Rabu, 31 Desember 2014

Mari Bersemangat Untuk Belajar Al Qur'an

Libur panjang kemarin, ada pelatihan bertajuk Standarisasi Guru Al Quran TPA/TKA dengan metode Tilawati selama dua hari. Acara yang dihelat oleh Yayasan Mitra Insan Madani bersama dengan Badan Koordinasi TPA Kabupaten Banggai dan Pesantren Nurul Falah Surabaya ini berlangsung di gedung KONI yang kini bertempat di belakang kantor Dinas Perikanan. Acara pelatihan ini ditujukan kepada guru PAUD dan para pengajar TPA sekota Luwuk agar tercipta standarisasi pengajaran Al Qur’an sesuai dengan standar ala Tilawati. Meski sempat tertarik untuk ikut sejak beberapa pekan yang lalu, saya sendiri tidak ikut acara itu karena hari Rabunya saya masih masuk kantor dan keesokan harinya ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan.

Sehari sebelum acara berlangsung, saya menawarkan kepada takmir masjid dan imam ke tiga masjid BTN Muspratama agar hadir menjadi wakil dari TPA Muspratama. Namun kedua orang itu berhalangan. Saya meminta nama guru mengaji di komplek yang bisa diajukan untuk mengikuti acara itu yang justru dijawab agar istri saya saja yang ikut. Istri saya, well, dia memang saya dorong untuk ikut. Setelah pak takmir berkata demikian, saya berpesan kepadanya bahwa ia akan mewakili TPA BTN Muspratama meski dengan mewakili saya, selaku sekretaris yayasan MIM, pun sebenarnya sudah lebih dari cukup. Singkat cerita, istri sayalah yang akhirnya hadir di acara pelatihan itu.

Acara pelatihannya berlangsung meriah. Wakil Bupati Banggai, bapak Herwin, yang membuka acara. Saya sendiri tidak ikut acara pembukaannya karena harus ke kantor. Pesertanya kurang lebih enam puluhan orang yang terdiri dari wajah-wajah yang cukup familiar dengan saya. Ada pak ustadz Yunus yang imam masjid BTN Nusagriya, ada teman pengajar TPA di masjid Kampung Baru, dan wajah-wajah lain yang biasa saya temui dalam acara-acara yang dihelat komunitas pengajar TPA di kota Luwuk ini, termasuk beberapa qori yang pernah saya dapati wajahnya dalam satu dua kesempatan. Selain itu, saya juga melihat guru-guru KBIT dan SDIT Madani yang juga jadi pesertanya. Wajar, karena acara ini memang ditujukan untuk mereka. Termasuk imam masjid Al Ukhuwwah Tanjung, ustadz Rahmat Al Hafidz, yang juga guru tahfidz anak-anak Madani, demikian kami biasa menyebut sekolah itu.

Pelatihan di hari pertama selesai menjelang Maghrib. Dalam perjalanan pulang, saya mendengar kesan-kesan dari istri dan teman-temannya yang pulang bareng mobil kami. Saya memberikan beberapa saran kepada guru-guru yang bersemangat ini tentang tips-tips memiliki bacaan Al Qur’an yang baik dan benar. Tips-tips yang ternyata diamini para guru itu karena ternyata para trainer dari Tilawati pun mengatakan hal yang kurang lebih sama. Hari pertama, seingat saya, dihadiri oleh lebih dari 60-an peserta.

Pelatihan hari ke dua, yang jumlah pesertanya ternyata agak berkurang menjadi sekitar 55-an peserta, diisi dengan tema-tema aplikatif seperti metode pembelajaran, microteaching, dan juga munaqosyah sebagai ajang penilaian apakah bacaan Al Qur’an mereka selama ini sudah sesuai standar atau masih ada yang harus diperbaiki. Saya memantau kegiatan para peserta pelatihan melalui grup whatsapp yang saya ikuti, berhubung semua anggota grup adalah juga peserta pelatihan, kecuali saya. Melihat para ustadz dan ustadzah yang bersemangat untuk mempelajari Al Qur’an membuat saya jadi ikutan bersemangat. Saya bersyukur bahwa di antara sekian banyak orang yang ada di Luwuk ini, masih ada cukup banyak orang yang punya kepedulian dengan Al Qur’an, yang dalam hal ini adalah para pengajar TPA dan guru-guru PAUD.

Acara munaqosyah sendiri berlangsung hingga malam dan penutupan serta pengumuman siapa-siapa saja yang bacaannya sudah sesuai standar Tilawati. Tercatat, dari sekitar lima puluhan peserta, hanya ada 6 orang yang kualitas bacaan Al Qur’annya sudah sesuai standar. Keenam orang itu empat di antara saya kenal, namun dua yang lain tidak. Saya sendiri tidak heran dengan hasil yang diumumkan oleh para trainer dari Tilawati meski agak kaget juga bahwa ada satu dua wajah, para qori, yang ternyata bacaannya masih jauh dari standar. Memang kalau boleh jujur, tanpa bermaksud merasa diri sudah lebih baik dari orang-orang itu, saya melihat bahwa masih banyak sekali para imam masjid di kota Luwuk ini yang kualitas bacaan Al Qur’annya masih belum benar. Mereka memang pembaca yang baik, bacaan mereka merdu, tapi banyak yang tidak benar. Kalau dihitung-hitung, mungkin hanya satu dua masjid saja yang punya imam dengan kualitas bacaan Al Qur’an sesuai dengan standar ilmu tajwid. Beberapa masjid yang kualitas bacaan imamnya benar adalah masjid Al Ukhuwwah Tanjung, Imam ke 2 dan ke 3 Masjid Agung Luwuk, tetangga saya yang juga imam ke 2 Masjid Ar Rahman BTN Muspratama, Imam Masjid Al Manshurah di depan kantor Depag Kampung Baru, dan imam utama masjid BTN Kilo Lima. Selebihnya, bacaan para imam masjid di daerah ini masih sangat jauh dari ideal. Beberapa di antaranya bahkan punya kualitas bacaan yang sangat buruk. Ini masih di dalam kota Luwuk, belom ke luar kota. Kondisi ini seharusnya jadi catatan bagi pihak yang berwenang dan memiliki kompetensi agar hal-hal semacam kualitas bacaan para imam masjid bisa lebih diperbaiki di masa mendatang dengan mengesampingkan hal-hal seperti relasi dan rasa tidak enak yang cenderung berekses negatif.

Istri saya sendiri ketika hasilnya diumumkan ternyata tidak sesuai harapannya, meski saya tidak kaget dengan kualitas bacaan Al Qur’annya yang masih belum ideal khususnya pada beberapa bagian yang sulit seperti makhorijul huruf dan ayat-ayat gharibah. Apa yang saya dapatkan dari acara pelatihan itu, khususnya yang terjadi pada istri saya, membuat saya punya tugas ekstra untuk lebih memperhatikan kualitas bacaan Al Qur’annya. Itulah sebabnya, paska pelatihan itu, istri saya jadi lebih banyak bertanya soal hukum-hukum tajwid dan bagaimana cara membacanya ketika ia selesai mengaji dan saya sedang ada di dekatnya. Saya menyarankan kepadanya agar mengesampingkan dulu nama-nama hukum dan lebih berkonsentrasi pada cara membaca yang benar. Karena untuk apa kita hapal seabreg hukum tajwid jika kita tidak tahu cara melafalkannya dengan benar?

Saya juga menyarankan kepada istri saya agar informasi tentang metode ini disampaikan kepada ibu-ibu majelis taklim di komplek. Saran yang akhirnya dijalankannya dengan sebuah kesimpulan bahwa saya diminta untuk mengajari ibu-ibu komplek mengaji. Saya agak keberatan dengan permintaan yang berat itu karena masih ada ustadz Yunus, imam masjid BTN Nusagriya, yang sudah lulus standarisasi Tilawati tempo hari sedangkan saya tidak mengikuti pelatihan itu. Kalau mau dikorek-korek lagi, sebenarnya ada banyak sekali orang yang ingin belajar membaca Al Qur’an dengan benar. Jauh sebelum pelatihan Tilawati ini diadakan, saya sempat membuat acara tahsin (semacam pengajian membaca Al Qur’an) bersama teman-teman kantor yang diadakan di mushala kantor pada bulan puasa kemarin. Meski pesertanya tidak banyak, saya melihat bahwa adanya sebuah lembaga tahsin merupakan sebuah keniscayaan di kota ini. Apalagi kalau melihat kondisi para imam masjid sebagaimana yang sudah saya tulis di atas.

