Selasa, 10 Juni 2014

Luwuk dan Budaya Menulis

Saya mengenal banyak orang cerdas di Luwuk ini. Itu mungkin karena asupan ikan segar selalu jadi makanan mereka sehari-hari. Orang-orang cerdas yang saya kenal itu biasanya punya kemampuan retorika yang bagus, kemampuan analisa yang cemerlang, dan ide-ide yang terkadang out of the box. Orang-orang cerdas itu bukan saja orang yang mengenyam pendidikan tinggi atau mereka yang punya status sosial kelas menengah ke atas, tapi juga tukang ojek, buruh panggul di pelabuhan, supir taksi, penjual sayur di pasar, bahkan seorang tukang kayu yang sekolah dasar saja tidak tamat. Mereka yang saya sebutkan itu berasal dari lintas suku, ras, dan agama. Berhubung kejadiannya di Luwuk ya saya sebut saja mereka sebagai orang-orang Luwuk.

Salah satu tanda cerdasnya orang-orang Luwuk ini adalah bentuk guyonan mereka yang bikin kita “mikir-dulu-sebelum-ketawa”. Meski tak jarang guyonan itu berbau SARA atau nyerempet ke hal-hal yang erotis, misalnya. Soal ini, saya menyimpan beberapa cerita yang masih saya ingat. Mungkin kebanyakan orang Sulawesi memang cerdas-cerdas alami seperti itu. Coba saja main ke grup bakusedu Gorontalo, Manado atau Luwuk, misalnya. Ada guyonan porno atau sara tapi cerdas yang cukup bejibun di sana yang jika dikaji lebih lanjut sebenarnya menunjukkan tingkat kecerdasan orang-orang itu meski dalam bentuk yang bisa kita kritisi benar salahnya.

Akan tetapi, ada satu bagian yang cukup disayangkan sekaligus menjadi salah satu kelemahan: orang-orang di Luwuk tidak terbiasa menulis. Mungkin di antara mereka ada pula orang-orang yang suka menulis, tapi jumlahnya masih sangat sedikit. Oleh karena mereka tidak terbiasa menulis, yang bisa jadi tidak terbiasa pula membaca karena kurangnya bahan bacaan, membuat narasi mereka kadang tidak tertata, dan alur logika yang kerap sulit dibaca. Seperti serangan sporadis yang asal bunyi dan mudah dipatahkan. Orang-orang di Luwuk sepertinya lebih senang susupo alias bagosip alias bakarlota ketimbang menulis. Setidaknya ini yang saya alami ketika berdiskusi dengan orang-orang Luwuk atau, katakanlah, orang Sulawesi secara umum. Atau mungkin lingkup pergaulan saya yang masih sangat terbatas membuat saya punya kesimpulan seperti itu? Bisa saja. Oleh karenanya, mohon koreksi kalau apa yang saya tulis ini salah.

Sebagai contoh, saya pernah mengobrol dengan tetangga, seorang guru, sarjana, dan berniat mengambil tesis masternya. Waktu itu kami diskusi seru tentang asal-usul Kabupaten Banggai. Tetangga saya ini ternyata punya pendapat yang berbeda dengan buku-buku sejarah lokal yang selama ini beredar. Alasannya, ia mengkritisi sumber pengambilan sejarah itu yang kebanyakan berasal dari sumber sekunder dan tidak mengorek sampai ke sumber primer. Setelah berdiskusi panjang kali lebar sambil sesekali diiringi adu argumentasi, saya lalu bilang kepadanya “Kenapa bapak tidak menulis saja? Harusnya, sumber sejarah yang dituturkan secara lisan dan turun-temurun kepada bapak itu didokumentasikan dalam bentuk tertulis supaya bisa sama-sama kita kritisi dan diskusikan. Kalau hanya katanya dan katanya saja kan jadi sulit kita melakukan pengujian tingkat otentisitasnya”. Tetangga saya itu lalu terdiam dan sepertinya cukup terpengaruh dengan kata-kata saya, dimana akhirnya ia bertekad untuk menuliskan apa yang diketahuinya itu suatu hari nanti. Saya memegang janjinya itu dan bersiap untuk selalu mengingatkannya kelak, termasuk menawarinya bantuan bilamana perlu.

Kembali ke soal kelemahan.

Kelemahan itu akan tampak jelas ketika kita membaca media cetak lokal yang terbit di Luwuk semisal Luwuk Post, Media Banggai, Pantau, atau media cetak lainnya yang datang silih berganti, yang salah satu kelemahan utamanya adalah soal kualitas tulisan para jurnalisnya yang masih jauh dari bagus. Saya tidak merasa sebagai orang yang punya kemampuan menulis dengan bagus dan sempurna, hanya saja, mungkin selera baca saya memang cukup bagus, sehingga saya bisa bilang seperti itu, hehe. Bahkan penulis-penulis bergelar master dan doktor saja kadang masih tidak nyaman dibaca tulisannya seperti; terlalu kaku, mengandung kesalahan ejaan, dan seperti sebuah salinan orang yang sedang pidato, bagaimana pula dengan generasi mudanya yang hanya bangga dengan motor dan mobil mengkilap yang dikendarainya ke sekolah, atau mereka yang hanya jago ketawa-ketiwi sambil ngobrolin katanya dan katanya saja di kantin sekolah atau di pinggir-pinggir jalan? Ini adalah sebuah situasi yang cukup memprihatinkan dan perlu diberikan perhatian yang lebih dari cukup oleh pemerintah melalui dinas-dinas terkait. Apalagi paska terbakarnya perpustakaan daerah beberapa waktu silam. Pemerintah daerah perlu melakukan upaya keras agar dunia literasi di Luwuk khususnya dan Kabupaten Banggai pada umumnya bisa bergerak ke arah yang lebih maju, dan bukan sebaliknya.

Anda yang pernah atau sedang berada di Luwuk, cobalah sesekali membaca media-media cetak yang terbit di kota ini, lalu baca bagian demi bagiannya dengan perlahan dan perhatikan kesalahan-kesalahan mendasar yang kerap berulang dalam tulisan-tulisannya. Bukan hanya hasil tulisan para wartawan, kolom opini pembaca yang terdapat di salah satu media cetak tersebut pun tak luput dari kesalahan mendasar tersebut, bil khusus opini yang dibuat oleh penulis-penulis lokal. Terkadang ada kesalahan ejaan, kesalahan tanda baca, sampai menulis artikel sepanjang dua atau tiga baris dalam satu paragraf saja. Tapi tak melulu tulisan-tulisan para wartawan itu menjemukan dan tidak enak dibaca, saya pun mengamati tulisan para wartawan itu yang punya kualitas sangat baik dan enak untuk dibaca.

Terakhir, saya sedang berusaha untuk mengumpulkan bakat-bakat yang terserak itu agar mereka kembali menajamkan pena dan mengaktifkan tuts keyboard dengan cara menulis. Menulis apapun. Setelah beberapa pertemuan yang kami langsungkan, meski dalam skala kecil, saya mulai melihat kembali nyala semangat di mata mereka, dan mendorongnya agar semangat itu bisa didistribusikan kepada teman-teman seperjuangan mereka lainnya. Ada yang merespon ajakan ini dengan semangat, meski ada juga yang tidak. Tidak apa-apa. Namanya juga mengajak. Soal keputusan itu merekalah yang membuatnya.

Itulah sebabnya pula, saya kerap memerhatikan tulisan demi tulisan yang mereka buat baik di blog, koran, maupun di lini masa mereka. Saya ungkapkan kesukaan saya pada satu bagian, dan saya sampaikan keberatan saya pada bagian yang lainnya. Ini memang kerja yang tidak mudah. Saya bukan siapa-siapanya mereka dan mereka juga bukan siapa-siapanya saya. Lagipula, saya ini siapa? Penulis bukan. Wartawan juga bukan. Pemimpin redaksi apalagi. Saya memang bukan siapa-siapa dan tidak ada apa-apanya. Saya hanya orang yang senang mengamati dunia literasi di Luwuk, senang membaca satu dua buku, senang menulis di laptop pribadi saya yang sudah berumur lima tahun dan baterainya sudah rusak itu, sembari menitipkan harapan saya untuk perbaikan lini ini ke depannya.

Hanya kecintaan kepada dunia literasi dan harapan akan masa depan daerah ini yang lebih beradab-lah, yang bisa mengeksplorasi potensi-potensi terbaik daerah ini, yang kemudian menjadi salah satu motivasi terkuat saya untuk bergerak di tengah keterbatasan yang ada. Untuk tetap mencatat di tengah aroma apatisme dan individualisme yang menyengat kuat. Untuk tetap menulis ketika belum ada seorang pun yang peduli dan memerhatikan tulisan-tulisan kita. Tidak apa, memang inilah, sebagaimana kata Muhidin M. Dahlan, jalan sunyi seorang (calon) penulis yang akan saya dan mereka tempuh bersama-sama.

Bagaimana. Anda tertarik bergabung? [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juni 2014 

Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar