Senin, 10 Juni 2013

Sepotong Kisah 'Suram' Istri Saya


Istri saya bukan orang yang biasa bekerja. Ia bukan orang yang prigel dan cekatan. Maklum, waktu kecil dulu ia tidak diperbolehkan bekerja di rumah, dalam artian melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lazimnya dikerjakan oleh anak perempuan: memasak, mengurus rumah, mencuci baju, menyetrika, dan hal-hal semacam itu. Karena konon kabarnya rumah mertua dulu banyak dihuni oleh anak tinggal.

Anak tinggal adalah sebuah istilah bagi anak-anak dari luar kota Luwuk yang menumpang tinggal di sebuah rumah. Anak-anak tinggal itu biasa membayar uang sewa yang tak seberapa kepada tuan rumah, kadang tidak membayar sama sekali asal mereka membantu menyelesaikan pekerjaan-pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, bebersih, dan hal-hal semacam itu. Jenis anak tinggal yang ke dua itu biasa mereka yang punya hubungan keluarga dengan sang induk semang rumahnya, meski kadang ada yang tidak berhubungan keluarga sama sekali. Untuk kasus rumah mertua saya ini, kebanyakan yang tinggal di rumah mertua saya ketika itu adalah sepupu-sepupu istri saya dari Bualemo dan dari Montop Banggai Kepulauan. Mereka jauh-jauh merantau dari Bualemo ke Luwuk (jarak Bualemo ke Luwuk itu sekitar 120 km) dan Montop untuk melanjutkan sekolahnya.

Maka jadilah istri-cilik saya ketika itu hidup dengan nyaris tanpa pernah turun ke dapur untuk memasak atau melakukan pekerjaan rumah, karena semuanya sudah ada yang mengerjakan. Mau makan tinggal makan, mau ganti baju tinggal ambil baju di lemari yang sudah tersetrika licin dan rapi. Ditambah lagi dengan sikap protektif ibu mertua saya yang melarang istri-cilik saya dan kembarannya untuk bekerja di dapur, makin jos gandos-lah ke-tidak-prigel-an dan ke-klemar-klemer-an istri saya dalam urusan pekerjaan rumah tangga.

Saya, well, dari kecil suka nongkrong di dapur. Kadang membantu ibu memotong-motong sayur, memasak, cuci beras, atau sekedar duduk-duduk sambil melihat ibu saya bekerja. Kebetulan ibu saya juga suka diminta rewangan (memasak untuk hajatan) di rumah tetangga, maka saya pun suka berada dekat-dekat dengan ibu ketika beliau memasak sambil berharap untuk mendapatkan satu dua potong kue atau paha ayam goreng. Saya juga disuruh untuk belajar mencuci dan menyetrika baju sendiri. Ibu saya juga sosok perempuan yang prigel sama kerjaan rumah yang selalu mengharapkan rumah yang rapi jali. Begitulah saya tumbuh dan besar dalam setting lingkungan seperti itu.

Dan akhirnya kami berdua pun bertemu. Saya yang seperti ini dan istri yang seperti itu. Latar belakang kami berdua cukup kontradiktif, ternyata. Meski kadang ada kesalahpahaman dan ketidakcocokan yang kerap terulang, tapi toh akhirnya istri saya bisa melakukan pekerjaan-pekerjaan yang dulu tak akrab dengan masa tumbuh-kembang-nya juga. Syukurlah, cerita ‘kelam’ itu sudah berlalu. Masakannya tak lagi sehambar dulu, bumbunya sudah lebih ‘berani’, sudah cukup percaya diri dengan level kelezatan masakannya yang dibuktikan dengan membagi-bagikan hasil prakarya dapurnya ke para tetangga, dan cara bekerjanya yang tak lagi se-klemar-klemer dulu, serta sudah cukup cekatan dalam melakukan pekerjaan rumah tangga. Keputusan kami untuk tidak lagi menyewa asisten rumah tangga pun bagian dari pembelajaran dan pembiasaan agar kami mau dan mampu bekerja dan mengurus rumah sendiri.

Ketika anak-anak perempuan kami lahir dan semakin mendewasa, saya mengatakan kepada istri bahwa anak-anak ini jangan sampai seperti dirinya ketika masih anak-anak dulu: tak terampil bekerja. Mereka harus lebih baik dari umminya, bahkan juga saya. Saya juga kerap melibatkan akhwat-akhwat cilik itu untuk pating-kemriyik membantu saya atau umminya ketika memasak, memberikan mereka pekerjaan remeh-temeh seperti mengaduk adonan, mengambilkan garam, atau mengocok telur, yang mereka lakukan sambil cengengesan dan terkadang saling menghamburkan tepung dan bumbu-bumbu. Atau kadang melibatkan mereka membereskan mainan, melipat baju, melap kotoran, memungut barang-barang yang jatuh, dan hal-hal semacam itu. Menurut saya itu adalah pembelajaran dan pembiasaan supaya mereka kelak tak seperti umminya di masa kecil dulu yang tak biasa bekerja.

Karena ketika mereka berumahtangga kelak, bagaimanapun ‘sebagian’ dari takdir perempuan adalah mampu melayani suami mereka dengan sebaik-baiknya, apapun profesi dan posisi mereka di masyarakat, sebagai timbangan amal kebaikan bagi mereka di masa depan nanti.

Beberapa orang mengatakan bahwa ada seberkas kebahagiaan yang kerap terbit di wajah saya. Well, jujur saja, ada andil istri saya yang dulu-tak-biasa-bekerja-dan-sekarang-sudah-cukup-cekatan di sana. Semoga apa yang dilakukannya menjadi tabungan amal shalih baginya yang saya telah ridho dengannya. [wahidnugroho.com]




Muspratama, Juni 2013

Kembali mencacah 

Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar