Kamis, 31 Juli 2014

I'tikaf Ramadhan 1435 H

Jarum jam merampat perlahan ke angka empat, pertanda waktu shubuh semakin mendekat. Langit malam tampak kelabu. Teluk Lalong tampak sepi. Dunia begitu hening. Bahkan suara tiupan angin dingin yang menembus sela-sela teralis besi di lantai dua Masjid Agung An Nur Luwuk ini terdengar begitu jelas. Dari arah mihrab, terdengar suara isak tangis dari jamaah shalat witir yang sedang membaca qunut nazilah. Sudah lebih dari setengah jam sang imam membacakan doa qunut itu. Seingat saya, mereka memulai shalat witir yang hanya satu rakaat itu pada pukul tiga lewat lima belas menit dan sekarang waktu sudah menunjukkan nyaris pukul empat.

Ramadhan tahun 1435 hijriyah adalah kali ke 8 saya berpuasa di Luwuk, dan kali ke 7 saya mengikuti i’tikaf secara rutin bersama teman-teman PKS di sini. Kali pertama saya beri’tikaf di Luwuk adalah tahun 2008 yang lalu. Lokasinya di lantai 2 Masjid Agung. Meski sempat berpindah ke Masjid Al Ukhuwah Tanjung di tahun 2011, acara yang selalu dihelat olet komunitas tarbiyah di Luwuk ini tak pernah sepi dari peserta. Apalagi setelah pusat kegiatan kembali diadakan di Masjid Agung, pesertanya dari hari ke hari semakin bertambah saja, bil khusus di malam-malam ganjil dan utamanya di malam ke dua puluh tujuh.

Acara i’tikaf di Masjid Agung ini diadakan oleh DPD PKS Kabupaten Banggai dan pesertanya berasal dari lintas usia, profesi, dan latar belakang mulai dari tukang ojek, PNS, pedagang pasar, supir taksi, wiraswastawan, anggota dewan, sampai anak-anak kecil. Selama mengikuti i’tikaf, saya menyaksikan orang-orang yang berbeda setiap tahunnya meski ada beberapa yang merupakan peserta tetap. Ada juga yang dulu masih anak-anak sekarang tingginya sudah melebihi saya. Ada yang dulu tidak segemuk saya dan sekarang justru sama gemuknya dengan saya (abaikan!!). Kaum pria tinggalnya di lantai 2 Masjid Agung, sedangkan kaum perempuan tinggalnya di ruangan menara.

I’tikaf dimulai sejak Ramadhan malam ke-21 dan berakhir pada adzan Maghrib sebelum takbiran. Dari tahun ke tahun, agendanya selalu berubah-ubah: pernah ada kajian tahsin, kajian hadits, kajian sirah, dan kajian kitab klasik. Tapi ada satu agenda utama yang sudah menjadi tradisi sejak lima tahun belakangan: qiyamulail 3 juz per malam. Adalah Ustadz Iswan, ketua DPD PKS Kabupaten Banggai, yang pertama kali mengajak para peserta i’tikaf melakukan aktivitas itu dimulai tahun 2010 yang lalu. Ustadz lulusan Al Azhar Mesir yang juga anggota legislatif DPRD Kabupaten Banggai terpilih untuk periode 2014-2019 itu yang selalu menyemangati kami, para peserta i’tikaf, untuk mampu melakukannya.


Peserta Shalat Malam

Waktu awal-awal dicoba rasanya memang berat. Bayangkan saja, kita harus bangun jam 1 dini hari, lalu mengambil wudhu dalam udara yang cukup dingin dan shalat qiyamulail 8 rakaat plus witir 1 atau 3 rakaat. Kalau ditotal, shalat lail itu memakan waktu hingga 3 jam lamanya. Tak jarang, meski malam cukup dingin, tapi keringat mengucur deras. Saya sendiri lebih sering bolong-bolong mengikutinya. Kadang saya bangun jam 2, kadang bangun jam setengah 3, dan pernah juga saya baru bangun menjelang sahur hahaha..

Setelah witir, kami akan sahur bersama. Dulu kami harus membayar sejumlah iuran untuk ini, tapi semenjak ada seorang donatur yang baik hati dan bersedia menanggung seluruh urusan per-i’tikaf-an, semua urusan teknis terkait makan, minum, buah dan suplemen lainnya menjadi tanggungan beliau. Semoga Allah membalas kebaikannya dengan sebaik-baik balasan.


Beberapa peserta I'tikaf

Oh iya, khusus i’tikaf tahun ini saya sengaja mengambil cuti 3 hari sebelum lebaran demi mengejar beberapa target yang harus saya capai. Saat i’tikaf di tahun ini pula, saya menyengaja membawa kertas HVS polos dari rumah. Kertas itu rencananya untuk mencatat hal-hal yang menarik sepanjang pelaksanaan i’tikaf sekaligus untuk kembali membiasakan menulis dengan tangan yang sudah lama sekali tidak saya lakukan. Selain kertas dan pulpen, saya juga membawa dua buah buku: New Life-nya Orhan Pamuk dan The History of Islamic Political Thought atau Pemikiran Politik Islam Dari Masa Nabi ke Masa Kini-nya Antony Black. Tak lupa, saya membawa tiga buah mushaf: mushaf Al Burhan untuk dibawa wara-wiri masjid dan kantor, mushaf khusus hafalan untuk mengimami qiyamulail, dan mushaf hibah dari DPD PKS Banggai milik istri saya untuk dibaca dalam durasi yang lama karena ukuran hurufnya yang lebih besar daripada dua mushaf saya yang lainnya.

Selain barang-barang itu, saya juga membawa satu buah bantal, kasur kecil – yang belakangan ditukar selimut tebal oleh istri saya karena dia dan anak-anak juga ikutan i’tikaf –, varsity, sarung, gamis dan barang-barang pribadi lainnya seperti odol, sikat gigi, parfum, obat flu dan suplemen. I’tikaf tahun ini juga menjadi kali pertama saya mengajak keluarga. Bukan kenapa, sebelumnya, anak-anak saya masih terlalu kecil untuk diajak i’tikaf dan jarak rumah saya ke Masjid Agung yang cukup jauh menjadi kendala selanjutnya. Belum lagi kendala kendaraan motor matic kami yang tak bisa memuat penumpang dan segala barang-barangnya secara maksimal hehe..

Di sela-sela i’tikaf, ada beberapa teman yang ‘menyambinya’ dengan menjadi pengelola Ziswaf. Tahun ini kami kembali bekerja sama dengan PKPU Palu. Meski tidak disiapkan dalam jangka waktu yang cukup panjang, alhamdulillah respon masyarakat yang menyalurkan bantuannya kepada kami cukup banyak. Seingat saya nyaris mencapai angka 30 juta totalnya. Saat berkunjung ke rumah salah satu peserta i’tikaf di hari lebaran, beliau berkata bahwa segala tetek-bengek ziswaf baru selesai jam 1 malam dan teman saya yang bertugas sebagai pengelola, Iksan, langsung meluncur ke Toili (sekira 100 km dari Luwuk) untuk menyusul keluarganya berlebaran di sana. Benar-benar kerja yang luar biasa.

Meski pesertanya agak berkurang di 2 malam terakhir karena sebagian sudah ada yang pulang kampung, jumlah jama’ah i’tikaf di malam 28 masih di angka 20-an. Bahkan di malam 29 ada beberapa peserta yang baru datang. Saya sendiri baru menyelesaikan i’tikaf pada shubuh hari ke 29 dan langsung mengajak keluarga saya pulang. Kami pun mengemasi beberapa barang yang kami bawa ke dalam mobil dan segera meluncur menembus gerimis menuju Kilongan. Jalan-jalan tampak sepi. Beberapa warung non permanen yang ada di sisi jalan sudah banyak yang dibongkar. Sampah-sampah di area pasar malam menumpuk di sana-sini. Saya melajukan mobil seraya berdoa agar ramadhan yang tak optimal kemarin diterima di sisiNya dan berharap agar disampaikanNya umur ini ke ramadhan yang akan datang. Aamiin yaa mujiib as saailiin. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juli 2014
Baru pulang dari Toili Barat
Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar