Senin, 02 Juli 2012

Kebersamaan

Suasana di masjid mungil itu terasa begitu syahdu dan menenangkan usai Shubuh di awal fajar yang berkah. Para jama’ah yang jumlahnya hanya segelintir itu telah kembali ke rumahnya masing-masing. Udara pagi terasa begitu menyegarkan. Matari belum juga menyembul penuh di ufuk timur. Tak ada suara yang berarti kecuali debur ombak di kejauhan dan sayup-sayup suara lantunan tilawah seorang perempuan yang entah darimana datangnya.

Kini tinggal sekitar tujuh orang saja yang berada di masjid tersebut. Wajah-wajah mereka tampak segar dan bercahaya. Dipandu oleh seorang lelaki muda yang tampak berwibawa, keenam lelaki muda lainnya mulai membentuk sebuah majelis kecil dan membuka mushaf mereka masing-masing. Beberapa menit kemudian, yang terdengar hanyalah lantunan hafalan Al Qu’ran dari lisan-lisan yang mulia itu.

Sesekali ada hafalan yang terbata, sesekali salah satu di antara mereka mengoreksi kesalahan bacaan temannya yang lain. Ada pula wajah-wajah yang tertunduk malu karena tak  bisa memenuhi hafalan mereka dengan baik. Sebagian yang lain tampak puas karena telah menyelesaikan hafalannya dengan baik seraya mendapatkan pandangan takjub dari saudaranya yang lain.

Di majelis kecil itulah pelbagai permasalahan mereka bahas dan cari solusinya. Tentang si fulan yang belum jua menikah padahal umurnya sudah lebih dari cukup, tentang kondisi si fulan yang istrinya baru saja melahirkan, tentang fulan lainnya yang anaknya sedang sakit keras, tentang fulan di kecamatan nun jauh di sana yang membutuhkan bantuan pembicara dalam acara kajian, tentang permasalahan-permasalahan sosial, politik, hingga ekonomi umat, baik lokal kedaerahan, nasional dan internasional. Waktu pun terasa berlalu dengan cepat ketika sinar matari mulai menembus lubang udara dan menghasilkan seberkas keceriaan.

Majelis penuh berkah itu diperkaya dengan diskusi yang meriah dan terjaga adab-adabnya. Wajah lelaki muda yang memandu mereka itu tampak sangat serius saat memberi nasihat yang menggetarkan jiwa atau menerbitkan senyum terbaiknya ketika menyampaikan kabar bahagia.

Tidak ada ikatan apapun yang mengikat mereka kecuali cinta. Cinta kepadaNya, cinta kepada umat, dan cinta kepada kebaikan. Semangat mereka menyala ketika mendapati permasalahan yang menimpa saudaranya. Semangat untuk mencari solusi atau semangat untuk sekedar bersimpati.

Bertahun sudah saya membersamai majelis tersebut. Dari satu lingkaran ke lingkaran yang lain. Dari satu semangat ke semangat yang lain. Dari cinta yang satu kepada cinta yang lain. Tak ada yang berubah kecuali kecintaan kami kepada umat ini yang begitu menggebu-gebu. Tak ada yang berganti kecuali amanah-amanah yang semakin berat untuk didaki. Tak ada yang hilang kecuali kemaksiatan yang berkarat di dalam jiwa-jiwa lemah kami.

Tidak ada kebersamaan yang sempurna, sebagaimana tak ada perpisahan yang sempurna. Orang-orang datang silih berganti mengisi majelis kecil tersebut. Ada yang datang, ada yang pergi. Namun cinta di antara mereka tetap sama, kebersamaan di antara mereka tetap terjaga, semangat yang ada di dalam dada mereka masih menyala.

Sesekali mereka berpindah tempat dari satu rumah ke rumah yang lain dengan jamuan sederhana dari tuan rumah yang telah berusaha sekuat tenaga untuk menjamu tamu-tamunya. Sesekali mereka mengunjungi saudara lain yang berjarak ratusan kilometer jauhnya. Demi menuntaskan hajat ukhuwah, demi memandang wajah-wajah yang beberapa waktu lalu hilang dari sapa mereka.

Saya bukan manusia yang sempurna. Saya kerap lupa, khilaf, dan berbuat kesalahan. Namun memupuk kebersamaan dengan wajah-wajah itu selalu menyuntikkan energi tersendiri bagi saya untuk sentiasa memupuk kebaikan dan kemanfaatan bagi diri saya, keluarga, dan masyarakat tempat saya tinggal serta bagi agama yang saya yakini kebenarannya.

Betapa indahnya nikmat kebersamaan.

Allahumma innaka ta’lamu anna haadzihil quluub. [wahidnugroho.com]



H2, Juli 2012
Di tengah tumpukan hutang hafalan yang makin tertatih untuk dipenuhi

Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar