaan dan Arsip Daerah Kabupaten Banggai, meski rumahnya hanya berjarak selemparan batu dengan rumah bu Hera. Semoga pekan depan agenda pertemuan itu bisa terlaksana.

Acara kumpul-kumpul malam itu juga sedikit membahas tentang agenda peresmian rumah baca di Moilong yang digagas oleh mas Hanif, Pengajar Muda Indonesia yang ditugaskan di sana. Saya, dengan sangat berat hati, tidak bisa menghadiri acara yang menarik itu. Namun saya menawarkan mobil saya agar bisa dipakai teman-teman yang mau berangkat ke sana. Teman-teman setuju. Rencananya besok mereka akan berangkat pukul 1 siang dan berkumpul di rumah Tuti. Saya sepakat untuk mengantarkan mobil itu ke kantor dan bertemu dengan Anggi yang sedianya akan bertindak sebagai supir ke Moilong.

Selesai acara, saya sempat berbicara dengan bu Hera mengenai beberapa buku yang menarik perhatian saya di rak bukunya. Saya lalu berbincang sebentar mengenai buku-buku itu dan meminta kepada bu Hera agar saya bisa mengasuh buku-buku tersebut. Saya merasa sayang bahwa buku sebagus itu tidak dimanfaatkan dan hanya diselimuti debu. Bu Hera memenuhi keinginan saya dan saya sangat berterima kasih kepada beliau. Ketika kami semua berpisah dan pulang ke rumah masing-masing, saya menyempatkan diri membaca dua bagian dari dua buku itu yang sejak kali pertama saya baca sudah menarik perhatian saya: tentang PKS dan Hasan Al Banna, sebelum saya tidur.

Benar-benar hari yang padat. Setelah menghadiri aqiqah, membagi daging kurban sisa pemotongan sapi di kantor, dan menghadiri pertemuan di rumah bu Hera, saya baru bisa tidur pukul 00.20 WITA dan terbangun kesiangan karenanya. [wahidnugroho.com]


Kilongan, September 2015 
Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar