Belajar Dari Saitama

15.11.00 0
Setelah lama nggak move on dari anime Dragon Ball yang jadi tontonan favorit saya sejak kecil, di samping Doraemon, dan sembilan tahun setelah saya menamatkan nonton serial anime Death Note, saya akhirnya kembali menonton serial anime mulai dari episud 1 sampai tamat di season perdananya. Anime yang saya maksud adalah One Punch Man.

One Punch Man adalah kisah tentang Saitama; seorang lelaki kebanyakan berkepala plontos dan berbodi cungkring (kecuali kalau doi lagi fight-mode) yang bekerja sebagai pahlawan paruhwaktu di kota Z dengan mengenakan kostum culun berwarna kuning cerah dan sayap yang fungsinya masih misterius sampai detik ini. Kekuatan Saitama terletak pada pukulannya yang super-duper-ekstra-kuat. Yang kekuatannya bahkan sampai dibanding-bandingkan dengan Son Goku dan Superman oleh para jihadisnya masing-masing. Meski saya percaya Saitama mungkin selevel dengan Son Goku pada Kaioo Shin 2 atau 3 (bagian ini bisa diabaikan).

Pada episud ke 3, Saitama dan murid-tak-dianggap-nya, Genos, melabrak ke laboratorium milik Doktor Genus. Di tempat itu, Saitama bertemu (maksudnya berhadapan) dengan Asura Rhino. Semacam mutan berbentuk kumbang yang warnanya mirip Manusia Vaksin di episud perdana, yang dianggap sebagai ciptaan terkuat dan terkejam oleh Doktor Genus. Tolong jangan bingung dengan nama Genos dan Doktor Genus, apalagi Doktor Gero, karena ketiganya sama sekali berbeda satu sama lain. Bagian ini anggap aja sebagai selingan.

Lanjut ke Doktor Genus, eh, Saitama.

Kagum (mungkin juga bercampur dengan secuil heran dan sepercik takut – halah) dengan kekuatan yang dimiliki oleh Saitama, Asura kemudian bertanya apa yang ia (maksudnya Saitama) lakukan sampai kekuatannya bisa sehebat itu. Sebuah pertanyaan yang juga mengagetkan Genos (sekali lagi, mohon jangan confused sama nama ini) karena meski heran dengan kekuatan sang guru namun ia (maksudnya Genos) tak pernah menanyakannya. Saitama lalu menjawab dengan mantap bahwa kekuatannya itu berasal dari latihan push up, sit up, dan squat sebanyak masing-masing seratus kali sehari ditambah lari 10 km secara simultan. Ia (maksudnya Saitama) berkata bahwa latihan yang berat itu dilakukannya terus-menerus, bahkan sampai kepalanya botak karena saking melelahkannya.

Jawaban itu tentu saja disambut dengan ekspresi kaget baik oleh Asura, Genos, maupun Doktor Genus (sekali lagi jangan kebolak-balik!). Bagaimana mungkin latihan fisik yang semanusiawi dan sesepele itu bisa melahirkan kekuatan yang mampu menghancurkan gunung dan membunuh monster dalam satu kali pukulan santai (bahasanya Saitama adalah normal punch)? Saya sempet ngerasa ‘gubrak’ sedikit waktu dialog itu nongol. Hla kok latihannya nggak seekstrim Son Goku yang sampe harus masuk ruangan bergravitasi tinggi sebelum berangkat ke Namec buat ngelawan Freeza, atau kayak Son Gohan yang harus masuk ruangan tanpa dimensinya Mister Popo sebelum ikut Tenkaichi Budokai-nya si Cell? Tapi akhirnya saya mafhum, bahwa dalam dunia komik apapun bisa terjadi. Termasuk teori 100 push-up, situp, dan squat, dan 10 km lari bisa menghasilkan manusia sehebat Saitama. Lagian mau diprotes kayak apa juga gak bakal ngaruh, jadinya saya ngikut alur logikanya sensei Yusuka Murata sebagai kreator si Saitama ajah dah.

Jadi sebenernya tulisan ini tentang apa sih? Kok dari tadi mbahas Saitama dan nyerempet ke Dragon Ball terus?

Jadi begini.

Suatu hari, saya membaca buku yang berjudul Prophetic Parenting. Buku itu ditulis oleh Syaikh Dr. Muhammad Nur Abdul Hafizh Suwaid dan diterbitkan oleh Pro-U Media. Buku berkelir toska itu sangat bagus dan perlu dibaca baik oleh para orangtua muda, orangtua yang sudah tidak muda, maupun oleh para calon orangtua dalam mengopeni dan menyerateni (ini bahasa Indonesianya apa ya) anak-anaknya menjadi generasi penerus umat yang gilang-gemilang.

Ada bagian menarik dalam buku itu yang pingin saya kutip dalam tulisan ini. Isinya demikian:

“Perlu ada usaha dan kerja keras secara terus-menerus dalam mendidik anak, memperbaiki kesalahan mereka, dan membiasakan mereka mengerjakan kebaikan.”

Bagian di atas merupakan respon Dr. Suwaid kepada surat Tahrim ayat 6 yang berbunyi tentang “Peliharalah diri dan keluargamu dari api neraka”.

Sebelumnya, Dr. Suwaid mengutip kata-kata para sahabat, tabiín, dan ulama terhadap ayat tersebut yang di antaranya adalah demikian.

Ali ibn Abi Thalib r.a. berkata, “Ajarilah diri kalian dan keluarga dalam kebaikan.”

Al Hakim dalam Mustadraknya berkata, “Hendaknya seorang muslim memerintahkan dirinya dan keluarganya untuk mengerjakan kebaikan dan melarang mereka melakukan kemaksiatan.”

Muqatil dalam Al Kasysyaf berkata, “Peliharalah dirimu dengan meninggalkan kemaksiatan dan mengerjakan ketaatan.”

Demikianlah, mendidik anak dan keluarga harus dilakukan secara simultan. Yakni dengan mengajari, mendidik, mengingatkan, menjaga, meluruskan kesalahan, dan memerhatikan kembang-tumbuh mereka secara terus-menerus, tak mudah putus-asa, dan tak kenal lelah. Memang ini akan sangat merepotkan, apalagi kita pun juga punya kebutuhan yang harus dipenuhi untuk diri kita sendiri. Namun di dunia yang makin tak ramah ini, terus-menerus bersaing dengan para penjaja kebatilan dan kemaksiatan yang mencekoki para generasi penerus dengan hal-hal yang negatif dan merusak, adalah upaya mutlak yang wajib dilakukan.

Suatu hari, saya mendapati ada beberapa butir nasi di dasar bak di kamar mandi. Permukaan air di bak itu tampak berminyak. Dalam pikiran saya, pelakunya sudah jelas: si sulung, karena kedua adiknya kalau cuci tangan pasti di tempat cuci piring. Dan benar saja, ketika saya menanyakan kepada si sulung tadi cuci tangan setelah makannya bagaimana, ia pun mengaku bahwa ia tadi mengobok bak mandi itu dengan tangannya yang masih berminyak dan ditempeli nasi sekaligus mengakui kesalahannya.

Kejadian itu memang sepele tapi cukup saya sesali. Karena saya sudah berulangkali mengingatkan si sulung tentang tatacara mencuci tangan yang baik tapi ia kerap mengulangi kebiasaan buruknya itu. Jika dalam perkara remehtemeh saja ia tidak bisa disiplin dan menjaga komitmennya, bagaimana jika ia harus menjaga komitmen yang lebih besar lagi? Sebut saja dalam perkara menutup aurat, menjaga akhlak, dan memelihara semangat beribadah. Atau komitmen-komitmen lain yang mungkin akan melibatkan peranserta masyarakat dimana ia akan tumbuh dan berkembang kelak.

“Barangsiapa  yang dengan sengaja,” tutur Ibnul Qayyim Al Jauziyah, “tidak mengajarkan apa yang bermanfaat bagi anaknya dan meninggalkannya begitu saja, berarti dia telah melakukan suatu kejahatan yang besar.”

Na’udzubillah, tsumma na’udzubillahi min dzaalik.

Moga kita dijauhkan dari sifat-sifat demikian dan Allah anugerahi kita dengan keistiqomahan untuk terus setia mendidik dan membentuk anak-anak kita sesuai dengan kehendakNya. [wahidnugroho.com]


Jurangmangu, Mei 2016
Foto Sang Raja

Foto Sang Raja

07.59.00 0
Hubungan Ikhwanul Muslimin dan Raja Farouq, bisa dibilang, tidak pernah harmonis. Ketika terjadi perang di Palestina pada tahun 1948 dan Ikhwan turun andil membantu pejuang Palestina di sana, bahkan konon hingga membuat Israel nyaris kalah karenanya, Raja Farouqlah orang yang memerintahkan milisi Ikhwan untuk dipulangkan dan akhirnya menangkapi mereka sesampainya di Mesir.

            Dalam sebuah riwayat, dikisahkan bahwa Hasan Hudaibi, Mursyid Aam ke-dua Ikhwan, mendapatkan sebuah hadiah dari seorang pejabat kerajaan berupa gambar Raja Faqouq dengan pigura yang sangat indah dan mewah. Bahkan supaya tampak lebih eksklusif, foto itu juga dibubuhi tandatangan Sang Raja. Harapan sang pejabat, Hudaibi akan memasang pigura itu di ruang depan kantor Ikhwan sebagai bentuk dukungan kepada pemerintah.

            Hudaibi kemudian menerima pigura itu dengan senang hati seraya berjanji akan memasangnya di tempat terbaik. Mengetahui bahwa Hudaibi bersedia memasang pigura itu, sang pejabat kemudian pamit untuk pulang.

            Hari berlalu namun pigura itu tak jua dipasang di kantor Ikhwan. Seseorang kemudian bertanya kepada Hudaibi, dimana gerangan pigura itu ditempatkan.

            “Aku memasangnya di rumah,” jawab Hudaibi kalem.

            Sebagian anggota Ikhwan kemudian berkunjung ke rumah sang Mursyid Aam demi melihat dimana beliau memasang pigura tersebut. Namun ketika mereka datang, pigura itu masih tidak tampak. Akhirnya terjadi bisik-bisik di kalangan Ikhwan mengenai dimana beliau memasang pigura itu.

            Ketika itu, salah satu anggota Ikhwan meminta izin untuk ke kamar mandi.  Namun alangkah kagetnya ia ketika melihat foto itu tergeletak begitu saja di lantai kamar mandi. Ia pun lalu menanyakan hal itu kepada Mursyid yang menjawabnya dengan tenang, “Inilah tempat yang tepat baginya.”

            Demikianlah Hasan Hudaibi yang terkenal dengan sikap tanpa komprominya.

            Pada tahun 1952, Raja Farouq digulingkan dari kekuasaannya melalui sebuah kudeta militer yang digawangi oleh Gamal Abdun Naser. Setelahnya, corak monarki dihapuskan dan Mesir menganut sistem pemerintahan republik sementara Raja Farouq diasingkan ke Monako sampai akhir hayatnya.

            Ketika revolusi terjadi, banyak media massa yang awalnya memuja-muji Raja Farouq berbalik menjadi pihak yang kerap mencaci-maki dirinya di lembar-lembar koran dan di halaman-halaman berita mereka. Padahal di masa Raja Farouq berada pada puncak kekuasaannya, media-media itulah yang selalu menjadi corong pemerintah dan selalu memuji-muji kebijakan raja.

            Ketika itu, seseorang menemui Hasan Hudaibi dan bertanya kenapa ia tidak ikut seperti media-media oportunis yang mencaci-maki Raja itu. Padahal di masa kekuasaannya, Raja Farouq telah banyak melukai dan memenjarakan kader-kader Ikhwan. Namun dengan kebesaran hatinya, Hudaibi melarang kader-kader Ikhwan untuk menghina dan merendahkan martabat raja yang telah jatuh itu.

            Beliau berkata, “Itu (menghina orang yang sudah terpuruk) bukan sifat seorang ksatria dan bukan ajaran Nabi saw. Ikhwan tidak akan turut dalam makar jahat dan memperparah kondisi orang yang sedang terluka.”

            Semoga ada pelajaran yang bisa kita ambil dari kisah di atas.[wahidnugroho.com]


Saaba, Juli 2016
Kalau Sudah Cinta Jangan Manja

Kalau Sudah Cinta Jangan Manja

11.32.00 0

Sudah sering saya berkata terusterang kepadanya bahwa produk-produk kecantikan itu tidak berguna banyak, jika tidak bisa dikatakan tidak ada sama sekali, baginya. Meski ia kerap berdalih dan beralasan bahwa itu adalah bagian dari ikhtiarnya merawat wajahnya yang sudah kelewat terawat itu, saya tetap tidak mengacuhkannya dan bergeming dengan keyakinan awal: bahwa produk kosmetik itu hanya akan merusak wajahnya.
            Istri yang kelewat pesolek itu, bagi saya, adalah istri yang terlalu meragukan kesejatian cinta suaminya. Sebegitunya? Karena mereka beranggapan bahwa cinta suaminya kepadanya hanya bersifat fisikal semata. Kasat mata dan tergantung pada warna yang teraba. Maka jadilah bibir digincu sedemikian tebal, rambut yang sudah lurus halus ditata sedemikian ikal, pipi yang mulus dipupur sedemikian kimpal dengan dalih agar suaminya betah memandanginya dan tidak berpaling ke perempuan lain yang jauh lebih menarik daripada dirinya. Aih, lemah sekali cintamu wahai lelaki!
            Saya bersyukur bahwa istri saya bukan pesolek tulen. Ia, bisa dibilang, adalah seorang pesolek yang buruk. Bahkan sangat buruk. Setidaknya menurut saya. Karena ia sudah merebut perhatian saya meski tanpa pulasan ini itu di wajahnya. Memang, cukup sering ia dipuji oleh teman-temannya perihal wajahnya yang seperti wajah bayi itu. Pertanyaannya, perlukah pujian-pujian itu ada jika pujian dari suaminya yang seorang ini sudah berbobot milyaran kali lebih baik dari pujian-pujian yang jumlahnya hanya satu dua cuil itu?
            Beribu maaf saya kepada para pengusaha produk kecantikan. Bukan saya hendak meragukan kualitas jualan sampeyan. Sama sekali bukan. Ini soal istri saya, selera saya, kesukaan saya, subjektifitas saya, yang menganggap bahwa produk-produk yang beredar itu sama sekali tidak garis lurus dengan kuantitas dan kualitas cinta saya padanya, istri saya itu. Betapa kehormatan saya serasa dicoreng-moreng ketika cinta saya kepadanya diragukan lantaran fisiknya yang tak lagi seginak-ginuk dan seclemeguk seperti dulu?
            Padahal, dengan semakin bertambahnya usia pernikahan, cinta antara suami dan istri itu sudah harus lepas dari unsur-unsur badaniah ansich. Ketika usia pernikahan semakin bertambah, masalah cinta tidak lagi diukur dari perkara jerawat di jidat, pipi terawat, dan bibir berkilat. Sungguh, cinta tidak semanja itu.
Cinta yang sudah dimakan usia seharusnya sudah jauh naik derajat dan bukan seperti cinta ala remajaremaji usia dini.
            Memang, istri bersolek sesekali tidak mengapa. Itu sudah bagian dari fitrah kaum hawa. Para suami pun perlu mengantarkan istri mereka ke salon kecantikan dan perawatan tubuh. Toh itu buat kebaikan kita, para suami, juga. Saya juga tidak masalah dengan itu. Wajar, lazim, dan memang sudah seharusnya demikian. Yang jadi masalah adalah ketika cinta itu sedemikian rapuh dan lemahnya sehingga ia harus diteteki terus-menerus dengan rupa-rupa fisikal itu. Itu, cinta yang membosankan semisal itu, sama sekali, bukan cinta versi saya.
            Bertahun lalu, dari sebuah buku, saya mendapati sebuah kalimat dari Ibnu Hazm yang berkata bahwa “Cinta hilang karena hilangnya sebab. Jika sebabnya abadi maka cintapun akan turut mengabadi. Jika sebabnya fana maka cintapun hanya sementara.”
Kurang lebih demikian bunyinya.
Dari situ, saya kemudian bertekad bahwa cinta ini akan saya gantungkan pada Sang Maha Segala. Bahwa cinta yang murni lagi suci lagi sejati itu harus dijauhkan dari aspek-aspek yang fana, yang sementara, dan dibatasi masa. Termasuk soal pada wajah mulus, kulit kencang, bibir merekah, dan rambut terurai. Bahwa ada asbab cinta yang lebih mulia lagi kekal yang tak perlu dipulas gincu pupur sedemikian tebal.
Pada akhirnya, tulisan ini lebih saya tujukan untuk kaum adam ketimbang kaum hawa. Bahwa cintamu seharusnya tidak (selalu) semanja itu. Dan buat kaum hawa, lintasan pikiran ini bukan apologi suami yang kurang bersemangat membelikan produk ini itu buatmu. Ini hanya soal selera dan citarasa perkara cinta.
Terakhir, terkenang saya dengan sepenggal syair Anis Matta:

Suatu saat dalam sejarah cinta kita
Raga tak lagi saling membutuhkan
Hanya jiwa kita sudah melekat dan menyatukan
Rindu mengelus rindu

            Kiranya demikian. [wahidnugroho.com]

Saaba, Juli 2016
Pele

Pele

08.56.00 2

Untuk mengucapkan kata di atas secara benar, kita cukup mengingat nama seorang pesepakbola yang masyhur dari dataran Brasillia: Pele. Huruf e pertama dibaca dengan menekan bibir bagian atas ke arah depan dan menarik rahang bawah ke bagian belakang, dan huruf e ke-dua dibaca dengan melebarkan rongga mulut, menarik pipi ke kedua arah, dan melepasnya dengan lidah sedikit terjulur. Pele.
Saya tidak tahu persis pele ini berasal dari bahasa apa meski kata ini lumayan sering beredar di masyarakat. Mungkin kata itu berasal dari bahasa Saluan, atau Banggai, mungkin bahasa Manado, atau merupakan kata serapan dari bahasa asing. Saya sempat melempar pertanyaan tentang arti dan asal kata pele di grup Babasal Mombasa yang ada di whatsapp, dan jawaban yang saya dapatkan ternyata cukup mengundang rasa ingin tahu.
Dua orang teman saya di grup itu, Reski Sululing dan Ali Sopyan, menyampaikan pendapat yang kurang lebih sama, bahwa pele bukan berasal dari bahasa Saluan, bukan pula Banggai dan bahasa Melayu. Ia lebih dekat dengan kosakata khas Manado dan kemungkinan besar merupakan kata serapan dari bahasa Portugis.
Pele artinya kurang lebih menutup atau menghalangi. Suatu aktifitas yang membuat pandangan maupun aktivitas kita jadi terhalang karenanya. Mungkin padanan kata dari pele ini adalah halang, tutup, palang, atau perboden (Belanda) yang artinya kurang lebih sama. Ali menyambung, bahwa kata pele ini konon sebandung maknanya dengan kata lindung yang kerap dipakai oleh orang-orang Kalimantan.
Konteksnya dalam kalimat demikian:
“Jangan ba pele di situ” adalah contoh pertama. Misalnya kita sedang menonton televisi dan tiba-tiba ada seseorang yang menghalangi pandangan kita sehingga kita melewatkan sesuatu yang sedang kita tonton itu. Bisa juga ketika kita sedang menikmati pemandangan di teras depan rumah dan tiba-tiba anak-anak berdiri di depan kita. Itu artinya mereka, anak-anak itu, sedang mempele, atau ba pele, pandangan kita.
Bentuk lainnya, “Jangan lewat jalan itu, karena sementara dipele.” Maksudnya, jangan melewati jalan itu karena jalannya sedang ditutup.
Sebab-sebab jalan dipele, atau jalan ditutup, ada beberapa kemungkinan. Bisa karena pesta, bisa karena kedukaan (ada yang meninggal dunia), bisa karena kegiatan keagamaan (pengajian, kebaktian, upacara), atau karena sedang ada sengketa dan konflik yang terjadi di suatu wilayah.
Benda yang digunakan untuk ba pele jalan beragam. Kadang pot bunga, kadang kayu balok, atau sebatang bambu berdiameter cukup besar dan masing-masing ujungnya ditaruh di kursi dan diletakkan begitu saja menutupi jalan. Untuk level tertentu, tak jarang ada aparat keamanan yang duduk-duduk di dekatnya. Tak jarang pula, mungkin demi memperjelas, ada papan bertuliskan "Maaf ada pengalihan arus" lengkap dengan semacam Polantas dadakan yang mengarahkan kendaraan ke jalur alternatif (jika ada).
Khusus jalan yang dipele karena konflik, Luwuk lumayan sering mengalami hal-hal demikian. Khususnya yang terjadi di sepanjang Trans Sulawesi di daerah Batui, Kintom, Pagimana, atau Bunta. Sebabnya beragam. Bisa karena ada salah satu warga di daerah itu yang mengalami tabrak lari sehingga untuk mengusut pelakunya jalan harus dipele supaya polisi bisa mengusut tuntas siapa pelakunya. Atau sebagaimana yang kerap terjadi di wilayah Kintom ketika masyarakat melakukan demonstrasi menuntut sesuatu baik kepada pemerintah daerah, aparat keamanan, maupun perusahaan migas yang berlokasi di sana.
Menurut saya, pele merupakan bagian dari hak asasi manusia yang di dalamnya mengandung pola komunikasi yang unik antara pelaku pele dengan orang-orang jalannya dipele. Karena terkadang, hubungan di antara keduanya tidak melulu saklek dan kaku, apalagi jika orang yang jalannya dipele ada hubungan keluarga atau karena sebab darurat (sakit, mengejar penerbangan), maka jalan yang dipele biasanya akan dibuka. Tentunya sambil menerima pandangan menyelidik dari orang-orang yang mempele jalan.
Saya teringat dengan kisah seorang teman yang sedang dalam perjalanan ke kota Luwuk dan, celakanya, jalan yang harus ia lalui dipele oleh warga karena suatu sebab. Tak kurang akal, ia pun akhirnya pura-pura sakit dan teman-temannya yang membersamainya berakting sedemikian rupa supaya mereka diizinkan melintas. Hasilnya cukup mengejutkan karena mereka berhasil lolos. Entah karena akting mereka yang kelewat meyakinkan atau si penjaga pele yang kelewat polos.
Pele jalan, dalam hal yang saya sebutkan di atas, merupakan sebuah cara yang unik untuk mengekspresikan rasa protes. Ia juga mengandung makna memperjuangkan hak, meski, ironisnya, harus mengorbankan hak orang lain.
Pada masa-masa awal berada di Luwuk, tahun 2007, saya mengalami semacam gegar budaya di seputar perkala pele ini. Sebabnya adalah ketika jalan utama kota ini (jalan Urip Sumoharjo) dipele karena pesta pernikahan. Jika jalan utama yang membelah kota ini saja sedemikian teganya dipele, maka mempele jalan-jalan kecil (lorong) tentu akan lebih ringan dilakukan. Akan bisa dimaklumi jika jalan yang dipele karena sebab kedukaan seorang warga yang rumahnya tepat di pinggir jalan, tapi akan sangat disayangkan jika jalan utama itu dipele hanya karena pesta pernikahan. Jangan sampai pernikahan yang niat awalnya ingin mencari doa restu malah berujung pada caci-maki dan sumpah serapah dari para pengguna jalan kepada empunya pesta.
Padahal kalau mau dipikir-pikir, ruang publik untuk mengadakan pesta pernikahan cukup banyak di kota ini meski perkara representatif atau tidaknya masih bisa didiskusikan. Kalaupun menyewa gedung butuh dana yang tidak sedikit (meski saya yakin biayanya masih bisa ditolerir), kenapa tidak menggunakan lapangan sepakbola seperti Bumi Mutiara atau Persibal, misalnya. 
Jika perkara mempele jalan ini dilakukan di lorong-lorong atau di jalan-jalan yang tidak ramai dilewati kendaraan mungkin masih bisa sangat dimaklumi. Namun ketika jalan yang ada hanya satu-satunya, adapun jalan alternatif tidak terlalu memadai, maka keputusan untuk mempele jalan harus ditinjau kembali. Apalagi, sebagaimana yang kita ketahui bersama, kualitas jalanan di kota Luwuk sudah tidak lagi sebanding dengan volume kendaraan yang ada dan terbatasnya jalur alternatif yang memadai, sehingga jika ada satu kendaraan yang diparkir kurang tepat bisa mengakibatkan antrian yang cukup panjang sebagaimana yang kerap terjadi di wilayah Bungin. Apalagi di dalam kota cukup sering berseliweran truk-truk besar.
Pemerintah dan aparat yang berwenang perlu memikirkan kembali hal ini. Bahwa tidak sembarang orang bisa diizinkan memanfaatkan jalan raya sebagai tempat mereka menggelar tenda dan melakukan pesta karena pertimbangan kemaslahatan publik. Bahwa jika memang memungkinkan, warga yang mengadakan pesta sebisa mungkin melakukannya di sarana-sarana umum yang telah tersedia, atau . Selain bisa dijadikan sebagai peluang usaha penyediaan aula atau ruang untuk pernikahan, ini juga berarti pemerintah memiliki pekerjaan rumah yang tidak ringan supaya warga yang berhajat tidak sampai merugikan kepentingan umum.
Di tengah-tengah terbatasnya lahan dan perkembangan kota yang ke arah sini makin signifikan, upaya untuk mengakomodir kebutuhan warga yang satu ini mutlak dilakukan. Perkara pele-mempele jalan selalu terkait dengan tenggang-rasa, toleransi, dan rasa saling menghargai kepentingan publik dengan mengesampingkan ego pribadi dan kelompok. Sebagai warga yang, saya yakin, memiliki tingkat toleransi cukup tinggi, saya kira orang-orang di daerah ini sangat mampu menahan diri dari upaya yang bisa merugikan kepentingan orang lain.
Panjang lebar bicara soal pele dan segala tetek-bengeknya, saya dikejutkan dengan protes yang disampaikan oleh istri saya.
“Ah, abi ini ba carita soal pele jalan sampai sebegitunya. Macam te ingat lalu waktu torang pesta (nikah) juga ba pele jalan (jalan pulau Sumatera, belakang SPBU Simpong yang mengarah ke Kubur Cina).”
“Tapi itu kan bukan jalan utama,” saya membela diri.
“Sama saja,” ia tak mau kalah.
 “Walau torang ba pele di situ, orang masih bisa ambe jalan lain. Coba kamu ba pele jalan di muka KFC, bukannya bisa bekeng orang kalang kabut,” balas saya. Semacam standar ganda yang cukup memalukan, sebenarnya.
Ia merengut. Kalau sudah begitu, ia terlihat makin cantik. [wahidnugroho.com]

Saaba, Juni 2016