Saya menulis seperti ini bukan berarti karena saya lebih baik dari para imam tersebut, atau tahu lebih banyak daripada orang-orang yang saya sebutkan sebelumnya. Bukan. Saya hanya prihatin dengan kondisi kaum muslimin di Luwuk yang semangat belajar Al Qur’annya cukup tinggi namun tidak bisa diakomodir secara optimal oleh orang-orang yang berkompeten. Beberapa tahun yang lalu, yayasan kami, Mitra Insan Madani, pernah membuat sebuah lembaga tahsin dan tahfidz Al Qur’an yang pada perkembangannya mandeg karena kesibukan pengelolanya. Saya sempat meminta kepada para pengelola tersebut agar kembali duduk bersama untuk membahas pengembangan lembaga itu dan hajatnya yang besar untuk daerah ini di masa depan. Sebuah permintaan yang sampai detik ini masih menjadi masalah yang harus dicari jalan keluarnya.

Ala kulli haal, mari kita bersemangat mempelajari Al Qur’an, termasuk juga mengajari istri dan anak-anak kita membaca Al Qur’an dan menularkan kecintaan atas Al Qur’an kepada mereka. Karena salah satu karakteristik manusia yang rabbani adalah “..karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”, sebagaimana yang telah Allah swt firmankan dalam surat Ali Imran ayat 79. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Desember 2014 
Semacam catetan acakadut

Selasa, 30 Desember 2014

Istriku Seleraku

Siang itu saya dan istri baru saja menghadiri pesta pernikahan seorang teman. Dalam perjalanan pulang, saya bertanya kepada istri tentang busana yang dikenakan teman-teman akhwatnya. Saya tanyakan bagaimana kesannya tentang busana-busana itu dan apakah ia mau mengenakan busana-busana semacam itu. Busana yang saya maksud adalah setelan gamis berbahan jersey dengan jilbab bergo yang berbahan sama. Busana muslim yang sedang ngetrend akhir-akhir ini sebagai ekses dari sinetron-sinetron, anggap saja, islami yang bertebaran di televisi. Artis cantik berjilbab lebar yang wajahnya kerap wara-wiri di layar kaca dengan mengenakan busana itu menjadi agen promotor yang tepat. Meski saya benci sinetron, namun saya akui bahwa busana muslim seperti itu memang bagus dan menutup lekukan tubuh wanita dengan cukup baik, dengan catatan asal bahannya nggak tipis dan transparan.

Kembali ke soal dialog. Istri saya ketika ditanya seperti itu ia justru balik bertanya, “Abi suka kalau aku pake gamis macam itu?”

Ini yang saya suka darinya. Ketika saya menanyakan tentang sesuatu yang terkait dengan penampilannya, ia sering bertanya kembali apakah saya suka jika ia mengenakan busana itu atau nggak. Ketika ia bercerita tentang jilbab-berwarna-gelap-yang-lebarnya-kayak-sprei saya bertanya apakah ia mau memakai jilbab seperti itu. Ia menjawab dengan kembali bertanya kepada saya sebagaimana yang sudah saya tulis di atas. Kalau soal jilbab yang saya maksud barusan, saya memang melarangnya memakai jilbab seperti itu karena “Nanti kamu keliatan kayak Peni.” Peni – well, nama aslinya adalah Vini dan Peni adalah nama “tenarnya” hehe – adalah kembaran istri saya yang juga berjilbab lebar.

Soal busana istri, saya memang suka dengan penampilannya yang tampak old fashion meski tetap chicky dan trendy. Saya suka kalau ia berjilbab polos yang ditempeli bros sederhana dengan gamis atau setelan katun warna-warni yang membuat dirinya tampak seperti akhwat SMA meski (baru) beranak tiga hehe. Saya kurang suka kalau ia memakai jilbab yang terlalu panjang, atau terlalu lebar. Saya juga kurang suka kalau ia memakai pakaian berwarna gelap seperti dongker, cokelat tua, dan hitam. Saya suka ia yang tampil dengan sederhana, biasa-biasa saja, tapi tetep syar’i dan, kata orang jawa, mantesin.

Saya lebih suka kalau ia memakai pakaian yang berwarna-warni, tanpa make up seperti bedak, lipstik, dan kosmetik aneka rupa. Pernah ia membeli produk kosmetik merk tertentu yang katanya – well, sebenernya sih kata temen-temennya hehe –  bisa bikin wajah begini dan begitu. Saya keberatan dan saya bilang kepadanya bahwa “Wajahmu itu wajah kampung. Gak perlu dipoles ini itu udah mulus dari sononya. Cukup dicuci pake air dan dirawat pake bahan-bahan tradisional aja sesekali.” Ia awalnya tampak meragukan pendapat saya. Tidak masalah. Akhirnya ia jadi juga memakai produk itu dan wajahnya jadi tampak “belepotan”. Jerawat tumbuh di sini dan di sana. Ada warna kehitaman yang timbul di salah satu sudut wajahnya. Kosmetik itu mungkin nggak cocok dengan kulitnya yang “ndeso”. Ia pun meninggalkan kosmetik itu dan berkata kepada saya “Iya ya bi, aku nggak cocok pake kosmetik ini itu” dan akhirnya memilih madu dan air biasa untuk membersihkan wajahnya beberapa hari sekali. Saya sering bilang kepadanya “Jadi besok-besok pas kamu ditanya sama temen-temenmu bagaimana caranya mukamu bisa mulus kayak gitu, lebih baik kamu jawab ‘Aku nggak pake apa-apa. Cuman pake air dan madu aja’ ato kamu jawab dengan ‘Aku pake kosmetik ini dan itu dan sebagainya dengan harga sekian dan sekian’? Coba kamu pikir baik-baik.

Jadi, istri saya adalah selera saya. Bisa jadi, selera saya yang terejawantahkan padanya nggak ngetrend-ngetrend amat. Ndak apa-apa. Bisa jadi selera saya itu nggak ngikutin perkembangan mode terbaru. Ya ndak masalah tho? Yang penting tetep menutup aurat dan nggak nunjukkin lekukan tubuh itu sudah lebih dari cukup, dan pastinya lebih menentramkan. Karena kualitas seorang muslimah bukan dilihat dari apa merk kosmetiknya, berapa harga gamisnya, dan seberapa banyak koleksi tas dan sepatunya. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Desember 2014

Jumat, 05 Desember 2014

Mencintai Setelah Menikahi

Mencintai setelah menikahi, benarkah? Atau, bisakah?

Pertanyaan semacam itulah yang kerap menghantui pikiran para pemuda (dan mungkin juga pemudi) yang hendak memutuskan untuk melangsungkan pernikahan tanpa dilandasi cinta sebelum akad diucapkan. Di tengah-tengah kampanye menikah atas nama cinta yang tersemat pada lagu-lagu cinta, film dan drama-drama romantis, serta buku-buku novel merah jambu yang banyak bertebaran di sekitar kita, memilih untuk menikah tanpa dilandasi cinta sebelumnya bisa jadi pilihan yang, bagi sebagian orang, sekali lagi bisa jadi, bodoh. Dan naif.

Saya mungkin termasuk dari salah satu orang yang naif itu. Karena proses pernikahan saya dengan istri memang tidak dilandasi cinta. Saya lebih senang menyebut bahwa pernikahan saya diawali oleh sebuah niat, yang insya Allah, baik. Bahwa saya ingin menikah karena ingin lebih menjaga diri dari sesuatu yang saya takutkan akan saya lakukan bila saya tidak segera menikah.

Maka demikianlah jadinya. Saya dikenalkan pada calon istri saya, ketika itu, oleh seorang ustadzah yang saya tahu kebaikannya. Kami lalu memutuskan untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius: ta’aruf atau perkenalan. Setelah bertukar biodata dan melakukan beberapa pertemuan dengan keluarga calon istri, serta meminta kekuatan hati kepadaNya, saya lalu memutuskan untuk mengkhitbahnya (melamar) tak sampai dua pekan setelah saya dan dirinya memutuskan untuk berta’aruf. Sebulan kemudian, kami pun menikah. Pada sebuah sore yang syahdu di rumah mertua, saya mengucapkan janji suci itu di hadapan penghulu, keluarga, dan juga teman-teman yang menemani saya. Sekarang, saat ketiga anak kami telah lahir, tumbuh besar, dan mengisi hari-hari kami selama ini, saya kerap bertanya-tanya, benarkah saya sudah mencintainya, perempuan yang saya nikahi nyaris tujuh tahun silam itu?

Ketika perenungan saya semakin intens dan dalam, pertanyaan saya pun berganti menjadi: cinta itu sebenarnya apa sih? Bagaimana wujudnya, aroma, dan teksturnya? Jika memang saya telah berhasil mencintai istri saya setelah ijab kabul itu diucapkan, maka indikatornya apa? Apakah saat saya bekerja dari pagi sampai sore, mencari uang tambahan dengan menjual ini dan itu baik di dunia maya dan dunia nyata, mencari peluang dengan merencanakan ini dan itu meski ada beberapa rencana yang kandas dan gagal, seperti itukah yang dikatakan cinta? Apakah ketika istri saya masih tertidur pulas karena kelelahan mengurus rumah lalu saya bangun terlebih dulu, merapihkan kasur dan bantal tempat saya tidur di ruang tamu, lalu pergi ke dapur dan membuatkan pisang goreng untuk anak-anak dan membangunkan istri dan anak-anak saya ketika pisang goreng telah siap, itukah cinta? Atau saat saya secara spontan ingin mencuci piring dan ngoseki kamar mandi ketika istri saya tidak sempat melakukannya, itukah cinta? Atau saat saya melihat buku-buku yang berserakan tak karuan di ruang tamu, kamar tidur, dan sudut-sudut rumah yang lain, lalu saya bangkit dan merapihkan semua buku-buku itu kembali ke tempatnya semula, itukah cinta? Atau ketika saya memandangi wajah istri saya dengan perasaan yang tak bisa saya tahu maknanya, mengusapi dahinya dengan lembut, mengacak-acak rambutnya yang harum, dan memeluk tubuhnya tanpa sebab saat kami tidur bersisian pada suatu malam, bisakah itu saya sebut sebagai sebuah cinta? Atau saat ia pergi ke luar kota sendirian selama beberapa hari karena saya tak bisa menemaninya dan saya khawatir bila terjadi apa-apa dengannya, itukah cinta? Atau saat saya sendiri yang pergi beberapa hari atau pekan ke luar kota untuk suatu urusan, lantas saya merindukan suara dan sentuhannya, itukah cinta?

Jika semua itu memang cinta, atau setidak-tidaknya bisa kita sebut sebagai pengejawantahan cinta, maka mungkin memang demikianlah adanya. Sehingga saat suatu malam istri saya bertanya apakah saya mencintainya, saya pun menjawabnya dengan agak ragu, karena saya sendiri belum yakin apakah semua hal yang telah saya lakukan untuknya, ucapkan kepadanya, dan pikirkan atasnya adalah cinta itu sendiri? Atau harus ada bentuk cinta lain yang harus saya usahakan sehingga saya pun bisa menjawab pertanyaan yang sederhana itu dengan penuh percaya diri: Ya, saya cinta sama kamu!

Saya pernah mendengar sebuah kajian bahwa cinta itu adalah sesuatu yang abstrak. Karena ia abstrak, maka tak bisa diukur dengan sesuatu yang kongkrit. Kalau memang begitu, maka semua hal yang sudah saya lakukan selama ini bisa saya anggap bukan sebagai wujud cinta karena, misalnya, menggoreng pisang, membersihkan kamar mandi, merapihkan buku-buku  dan memandikan anak-anak adalah sesuatu yang kongkrit. Itulah sebabnya, saya agak gamang ketika ditanyai, apakah saya mencintainya? Karena pertanyaan itu, meski singkat dan sepele, tidak mudah untuk dijawab. Bisa jadi jawaban itu hanya untuk menyenangi hatinya, atau menenangkan jiwanya, tapi saya butuh sebuah jawaban yang lebih dari itu sehingga jawaban saya bukan sekedar basa-basi pemanis lidah belaka.

Saya juga pernah membaca dalam sebuah buku yang saya lupa judulnya, tapi saya ingat penulisnya: Mohammad Fauzil Adhim, bahwa istri memang kerap merepetisi, menggandakan, dan menalu-nalukan pertanyaan yang serupa kepada suaminya hanya untuk meyakinkan, dan menenangkan, mereka bahwa suaminya memang masih mencintainya, masih merindukannya, masih membutuhkannya, dan masih menganggapnya ada karena di luar sana bertebaran gadis-gadis muda nan terawat yang bisa saja menggoda lelaki mereka tuk berpaling. Pertanyaan semacam itu memang kerap datang tak diduga dan membuat para suami tergagap untuk menjawabnya. Bisa jadi ia datang ketika tubuh sang istri tak lagi semenarik dulu, kulitnya tak lagi sekencang dulu, aromanya tak sewangi dulu, rambutnya tak seterawat dulu, dan perutnya tak lagi serata dulu. Bisa jadi. Itu sebabnya, mereka butuh semacam penegasan verbal yang, setidak-tidaknya, bisa menenangkan mereka.

Oleh karenanya, saat istri saya bertanya kepada saya apakah saya mencintainya, saya kerap meminta waktu untuk memandanginya, menyentuhi kulitnya, atau mengingat-ingat apakah saya telah mengatakan sesuatu yang tidak membuatnya nyaman. Karena bisa jadi, pertanyaan itu terlontar dikarenakan sikap dan gestur saya yang tidak seperti biasanya.

Untuk menutup celotehan ini, mungkin akan lebih tepat jika saya sendiri yang bertanya kepadanya: apakah kau, setelah aku melakukan segala hal untukmu itu, merasa bahwa aku sudah bisa dianggap telah mencintaimu? Apakah pulang malam ini bisa disebut cinta? Memang ada banyak sekali kata-kata seperti: bisa jadi, mungkin, apakah, dan seabreg tanda tanya yang bertebaran di sana sini lebih dikarenakan saya memang belum terlalu yakin apakah semua yang telah saya lakukan untuknya selama ini bisa dengan gagah berani saya katakan bahwa itu semua adalah bukti cinta saya kepadanya. Saya memang tidak berani mengaku-ngaku bahwa itu adalah sebuah wujud cinta, tapi saya berani jamin bahwa, jika memang itu cinta, maka itu halal adanya. Adakah yang lebih menenangkan dan menentramkan dari sebuah cinta yang telah dihalalkan olehNya? Celotehan ini mungkin tidak bisa menjawab pertanyaan yang ada di bagian awal tulisan ini. Anggap saja ini adalah semacam pencarian yang belum mendapatkan jawabnya. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Desember 2014 

Senin, 01 Desember 2014

Cemburunya Seorang Ayah

Akhir-akhir ini saya mudah merasa gelisah, terutama ketika memandangi ketiga putri saya baik saat mereka sedang bermain bersama-sama di rumah maupun ketika bermain dengan teman-teman di luar rumah. Saya tidak tahu perasaan apa ini. Tiba-tiba saja hati ini disergap rasa khawatir, gelisah, bahkan sedikit takut. Kadang kekhawatiran itu muncul begitu saja tanpa pemberitahuan.

Kadang ia langsung hilang namun tak jarang ia bertahan agak lama dan baru bisa pergi ketika saya memandangi lekat-lekat wajah ketiga putri saya, atau mengacak-acak rambutnya yang agak apak dan tubuhnya yang berbau sedikit kecut. Tak jarang pula kegelisahan itu menguap saat saya memegang tangan mereka yang mungil, mengusap-usap permukaannya yang halus dan rapuh.

Pernah suatu hari saya sengaja mengamati permainan ketiga anak saya bersama teman-temannya. Memang tidak semua temannya perempuan, ada juga anak laki-laki yang berumuran lebih muda, sebaya, dan lebih tua. Saat saya mengamati putri sulung saya bermain begitu asyik dengan salah satu teman laki-lakinya, entah kenapa terbit rasa cemburu di hati saya. Saat permainan mereka semakin seru, rasa sesak di dada karena cemburu semakin menjadi-jadi saja hingga saya kerap ‘melerai’ permainan mereka itu.

Saya juga merasa cemburu ketika putri-putri saya bermain ke luar rumah tanpa jilbab terpasang di kepala mungil mereka, atau ketika aurat kecil mereka tak sengaja terbuka. Tak bosan-bosannya saya dan istri mengingatkan ketiga putri kami agar selalu berjilbab saat ke luar rumah, atau memerhatikan aurat mereka saat bermain. Seruan ini memang belum bisa dipenuhi sepenuhnya oleh mereka. Tak apa, saya dan istri pun masih bersabar karenanya. Namun rasa cemburu ketika rambut mereka terurai dan kulit kepala mereka tampak bercahaya karena dibasuh keringat tak bisa saya tahan.

Saya juga merasa cemburu ketika lisan mereka mengucapkan kata-kata yang buruk, atau ketika menyenandungkan lagu-lagu populer yang berlirik tak mendidik. Saya cemburu ketika mereka menangis karena dikasari temannya, atau bersedih ketika dituduh melakukan yang tidak-tidak oleh kawan-kawannya di sekolah. Saya merasa cemburu ketika mereka menceritakan nama-nama teman lelaki mereka di sekolah. Saya merasa cemburu ketika mereka memuji-muji sebuah nama baik yang saya kenal maupun tidak.

Perasaan ini masih belum saya mengerti sepenuhnya berhubung ini adalah hal baru bagi saya. Semacam gejolak hati yang belum terdefinisi. Semacam bagian kecil dari jenak-jenak kehidupan yang belum saya dapatkan istilahnya. Cemburu itu apa sebenarnya? Saya tidak tahu. Cemburukah kegelisahan, ketakutan, dan kekhawatiran itu? Saya tidak tahu. Jika ia memang begitu, darimanakah datangnya? Saya juga belum tahu. Atau memang seperti inikah yang namanya kekhawatiran orangtua? Ketika terjadi sesuatu pada anak-anak yang berada di luar kuasa mereka? Saya tidak tahu. Benarkah perasaan ini? Salahkah merasa seperti ini? Saya juga belum tahu.

Yang saya tahu, dari kekhawatiran, ketakutan, dan kegelisahan itulah saya kemudian memiliki sebenih harap yang saya semai dalam sujud dan munajat saya yang tak sempurna. Saya tahu, harapan itu mungkin tidak pantas saya sampaikan padaNya. Namun kepada siapa lagi saya berharap kalau bukan kepada Dia? Harapan yang tak mungkin saya gantungkan hanya kepada istri saya, kepada nenek mereka, kepada guru-guru mereka, kepada teman-teman sepermainan mereka, kepada para tetangga, bahkan kepada diri saya sendiri.

Rabbij’alni muqimash shalaati wa min dzuriyyati. Rabbana wataqabbal du’a. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Desember 2014 

Selasa, 25 November 2014

Guru Pertama Saya

Guru pertama saya adalah mamak. Walaupun tak pernah lulus SD, beliaulah orang yang kali pertama mengajari saya bagaimana caranya membaca huruf, baik arab maupun latin, dan berhitung angka-angka. Huruf ‘h’ seperti bangku, huruf ‘n’ seperti meja, huruf ‘b’ perutnya di depan, huruf ‘p’ kepalanya besar, huruf ‘o’ seperti bola, adalah kalimat-kalimat indah yang getarnya masih teringat kuat bahkan sampai detik ini. Pun begitu ketika beliau mengenalkan saya dengan huruf-huruf arab. Huruf ‘alif’ seperti lidi, huruf ‘ja, ha, dan kha’ ada perutnya di bagian bawah, huruf ‘tho dan dzho’ perutnya di bagian depan, adalah kata-kata yang masih bergema di dalam kepala saya.

Namun di luar ilmu-ilmu sederhana yang pernah beliau sampaikan kepada saya waktu kecil dulu, pesan dan nasihat tentang bagaimana saya menjalani hidup ini dengan baik adalah ilmu darinya yang paling berharga. Di sela-sela kesibukannya mengulek sambal atau sekedar mengaduk sayur, beliau tak jarang menyelipkan pesan-pesan dari seorang perempuan yang telah banyak makan asam garam kehidupan. Kisahnya saat menjadi buruh di pabrik sabun, lagu-lagu lawas yang membuatnya terkenang dengan masa-masa itu hingga beliau pun larut dalam senandungnya, bahkan tak jarang air matanya yang bening itu menganak sungai di pipinya yang halus. Dalam berbagai kesempatan, baik ketika saya menemaninya masak di dapur, membantunya mencuci baju, atau sekedar mengobrol lepas di hari yang senggang, beliau akan bercerita tentang masa mudanya yang sulit. Bekerja serabutan sejak kecil demi mencari sesuap nasi, perjuangan dan prinsip hidupnya yang kukuh, kisah cintanya yang pelik dengan almarhum bapak, hubungan ibu-anak yang ganjil dengan mbah wedok, dan kenangan-kenangannya bersama almarhum mbah lanang mengalir begitu saja tanpa saya minta. Beliau juga bercerita tentang saudara-saudaranya, mulai dari saudara kandungnya yang semuanya perempuan. Kakak sulungnya yang meninggal di usia muda, adik bontotnya yang juga sudah meninggal, kehidupan di Kanigoro, Magetan, Gorang-Gareng, dan persahabatannya dengan seorang perempuan yang mengadu nasibnya sebagai TKW di negara Arab. Beliau juga kerap menceritakan keluh-kesahnya, tentang adik laki-laki saya satu-satunya, tentang kisah getir adik bungsunya, tentang nasib adik tengahnya, tentang rumah di Madiun yang lahannya diserobot oleh tetangga, tentang anak tiri almarhum bapak dari istri pertamanya, tentang rumah di Meruya, tentang lahan kosong yang tak kunjung dibangun di Jurangmangu, tentang anak-anak tetangga yang satu-persatu sudah berkeluarga, tentang makam bapak yang perlu dipugar supaya sedikit ‘mantesin’, tentang harga sembako yang melambung, tentang jualan gado-gadonya yang kadang sepi, tentang cucu-cucunya yang suara dan polahnya selalu dirindukannya, tentang anak laki-laki pertamanya yang keras kepala dan tidak mendengarkan nasihat-nasihatnya, dan tentang banyak hal. Saat menyimak keluh kesah perempuan yang kepalanya mulai dipenuhi rambt putih dan kulit wajahnya yang tak lagi sekencang dan secerah dulu itu, saya memposisikan diri sebagai seorang pendengar yang baik. Saat keinginan menyela datang, saya pun menahan diri dan menyimak lebih banyak.

Di kesempatan yang lain, tak jarang kami berdebat panjang lebar. Saya yang keras kepala ini bertahan dengan keputusan yang saya buat meski beliau menentangnya. Di kemudian hari, saat saya sadar bahwa keputusan yang saya buat itu ternyata salah, beliau tidak akan membahasnya kembali. Hanya raut kecewa dan prihatin yang terpahat di wajah rentanya. Matanya yang bening akan menatap saya dengan pandangan yang hanya beliau saja yang tahu apa maksudnya. Pun ketika saya berselisih dengan almarhum bapak yang sama-sama keras kepala, beliau cenderung diam dan tidak memihak kepada siapapun karena memang keduanya adalah laki-laki yang telah menyita cintanya selama ini. Di samping sifatnya yang bijak, mamak adalah penengah dan pendamai yang baik. Beliau akan meminta maaf lebih dulu meski salah tak memihak padanya. Mungkin sifat itulah yang di kemudian hari diwariskan kepada anak sulungnya yang tak pernah tahan lama ketika berselisih paham dengan seseorang.

Ketika cucu pertamanya lahir, beliau lantas dipanggil eyang uti oleh beberapa orang. Panggilan yang ditolaknya secara halus sambil berkata, "Saya ini cuma orang kecil, ndak ada turunan darah birunya, jadi ndak perlu dipanggil eyang uti seperti itu. Panggil saya mbah wedok saja", pintanya ketika itu. Sebuah permintaan yang seolah-olah sedang memantaskan dirinya sebagaimana apa adanya. Anak-anak saya pun diajari menyanyi, mengaji, mengeja, bersikap dan berperilaku laiknya seorang anak oleh beliau. Meski dalam beberapa hal ada yang tidak sesuai dengan prinsip saya, namun saya cenderung membiarkan beliau berkasih-kasih dengan cucu-cucunya yang gesit dan lincah itu.

Sekarang beliau tak lagi muda. Pada suatu hari ketika saya memandangi dari kejauhan gestur beliau yang sedang membaca buku dengan kacamata baca murahannya, saya mendapati bahwa sosok yang tegar dan pekerja keras itu sudah menua. Giginya sudah tanggal beberapa, lipatan di sekitar kelopak matanya semakin jelas dan dalam, leher dan tubuhnya semakin kurus. Tak jarang beliau mengeluhkan tentang pandangan matanya yang tak lagi jelas dan terang, pinggangnya yang mudah sakit, dan tubuh yang cepat lelah. Terkadang, dalam istirahatnya, saya mendekati beliau, menyentuh betisnya yang tak lagi kencang, mengurut-urut pergelangan kaki dan jari-jarinya yang pecah-pecah, atau sekedar memijati tengkuk dan bahunya yang tak lagi tegap seperti dulu. Di bahu inilah dulu sebuah perjuangan untuk membantu keuangan bapak yang hanya pegawai negeri rendahan berlangsung. Di kaki inilah dulu, petualangannya mengais rejeki dengan mengantarkan kerupuk gendar atau keripik singkong buatannya dari pintu ke pintu berjalan. Di tangannya yang ringkih inilah, aneka menu makanan tercipta dari bumbu-bumbu dan bahan makanan yang tersisa di dapur kami yang kecil itu. Keringatnya yang telah mengering ibarat garam dalam kehidupan saya, dan orang-orang yang dicintainya, yang telah menyita malam dari siangnya, dan membalik siang menjadi malamnya.

Robbighfirlii waliwalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaanii shaghiiroo. [wahidnugroho.com]


Muspratama, November 2014 

Selasa, 14 Oktober 2014

Jalan Sunyi Para Penghafal Al Qur’an: Semacam Memoar Seingatnya

Umur saya sudah mendekat ke angka tiga puluh. Tahun ini saya genap berusia 29 tahun. Masih sangat hijau. Di antara bapak-bapak sekomplek ketika kami kumpul-kumpul saat acara tahlilan pun saya jadi peserta yang paling muda karena saya adalah satu-satunya “bapak” yang masih berkepala dua di antara bapak-bapak lain, yang sebagian di antaranya lebih cocok menjadi orangtua saya. Akhir pekan kemarin, nggak ada aktivitas yang saya lakukan kecuali tidur-tiduran di rumah sambil menikmati tiupan angin dan mengamati timbunan debu di kover buku-buku yang berderet di lemari kayu, saya berselancar di dunia maya untuk mencari mp3 murattal. Saat kegiatan hunting itu berlangsung, tiba-tiba saja saya ingin menuliskan kisah sederhana ini. Nggak ada niat buat pamer atau apalah namanya. Saya cuman pingin sedikit bernostalgia semampu yang saya bisa, sebisa yang saya ingat. Nostalgia ini sekaligus demi menghidupkan kembali semangat yang dulu pernah ada, dimana saya hidup dan bernaung di bawahnya.

Saya mulai belajar membaca Al Qur’an sejak kecil. Mungkin mulai umur lima atau menuju enam tahun. Saya kurang begitu inget. Saya ingat waktu masih tinggal di Petukangan dulu, setiap habis maghrib saya akan berjalan ke rumah Mas Wage yang gak terlalu jauh dari rumah, melewati jalan-jalan yang gelap dan berdebu sambil menenteng Al Qur’an besar berkover emas. Saat rumahnya sudah tampak, saya lalu masuk melalui sebuah gerbang kayu dan halaman yang ditumbuhi tanaman-tanaman, menguluk salam, dan bergabung dengan anak-anak sebaya yang sudah berkumpul di teras rumah yang luas. Sekitar dua tahun saya belajar ngaji di rumah mas Wage dan sayalah ‘siswa’ pertama yang berhasil mengkhatamkan juz amma. Dahulu, kalau kita sudah hafal juz amma maka akan diadakan syukuran kecil-kecilan. Maka ketika saya menyampaikan kepada mamak bahwa saya sudah khatam juz amma, beberapa hari kemudian digelarlah syukuran sederhana. Nasi kuning tumpeng dengan lauk sekadarnya menjadi menu pengajian malam itu. Sayang, saya tidak begitu ingat kapan tepatnya saya khatam ketika itu.

Beberapa waktu yang lalu saya mendapat kabar kalo mas Wage, guru mengaji saya waktu di petukangan itu, sudah meninggal karena sakit. Waktu mendengar kabar itu, saya merasa sedih dan begitu kehilangan, sekaligus menyesal karena tidak bisa menghantarkan beliau ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Saya merapalkan doa agar ilmu yang diberikannya kepada saya bisa menjadi amal jariyah baginya di alam kubur sana.

Saya juga pernah ikut TPA di, ah, saya lupa namanya, dan sempet ikut berbagai lomba. Waktu pindah ke Jurangmangu, saya melanjutkan pelajaran mengaji ke TPA Nurul Ikhlas. Saya juga sempat mengaji secara personal kepada guru-guru TPA yang rumahnya ada di belakang komplek pajak. Biasanya saya akan berjalan pada hari minggu pagi ke rumah bu Mus untuk belajar ngaji. Tapi itu nggak berlangsung lama.

Waktu saya kecil dulu, almarhum bapak punya aturan yakni dilarang nonton tv setelah maghrib. Meski awalnya terasa menyebalkan, karena film favorit saya, Dragonball, diputar pada waktu-waktu itu, ternyata setelah dipikir-pikir peraturan itu sangat bermanfaat buat saya di kemudian hari. Karena pada waktu-waktu itu, saya biasanya akan mengaji di dalam kamar. Berbekal pancaran sinar lampu baca yang tertempel di kusen jendela, saya mematikan lampu utama kamar dan mulai membaca dengan suara keras. Saking kerasnya suara saya, si mbah yang rumahnya ada di seberang rumah saya biasanya akan mendengar suara mengaji saya dan berkata, “Si Nuk ini kalau ngaji suaranya nyaring banget, sampe-sampe suaranya kedengeran di rumahku”.

Ketika SMP, saya belajar mengaji bersama Mak Eteh yang rumahnya nggak jauh dari rumah saya. Bersama beliau, saya diajari hukum-hukum tajwid yang sebelumnya belum pernah saya dapatkan di bangku TPA seperti hukum-hukum mad yang jumlahnya bejibun itu, hukum isymam, imalah, ghunnah, hukum mim, dan lain-lain. Saya inget banget waktu membaca ayat demi ayat di hadapan perempuan paruh baya yang kini sudah meninggal itu, biasa beliau akan mengoreksi bacaan-bacaan saya yang salah. “Itu mad ini, panjangnya sekian harkat, ulangi”, atau “Itu ghunnahnya diperjelas”, atau “Ikhfanya bukan dengung tapi samar”, dan “Kalau di depan mad asli ada tasydid panjangnya sekian harkat dan namanya mad ini itu” adalah kata-kata beliau yang masih saya ingat sampai sekarang. Saya biasanya mengaji pagi hari bila saya masuk siang, dan malam setelah maghrib bila saya masuk pagi. Semoga apa yang telah beliau ajarkan kepada saya bisa menjadi amal jariyah baginya di alam kubur. Amin.

Saya juga sempet ikutan jama’ah tabligh sejak SMP kelas 2 dan berlanjut sampai saya SMA kelas 2. Saya ikut acara-acara khuruj 3 hari mereka pada akhir pekan (biasa pada hari Sabtu dan Ahad) dan memerhatikan wajah-wajah teduh yang dibalut dengan pakaian lusuh nan sederhana itu, bagaimana semangat mereka dalam mengamalkan sunnah-sunnah Nabi dan, pastinya, kemampuan membaca Al Qur’an mereka. Memang ada banyak yang bacaan Al Qur’annya tidak sebagus yang saya kira, namun satu dua dari mereka memang memiliki kualitas bacaan Al Qur’an yang bagus. Saya kenal dengan bapak muda, saya lupa namanya, yang suaranya merdu banget. Ketika beliau mengaji, biasa saya akan mendekat dan menyimak bacaannya yang merdu. Padahal sehari-harinya beliau “cuma” tukang sayur dan kerap berkeliling setiap pagi dengan pakaian lusuh dan topi rimbanya. Saya pernah bertanya kepada beliau, gimana caranya bisa punya suara sebagus itu dan beliau cuma njawab dengan senyuman. Maklum, yang nanya cuman anak ingusan kemarin sore, hehe.

Saat SMA, saya berkenalan dengan gerakan tarbiyah dan ikut halaqah mentoring waktu kelas 2. Murabbi pertama saya bernama kak Agus. Beliau juga alumni SMA tempat saya bersekolah waktu itu, SMA 90. Dari beliau, saya disemangati untuk menghafalkan Al Qur’an. Dan jadilah surat An Naba (juz 30) menjadi surat pertama yang ditugasi beliau untuk dihafal. Di antara teman-teman sekelompok, saya orang pertama yang berhasil menghafalkan surat sepanjang 40 ayat itu. Tak cukup dengan surat An Naba, saya lalu menyuruh diri saya sendiri untuk menghafalkan surat-surat lainnya yang ada di juz 30. An Naziat, Abasa, dan surat-surat lainnya. Hingga akhirnya, waktu lulus SMA saya sudah khatam menghafalkan juz 30. Pada masa-masa ini saya juga mengumpulkan kaset-kaset murattal seperti Syaikh Sudais, Syaikh Al Ghamidi, Syaikh Al Mathrud, Syaikh Hani Ar Rifai, Syaikh Mishary Al Afasy, Syaikh Abu Bakar Asy Syathiri, dan lain-lain, yang saya beli sendiri di Fatahillah STAN dan Fatahillah di Pondok Safari (dulu toko Fatahillah ada di Ponsaf soale hehe).

