Senin, 02 Juli 2012

Terima Kasih

Ini sebenarnya agak sedikit memalukan, tapi, baiklah, saya akan membuat sebuah pengakuan kecil lewat tulisan ini. Hari Selasa (3/7) besok saya diundang sebagai pembicara dalam sebuah pelatihan jurnalistik yang diadakan oleh sebuah organisasi kemahasiswaan di Luwuk. Sebuah kehormatan, tentu saja. Tapi juga membuat saya bertanya-tanya, gerangan dasar apa yang membuat mereka mengundang saya?

Saya bukan seorang penulis beneran. Saya belum pernah menerbitkan buku, kalau sekedar ebook ecek-ecek sudah pernah sekali lah. Saya hanya orang yang suka menulis, entah di notes handphone, atau minimal di blog. Tulisan-tulisan saya hanya berisi ceracauan dan celotehan yang kadang saya sendiri tidak percaya bahwa saya telah menulisnya. It’s hard for me to believe that i’ve just made an article of my own.

Beberapa pekan sebelum permintaan itu hadir, seorang ustadz meminta saya untuk menulis sebuah buku, buku apapun. Saya merasa tidak percaya diri dengan permintaan itu dan sampai hari ini saya masih belum mendapatkan wangsit buku kayak apa yang bakalan saya tulis? Namun ketika mendengar permintaan teman saya untuk menjadi narasumber pelatihan itu tempo hari, saya merasa bahwa ini adalah momen terbaik bagi saya untuk bangkit dan berbenah. Semacam spirit booster, soul trigger, or whatever they call it, agar saya benar-benar dapat memanfaatkan waktu produktif saya menjadi sesuatu yang bernama sesuatu – err.. maaf, saya belum dapat redaksi ciamiknya, jadi saya redaksikan sebagai “sesuatu” untuk sementara.

Dan begitulah. Paska hari itu, saya mulai membuka-buka kembali arsip lama saya yang bertutur tentang dunia tulis menulis. Saya mulai melahap buku-buku yang telah lama saya abaikan di sudut-sudut rumah kontrakan saya yang berdebu. Saya mulai kembali berselancar di dunia maya untuk mencari tambahan referensi agar apa yang saya sampaikan esok – at least – bisa sedikit lebih berbobot ketimbang saya mengoceh tak jelas dan tak tahu arah. If you know what i mean.

Oleh karenanya, dalam tulisan ini saya ingin mengucapkan terima kasih yang setulusnya kepada teman-teman panitia yang telah mengajukan saya sebagai narasumber esok karena permintaan itu – bagaimanapun – telah membangunkan kembali spirit yang telah lama terpendam – cia elah – dengan ketidakpandaian saya memanajemen waktu selama ini (Wow! Sebuah kalimat yang panjang!). Ada semacam rasa penyesalan yang menggumpal di dalam dada ketika waktu-waktu yang terlewat itu tidak dimaksimalkan semestinya untuk mengasah kecintaan saya terhadap dunia literasi ini. Dunia yang telah mengisi nyaris seperempat usia saya sampai sekarang.

Evaluasi ini memang sedikit terasa menyesakkan dada dan saya harus berbesar hati untuk mengakui kelalaian saya selama ini terhadap apa yang seharusnya saya lakukan. Semoga Allah ringankan dada ini untuk menerimanya dan semoga Allah melapangkan jiwa-jiwa para peserta esok, sebagaimana jiwa saya yang tengah lapang saat ini, agar bisa menjadi penulis-penulis yang mampu menggerakkan pembacanya untuk berbuat kebaikan.

Semoga acara esok berlangsung dengan lancar. Dan semoga semua peserta esok tidak makin tersesat dengan celotehan saya. Amin. [wahidnugroho.com]


H2, Juli 2012 
Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar