Kamis, 31 Juli 2014

Berkunjung ke Desa Bonebae Toili Barat

Malam ini saya sedang berada di teras sebuah rumah yang halamannya ditanami aneka pohon hias, kelapa gading, rambutan, dan mangga. Suasana gelap pekat. Listrik baru saja mati beberapa saat yang lalu. Hanya ada suara gerojokan air dari saluran irigasi yang membentang di depan rumah tempat saya duduk saat ini, kerikan suara serangga dari pohon rambutan, nyanyian burung gagak dari kejauhan, kepakan sayap nyamuk, dan suara angin yang bertiup cukup kencang ditambah dengan suara rinai hujan membuat suasana malam jadi semakin syahdu. Sesekali ada kendaraan yang melintas di jalanan yang beraspal mulus itu.

Sejak hari Selasa (29/7) kemarin, saya dan seluruh keluarga yang terdiri dari istri, ketiga putri, mamak, mamak mertua, adik ipar, dan kakak ipar, serta seorang tetangganya mamak mertua saya, Mamamblo beserta seorang cucunya, menerobos hujan yang setia mengguyur kota Luwuk sejak pagi menuju desa Bonebae yang terletak di kecamatan Toili Barat. Di sana ada rumah adik dari mamak mertua saya, Husain Panto, yang biasa kami panggil Om Rutu atau Papa Ece, yang hendak kami datangi. Desa Bonebae adalah salah satu desa terluar yang ada di pantai selatan kabupaten Banggai sebelum berakhir di desa Rata yang berjarak kurang lebih lima belas kilometer dari desa ini. Kalau saya taksir, jarak Luwuk ke Bonebae nyaris mencapai 200 kilometer dengan waktu tempuh sekitar empat sampai empat setengah jam. Waktu tempuhnya agak sedikit molor karena kondisi jalan yang rusak di beberapa titik seperti di desa Bonebalantak, Pantai Pandanwangi dan Dongin. Saya agak lupa dengan titik kerusakan yang lain. Hanya saja, paska dmamakkanya investasi migas di daerah ini beberapa tahun silam, ditambah dengan wara-wirinya mobil-mobil besar dari sebuah perusahaan sawit yang cukup besar, membuat sebagian jalan beraspal yang membentang sejak dari Batui sampai dengan Toili Barat kerap rusak dan berlumpur. Sering terjadi kecelakaan akibat rusaknya jalan dan kurang berhati-hatinya para pengendara yang kerap melajukan kendaraannya dengan kecepatan nyaris maksimal. Saya sendiri nyaris bersenggolan dengan beberapa kendaraan meski telah mengendarai mobil dengan sebaik mungkin.

Setelah menyiapkan beberapa keperluan termasuk kasur dan sekian bantal untuk anak-anak, ditambah dengan barang-barang lainnya yang berdesak-desakan di bagasi belakang dan kabin tengah, tujuh orang dewasa dan empat orang anak-anak usia dua setengah sampai lima setengah tahun, mengisi mobil Daihatsu Granmax saya yang sudah tampak klumut dengan debu. Selepas desa Bakung, mobil yang kami tumpangi membelok ke kiri sebentar di jembatan Gori-Gori untuk menuju ke desa Sinorang, tempat salah satu adik dari mertua saya tinggal, Tante Jani. Sawah menghijau yang membentang di kanan kiri jalan dan bangunan CPP milik JOB Pertamina Medco Tomori Sulawesi menjadi pemandangan yang mengisi lanskap di bawah naungan langit siang yang berwarna abu-abu tua. Sampai di rumah tante Jani, saya dan penumpang lainnya turun untuk berlebaran dan menyelesaikan hajat di kamar mandi sementara mamak dan putri bungsu saya yang sedang tidur, Gendis, tetap di dalam mobil.

Selesai dari tante Jani, kami kembali meneruskan perjalanan. Memasuki perempatan ke Moilong dan HTI (Hutan Tanaman Industri), saya mengambil jalur ke kiri, menuju ke Unit IV, tempat dimana Mamamblo dan cucunya akan turun. Semakin ke dalam, hujan semakin deras dan jalanan semakin bertambah buruk. Meski begitu, mata kami dibuai dengan pemandangan sawah di kanan kiri dan bangunan-bangunan khas Jawa dan Bali yang terpancang di kiri kanan jalan. Daratan Toili, Moilong, dan Toili Barat merupakan kawasan yang didiami oleh penduduk Trans. Di wilayah yang datar dan luas ini, terdapat banyak sekali etnis seperti: Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Bugis Bone, dan beberapa suku asli Saluan. Saya sendiri belum pernah membaca konfigurasi wilayah ini secara lengkap. Hanya saja, suasana pedesaan di Jawa dan Bali begitu kental di wilayah ini seperti orang-orang bertopi caping yang naik sepeda ontel sambil membawa rumput pakan ternak di belakang, ornamen-ornamen khas Bali seperti Pura dan tempat peribadatan yang nyaris selalu ada di halaman depan penduduk Bali, dan suasana pasar yang dipenuhi dengan logat-logat medok Jawa, Sunda, Bali dan Lombok. Seorang teman pernah berujar bahwa jika dia sedang kangen dengan suasana desa di Jawa, maka dia akan melancong ke Toili dan menekuri jalanannya demi mengusir rasa kangen itu. Saya yang entah sudah berapa kali ke Toili pun setuju dengannya.

Suasana persawahan di Toili


Usai dari Unit IV, perjalanan kami berlanjut ke Unit X. Adalah rumah ipar mamak mertua saya yang jadi destinasi selanjutnya. Adik perempuan dari ipar mamak mertua saya itu yang bekerja di warung Bubur Ayam Tompotika kami yang biasa kami panggil Cucu. Selama perjalanan, istri saya kerap berkoordinasi dengan Cucu agar kami tidak nyasar dan salah jalan. Berhubung saya cukup familiar dengan jalan-jalan Toili, saya tidak merasa kesulitan dengan arah yang ditunjukkannya.

Ornamen Hindu Bali di Toili
Sumber: http://memoirs-musafir.blogspot.com/


Saat mendekati patokan berupa pintu air, saya melihat Cucu sedang berdiri di tepi jalan. Saya lalu membelokkan mobil ke rumah yang dipenuhi dengan tanaman bunga Turi dan tanaman pagar lainnya. Sekitar satu setengah jam kami menghabiskan waktu di rumah itu. Sambil menikmati es campur dan ikan malalugis bakar dengan dabu-dabunya yang pedas nikmat, kami bertukar kabar tentang banyak hal. Selesai makan, kami lalu berpamitan untuk meneruskan perjalanan dan akhirnya sampai di desa Bonebae sekitar satu jam dua puluh menit kemudian.

Selama dua hari satu malam di desa Bonebae, hujan nyaris tak pernah berhenti turun. Langit nyaris selalu berwarna abu-abu tua. Sesekali hujan memang berhenti namun tak lama kemudian ia turun lagi dengan deras. Rencananya kami sekeluarga akan pasiar ke Bendungan Mentawa, salah satu lokasi yang kerap dijadikan objek wisata oleh warga lokal saat lebaran selain Pantai Pandanwangi dan Pantai Dongin. Bendungan ini adalah wilayah “kekuasaan” Om Rutu dimana beliau adalah pegawai penjaga pintu air di wilayah itu. Sayang, kondisi jalan yang buruk karena hujan yang sering turun dan tidak adanya Om Rutu karena sedang ada urusan di Bualemo, membuat saya mengurungkan rencana jalan-jalan ke Bendungan yang terkenal dengan Jembatan Goyang-nya itu. Semoga saat mengantar keberangkatan Om Rutu ke Tanah Suci pada bulan Agustus nanti cuacanya bisa lebih cerah sehingga kami bisa berkunjung ke bendungan itu.

Oh iya, menu makanan selama di desa Bonebae full ikan. Desa Rata yang berbatasan dengan desa ini adalah daerah yang terkenal sebagai daerah penghasil ikan dengan kualitas yang sangat bagus. Saya sendiri pernah bersilaturahim ke desa itu sebanyak dua kali: kali pertama saat mendatangi resepsi pernikahan adiknya teman di tahun 2007, dan kali ke dua saat mengantar bantuan banjir kira-kira di tahun 2008. Sayang saya tidak menyimpan dokumentasinya.

Sawah di belakang rumah di desa Bonebae


Ngomong-ngomong soal desa Bonebae, ini adalah kunjungan kali ke empat saya selama di Luwuk. Kali terakhir ke desa itu adalah pada bulan September tahun 2013 yang lalu. Sebenarnya ada banyak lagi yang ingin saya tulis, hanya saja, kue karas-karas ini telah menggoda saya untuk berhenti mengetik dan menikmati rasanya yang gurih-gurih nyoi, eh, krispi. Insya Allah akan disambung lagi di postingan selanjutnya, deh. Insya Allah. Taqabalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H dan Idul Syahid bagi saudara-saudara kami di Gaza. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juli 2014 

I'tikaf Ramadhan 1435 H

Jarum jam merampat perlahan ke angka empat, pertanda waktu shubuh semakin mendekat. Langit malam tampak kelabu. Teluk Lalong tampak sepi. Dunia begitu hening. Bahkan suara tiupan angin dingin yang menembus sela-sela teralis besi di lantai dua Masjid Agung An Nur Luwuk ini terdengar begitu jelas. Dari arah mihrab, terdengar suara isak tangis dari jamaah shalat witir yang sedang membaca qunut nazilah. Sudah lebih dari setengah jam sang imam membacakan doa qunut itu. Seingat saya, mereka memulai shalat witir yang hanya satu rakaat itu pada pukul tiga lewat lima belas menit dan sekarang waktu sudah menunjukkan nyaris pukul empat.

Ramadhan tahun 1435 hijriyah adalah kali ke 8 saya berpuasa di Luwuk, dan kali ke 7 saya mengikuti i’tikaf secara rutin bersama teman-teman PKS di sini. Kali pertama saya beri’tikaf di Luwuk adalah tahun 2008 yang lalu. Lokasinya di lantai 2 Masjid Agung. Meski sempat berpindah ke Masjid Al Ukhuwah Tanjung di tahun 2011, acara yang selalu dihelat olet komunitas tarbiyah di Luwuk ini tak pernah sepi dari peserta. Apalagi setelah pusat kegiatan kembali diadakan di Masjid Agung, pesertanya dari hari ke hari semakin bertambah saja, bil khusus di malam-malam ganjil dan utamanya di malam ke dua puluh tujuh.

Acara i’tikaf di Masjid Agung ini diadakan oleh DPD PKS Kabupaten Banggai dan pesertanya berasal dari lintas usia, profesi, dan latar belakang mulai dari tukang ojek, PNS, pedagang pasar, supir taksi, wiraswastawan, anggota dewan, sampai anak-anak kecil. Selama mengikuti i’tikaf, saya menyaksikan orang-orang yang berbeda setiap tahunnya meski ada beberapa yang merupakan peserta tetap. Ada juga yang dulu masih anak-anak sekarang tingginya sudah melebihi saya. Ada yang dulu tidak segemuk saya dan sekarang justru sama gemuknya dengan saya (abaikan!!). Kaum pria tinggalnya di lantai 2 Masjid Agung, sedangkan kaum perempuan tinggalnya di ruangan menara.

I’tikaf dimulai sejak Ramadhan malam ke-21 dan berakhir pada adzan Maghrib sebelum takbiran. Dari tahun ke tahun, agendanya selalu berubah-ubah: pernah ada kajian tahsin, kajian hadits, kajian sirah, dan kajian kitab klasik. Tapi ada satu agenda utama yang sudah menjadi tradisi sejak lima tahun belakangan: qiyamulail 3 juz per malam. Adalah Ustadz Iswan, ketua DPD PKS Kabupaten Banggai, yang pertama kali mengajak para peserta i’tikaf melakukan aktivitas itu dimulai tahun 2010 yang lalu. Ustadz lulusan Al Azhar Mesir yang juga anggota legislatif DPRD Kabupaten Banggai terpilih untuk periode 2014-2019 itu yang selalu menyemangati kami, para peserta i’tikaf, untuk mampu melakukannya.


Peserta Shalat Malam

Waktu awal-awal dicoba rasanya memang berat. Bayangkan saja, kita harus bangun jam 1 dini hari, lalu mengambil wudhu dalam udara yang cukup dingin dan shalat qiyamulail 8 rakaat plus witir 1 atau 3 rakaat. Kalau ditotal, shalat lail itu memakan waktu hingga 3 jam lamanya. Tak jarang, meski malam cukup dingin, tapi keringat mengucur deras. Saya sendiri lebih sering bolong-bolong mengikutinya. Kadang saya bangun jam 2, kadang bangun jam setengah 3, dan pernah juga saya baru bangun menjelang sahur hahaha..

Setelah witir, kami akan sahur bersama. Dulu kami harus membayar sejumlah iuran untuk ini, tapi semenjak ada seorang donatur yang baik hati dan bersedia menanggung seluruh urusan per-i’tikaf-an, semua urusan teknis terkait makan, minum, buah dan suplemen lainnya menjadi tanggungan beliau. Semoga Allah membalas kebaikannya dengan sebaik-baik balasan.


Beberapa peserta I'tikaf

Oh iya, khusus i’tikaf tahun ini saya sengaja mengambil cuti 3 hari sebelum lebaran demi mengejar beberapa target yang harus saya capai. Saat i’tikaf di tahun ini pula, saya menyengaja membawa kertas HVS polos dari rumah. Kertas itu rencananya untuk mencatat hal-hal yang menarik sepanjang pelaksanaan i’tikaf sekaligus untuk kembali membiasakan menulis dengan tangan yang sudah lama sekali tidak saya lakukan. Selain kertas dan pulpen, saya juga membawa dua buah buku: New Life-nya Orhan Pamuk dan The History of Islamic Political Thought atau Pemikiran Politik Islam Dari Masa Nabi ke Masa Kini-nya Antony Black. Tak lupa, saya membawa tiga buah mushaf: mushaf Al Burhan untuk dibawa wara-wiri masjid dan kantor, mushaf khusus hafalan untuk mengimami qiyamulail, dan mushaf hibah dari DPD PKS Banggai milik istri saya untuk dibaca dalam durasi yang lama karena ukuran hurufnya yang lebih besar daripada dua mushaf saya yang lainnya.

Selain barang-barang itu, saya juga membawa satu buah bantal, kasur kecil – yang belakangan ditukar selimut tebal oleh istri saya karena dia dan anak-anak juga ikutan i’tikaf –, varsity, sarung, gamis dan barang-barang pribadi lainnya seperti odol, sikat gigi, parfum, obat flu dan suplemen. I’tikaf tahun ini juga menjadi kali pertama saya mengajak keluarga. Bukan kenapa, sebelumnya, anak-anak saya masih terlalu kecil untuk diajak i’tikaf dan jarak rumah saya ke Masjid Agung yang cukup jauh menjadi kendala selanjutnya. Belum lagi kendala kendaraan motor matic kami yang tak bisa memuat penumpang dan segala barang-barangnya secara maksimal hehe..

Di sela-sela i’tikaf, ada beberapa teman yang ‘menyambinya’ dengan menjadi pengelola Ziswaf. Tahun ini kami kembali bekerja sama dengan PKPU Palu. Meski tidak disiapkan dalam jangka waktu yang cukup panjang, alhamdulillah respon masyarakat yang menyalurkan bantuannya kepada kami cukup banyak. Seingat saya nyaris mencapai angka 30 juta totalnya. Saat berkunjung ke rumah salah satu peserta i’tikaf di hari lebaran, beliau berkata bahwa segala tetek-bengek ziswaf baru selesai jam 1 malam dan teman saya yang bertugas sebagai pengelola, Iksan, langsung meluncur ke Toili (sekira 100 km dari Luwuk) untuk menyusul keluarganya berlebaran di sana. Benar-benar kerja yang luar biasa.

Meski pesertanya agak berkurang di 2 malam terakhir karena sebagian sudah ada yang pulang kampung, jumlah jama’ah i’tikaf di malam 28 masih di angka 20-an. Bahkan di malam 29 ada beberapa peserta yang baru datang. Saya sendiri baru menyelesaikan i’tikaf pada shubuh hari ke 29 dan langsung mengajak keluarga saya pulang. Kami pun mengemasi beberapa barang yang kami bawa ke dalam mobil dan segera meluncur menembus gerimis menuju Kilongan. Jalan-jalan tampak sepi. Beberapa warung non permanen yang ada di sisi jalan sudah banyak yang dibongkar. Sampah-sampah di area pasar malam menumpuk di sana-sini. Saya melajukan mobil seraya berdoa agar ramadhan yang tak optimal kemarin diterima di sisiNya dan berharap agar disampaikanNya umur ini ke ramadhan yang akan datang. Aamiin yaa mujiib as saailiin. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juli 2014
Baru pulang dari Toili Barat

Sabtu, 26 Juli 2014

Taksi Mogok

Pasar Sentral, Luwuk, malam hari. Ramai, padat dengan kendaraan. Seorang penjual nasi goreng sedang mengaduk-aduk wajan berukuran besar tempat ia sedang meracik nasi gorengnya. Aroma tumisan bumbu yang berasa pedas gurih mewarnai udara. Dari deretan warung konro, coto, dan nasi goreng, saya membelok ke kanan tempat dimana keramaian semakin menjadi. Antrean kendaraan tidak terelakkan saat memasuki jalan di depan Luwuk Shopping Mall. Jalur dari SPBU ke kantor Dishub dipenuhi motor-motor yang terparkir rapi. Dua sampai tiga malam sebelum Lebaran memang selalu menjadi momen ditutupnya jalan antara SPBU Masjid Agung sampai dengan pertigaan Pasar Sentral untuk dijadikan areal pasar kaget sehingga hanya menyisakan jalur dari Sentral ke Masjid Agung saja. Saat malam H-2 Idul Fitri, kedua jalur itu biasanya sudah ditutup. Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama, saya tidak tahu sejak kapan persisnya.

Ketika sudah di depan pintu masuk areal Luwuk Shopping Mall, mobil saya terhenti. Ada taksi (angkot) yang sedang menaikkan empat orang penumpang persis di depan saya. Saya menunggu dengan sabar seraya melirik ke belakang melalui kaca spion.  Di belakang saya kendaraan semakin mengular. Saya melihat kembali ke arah taksi kuning di depan. Terjadi semacam kepanikan di dalam taksi itu. Ada kepulan asap dari bagian mesinnya sehingga penumpang yang hampir memenuhi taksi itu berhamburan keluar. Dari balik kaca, saya memerhatikan supir taksi yang sedang bersusah payah untuk menjalankan mobilnya yang ternyata mati total. Deretan mobil dan motor di belakang saya sudah gelisah. Suara klakson bersahut-sahutan. Dua orang tukang ojek yang ada di dekat taksi itu memberi kode ke arah antrian kendaraan di belakang saya agar tetap tenang. Saya sendiri hanya mengamati kemalangan yang terjadi malam hari itu tanpa bisa berbuat apa-apa kecuali berdoa agar taksi kuning di depan saya itu segera hidup. Waktu berjalan lambat. Supir taksi itu lalu keluar dari dalam mobilnya dan meminta beberapa tukang ojek yang mangkal di dekat situ agar membantu mendorong mobilnya. Saya hanya bisa terpaku di kursi dan merasa bersalah dengan ketidakberdayaan saya.

Sekitar lima menit kemudian, mobil itu akhirnya sampai ke bagian jalan yang agak sedikit lapang sehingga saya dan kendaraan yang mengular entah jumlahnya berapa di belakang saya itu berangsur berkurang. Dalam perjalanan menuju Masjid Agung yang semakin dekat, saya berpikir tentang kejadian barusan. Nasib malang memang tak bisa ditolak. Supir itu mungkin saja sedang mengumpulkan uang demi menyambut Lebaran yang makin mendekat. Itulah sebabnya ia masih berkutat mencari setoran di saat orang-orang lain sedang asyik membelanjakan uangnya. Entah kenapa, saat saya melihat empat penumpang itu naik ke taksinya, ada semacam rasa senang yang datang. Namun saat taksinya mogok dan karenanya penumpang-penumpang yang sudah ada di dalam taksinya turun semua, saya jadi ikut merasa getir. Bagaimana kalau saya berada di supir itu?

Masjid Agung sudah tampak. Saya mencari tempat parkir biasa di sebelah tenggara menara. Beberapa motor tampak terparkir di situ. Saya mengambil beberapa barang dan segera menuju ke lantai dua tempat saya beri’tikaf malam ini. Kejadian taksi mogok dan gagalnya sang supir mendapatkan rejeki tambahan malam itu masih terngiang-ngiang di kepala saya. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juli 2014

Selasa, 15 Juli 2014

Dear, Perpustakaan Daerah Kabupaten Banggai

Pagi ini saya menyegera datang ke kantor demi mencari sesuatu. Sesuatu itu adalah koran Luwuk Post edisi entah kapan, yang beberapa hari lalu saya lihat secara sekilas memuat berita yang berhasil menyedot perhatian saya. Kalo saya tidak khilaf, ada berita tentang pengadaan buku oleh Perpustakaan Daerah ketika itu. Berhubung kantor tempat saya bekerja berlangganan Luwuk Post, saya yakin kalau koran yang memuat potongan berita itu ada di sana, di ruang sekretaris.

Setiba di kantor, saya langsung naik ke lantai dua tempat ruangan sekretaris berada. Ruangan itu masih kosong. Pendingin ruangannya belum lagi menyala. Saya masuk ke dalam, menaruh helm dan tas kain berisi buku yang saya bawa dari rumah, lalu duduk di kursi sambil menghadap meja yang dipenuhi dengan koran Luwuk Post edisi terbaru dan hari Sabtu (12/7) lalu. Tumpukan koran Luwuk Post lama yang ada di salah satu sudut meja langsung saya ambil. Setelah membolak-balik beberapa lembar koran, akhirnya saya dapatkan juga koran yang saya cari-cari sejak beberapa hari yang lalu itu.

Adalah koran Luwuk Post edisi Sabtu 5 Juli 2014 yang memuat berita tersebut di bagian Metro Luwuk halaman 8. Perpustakaan Daerah Usulkan Pengadaan Buku, demikian judul tulisan tersebut. Nampak dua buah foto yakni foto kepala Perpustakaan Daerah Bapak Kamil Datu Adam dan foto aktivitas pegawai perpustakaan yang sedang mengatur aneka buku mengapit tulisan pendek berisi empat paragraf tersebut. Saya lalu mengambil koran itu dan menekurinya.

Di satu sisi, saya sangat mengapresiasi keprihatinan bapak Kamil –  bolehkah saya sebut beliau dengan nama ini? – terhadap kondisi perpustakaan daerah yang masih jauh dari ideal. Sebuah keprihatinan yang juga saya rasakan terhadap salah satu aset daerah yang sangat berharga itu. Saya juga sangat mendukung upaya pengadaan buku yang beliau canangkan agar bisa kembali mengisi rak-rak buku yang masih lowong paska kebakaran hebat di awal bulan Januari tahun ini.

Hanya saja, ada satu poin yang hendak saya kritisi dari berita itu. Bila memang Perpustakaan Daerah menghendaki adanya pengadaan buku-buku baru, maka apa yang menjadi dasar pertimbangan bahwa buku berjudul ini dan itulah yang akan diadakan oleh pihak perpustakaan? Dalam kata lain, saat Perpustakan memutuskan untuk membeli buku-buku baru yang kelak akan mengisi rak-rak buku yang berjejalan di dalam sana, apa alasan yang mendasari bahwa buku-buku itu perlu diadakan? Dari mana Perpustakaan mendapatkan “wangsit” bahwa buku-buku itulah yang memang perlu dibeli dan dijadikan sebagai asupan warga kota ini? Apakah buku-buku yang dibeli itu murni inisiatif Perpustakaan, atau ada pertimbangan lain? Kalau ada pertimbangan lain, bagaimana proses kelahiran “pertimbangan” tersebut hingga akhirnya keputusan membeli buku berjudul A, B, dan C itu keluar? Apakah sebelumnya ada kajian internal terlebih dahulu atau ujug-ujug keluar begitu saja secara sepihak? Saya, sejujurnya, ingin tahu lebih banyak mengenai hal ini dan karenanya pertanyaan-pertanyaan itu lantas saya kemukakan kepada publik agar kita bisa sama-sama mengetahuinya.

Saya tentu hendak berprasangka baik bahwa Perpustakaan Daerah diisi oleh orang-orang yang punya kompetensi terbaik dalam bidang pendidikan dan oleh karenanya mereka memahami buku-buku apa yang perlu dibeli untuk dijadikan asupan bergizi bagi generasi-generasi muda di daerah ini. Namun di sisi lain, saya hendak mengekspresikan keprihatinan saya akan abainya masyarakat di kota ini dengan aspek yang cukup penting ini. Prihatin karena ternyata tak banyak yang peduli dengan faktor penting dalam dunia pendidikan: buku. Maka tak heran jika Perpustakaan Daerah membeli buku-buku itu berdasarkan inisiatif mereka sendiri tanpa adanya kontrol dan perhatian dari masyarakat luas, masyarakat yang abai dengan masa depan intelektual mereka sendiri. Atau inisiatif itu mungkin tidak sepihak-sepihak amat, karena bisa jadi Perpustakaan juga meminta pandangan dari pegiat pendidikan di daerah ini, namun karena yang dimintai pandangan hanya dari kalangan yang terbatas, maka cakupan inisiatifnya pun kemungkinan akan terbatas juga.

Dus, ada semacam ironi yang berpotensi muncul dari proses ini: pertama, perpustakaan ingin menggali informasi dari masyarakat tentang buku-buku yang perlu diadakan oleh mereka sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan intelektual warga, namun di sisi lain, masyarakat secara luas tidak diberikan andil yang memadai untuk turut berperan serta aktif; kedua, masyarakat tidak tahu bahwa Perpustakaan sedang menunggu “aspirasi” dari mereka, para warga itu, karena minimnya informasi yang disediakan oleh Pemerintah Daerah, dalam hal ini Perpustakaan, terkait buku-buku apa saja yang perlu diadakan oleh Perpustakaan untuk mengasistensi pengayaan intelektual warga di daerah ini.

Terakhir, saya ingin menyarankan kepada Perpustakaan agar di kemudian hari ketika mereka ingin melakukan pengadaan buku, maka cobalah untuk menyerap aspirasi dari masyarakat terlebih dahulu; buku-buku macam apa yang mereka kehendaki, apa saja judulnya, dan hal-hal teknis lain. Upaya ini bukan dimaksudkan untuk mengurangi legitimasi dan meragukan kompetensi Perpustakaan, bukan. Tapi upaya ini adalah cara untuk menyematkan rasa memiliki yang kuat dari masyarakat di daerah ini terhadap salah satu aset daerah yang sangat berharga: perpustakaan, dan relasi-relasi positifnya dengan kehidupan mereka di masa mendatang. Munculnya berita tentang pengadaan buku sebagaimana yang sudah saya sebutkan di atas semoga bisa dijadikan semacam umpan untuk memancing respon dari masyarakat tentang kepedulian mereka akan masa depan dunia pendidikan di daerah ini. Saya berharap seperti itu.



Tulisan ini dimuat di harian Luwuk Post edisi 15 Juli 2014 

Senin, 14 Juli 2014

Mencari Spirit Ramadhan Yang Hilang

Ada yang berbeda dari perjalanan Ramadhan tahun ini. Selain hingar-bingar perhelatan Piala Dunia di Brazil yang baru akan berakhir menjelang akhir bulan nanti, Ramadhan tahun ini juga disinggahi oleh riuh-rendah ajang pemilihan presiden yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Di bulan yang mulia ini, kita tak hanya disuguhi oleh pemandangan masjid-masjid yang ramai dengan jama’ah yang membludak hingga ke emperan, kajian keilmuan yang banyak dilangsungkan, tangan-tangan yang makin ringan berbagi rezeki, lisan dan perilaku yang lebih terjaga, tapi juga rivalitas yang terjadi di lapangan sepakbola dan di antara dua kandidat calon presiden Indonesia termasuk pendukung-pendukungnya.

Khusus tentang pemilihan presiden, ada banyak kejadian yang mengiringi hajatan besar bangsa ini yang bisa kita lihat di pelbagai media, baik media mainstream maupun media non mainstream seperti blog dan laman media sosial. Aksi saling hujat, fitnah yang bertebaran, bahkan terjadi serangan fisik seperti yang dialami oleh kantor berita TV One dan kantor DPD PKS Karawang oleh pendukung salah satu calon presiden. Ramadhan tahun ini memiliki ujian tersendiri yang perlu dicermati.

Pada titik ini, kita kerap bertanya-tanya, apa sebenarnya efek yang paling signifikan bagi kita dari kedatangan bulan Ramadhan yang penuh berkah ini? Apakah efek signifikan itu hanya berupa berkurangnya lingkar perut, pameran baju baru, rumah yang catnya lebih kinclong, mobil baru yang mengkilap, atau sekedar menyibukkan diri dengan agenda buka puasa bersama yang kerap berakhir antiklimaks dan sekedar jadi ajang kumpul-kumpul tanpa makna?

Bagaimana dengan kualitas spiritual kita; bacaan Qur’an kita yang tak kunjung membaik, hafalan surat yang makin lama makin berkurang dan bukannya bertambah, kemurahan hati kita kepada sesama, menjaga jiwa dan lisan dari hal-hal yang dapat mengotorinya, adakah itu semua jadi agenda utama kita di Ramadhan tahun ini? Atau ia terlupa dengan keramaian di ajang nonton bareng Piala Dunia di kafe-kafe yang buka hingga fajar atau keributan di ajang Pemilihan Presiden yang merembet di kehidupan nyata? Perlahan tapi pasti, spirit Ramadhan yang harusnya terpelihara berangsur menghilang dan karenanya asing dengan keseharian kita. Tak heran jika Ramadhan kali ini hanya sekedar menahan lapar dan haus saja.

Memang, pandangan tentang Ramadhan tak selalu sufistik, karena ada banyak peristiwa penting dalam sejarah umat Islam yang terjadi di bulan yang mulia ini seperti; perang Badar Qubra, Penaklukkan kota Makkah (Fathu Makkah), pernikahan Ali dan Fathimah, dan peristiwa-peristiwa besar lainnya yang tercatat dalam kronik sejarah umat ini. Itulah sebabnya, Ramadhan seharusnya tidak dekat dengan kelesuan dan kelemahan, tapi justru dengan kerja keras.

Kita patut merasa bersyukur dengan kondisi daerah ini yang sangat aman dan kondusif untuk memaksimalkan ibadah detik-detik Ramadhan kita menjadi lebih bermakna. Karena di sudut bumi yang lain, kita dapati berita memilukan tentang serangan pasukan Zionis Israel ke pemukim Palestina di Gaza yang mengakibatkan banyak korban jiwa berjatuhan. Gaza, kota para pejuang itu, telah lama mengalami pemboikotan dari segala penjuru mata angin: listrik diputus, air diputus, bahan makanan terbatas, ditambah dengan ancaman misil dan peluru yang mengiringi langkah mereka. Belum lagi dengan kisah pelarangan puasa oleh pemerintahan komunis Tiongkok oleh kaum muslimin di Xinjiang. Kita yang masih berleha-leha dan tidak memaksimalkan Ramadhan kali ini di tengah pemandangan kehidupan yang begitu terserak dalam keseharian kita harusnya merasa malu.

Kini, di hadapan kita membentang sebuah hajatan besar yang menentukan siapa sosok yang akan memimpin bangsa yang besar dengan permasalahan yang besar pula ini. Anis Matta, Presiden PKS, berkata bahwa, Indonesia yang besar ini butuh “otak besar” untuk memahaminya secara utuh. Mari hilangkan caci maki dan prasangka kepada sesama anak bangsa. Mari berdemokrasi secara sehat dan mengesampingkan kepentingan-kepentingan sesaat. Siapapun yang akan terpilih, suka atau tidak, ia akan menjadi pemimpin bangsa ini. Oleh karenanya, di antara doa dan munajat kita yang tak tersela, mari selipkan doa agar negeri ini dianugerahi pemimpin yang dapat membawa negara ini menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

Mari kembali merajut asa dan cita, mari kembali mencari spirit Ramadhan yang sempat hilang, agar Ramadhan kali ini tak lagi diisi dengan sumpah serapah, caci maki, dan aksi-aksi vandalistik yang merugikan sesama anak bangsa, tapi dengan riuh rendah tilawah Qur’an, kesantunan kata-kata, kajian-kajian keislaman, saling berbagi antar sesama, dan prasangka baik kepada semua entitas bangsa.

Terakhir, sehubungan dengan pemilihan presiden yang lewat di serambi Ramadhan kita, saya hendak mengutip nasihat salah satu guru bangsa, KH. Abdullah Gymnastiar atau yang akrab disapa Aa Gym. Beliau berkata, “Dukung mendukung adalah wajar, beda pendapatpun wajar. Tapi saling membenci dan saling menyakiti tak ada gunanya bahkan merugikan kita semua. Kita harus tetap jernih, proporsional, tak boleh berlebihan menyikapi episode pilpres ini, jangan sampai merusak akhlaq, memutuskan silaturahim dan menurunkan iman. Ingat yang menjamin rizki, keselamatan, kebahagiaan dan kemuliaan dunia akherat adalah Alloh semata bukan presiden atau siapapun. Pilpres bisa jadi amal soleh, bila niat dan caranya benar menurut Allah, tapi yang Maha menentukan hanya Alloh semata. Kita harus sangat siap dengan apapun takdir Alloh. Bila disikapi dengan selalu mendekat kepada Alloh, kita tak akan dirugikan sama sekali, Insya Allah.”

Semoga Allah mudahkan urusan kita. Marhaban yaa syahru ramadhan. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juli 2014 

Kamis, 10 Juli 2014

Semacam Kronik Copras-Capres 9 Juli 2014

Tiga buah buku bacaan dan satu buah mushaf sudah saya masukkan ke dalam tas plastik hitam sebagai barang bawaan. Setelah memastikan handphone, charger, dan uang kecil sudah ada di dalam tas kecil yang saya bawa, saya lalu keluar rumah dan menemui istri saya yang ternyata sedang duduk di atas motor maticnya. Setelah cipika-cipiki dan membicarakan beberapa hal secara singkat, kami berdua saling berpamitan. Hari itu saya akan bertolak ke Kecamatan Kintom. Mobil saya disewa untuk mengantarkan koordinator saksi dari salah satu calon presiden untuk menyampaikan dana saksi sekaligus menjemput formulir C1.

Kota Luwuk pagi hari saat hari pemilihan presiden masih tampak lengang. Beberapa TPS yang berlokasi di pinggir jalan mulai dari BTN Nusagriya sampai ke TPS-TPS yang berlokasi di dalam kota belum dipenuhi banyak orang. TPS di dekat rumah saya di BTN Muspratama pun belum terlalu ramai, padahal waktu sudah menunjukkan pukul delapan pagi. Pertandingan piala dunia yang baru saja selesai pada pukul enam pagi mungkin membuat banyak warga Luwuk masih terbuai di alam mimpi. Padahal hari ini adalah hari penentuan pemilihan presiden untuk sebuah negara besar yang dihuni lebih dari dua ratus juta warganya. Iring-iringan mobil tronton berisi anggota TNI dan Polri mondar-mandir memecah kelengangan yang terjadi di jalanan Luwuk.

Saya melajukan mobil dengan kecepatan perlahan ke arah jalan Garuda. Orang yang akan saya jemput tinggalnya di kantor sekretariat PKS, namanya Ari, asli orang Palembang. Setelah Ari datang, ia meminta saya untuk melanjutkan perjalanan ke arah Puge. Di sanalah pusat tabulasi suara calon presiden nomor urut 1 bermarkas. Sesampainya di Puge, ia meminta diri untuk turun sebentar. Saya awalnya tidak ingin ikut masuk, tapi akhirnya ingin tahu juga. Saya lalu mengikuti Ari dari belakang. Banyak motor yang terparkir di halaman rumah yang berada tepat di tikungan ke arah perumahan dokter dan jalan menurun ke arah Mambual. Sendal-sendal berserakan di terasnya. Saya lalu menunggu di depan rumah itu. Lalu lalang orang, saya kira mereka adalah para saksi, melewati saya. Seorang lelaki yang tampaknya juga supir lalu menyapa saya. Ia akan mengantar koordinator saksi ke arah Batui, akunya. Tak beberapa lama, Ari keluar dari dalam rumah yang tampaknya penuh dengan hiruk-pikuk manusia itu.

“Ayo kita berangkat”, katanya.

Kami lalu berjalan ke mobil dan berangkat ke arah Kintom. Kelurahan Mendono jadi destinasi pertama kami. Di sana kami rencananya akan bertemu dengan seorang penghubung yang akan menunjukkan letak-letak TPS yang ada di sepanjang Kecamatan Kintom mulai dari Kelurahan  Mendono sampai desa Babang Buyangge.

Kecamatan Kintom adalah kecamatan baru hasil pemekaran kecamatan Luwuk yang terbagi menjadi lima kecamatan baru; Luwuk, Luwuk Utara, Luwuk Selatan, Nambo, dan Kintom. Di wilayah ini banyak bermukim suku asli kabupaten Banggai yakni suku Saluan. Kecamatan Kintom berbatasan langsung dengan kecamatan Batui di bagian barat yang menjadi lokasi eksplorasi gas alam dan kecamatan Nambo di bagian timur.

Sekitar empat puluh lima menit kemudian, kami sampai di Mendono. Saya memutuskan untuk berhenti di Masjid Nurul Iman Mendono  untuk menyelesaikan hajat yang tertunda, sementara Ari duduk-duduk di teras masjid untuk menunggu kedatangan sang penghubung yang akan mengantarkan kami. Sepuluh menit kemudian, orang yang dinanti tiba. Ari lalu menghampiri bapak paruh baya itu untuk berbincang, sementara saya masih tidur-tiduran di teras masjid yang sejuk dan berangin.

“Kita ikuti bapak itu saja”, ucapnya kepada saya yang merasa berat meninggalkan lantai yang terasa dingin.

Bapak paruh baya itu bernama La Maigu. Beliau orang Bau-Bau yang lama tinggal di Kintom dan mantan kades dua periode. Bersama pak La Maigu, kami menyisir setiap TPS yang terbentang di 3 kelurahan dan 11 desa di kecamatan Kintom. Selama perjalanan, ia bercerita tentang banyak hal: asal usul keluarganya, anak-anaknya yang sudah ‘mentas’, pernikahan kali ke duanya karena istri pertamanya meninggal, dan perbincangan ringan soal dunia politik lokal dan nasional.

Usai menyisir semua TPS mulai dari Babang Buyangge sampe Mondonun, kami akhirnya beristirahat di Mendono. Selepas shalat Zhuhur, saya bertemu dengan seorang kenalan, Mas Agus, salah satu orangtua murid di KBIT Madani. Pertemuan yang cukup mengejutkan karena terjadi di Mendono. Usut punya usut, ternyata istri beliau asli orang Mendono dan ia sedang berkunjung ke rumah mertuanya yang berada tak jauh dari masjid. Ari lalu pamit diri ke rumah Pak Djibran yang jadi markas tempat pengumpulan formulir C1. Saya tidak ikut dengannya dan mengobrol banyak dengan Mas Agus sampai lepas Ashar.

Sembari mengobrol, saya memantau pergerakan hasil rekap suara di kecamatan-kecamatan lain dari grup whatsapp yang saya ikuti. Beberapa koordinator saksi yang bekerja di kecamatan Balantak, Balantak Selatan, dan sebagian Toili sudah mengirimkan hasil rekap suara sementara mereka. Sementara daerah-daerah lain belum ada laporan yang masuk, termasuk dari Kintom. Saya lalu melanjutkan obrolan dengan Mas Agus. Saya menyampaikan niat saya untuk membuat rumah baca di Luwuk. Beliau menyimak dengan antusias dan siap jika suatu saat nanti dimintai bantuan untuk menyebarkan proposal donasi di kantornya. Saya berterima kasih kepadanya dan meminta nomor kontaknya.

Lepas Ashar, gerimis halus memisahkan saya dan Mas Agus. Sementara beliau berjalan pulang ke rumah mertuanya, saya lalu berjalan ke arah mobil dan memutar arah ke arah rumah pak Djibran yang berada di ujung tikungan. Saya memarkir mobil di depan pagar rumahnya yang dirimbuni tanaman bunga dan pohon jambu biji. Suara gemericik air dari kolam berisi ikan koi aneka warna menjadi suara yang menyejukkan di sore hari yang pengap itu. Saat masuk ke dalam rumahnya yang luas, saya mendapati ada beberapa orang lelaki sedang duduk-duduk di ruang tamu. Saya menyapa mereka untuk sekedar berbasa-basi dan melangkah ke ruang tengah. Ari tampak sedang duduk di salah satu sofa sambil menghadap meja berisi tumpukan kertas-kertas formulir C1. Saya mengambil tempat di dekatnya dan meraih kertas-kertas itu untuk membaca isinya. Suara televisi mengisi ruang tengah yang ramai dengan orang itu. Sebuah asbak berisi puluhan puntung rokok tergolek pasrah di salah satu sudut meja yang semrawut. Saya bertanya kepada Ari tentang progress rekap suara dan ia berkata bahwa kita baru bisa pulang abis Maghrib. Saya katakan tidak masalah.

Saat Maghrib makin mendekat, nyonya rumah menghidangkan dua gelas es kelapa muda bersirup cocopandan, kue bakpau, dan gogos, di meja kecil di samping kami. Sambil menanti berbuka, kami mengobrol tentang situasi perhitungan suara yang berlangsung di stasiun televisi yang berbeda. Seorang bapak berkata bahwa semua quick count di televisi itu tidak ada yang benar. Saya tidak berminat mendebatnya karena sepertinya akan berakhir dengan debat kusir tanpa isi jadi saya mendiamkan statement sang bapak dan kembali menekuri lembar-lembar formulir C1 yang ada di tangan saya. Sementara itu, Ari tampak sibuk mencatat data-data yang masuk pada sebuah kertas berkolom. Sesekali ia berhenti untuk memberikan amplop berisi honor saksi saat ada saksi yang datang dan menyerahkan formulir C1 kepadanya.

Lepas Maghrib, urusan rekap suara selesai. Seorang saksi dari Desa Kalolos yang kami tunggu-tunggu sejak sore akhinya datang juga. Ari berkata bahwa data C1 itu harus difotokopi supaya form aslinya bisa dibawa pulang ke Luwuk. Sayangnya, di Mendono tidak ada tempat fotokopi yang buka setelah Maghrib. Pak Djibran lalu mengusulkan agar berkas itu difotokopi di Nambo. Saya menyetujui usul itu dan langsung melesat ke arah Nambo dengan kecepatan tinggi. Selesai memfotokopi berkas, kami kembali bertolak ke Mendono untuk menyerahkan fotokopian formulir C1 itu kepada pak Djibran yang akan bertugas sebagai saksi di Kecamatan besok hari.

Suara adzan bersahut-sahutan memenuhi udara. Laut di sebelah kanan kami berwarna abu-abu tua. Perut kami lapar bukan main karena belum makan. Sepotong gogos yang saya lahap di Mendono masih terasa kurang ‘nendang’. Saya dan Ari lalu berembuk apakah mau shalat dulu atau makan dulu. Diputuskan shalat dulu. Saya setuju, karena tangan saya sudah agak gemetar dan perut sudah meronta-ronta minta diisi. Pukul 20.20, kami tiba di Luwuk. Sambil menikmati tahu goreng dan sambal terasi, kami berdua makan dalam diam. Sesekali kami berbincang tentang kemungkinan perolehan suara di Kabupaten Banggai yang tampaknya akan dimenangkan oleh kubu Jokowi. Saya berkata bahwa itu adalah hal yang wajar, karena sentimen orang Sulawesi pada sosok Pak Jusuf Kalla.

Pukul 20.40, kami telah selesai makan. Jensu masih saja ramai dengan pengunjung sementara arus lalu lintas di jalan Urip Sumoharjo masih tampak ramai. Saya lalu mengarahkan mobil ke arah Puge, formulir C1 yang dibawa Ari sejak dari Kintom sudah ditunggu di sana. Sesampainya di Puge, saya mendapati rumah itu begitu ramai dengan orang-orang, jauh lebih ramai ketimbang tadi pagi. Ketua DPD PKS menanyakan kepada saya dan Ari apakah sudah makan dan kami jawab sudah. Saya duduk di salah satu sudut rumah dan numpang mencharge baterai handphone yang sudah kelap-kelip. Sambil menunggu Ari menyelesaikan urusannya, saya tidur-tiduran sebentar di salah satu sudut rumah berbekal guling berbungkus plastik entah milik siapa yang teronggok di situ.

Suara telepon meramaikan suasana. Di salah satu sudut, dua orang muslimah berjilbab sedang meng-entry data dimana salah satunya fokus mengetik dan yang lainnya membacakan jumlah suara yang masuk. Seorang lelaki muda tampak berkonsentrasi dengan laptopnya. Kertas-kertas berhamburan. Tak ada satu pun orang yang bersantai dalam ruangan itu kecuali saya. Seorang lelaki lainnya tampak keluar ke ruang tamu dan terlibat dalam pembicaraan yang tampaknya penting. Saya mengamati hiruk-pikuk yang sedang berlangsung itu dalam jarak yang sangat dekat. Saya juga melongok ke layar leptop tempat rekapitulasi suara secara real time berlangsung. Saya bertanya ke salah satu petugas yang merekap suara tentang progress perhitungan suara yang masuk baik dari skala kabupaten Banggai, Sulawesi Tengah, sampai nasional. Jawabannya masih mengawang-awang dan belum pasti.

“Tunggu saja”, jawabnya.

Beberapa menit kemudian, Ari telah selesai dengan urusannya. Ia lalu meminta diri kepada sang ketua DPD untuk undur diri. Setelah itu, Ari meminta saya untuk mengantarnya pulang ke jalan Garuda. Saya lalu meminta diri dan meninggalkan keramaian yang sedang berlangsung tersebut. PKS memang diberikan tugas sebagai pengelola saksi capres nomor urut 1: Prabowo, dan saya telah menyaksikan kesungguhan mereka dalam menjalankan tugasnya. Saya memang hanya pengamat namun pengamat yang menyaksikan langsung dari jantung aktivitasnya. Berita tentang pro dan kontra hasil survey, deklarasi kemenangan yang masih prematur, dan kegaduhan-kegaduhan lain yang terjadi di televisi tidak saya acuhkan dan lebih memilih memerhatikan data-data yang sedang dikelola oleh para saksi dari PKS ini. Semoga yang kelak terpilih dari gelaran pilpres ini adalah sosok yang benar-benar dipilih oleh rakyat Indonesia, bukan pilihan lembaga survey yang level objektivitasnya sangat diragukan. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Juli 2014

Senin, 07 Juli 2014

Meraba Minat Baca Warga Luwuk

Oleh: Wahid Nugroho 

(Warga BTN Muspratama dan Pecinta Buku)



Bagaimana cara meraba minat baca masyarakat di suatu daerah? Apa indikator yang tepat dan apa pula alat ukurnya? Sebelum menjawab pertanyaan tersebut, mungkin ada baiknya jika kita menguraikan dulu apa yang dimaksud dengan minat baca sehingga kita bisa mendapatkan gambaran yang utuh dengan objek pembahasan kita.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, minat berarti kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu, perhatian, dan kesukaan. Sedangkan dalam buku babon Tesaurus yang diterbitkan oleh Pusat Bahasa Indonesia, minat memiliki relasi kedekatan maknda dengan animo, atensi, hasrat, hobi, interes, kecenderungan, kegemaran, kehendak, keinginan, kesenangan, ketertarikan, perhatian, dan selera. Jadi jika kita bicara soal minat, maka akan memiliki korelasi pula dengan kata-kata di atas.

Dari segi definisi, minat dapat diartikan sebagai kehendak, keinginan atau kesukaan (Kamisa, 1997). Minat adalah sesuatu yang pribadi dan berhubungan erat dengan sikap. Minat dan sikap merupakan dasar bagi prasangka, dan minat juga penting dalam mengambil keputusan. Menurut Gunarso (1995) minat dapat menyebabkan seseorang giat melakukan menuju ke sesuatu yang telah menarik minatnya. Sedangkan menurut Hurlock (1995), minat merupakan sumber motivasi yang mendorong orang untuk melakukan apa yang mereka inginkan bila mereka bebas memilih.

Sedangkan menurut para ahli, minat baca memiliki beberapa definisi yakni; salah satu aspek dari kesiapan membaca (Spodek, 1978), faktor terpenting dari kesiapan membaca anak untuk belajar membaca (Dallman, 1982), dan kecenderungan jiwa yang mendorong seseorang berbuat sesuatu terhadap membaca (Darmono, 2007). Sehingga bisa dikatakan bahwa minat baca ditunjukkan dengan keinginan yang kuat untuk melakukan kegiatan membaca.

Karena minat erat hubungannya dengan motivasi, bahkan bisa dikatakan ia adalah hulu dari motivasi itu sendiri, maka tak elok rasanya jika kita tidak menyertakan Teori Hierarki Kebutuhan Abraham Maslow dalam objek pembahasan kali ini. Mengapa? Karena eksistensi minat tidak akan bisa diraba dengan jelas sebelum kita memposisikan dirinya di antara kebutuhan-kebutuhan manusia yang kita pahami selama ini. Jika kita dapat menempatkan minat pada posisinya yang tepat, maka pertanyaan yang saya lemparkan di awal tulisan ini akan mendapatkan jawabannya.

Maslow mengatakan bahwa bahwa kebutuhan-kebutuhan di tingkat rendah harus terpenuhi atau paling tidak cukup terpenuhi terlebih dahulu sebelum kebutuhan-kebutuhan di tingkat lebih tinggi menjadi hal yang memotivasi seseorang. Kebutuhan-kebutuhan itu dari yang terendah sampai yang tertinggi adalah: Kebutuhan Fisiologi (seks, makan, minum, rumah, pakaian, dan kebutuhan dasar lainnya), Kebutuhan Rasa Aman, Kebutuhan Kasih Sayang, Kebutuhan Akan Penghargaan, dan Kebutuhan Aktualisasi Diri. Meski belakangan teori ini mengalami perkembangan hingga tingkatan yang ada mengalami penambahan, namun teori klasik ini masih tetap relevan untuk kita bahas. Lalu, minat baca berada di posisi mana?

Minat baca berada pada kebutuhan paling puncak dari hirarki tersebut, Kebutuhan Aktualisasi Diri, karena ia erat hubungannya dengan pencarian makna dirinya sebagai entitas pribadi yang unik dan peran kemasyarakatan yang selalu melekat dalam dirinya. Dua hal tersebut tidak akan dapat dipenuhi dengan baik dan benar jika seseorang tidak memiliki bekal pengetahuan yang cukup, dalam hal ini bersumber dari buku-buku yang telah dibacanya.

Soal minat baca sebenarnya bisa jadi sesuatu yang sangat personal. Namun jika kita bicara tentang “Minat Baca Warga”, maka ada domain kolektif yang berperan di sana, dalam hal ini pemerintah dan para pemerhati pendidikan. Sebelum kita membahas tentang perhatian pemerintah terhadap minat baca warganya, maka kita harus lebih dulu jujur menilai sejauh mana pemerintah dapat memfasilitasi warga-warganya dalam memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasar mereka. Berapa banyak warga di daerah ini yang masih hidup di bawah garis kemiskinan? Berapa banyak warga di daerah ini yang masih hidup dalam ketakutan dan karenanya selalu merindukan rasa aman dan kepastian hukum? Berapa banyak warga di daerah ini yang merasa telah mendapatkan curahan kasih sayang pemerintah yang telah mereka berikan amanah untuk mengelola daerah ini melalui pilihan mereka di bilik suara, seberapa jauh perhatian pemerintah terhadap kondisi mereka? Berapa banyak warga di daerah ini yang mendapatkan penghargaan dari pemerintahnya, penghargaan sebagai anak-anak bangsa yang juga berhak pendapatkan pelayanan terbaik dan bukan birokrasi rumit, berbelit, dan membuat kening mengernyit?

Berdasarkan uraian di atas, pertanyaan tentang bagaimana meraba minat baca warga Luwuk akan menjadi pertanyaan yang sulit untuk dijawab sebelum kebutuhan-kebutuhan mendasar yang mendahului kebutuhan akan aktualisasi diri, dalam hal ini membaca buku, telah terpenuhi lebih dulu: bagaimana kondisi perpustakaan yang ada? Bagaimana koleksi buku-bukunya? Apakah ada toko buku yang memadai di sini? Dan yang tak kalah pentingnya, bagaimana daya beli masyarakat?

Namun di sisi lain, kesulitan untuk menjawab pertanyaan yang tak kalah penting itu dalam situasi yang tidak ideal seperti saat ini tentunya tidak menjadikan kita tidak dapat melakukan apa-apa untuk turut andil dalam menumbuhkan minat baca warga. Ini memang kerja jangka panjang dan hasilnya tidak akan didapat dalam waktu singkat. Belum lagi tantangan untuk meningkatkan dan mengelola minat baca warga agar dapat menjadi salah satu sumber potensi untuk memajukan daerah ini. Semacam pekerjaan rumah bersama yang tentunya akan jadi kajian lanjutan yang perlu disorot secara kritis oleh orang-orang dan pihak-pihak yang berkepentingan dengan kualitas masyarakat di daerah ini di masa depan. Orang-orang itu bisa saya, Anda, dan bisa siapa saja. Momposa’angu tanga, mompoosa’angu patuju, mombulakon tano!


Tulisan ini dimuat di Luwuk Post edisi Senin, 7 Juli 2014 

Catatan Lelaki Tak Sempurna

Waktu kecil dulu, saya pernah berniat untuk menulis buku harian. Nggak tau kenapa, kayaknya kok keren aja gitu kalo bisa punya buku harian sendiri. Waktu masih kelas enam SD, saya pernah beli buku tulis kosong yang harganya paling murah, saya sampul dengan kertas cokelat, lalu saya beri nama dan tulisan basmalah dengan huruf arab yang jelek sekali di halaman pertama. Saya sering menanti-nanti waktu malam supaya ada materi yang bisa saya tuangkan ke dalam buku harian itu. Perjalanan saya dari rumah ke sekolah, pulang ke rumah dengan ngompreng mobil bak terbuka, atau sepeda bmx merah antik saya yang digantikan dengan sepeda federal baru berwarna ungu. Saya kadang menulis tentang teman-teman yang pernah berkelahi dengan saya di sekolah, jajanan dan mainan di sekolah, dan juga beberapa tulisan pendek tentang kesan-kesan saya terhadap teman-teman sekelas. Mungkin karena saya cepat bosan, aktivitas itu saya tinggalkan. Buku harian yang sempat jadi teman saya dalam kurun waktu yang tak seberapa lama itu hilang entah kemana. Waktu SD pula saya dipercaya untuk jadi juru tulis di kelas. Biasanya saat guru pergi saya akan diberikan sebuah buku untuk disalin di papan tulis. Kebiasaan itu masih berlangsung sampai saya SMP.

Saat masuk SMP, saya memulai lagi aktivitas mencatat di buku harian. Sebuah buku tulis tipis lalu menjadi teman coret-coret saya waktu itu. Kehadiran asmara di masa belia turut menyuntikkan energi menulis saya. Saya jadi akrab dengan lagu-lagu romansa, puisi, dan juga cerita-cerita romantis. Saya suka menulis lirik-lirik lagu yang saya suka. Saya juga menulis, katakanlah, surat cinta. Dulu saya sempat menyimpan surat-surat balasan si dia dalam sebuah tempat khusus, namun belakangan saya harus membuang surat-surat itu demi kebaikan saya dan keluarga saya.

Surat-surat itu tak melulu berbentuk surat yang lazim kita kenal, karena kadang hanya berbentuk sepotong kertas dengan tulisan merah jingga di dalamnya, atau sekedar bertukar kabar. Saat-saat sebelum saya memutuskan untuk membuang surat-surat itu, saya meluangkan waktu sejenak untuk membacanya satu demi satu dan tersenyum-senyum saat mengingati masa-masa belia itu.

Waktu SMA, saya juga masih suka nulis. Termasuk surat-surat untuk si dia. Saya tak punya sahabat pena meski dulu sempat kepingin punya. Tapi saya kurang punya nyali untuk menjalin sahabat pena. Meski begitu, saya suka meringkas buku-buku yang pernah saya baca, atau menulis cerita-cerita sambil lalu. Semua tulisan itu sudah hilang.  Sayang sekali, memang. Di antara semua mata pelajaran yang saya suka,  Bahasa Indonesia dan Sejarah adalah mata pelajaran yang saya suka. Namun demi mengejar gengsi, persetan dengan gengsi, mau tak mau saya terpaksa mempertajam kemampuan eksakta saya agar bisa bersaing dengan teman-teman di kelas. Waktu mau lulus kelas dua SMA dan masuk ke penjurusan, saya sempat berkata kepada mamak bahwa saya mau masuk kelas bahasa ketika itu. Saya tertarik belajar Bahasa Jerman karena di sekolah saya dulu ada seorang guru sosiologi yang jago bahasa Jerman. Tapi ternyata peminat kelas bahasa di angkatan saya sangat kurang, sehingga saya terpaksa memilih jurusan IPA. Meski begitu, saya suka mampir ke perpustakaan sekolah, baca-baca buku cerita, koran, majalah, atau sekedar buat nongkrong-nongkrong selain tidur-tiduran di mushala sekolah.

Lulus dari SMA, saya melanjutkan aktivitas halaqah saya yang belang-bontang saat masih sekolah. Kali ini dengan seorang ustadz yang cerdas dan lulusan timur tengah. Beliau selalu mendorong kami, para mutarabbinya ini, untuk menulis materi yang digilir setiap pekannya. Waktu itu buku yang jadi bahasan materi kami adalah Hadits Arba’in dan Afatun ‘Ala Thariq. Saya termasuk yang paling menunggu-nunggu giliran untuk memberi materi karena di situ saya jadi bisa menulis artikel berdasarkan buku-buku referensi yang ada. Saat kuliah ini pula saya berkenalan dengan blog. Waktu itu masih di friendster. Tak lama, saya juga mendaftar di multiply. Tapi awalnya saya rutin mengisi blog friendster saya. Nanti di tahun 2005 saya baru mengaktifkan multiply saya.

Saya nggak suka mengkopas tulisan orang lain untuk saya taruh di blog, kalopun ada paling hanya satu dua saja. Saya lebih suka menulis sendiri. Meski jelek dan ngalor-ngidul tapi ada kepuasan tersendiri saat membaca tulisan hasil karya saya. Tulisan-tulisan di blog itu nggak selalu bertema serius seperti tulisan-tulisan tentang materi keislaman, tapi juga kadang soal kondisi ruhiyah, kadang soal hubungan pertemanan, kadang soal politik, dan, yang pasti, soal cinta. Saya punya teman yang cukup sering berkorespondensi saat masih nongkrong di friendster dulu. Iya, dia perempuan. Sebut saja namanya Mawar. Khusus di bagian gak usah dilanjut ya, hehe..

Waktu masih kuliah ini juga, saya diamanahi sekelompok anak SMA untuk saya bina. Mentoring namanya. Menjadi mentor adalah salah satu wadah yang sangat cocok untuk menyalurkan hobi menulis saya. Maka jadilah mentee-mentee saya itu dulu saya kirimi tulisan-tulisan pendek, biasa berisi nasihat-nasihat. Saya juga berkorespondensi dengan beberapa teman ikhwan baik di dalam dan di luar negeri, termasuk juga berkorespondensi dengan beberapa akhwat yang saya kenal melalui surat. Dan, ya, surat-surat dari para akhwat itu pun juga sudah saya musnahkan awal tahun 2013 yang lalu saat saya pulang ke rumah. Saya tidak memungkiri bahwa dulu saya pernah dekat dengan beberapa orang akhwat dan kami kerap berkorespondensi melalui surat atau melalui pesan pribadi. Akhwat-akhwat itu sudah berkeluarga semuanya, sehingga saya tak perlu menyebut nama-nama mereka dengan alasan maslahat. Saya menganggap semua hal yang terjadi pada diri saya itu sebagai bagian dari episode kehidupan yang sudah lewat. Episode-episode yang turut mendewasakan saya dan membuat senyum tersungging saat mengingatinya. Menyadari bahwa saya dulu pernah melakukan hal yang konyol, berisiko, dan juga mungkin memengaruhi stabilitas hati saya. Tapi itu semua sudah lewat  dan saya mencukupi diri untuk menuliskannya pada titik ini saja.

Waktu kuliah ini saya membaca banyak buku lebih banyak karena koleksi buku-buku di perpustakaan kampus dan perpustakaan MBM yang melimpah. Saya juga rutin membaca majalah gratisan di Fatahillah MBM, jurnal, artikel, dan berinteraksi dengan banyak orang. Bisa dibilang, “kepala” saya terbuka saat di dunia kuliah karena saya berhadapan dengan dunia yang sama sekali berbeda saat masih di bangku sekolah dulu. Saat saya diamanahi sebagai ketua Badan Legislatif Mahasiswa dan karenanya mendapatkan jatah kunci sekretariat yang ada komputernya, membuat saya jadi lebih sering mengetik tulisan di word ketimbang menulisnya di buku tulis seperti yang sudah-sudah. Ada banyak draft tulisan saya di komputer itu yang sayangnya tak sempat saya selamatkan semua karena keterbatasan fasilitas. Kala itu flashdisk masih menjadi barang mahal dan belum terjangkau bagi saya.  

Sampai detik ini, aktivitas menulis di blog boleh dibilang menjadi salah satu aktivitas yang bisa saya pertahankan dengan sekuat tenaga dalam kurun waktu yang panjang. Memang, belum ada buku yang lahir dari aktivitas ini lebih karena sayanya aja yang kurang PD. Mungkin saya masih terjebak di zona nyaman menulis blog tenimbang buku yang mengandung pertanggungjawaban tersendiri. Meski begitu, sejak kuliah saya sudah berniat menulis buku. Sebuah kerangka buku pernah saya tulis dengan sangat jelek sekali tercatat dengan runut di buku catatan saya yang sudah hilang entah kemana. Saya juga menuliskan beberapa referensi yang harus saya lahap sebelum buku itu mulai ditulis. Namun lagi-lagi karena aktivitas kuliah dan organisasi yang cukup padat membuat impian itu hanya tinggal impian. Saya sempat mencoba bangkit untuk coba menulis buku kembali dengan tema yang berbeda tapi gagal. Belum lagi motivasi kuliah saya yang sangat rendah membuat nilai indeks prestasi saya kembang kempis setiap semesternya. Masa kuliah bisa dibilang masa suram dunia akademik karena saya jujur aja emang gak terlalu semangat kuliah akuntansi dan perpajakan, hehe.. Tapi alhamdulillah, Dia punya rencana lain untuk saya.

Itulah sebabnya, saya tidak pernah mengaku diri sebagai lulusan STAN, tapi lolos, karena memang saya lulus dengan sangat susah payah ketika itu. Tanpa bantuan teman-teman yang sabar membimbing mata kuliah akuntansi dan juga belas kasihan dosen pembimbing, saya mungkin akan bernasib lain. Tapi, ya itu tadi, Allah mungkin sedang menyiapkan rencana lain untuk saya jadi ya dinikmati saja.

Nilai IP saya yang terendah kedua seangkatan spesialisasi Pajak mengakibatkan saya terdampar di Luwuk, Sulawesi Tengah. Tapi di sini, semangat menulis saya jadi meninggi. Saya jadi banyak menulis demi mengusir suntuk dan bosan berada di tanah rantau. Saya sempat berencana membuat semacam direktori rumah makan kaki lima di kota Luwuk di blog, tapi urung karena satu dan banyak hal. Saya juga sempat punya ide untuk menulis hasil jalan-jalan saya selama di Luwuk ke dalam blog, tapi tak maksimal.

Sampai detik ini, saya masih berusaha untuk menjaga stamina menulis untuk tetap menyala, meski dengan susah payah. Saya memang masih payah sekali. Seorang ustadz menantang saya untuk menulis buku dan tantangan itu masih saya simpan sampai detik ini. Tantangan yang selalu terngiang dan sedang berusaha saya realisasikan. Saya tak mau berjanji muluk tapi saya akan berusaha memenuhi tantangan sang ustadz tersebut demi kebaikan saya sendiri. Membuat pengakuan dalam tulisan ini sebenarnya tidak mudah buat saya karena ada banyak hal yang sebelumnya saya simpan kini harus saya ungkapkan demi menghancurkan dinding besar yang menghalangi tercapainya impian saya untuk memiliki buku sendiri. Saya pun sudah bersiap andai istri saya membaca catatan ini lalu ia menghampiri saya dengan segepok pertanyaan. Tidak masalah. Saya yakin ia akan mengerti bahwa suaminya ini memang bukan lelaki bermasa lalu sempurna dan tanpa cela.

Gerimis yang sejak pagi mengguyur bumi Luwuk sudah sirna. Maghrib masih lama, tapi waktu Ashar sudah mendekat. Tiba-tiba saja, saya rindu dengan kampung halaman, rindu dengan bapak. Semacam cinta yang bertepuk sebelah tangan. Semoga Allah beri kekuatan kepada diri ini untuk menaklukkan kelemahannya sendiri. Kelemahan yang telah menggurita di dalam hati dan karenanya sulit diusir pergi. [wahidnugroho.com]

Tanjung, Juli 2014 

Ruang Privat Yang Tak Lagi Privat

Malam makin beranjak larut namun saya masih belum kunjung bisa tidur. Saya lalu mengambil sebuah buku “berat” supaya kelopak mata turut memberat tapi gagal. Mata saya masih terang. Saya lalu mengirimkan pesan pendek kepada seorang penjual buku yang bukunya mau saya beli. Setelah ber-sms ria dengannya, saya lalu membuka-buka beberapa laman di dunia maya, membaca beberapa tulisan pendek, artikel, dan juga status teman-teman yang berseliweran di linimasa.

Setelah mereply beberapa postingan, saya lalu berjalan ke dapur. Perut saya agak lapar. Saya membuka tudung nasi di meja makan lalu mengurungkan niat untuk mengambil sepotong pisang goreng yang sudah dingin sisa berbuka tadi yang sedang tergolek pasrah di atas piring. Saya lalu mengambil mangkok kaca hadiah dari membeli deterjen di rak piring dan menciduk empat sendok makan kolak pisang buatan mamak yang ada di dalam toples plastik di atas meja. Puas menikmati kolak pisang, saya lalu beranjak ke kamar belakang yang jadi ruang kerja mini saya selama ini. Menyalakan laptop, memutar lagu-lagunya Payung Teduh dengan volume kecil, dan mulai menulis.

Ada sesuatu yang menggelitik pemikiran saya selama ini tentang pola interaksi di media sosial selama ini. Semacam lintasan pikiran yang sejak lama berkelebat di dalam kepala namun belum sempat saya tuliskan secara panjang lebar.

Beberapa waktu yang lalu, seorang teman saya di facebook menshare postingan tentang sesuatu di linimasanya. Postingan itu sebenarnya sudah diposting beberapa jam yang lalu, namun entah kenapa tiba-tiba aja nongol di linimasa saya. Tergelitik dengan postingan tersebut, saya lalu melontarkan sebuah pertanyaan dengan harapan supaya pertanyaan yang sederhana itu dijawab. Namun ternyata hasilnya jauh dari harapan. Teman saya itu justru nulis ngalor-ngidul dan melakukan postingan sporadis yang pada intinya makin menjauh dari topik awal yang sedang saya pertanyakan. Salah satu argumentasi yang diberikan teman saya itu kurang lebih garis besarnya seperti ini, “Facebook ini milik saya pribadi. Mau saya posting apapun ya terserah saya, donk”.

Sepintas, postingan itu memang tidak salah. Saya pun membenarkan pengakuan itu. Namun yang jadi titik kritisi saya, yang sampai detik ini tak jua direspon oleh teman saya tersebut, adalah bahwa postingan di akun pribadi kita di media sosial memang bagian dari privasi kita. Tapi saat postingan yang sifatnya privat itu dilontarkan di ruang publik maka jangan salahkan orang-orang yang tak sengaja melihatnya untuk kemudian memberikan respon baik pro dan kontra dari postingan yang sifatnya privat itu tadi. Itulah sebabnya, di era media sosial ini, ruang-ruang privat kita tak lagi memiliki sekat-sekat dan karenanya interaksi kita, meski dibatasi ruang dan waktu, menjadi semakin cair dan dekat. Seorang presiden bisa berinteraksi langsung dengan rakyatnya, seorang wakil rakyat bisa berdiskusi langsung dengan calon konstituennya. Kasus kemarahan Ibu Ani Yudhoyono terhadap postingan followernya di sebuah akun media sosial tempo hari karena rasan-rasan yang menurut beliau ndak ilok sebenarnya tidak perlu terjadi jika kita benar-benar memahami pola interaksi dalam dunia media sosial yang tak lagi bersekat. Saya tidak tahu kalau tema ini ada istilah ilmiahnya. Anda yang paham soal-soal beginian mungkin bisa memberikan saya pencerahan.

Jadi, saat saya menuliskan sesuatu di akun media sosial pribadi saya, maka mau tidak mau saya harus bersiap dengan respon yang diberikan oleh teman-teman yang ada di friendlist saya. Atau dengan respon siapapun yang memiliki akses terhadap postingan saya. Respon itu bisa beragam, bisa pro, bisa kontra, bisa mencaci, bisa sumpah serapah, dan seabrek ekspresi lainnya. Sebisa mungkin, saya akan mencoba untuk mereply semua postingan yang mampir di status atau sharingan saya, meski kadang ada banyak juga yang tidak saya respon karena situasi-situasi tertentu.

Yang ingin saya sampaikan adalah, saat kita telah memutuskan untuk menjadi warga dalam sebuah ruang bernama media sosial dengan pola interaksinya yang serba cair, maka kita perlu menyediakan ruang jiwa seluas-luasnya untuk menampung aneka respon yang mampir ke beranda kita. Mengabaikan hal ini justru menunjukkan jika kita adalah orang yang keras kepala, egois, dan sulit menerima perbedaan. Atau bolehkah jika saya menyebutnya sebagai perilaku intoleran?

Nyanyian jangkrik yang saling bersahutan menyapa indra pendengaran saya di samping lagu-lagu Payung Teduh yang bernuansa syahdu. Pisang goreng dingin di meja makan yang tadi saya abaikan tiba-tiba saja menggugah selera saya untuk segera melahapnya. Sahur masih lama, tapi mata masih belum jua mau terpejam. Tulisan di atas hanya semacam lintasan pikiran. Kalo ada yang kurang berkenan dan ulasannya tidak tajam dan mengawang-awang maka saya mohon maaf, namanya juga lintasan pikiran. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juli 2014

Minggu, 06 Juli 2014

Tentang Copras-Capres: Semacam Sudut Pandang

Helatan pemilihan presiden yang dipenuhi dengan hingar-bingar, bahkan tak jarang caci-maki, fitnah, dan sumpah serapah, kali ini benar-benar membawa suasana yang berbeda bagi saya. Berbeda karena, tak seperti pemilu yang sudah-sudah, orang-orang sudah tak lagi malu-malu menunjukkan afiliasi politik mereka kepada salah satu dari dua calon yang sedang berlaga. Teman-teman saya, baik yang di dunia maya dan di dunia nyata, yang dulunya nampak apatis, sekarang tidak. Postingan mereka memenuhi linimasa saya dan obrolan-obrolan sambil lalu kami pun tak jarang menyerempet ke soal pemilihan presiden dan segala dinamikanya. Peran media sosial sebagai saluran aspirasi di dunia yang semakin cair dan tak berjarak menjadi salah satu faktor yang paling dominan.

Secara pribadi, saya senang-senang aja dengan perkembangan ini. Setidaknya saya jadi tahu bagaimana cara teman-teman saya berpikir dan bagaimana cara mereka menganalisa sesuatu hingga menjadi sebuah kesimpulan yang sama-sama bisa dikritisi. Khusus di media sosial, kadang saya merespons postingan beberapa teman yang tak jarang meluas pada diskusi-diskusi yang hangat. Diskusi yang memaksa saya untuk memeras nalar dan juga menggali kembali dasar sebuah pemahaman dari keyakinan yang saya miliki selama ini. Saya sangat menikmati diskusi-diskusi itu, karena kami bisa saling bertukar pikiran dan ujung-ujungnya bisa saling memahami posisi kami masing-masing dari sebuah peristiwa yang sama.

Kadang, saya mendiamkan beberapa postingan yang provokatif, yang andai akan saya respon tentu sang pembuat postingan akan merasa senang karena “umpannya” telah berhasil memancing respon yang, entah sengaja atau tidak, sedang diprovokasinya. Saya juga suka senyum-senyum sendiri menyaksikan postingan teman-teman saya yang kontra dengan apa yang saya dukung. Tapi cukup sampai di situ saja, karena untuk hal-hal tertentu yang sudah disikapi dengan jelas, saya cenderung bermain “aman” dengan tidak masuk ke dalam perangkap mereka dan mencukupkan diri dengan menolerir apa yang mereka posting/katakan.

Di sisi lain, perhelatan pilpres kali ini telah memaksa saya untuk kembali membuka literatur-literatur terkait perjalanan bangsa ini yang rumit dan berliku. Sejak dulu, saya memang tidak terlalu tertarik dengan buku-buku sejarah nasional karena ketidakjelasan kontennya diakibatkan penguasaan narasi sejarah oleh beberapa pihak. Namun dengan seiring berkembangnya situasi dan ternyata ada banyak hal-hal mengejutkan yang seolah keluar dari persemayamannya hingga akhirnya membuat orang-orang baru nyadar dan ngeh dengan eksistensinya yang selama ini tidak terungkap, membuat saya harus membuka-buka kembali literatur yang sempat saya tinggalkan sejak lama. Saya lalu membeli buku-buku yang saya anggap perlu demi memuaskan rasa ingin tahu saya terhadap objek yang sedang saya perhatikan. Saya juga membaca artikel-artikel yang saya ungguh dari internet, menyesapnya perlahan-lahan, mengunyah dan mencernanya di dalam kepala, menyambungkannya dengan nalar dan logika, agar tercipta satu narasi utuh yang bisa saya jadikan pegangan dalam memandang kondisi bangsa dan negara ini secara jujur.

Oleh karenanya, saya hendak mengucapkan terima kasih kepada siapapun, baik yang pro dan kontra dengan saya dalam diskusi-diskusi yang kita lakukan; atau kepada mereka, para ahlul nyinyir yang postingannya kerap saya baca tanpa komentari di media sosial; atau kepada mereka yang kerap berdiskusi dengan saya dalam beberapa kesempatan yang ada; atau kepada siapapun yang telah meramaikan linimasa media sosial saya dengan segala polah-tingkah dan latar-belakang pemikirannya; sehingga saya kembali bersemangat untuk membuka buku dan literatur tentang sejarah bangsa ini, bangsa yang besar yang tak pernah lepas dari nestapa ini. Saya yakin, mempelajari masa lalu, membacai sejarah, bukan untuk membuat kita larut dalam nostalgia semu dan kebanggaan yang tidak produktif, tapi untuk mencari spirit bangsa ini dalam meraih takdir kesuksesannya di masa depan.

Sekali lagi saya ucapkan terima kasih. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Juli 2014 

Sabtu, 05 Juli 2014

Setiap Kita Telah Memilih Jalan Hidup Kita Masing-Masing

Hujan yang baru saja menyelimuti kota Manado telah berangsur mereda. Malam itu, sepulang dari Gramedia Manado, saya memutuskan untuk men-stalking akun  Facebook teman-teman lama yang dulu sempat bersama, baik di masa sekolah, kuliah maupun bekerja, melihat perkembangan dan kondisinya sekarang, lalu berpindah dari akun yang satu ke akun yang lain ke teman-teman yang masih agak baru saya kenal. Suasana kamar hotel yang temaram membuat mata saya agak mengantuk. Saya melirik ke arah teman sekamar saya yang sudah tertidur di kasur empuknya.

Saya lalu beranjak sebentar untuk mengambil remote televisi yang ada di meja kecil yang terletak di antara kedua tempat tidur dan menekan salah satu tombolnya untuk mengecilkan suara televisi layar datar yang menempel di dinding. Setelah itu saya kembali ke meja kerja mungil yang ada di pojok kamar, merapihkan beberapa kertas yang berserak, menata buku-buku yang baru saja saya beli di salah satu sudut meja, dan mulai menatap layar notebook mungil berwarna cokelat milik istri yang sedang saya bawa dalam tugas di Manado itu. Tangan kanan saya mengarahkan mouse ke sana dan kemari, mengklik ini dan itu, berhenti sebentar untuk membaca, lalu mengklik lagi dan berpindah ke laman yang lain.

Ada seorang teman SMP yang menampilkan foto liburannya di luar negeri, ada teman SMA yang kini bekerja di Kementrian Luar Negeri dan kerap mengupload foto kunjungan-kunjungannya ke beberapa negara yang selama ini hanya saya ketahui lewat gambar dan cerita saja, ada teman-teman kolektor sekaligus penjual buku yang juga saya stalking foto-fotonya, teman-teman kolektor jersey, dan banyak lagi. Saya juga melihat akun teman-teman kuliah, baik yang seangkatan, adik kelas, maupun kakak kelas, membaca perkembangan hidup mereka: ada yang sedang kuliah di luar negeri, ada yang sedang menyelesaikan masternya di sebuah universitas ternama, ada yang pangkatnya di instansi ini melesat meninggalkan pangkat saya yang masih saja stagnan, ada yang sukses dalam bisnisnya, dan ada yang kelihatannya sudah melakukan pencapaian hidup tertentu secara spiritual. Melihat itu semua, saya turut merasa berbahagia.

Saat berselancar di ruang maya itu, saya lalu mengaitkannya dengan kondisi diri saya sendiri, saat ini, dan mulai bertanya-tanya kepada diri saya sendiri: Apa yang sudah saya lakukan? Pencapaian apa yang sudah saya raih dalam rentang umur ini? Dan pertanyaan-pertanyaan kontemplatif lainnya yang membuat saya merenung lebih jauh. Setiap kita memang telah memilih jalan hidup kita masing-masing dan karenanya kita harus mampu bertanggungjawab dengan pilihan-pilihan yang telah kita buat. Pilihan itu tak sebatas tentang saya, tapi juga terkait dengan hidup orang-orang yang dekat dengan saya, orang-orang yang telah menggantungkan kaitan takdirnya dengan hidup saya. Hujan di luar sana kembali menyapa bumi Manado yang berangsung sepi seiring malam yang telah larut. Butir-butir air yang dimuntahkan dari langit mengetuk-ngetuk kaca kamar tempat saya tenggelam dalam renungan yang menggelisahkan saya sebagai manusia yang masih berusaha keras melebarkan jejaring ikhtiar demi menggapai-gapai impian yang tak kunjung tercapai di atas jalan hidup yang telah saya pilih ini. [wahidnugroho.com]


Manado, April 2014 

Selasa, 01 Juli 2014

Pernikahan

Pernikahan. Sebuah hari dimana aku telah mengucapkan janji yang teguh nan suci itu kepadamu. Suatu hari dimana aku dan dirimu duduk berdua di atas singgasana cinta. Betapa bahagianya, kau dan aku. Saling melempar senyum serta bertukar sesapa malu-malu. Haruman semak dan bebungaan mengisi jambangan kuningan. Senandung riang burung-burung di pepohonan, menghiasi syahdunya suasana ketika itu. Mata kita saling menyapa hati kita bertaut erat tangan kita menggenggam erat. Kucicipi pesona dirimu, kau rasai segenap citraku. Berdua kita saling menatap, menikmati keheningan yang sejenak meresap, kau dan aku.

Kugamit lembut jemarimu kala kita menapak perlahan ke peraduan. Bintang-bintang yang beredar, sengaja melambat demi menatap kita dekat-dekat. Angin berhembus pelan, membalut sekujur tubuh kita yang tengah menghangat. Langit cerah tak berawan ditemani serpihan sinar rembulan. Betapa indah. Dunia serasa milik kita berdua, kau dan aku.

Di sini, di peraduan ini, kita bercakap lewat remangan senyum yang tersipu. Meski hening kerap menjadi spasi dialog kita yang terlihat dungu, namun ada getar ajaib yang kurasakan ketika itu. Karena aku dan dirimu tertawa riang, tenggelam dalam cumbu rayu. Tak terpisahkan kita, dalam kenikmatan puncak kita menyatu, kau dan aku.

Biar saja bulan mengamati karena iri, tak usah kita acuhkan serangga malam yang riuh bernyanyi. Mari ciptakan senandung kita sendiri. Betapa bahagianya kita. Di sini, hanya ada satu jiwa yang mengisi dua tubuh. Menyatu dalam bebait simfoni indah, kau dan aku.

Pernikahan. Sepotong masa dimana aku duduk berdua bersamamu di atas singgasana cinta. Singgasana yang kubangun dari reremahan hati yang menggebu rindu. Singgasana yang kubangun dari kesucian hati dan jiwa. Singgasana tempat merakit asa dan cinta. Selamanya, kau dan aku.

Datu Adam, Oktober 2007

Perpustakaan Daerah, Riwayatmu Kini

Oleh: Wahid Nugroho 
(Warga BTN Muspratama dan Pecinta Buku)

Apa yang terjadi jika sebuah kota tidak memiliki perpustakaan? Apa yang terjadi saat sebuah kota menelantarkan perpustakaannya dan lebih memilih mengurusi gedung-gedung pemerintahannya yang kerap kali kosong dari aktivitas dan lebih memilih untuk mendirikan bangunan tanpa makna di atas bukit-bukit yang tinggi ketimbang memerhatikan perpustakaan yang berada di ruang tamunya sendiri?

Bagaimana sebuah perpustakaan diisi dan diurus sebenarnya menggambarkan tentang kualitas pemiliknya. Jika perpustakaan itu adalah miliknya pribadi, maka perpustakaan itu menggambarkan tentang kepribadiannya. Begitu juga dengan Perpustakaan Daerah, bagaimana ia diurus dan buku-buku apa saja yang menjadi koleksinya sebenarnya menggambarkan wajah dan level penghargaan daerah itu terhadap kualitas masyarakatnya.

Awal Januari tahun 2014, publik kota Luwuk dibuat terkejut dengan peristiwa kebakaran yang melanda bangunan Perpustakaan dan Arsip Daerah di jalan Urip Sumoharjo. Bangunan yang awalnya merupakan kantor Kecamatan Luwuk itu habis dilahap si jago merah, menyisakan reruntuhan dan puing-puing dari ribuan koleksi buku serta arsip-arsip penting yang menjadi  saksi sejarah perjalanan daerah ini dari masa ke masa. Peristiwa pahit itu seharusnya terekam dengan sangat kuat dalam benak warga kota Luwuk sebagai salah satu hari kelam dalam sejarah pendidikan dan kebudayaan kota ini.

Beberapa bulan selepas kejadian yang memilukan itu, saya mencari-cari lokasi perpustakaan yang baru dan mendapati lantai 1 gedung Badan Perijinan dan Pelayanan Terpadu sebagai destinasi Perpustakaan dan Arsip Daerah yang selanjutnya. Itu artinya, selama tujuh tahun tinggal di Luwuk, saya sudah menyaksikan pemindahan lokasi Perpustakaan Daerah sebanyak tiga kali.

Pemindahan lokasi ke tempat yang baru ini bukan tanpa catatan. Di samping lokasinya yang terlalu riuh dan jauh dari ketenangan, penataan lemari yang terlalu rapat dan ruangan yang terlalu sempit membuat suasana perpustakaan menjadi sesak dan tidak bisa dibilang nyaman. Belum lagi jika bicara tentang koleksi buku-bukunya yang kurang menarik ditambah kegiatan perpustakaan yang cenderung monoton dan kurang inovasi. Keputusan Pemerintah Daerah Kabupaten Banggai menentukan lokasi Perpustakaan dan Arsip Daerah ke lokasi yang terbaru saat ini dan juga kinerja perpustakaan dalam perannya meningkatkan minat baca di masyarakat perlu mendapat sorotan lebih dari orang-orang yang memiliki perhatian terhadap kualitas perpustakaan dan manfaatnya untuk khalayak umum.

Memang, rendahnya minat baca masyarakat di kota ini menjadi salah satu permasalahan yang kerap kali diabaikan. Padahal ia adalah indikator maju dan tidaknya sebuah daerah. Lihat saja perpustakaan-perpustakaan yang tersebar di sekolah-sekolah yang tersebar di daerah ini, kondisinya jauh dari menggembirakan. Itu jika kita baru menyoroti pada perwajahan perpustakaan, belum ke koleksi buku-bukunya dan juga program-programnya.

Ada dua pengabaian yang kerap kali terjadi pada perpustakaan: pengabaian pertama saat koleksi buku yang berlimpah itu hanya dijadikan pajangan di dalam lemari-lemari kaca yang tampak megah tanpa pernah dibaca; pengabaian ke dua adalah saat perpustakaan dianggap sebagai sebuah hal yang tak penting dan karenanya tak perlu diperhatikan. Coba tanyakan kepada warga di kota Luwuk ini, berapa di antara mereka yang sudah tahu bahwa lokasi Perpustakaan dan Arsip Daerah yang terbaru saat ini ‘baku tindis’ dengan bangunan BPPT? Saya sendiri baru ngeh dengan lokasi Perpustakaan bulan Mei kemarin, setelah melakukan pencarian yang cukup masif dengan bertanya ke sana dan ke sini.

Menciptakan perpustakaan yang memiliki daya tarik adalah pekerjaan rumah kita bersama yang menghendaki masa depan daerah ini berjalan ke arah yang lebih cerah. Pemerintah Daerah tentu harus punya itikad baik yang kuat agar aset daerah yang berharga tersebut tidak dilupakan oleh generasi penerusnya hanya karena pengabaian dan sikap acuh tak acuh dari orang-orang yang telah diamanahi untuk menjaganya. Ungkapan salah seorang pejabat tinggi di daerah ini yang mengatakan bahwa “Perpustakaan sekarang tidak laku-laku” seharusnya menyadarkan kita tentang posisi kritis yang sedang dialami oleh Perpustakaan Daerah ini.

Sebagai penutup, saya hendak mengutip ucapan seorang sastrawan besar Argentina bernama Jose Luis Borges yang berkata bahwa, “I have always imagined that Paradise will be a kind of library”, aku selalu membayangkan bahwa surga itu seperti sebuah perpustakaan. Pertanyaannya adalah, sudahkah Perpustakaan Daerah ini menjadi surga bagi para pegawai dan pengunjungnya? Saya tidak tahu. Anda mungkin bisa menjawabnya.


Tulisan ini dimuat di Harian Luwuk Post Edisi Selasa 1 Juli 2014 dengan judul yang sama.