Senin, 23 Juni 2014

Once Upon A Time in Luwuk

Jalan Dewi Sartika, Luwuk, hari itu tidak tampak seperti biasanya. Jalan kecil yang melewati komplek sekolah dan kampus seperti SDN 4, SDN 5, SKB, SMAN 1 Luwuk, dan Universitas Tompotika tersebut pada hari itu dipadati kendaraan yang diparkir sembarangan di kedua sisinya. Wajar saja, hari itu adalah hari pengambilan rapot. Ketiadaan personel Polantas di situ membuat kondisi lalu-lintas semakin semrawut. Siang itu matari bersinar terik seolah memanaskan permukaan jalan seperti penggorengan di atas kompor yang sedang menyala. Oh iya, jalan kecil itu adalah jalan satu arah. 

Saya baru saja hendak keluar dari areal parkir gedung Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) yang berlokasi di depan Universitas Tompotika untuk suatu keperluan. Istri dan ketiga putri saya sedang berada di areal gedung itu untuk mengikuti acara pengambilan rapot putri pertama dan ke dua saya. Sebabnya adalah sebuah mobil truk kontainer yang terjebak di tengah-tengah jalan karena tumpukan motor, yang saya duga, milik siswa-siswi SMAN 1 Luwuk yang diparkir hingga nyaris memenuhi badan jalan. Ditambah lagi dengan mobil yang diparkir di sisi kanan, membuat truk kontainer besar itu menjadi terjebak. Di belakangnya deretan kendaraan semakin mengular dengan pengendaranya yang makin resah karena cuaca yang panas, sementara di depan truk itu terbentang keruwetan yang tak mudah untuk diurai. Suara klakson dari kendaraan di belakang saya membuat udara Luwuk yang sudah panas menjadi bising tak karuan. Sambil mengendarai sepeda motor matic, saya mencoba membelah deretan kendaraan yang memenuhi jalan tersebut dan mencari-cari celah agar bisa lolos dari kemacetan yang ternyata sudah sangat parah.

Truk besar itu berhenti dengan menyedihkan dan mesinnya, entah kenapa, dimatikan. Saat hendak melewati truk itu, saya mendapati sebuah pemandangan yang membuat hati ini terenyuh: supir truk itu, dengan wajahnya yang tenang, menyeret-nyeret beberapa motor yang diparkir tanpa adab itu satu demi satu agar jalur yang hendak dilewatinya terbuka. Tergerak dengan usaha keras sang supir, saya lalu menepikan motor saya ke salah satu "areal parkir" dadakan yang masih terbuka di depan pintu gerbang SMAN 1 Luwuk dan bertanya kepada salah seorang siswa sekolah itu dimana satpam sekolah itu berada. Mereka menjawab tidak tahu. Saya lalu berinisiatif dengan memerintahkan para siswa yang sedang lewat di depan gerbang sekolah itu untuk membantu sang supir menggeser kendaraan teman-teman mereka yang diparkir sembarangan itu. Saya lalu berjalan ke dalam sekolah dan menemui tiga orang, sepertinya guru atau tamu yang sedang berdiri di depan bangunan kantor sekolah itu, dan menanyakan kepada mereka dimana keberadaan satpam dan mengulangi penjelasan yang sama sebagaimana yang saya sampaikan kepada salah seorang siswa yang belakangan saat saya kembali ke pinggir jalan sudah tak nampak batang hidungnya! Anak sialan!

Usai menjelaskan kepada ketiga orang itu, salah satu dari mereka tampak tergerak untuk membantu saya dan supir itu untuk membuka jalan bagi truk kontainer yang terjebak di tengah jalan. Maka jadilah supir truk itu, saya, dan seorang lelaki yang tadi saya ajak bicara di depan kantor sekolah menjadi sukarelawan dadakan untuk menyingkirkan motor-motor yang diparkir sembarangan itu supaya kemacetan itu bisa segera diuraikan. Dan memang harus ada yang bergerak untuk menuntaskan masalah ini bukan?  Saya juga menyeret dua orang siswa SMAN 1 yang sedang melintas untuk turut membantu kami dengan susah payah saat mendapati banyak dari motor-motor itu dikunci stangnya. Sementara deretan mobil di belakang truk semakin tampak memprihatinkan dan motor-motor yang berhasil melewati kemacetan parah itu hanya melewati kami begitu saja tanpa terpengaruh dengan usaha yang sedang kami lakukan, ditambah dengan pekikan klakson mobil yang tak henti-hentinya berteriak, perlahan tapi pasti akhirnya kami berhasil membuka jalan bagi truk besar itu supaya bisa melintas. Syukurlah. Supir truk itu mengucapkan terima kasih kepada kami berempat. Saya juga mengucapkan terima kasih kepada lelaki muda dan dua orang siswa SMAN 1 yang telah membantu untuk memecahkan masalah ini meski mereka sebenarnya tidak bertanggung-jawab dengan masalah itu.

Peristiwa pada siang yang panas di ruas jalan Dewi Sartika itu mengajari saya bahwa di dunia ini masih ada orang baik. Di dunia ini masih ada orang yang sedia berkorban, meski sebenarnya mereka bisa saja merasa berat melakukannya – ehem, soal niat ini bukan domain saya –, namun toh pada akhirnya mereka melakukan perbuatan baik sebatas yang mereka mampu dan tidak memilih tempat sebagai komentator terbaik kala itu. Semoga Allah memberikan balasan setimpal atas amal baik mereka hari itu. Hal lainnya, saya jadi sadar, bahwa tidak semua orang bisa menjadi problem solver. Saya tidak menuduh orang-orang yang tidak ikut “kerja-bakti” siang itu sebagai orang-orang yang minus kepedulian. Mungkin ada alasan lain yang membuat mereka tidak turut serta dengan kerja kecil kami waktu itu. Saya juga mendapati ada wajah-wajah kecut yang memandang ke arah kami saat kami sedang berjibaku dengan upaya memindahkan motor-motor itu agar jalan bisa kembali dilewati. Saya tidak bisa melakukan apa-apa kecuali hanya fokus dengan pekerjaan saya saat itu dan tidak menghiraukan tatapan sinis mereka. Saya jadi sadar, bahwa saat kita mencoba berbuat baik maka akan ada orang yang tidak terima dengan perbuatan kita, tapi itu bukan berarti kita berhenti melakukannya, kan? Mungkin sikap tidak terima mereka karena ketidaktahuan mereka, mungkin ada penjelasan lain yang saya tidak mengerti. Tapi itu sepertinya bukan masalah yang harus dibesar-besarkan.

Setelah kemacetan parah itu usai, saya menstarter kembali motor saya dan berbelok ke jalan DI Panjaitan dan meneruskan perjalanan saya. Tiba-tiba saja, rongga dada ini dipenuhi dengan kesejukan yang saya tidak mengerti darimana arah kedatangannya. Moga Gusti Allah ampuni kekhilafan saya karena sudah memisuhi salah satu siswa tadi dan memberikan saya kekuatan hati untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat bagi orang lain, sekecil dan seremeh apapun. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Juni 2014


Marhaban Ya Ramadhan

Shalat Jum’at sudah usai. Para jama’ah sudah meninggalkan masjid dan kembali dengan urusannya masing-masing. Saya dan beberapa jama’ah yang masih tersisa memutuskan untuk duduk-duduk di dalam masjid sambil mengobrol beberapa hal. Salah satu tema obrolan kami ketika itu adalah tentang petugas imam shalat tarawih di masjid ini. Pak Sofyan meminta saya untuk masuk ke dalam tim imam. Pak Saleh turut mengamini permintaan itu yang diikuti dengan anggukan kepala Pak Husni dan Pak Heri.

Ditodong seperti itu saya tak bisa tidak selain menerima permintaan tersebut meski dengan berat hati. Kami lalu berbincang-bincang tentang jadwal imam tarawih. Saya mengusulkan agar petugas imam yang ada dibagi menjadi beberapa shift, dimana per shift-nya berdurasi tiga hari, jadi setiap tiga hari imam tarawihnya bergantian. Saya meminta agar diberikan jadwal di tengah-tengah supaya bisa ikut dengan “ritme” yang biasa berlangsung di masjid ini, berhubung tiap masjid biasa punya ritme tarawihnya tersendiri. Usul saya disetujui. Obrolan kami lalu menukik ke soal lain, tak ketinggalan soal copras-capres dan juga piala dunia. Tapi saya tidak ingin menuliskan soal dua hal terakhir itu di sini, hehe..

Ramadhan tahun 2014 ini, insya Allah, akan menjadi Ramadhan  kali ke delapan saya selama di Luwuk. Kali pertama Ramadhan di kota ini adalah tahun 2007 silam dimana saya masih berstatus sebagai bujangan kala itu. Ramadhan kali ke dua saya jalani saat baru menikah. Ada banyak hal yang menjadi catatan selama ramadhan demi ramadhan itu berlalu dan saya abai untuk memaksimalkannya. Istri saya paham betul dengan soal ini dan berharap agar ia mau mendampingi saya untuk terlepas dari masa-masa sulit seperti sediakala. Saya tak berharap muluk-muluk, saya hanya ingin memaksimalkan setiap detik Ramadhan kali ini dengan hal-hal yang positif seraya memintaNya untuk membukakan pintu maaf bagi saya karena pengabaian yang telah lewat. Pengabaian yang membuat saya menyesal karenanya. Semoga niat baik ini tidak dinilai terlambat olehNya. Semoga umur ini disampaikannya ke gerbang Ramadhan yang makin lama semakin mendekat dan aroma harumnya yang terasa makin menyengat. Melalui tulisan ini, saya ingin mohon maaf atas segala salah, khilaf, dan alfa saya selama ini. Moga kita semua disampaikanNya ke dalam bulan yang mulia itu dan memaksimalkan segala amal ibadah kita selama berada di dalamnya. Marhaban ya syahru shiyam, marhaban ya ramadhan. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Juni 2014

Maaf lahir batin

FLP Banggai Piye Kabare?

Tiga belas Juni tahun dua ribu sepuluh adalah hari yang sangat bersejarah dimana pada hari itu seorang penulis terkenal bernama Habiburrahman Saerozy, atau yang biasa disapa Kang Abik, melabuhkan langkahnya di kota Luwuk untuk mengisi sebuah acara yang digagas oleh FSLDK Kabupaten Banggai. Selain menghadiri acara tersebut, kedatangan beliau juga sekaligus meresmikan kembali sebuah organisasi kepenulisan bernama Forum Lingkar Pena (FLP) Banggai. Saya tidak terlalu mengerti dengan sejarah organisasi tersebut di wilayah ini, namun dengan diresmikannya organisasi kepenulisan yang cukup terkenal itu saya pribadi turut berbahagia karenanya. Saya menuliskan ini hanya berdasar ingatan saja dan karenanya mungkin akan ada detail yang terlewat dan bisa jadi kurang tepat.

Paska kedatangan Kang Abik, beberapa anggota FLP Banggai tersebut kemudian mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik yang digagas oleh Ustadz Iswan Kurnia Hasan. Pengalamannya selama menempuh pendidikan Al Azhar di Mesir dan mengelola media yang cukup terkenal di sana bernama Sinai Mesir membekali anak-anak muda yang tengah bersemangat itu untuk mempertajam kualitas tulisan mereka sehingga tak hanya berbobot tapi juga nyaman dibaca. Pelatihan itu sekaligus diarahkan sebagai media untuk menghidupkan sebuah media propaganda Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Banggai yang diberi tajuk Narasi Keadilan. Setelah itu, saya mendapati tulisan-tulisan pendek anak-anak muda itu bertebaran di dunia maya, baik di facebook dan di blog-blog pribadi mereka, termasuk di media propaganda tersebut yang oplahnya masih sangat terbatas. Saya cukup beruntung bisa mendapatkan beberapa edisi dari tabloid itu melalui istri saya yang aktif di partai tersebut. Meski saya tidak mendampingi lahirnya semangat baru itu dari jarak dekat, namun kemunculan juru ketik-juru ketik baru tersebut membawa hawa baru yang menyegarkan dunia literasi di Luwuk yang masih jauh dari menggembirakan.

Beberapa alumnus pelatihan jurnalistik tersebut, yang juga merupakan awak FLP Banggai, kemudian sempat pula melakukan pelatihan jurnalistik bagi para mahasiswa sekitar dua tahun lalu yang dihelat oleh Ikatan Mahasiswa Islam Unismuh Luwuk. Pelatihan yang kelak melahirkan buletin mahasiswa yang diedarkan secara terbatas di lingkungan kampus itu menyajikan beberapa materi kepenulisan yang sangat bagus. Saya pun sempat ditunjuk sebagai narasumber dalam acara tersebut dan mencoba untuk berbagi hal-hal yang positif seputar dunia tulis menulis meski secara pribadi saya merasa belum pantas untuk berdiri di depan sana dan berceloteh ngalor-ngidul tentang dunia kepenulisan yang saya sendiri masih sangat hijau di dalamnya. Setelah berturut-turut hingar-bingar kedatangan Kang Abik, Narasi Keadilan, kedatangan Cahyadi Takariawan, dan Pelatihan Jurnalistik di Unismuh usai, mendadak suasana menjadi senyap. Orang-orang yang dulu pernah mengikuti pelatihan jurnalistik perlahan menghilang hingga akhirnya, kalau bisa dikatakan, mati suri. Tulisan-tulisan yang dulu sempat tersebar di dunia maya, di buletin dan tabloid yang sempat terbit secara berkala hilang nyaris tanpa jejak. Saya tidak tahu sebabnya apa, tapi, melihat fakta yang menyedihkan ini, saya hanya bisa merasa prihatin di dalam hati saja. Dana bisa jadi salah satu faktor yang menyebabkan matinya tabloid dan buletin tersebut di samping minat baca mahasiswa-mahasiswa di sini yang masih sangat rendah. Namun di luar segala keterbatasan yang ada, mereka tak kunjung juga bergerak, menyatukan persepsi, mengumpulkan kembali bakat-bakat terpendam yang dulu pernah digali, dan melakukan sesuatu agar suara mereka kembali nyaring hingga ke langit tinggi. Sampai detik ini saya masih menunggu, dan menunggu.

Saya tidak hendak menyalahkan siapapun di sini. Mungkin saya pun mempunyai saham kesalahan yang cukup signifikan sehingga anak-anak muda itu tak lagi menulis. Mungkin saya baru bisa menggerutu dan menyesali kepasifan mereka untuk tidak lagi menulis seperti sedia kala. Saya lalu mengintrospeksi diri dan mencatat beberapa hal yang perlu saya catat dan mulai bergerak secara perlahan. Saya lalu menemui beberapa nama yang dulu sempat bersemangat menulis, menghubungi  beberapa orang yang dulu pernah saya baca tulisan-tulisannya yang ternyata masih menyimpan semangat yang sama, mengajak bicara beberapa orang yang masih ragu dengan kemampuan menulisnya namun akhirnya berhasil saya yakinkan untuk mengusir jauh-jauh keraguan itu dan mulai menulis, dan melakukan beberapa pertemuan kecil dengan objek pembicaraan yang masih remeh dan mengawang-awang.

Meski usaha untuk memulihkan semangat ini masih sangat dini, saya merasa senang dengan respon yang mereka berikan. Bagaimanapun, kita memang harus memaksa diri kita untuk kembali mengatur prioritas-prioritas hidup seiring dengan bekal-bekal yang telah kita dapatkan untuk meningkatkan kualitas diri kita di masa silam. Bekal-bekal itu dijejalkan kepada kita bukan oleh orang-orang sembarangan, namun dari orang-orang yang punya kapabilitas terbaik di bidangnya. Tidakkah mereka merasa sayang saat bekal-bekal yang berharga itu tertimbun di ruang-ruang yang kosong dan terlupakan sebab kegagalan mereka dalam mengatur prioritas hidup mereka? Saya mengajukan pertanyaan yang cukup tajam itu kepada mereka yang dijawab dengan respon yang cukup melegakan. Tapi, apa cukup hanya merasa lega setelah disentil dan tidak melanjutkannya ke ranah amal dengan cara bergerak dan mulai menulis? Hanya mereka sendiri yang bisa menjawabnya secara jujur.

Saya memang bukan orang yang paling tepat untuk berpendapat seperti itu. Tulisan ini sekaligus mengingatkan diri saya sendiri dengan kelalaian demi kelalaian yang telah saya lakukan selama bertahun-tahun dan karenanya saya ingin tidak hanya bangkit sendiri tapi juga mengajak talenta-talenta itu untuk ikut bangkit bersama. Semoga FLP Banggai serta anak-anak muda yang dulu pernah begitu semangat menulis dan menularkan semangat itu kepada umat ini bisa kembali menemukan spirit menulis yang sempat hilang itu. Nah, jadi, FLP Banggai, piye kabare?[wahidnugroho.com]


Kilongan, Juni 2014

Minggu, 22 Juni 2014

Kekhawatiran Orangtua


Saya seorang bapak belia dengan tiga orang putri. Celotehan mereka mewarnai hari-hari saya sedemikian rupa sehingga saya terkadang, atau malah seringkali, harus berdamai dengan waktu-waktu tertentu yang tak lagi bisa dinikmati sendiri. Adakalanya saya duduk sendirian, menatap layar laptop, memandangi langit biru, menikmati desir angin, membaca bertumpuk buku, atau hanya diam begitu saja tanpa gelak-tawa mereka di sisi, tapi suara mereka yang nyaring dan riuh itu selalu menggema di dalam jiwa saya. Kecerewetan mereka yang tidak karuan itu selalu meramaikan relung hati saya.

Itulah sebabnya, saya merasa bahwa kesunyian yang saya idam-idamkan agar bisa saya nikmati itu sebenarnya hanyalah kesunyian yang semu, kesunyian yang tidak nyata. Utopis belaka. Karena saat saya menjalani kesendirian itu, wajah-wajah mereka selalu membayang di pelupuk mata. Saat saya mencoba keluar dari dunia mereka yang penuh dengan keberisikan itu, saya justru selalu terseret dan terseret kembali ke dunia mereka, meluangkan jenak-jenak waktu saya hanya untuk sekedar menyimak celotehan mereka yang belum sempurna.

Kita tentu senang mengamati tindak-tanduk anak-anak kita yang masih bayi. Kelucuan dan kepolosan mereka membuat kita gemas karenanya. Gembilnya pipi dan halusnya kulit mereka selalu menenangkan kita saat menyentuhnya. Aroma tubuh mereka yang kecut menjadi aroma yang selalu kita rindukan. Kadang kita berpikir, alangkah nikmatnya jika anak-anak ini tetap seperti itu selamanya. Alangkah menyenangkannya jika setiap malam mereka tidur bersama dengan kita, lalu kita bangunkan saat matahari sudah meninggi, kita mandikan mereka, dan kita ajak mereka bermain setiap hari. Namun kenyataannya tidak seperti itu. Anak-anak kita akan tumbuh besar. Mereka tak lagi lucu dan polos seperti sediakala, tindak-tanduk mereka tak lagi membuat kita gemas, pipi mereka tak lagi gembil dan mungkin sudah ditumbuhi jerawat. Yang terpenting dari itu semua adalah pemikiran mereka akan mendewasa, dan bukan mustahil mereka akan tidak setuju dengan kita dalam beberapa hal.

Dengan semakin bertambahnya usia anak-anak, saya, jujur saja, justru merasakan kekhawatiran, dan juga ketakutan. Kekhawatiran dan ketakutan yang bertumpuk-tumpuk. Kekhawatiran yang sangat sulit saya ungkapkan dengan kata-kata. Ketakutan yang tak mudah saya sampaikan dengan untaian aksara. Meski begitu, kekhawatiran dan ketakutan itu selalu menghantui saya dengan begitu intens, dan karenanya kerap menguasai hari-hari saya. Kekhawatiran dan ketakutan yang membuat saya melangkah dengan ragu dan tidak sepenuhnya yakin dengan apa yang saya lakukan. Kekhawatiran itu menampilkan wujudnya dalam banyak bentuk, tak terbatas ruang dan waktu.

Saya, akhir-akhir ini, suka mengamati pelajar-pelajar yang lewat di depan warung bubur kami. Warung bubur yang kami sewa itu, qadarullah, berdekatan dengan banyak sekolah, mulai dari tingkat dasar sampai tingkat atas. Bahkan ada pula universitas di dekat situ. Saat sedang duduk-duduk di bangku di depan warung, sambil membolak-balik halaman buku yang sedang saya baca, saya mengamati lalu-lalang para pelajar itu dan mengingat wajah ketiga putri saya di rumah. Saya lebih suka mengamati pelajar putri, bukan karena saya punya “kelainan” for sake of God, tapi lebih karena ketiga putri saya, bila Allah menakdirkan umur panjang bagi mereka, insya Allah, akan sampai pada usia seperti itu  Saya merasa perlu mengamati tindak-tanduk mereka dan sebisa mungkin menyiapkan diri untuk menghadapi permasalahan khas anak-anak di usia mereka.

Malam itu, ketika anak-anak dan istri saya sudah tidur semuanya, saya menonton sebuah film berjudul Delivery Man. Film ini diperankan oleh Vince Vaughn dan emosi saya benar-benar larut saat menontonnya. Saya membayangkan masa ketika anak-anak saya sudah dewasa dan bagaimana mereka akan menghadapinya kelak. Di bagian-bagian akhir film itu, ada sebuah pertanyaan yang tiba-tiba saja menyergap saya dan membuat saya merenung sekian lama karenanya. Saya sampai harus mengulang-ulang adegan itu untuk menangkap pesan Mikolaj Wozniak kepada putranya David saat mereka berbincang – untuk rincinya silakan tonton sendiri filmnya ya hehe – yang isi pertanyaannya kurang lebih seperti ini: Mana yang lebih sulit untuk dilakukan oleh orangtua: menyediakan kehidupan yang baik untuk anak-anaknya, atau membersamai mereka saat mengalami kesulitan dalam hidupnya. Pertanyaan retoris itu dijawab sendiri oleh sang ayah yang berkata bahwa, “Harta terbesar bagi setiap orangtua adalah dapat melihat anak-anaknya setiap hari”, which is menurut saya adalah suatu kesulitan yang tak bisa ditolak seiring tumbuh-kembang mereka. Saya, dari lubuk hati yang terdalam, ingin melihat anak-anak saya tumbuh dewasa dan memperhatikan bagaimana mereka akan menyelesaikan masalah-masalahnya. Saya berdoa semoga saya bisa mendapatkan kesempatan yang berharga itu dan, tentu saja, membekali diri agar bisa menjadi orangtua dan penasehat yang sebaik-baiknya. Saya tahu ini bukan perkara mudah. Saya bahkan merasa sedikit kecut saat mula-mula membayangkannya.

Saya tidak tahu, apakah perasaan semacam ini hanya saya sendiri yang rasakan atau dirasakan juga oleh orangtua lainnya di belahan bumi ini? Saya berharap kita punya perasaan yang sama dalam tema ini agar kita, sebagai orangtua, bisa mendiskusikan tema yang bernuansa harap-harap-cemas sekaligus menarik ini dan bisa saling menyemangati saat salah satu dari kita, contohnya saya, terjerumus dalam perasaan takut dan khawatir tak berkesudahan. Tulisan ini merupakan cara saya mengekspresikan kekhawatiran itu. Tulisan ini mungkin awal dari kekhawatiran-kekhawatiran lain yang akan timbul seiring berjalannya waktu dan berlalunya kesempatan. Saya berharap, ada tulisan lain yang akan mengiringi sekaligus melengkapi tulisan sederhana ini agar dapat mengingatkan saya sekaligus membekali saya untuk menjalani tugas saya sebagai orangtua, orangtua belia dengan segala kekurangannya. Semoga Allah mudahkan urusan ini. Aamiin.
[wahidnugroho.com]

Kilongan, Juni 2014

Rabu, 18 Juni 2014

Padaku Tentangmu

Saat malam beranjak larut, kau hanya mendengar bisikan angin malam yang berhembus pelan dan suara dengkuran anak-anakmu yang sudah terlelap. Nafas mereka ajeg, teratur, dan tampak tenang. Sesekali mereka menggeliat, sebelah tangannya menggaruk-garuk kepala mereka yang mungil, lalu kembali tenggelam dalam tidurnya. Posisi mereka tampak seperti daun-daun yang berserak. Si sulung tengkurap di sudut itu, si tengah terlentang di dekat sini, dan si bungsu memeluk gulingnya yang berbau apak. Langit cerah, bintang gemerlapan, nyaris tanpa awan.

