Rabu, 18 Juni 2014

Padaku Tentangmu

Saat malam beranjak larut, kau hanya mendengar bisikan angin malam yang berhembus pelan dan suara dengkuran anak-anakmu yang sudah terlelap. Nafas mereka ajeg, teratur, dan tampak tenang. Sesekali mereka menggeliat, sebelah tangannya menggaruk-garuk kepala mereka yang mungil, lalu kembali tenggelam dalam tidurnya. Posisi mereka tampak seperti daun-daun yang berserak. Si sulung tengkurap di sudut itu, si tengah terlentang di dekat sini, dan si bungsu memeluk gulingnya yang berbau apak. Langit cerah, bintang gemerlapan, nyaris tanpa awan.

Kau menatap istrimu yang masih terjaga. Di tangannya ada sebuah buku yang cukup tebal, pandangannya jatuh ke sana. Ia tampak sedang khusyuk membaca. Kau mulai memerhatikan setiap detil darinya. Wajahnya seolah diselimuti cahaya, matanya bergerak kesini dan kesana. Kau mulai memerhatikan rambutnya yang jatuh di bahunya yang mungil, membaui aromanya yang harum, dan teksturnya yang halus. Kau hafal betul dengan aroma dan rasa itu. Pandanganmu menjelajahi citranya satu demi satu. Perlahan-lahan, kau mulai menikmati citra yang terindra dari makhluk manis yang telah jadi milikmu seutuhnya itu. Tengkuknya yang dipenuhi surai harus membuat bulu kudukmu meremang.

Kau memerhatikan jemarinya yang lentik itu saat membolak-balik halaman buku yang sedang dibacanya. Tiba-tiba saja, hatimu membisikkan kata-kata “Andai aku buku yang sedang dipegangnya itu” tapi langsung saja kau bantah bisikan itu “Aku bisa mendapatkan sesuatu yang jauh lebih intens ketimbang apa yang didapatkan dari sebuah buku. Huh!”. Saat hendak membalik halaman buku, sekonyong-konyong kepala dan lehernya yang serasi itu menyibak secuil bagian pribadinya. Bagian yang tiba-tiba saja memecah konsentrasimu karenanya. Bagian yang, ah, bagaimana aku harus menyebutnya? Sebut saja itu adalah secuil-bagian-pribadi-yang tersingkap. Namun ia yang sedang kau perhatikan itu tampak abai dengan “sibakan” kecil itu dan tetap sibuk dengan bacaannya. Beberapa detik lalu, sikap abai itu pun menghilang saat ia menyadari ada secuil bagian pribadinya yang tersingkap. Ia lalu melirik ke arahmu, tatapan matanya yang bening itu, dengan pandangan tersipu-sipu, malu ia sepertinya. Dengan gerakan yang anggun, ia perbaiki pose membacanya, ia tegakkan posisinya hingga secuil-bagian-pribadi-yang-tersingkap itu pun ditutupnya. Tiba-tiba saja, dunia seperti berjalan dalam tempo yang sangat lambat dan kau pun menikmati setiap sepersekian gerakan menutup secuil-bagian-pribadi-yang-tersingkap itu dengan pandangan penuh arti. Nafasmu tiba-tiba saja memburu, tapi kau sepertinya tak ingin terburu-buru. Kau masih ingin menikmati citra yang menawan itu dengan seksama. Kau masih butuh beberapa waktu lagi untuk berlanjut ke tahap selanjutnya.

Suara jangkrik dari samping rumah mengisi malam yang hening dengan kerikannya yang datang dan pergi. Kau mulai mendekati citra di hadapanmu, perlahan-lahan. Aroma tubuhnya yang manis menggodamu untuk segera bertindak lebih jauh, tapi kau mengurungkannya. Kau lalu menyentuh bagian dari tubuhnya yang sangat kau sukai, begitu pula dengannya, perlahan-lahan. Ia mulai tampak kehilangan konsentrasi dengan buku yang sedang dibacanya. Ia pun mengalihkan pandangannya dari buku di tangannya kepada dirimu, tersenyum, senyum yang indah, dan memandangmu dengan penuh arti. Sepertinya ia mengerti arti sebuah tatapan yang saling bersua itu dan meletakkan buku yang sedang dibacanya itu. Ia lalu bangkit dari “singgasananya”, pandangan matanya menuntunmu untuk segera mengikutinya. Kau pun ikut bangkit dan mengikuti aroma manis yang menyeruak dari setiap lekuk tubuhnya yang memanjakan pandanganmu. Lekuk itu tak terlalu jelas terlihat sebenarnya karena dibalut dengan baju terusannya yang longgar dan terseret-seret di atas lantai rumahmu yang, entah kenapa, terasa sangat dingin malam itu. Tapi kau hafal betul dengan bentuknya, lekuknya, siluetnya, dimensinya, kekenyalannya, ah, kepalamu sudah mulai dipenuhi dengan pikiran yang tak karuan. Ia lalu berbalik, menatap matamu, menyentuh tengkukmu, dan tiba-tiba saja aromanya yang manis itu memenuhi rongga jiwamu. Menyelusup ke bilik-bilik qalbumu.

Malam makin larut. Suara-suara yang mewarnai malam perlahan mulai hilang satu demi satu. Kau tak lagi mengabaikan suara-suara itu karena ada suara lain yang telah merampas perhatianmu. Suara yang dengan menikmatinya telah menggelorakan hasrat paling purbamu karenanya. Hasrat yang menghadirkan syurga di dunia indrawi. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juni 2014 
Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar