Sabtu, 03 Mei 2014

Bagian Satu

Udara pagi terasa bersih dan segar. Shubuh baru saja berlalu. Seorang lelaki tampak mengendarai sepeda onthel di  jalanan yang masih lengang. Di bagian belakang jok sepeda itu terdapat beberapa tumpuk koran yang diikat dengan tali rafia. Beberapa toko dan warung terlihat masih tutup meski ada satu dua warung rokok yang sudah buka, termasuk warung bubur ayam yang terletak di dekat persimpangan jalan ke arah pusat kota. Kabut tipis perlahan menghilang seiring sinar matahari yang mulai muncul dari perbukitan. Seekor kucing berwarna abu-abu masih tertidur pulas di bawah meja kayu dekat sebuah warung rokok. Belum ada satupun kendaraan bermotor yang lewat di jalan itu. Sayup-sayup terdengar suara ayam jantan berkokok entah dari mana asalnya.


Aroma tumisan bumbu masak dari beberapa rumah mulai tercium saat langkah perempuan paruh baya itu membelok ke sebuah gang sempit dengan langkah tersaruk-saruk. Tangan kanannya menenteng sebuah plastik keresek hitam sementara tangan kirinya memegang sebuah keranjang berisi sayuran dan buah-buahan. Suara langkah kakinya yang mulai renta menjadi satu-satunya suara yang menggema di gang sempit itu. Indra pendengarannya yang sudah agak payah menangkap suara tangisan bayi dari sebuah rumah di ujung gang. Perempuan itu kemudian berhenti sebentar, meletakkan barang bawaannya yang cukup berat dan mengeluarkan sapu tangan lusuh dari dalam saku celananya. Perempuan itu lalu mengusap dahinya yang penuh keringat sebesar biji jagung, padahal ketika itu udara masih cukup dingin. Saat hendak melanjutkan perjalanan, kedua tangannya menggapai-gapai dua barang bawaan yang sebelumnya diletakkan di dekatnya. Perempuan itu terkejut ketika tidak mendapati plastik dan keranjang itu di sana. Saat menoleh ke belakang, ia melihat sosok seorang pemuda dengan senyum mengembang berdiri di sana sambil menenteng barang bawaan yang sebelumnya dibawa oleh perempuan itu. Pemuda itu lalu menguluk salam kepadanya. Perempuan itu membalas salam sang pemuda dan mengamatinya dengan seksama. Pandangannya yang sudah agak kabur, ditambah intensitas cahaya di dalam gang yang temaram, membuat perempuan itu butuh waktu beberapa detik untuk mengenali sosok pemuda yang ada di hadapannya.


“Rozak!”


Pemuda yang dipanggil Rozak itu lalu berjalan sambil menenteng barang bawaan milik perempuan yang sebelumnya ada di sisinya.


“Dari pasar, bude?”


Perempuan yang dipanggilnya Bude itu mengangguk. Punggungnya terasa jauh lebih ringan setelah dua barang itu berpindah tangan darinya ke Rozak.


Diamatinya sosok Rozak yang saat itu mengenakan sarung dan kaus putih bertuliskan Bike To Work. Wajahnya terlihat segar dan rambutnya tersisir rapi. Tercium aroma parfum yang tidak terlalu menyengat dari tubuh Rozak saat perempuan itu mengikuti langkah cepatnya dari belakang.


Sinar matahari berwarna jingga perlahan mulai tampak di atap-atap rumah yang sebagian besarnya pintunya masih tertutup. Terdengar suara kunci yang sedang dibuka dari salah satu pintu rumah yang mereka lewati, diikuti dengan munculnya seorang lelaki yang sudah mengenakan helm dan mengenakan jaket kulit berwarna hitam sambil mendorong motor matic keluar dari dalam ruang tamunya. Lelaki itu melambaikan tangannya kepada perempuan itu yang langsung membalasnya dengan lambaian tangan dan senyuman di wajahnya.


“Kamu darimana, Zak?”, tanya Bude Wur.


“Biasa, abis apel pagi, bude”, jawab Rozak tanpa menoleh.


“Apel pagi?”


“Sholat Shubuh,” ujar Rozak terkekeh.


Bude Wur ikutan terkekeh.  Keduanya lalu berjalan tanpa suara dan melalui jalan yang lebih terbuka. Puncak bukit di atas sana tampak sudah mulai diterangi cahaya mentari yang bersinar lembut.


Rozak dan Bude Wur akhirnya sampai pada sebuah rumah yang di bagian depannya dijadikan warung kelontong, sementara di teras bagian sampingnya terdapat beberapa tumpuk kursi plastik dan meja kayu yang diletakkan di salah satu sudut rumah. Beberapa pot tanaman hias tampak berjejer rapi di bagian teras yang tidak dikeramik. Bunga bougenville aneka warna tampak menyemak di dekat pagar. Sebuah siluet perempuan yang sedang mengenakan mukena tampak sedang berdiri di depan pintu sambil memegang buku kecil di tangannya. Sepertinya ia sedang memegang Al Qur’an.


Rozak sempat melirik sekilas ke arah perempuan bermukena putih itu lalu mengalihkan pandangannya ke arah lain. Dengan gerakan mata dan dagunya, Bude Wur memberikan isyarat kepada perempuan bermukena itu untuk segera membuka pintu gerbang. Perempuan bermukena itu lalu meletakkan Al Qur’an yang sedari tadi dipegangnya di atas salah satu meja kayu dan bergegas ke arah gerbang yang hanya berjarak beberapa meter tersebut. Gerbang besi itu berderit ketika dibuka.


“Assalamu’alaikum.” Bude Wur langsung menghambur ke arah teras, meninggalkan Rozak berdiri sendirian di luar gerbang yang setengah terbuka.


“Wa’alaikumsalam, bu.” Perempuan bermukena itu mengamati sosok ibunya yang langsung melenggang ke arah pintu tanpa membawa apapun di tangannya. Perempuan bermukena itu melirik ke arah lelaki bersarung yang sedang berdiri di depan gerbang sambil membawa tentengan di kedua tangannya. Rozak? Pikirannya berkata bahwa kedua tentengan yang sedang dibawanya itu adalah barang belanjaan milik ibunya.


“Mana barang belanjaannya, bu?” tanya perempuan bermukena itu retoris, seolah tidak mengacuhkan kehadiran Rozak yang masih bergeming di depan gerbang. Terdengar raungan mesin sepeda motor dua tak dari arah rumah yang berjarak tak begitu jauh dari situ. Seekor cicak besar sedang mengintai nyamuk-nyamuk yang masih beterbangan di sekitar lampu di plafon.


Dagu Bude Wur menunjuk ke arah gerbang yang lalu diikuti dengan pandangan perempuan bermukena itu ke arah Rozak. Ara kemudian melangkah ragu-ragu ke arah gerbang dan mengulurkan tangannya ke arah Rozak untuk meminta barang belanjaan milik ibunya dari tangan lelaki itu.


“Terima kasih. Sini, biar aku saja yang bawa ke dalam,” ujar Ara agak datar.


“Aku bawa sampai ke depan pintu saja, bila tidak keberatan. Barang-barang ini lumayan berat,” ucap Rozak mengabaikan uluran tangan Ara.


“Permisi.”


Rozak langsung berjalan melewati Ara yang tampak sedang melongo karena uluran tangannya tidak diacuhkan. Seekor kucing jantan melihat peristiwa di depan gerbang itu dengan pandangan menyelidik sambil sesekali menjilat-jilat kuku dan bulu putihnya yang kotor. Bude Wur menyunggingkan senyum tipis saat mendengar percakapan putrinya dengan Rozak. Ia lalu mengeluarkan sebuah dompet kulit imitasi berwarna hitam, dan meletakkannya di dalam lemari kaca.


Rozak lalu meletakkan kedua barang belanjaan yang berat itu di depan pintu ruang tamu yang langsung diangkat oleh Ara dengan wajah mengernyit karena berat. Kernyitan yang sempat tertangkap oleh pandangan Rozak yang mau tidak mau, dengan alasan kesopanan, harus menahan tawanya sekuat tenaga. Berat sekali barang-barang ini!


“Nggak mau minum teh dulu, Zak?”, ujar Bude Wur kepada Rozak yang masih berdiri di depan pintu.


Mendengar perkataan ibunya, Ara mendadak menghentikan langkah seolah sedang teringat dengan sesuatu yang penting.


“Aku belum masak air panas, bu”, sergah Ara yang seolah tampak keberatan dengan penawaran basa-basi ibunya kepada Rozak.


Rozak tersenyum kepada Bude Wur.


“Terima kasih, de. Aku mau langsung pulang saja. Masih ada urusan lain,” jawab Rozak. Bude Wur manggut-manggut dan menyuruh Ara masuk ke ruang tengah sambil membawa barang belanjaan yang cukup berat itu. Dengan tergopoh-gopoh, Ara menyeret langkahnya ke ruang tamu dan menghilang dari pandangan mereka berdua.


“Terima kasih ya, Zak. Salam buat ibumu. Nanti siang, kalau sempat, kamu mampir ke rumah ya, insya Allah bude mau buat bothok teri. Kebetulan ada pesanan bothok dari Haji Rudi, jadi bude rencananya mau buat lebih. Ibumu paling suka makan bothok kan?”



Rozak mengangguk. Bude Wur lalu mengantar Rozak sampai pintu gerbang. Seorang tukang sayur melintas di depan gerbang sambil mendorong gerobaknya yang penuh dengan sayuran.


“Iya, de  salamnya akan saya sampaikan kepada beliau. Nanti siang insya Allah saya mampir ke sini setelah urusan saya selesai.”


Rozak meminta diri dan mengucapkan salam kepada Bude Wur. Sementara itu, Ara tampak berdiri di balik pintu dan menguping pembicaraan antara Rozak dan ibunya. Kedua tangan dan bahu Ara masih terasa pegal seusai membawa barang-barang belanjaan yang luar biasa berat ke dapur barusan. Kira-kira, apa yang sedang mereka bicarakan ya?


Saat Ara sedang mencari-cari kemungkinan yang ada, tiba-tiba ibunya sudah ada di hadapannya dan mengagetkan dirinya yang saat itu sedang melamun di balik pintu.


Eh, eng, ibu. Rozak dah pulang, bu?”


Ara gelagapan seperti copet tertangkap basah sedang menjambret dompet. Bude Wur mengamati wajah putrinya yang masih mengenakan mukena.


Kok yang ditanya cuma Rozak? Padahal pundak ibu dari tadi berasa mau copot gara-gara nenteng belanjaan yang beratnya nggak ketulungan itu, lho. Emang kamu nggak merasa berat pas nenteng belanjaan ke dapur barusan, Ra?”


Skak mat, kau, Ara! Skak mat!


Perkataan ibunya membuat Ara mati kutu. Ara seperti kehilangan kata-kata untuk menjawabnya seiring rona merah yang terbit di wajah manisnya. Sinar matari sudah mulai jatuh di teras rumah sementara Bude Wur berjalan ke arah dapur, meninggalkan putrinya yang masih gelagapan mencari kata-kata untuk menjawab “serangan” darinya. Ara melangkah ke dalam rumah sambil mengutuki dirinya sendiri.


Entah karena sebab apa, sosok Rozak jadi terngiang-ngiang dalam pikirannya.


Duh!


-- bersambung --


Reaksi:

1 komentar:

  1. Tabe sobat, untuk dapat saling mengenal sesama Blogger dari Sulawesi Tengah dan agar kita dapat saling berbagi bersama, kami undang komiu untuk bergabung dengan Komunitas Blogger Sulawesi Tengah (bloggersulteng.blogspot.com). Sukses selalu sobat...

    BalasHapus