Istriku Seleraku

08.54.00
Siang itu saya dan istri baru saja menghadiri pesta pernikahan seorang teman. Dalam perjalanan pulang, saya bertanya kepada istri tentang busana yang dikenakan teman-teman akhwatnya. Saya tanyakan bagaimana kesannya tentang busana-busana itu dan apakah ia mau mengenakan busana-busana semacam itu. Busana yang saya maksud adalah setelan gamis berbahan jersey dengan jilbab bergo yang berbahan sama. Busana muslim yang sedang ngetrend akhir-akhir ini sebagai ekses dari sinetron-sinetron, anggap saja, islami yang bertebaran di televisi. Artis cantik berjilbab lebar yang wajahnya kerap wara-wiri di layar kaca dengan mengenakan busana itu menjadi agen promotor yang tepat. Meski saya benci sinetron, namun saya akui bahwa busana muslim seperti itu memang bagus dan menutup lekukan tubuh wanita dengan cukup baik, dengan catatan asal bahannya nggak tipis dan transparan.

Kembali ke soal dialog. Istri saya ketika ditanya seperti itu ia justru balik bertanya, “Abi suka kalau aku pake gamis macam itu?”

Ini yang saya suka darinya. Ketika saya menanyakan tentang sesuatu yang terkait dengan penampilannya, ia sering bertanya kembali apakah saya suka jika ia mengenakan busana itu atau nggak. Ketika ia bercerita tentang jilbab-berwarna-gelap-yang-lebarnya-kayak-sprei saya bertanya apakah ia mau memakai jilbab seperti itu. Ia menjawab dengan kembali bertanya kepada saya sebagaimana yang sudah saya tulis di atas. Kalau soal jilbab yang saya maksud barusan, saya memang melarangnya memakai jilbab seperti itu karena “Nanti kamu keliatan kayak Peni.” Peni – well, nama aslinya adalah Vini dan Peni adalah nama “tenarnya” hehe – adalah kembaran istri saya yang juga berjilbab lebar.

Soal busana istri, saya memang suka dengan penampilannya yang tampak old fashion meski tetap chicky dan trendy. Saya suka kalau ia berjilbab polos yang ditempeli bros sederhana dengan gamis atau setelan katun warna-warni yang membuat dirinya tampak seperti akhwat SMA meski (baru) beranak tiga hehe. Saya kurang suka kalau ia memakai jilbab yang terlalu panjang, atau terlalu lebar. Saya juga kurang suka kalau ia memakai pakaian berwarna gelap seperti dongker, cokelat tua, dan hitam. Saya suka ia yang tampil dengan sederhana, biasa-biasa saja, tapi tetep syar’i dan, kata orang jawa, mantesin.

Saya lebih suka kalau ia memakai pakaian yang berwarna-warni, tanpa make up seperti bedak, lipstik, dan kosmetik aneka rupa. Pernah ia membeli produk kosmetik merk tertentu yang katanya – well, sebenernya sih kata temen-temennya hehe –  bisa bikin wajah begini dan begitu. Saya keberatan dan saya bilang kepadanya bahwa “Wajahmu itu wajah kampung. Gak perlu dipoles ini itu udah mulus dari sononya. Cukup dicuci pake air dan dirawat pake bahan-bahan tradisional aja sesekali.” Ia awalnya tampak meragukan pendapat saya. Tidak masalah. Akhirnya ia jadi juga memakai produk itu dan wajahnya jadi tampak “belepotan”. Jerawat tumbuh di sini dan di sana. Ada warna kehitaman yang timbul di salah satu sudut wajahnya. Kosmetik itu mungkin nggak cocok dengan kulitnya yang “ndeso”. Ia pun meninggalkan kosmetik itu dan berkata kepada saya “Iya ya bi, aku nggak cocok pake kosmetik ini itu” dan akhirnya memilih madu dan air biasa untuk membersihkan wajahnya beberapa hari sekali. Saya sering bilang kepadanya “Jadi besok-besok pas kamu ditanya sama temen-temenmu bagaimana caranya mukamu bisa mulus kayak gitu, lebih baik kamu jawab ‘Aku nggak pake apa-apa. Cuman pake air dan madu aja’ ato kamu jawab dengan ‘Aku pake kosmetik ini dan itu dan sebagainya dengan harga sekian dan sekian’? Coba kamu pikir baik-baik.

Jadi, istri saya adalah selera saya. Bisa jadi, selera saya yang terejawantahkan padanya nggak ngetrend-ngetrend amat. Ndak apa-apa. Bisa jadi selera saya itu nggak ngikutin perkembangan mode terbaru. Ya ndak masalah tho? Yang penting tetep menutup aurat dan nggak nunjukkin lekukan tubuh itu sudah lebih dari cukup, dan pastinya lebih menentramkan. Karena kualitas seorang muslimah bukan dilihat dari apa merk kosmetiknya, berapa harga gamisnya, dan seberapa banyak koleksi tas dan sepatunya. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Desember 2014

Author fakta.id

Wahid Nugroho

Ini adalah blog pribadi. Semua yang tertulis di dalam blog ini adalah pendapat dan sikap saya secara pribadi dan tidak terkait dengan sikap dari instansi tempat saya bekerja.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »