Kamis, 07 Maret 2013

Si Biru Kesayangan Bapak

Sore tadi saya melihat-lihat lemari buku lawas di rumah. Ketika itu, pandangan saya tertumpu pada sebuah Al Qur’an berukuran cukup besar yang berwarna biru dongker. Sebut saja Si Biru . Covernya tampak lusuh dan berdebu serta di sisi tengahnya sudah banyak tambalan selotip berwarna cokelat. Saya langsung saja mengenali benda itu, yang selama bertahun-tahun menjadi bacaan setia almarhum bapak semasa hidupnya. Ada banyak mushaf lainnya di rumah, tapi almarhum bapak tetap setia dengan Si Biru. “Hurufnya lebih gampang dibaca”, begitu akunya.

Itulah sebabnya, saya terkadang harus bergantian dengan beliau untuk menggunakannya. Karena Al Qur’an lainnya yang ada di rumah kami hurufnya tidak jelas dan tanda bacanya suka bikin bingung. Belakangan ketika SMA, saya sudah punya Al Qur’an sendiri yang berukuran lebih kecil dan ada terjemahannya. Lambat laun, Si Biru pun saya tinggalkan, meski sesekali saya menengoknya.

Si Biru ini sudah lama kami miliki. Saya sendiri sudah lupa kapan pertama kali Al Qur’an berhuruf unik (belakangan saya ketahui itu adalah huruf khas Mushaf Utsmani) ini ada di rumah. Yang saya tahu, Si Biru ini merupakan wakaf dari Raja Fahd ibn Abdul Aziz di Arab Saudi dan dibagikan gratis. Beberapa orang di sekitar rumah juga memiliki Al Qur’an semacam ini.

Ada banyak sekali coretan yang saya buat, dan juga almarhum bapak buat, di dalam Si Biru. Beberapa coretan berupa tulisan latin yang berfungsi sebagai alat bantu saya untuk menghafal, coretan lainnya karena wujud keisengan saya dulu. Ada juga coretan tanpa makna lainnya disana.

Menimang benda ‘bersejarah’ itu, saya jadi terkenang dengan banyak hal. Dulu almarhum bapak punya semacam aturan tak tertulis bagi kami sekeluarga yang isinya adalah melarang kami untuk menonton televisi seusai Maghrib sampai dengan Isya. Karena jangka waktu itu akan beliau habiskan untuk bertadarrus Qur’an. Lantunan suaranya yang lantang menjadi simfoni rutin bagi saya, bahkan setelah saya merantau ke Luwuk. Terkadang di sela-sela pembicaraan saya dengan ibu melalui telepon, saya mendengar sayup-sayup suara almarhum yang sedang mengaji.

Ketika bulan Ramadhan, almarhum akan menghabiskan waktu lebih banyak lagi untuk membacanya. Pernah dalam suatu Ramadhan almarhum berujar dengan bangga bahwa beliau berhasil menamatkan Al Qur’an sepuluh kali dalam satu bulan. Saya yang jauh lebih muda ternyata tak mampu menyamainya, meski hanya setengahnya. Dan kebiasaan membaca Si Biru itu selalu dilakukannya sebelum beliau meninggal.

Saya juga sering mengoreksi bacaan almarhum yang salah, atau ketika mad dan makhrojnya tidak benar. “Lidah bapak udah susah, Nuk”, begitulah ucapannya ketika koreksi dari saya tak bisa diikutinya. Tapi saya sangat bangga dengan almarhum, karena waktu itu beliau satu-satunya bapak-bapak di sekitaran rumah yang paling rajin mengaji. Suaranya yang lantang dan jernih sudah tertangkap telinga ketika saya pulang dari Masjid dan langkah saya berjarak beberapa meter dari rumah.

Kini bapak sudah tiada. Si Biru hanya bisa membisu dan diselimuti debu. Saya hanya bisa berharap agar ia mau menjadi saksi bagi almarhum ketika yaumil akhir kelak, bahwa di sisa umurnya yang pendek itu, beliau sentiasa mengisinya dengan membaca dan mempelajarinya, semampu beliau, lebih dan kurangnya.

Allahummaghfirlahu wa’afiyhi wa’fu’anhu. [wahidnugroho.com]



Jurangmangu, Maret 2013

Titip rindu buat bapak

Reaksi:

1 komentar:

  1. luar biasa, tradisi membacanya udah dimulai sejak generasi sebelum sebelumnya ya gus? makanya enak meneruskannya...

    BalasHapus