Karena kaset murattal saya banyak, maka saya putarlah kaset-kaset itu di rumah ketika senggang. Saya juga sering meminjam walkman dari tetangga untuk mendengarkan murattal-murattal dari para pemilik suara emas itu. Saya lalu coba meniru ‘lagu’ yang ada di kaset-kaset itu dengan cara saya sendiri. Syaikh Hani dan Syaikh Sudais yang bersuara tinggi, Syaikh Al Mathrud yang bersuara rendah, Syaikh Alafasy yang nadanya rada sedikit minor, dan Syaikh Syuraim yang seperti suara orang menggumam. Awalnya, gaya Syaikh Sudais yang coba saya ikuti. Namun seiring berjalannya waktu, saya lebih nyaman mengikuti gayanya Syaikh Al Mathrud. Setelah itu, bila ada uang lebih, selain untuk dibelikan buku, saya akan membeli kaset-kaset murattal yang dulu seharga Rp. 7.000 itu dan saya jejerkan di lemari buku..

Lepas SMA, aktivitas tarbiyah saya masih berlanjut, meski nggak ikut halaqoh di kampus, dan kegemaran saya menghafalkan Al Qur’an pun saya teruskan. Saat tingkat satu, jumlah hafalan saya bertambah jadi dua juz. Saya lalu menghafalkan surat-surat lain yang saya suka seperti Ar Rahman, Al Waqiah, Ash Shaff, 10 ayat pertama Al Anfaal, 20 ayat terakhir Ali Imran, beberapa ayat dari Surat Ibrahim, beberapa ayat dari surat Al Baqarah, dan surat-surat lain. Waktu itu, cara saya menghafal sederhana saja tanpa metode apapun. Saya biasa akan menghafal ayat baru sehabis subuh, sekaligus mengulang hafalan hari sebelumnya, dan akan mengulang hafalan-hafalan itu saat shalat Sunnah seperti Dhuha, Rawatib, dan juga di Tahajud. Saya paling suka mengulang-ulang hafalan saat Tahajud. Ketika itu saya shalat tahajud di kamar belakang dan mulai shalat dengan bacaan jahr. Saya merasakan sekali manfaat mengulang hafalan saat shalat tahajud itu karena surat-surat yang kerap saya baca waktu itu semua masih bertahan sampai sekarang. Surat-surat yang jarang saya ulang waktu tahajud kebanyakan lebih mudah hilang ketimbang yang sering. Maka jadilah 11 rakaat tahajud itu saya jalankan sejak pukul 3 pagi sampai menjelang subuh.

Oh iya, sarana lainnya yang saya manfaatkan untuk mengulang hafalan saya yang masih belum seberapa itu adalah dengan memberanikan diri menjadi imam di Masjid Baitul Maal (MBM) kampus STAN. Di masjid itu ada semacam aturan tak tertulis yang menghendaki bacaan imamnya di kala shalat jahr dengan standar yang agak panjang ketimbang masjid-masjid kebanyakan. Seorang dosen yang pernah bertemu dengan saya di masjid itu seusai maghrib bahkan pernah meminta saya untuk menyampaikan kepada takmir masjid agar durasi bacaan saat shalat maghrib jangan terlalu panjang. Rasa-rasanya permintaan sang dosen muda yang sering saya lihat shalat di MBM itu ada benarnya karena shalat maghrib yang barusan kami tunaikan berlangsung dalam durasi yang cukup lama karena sang imam membaca An Naba secara full di rakaat pertama dan separuh An Naziat di rakaat ke dua. Menjadi imam shalat malam di MBM juga pernah saya lakukan dengan membaca surat-surat dari juz 30 dan 29 ketika i’tikaf di penghujung ramadhan sudah mendekati malam-malam terakhir dan jumlah peserta i’tikaf makin berkurang karena banyak yang pulang kampung. Oh iya, di MBM, ada 2 imam yang jadi favorit saya: Ustadz Sunarso dan Akhuna Fajri yang orang Palembang. Keduanya punya kualitas suara yang sangat bagus dan jumlah hafalan yang banyak. Diam-diam, saya jadi pengagum rahasia mereka dan berjanji kepada diri sendiri agar saya bisa jadi seperti mereka. Selain di MBM, saya juga kerap ditunjuk memimpin shalat ketika ada acara buka puasa bersama. Tarawih yang terdiri dari 11 rakaat (8 tarwih dan 3 witir) itu biasa selesai dalam tempo satu jam, dan kadang lebih cepat.

Saya juga sesekali menjadi imam dadakan di Masjid Nurus Salam, masjid di dekat rumah. Biasa saya jadi imam ketika shalat Isya atau Shubuh, karena waktu shalat maghrib biasanya sangat ramai dan para imam masjid pasti ada di situ. Kesempatan yang langka itu tidak saya sia-siakan untuk mengulang hafalan-hafalan yang sudah saya miliki dalam situasi yang sedikit berbeda daripada sebelumnya. Tegang, khawatir salah dan lupa dengan ayat-ayat yang sudah saya hafal menjadi situasi yang cukup berkecamuk ketika saya berdiri di depan mimbar. Kaki saya sedikit bergetar, intonasi suara saya agak sedikit payah, dan pembacaan saya tidak sebaik ketika saya lakukan ketika shalat sunnah sendiri. Apalagi orang-orang yang jadi makmum di belakang saya sebagian dari mereka adalah sesepuh-sesepuh kampung.

Aktivitas menghafal masih saya lanjutkan sampai menjelang kelulusan (tepatnya kelolosan) dari STAN. Berhubung tingkat dua dan tiga begitu banyak aktivitas, ketika selesai dari STAN jumlah hafalan saya belum beranjak dari tiga juz. Pun ketika saya pindah ke Luwuk, jumlah hafalan saya rasa-rasanya makin berkurang karena berantakannya prioritas hidup saya ketika itu. Surat-surat yang dulu begitu mudah saya hafalkan kini berubah menjadi ‘seret’ dan sulit untuk diingat kembali. Dosa yang terlalu banyak adalah salah satu penyebabnya di samping sebab-sebab lainnya. Ketika jumlah hafalan saya makin menyusut, saya merasa berdosa dan sangat bersalah. Hafalan adalah amanah yang harus dijaga namun saya tidak bisa menjaga amanah itu dengan baik.

Sampai saat ini, saya masih harus bertarung dengan kemalasan-kemalasan diri agar bisa bangkit dan kembali semangat menghafal kembali. Meski di kelompok halaqah saya saat ini aktivitas menyetorkan hafalan itu masih berlangsung, saya merasa masih sangat kepayahan untuk mengikuti ritmenya dengan baik. Kemalasan yang melekat di diri ini ternyata sudah semakin akut. Semangat yang ada pun masih pasang surut, datang dan pergi. Satu hari semangat, enam hari selanjutnya surut. Satu pekan semangat, tiga pekan berikutnya ndelosor lagi.

Ada seorang akh di Luwuk ini yang diam-diam saya amati konsistensinya dalam menghafalkan Al Qur’an. Pria muda yang kini diamanahi sebagai imam masjid Al Ukhuwwah di Tanjung itu bisa dibilang salah satu asset ummat yang ada di Luwuk ini. Jumlah hafalannya banyak dan kualitas bacaannya juga baik. Beliau belum lama ini mengikuti acara Mukhayyam Qur’an yang diselenggarakan oleh sebuah partai politik di Jawa Barat dan membagi-bagi pengalamannya ketika acara itu. Kekaguman saya padanya semakin membuncah seraya mematri janji di dalam hati agar saya bisa ketularan semangatnya dalam menghafal.

Kini, sudah lebih dari enam atau tujuh belas tahun sejak kali pertama saya menghafal dan jumlah hafalan saya masih stagnan. Saya kerap membicarakan masalah ini kepada istri dan ia pun lalu mengutarakan kritikan-kritikannya kepada saya. Harus saya akui, kritikan-kritikannya itu memang ada benarnya dan karenanya, demi kedua orangtua dan anak-anak saya, saya bertekad untuk berubah. Itulah sebabnya, dalam kurun waktu tahun 2014 ini semangat saya untuk mengumpulkan kembali hafalan-hafalan yang berserak begitu menggebu. Ditambah lagi ketika shalat di masjid dekat rumah saya sering ditunjuk sebagai imam shalat jahr, termasuk diminta menjadi imam tarawih dan imam shalat id. Setelah dipikir-pikir, saya ini kok goblok banget ya. Udah dikasih kemudahan sama Allah agar bisa ngafalin Al Qur’an, diberikan lingkungan yang baik dan mendukung, tapi kok saya nggak nyadar-nyadar juga dan malah makin gak tau arah gini. Saya merasa sangat bersalah dan minta ampun kepada Allah asbab kebodohan-kebodohan saya yang telat lewat, seraya melipatgandakan syukur kepadaNya atas berbagai nikmat dan bimbinganNya kepada saya sampai saat ini. Padahal rencana memasukkan anak-anak saya ke pondok tahfizh sudah jadi rencana saya sejak dulu, tapi ini kok abinya malah masih ngeblangsak aje semangat ngafalinnya.

Program menghafal Al Qur’an yang kian lama terbengkalai kini saya mulai kembali. Anak-anak pun saya ajak untuk menghafal surat-surat di juz 30 baik ketika di rumah maupun ketika dalam perjalanan. Putri sulung saya termasuk penghafal yang cepat, pun begitu dengan putri kedua saya meski tidak secepat sang kakak. Saya menjanjikan hadiah jika mereka bisa menghafalkan surat An Naba dengan sempurna.

Sesekali kedua putri saya bertanya, “Kenapa sih abi ba baca doa (anak-anak biasa nyebut bacaan Al Qur’an dengan doa hehe) terus kayak ba gitu?” tanya si sulung.

“Abi lagi ba hafal Al Qur’an, nak.”

“Buat apa ba hapal doa, abi?”

“Supaya abi dapat pahala dan masuk syurga, nak. Supaya orangtuanya abi, mbah Nang dan mbah Wedok, bisa dapet mahkota yang bagus di syurga nanti.”

“Mahkota macam makhotanya Putri (disebutnya nama-nama putri yang kerap dilihatnya di buku dan film disney)?”

“Iya, nak. Tapi mahkota ini jauh lebih bagus dari mahkotanya si putri itu. Nanti mbak Azka, Fidel, dan Gendis ikutan ba hafal ya, supaya ummi den abi dikasih mahkota yang bagus dari Allah.”

Omongan saya mungkin kurang dimengertinya. Ndak apa. Meski awalnya ada ‘perlawanan’ dari si sulung dan si tengah, pada akhirnya mereka ikutan memurajaah hafalannya yang tak seberapa dan belum sempurna itu di sela-sela perjalanan kami berangkat ke sekolah maupun pulang ke rumah dari speaker handphone yang saya keraskan.

Para penghafal Al Qur’an adalah orang-orang yang melangkah di jalan sunyi. Tak banyak orang yang mau membersamai langkah mereka. Kalaupun ada, terkadang semangatnya tak terjaga sampai akhir hayatnya. Ada yang berhenti ketika baru memulai, ada yang jatuh malas seperti saya, dan sebab lain. Padahal di lisan dan hati merekalah, ayat-ayatNya terjaga dan terpelihara. Di dalam lisan dan hati mereka ada cahaya yang hanya dimiliki oleh para penghafal firmanNya. Meski tak terlihat, saya merasakan cahaya yang menentramkan jiwa itu ketika menatap wajah-wajah mereka dan berbicara dengannya. Saat ini metode menghafalkan Al Qur'an secara mudah sudah begitu banyak. Masalah sesungguhnya bukan pada metode, tapi pada diri sang calon penghafal Qur'an. Siapkan mereka melangkah di jalan yang sunyi itu? Saya sendiri masih berusaha untuk membesarkan hati agar siap melalui jalan yang sunyi itu, sekali lagi, dan tidak kembali terhenti di tengah jalan dan menyerah begitu saja seperti yang sudah-sudah.

Di dunia yang semakin carut-marut begini, hadirnya orang-orang yang masih bersemangat mengeja firmanNya di tengah pelbagai godaan dan tuntutan hidup ibarat sebuah oase di tengah padang pasir yang gersang. Ibarat segelas es kelapa muda di tengah perjalanan yang panas dan melelahkan. Ibarat nyeruput sop buah ketika kita seharian berpuasa. Semoga kita semua, termasuk saya, diberikanNya kekuatan agar bisa membersamai langkah mereka menuju jalan kesunyian yang begitu panjang dan berliku itu. Amin ya mujib as saailiin. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Oktober 2014

Rabu, 08 Oktober 2014

13 Jersey Parma Terbaik (1989-2014)

Daripada suntuk membahas prestasi klub ini yang sedang berada di titik nadir, setidaknya dalam beberapa giornata terakhir, tiba-tiba saja saya ingin membuat tulisan tentang jersey-jersey Parma dengan desain terbaik dalam kurun waktu 25 tahun terakhir. Klub yang bermarkas di region kota Parma, yang juga dikenal dengan produk keju Parmagiano-Reggiano (Parmesan) dan Parmaham-nya, ini memiliki perjalanan jersey yang cukup panjang dan berwarna-warni.

Dasar penilaian yang saya buat dalam tulisan-tulisan berikut ini sangat subjektif dan benar-benar bergantung pada selera saya pribadi yang bisa saja berbeda dengan selera teman-teman semua. Penyusunan yang saya buat berikut ini tidak menunjukkan urutan tingkat terbaik jersey yang dimaksud. Kenapa 13 jersey? Tidak ada alasan khusus. Saya memang menyengaja mengambil angka itu bukan karena saya terinspirasi sama si Freddy Krueger. Jadi angka 13 ini memang sekedar lintasan pikiran saja hehe.

Mari kita mulai.

1. HOME 1998-1999



Musim 1998-1999 bisa jadi adalah musim yang sangat memorable bagi sebagian besar Parma yang ada di dunia ini. Pada musim itu, Parma meraih dua gelar major seperti UEFA Cup dan Coppa Italia, dan bahkan berhasil merebut Super Coppa Italiana dari tangan AC Milan. Dan pada musim inilah, Parma mengalami transisi apparel dari Puma yang telah bertahan sejak musim 1995-1996 dan berpindah ke Lotto sebelum akhirnya jersey Parma diendorse oleh salah satu apparel asal Amerika Serikat, Champion, yang sebelumnya telah sangat identik dengan apparel klub-klub basket NBA. Jadi, bisa dibilang jersey ini adalah jersey transisi yang layak untuk dikoleksi. Lotto mengeluarkan beberapa versi jersey ini, di antaranya adalah: Home dengan motif garis-garis kuning biru; Away dengan motif dominan putih dan garis kuning biru berukuran kecil; dan Third yang berwarna biru dongker dengan garis kuning berukuran kecil.

2. THIRD 2010-2011



Jersey Parma berwarna abu-abu adalah kejutan yang cukup mencolok dari Errea.

3. AWAY 2012-2013



Jersey-jersey berdesain asimetris memang selalu menggoda. Jersey away 2012-2013 yang menggunakan template Errea Dundee ini menjadi salah satunya.

4. AWAY 2008-2009



Jersey yang dipakai saat Parma di Serie B paska terelegasi pada musim 2007-2008 ini adalah jersey asimetris lainnya yang menarik perhatian saya yang karenanya harus saya masukkan sebagai salah satu jersey Parma dengan desain terbaik dalam kurun waktu 25 tahun terakhir.

5. THIRD 2009-2010



Musim pertama Parma di Serie A setelah semusim terdegradasi ke seri B ini memakai template Errea Eyre. Dengan motif garis kuning biru vertikal yang simetris dan berkerah, jersey ini akan tampak semakin cantik dalam versi long sleeve.

6. HOME 1992-1993



Jersey-jersey yang dipakai pada momen spesial memang selalu memberikan kesan mendalam. Jersey yang dipakai saat final Piala Winners melawan wakil Belgia, Royal Antwerp, ini juga termasuk jersey dengan desain terbaik versi saya.

7. AWAY 1997-1998



Satu-satunya jersey Parma yang diappareli Puma yang masuk ke dalam daftar ini adalah jersey away 1997-1998. Secara pribadi, saya memang kurang tertarik dengan jersey-jersey Parma yang diappareli Puma dua musim belakangan.

8. HOME 1999-2000 EUROPE AND FINAL SUPER COPPA ITALIA VERSION



Champion memiliki desainer yang brilian saat mereka membuatkan jersey ini. Selain desainnya yang ciamik, keberadaan jersey ini pun sangat sulit ditemui di pasaran. Kalaupun ada, harganya biasa too good too be true.

9. AWAY 1999-2000



Dari semua jersey Parma dalam kurun waktu 25 tahun terakhir, jersey ini adalah jersey dengan desain terbaik. Sejak kali pertama rilis, saya bermimpi untuk bisa memiliki jersey berwarna dominan putih ini.

10. FOURTH 2014-2015



Jersey Parma berwarna hijau? Menarik untuk dilihat.

11. THIRD 2005-2006 ERREA VERSION



Saya belum pernah mendengar ada klub yang mengganti apparelnya di tengah-tengah musim seperti Parma. Ketika klub tengah berada dalam situasi sulit, pihak manajemen akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Champion yang telah membersamai mereka dalam enam tahun terakhir dan berpindah kembali ke produk lokal Italia yang berbasis di Torille, Errea. Jersey dengan bahan lycra yang bodyfit ini memiliki warna biru navy yang sangat gelap, sangat kontras dengan warna kuning yang membentuk motif cross di dada.

12. FOURTH 2006-2007



Musim ini bisa jadi adalah musim dengan jumlah model jersey terbanyak. Mulai dari jersey yang khusus dipakai di Seri A (Gimoka), Coppa Italia (sponsorless), maupun di UEFA Cup (Play Radio). Terhitung ada 5 model jersey yang dikenakan Parma pada musim ini: Home (Putih cross hitam), Away (kuning cross biru), Third (biru cross kuning), Fourth (hitam cross putih), dan Fifth (merah cross putih). Khusus jersey ke lima, jersey tersebut secara khusus hanya digunakan di 1 partai saja saat Parma bertandang ke Bentegodi, markas Hellas Verona.

13. THIRD 2007-2008



Black Gold! Jersey yang hanya dipakai dua kali sepanjang musim 2007-2008 ini adalah salah satu jersey favorit saya. Dengan warna dominan hitam dan cross emas, termasuk namesetnya yang juga berwarna emas, menjadi salah satu pesonanya tersendiri.

Demikian ketigabelas jersey Parma terbaik versi saya. Anda punya versi lain atau justru punya pendapat yang sama dengan saya? [wahidnugroho.com]

Kilongan, Oktober 2014 

Kamis, 25 September 2014

Semacam Catatan Fans Parma Layar Kaca

Paska promosi ke Seri A tahun 2009 silam, penampilan Parma selalu mengalami pasang surut dan hanya mampu berkutat di papan tengah. Jangankan membahas scudetto, bertahan di Seri A alias salvezza selalu menjadi agenda tahunan yang rutin disuarakan oleh para petinggi di Emillia sana. Baru pada musim 2013-2014 Parma mengalami peningkatan penampilan yang cukup baik. Ketika tim-tim tradisional semisal Milan dan Inter masih berkutat dengan inkonsistensi, Parma memiliki penampilan yang cukup stabil di penghujung musim tersebut yang membawa mereka bertengger di posisi ke enam di akhir musim. Posisi itu memungkinkan mereka untuk kembali berlaga di play off Liga Eropa musim 2014-2015 bersama Internazionale dan Fiorentina. 

Tapi kegemilangan itu hanya bertahan sebentar. Parma dijegal ke Eropa karena permasalahan fiskal sang presiden yang abai dalam menjalankan kewajibannya. Sedih, memang. Tapi apa boleh buat, the show must go on. Meski sempat ‘bertarung’ sampai ke CAS, posisi Parma di play off Europa League pun digantikan oleh Torino yang di pertandingan terakhirnya sempat diwarnai drama hadiah penalti yang penuh kontroversi. Sebagian orang menganggap bahwa ada aroma konspirasi yang sangat kuat demi menjegal Parma kembali berlaga di Eropa setelah lebih dari tujuh tahun absen. Situasi di Collechio pun menjadi tak kondusif. Tomassi Ghirardi sempat mengajukan pengunduran dirinya sebagai presiden Parma yang dipegangnya sejak tahun 2006 silam. Bursa transfer pun sepi, bahkan pemain-pemain yang jadi kunci kesuksesan Parma musim sebelumnya banyak yang hengkang. Masa depan klub yang berdiri pada tahun 1913 ini pun jadi semakin suram.

Seri A musim 2014-2015 kini baru memasuki giornata ke empat dan posisi Parma masih jauh dari menggembirakan. Mengemas satu kali menang dan tiga kali kalah, dua di antaranya terjadi di kandang sendiri, membuat jantung fans Parma dimanapun mereka berada jadi semakin tak karuan. Pekan demi pekan hanya menghadirkan kegalauan dan kegelisahan, bisakah Parma menang atau sekedar mengamankan poinnya, atau justru jadi bulan-bulanan? 

Meski begitu, musim ini bukan tanpa harapan. Walau masih bertengger di posisi papan bawah, Parma menjadi tim ke tiga di papan klasemen yang punya produktivitas gol yang bagus: 8 gol. Sayang, jumlah kebobolannya jadi yang terburuk: 10 gol! Absennya pemain kunci seperti Paletta di jangkar pertahanan dan Cassani di lini pendukung, dan pemasangan formasi serta pergantian pemain yang cukup aneh dari sang allenatore Donadoni, menjadi salah satu sebab sering berdegup kencangnya jantung tifosi Parma saat menyaksikan tim kesayangan mereka bermain. Sepuluh gol yang bersarang di gawang Mirante menjadi salah satu pekerjaan rumah Donadoni yang, menurut sebagian tifosi, kurang berani bereksperimen dengan memberikan kesempatan bermain bagi pemain-pemain muda yang punya penampilan lebih menjanjikan.

Situasi Parma musim ini sama persis dengan performa musim kemarin yang pada pekan ke empatnya juga bertengger di posisi ke 16 klasemen. Bedanya hanya dari segi produktivitas dan jumlah poin.  Berikut adalah perbandingan performa Parma di 4 giornata awal sejak promosi ke Seri A di musim 2009-2010 yang lalu:


Musim
Posisi di Klasemen
Gol
Kebobolan
Poin
2014-2015
16
8
10
3
2013-2014
18
2
6
2
2012-2013
12
4
6
4
2011-2012
18
3
9
3
2010-2011
10
5
4
5

Melihat tabel di atas, kita bisa melihat bahwa klub ini secara alamiah memang selalu berada pada fase sulit saat musim baru saja dimulai dalam lima musim terakhir dan justru malah mengalami penampilan yang cukup stabil pada akhir-akhir kompetisi. Namun jika melihat performa klub ini di sepertiga giornata terakhir, maka kita akan mendapatkan data sebagai berikut:


Musim
Jumlah Bermain
Jumlah memasukkan

Kemasukan

Poin
Posisi di klasemen akhir
2013-2014
10
11
11
12
6
2012-2013
10
9
9
14
10
2011-2012
10
21
9
25
8
2010-2011
10
12
9
17
12
2009-2010
10
17
14
15
8

Dari tabel di atas, diketahui bahwa penampilan terbaik Parma pada 10 giornata terakhir terjadi pada musim 2011-2012 yang sama-sama kita ketahui bersama dimana Parma berhasil meraup poin 25 dari maksimal 30 yang bisa diraihnya. Pasukan Franco Colomba bahkan mencatat kemenangan 7 giornata berturut-turut setelah dikalahkan Udinese di Friulli pada gioranata ke 31. Meski sempat mengalami penurunan pada musim 2013-2014, secara keseluruhan penampilan Parma di ulang tahunnya yang ke-seratus cukup stabil. Hal ini terbukti saat anak-anak asuh allenatore Donadoni berhasil duduk di tangga ke 6 tabel klasemen akhir. Jauh lebih baik daripada musim sebelumnya yang hanya duduk di posisi 10.

Oleh karenanya, di awal-awal kompetisi ini saya tidak ingin berharap terlalu banyak kepada klub ini dan ingin menikmati ketegangan demi ketegangan yang tercipta di setiap pekannya dengan sebaik-baiknya. Statistik di atas mungkin tidak bisa dijadikan satu-satunya pegangan. Namun, berbekal statistik sederhana yang sudah saya sajikan di atas, saya hanya ingin menyenangkan diri saya sendiri terkait dengan inkonsistensi yang terjadi di klub ini dengan cara yang rasional sambil terus berharap agar Parma bisa memperbaiki penampilannya dari giornata satu ke giornata lainnya. Siapa sih pendukung yang tidak suka dengan prestasi klub yang didukungnya? Tapi andaipun klub yang sudah didukungnya sepenuh hati itu tidak sesuai dengan ekspektasinya, tak ada yang bisa saya lakukan kecuali hanya dengan menerimanya meski dengan kepala yang sedikit tertunduk dan hati yang tiba-tiba saja terasa sesak. Mau bagaimana lagi? Namanya juga hanya, meminjam istilah seorang teman di facebook, fans layar kaca. [wahidnugroho.com]


Kilongan, September 2014