Berkunjung ke Desa Bonebae Toili Barat

10.14.00
Malam ini saya sedang berada di teras sebuah rumah yang halamannya ditanami aneka pohon hias, kelapa gading, rambutan, dan mangga. Suasana gelap pekat. Listrik baru saja mati beberapa saat yang lalu. Hanya ada suara gerojokan air dari saluran irigasi yang membentang di depan rumah tempat saya duduk saat ini, kerikan suara serangga dari pohon rambutan, nyanyian burung gagak dari kejauhan, kepakan sayap nyamuk, dan suara angin yang bertiup cukup kencang ditambah dengan suara rinai hujan membuat suasana malam jadi semakin syahdu. Sesekali ada kendaraan yang melintas di jalanan yang beraspal mulus itu.

Sejak hari Selasa (29/7) kemarin, saya dan seluruh keluarga yang terdiri dari istri, ketiga putri, mamak, mamak mertua, adik ipar, dan kakak ipar, serta seorang tetangganya mamak mertua saya, Mamamblo beserta seorang cucunya, menerobos hujan yang setia mengguyur kota Luwuk sejak pagi menuju desa Bonebae yang terletak di kecamatan Toili Barat. Di sana ada rumah adik dari mamak mertua saya, Husain Panto, yang biasa kami panggil Om Rutu atau Papa Ece, yang hendak kami datangi. Desa Bonebae adalah salah satu desa terluar yang ada di pantai selatan kabupaten Banggai sebelum berakhir di desa Rata yang berjarak kurang lebih lima belas kilometer dari desa ini. Kalau saya taksir, jarak Luwuk ke Bonebae nyaris mencapai 200 kilometer dengan waktu tempuh sekitar empat sampai empat setengah jam. Waktu tempuhnya agak sedikit molor karena kondisi jalan yang rusak di beberapa titik seperti di desa Bonebalantak, Pantai Pandanwangi dan Dongin. Saya agak lupa dengan titik kerusakan yang lain. Hanya saja, paska dmamakkanya investasi migas di daerah ini beberapa tahun silam, ditambah dengan wara-wirinya mobil-mobil besar dari sebuah perusahaan sawit yang cukup besar, membuat sebagian jalan beraspal yang membentang sejak dari Batui sampai dengan Toili Barat kerap rusak dan berlumpur. Sering terjadi kecelakaan akibat rusaknya jalan dan kurang berhati-hatinya para pengendara yang kerap melajukan kendaraannya dengan kecepatan nyaris maksimal. Saya sendiri nyaris bersenggolan dengan beberapa kendaraan meski telah mengendarai mobil dengan sebaik mungkin.

Setelah menyiapkan beberapa keperluan termasuk kasur dan sekian bantal untuk anak-anak, ditambah dengan barang-barang lainnya yang berdesak-desakan di bagasi belakang dan kabin tengah, tujuh orang dewasa dan empat orang anak-anak usia dua setengah sampai lima setengah tahun, mengisi mobil Daihatsu Granmax saya yang sudah tampak klumut dengan debu. Selepas desa Bakung, mobil yang kami tumpangi membelok ke kiri sebentar di jembatan Gori-Gori untuk menuju ke desa Sinorang, tempat salah satu adik dari mertua saya tinggal, Tante Jani. Sawah menghijau yang membentang di kanan kiri jalan dan bangunan CPP milik JOB Pertamina Medco Tomori Sulawesi menjadi pemandangan yang mengisi lanskap di bawah naungan langit siang yang berwarna abu-abu tua. Sampai di rumah tante Jani, saya dan penumpang lainnya turun untuk berlebaran dan menyelesaikan hajat di kamar mandi sementara mamak dan putri bungsu saya yang sedang tidur, Gendis, tetap di dalam mobil.

Selesai dari tante Jani, kami kembali meneruskan perjalanan. Memasuki perempatan ke Moilong dan HTI (Hutan Tanaman Industri), saya mengambil jalur ke kiri, menuju ke Unit IV, tempat dimana Mamamblo dan cucunya akan turun. Semakin ke dalam, hujan semakin deras dan jalanan semakin bertambah buruk. Meski begitu, mata kami dibuai dengan pemandangan sawah di kanan kiri dan bangunan-bangunan khas Jawa dan Bali yang terpancang di kiri kanan jalan. Daratan Toili, Moilong, dan Toili Barat merupakan kawasan yang didiami oleh penduduk Trans. Di wilayah yang datar dan luas ini, terdapat banyak sekali etnis seperti: Jawa, Sunda, Bali, Lombok, Bugis Bone, dan beberapa suku asli Saluan. Saya sendiri belum pernah membaca konfigurasi wilayah ini secara lengkap. Hanya saja, suasana pedesaan di Jawa dan Bali begitu kental di wilayah ini seperti orang-orang bertopi caping yang naik sepeda ontel sambil membawa rumput pakan ternak di belakang, ornamen-ornamen khas Bali seperti Pura dan tempat peribadatan yang nyaris selalu ada di halaman depan penduduk Bali, dan suasana pasar yang dipenuhi dengan logat-logat medok Jawa, Sunda, Bali dan Lombok. Seorang teman pernah berujar bahwa jika dia sedang kangen dengan suasana desa di Jawa, maka dia akan melancong ke Toili dan menekuri jalanannya demi mengusir rasa kangen itu. Saya yang entah sudah berapa kali ke Toili pun setuju dengannya.

Suasana persawahan di Toili


Usai dari Unit IV, perjalanan kami berlanjut ke Unit X. Adalah rumah ipar mamak mertua saya yang jadi destinasi selanjutnya. Adik perempuan dari ipar mamak mertua saya itu yang bekerja di warung Bubur Ayam Tompotika kami yang biasa kami panggil Cucu. Selama perjalanan, istri saya kerap berkoordinasi dengan Cucu agar kami tidak nyasar dan salah jalan. Berhubung saya cukup familiar dengan jalan-jalan Toili, saya tidak merasa kesulitan dengan arah yang ditunjukkannya.

Ornamen Hindu Bali di Toili
Sumber: http://memoirs-musafir.blogspot.com/


Saat mendekati patokan berupa pintu air, saya melihat Cucu sedang berdiri di tepi jalan. Saya lalu membelokkan mobil ke rumah yang dipenuhi dengan tanaman bunga Turi dan tanaman pagar lainnya. Sekitar satu setengah jam kami menghabiskan waktu di rumah itu. Sambil menikmati es campur dan ikan malalugis bakar dengan dabu-dabunya yang pedas nikmat, kami bertukar kabar tentang banyak hal. Selesai makan, kami lalu berpamitan untuk meneruskan perjalanan dan akhirnya sampai di desa Bonebae sekitar satu jam dua puluh menit kemudian.

Selama dua hari satu malam di desa Bonebae, hujan nyaris tak pernah berhenti turun. Langit nyaris selalu berwarna abu-abu tua. Sesekali hujan memang berhenti namun tak lama kemudian ia turun lagi dengan deras. Rencananya kami sekeluarga akan pasiar ke Bendungan Mentawa, salah satu lokasi yang kerap dijadikan objek wisata oleh warga lokal saat lebaran selain Pantai Pandanwangi dan Pantai Dongin. Bendungan ini adalah wilayah “kekuasaan” Om Rutu dimana beliau adalah pegawai penjaga pintu air di wilayah itu. Sayang, kondisi jalan yang buruk karena hujan yang sering turun dan tidak adanya Om Rutu karena sedang ada urusan di Bualemo, membuat saya mengurungkan rencana jalan-jalan ke Bendungan yang terkenal dengan Jembatan Goyang-nya itu. Semoga saat mengantar keberangkatan Om Rutu ke Tanah Suci pada bulan Agustus nanti cuacanya bisa lebih cerah sehingga kami bisa berkunjung ke bendungan itu.

Oh iya, menu makanan selama di desa Bonebae full ikan. Desa Rata yang berbatasan dengan desa ini adalah daerah yang terkenal sebagai daerah penghasil ikan dengan kualitas yang sangat bagus. Saya sendiri pernah bersilaturahim ke desa itu sebanyak dua kali: kali pertama saat mendatangi resepsi pernikahan adiknya teman di tahun 2007, dan kali ke dua saat mengantar bantuan banjir kira-kira di tahun 2008. Sayang saya tidak menyimpan dokumentasinya.

Sawah di belakang rumah di desa Bonebae


Ngomong-ngomong soal desa Bonebae, ini adalah kunjungan kali ke empat saya selama di Luwuk. Kali terakhir ke desa itu adalah pada bulan September tahun 2013 yang lalu. Sebenarnya ada banyak lagi yang ingin saya tulis, hanya saja, kue karas-karas ini telah menggoda saya untuk berhenti mengetik dan menikmati rasanya yang gurih-gurih nyoi, eh, krispi. Insya Allah akan disambung lagi di postingan selanjutnya, deh. Insya Allah. Taqabalallahu minna wa minkum. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1435 H dan Idul Syahid bagi saudara-saudara kami di Gaza. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juli 2014 
Author fakta.id

Wahid Nugroho

Ini adalah blog pribadi. Semua yang tertulis di dalam blog ini adalah pendapat dan sikap saya secara pribadi dan tidak terkait dengan sikap dari instansi tempat saya bekerja.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »