Sabtu, 26 Agustus 2017

Hanya Raga, Bukan Jiwa

Pagi ini saya menyengaja berangkat ke kantor lewat jalur yang berbeda dari biasanya. Jalanan belum ramai benar meski di beberapa lokasi sudah terjadi sedikit antrian kendaraan. Semua berjalan biasa sebagaimana yang lazimnya terjadi di wilayah pinggiran Jakarta sampai akhirnya saya melihat sebuah pemandangan yang menarik.

Ada seorang suami dan istrinya yang sedang menggendong anaknya yang masih bayi berdiri di salah satu sisi jalan. Sebuah keluarga muda. Suaminya berpakaian necis, lengkap dengan jaket jas dan tas ransel berwarna hitam yang ditaruh di dekat kakinya. Sementara istrinya berpakaian rumahan: rapi, sederhana.

Dari gestur yang terlihat, sang suami sepertinya hendak berangkat kerja (atau ke suatu tempat) dan sang istri, beserta anaknya yang masih bayi, mengantarnya sampai ke pinggir jalan. Saya mengamati keluarga muda itu. Perkiraan saya, keduanya belum genap berusia dua puluh lima, atau di kisaran dua puluh lima dan dua puluh enam.

Pasangan muda itu tampak sedang berbincang kecil. Suasana lalu lintas yang tidak seberapa ramai tidak sampai membuat mereka saling menaikkan suara. Dari amatan saya, sang suami yang terlihat memegang kendali pembicaraan, sementara istrinya tampak khidmat menyimak.

Mungkin ia sedang berpesan kepada istrinya bahwa ia akan pulang terlambat. Saya membayangkan alasan-alasan yang mungkin dikatakan sang suami: bahwa situasi lalu lintas akhir-akhir ini sedang sulit diprediksi, bahwa atasannya di kantor memerlukan bantuannya untuk menyelesaikan pekerjaan yang tenggat waktunya akan habis, bahwa ia akan mengikuti pesta perpisahan teman kantor yang dimutasi ke suatu daerah, bahwa ia akan mengunjungi seorang kenalan yang istrinya baru saja melahirkan, dan alasan-alasan lainnya.

Istrinya tampak sesekali mengangguk dan beberapa detik kemudian, keduanya sudah tampak siap berpisah. Mungkin bus yang akan dinaiki oleh suaminya sudah dekat, atau taksi yang dipesan mereka sudah terlihat. Sang suami menggendong anaknya yang masih bayi, menciuminya, dan tampak sedang mengurapinya dengan kata-kata yang baik sementara sang istri memandangi bapak dan anak itu sambil tersenyum. Setelah menyerahkan sang anak kepada istrinya, ia lalu mencium pipi kiri dan kanan perempuan muda itu, yang diikuti dengan sang istri yang mencium tangan suaminya.

Saya tidak tahu bagaimana kelanjutan adegan singkat itu karena antrean kendaraan yang ada di depan saya berangsur terurai dan saya harus maju terus. Peristiwa singkat yang baru saja saya lihat barusan itu bisa jadi merupakan peristiwa yang biasa-biasa saja. Mungkin ada yang menganggap bahwa peristiwa istri yang sedang melepas suami untuk bekerja adalah suatu kelaziman, sebagaimana para istri di zaman purba yang melepas suami-suami mereka berburu di alam bebas dan pulang ke rumah membawa hasil buruan yang bisa mereka nikmati.

Tapi saya kemudian tersadar, bahwa meski tampak sederhana, peristiwa kecil itu bisa jadi suatu kemewahan tersendiri bagi pasangan suami istri yang dipisahkan oleh jarak. Long distance love. Long distance relationship. Sebut saja demikian. Pasangan yang, mungkin, baru saja dikaruniai anak, lalu sang ayah harus keburu pergi ke tempat lain demi menyambung mimpi mereka sementara sang ibu menjaga dan membesarkan sang anak di rumah. Atau mereka yang berangkat saat langit masih gelap dan malam masih enggan beranjak. Meninggalkan anak-anak mereka yang masih terlelap dan wajah istri yang masih berbau bantal. Atau kemungkinan-kemungkinan lainnya. Saya tidak tahu.

Peristiwa berpisahnya suami dan istri di pinggir jalan yang agak ramai pagi hari itu mungkin terlihat biasa. Tapi saya tidak memandangnya demikian. Ada banyak dimensi yang terlibat dari peristiwa sederhana itu. Sesuatu yang tampak tenang di permukaan biasanya menyimpan kerumitannya tersendiri di bawah permukaannya. Peristiwa itu juga mengajarkan saya bersyukur, bahwa saya masih diberikan kesempatan untuk melakukan ritual itu betapapun masih jauh dari kata sempurna.

Namun betapapun pahitnya sebuah perpisahan, hati yang saling mencinta akan tetap terpaut. Karena lautan, jalanan, pegunungan, dan hutan-hutan hanya memisahkan raga dengan raga, bukan jiwa dengan jiwa. [wahidnugroho.com]


Meruya, Agustus 2017
Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar