Senin, 02 Juni 2014

Bubur Ayam?


Kenapa harus bubur ayam?

Kenapa bukan buka kafe anu, jualan baju itu, atau bakulan yang lain semisal franchise-franchise yang sudah lebih dulu punya nama? Kenapa bubur ayam?

Saya sadar betul, bahwa menjual bubur ayam, bil khusus bubur ayam khas Cirebon, sebagai menu sarapan di kota ini bukanlah sesuatu yang populer ketika sebagian besar orang di kota ini cenderung menjadikan nasi kuning dan kue basah seperti kue panada, lalampa, apollo, dan untuk, sebagai menu sarapan mereka. Saya pun sadar dengan sesadar-sadarnya bahwa menu bubur ayam masih terasa ‘asing’ untuk sebagian besar orang ketika mereka telah terbiasa makan bubur dengan varian lain semisal bubur Manado (Tinutuan) atau bubur khas Luwuk yang saya lihat lebih mirip dengan bubur Makassar.

Saya berkata kepada istri, bahwa membuka warung bubur ayam di Luwuk berarti sama dengan menciptakan sebuah budaya baru, budaya sarapan baru, yang artinya akan mengubah kebiasaan-kebiasaan yang sudah tertanam di dalam benak mereka sejak lama, sejak dahulu kala. Itulah sebabnya, saya menargetkan warga pendatang dan atau warga Luwuk yang sebelumnya pernah tinggal di Jakarta sebagai captive market warung bubur itu. Memang belum terlihat signifikan bila dibandingkan dengan jualan bubur ayam di Jakarta, tapi untuk usaha kecil yang baru berjalan tiga bulan lebih sedikit, progres warung ini boleh dibilang cukup menggembirakan. Itu karena saya selalu meminta istri untuk memerhatikan wajah para pembeli yang datang ke warung, apakah ada pembeli yang rutin datang ke warung atau ada wajah-wajah baru yang datang setiap harinya. Ternyata jawabannya adalah yang ke dua. Itu artinya, jumlah pembeli bubur ini bisa dibilang bertambah meski frekuensi belinya tidak atau belum signifikan.

Saat ini, saya sedang menatap perkembangan kota Luwuk ini untuk dua atau tiga tahun ke depan. Saya sedang memupuk benih prasangka baik dan optimisme saya terhadap masa depan kota ini. Dan benih itu pula yang ingin saya bagikan kepada istri saya di samping benih kerja keras yang mutlak ada dalam setiap dunia usaha. Bismillahi tawakkaltu ‘alallah. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Mei 2014 

Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar