Sabtu, 07 Juni 2014

Tentang Pelajaran Hidup


Suasana jalan R.E. Martadinata masih tampak lengang. Waktu Isya baru saja lewat beberapa menit yang lalu. Lampu-lampu merkuri berwarna jingga menerangi beberapa ruas jalan yang biasanya tampak gelap. Dua orang wanita paruh baya sedang duduk termenung di depan rumah kayu sambil menatap kosong ke selat Peling yang tenang dan nyaris tanpa ombak. Seorang penjual bakwan Malang sedang duduk di kursi plastik di atas trotoar yang menjorok ke laut, sementara tangan kanannya yang bersandar pada meja kayu menopang salah satu sisi kepalanya yang kala itu mengenakan topi bisbol lusuh. Belum ada satu pun pembeli yang mampir ke ‘warungnya’ malam itu.

Saya mengurangi laju mobil dan mencolek istri di sebelah agar mengarahkan pandangannya ke sosok penjual bakwan Malang yang sedang mangkal di atas trotoar tersebut dan berharap agar jualannya malam ini habis. Istri saya mengaminkan doa itu dan kami meninggalkan secuil fragmen kehidupan tersebut menuju masjid Al Ukhuwah, Tanjung, tempat yang jadi destinasi perjalanan kami sekeluarga malam itu.

Ada sebuah kebahagiaan yang menyeruak dalam hati saya ketika melihat pemandangan seorang tukang roti keliling yang sedang berjalan pulang sambil memanggul kotak tempat ia menjual rotinya sudah kosong pada suatu sore. Atau melihat seorang tukang bakso yang mie dan bahan-bahan bakso lainnya sudah tidak tampak di dalam gerobaknya karena sudah habis. Atau saat melihat keranjang tukang sayur keliling yang sudah nyaris habis, atau ketika melihat tukang batagor yang kerap melintas di depan warung bubur kami sudah habis dagangannya. Saya juga merasa gelo hati ketika melihat dagangan seseorang tak kunjung habis padahal waktu sudah beranjak sore atau larut. Atau saat melihat seorang perempuan tua sedang duduk termenung di warung pisang gorengnya, matanya menatap kosong ke bangku-bangku warungnya yang nyaris seharian belum terisi, sementara baru satu dua porsi pisang gorengnya yang laku terjual. Saya dan istri suka mbatin dengan nasib usaha teman-teman yang sepi dari penjual dan bahkan beberapa di antaranya ada yang tutup karena satu dan lain hal. Menyaksikan peristiwa seperti itu, membuat kesyukuran saya berlipat ganda dan menyuntikkan energi sabar yang berlipat pula dalam diri saya dan istri.

Terkadang, kita perlu juga merasakan kepahitan dalam hidup, supaya kelak ketika garis ikhtiar yang sedang kita jalani ini bertemu dengan takdir kesuksesannya, kita bisa memaknai momen-momen yang pahit dan tidak menyenangkan itu menjadi sebuah rasa syukur di dalam hati dan pelajaran hidup yang berlimpah-ruah.

Saat menulis ini, Kilongan sedang diguyur hujan yang cukup deras sejak menjelang Maghrib tadi. Istri saya baru saja membuatkan susu coklat panas untuk saya. Sambil menatap rak di depan saya yang berisi deretan buku-buku, saya jadi teringat dengan beberapa lapak yang kerap saya datangi saat malam menjelang untuk memenuhi beberapa keperluan seperti warung nasi goreng, warung sari laut, warung nasi kuning, penjual kaset di dekat pasar Sentral, para kuli angkut di pelabuhan, para penjual bakso dan bakwan Malang yang biasa mangkal di sepanjang pesisir pantai di Tanjung, dan penjual lainnya yang sedang bergulat dengan takdir mereka masing-masing sambil menyelipkan doa agar ikhtiar mereka malam ini mendapatkan hasil yang memuaskan dan hati yang penuh kesyukuran saat menyadari bahwa kenyataan terkadang tidak seindah impian. Aamiin. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Juni 2014 
Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar