Mari Bersemangat Untuk Belajar Al Qur'an

12.35.00
Libur panjang kemarin, ada pelatihan bertajuk Standarisasi Guru Al Quran TPA/TKA dengan metode Tilawati selama dua hari. Acara yang dihelat oleh Yayasan Mitra Insan Madani bersama dengan Badan Koordinasi TPA Kabupaten Banggai dan Pesantren Nurul Falah Surabaya ini berlangsung di gedung KONI yang kini bertempat di belakang kantor Dinas Perikanan. Acara pelatihan ini ditujukan kepada guru PAUD dan para pengajar TPA sekota Luwuk agar tercipta standarisasi pengajaran Al Qur’an sesuai dengan standar ala Tilawati. Meski sempat tertarik untuk ikut sejak beberapa pekan yang lalu, saya sendiri tidak ikut acara itu karena hari Rabunya saya masih masuk kantor dan keesokan harinya ada keperluan mendadak yang tidak bisa ditinggalkan.

Sehari sebelum acara berlangsung, saya menawarkan kepada takmir masjid dan imam ke tiga masjid BTN Muspratama agar hadir menjadi wakil dari TPA Muspratama. Namun kedua orang itu berhalangan. Saya meminta nama guru mengaji di komplek yang bisa diajukan untuk mengikuti acara itu yang justru dijawab agar istri saya saja yang ikut. Istri saya, well, dia memang saya dorong untuk ikut. Setelah pak takmir berkata demikian, saya berpesan kepadanya bahwa ia akan mewakili TPA BTN Muspratama meski dengan mewakili saya, selaku sekretaris yayasan MIM, pun sebenarnya sudah lebih dari cukup. Singkat cerita, istri sayalah yang akhirnya hadir di acara pelatihan itu.

Acara pelatihannya berlangsung meriah. Wakil Bupati Banggai, bapak Herwin, yang membuka acara. Saya sendiri tidak ikut acara pembukaannya karena harus ke kantor. Pesertanya kurang lebih enam puluhan orang yang terdiri dari wajah-wajah yang cukup familiar dengan saya. Ada pak ustadz Yunus yang imam masjid BTN Nusagriya, ada teman pengajar TPA di masjid Kampung Baru, dan wajah-wajah lain yang biasa saya temui dalam acara-acara yang dihelat komunitas pengajar TPA di kota Luwuk ini, termasuk beberapa qori yang pernah saya dapati wajahnya dalam satu dua kesempatan. Selain itu, saya juga melihat guru-guru KBIT dan SDIT Madani yang juga jadi pesertanya. Wajar, karena acara ini memang ditujukan untuk mereka. Termasuk imam masjid Al Ukhuwwah Tanjung, ustadz Rahmat Al Hafidz, yang juga guru tahfidz anak-anak Madani, demikian kami biasa menyebut sekolah itu.

Pelatihan di hari pertama selesai menjelang Maghrib. Dalam perjalanan pulang, saya mendengar kesan-kesan dari istri dan teman-temannya yang pulang bareng mobil kami. Saya memberikan beberapa saran kepada guru-guru yang bersemangat ini tentang tips-tips memiliki bacaan Al Qur’an yang baik dan benar. Tips-tips yang ternyata diamini para guru itu karena ternyata para trainer dari Tilawati pun mengatakan hal yang kurang lebih sama. Hari pertama, seingat saya, dihadiri oleh lebih dari 60-an peserta.

Pelatihan hari ke dua, yang jumlah pesertanya ternyata agak berkurang menjadi sekitar 55-an peserta, diisi dengan tema-tema aplikatif seperti metode pembelajaran, microteaching, dan juga munaqosyah sebagai ajang penilaian apakah bacaan Al Qur’an mereka selama ini sudah sesuai standar atau masih ada yang harus diperbaiki. Saya memantau kegiatan para peserta pelatihan melalui grup whatsapp yang saya ikuti, berhubung semua anggota grup adalah juga peserta pelatihan, kecuali saya. Melihat para ustadz dan ustadzah yang bersemangat untuk mempelajari Al Qur’an membuat saya jadi ikutan bersemangat. Saya bersyukur bahwa di antara sekian banyak orang yang ada di Luwuk ini, masih ada cukup banyak orang yang punya kepedulian dengan Al Qur’an, yang dalam hal ini adalah para pengajar TPA dan guru-guru PAUD.

Acara munaqosyah sendiri berlangsung hingga malam dan penutupan serta pengumuman siapa-siapa saja yang bacaannya sudah sesuai standar Tilawati. Tercatat, dari sekitar lima puluhan peserta, hanya ada 6 orang yang kualitas bacaan Al Qur’annya sudah sesuai standar. Keenam orang itu empat di antara saya kenal, namun dua yang lain tidak. Saya sendiri tidak heran dengan hasil yang diumumkan oleh para trainer dari Tilawati meski agak kaget juga bahwa ada satu dua wajah, para qori, yang ternyata bacaannya masih jauh dari standar. Memang kalau boleh jujur, tanpa bermaksud merasa diri sudah lebih baik dari orang-orang itu, saya melihat bahwa masih banyak sekali para imam masjid di kota Luwuk ini yang kualitas bacaan Al Qur’annya masih belum benar. Mereka memang pembaca yang baik, bacaan mereka merdu, tapi banyak yang tidak benar. Kalau dihitung-hitung, mungkin hanya satu dua masjid saja yang punya imam dengan kualitas bacaan Al Qur’an sesuai dengan standar ilmu tajwid. Beberapa masjid yang kualitas bacaan imamnya benar adalah masjid Al Ukhuwwah Tanjung, Imam ke 2 dan ke 3 Masjid Agung Luwuk, tetangga saya yang juga imam ke 2 Masjid Ar Rahman BTN Muspratama, Imam Masjid Al Manshurah di depan kantor Depag Kampung Baru, dan imam utama masjid BTN Kilo Lima. Selebihnya, bacaan para imam masjid di daerah ini masih sangat jauh dari ideal. Beberapa di antaranya bahkan punya kualitas bacaan yang sangat buruk. Ini masih di dalam kota Luwuk, belom ke luar kota. Kondisi ini seharusnya jadi catatan bagi pihak yang berwenang dan memiliki kompetensi agar hal-hal semacam kualitas bacaan para imam masjid bisa lebih diperbaiki di masa mendatang dengan mengesampingkan hal-hal seperti relasi dan rasa tidak enak yang cenderung berekses negatif.

Istri saya sendiri ketika hasilnya diumumkan ternyata tidak sesuai harapannya, meski saya tidak kaget dengan kualitas bacaan Al Qur’annya yang masih belum ideal khususnya pada beberapa bagian yang sulit seperti makhorijul huruf dan ayat-ayat gharibah. Apa yang saya dapatkan dari acara pelatihan itu, khususnya yang terjadi pada istri saya, membuat saya punya tugas ekstra untuk lebih memperhatikan kualitas bacaan Al Qur’annya. Itulah sebabnya, paska pelatihan itu, istri saya jadi lebih banyak bertanya soal hukum-hukum tajwid dan bagaimana cara membacanya ketika ia selesai mengaji dan saya sedang ada di dekatnya. Saya menyarankan kepadanya agar mengesampingkan dulu nama-nama hukum dan lebih berkonsentrasi pada cara membaca yang benar. Karena untuk apa kita hapal seabreg hukum tajwid jika kita tidak tahu cara melafalkannya dengan benar?

Saya juga menyarankan kepada istri saya agar informasi tentang metode ini disampaikan kepada ibu-ibu majelis taklim di komplek. Saran yang akhirnya dijalankannya dengan sebuah kesimpulan bahwa saya diminta untuk mengajari ibu-ibu komplek mengaji. Saya agak keberatan dengan permintaan yang berat itu karena masih ada ustadz Yunus, imam masjid BTN Nusagriya, yang sudah lulus standarisasi Tilawati tempo hari sedangkan saya tidak mengikuti pelatihan itu. Kalau mau dikorek-korek lagi, sebenarnya ada banyak sekali orang yang ingin belajar membaca Al Qur’an dengan benar. Jauh sebelum pelatihan Tilawati ini diadakan, saya sempat membuat acara tahsin (semacam pengajian membaca Al Qur’an) bersama teman-teman kantor yang diadakan di mushala kantor pada bulan puasa kemarin. Meski pesertanya tidak banyak, saya melihat bahwa adanya sebuah lembaga tahsin merupakan sebuah keniscayaan di kota ini. Apalagi kalau melihat kondisi para imam masjid sebagaimana yang sudah saya tulis di atas.

Saya menulis seperti ini bukan berarti karena saya lebih baik dari para imam tersebut, atau tahu lebih banyak daripada orang-orang yang saya sebutkan sebelumnya. Bukan. Saya hanya prihatin dengan kondisi kaum muslimin di Luwuk yang semangat belajar Al Qur’annya cukup tinggi namun tidak bisa diakomodir secara optimal oleh orang-orang yang berkompeten. Beberapa tahun yang lalu, yayasan kami, Mitra Insan Madani, pernah membuat sebuah lembaga tahsin dan tahfidz Al Qur’an yang pada perkembangannya mandeg karena kesibukan pengelolanya. Saya sempat meminta kepada para pengelola tersebut agar kembali duduk bersama untuk membahas pengembangan lembaga itu dan hajatnya yang besar untuk daerah ini di masa depan. Sebuah permintaan yang sampai detik ini masih menjadi masalah yang harus dicari jalan keluarnya.

Ala kulli haal, mari kita bersemangat mempelajari Al Qur’an, termasuk juga mengajari istri dan anak-anak kita membaca Al Qur’an dan menularkan kecintaan atas Al Qur’an kepada mereka. Karena salah satu karakteristik manusia yang rabbani adalah “..karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya”, sebagaimana yang telah Allah swt firmankan dalam surat Ali Imran ayat 79. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Desember 2014 
Semacam catetan acakadut

Author fakta.id

Wahid Nugroho

Ini adalah blog pribadi. Semua yang tertulis di dalam blog ini adalah pendapat dan sikap saya secara pribadi dan tidak terkait dengan sikap dari instansi tempat saya bekerja.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »