Selasa, 14 Mei 2013

Sesekali, Berdua Saja...



Mungkin kita perlu juga, sesekali, berdua saja, di tengah hujan yang berderai mengurapi bumi berjelaga ini, tanpa perlu berpayung dan tanpa mengalaskan kaki dengan sandal aneka warni dan warna, berjalan dengan tenang, tanpa terburu waktu, tanpa khawatir terserang demam dan flu, atau khawatir kulit kita berkerut seperti kulit jeruk. Kedua tangan kita saling menggamit, erat. Mata kita saling menatap, senyum kita bersua, nyaris tanpa jarak. Tak perlu, tak perlu ada dialog di antara kita yang hanya akan meriuhkan udara. Kali ini kita hanya berdiam diri, menahan luapan kata-kata yang menghujani relung hati. Kita hanya butuh mendengarkan suara bulir hujan yang berdenting membentuk simfoni jiwa, gemuruh yang membadai di ujung angkasa, dan cahya kilat yang memercik di batas cakrawala. Atau ketika pucuk-pucuk pohon mangga, asem, alpukat, rambutan, dan belimbing wuluh yang gemerlap dengan butiran air bening dari langit yang tersapu sinar lemah cahya matari yang mengintip dari balik awan tebal berwarna kelabu, dan ketika awan tebal berwarna kelabu yang menggantung itu perlahan hilang satu demi satu, mengundang burung-burung berwarna putih cerah kembali berani terbang tinggi, dan suara kepakan sayap elang berbulu cokelat yang terbang rendang di atas bukit yang berderet rapi.

Mungkin kita perlu juga, sesekali, berdua saja, di tengah hujan yang berderai mengurapi bumi berjelaga ini, tanpa perlu berpayung dan kaki beralaskan sendal karet aneka warna, berjalan dengan tenang, tanpa terburu waktu, tanpa khawatir terserang demam dan flu, atau khawatir kulit kita berkerut seperti kulit jeruk. Kedua tangan kita saling menggamit, erat dan liat. [wahidnugroho.com]

Kilongan, Mei 2013 

Minggu, 12 Mei 2013

Bungkamnya PKS

“Apa satu-satunya senjata yang kumiliki, Tiro?” dia bertanya, lalu menjawabnya sendiri. “Ini,” ujarnya sambil menunjuk buku-bukunya. “Kata-kata,” ujarnya mantap. Ia melanjutkan, “Caesar dan Pompeius punya tentara, Crassus punya harta, Clodius punya tukang pukul di jalan. Satu-satunya tentaraku adalah kata-kata. Dengan kata-kata aku meninggikan derajat, dan dengan kata-kata aku akan bertahan.” [Tiro mengutip perkataan Marcus Tullius Cicero]

***

Seorang teman berkata kepada saya, “Kalau memang PKS mengaku tidak bersalah, kenapa tidak mempraperadilankan kasus ini saja? Adu kuat bukti di pengadilan yang sah? Kenapa harus membuat opini publik bahwa PKS tidak bersalah?”

Saya merespon, “Orang-orang media telah menggunakan opini publik untuk ‘menghakimi’ PKS yang secara hukum belum tentu bersalah, kenapa orang-orang PKS tidak bisa melakukan sebaliknya dengan cara yang sama untuk membela teman mereka sendiri?”

Teman saya terdiam. Saya pun tidak ingin ambil pusing soal statement itu, karena jujur aja udah kelewat mainstream hehe.. Jika memang PKS memilih diam dan bungkam seribu basa, itu bukan berarti mereka tidak punya senjata. Jika memang PKS punya bukti kuat yang mampu menyanggah keterlibatan LHI dalam kasus korupsi yang dituduhkannya, mereka pasti tidak akan berbuat gegabah dan kekanak-kanakan untuk mengumbarnya di luar ruang pengadilan negara yang resmi. Menurut saya, ajakan untuk membeberkan bukti yang menjadi kartu as PKS dalam kasus ini tidak akan dipublikasikan begitu saja secara serampangan.

Di sisi lain, bungkamnya PKS ini menjadi semacam berkah tersendiri bagi mereka. Kenapa? Karena kebungkaman ini menjadi semacam penanda bagi PKS, siapa sebenarnya orang-orang yang membersamai mereka, siapa yang selama ini hanya menjadi penunggang gelap, dan siapa yang nyata-nyata menggunting dalam lipatan. Seolah-olah ada tabir yang terbuka lebar-lebar bagi orang-orang PKS tentang siapa kawan dan siapa ‘lawan’ mereka.

Sayangnya, saya merasa sedikit kecewa dengan para tokoh nasional yang ternyata ikut-ikutan bungkam dengan insiden penuh skandal ini. Seolah-olah mereka tutup mata dan tidak mau tahu dengan kegaduhan yang sengaja dibuat untuk menggegerkan negeri ini. Saya tidak tahu apa motivasi mereka dengan bungkamnya itu. Takut dibilang melawan supremasi KPK yang kelewat batas sehingga dicap sebagai pendukung koruptor, atau masih melakukan kalkulasi politis dan non politis bila statement mereka keluar di masa-masa kritis menjelang pemilu dan itu bisa memengaruhi elektabilitas mereka di mata publik? Saya tidak tahu. Hanya Allah dan mereka yang tahu.

Terakhir, saya berharap KPK dapat bermain cantik dan tidak sewenang-wenang dalam menjalankan tupoksi mereka sebagai lembaga yang kelewat superbodi. Saya percaya, di KPK masih ada banyak orang-orang baik dan berhati lurus untuk membersihkan negeri ini dari korupsi. Hanya orang-orang tak tahu malu dan tak punya nyali saja yang menyelewengkan wewenang yang suci dan mulia ini demi kepentingan pribadi mereka dengan cara membelokkan fakta yang sebenarnya. Dan kepada PKS serta tim medianya, terus bangun opini publik bahwa ada yang tak beres dari kasus korupsi ini. Bahwa ada banyak kejanggalan yang lahir dari rahim ketidakberesan itu. Bahwa begini dan bahwa begitu. Bersuaralah meski mereka mencemooh, berkatalah meski mereka tak lelah mencibir dan menghina. Dengan begini, kami bisa melihat bahwa Anda memang orang yang akan ditakdirkanNya untuk membangun bangsa ini menuju peradaban yang gemilang lagi tahan bantingan.

Sebagai penutup, saya ingin mengutip sebuah pepatah arab – sayang saya tidak hapal redaksi aslinya dan hanya mengkopi versi terjemahannya – yang berkata bahwa, "Diamnya orang-orang yang kuat, bukan mencerminkan kelemahan. Namun ia memberikan kesempatan kepada orang-orang lemah untuk puas hati berbicara, sebelum mereka dibungkam dan diam selamanya." [wahidnugroho.com]



Kilongan , Mei 2013

Jumat, 10 Mei 2013

Kolektor Jersey: Sebuah Catatan Dari Pinggir Lemari



Selama kurang lebih empat tahun saya bergelut di dunia peracun-kaen-an (baca: jersey), selama kurun waktu itulah saya berinteraksi dengan banyak orang. Di antaranya adalah: pembeli yang pembelajar karena tanpa dijelaskan panjang kali lebar kali tinggi dia udah ngerti sama aturan mainnya, pembeli yang tukang nanya tapi males mbaca rule yang udah panjang kali lebar kali tinggi ditulis lengkap dengan FAQ dan tetek bengek lainnya, pembeli dengan dana tak terbatas dengan keinginan terbatas, pembeli dengan dana terbatas tapi punya keinginan yang tak terbatas, pembeli yang cerewet, pembeli yang gak-terlalu-care-soal-itungan-yang-penting-gue-dapet-barangnya, pembeli yang ribet soal itung-itungan, pembeli yang nggak ngerti apa-apa soal racun jersey, pembeli yang rada sok tau, pembeli yang bid and run, pembeli yang sering nitip racun tapi lebih sering kalahnya daripada menangnya, pembeli yang suka maen belakang (yunomisowel lah), pembeli yang sering PM buat ngingetin “om, barangnya udah dibid kan? Belom outbid kan? Kalo outbid kabarin ane yak” padahal dia ngirim pesan itu pas saya lagi tidur pules, pembeli yang pesannya sering terlewat saya baca, pembeli yang suka ngasih deposit duit padahal incerannya belom ada, pembeli yang kelewat percaya sama saya, pembeli yang kelewat nggak percaya sama saya, pembeli yang kapok belanja lewat saya, pembeli yang mungkin punya masalah pribadi dengan saya, pembeli yang suka nimbun barang supaya bisa hemat ongkir, pembeli yang selalu nanya soal kurs, pembeli yang gak pernah absen nanya ongkir satuan maupun borongan, pembeli yang sering minta penjelasan soal fee, pembeli yang lebih hafal soal kalkulasi ketimbang saya yang jadi perantaranya, pembeli yang selalu nanya "Om Gus kapan buka kloteran anu ini dan itu?", dan masih banyak lagi variasi pembeli lainnya.

Sosok-sosok pembeli di atas bisa jadi mewakili orang per orang, bisa jadi dalam satu orang punya karakteristik yang lebih dari satu, bisa jadi dalam satu orang punya semua karakter di atas. Wajar aja, namanya juga manusia. Saya, sebisa mungkin, akan selalu berusaha untuk memberikan penjelasan sebaik-baiknya, pelayanan sebaik-baiknya, perhitungan seakurat-akuratnya, dan pengadvokasian sekuat tenaga bilamana ada masalah di kemudian hari.

Kadang saya memberikan saran, kadang saya yang diberikan saran. Kadang saya mengkritik, kadang saya yang dikritik. Kadang saya yang diajari, kadang saya yang mengajari. Kadang saya yang diberikan penjelasan, kadang saya yang menjelaskan, dan seterusnya. Santai aja, no hurt feeling. Saya orangnya open minded aja. “Om Gus salah itung nih”, oke saya akan mengkoreksi. “Om Gus kok gak pernah bales PM saya?”, mungkin tertimbun di bawah berhubung ada banyak PM yang saya harus balas per hari. “Om Gus cek PM”, oke segera. “Om Gus, buruan bid orderan saya”, sebentar, koneksi di sini lagi cenat-cenut, mau pasang internet di rumah alatnya lagi abis dari sononya soale, dan seterusnya.

Dalam dunia racun kaen ini, saya jadi kenal dengan banyak orang dan lebih banyak dari mereka yang belum pernah saya temui secara langsung tapi sudah berbaik hati untuk mempercayakan uangnya kepada saya. Oleh karenanya saya ingin mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya. Memang ada satu dua yang tidak bisa tertolong karena dananya tak bisa dikembalikan, atau barangnya hilang entah kemana (termasuk saya sendiri), tapi saya sebisa mungkin tetap menjaga hubungan baik dengannya. Saya siap menanggung kesalahan yang tidak saya perbuat.

Pernah suatu hari ada pembeli yang marah-marah karena barangnya hilang oleh pihak pos. Saya pun berusaha untuk mengusutnya ke pihak pos, dan jawaban yang diterima pembeli itu mungkin kurang menyenangkannya. Mengatakan bahwa saya tidak jujur, adik saya yang jadi seksi kirim-kirim tidak becus, dan ungkapan menyakitkan lainnya. Pembeli itu juga mengancam ingin menyebarkan reputasi buruk saya ke publik. Saya menyilakannya, meski saya menegur dia supaya mulutnya bisa dijaga perihal mengkritisi kinerja adik saya. Saya lebih mendahulukan hubungan silaturahim ketimbang materi. Uang bisa dicari, tapi hubungan baik (meski kita tidak diperlakukan secara baik) tetap harus dijaga. Maka saya memutuskan untuk merefund semua uangnya, meski kesalahan soal hilangnya paket itu murni bukan kesalahan saya. Kejadian itu sudah berlalu begitu lama, dan saya nyaris melupakannya andai saya tidak menulis seperti ini sekarang.

Saya juga pernah bertemu dengan beberapa pembeli dan pelanggan saya. Ngobrol banyak, mborong banyak, dan diskon yang sama banyaknya pun saya berikan. Di antara sekian banyak pembeli yang pernah berinteraksi dengan saya, tak sedikit yang juga membicarakan masalah-masalah pribadi mereka, curhat gitu. Kalau begitu saya pun mencoba untuk menjadi penyimak yang baik. Bila mereka meminta pendapat atau solusi, saya juga mencoba untuk memberikan pandangan saya yang bisa jadi tidak solutif.

Ala kulli haal, bergelut dalam dunia ini telah membentuk garis-garis ‘keluarga’ baru bagi saya. Keluarga kasat mata yang terkadang saling mengkritisi, saling memberikan pendapat, dan tak jarang saling ngenyek dan gojek satu sama lain.

Terima kasih atas kepercayaan Anda semuanya. Mohon maaf bila ada pesan yang tak terbaca, inceran yang tak tereksekusi, PM yang terlambat dibalas, kalkulasi yang perlu dikoreksi, manner yang perlu diperbaiki, pertanyaan-pertanyaan yang tak bisa diberikan solusi, refund yang tertunda, hutang yang belum terbayar, dan masih banyak lagi kekurangan-kekurangan saya yang tentu Anda lebih fasih menyebutkannya.  Ada banyak hal lain yang mungkin alfa saya sebutkan dalam tulisan ini, silakan ingatkan saya bila kealfaan itu ternyata merugikan Anda baik secara material maupun immaterial.

Terakhir, keep calm and don’t buy short sleeve (unless murtje). [wahidnugroho.com]



Kilongan, Mei 2013 

Rabu, 08 Mei 2013

Saya dan Seorang Polisi: Sebuah Dialog Imajiner



Siang itu dua orang lelaki nyaris seumuran bertemu di bawah sebuah pohon mangga yang rindang. Sambil menikmati segelas es kelapa muda, keduanya tampak sedang asyik mengobrol. Lelaki pertama adalah seorang berseragam polisi, sementara lelaki kedua mengenakan batik bermotif parang berwarna merah.

“Sebenarnya ketika saya melihat Anda sedang menuntun ibu yang hendak menyeberang tadi, saya sudah mengurangi laju kendaraan saya untuk mempersilakan ibu itu menyeberang”, ucap lelaki kedua yang berbaju batik membuka dialog. “Tapi karena saya tidak mengerti apa maksud kode tangan dari Anda, saya menganggap bahwa kode itu adalah perintah kepada saya untuk meneruskan perjalanan dan Anda berdua bersama ibu itu akan menyeberang setelah saya lewat”, urainya kemudian.

“Jujur aja saya tadi lumayan mangkel ketika Anda tidak memberi kesempatan ibu itu untuk menyeberang”, lelaki berseragam polisi membuka suara. Wajahnya tampak sedikit kesal. “Andai tadi Anda memutuskan untuk berhenti dan meladeni kemangkelan saya, mungkin bakal ada keributan di tengah jalan di awal pagi tadi”, lanjutnya.

Lelaki berbaju batik mengangguk. “Ya, saya tadi juga cukup tergoda dengan bisikan untuk turun dan ‘meladeni’ Anda. Tapi andaipun terjadi, saya tidak akan takut”, ujarnya mantap sambil meneguk es kelapa yang tinggal tersisa setengah gelas.

Wajah lelaki berseragam polisi tampak terkejut. “Anda tidak takut dengan polisi?”, katanya sambil tangannya mengaduk gelas berisi es kelapa bercampur sirup gula merah.

Lelaki berbaju batik menggeleng mantap dan menandaskan sisa es kelapanya.

“Saya itu baru takut kalo berbuat salah. Berhubung tadi pagi saya tidak merasa salah, kenapa saya harus takut. Jangankan Anda yang hanya seorang, Kapolri Anda sekalian pun akan saya hadapi bila saya memang tidak salah”, katanya santai. Gelas kaca bergagang yang sudah kosong diletakkan di hadapannya. “Saya juga bisa saja meladeni emosi sesaat untuk, mungkin, berkelahi atau bergelut dengan Anda di atas aspal tadi. Tapi saya merasa bahwa orang-orang seumuran kita ini tidak lagi menyelesaikan masalah kecil nan sepele itu dengan cara kekanakan seperti itu”.

Lelaki berseragam polisi itu tampak gusar dengan perkataan lelaki berbaju batik barusan. Sambil mengelus dagunya yang licin karena baru dicukur, ia lalu berkata, “Masuk akal. Saya setuju dengan sudut pandang Anda”.

“Jika tadi Anda memberi isyarat stop kepada saya, dengan menyorongkan kelima jari Anda yang bersatu rapat ke arah depan, saya pasti anak berhenti dan mempersilakan ibu itu untuk menyeberang. Tetapi karena Anda tadi memberikan saya isyarat yang tidak saya ketahui artinya, wajarlah bila saya langsung menyelonong”, urai lelaki berseragam batik. “Toh, tidak semua orang di kolong langit ini bisa mengerti isyarat tangan dari seorang polisi, setidaknya isyarat yang tadi Anda berikan kepada saya”, lanjut lelaki berseragam batik yang seolah tidak perduli dengan reaksi lelaki berseragam polisi yang hendak memotong kalimat pertamanya tadi. Lelaki berseragam polisi itu kemudian tampak manggut-manggut.

“Ya, mungkin Anda ada benarnya juga”, ucapnya tulus yang diikuti dengan tenggakan terakhir dari es kelapa muda berwarna cokelat. “Ini memang soal miskomunikasi saja”.

“Tapi saya juga mau minta maaf kepada Anda bila miskomunikasi tadi mungkin menyinggung Anda di hadapan ibu itu”, ujar lelaki berseragam batik tulus. “Tapi..”, perkataan itu menggantung.

“Saya juga ingin Anda meminta maaf kepada saya”, kata lelaki berseragam batik tegas. Sebuah kontainer sarat muatan melewati pohon mangga besar itu sambil membawa debu yang beterbangan.

Lelaki berseragam polisi terperanjat. “Untuk apa?”, tanyanya agak ketus.

“Karena Anda tadi menyebutkan kata-kata yang tidak elok untuk orang sebaik Anda”, urai lelaki berseragam batik kalem. “Anda pasti masih ingat kata-kata apa yang saya maksud”, lanjutnya.

Lelaki berseragam polisi itu tampak kaget dan tersipu malu. “Ah, Anda benar. Saya mohon maaf atas ketidakelokan kata-kata saya tadi”, ucapnya tak kalah tulus.

Lelaki berbaju batik tersenyum. “Termasuk mentraktir saya segelas es kelapa muda?”.

Lelaki berseragam polisi langsung tergelak, “Hahaha... Jangankan segelas, satu gerobak ini pun bila Anda mampu silakan habiskan”, kelakarnya.

“Diuangkan saja kalau begitu”, seloroh lelaki berbaju batik.

Kedua lelaki itu tertawa bersama sekeras-kerasnya, meninggalkan sang penjual es kelapa muda dengan tampang keheranannya.

***

Pagi ini saya nyaris baku hantam dengan seorang oknum polisi hanya karena miskomunikasi sepele. Sayang sekali saya tidak melihat nama yang tercantum di seragamnya. Andai tadi namanya terlihat dengan jelas, saya mungkin akan mencarinya dan mengajaknya minum es kelapa muda di bawah pohon seberang kantor Pelni, yang berjarak tak sampai tiga puluh meter dari markas Polres Luwuk, sambil membicarakan insiden kecil yang terjadi di antara kami berdua tadi pagi di seberang SMK Daerah Luwuk. Saya yakin, dia polisi yang baik. Buktinya dia mau repot-repot membantu seorang ibu untuk menyeberangkan jalan sambil ‘menghadiahi’ saya kata-kata mutiara. [wahidnugroho.com]

 Tanjung, Mei 2013 

Selasa, 07 Mei 2013

Luwuk Lagi



“Mas Wahid tinggal di mana?”, tanya seseorang kepada saya.

Saya menjawab, “Di Luwuk”.

Biasa akan ada lanjutan pertanyaan yang isinya kurang lebih, “Luwuk yang dekat Palopo itu ya?”. Pertanyaan itu adalah pertanyaan lazim ke dua setelah pertanyaan, “Luwuk? Di mana itu?”.

Saya hanya bisa tersenyum dan biasa menjawab seperti ini.

“Bukan. Saya di Luwuk. Dengan huruf K. Kalau Luwu itu tanpa huruf K di belakangnya. Kedua daerah itu, Luwu dan Luwuk, terpisah ratusan kilometer, dan berada di provinsi yang berbeda. Luwuk di Sulawesi Tengah, sedangkan Luwu ada di Sulawesi Selatan”, urai saya panjang lebar.

Luwuk adalah kota kecil yang terletak di pantai selatan provinsi Sulawesi Tengah. Luwuk terletak di bibir teluk kecil bernama Teluk Lalong, yang melingkar dan menyempit di bagian ujungnya seperti bulan sabit lonjong, berbatasan dengan selat Peling dan Pulau Peling di sebelah selatan. Luwuk adalah ibukota kabupaten Banggai. Semoga Anda tidak bingung dengan Pulau Banggai yang ada di lepas pantai selatan dari kota Luwuk ini, karena itu adalah ibukota kabupaten baru bernama Banggai Laut. Bersebelahan dengan Kabupaten Banggai Laut adalah Kabupaten Banggai Kepulauan yang beribu kota di Salakan.

Jadi Kabupaten Banggai beribukota di Luwuk, Kabupaten Banggai Laut beribukota di Pulau Banggai, dan Kabupaten Banggai Kepulauan beribu kota di Salakan. Twisted, huh?

Kabupaten Banggai berjarak lebih dari enam ratus kilometer dari ibukota provinsi Sulawesi Tengah, Palu, serta lebih dari seribu kilometer dari Makassar, ibukota provinsi Sulawesi Selatan. Butuh sekitar lima puluh lima menit penerbangan dari Manado atau Makassar untuk sampai ke kota kecil yang kian hari kian sumpek ini. Sebelah selatan Kabupaten ini berbatasan dengan Selat Peling dan Pulau Peling, Teluk Tolo di sebelah barat daya, Laut Banda di sebelah tenggara, laut Maluku di sebelah timur, teluk Tomini di sebelah utara, serta Kabupaten Tojo Una-Una dan Morowali di sebelah barat.

Dan di kota inilah tempat saya mengais hidup saat ini. Kota yang makin hari menunjukkan wajah lusuhnya diterpa kumpulan debu yang semakin menebal dan tumpukan sampahnya yang membuat saya bersungut sebal. Luwuk saat ini tumbuh menjadi kota yang kian ramai dengan industri hulu seperti dibukanya eksplorasi gas alam, nikel, dan barang tambang lainnya. Kota kecil yang pertama saya datangi di tahun 2007 ini begitu tenang, kini sudah mulai riuh dengan hingar-bingar kota metropolitan, meski sarana dan prasarana yang ada masih jauh dari standar kota metropolitan.

Kini sudah ada banyak restoran makanan cepat saji di kota ini. Sesuatu yang dulu tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Penerbangan dari dan ke kota Luwuk pun dipadati oleh banyak penumpang. Kadang bila kita tidak membeli tiket sejak jauh-jauh hari, maka jangan harap bisa dapat tiket pesawat dengan harga murah. Arus pendatang mulai membanjiri kota kecil yang makin sumuk ini sejak awal tahun 2008 dan tak putus-putus sampai sekarang. Aroma investasi di pelbagai bidang yang dulunya belum maksimal tergarap sudah mulai meramaikan pasar dan lini perdagangan lainnya.

Bila mau berkunjung ke Luwuk dari Jakarta, maka ada beberapa maskapai penerbangan yang melayani rute ini: Sriwijaya Air dan Lion Air. Dulu sempat ada Batavia Air sebelum bangkrut dan Merpati. Kemudian untuk rute pendek ada Wings Air dan Sky Air dari Makassar, serta Express Air dari Manado dan Palu. Untuk jalur darat bisa lewat Palu dengan PO Kesayangan Anda, Tiga Berlian, Mandiri Pratama, Touna Indah, dan agen perjalanan darat lainnya. Bila Anda punya stamina lebih dan ingin mendarat (istilah untuk bepergian dengan mobil) dari Makassar, maka Anda bisa menumpang PO Honda Jaya atau Mandiri Pratama. Durasinya? Sekitar empat puluh jam.

Jalur laut bisa menggunakan jasa kapal pelni Tilong Kabila yang melewati Gorontalo, Bau-Bau, Makasar, dan Banawa. Dari Jakarta juga ada KM Sinabung yang merapat di Pulau Banggai. Dilanjutkan dengan kapal ferry atau kapal kayu sampai ke pelabuhan di Luwuk. Tapi saya belum pernah mencoba moda ini, bil khusus Tilongkabila dan Sinabung.

Sudah enam tahun saya tinggal di kota ini, sejak bulan Maret tahun dua ribu tujuh Masehi. Saya menikah di sini, anak-anak saya pun lahir di kota ini pula.

“Sampai kapan di Luwuk?”, begitu pertanyaan lain yang lazim saya dapati.

“Saya nggak tau”, saya biasa menjawabnya dengan singkat.

Saya masih cukup betah di sini. Tapi bila arus sungai takdir berkata lain, maka ikuti saja kemanapun ia mengarah. Bagi saya, dimanapun kita berada, selama bersama keluarga, maka itulah rumah yang harus kita tempati dan jaga keberadaannya.

“Tidak rindu sama kampung halaman di Jurangmangu?”, tanya mereka lagi.

“Pasti. Tanah dimana saya menghabiskan nyaris tujuh belas tahun usia puber saya itu takkan pernah saya lupakan”, jawab saya tanpa memberi jeda. “Pasti”.

Diam-diam saya memang memendam kerinduan untuk kembali ke tanah itu, entah kapan. Mungkin belum saat ini. Sekarang saya ingin menikmati kota kecil yang makin sumpek ini dengan kesyukuran yang meluap. Syukur, karena saya masih bersama orang-orang yang saya cintai, dan mereka pun mencintai saya. Lebih dan kurangnya. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Mei 2013
Setelah baca broadcast mutasi pelaksana di chatting grup