Tanpa Rencana

21.21.00


Aku ingin sekali bepergian bersamamu, tanpa rencana, tanpa persiapan yang berarti, tanpa tujuan yang akan didatangi, pergi begitu saja. Kau hanya perlu mengemasi beberapa potong pakaian milikku, milikmu, milik anak-anak. Membawa uang secukupnya dan juga kartu identitas. Mengisi tangki bensin mobil kita sampai penuh, dan kembali mengisinya saat jarum tangki menjadi seperempatnya. Kita akan menuju ke arah matahari terbenam, melihat langit yang awalnya biru lalu mengelam hitam. Menikmati pemandangan yang dihiasi deretan pohon, semak, dan perdu yang seolah tanpa ujung. Menyimak erangan binatang malam, kerikan serangga, kaokan burung gagak, dan kepakan sayap kelelawar.

Kita akan makan secukupnya, minum secukupnya, mungkin mengemil sesekali saja, lalu berhenti beberapa kali saat kumandang azan mengangkasa. Menunaikan kewajiban, menyelesaikan hajat yang tertahan, dan membersihkan debu serta daki yang melekat di badan.

Mungkin kita perlu juga berhenti sejenak ketika suara gemericik air sungai sudah mulai terdengar. Mematikan mesin mobil yang mulai memanas, melangkah keluar dengan kaki tanpa alas, meregangkan otot-otot yang tegang dan kebas, dan menyesap keheningan yang mulai turun di bibir sebuah sungai kecil yang berarus tak seberapa deras.

Biarkan saja anak-anak bermain di bibir sungai yang tak tenang, biarkan saja mereka saling membasahi, tertawa, dan bercanda dengan air yang mengeruh karenanya. Aku dan kau hanya menyaksikan dari jarak yang tak seberapa, saling menggamit tangan, tanpa suara, hanya bertukar senyum dan pandangan mata.

Kita akan merapat di bibir desa yang sepi penghuni ketika gelap menghampiri. Menyiapkan kasur untuk anak-anak di bagian belakang mobil, merebahkan sandaran kursi yang menyamankan diri, lalu tidur hingga kumandang azan subuh datang.

Saat fajar menyingsing, kita akan kembali melanjutkan perjalanan kita yang tanpa rencana, tanpa persiapan, dan tanpa tujuan itu hingga isi bahan bakar mulai menipis perlahan. Lalu mengisinya hingga penuh ketika kita berhasil menemui stasiun pengisian bahan bakar dan berbalik arah ke tempat kita semula pergi. Ke arah dimana matahari terbit dan mengurapi segarnya pagi. [wahidnugroho.com]


Kilongan, Juni 2013 
Author fakta.id

Wahid Nugroho

Ini adalah blog pribadi. Semua yang tertulis di dalam blog ini adalah pendapat dan sikap saya secara pribadi dan tidak terkait dengan sikap dari instansi tempat saya bekerja.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »