Senin, 23 Juni 2014

FLP Banggai Piye Kabare?

Tiga belas Juni tahun dua ribu sepuluh adalah hari yang sangat bersejarah dimana pada hari itu seorang penulis terkenal bernama Habiburrahman Saerozy, atau yang biasa disapa Kang Abik, melabuhkan langkahnya di kota Luwuk untuk mengisi sebuah acara yang digagas oleh FSLDK Kabupaten Banggai. Selain menghadiri acara tersebut, kedatangan beliau juga sekaligus meresmikan kembali sebuah organisasi kepenulisan bernama Forum Lingkar Pena (FLP) Banggai. Saya tidak terlalu mengerti dengan sejarah organisasi tersebut di wilayah ini, namun dengan diresmikannya organisasi kepenulisan yang cukup terkenal itu saya pribadi turut berbahagia karenanya. Saya menuliskan ini hanya berdasar ingatan saja dan karenanya mungkin akan ada detail yang terlewat dan bisa jadi kurang tepat.

Paska kedatangan Kang Abik, beberapa anggota FLP Banggai tersebut kemudian mengikuti kegiatan pelatihan jurnalistik yang digagas oleh Ustadz Iswan Kurnia Hasan. Pengalamannya selama menempuh pendidikan Al Azhar di Mesir dan mengelola media yang cukup terkenal di sana bernama Sinai Mesir membekali anak-anak muda yang tengah bersemangat itu untuk mempertajam kualitas tulisan mereka sehingga tak hanya berbobot tapi juga nyaman dibaca. Pelatihan itu sekaligus diarahkan sebagai media untuk menghidupkan sebuah media propaganda Partai Keadilan Sejahtera Kabupaten Banggai yang diberi tajuk Narasi Keadilan. Setelah itu, saya mendapati tulisan-tulisan pendek anak-anak muda itu bertebaran di dunia maya, baik di facebook dan di blog-blog pribadi mereka, termasuk di media propaganda tersebut yang oplahnya masih sangat terbatas. Saya cukup beruntung bisa mendapatkan beberapa edisi dari tabloid itu melalui istri saya yang aktif di partai tersebut. Meski saya tidak mendampingi lahirnya semangat baru itu dari jarak dekat, namun kemunculan juru ketik-juru ketik baru tersebut membawa hawa baru yang menyegarkan dunia literasi di Luwuk yang masih jauh dari menggembirakan.

Beberapa alumnus pelatihan jurnalistik tersebut, yang juga merupakan awak FLP Banggai, kemudian sempat pula melakukan pelatihan jurnalistik bagi para mahasiswa sekitar dua tahun lalu yang dihelat oleh Ikatan Mahasiswa Islam Unismuh Luwuk. Pelatihan yang kelak melahirkan buletin mahasiswa yang diedarkan secara terbatas di lingkungan kampus itu menyajikan beberapa materi kepenulisan yang sangat bagus. Saya pun sempat ditunjuk sebagai narasumber dalam acara tersebut dan mencoba untuk berbagi hal-hal yang positif seputar dunia tulis menulis meski secara pribadi saya merasa belum pantas untuk berdiri di depan sana dan berceloteh ngalor-ngidul tentang dunia kepenulisan yang saya sendiri masih sangat hijau di dalamnya. Setelah berturut-turut hingar-bingar kedatangan Kang Abik, Narasi Keadilan, kedatangan Cahyadi Takariawan, dan Pelatihan Jurnalistik di Unismuh usai, mendadak suasana menjadi senyap. Orang-orang yang dulu pernah mengikuti pelatihan jurnalistik perlahan menghilang hingga akhirnya, kalau bisa dikatakan, mati suri. Tulisan-tulisan yang dulu sempat tersebar di dunia maya, di buletin dan tabloid yang sempat terbit secara berkala hilang nyaris tanpa jejak. Saya tidak tahu sebabnya apa, tapi, melihat fakta yang menyedihkan ini, saya hanya bisa merasa prihatin di dalam hati saja. Dana bisa jadi salah satu faktor yang menyebabkan matinya tabloid dan buletin tersebut di samping minat baca mahasiswa-mahasiswa di sini yang masih sangat rendah. Namun di luar segala keterbatasan yang ada, mereka tak kunjung juga bergerak, menyatukan persepsi, mengumpulkan kembali bakat-bakat terpendam yang dulu pernah digali, dan melakukan sesuatu agar suara mereka kembali nyaring hingga ke langit tinggi. Sampai detik ini saya masih menunggu, dan menunggu.

Saya tidak hendak menyalahkan siapapun di sini. Mungkin saya pun mempunyai saham kesalahan yang cukup signifikan sehingga anak-anak muda itu tak lagi menulis. Mungkin saya baru bisa menggerutu dan menyesali kepasifan mereka untuk tidak lagi menulis seperti sedia kala. Saya lalu mengintrospeksi diri dan mencatat beberapa hal yang perlu saya catat dan mulai bergerak secara perlahan. Saya lalu menemui beberapa nama yang dulu sempat bersemangat menulis, menghubungi  beberapa orang yang dulu pernah saya baca tulisan-tulisannya yang ternyata masih menyimpan semangat yang sama, mengajak bicara beberapa orang yang masih ragu dengan kemampuan menulisnya namun akhirnya berhasil saya yakinkan untuk mengusir jauh-jauh keraguan itu dan mulai menulis, dan melakukan beberapa pertemuan kecil dengan objek pembicaraan yang masih remeh dan mengawang-awang.

Meski usaha untuk memulihkan semangat ini masih sangat dini, saya merasa senang dengan respon yang mereka berikan. Bagaimanapun, kita memang harus memaksa diri kita untuk kembali mengatur prioritas-prioritas hidup seiring dengan bekal-bekal yang telah kita dapatkan untuk meningkatkan kualitas diri kita di masa silam. Bekal-bekal itu dijejalkan kepada kita bukan oleh orang-orang sembarangan, namun dari orang-orang yang punya kapabilitas terbaik di bidangnya. Tidakkah mereka merasa sayang saat bekal-bekal yang berharga itu tertimbun di ruang-ruang yang kosong dan terlupakan sebab kegagalan mereka dalam mengatur prioritas hidup mereka? Saya mengajukan pertanyaan yang cukup tajam itu kepada mereka yang dijawab dengan respon yang cukup melegakan. Tapi, apa cukup hanya merasa lega setelah disentil dan tidak melanjutkannya ke ranah amal dengan cara bergerak dan mulai menulis? Hanya mereka sendiri yang bisa menjawabnya secara jujur.

Saya memang bukan orang yang paling tepat untuk berpendapat seperti itu. Tulisan ini sekaligus mengingatkan diri saya sendiri dengan kelalaian demi kelalaian yang telah saya lakukan selama bertahun-tahun dan karenanya saya ingin tidak hanya bangkit sendiri tapi juga mengajak talenta-talenta itu untuk ikut bangkit bersama. Semoga FLP Banggai serta anak-anak muda yang dulu pernah begitu semangat menulis dan menularkan semangat itu kepada umat ini bisa kembali menemukan spirit menulis yang sempat hilang itu. Nah, jadi, FLP Banggai, piye kabare?[wahidnugroho.com]


Kilongan, Juni 2014
Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar