Sabtu, 16 Agustus 2008

Bumi Manusia : Sebuah Testimoni

Judul buku : Bumi Manusia
Pengarang : Pramoedya Ananta Toer
Penerbit : Lentera Dipantara
Tebal : 535 halaman
Cetakan : III, Desember 2006

“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” (Pramoedya Ananta Toer)

Bumi Manusia, termasuk tiga buku lainnya yang termasuk dalam Tetralogi Buru, diciptakan oleh Pram, begitu Pramoedya biasa dipanggil, saat berada di kamp kerja paksa di pulau Buru akibat keterlibatan Pram dengan Lekra, sayap kebudayaan PKI. Buku ini sebelumnya diceritakan secara lisan oleh Pram kepada teman-temannya di penjara, yang menandakan betapa Pram sangat menguasai kisah ini secara kuat, sampai akhirnya ditulis dua tahun setelah penceritaan secara lisan itu dengan sarana yang sangat terbatas. Naskah buku ini bahkan sempat dibakar oleh petugas penjara. Namun berkat kegigihan Pram dan bantuan dari seorang wartawan Australia, karya ini akhirnya berhasil diselamatkan sebelum akhirnya diterbitkan di sana.

Buku ini adalah sebuah roman sejarah. Mengisahkan tentang kehidupan Minke, seorang priyayi Jawa yang tengah gelisah dengan kondisi wangsa dan bangsanya yang terpuruk dalam kerendahdirian dan kebodohan. Di satu sisi, pergumulannya dengan peradaban Eropa telah mengangkat derajat Minke di antara bangsanya sendiri pada status yang cukup menggembirakan. Akan tetapi, semua kedigdayaan itu hanya berskala regional, karena di kalangan masyarakat Eropa totok dan Indo, Minke tetap warga kelas tiga yang tidak ada bedanya dengan Pribumi lainnya.

Coba perhatikan dialog berikut ini:

“Kau mimpi. Aku takkan jadi bupati.”

“Dengarkan dulu. Aku akan bertanya: Hai philogynik, mata kranjang, buaya darat, mana haremmu?”

Rupa-rupanya kau masih anggap aku sebagai Jawa yang belum beradab.”

“Mana ada Jawa, bupati pula, bukan buaya darat?”

“Aku takkan jadi bupati.”

Begitulah. Minke hidup di tengah prasangka bangsa Eropa yang merendahkan Inlander (kaum Pribumi) hingga sedemikian rupa. Sehingga yang ada di pikiran mereka adalah, Pribumi itu bodoh, budak, tak berguna, dan, rendah.

Ada banyak dialog cerdas yang terdapat dalam buku ini. Kekritisan dibalut dengan kecerdasan, mengiringi hampir di semua halamannya. Lihat saja dialog Minke dengan Jean Marais berikut ini ketika Minke terkena sassus (gosip)yang kurang enak terkait pergaulannya dengan Nyai Ontosoroh, seorang Nyai Pribumi yang sangat cerdas dan berhasil menggugah relung intelektual Minke. Wanita inilah yang kelak akan menjadi mertua sekaligus orang yang memengaruhi pemikiran Minke terhadap dunia:

“Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, dan benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan? Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu. Datanglah kau padanya barang dua tiga kali lagi, nanti kau akan dapat lebih mengetahui benar-tidaknya pendapat umum itu.”

“Jadi kau anjurkan aku datang lagi ke sana?”

“Aku anjurkan kau menguji benar-tidaknya pendapat umum itu. Ikut dengan pendapat umum yang salah juga salah. Kau akan ikut mengadili satu keluarga yang mungkin lebih baik dari hakimnya sendiri.”

“Jean, kau memang sahabatku. Aku kira kau akan adili aku.”

“Tak pernah aku mengadili tanpa tahu duduk perkara.”

Zaman itu, Nyai (baca: gundik) identik dengan kebobrokan moral dan kebodohan. Sehingga jika ada seorang wanita Pribumi mendapatkan predikat Nyai, sudah dipastikan, masyarakat akan mencap jelek wanita itu. Tapi ternyata, Nyai Ontosoroh adalah Nyai yang berbeda dengan Nyai kebanyakan. Ia mampu membaca dan berbahasa Belanda dengan sangat baik. Sebuah hal yang hampir mustahil terjadi di masa itu. Itulah yang menarik Minke untuk bergaul dengan Nyai Ontosoroh walaupun ramai orang membicarakan mereka.

Di samping itu, buku ini tetaplah sebuah roman. Sehingga yang namanya kisah cinta tetap tak lupa disisipkan oleh Pram. Kisah cinta dalam buku ini berbicara tentang Minke dan Annelies Mellema, anak dari Nyai Ontosoroh yang merupakan Indo. Ada sebuah dialog antara Minke dan Annelies yang cukup membuat saya tersenyum sendiri saat membacanya.

“Pernah kau lihat gambar Sri Ratu?”

“Tentu saja. Cantik bukan kepalang!”

“Ya. Kau tak salah.”

“Mengapa?”

“Kau lebih daripadanya.”

Secara keseluruhan, buku ini memang menarik perhatian saya. Entah apa yang ada di dalam benak Jaksa Agung di era awal delapan puluhan sehingga melarang peredaran buku ini. Padahal buku ini begitu laris di luar negeri bak kacang goreng. Bahkan paska pelarangan terbitnya, Bumi Manusia termasuk buku yang paling banyak dicari setelah karya Marx di masa itu.

Pram, melalui karyanya ini, adalah satu-satunya orang Indonesia yang pernah masuk nominasi penerima nobel sastra. Namun karena ada suara-suara sumbang yang bicara tentang masa lalu Pram yang gelap, nominasi itu pun hanya bisa maju mundur tanpa ada kejelasan hasilnya.

Bicara mengenai buku ini, maka kita akan berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran Pram terhadap nasionnya lewat tokoh Minke. Selain itu, Pram juga meletakkan kritik-kritiknya atas peradaban Eropa yang maju tapi tak mengenal kemanusiaan, kejawaan yang membelenggu, kebodohan dan keengganan Pribumi untuk maju, serta sindiran-sindiran Pram terhadap bangsanya yang masih terjebak dalam kekerdilan.

Lihatlah dua kritiknya terhadap kekerdilan budaya Jawa dan kejumawaan Eropa berikut ini:

“Ya Allah, kau nenek moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina martabat turunanmu sendiri begini macam? Tak pernah terpikir olehmu, nenek-moyang yang keterlaluan! Keturunanmu bisa lebih mulia tanpa menghinakan kau! Sial dangkal! Mengapa kau sampai hati mewariskan adat semacam ini?”

“Apabila tak ada yang mau mendengarkan, tahulah aku: omongkosong saja segala ilmu-pengetahuan Eropa yang diagung-agungkan itu. Omongkosong! Pada akhirnya semua akan berarti alat hanya untuk merampasi segala apa yang kami sayangi dan kami punyai: kehormatan, keringat, hak, bahkan juga anak dan istri.”

Saya melihat Pram sebagai sosok yang sangat menghargai perempuan. Ini terlihat dari hadirnya empat tokoh wanita yang turut mewarnai dan bahkan memengaruhi pemikirannya dengan sangat dominan. Keempat perempuan itu adalah Nyai Ontosoroh, Ibundanya sendiri, Annelies Mellema, dan Juffrouw Magda Peters. Selain itu ada juga Miriam dan Sarah de la Croix yang turut berdiskusi dengan pemikiran Minke lewat surat-suratnya yang penuh ekspektasi terhadap kemajuan Pribumi di masa depan. Banyaknya perempuan yang berpengaruh dalam tokoh ini memang berakar dari pribadi Pram sendiri yang dikabarkan sangat dekat dengan ibunya. Sehingga tak heran jika Pram mewakilkan sosok ibunya itu lewat dua tokoh perempuan: Nyai Ontosoroh dan Ibundanya.

Dari segi fisik, buku ini memiliki cover yang cukup antik. Warna hijau tua dipadu dengan warna krem yang lembut, membingkai sebuah lukisan yang bergambar dua orang pria dan dua orang perempuan yang sedang duduk di atas bendi tanpa atap. Di belakang mereka ada sebuah rumah dan lapangan yang sangat luas bergaya Eropa abad 19. Dialog-dialog di dalam buku ini sangat unik, karena Pram menggunakan gaya bahasa Indonesia lama dalam penceritaannya. Dengan kesalahan pengetikan yang nyaris tidak ada, pemilihan huruf dan spasi yang cukup baik, menambah nyaman mata saya saat membaca buku yang cukup tebal ini.

Ohya, Bumi Manusia ini sudah menerima banyak sekali penghargaan internasional, mulai dari Amerika, Jepang, Australia, Norwegia, Filipina, Belanda dan sebagainya. Buku yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa asing ini memang telah memberikan sumbangan pemikiran yang brilian terhadap dunia yang kala itu, mungkin juga sekarang, tengah berada dalam cengkeraman tirani penguasa yang bobrok dan korup. Inilah mungkin yang menyebabkan Pram tergolong ke dalam idealis cerdas, karena ia melakukan perlawanan tidak melalui jalan kekerasan, tapi melalui jalan pemikiran dan penulisan. Tak heran, ada ungkapan yang pernah saya dengar mengenai Pram ini yang berkata, “Pram adalah manusia yang dicintai dunia, tapi dibenci bangsanya sendiri.”

Begitulah. Di tangan Pram, sejarah terasa begitu hidup dan menghidupkan, karena kita diposisikan sebagai pelaku utama saat mengikuti kisah ini.

Selamat membaca!
Datu Adam, Januari 2008
Reaksi:

2 komentar:

  1. akh wahid .. call me at YM zhay_dexxa ... ada berita penting nih

    BalasHapus
  2. Ketika membaca roman ini, dan roman2 lain dalam rangkaian tetralogi buru, saya seringkali berpikir, "kenapa buku2 yang memberikan banyak sumbangan bagi bangsa untuk dunia ini dilarang peredarannya pada masa 'itu'",
    Tak heran jika kita melihat 'pemerintahan' seperti apa yang berkuasa saat karya2 itu dibuat dan dilarang beredar.
    Pemerintahan yang memiliki sifat tidak jauh berbeda dengan kolonial, melarang dan menindas (seperti yang diungkapkan Pram dalam Rumah Kaca).
    Dan sedikit banyak roman2 itu sebenarnya bisa menginspirasi orang2 yang merasa diperlakukan tidak adil untuk melawan.

    hanya pendapat pribadi saya.

    BalasHapus