Rabu, 30 Desember 2015

Auratmu Harga Diriku

Dalam sebuah pesta pernikahan yang meriah di sebuah gedung, tampak sepasang suami istri yang baru saja datang. Keduanya masih berusia muda, berpostur proporsional, tampak terawat, dan berpendidikan. Sang suami mengenakan setelan jas resmi berbahan katun yang halus dengan kemeja hitam yang tidak dikancing pada bagian atasnya, bersepatu hitam mengkilat, dan potongan rambut trendi masa kini. Sementara sang istri mengenakan pakaian yang sedikit ‘menggelisahkan’. Ia memakai setelan cropped top yang menunjukkan beberapa bagian kulitnya yang cerah terawat. Rambutnya yang panjang dan halus terurai begitu saja di atas bahunya yang kencang. Ia mengenakan sepatu hak lancip berwarna senada dengan pakaiannya.

Saat pasangan muda itu berjalan mendekati tempat pengantin yang sedang berbahagia, pandangan mata para tamu yang ada di ruangan itu tertuju kepada keduanya. Entah apa yang ada dalam benak sang suami ketika mata-mata nyalang para lelaki yang ada di ruangan itu ‘menikmati’ setiap senti dari bagian tubuh istrinya yang terbuka.

Meski saya tidak kenal sama sekali dengan pasangan itu, namun, di lubuk hati yang terdalam, saya merasa malu dengan penampilan sang istri. Entah kenapa.

Umar Tilmisani, Mursyid Am Ketiga Ikhwanul Muslimun, berkisah dalam memoarnya yang berjudul Dzikroyat la Mudzakirat tentang kecemburuan dosis tingginya kepada sang istri yang begitu dicintainya. Dalam buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dengan judul Bukan Sekedar Kenangan, Syaikh Umar yang parlente dan bercita rasa tinggi itu berkata bahwa “Setelah menikah denganku, selama 17 tahun istriku tidak pernah keluar rumah untuk berkunjung ke keluarganya, atau menghadiri undangan dan kematian tanpa memakai mobil. Ia tidak pernah menggunakan trem, bus ataupun berjalan kaki di jalan, karena aku sangat ghirah (cemburu) kepadanya. Aku cemburu melihat sinar matahari menerpa tubuhnya, atau udara membelit pakaiannya. Dan istriku sangat tahu benar akan perasaanku itu. Karena itu ia tidak pernah merasa dirinya dibatasi sehingga ia harus marah padaku.”

Walau tidak sepenuhnya setuju dengan yang dilakukan oleh Syaikh Umar, pada sebahagian yang lain, saya merasa ada sesuatu yang telah diwakili oleh pandangan beliau terkait dengan bagaimana seorang lelaki, dalam hal ini suami, perlu bersikap terhadap istrinya masing-masing. Sesuatu itu adalah kecemburuan.

Lelaki, atau sebagian lelaki, tidak seekspresif perempuan dalam hal cemburu. Tidak selalu cemburu itu diejawantahkan dalam bentuk wajah yang masam, tampang yang muram, atau bentakan penuh geram. Lelaki biasanya menyimpan cemburu dalam diam namun tetap mengingat dan mencatat.

Suatu hari, istri pernah bertanya kepada saya. “Abi pernah cemburu sama aku?” demikian tanyanya. Ia sepertinya perlu menanyakan hal itu karena sepanjang usia pernikahan kami yang masih belia ini, saya nyaris tak pernah mengutarakan rasa cemburu kepadanya. Berbeda dengan dirinya yang kerap berterus-terang dengan perasaan cemburunya, ia mungkin merasa bahwa suaminya ini terlalu lurus-lurus saja dalam hal perasaan. Ketika itu saya menjawabnya dengan kata “Belum” dan ia masih merasa belum puas dengan jawaban itu dan kerap mengulang-ulang pertanyaannya dalam beberapa kesempatan.

Cemburu, bagi saya, tidak melulu soal orang lain. Cemburu bagi saya mungkin terlampau sederhana bentuknya, bahkan tampak remeh lagi sepele bagi orang lain. Namun sesuatu yang tampak sepele, remeh, dan biasa itu tidak demikian halnya bagi saya.

Kecemburuan saya kepada istri adalah ketika saya mendapati sehelai dua helai rambutnya yang menyembul dari balik jilbabnya, atau ketika lengan bajunya menyingkap pergelangan tangannya, atau saat rok panjangnya menyingkap bagian yang kerap membuat saya tertegun itu saat ia naik di atas motornya, atau saat pakaian yang dikenakannya menyembulkan beberapa lekuk tubuhnya, atau ketika jilbab yang dipakainya tampak menerawang dan tembus pandang. Cemburu bagi saya adalah soal aurat. Sekecil apapun. Karena aurat istri adalah harga diri suami. Ketika aurat yang seharusnya diperuntukkan hanya untuk kita, sebagai suami, seorang itu lantas ditunjukkan dan dipamerkan kepada orang lain yang tidak berhak, maka disitulah sebenarnya harga diri suami sedang terinjak-injak.

Bagaimana mungkin seorang suami yang mengaku mencintai istrinya membiarkan orang lain bisa – maafkan pemilihan kata saya ini – mencicipi aurat istrinya secara bebas? Bagaimana mungkin seorang laki-laki sejati – sekali lagi maafkan pemilihan kata saya ini – menjajakan aurat istrinya kepada orang lain tanpa merasa sedikitpun terluka harga dirinya karenanya? Bagaimana mungkin seorang lelaki merasa bangga bahwa istrinya bisa dinikmati lekukan tubuhnya, cerah warna kulitnya, harum dan lembut rambutnya, dan menyesapi aroma tubuhnya oleh orang lain?

Saya tidak mengerti. Sungguh saya tidak mengerti. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Desember 2014 

Jumat, 04 Desember 2015

Ruang Kosong

Masih ingat dengan almarhum papa Agus yang tempo hari saya posting di linimasa media sosial saya? Papa Agus adalah tetangga saya yang berprofesi sebagai tukang ojek. Ia meninggal mendadak karena sakit beberapa pekan yang lalu.

Di masa hidupnya, nyaris setiap pagi saya bertukar sapa dengannya. Bahkan, dalam sehari, saya bisa dua atau tiga kali berpapasan dengannya di jalan. Setelah beliau meninggal, saya merasa ada sesuatu yang hilang. Sesuatu yang meski sepele lagi remeh-temeh, tapi cukup memengaruhi 'ritme' hidup saya.

Padahal, kalau mau ditimbang-timbang, beliau bukan siapa-siapanya saya. Kami dulu hanya sesekali saja berbincang dalam durasi yang agak lama. Hanya ngobrol sekedar lalu dan basa-basi saja. Tapi ada sedikit rasa kehilangan di dalam diri saya sepeninggalnya.

Ustadz Anis Matta paska wafatnya Ustadz Rahmat Abdullah pernah menulis, "Setelah seseorang pergi, kita segera tahu 'ruang kosong' apa yang ditinggalkan orang itu dalam hati kita.”

“Kesadaran kita tentang ruang kosong itu,” sambung beliau, “tidak akan pernah begitu jelas selama orang itu masih hidup dan berada di antara kita, sejelas ketika orang itu akhirnya pergi.”

“Ruang kosong yang dirasakan setiap orang pada seseorang tentu saja berbeda-beda,” tutupnya.

Jika seorang papa Agus yang, ibaratnya, bukan siapa-siapanya saya dan interaksi kami lebih banyak hanya berpapasan saja ketika di jalan sudah menciptakan sebuah ruang kosong di dalam hati saya, apatah lagi jika saya harus kehilangan orang-orang yang sehari-hari saya temui, saya ajak bicara, dan saya ajak bercengkerama.

Itulah sebabnya, perpisahan dengan orang-orang tercinta seperti menciptakan luka menganga yang sulit sembuhnya. Orang-orang tercinta itu bisa berwujud orangtua, suami, istri, teman, sahabat, atau siapapun yang memberi arti dalam hidup kita selama ini.

Ketika bapak meninggal delapan tahun yang lalu, saya merasa bahwa ruang kosong yang beliau tinggalkan tidak kunjung tertutup. Ia bahkan membesar dan makin menganga seiring berjalannya waktu, bahkan sampai saat ini. Ketika saya menikah, ketika anak-anak saya lahir, ketika saya mendapatkan sesuatu dari instansi tempat saya bekerja, saya baru menyadari bahwa semua kebahagiaan itu terasa hambar karena tidak bisa saya bagi bersama dengannya.

“Pak, anakmu sudah menikah. Pak, cucumu sudah lahir. Pak, gaji anakmu sekarang naik. Pak, anak bungsumu sudah lulus kuliah. Pak, anakmu sudah bangun rumah,” adalah rentetan kabar gembira yang ingin sekali saya sampaikan secara langsung kepadanya. Melihat terbitnya senyum dan mendengar ungkapan bahagianya atas anugerah yang diterima anaknya ini adalah sesuatu yang begitu saya tunggu-tunggu ketika saya mulai bekerja di perantauan nyaris sembilan tahun yang lalu. Tapi itu semua sudah tidak mungkin. Beliau sudah tiada dan saya masih harus berjuang untuk menutup ruang kosong itu dengan susah payah.

Ketika Qais dipaksa berpisah dengan Layla saat cinta mereka sedang berada di puncaknya, ruang kosong itulah yang kemudian mengubah Qais menjadi majnun karena cintanya kepada Layla terhalang sebuah tembok besar bernama perpisahan. Seberapa besar ruang kosong yang hendak kita bangun setelahnya adalah pilihan. Karena hidup harus terus berjalan, sepahit apapun kenyataan yang telah menunggu kita di depan.

Teriring doa untuk bapak. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Desember 2015