Kau menatap istrimu yang masih terjaga. Di tangannya ada sebuah buku yang cukup tebal, pandangannya jatuh ke sana. Ia tampak sedang khusyuk membaca. Kau mulai memerhatikan setiap detil darinya. Wajahnya seolah diselimuti cahaya, matanya bergerak kesini dan kesana. Kau mulai memerhatikan rambutnya yang jatuh di bahunya yang mungil, membaui aromanya yang harum, dan teksturnya yang halus. Kau hafal betul dengan aroma dan rasa itu. Pandanganmu menjelajahi citranya satu demi satu. Perlahan-lahan, kau mulai menikmati citra yang terindra dari makhluk manis yang telah jadi milikmu seutuhnya itu. Tengkuknya yang dipenuhi surai harus membuat bulu kudukmu meremang.

Kau memerhatikan jemarinya yang lentik itu saat membolak-balik halaman buku yang sedang dibacanya. Tiba-tiba saja, hatimu membisikkan kata-kata “Andai aku buku yang sedang dipegangnya itu” tapi langsung saja kau bantah bisikan itu “Aku bisa mendapatkan sesuatu yang jauh lebih intens ketimbang apa yang didapatkan dari sebuah buku. Huh!”. Saat hendak membalik halaman buku, sekonyong-konyong kepala dan lehernya yang serasi itu menyibak secuil bagian pribadinya. Bagian yang tiba-tiba saja memecah konsentrasimu karenanya. Bagian yang, ah, bagaimana aku harus menyebutnya? Sebut saja itu adalah secuil-bagian-pribadi-yang tersingkap. Namun ia yang sedang kau perhatikan itu tampak abai dengan “sibakan” kecil itu dan tetap sibuk dengan bacaannya. Beberapa detik lalu, sikap abai itu pun menghilang saat ia menyadari ada secuil bagian pribadinya yang tersingkap. Ia lalu melirik ke arahmu, tatapan matanya yang bening itu, dengan pandangan tersipu-sipu, malu ia sepertinya. Dengan gerakan yang anggun, ia perbaiki pose membacanya, ia tegakkan posisinya hingga secuil-bagian-pribadi-yang-tersingkap itu pun ditutupnya. Tiba-tiba saja, dunia seperti berjalan dalam tempo yang sangat lambat dan kau pun menikmati setiap sepersekian gerakan menutup secuil-bagian-pribadi-yang-tersingkap itu dengan pandangan penuh arti. Nafasmu tiba-tiba saja memburu, tapi kau sepertinya tak ingin terburu-buru. Kau masih ingin menikmati citra yang menawan itu dengan seksama. Kau masih butuh beberapa waktu lagi untuk berlanjut ke tahap selanjutnya.

Suara jangkrik dari samping rumah mengisi malam yang hening dengan kerikannya yang datang dan pergi. Kau mulai mendekati citra di hadapanmu, perlahan-lahan. Aroma tubuhnya yang manis menggodamu untuk segera bertindak lebih jauh, tapi kau mengurungkannya. Kau lalu menyentuh bagian dari tubuhnya yang sangat kau sukai, begitu pula dengannya, perlahan-lahan. Ia mulai tampak kehilangan konsentrasi dengan buku yang sedang dibacanya. Ia pun mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya kepada dirimu, tersenyum, senyum yang indah, dan memandangmu dengan penuh arti. Sepertinya ia mengerti arti sebuah tatapan yang saling bersua itu dan meletakkan buku yang sedang dibacanya itu. Ia lalu bangkit dari “singgasananya”, pandangan matanya menuntunmu untuk segera mengikutinya. Kau pun ikut bangkit dan mengikuti aroma manis yang menyeruak dari setiap lekuk tubuhnya yang memanjakan pandanganmu. Lekuk itu tak terlalu jelas terlihat sebenarnya karena dibalut dengan baju terusannya yang longgar dan terseret-seret di atas lantai rumahmu yang, entah kenapa, terasa sangat dingin malam itu. Tapi kau hafal betul dengan bentuknya, lekuknya, siluetnya, dimensinya, kekenyalannya, ah, kepalamu sudah mulai dipenuhi dengan pikiran yang tak karuan. Ia lalu berbalik, menatap matamu, menyentuh tengkukmu, dan tiba-tiba saja aromanya yang manis itu memenuhi rongga jiwamu. Menyelusup ke bilik-bilik qalbumu.

Malam makin larut. Suara-suara yang mewarnai malam perlahan mulai hilang satu demi satu. Kau tak lagi mengabaikan suara-suara itu karena ada suara lain yang telah merampas perhatianmu. Suara yang dengan menikmatinya telah menggelorakan hasrat paling purbamu karenanya. Hasrat yang menghadirkan syurga di dunia indrawi. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juni 2014 

Senin, 16 Juni 2014

Buntu

Kursor di layar laptop saya tampak berkedip-kedip di salah satu sudutnya, belum beranjak kemanapun. Tumpukan buku yang ada di atas meja terlihat pasrah dengan nasibnya yang tengah saya abaikan. Beberapa di antaranya tampak terbuka dan sebagian yang lain telah saya tandai dengan lipatan di salah satu halamannya agar mudah saya cari saat saya ingin lanjut membacanya. Malam yang suntuk. Begitu banyak ide yang menyemang di dalam kepala saya, tapi tak juga mampu saya konversi menjadi tulisan. Tapi kepala ini serasa buntu. Seperti sembelit, catatan-catatan ringkas yang sudah mulai saya buat sejak tempo hari jadi mandeg, stuck, buntu to the max. Saya mencoba mendengarkan musik untuk membangunkan ‘mood’ menulis yang sedang loyo itu. Hasilnya masih saja nihil. Lagu-lagu yang biasanya jadi moodboster paling mujarab justru menambah kesuntukan saya kala itu. Saya lalu beranjak sebentar dari kubikel saya di kamar belakang, mematikan pemutar musik di laptop butut saya, lalu berjalan ke bagian depan rumah ini, memandangi anak-anak yang sedang asyik bermain di ruang tamu dan berlarian sampai ke dapur. Istri saya masih asyik dengan buku bacaannya dan saya tidak hendak mengganggunya saat itu. Saya meraih putri bungsu saya, menciumi dan menggodanya, lalu beranjak ke putri tengah dan putri sulung saya. Satu-persatu saya coba tagih cipika-cipiki-nya, dan berhasil. Saya juga mencoba ngobrol sebentar dengan si sulung perihal kegiatannya saat itu. Setelah beberapa menit puas mengobrol, menciumi, dan memeluk ketiga putri saya, saya berniat kembali ke kubikel di kamar belakang untuk melanjutkan kegiatan saya. Sambil berjalan ke dapur, saya sempat melirik ke arah kamar depan untuk melihat istri saya yang ternyata masih juga asyik dengan buku bacaannya.

Ha! Menyebalkan betul! Benar-benar kebuntuan yang menyebalkan. Saya sungguh merasa sebal dengan diri saya sendiri ketika itu. Kejadian-kejadian yang berseliweran di sepanjang pekan ini sebenarnya sudah saya gadang-gadang untuk segera saya tulis dan saya kembangkan untuk jadi bahan cerita yang sedang saya garap, termasuk beberapa ide yang mondar-mandir di sepanjang perjalanan pulang-pergi-rumah-kantor yang saya lakoni setiap hari, yang sudah saya catat bagian-bagian kecilnya di notes handphone lawas saya pun sudah siap untuk “dimainkan”, tapi, entah karena sebab apa, malam itu saya benar-benar sedang tidak dalam mood yang bagus untuk menulis. Astaghfirullah. Beberapa kalimat dan paragraf yang sudah saya tulis saya hapus lagi dan lagi karena saya tidak merasa puas dengannya, sebagiannya lagi saya simpan begitu saja di laptop tanpa menjudulinya lebih dulu.

Apa yang paling menyebalkan itu bukan karena tidak ada hal yang ingin kita tulis, tapi ketika ada banyak hal yang sebenarnya ingin kita tulis namun mood untuk menuliskannya justru menguap ke langit-langit, tertiup angin ke tempat yang jauh, dan menghilang seiring suara kerikan jangkrik dan laju waktu yang berlalu. Ha! Tak heran kalau sampai detik ini saya masih juru catat amatir! Sampai-sampai tulisan kutukupret kayak begini harus saya buat dan upload ke blog ini demi berdamai dan, terutama, berapologi dengan kebodohan saya sendiri! Sigh! [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juni 2014 

Selasa, 10 Juni 2014

Luwuk dan Budaya Menulis

Saya mengenal banyak orang cerdas di Luwuk ini. Itu mungkin karena asupan ikan segar selalu jadi makanan mereka sehari-hari. Orang-orang cerdas yang saya kenal itu biasanya punya kemampuan retorika yang bagus, kemampuan analisa yang cemerlang, dan ide-ide yang terkadang out of the box. Orang-orang cerdas itu bukan saja orang yang mengenyam pendidikan tinggi atau mereka yang punya status sosial kelas menengah ke atas, tapi juga tukang ojek, buruh panggul di pelabuhan, supir taksi, penjual sayur di pasar, bahkan seorang tukang kayu yang sekolah dasar saja tidak tamat. Mereka yang saya sebutkan itu berasal dari lintas suku, ras, dan agama. Berhubung kejadiannya di Luwuk ya saya sebut saja mereka sebagai orang-orang Luwuk.

Salah satu tanda cerdasnya orang-orang Luwuk ini adalah bentuk guyonan mereka yang bikin kita “mikir-dulu-sebelum-ketawa”. Meski tak jarang guyonan itu berbau SARA atau nyerempet ke hal-hal yang erotis, misalnya. Soal ini, saya menyimpan beberapa cerita yang masih saya ingat. Mungkin kebanyakan orang Sulawesi memang cerdas-cerdas alami seperti itu. Coba saja main ke grup bakusedu Gorontalo, Manado atau Luwuk, misalnya. Ada guyonan porno atau sara tapi cerdas yang cukup bejibun di sana yang jika dikaji lebih lanjut sebenarnya menunjukkan tingkat kecerdasan orang-orang itu meski dalam bentuk yang bisa kita kritisi benar salahnya.

Akan tetapi, ada satu bagian yang cukup disayangkan sekaligus menjadi salah satu kelemahan: orang-orang di Luwuk tidak terbiasa menulis. Mungkin di antara mereka ada pula orang-orang yang suka menulis, tapi jumlahnya masih sangat sedikit. Oleh karena mereka tidak terbiasa menulis, yang bisa jadi tidak terbiasa pula membaca karena kurangnya bahan bacaan, membuat narasi mereka kadang tidak tertata, dan alur logika yang kerap sulit dibaca. Seperti serangan sporadis yang asal bunyi dan mudah dipatahkan. Orang-orang di Luwuk sepertinya lebih senang susupo alias bagosip alias bakarlota ketimbang menulis. Setidaknya ini yang saya alami ketika berdiskusi dengan orang-orang Luwuk atau, katakanlah, orang Sulawesi secara umum. Atau mungkin lingkup pergaulan saya yang masih sangat terbatas membuat saya punya kesimpulan seperti itu? Bisa saja. Oleh karenanya, mohon koreksi kalau apa yang saya tulis ini salah.

Sebagai contoh, saya pernah mengobrol dengan tetangga, seorang guru, sarjana, dan berniat mengambil tesis masternya. Waktu itu kami diskusi seru tentang asal-usul Kabupaten Banggai. Tetangga saya ini ternyata punya pendapat yang berbeda dengan buku-buku sejarah lokal yang selama ini beredar. Alasannya, ia mengkritisi sumber pengambilan sejarah itu yang kebanyakan berasal dari sumber sekunder dan tidak mengorek sampai ke sumber primer. Setelah berdiskusi panjang kali lebar sambil sesekali diiringi adu argumentasi, saya lalu bilang kepadanya “Kenapa bapak tidak menulis saja? Harusnya, sumber sejarah yang dituturkan secara lisan dan turun-temurun kepada bapak itu didokumentasikan dalam bentuk tertulis supaya bisa sama-sama kita kritisi dan diskusikan. Kalau hanya katanya dan katanya saja kan jadi sulit kita melakukan pengujian tingkat otentisitasnya”. Tetangga saya itu lalu terdiam dan sepertinya cukup terpengaruh dengan kata-kata saya, dimana akhirnya ia bertekad untuk menuliskan apa yang diketahuinya itu suatu hari nanti. Saya memegang janjinya itu dan bersiap untuk selalu mengingatkannya kelak, termasuk menawarinya bantuan bilamana perlu.

Kembali ke soal kelemahan.

Kelemahan itu akan tampak jelas ketika kita membaca media cetak lokal yang terbit di Luwuk semisal Luwuk Post, Media Banggai, Pantau, atau media cetak lainnya yang datang silih berganti, yang salah satu kelemahan utamanya adalah soal kualitas tulisan para jurnalisnya yang masih jauh dari bagus. Saya tidak merasa sebagai orang yang punya kemampuan menulis dengan bagus dan sempurna, hanya saja, mungkin selera baca saya memang cukup bagus, sehingga saya bisa bilang seperti itu, hehe. Bahkan penulis-penulis bergelar master dan doktor saja kadang masih tidak nyaman dibaca tulisannya seperti; terlalu kaku, mengandung kesalahan ejaan, dan seperti sebuah salinan orang yang sedang pidato, bagaimana pula dengan generasi mudanya yang hanya bangga dengan motor dan mobil mengkilap yang dikendarainya ke sekolah, atau mereka yang hanya jago ketawa-ketiwi sambil ngobrolin katanya dan katanya saja di kantin sekolah atau di pinggir-pinggir jalan? Ini adalah sebuah situasi yang cukup memprihatinkan dan perlu diberikan perhatian yang lebih dari cukup oleh pemerintah melalui dinas-dinas terkait. Apalagi paska terbakarnya perpustakaan daerah beberapa waktu silam. Pemerintah daerah perlu melakukan upaya keras agar dunia literasi di Luwuk khususnya dan Kabupaten Banggai pada umumnya bisa bergerak ke arah yang lebih maju, dan bukan sebaliknya.

Anda yang pernah atau sedang berada di Luwuk, cobalah sesekali membaca media-media cetak yang terbit di kota ini, lalu baca bagian demi bagiannya dengan perlahan dan perhatikan kesalahan-kesalahan mendasar yang kerap berulang dalam tulisan-tulisannya. Bukan hanya hasil tulisan para wartawan, kolom opini pembaca yang terdapat di salah satu media cetak tersebut pun tak luput dari kesalahan mendasar tersebut, bil khusus opini yang dibuat oleh penulis-penulis lokal. Terkadang ada kesalahan ejaan, kesalahan tanda baca, sampai menulis artikel sepanjang dua atau tiga baris dalam satu paragraf saja. Tapi tak melulu tulisan-tulisan para wartawan itu menjemukan dan tidak enak dibaca, saya pun mengamati tulisan para wartawan itu yang punya kualitas sangat baik dan enak untuk dibaca.

Terakhir, saya sedang berusaha untuk mengumpulkan bakat-bakat yang terserak itu agar mereka kembali menajamkan pena dan mengaktifkan tuts keyboard dengan cara menulis. Menulis apapun. Setelah beberapa pertemuan yang kami langsungkan, meski dalam skala kecil, saya mulai melihat kembali nyala semangat di mata mereka, dan mendorongnya agar semangat itu bisa didistribusikan kepada teman-teman seperjuangan mereka lainnya. Ada yang merespon ajakan ini dengan semangat, meski ada juga yang tidak. Tidak apa-apa. Namanya juga mengajak. Soal keputusan itu merekalah yang membuatnya.

Itulah sebabnya pula, saya kerap memerhatikan tulisan demi tulisan yang mereka buat baik di blog, koran, maupun di lini masa mereka. Saya ungkapkan kesukaan saya pada satu bagian, dan saya sampaikan keberatan saya pada bagian yang lainnya. Ini memang kerja yang tidak mudah. Saya bukan siapa-siapanya mereka dan mereka juga bukan siapa-siapanya saya. Lagipula, saya ini siapa? Penulis bukan. Wartawan juga bukan. Pemimpin redaksi apalagi. Saya memang bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya. Saya hanya orang yang senang mengamati dunia literasi di Luwuk, senang membaca satu dua buku, senang menulis di laptop pribadi saya yang sudah berumur lima tahun dan baterainya sudah rusak itu, sembari menitipkan harapan saya untuk perbaikan lini ini ke depannya.

Hanya kecintaan kepada dunia literasi dan harapan akan masa depan daerah ini yang lebih beradab-lah, yang bisa mengeksplorasi potensi-potensi terbaik daerah ini, yang kemudian menjadi salah satu motivasi terkuat saya untuk bergerak di tengah keterbatasan yang ada. Untuk tetap mencatat di tengah aroma apatisme dan individualisme yang menyengat kuat. Untuk tetap menulis ketika belum ada seorang pun yang peduli dan memerhatikan tulisan-tulisan kita. Tidak apa, memang inilah, sebagaimana kata Muhidin M. Dahlan, jalan sunyi seorang (calon) penulis yang akan saya dan mereka tempuh bersama-sama.

Bagaimana. Anda tertarik bergabung? [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juni 2014 

Sabtu, 07 Juni 2014

Dari Teras Rumah Ini


Dari teras rumah ini, aku bisa melihat bayang-bayang pulau Peling di kejauhan. Bukit-bukitnya yang meliuk-liuk, yang terkadang diselimuti awan putih atau diurapi sinar matari. Dari teras rumah ini, aku bisa melihat ufuk timur tempat matari itu datang dan melingkari kota ini dengan sinarnya yang terik. Sinar kehidupan. Dari teras ini pula aku bisa melihat bukit-bukit yang mengelilingi kota kecil ini nun jauh di sana, pucuk-pucuknya yang kerap jadi saksi perginya sang matari ke ufuk barat, dan menggantinya dengan kegelapan yang keramat. Dari teras rumah ini aku dapat memandangi langit yang berwarna kelabu, biru, dan terkadang ungu tua. Dari teras rumah ini aku pun dapat memandangi buih ombak yang memutih di kejauhan, serta suara deburnya ketika sunyi mendadak datang menyergap. Dari teras rumah ini, aku mulai jatuh cinta dengan sebuah kota.

Aku tidak tahu pasti kapan tepatnya aku mulai memutuskan untuk jatuh cinta dengan kota kecil berteluk indah ini: Jatuh cinta dengan warna-warni langitnya; jatuh cinta dengan lekukan bukit-bukitnya; jatuh cinta dengan bagaimana sinar matari sore perlahan menghilang dari balik bukit itu dan menyeruakkan seberkas sinarnya yang berwarna jingga; jatuh cinta dengan nyanyian ombak; jatuh cinta dengan suara air hujan kala bercumbu dengan pucuk-pucuk pepohonan dan perlahan berjalan untuk mencumbui pucuk-pucuk yang lainnya; jatuh cinta dengan kepakan sayap elang yang membentang luas di batas cakrawalanya; jatuh cinta dengan kecipak ikannya; jatuh cinta dengan airnya yang jernih; jatuh cinta dengan sang pemilik sepasang mata bening tempat hati ini berlabuh di dalamnya.

Memang, tak semua yang ada di kota ini indah adanya. Aku pun menyimpan kebencian, ketakutan, kekhawatiran, kegelisahan, dan keresahan di atas permukaan jalannya yang berdebu. Di antara padatnya bangunan yang saling bertumpuk-tumpuk. Di antara manusia-manusianya, dan banyak hal lainnya. Tapi kesemua itu tidak menyurutkan rasa cintaku kepadamu.

Mungkin saja, semua itu bermula dari dirimu. Dirimulah yang perlahan menyuntikkan rasa cinta itu kepadaku. Dirimulah yang secara perlahan telah meyakinkanku untuk memancang pondasi mimpi-mimpi itu di kota ini kepadaku. Dirimulah alasan mengapa cinta itu hadir, bermukim, dan bermalam. Bergolak timbul tenggelam. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juni 2014 

Tentang Pelajaran Hidup


Suasana jalan R.E. Martadinata masih tampak lengang. Waktu Isya baru saja lewat beberapa menit yang lalu. Lampu-lampu merkuri berwarna jingga menerangi beberapa ruas jalan yang biasanya tampak gelap. Dua orang wanita paruh baya sedang duduk termenung di depan rumah kayu sambil menatap kosong ke selat Peling yang tenang dan nyaris tanpa ombak. Seorang penjual bakwan Malang sedang duduk di kursi plastik di atas trotoar yang menjorok ke laut, sementara tangan kanannya yang bersandar pada meja kayu menopang salah satu sisi kepalanya yang kala itu mengenakan topi bisbol lusuh. Belum ada satu pun pembeli yang mampir ke ‘warungnya’ malam itu.

Saya mengurangi laju mobil dan mencolek istri di sebelah agar mengarahkan pandangannya ke sosok penjual bakwan Malang yang sedang mangkal di atas trotoar tersebut dan berharap agar jualannya malam ini habis. Istri saya mengaminkan doa itu dan kami meninggalkan secuil fragmen kehidupan tersebut menuju masjid Al Ukhuwah, Tanjung, tempat yang jadi destinasi perjalanan kami sekeluarga malam itu.

Ada sebuah kebahagiaan yang menyeruak dalam hati saya ketika melihat pemandangan seorang tukang roti keliling yang sedang berjalan pulang sambil memanggul kotak tempat ia menjual rotinya sudah kosong pada suatu sore. Atau melihat seorang tukang bakso yang mie dan bahan-bahan bakso lainnya sudah tidak tampak di dalam gerobaknya karena sudah habis. Atau saat melihat keranjang tukang sayur keliling yang sudah nyaris habis, atau ketika melihat tukang batagor yang kerap melintas di depan warung bubur kami sudah habis dagangannya. Saya juga merasa gelo hati ketika melihat dagangan seseorang tak kunjung habis padahal waktu sudah beranjak sore atau larut. Atau saat melihat seorang perempuan tua sedang duduk termenung di warung pisang gorengnya, matanya menatap kosong ke bangku-bangku warungnya yang nyaris seharian belum terisi, sementara baru satu dua porsi pisang gorengnya yang laku terjual. Saya dan istri suka mbatin dengan nasib usaha teman-teman yang sepi dari penjual dan bahkan beberapa di antaranya ada yang tutup karena satu dan lain hal. Menyaksikan peristiwa seperti itu, membuat kesyukuran saya berlipat ganda dan menyuntikkan energi sabar yang berlipat pula dalam diri saya dan istri.

Terkadang, kita perlu juga merasakan kepahitan dalam hidup, supaya kelak ketika garis ikhtiar yang sedang kita jalani ini bertemu dengan takdir kesuksesannya, kita bisa memaknai momen-momen yang pahit dan tidak menyenangkan itu menjadi sebuah rasa syukur di dalam hati dan pelajaran hidup yang berlimpah-ruah.

Saat menulis ini, Kilongan sedang diguyur hujan yang cukup deras sejak menjelang Maghrib tadi. Istri saya baru saja membuatkan susu coklat panas untuk saya. Sambil menatap rak di depan saya yang berisi deretan buku-buku, saya jadi teringat dengan beberapa lapak yang kerap saya datangi saat malam menjelang untuk memenuhi beberapa keperluan seperti warung nasi goreng, warung sari laut, warung nasi kuning, penjual kaset di dekat pasar Sentral, para kuli angkut di pelabuhan, para penjual bakso dan bakwan Malang yang biasa mangkal di sepanjang pesisir pantai di Tanjung, dan penjual lainnya yang sedang bergulat dengan takdir mereka masing-masing sambil menyelipkan doa agar ikhtiar mereka malam ini mendapatkan hasil yang memuaskan dan hati yang penuh kesyukuran saat menyadari bahwa kenyataan terkadang tidak seindah impian. Aamiin. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Juni 2014