Minggu, 26 Juni 2011

[Sekali Lagi] Tentang Membaca Setelah Menikah



Bulan Juli tahun duaribusebelas, itu berarti usia pernikahan saya akan memasuki tahun keempatnya. Hmmm bener-bener nggak terasa. Seolah baru kemarin saya adalah seorang jomblo yang mengenaskan, kemudian menikah dengan seorang wanita yang cantik, lalu dikaruniai dua orang putri yang manis, pintar, dan lucu. Alhamdulillah, semua ini semata-mata karena nikmat Allah yang telah diberikannya kepada saya.

Pagi ini saya kembali membuka beberapa catatan lama. Ternyata, ada sebuah catatan di tahun 2007 yang pernah saya tulis berisikan daftar buku yang pernah saya baca dalam sebulan. Tercatat ada belasan buku yang berhasil saya tamatkan dalam sebulan. Waktu itu saya masih bujangan, of course.

Masa-masa awal pernikahan adalah momen yang penuh dengan euforia pengantin baru, absolutely. Laiknya sepasang insan yang baru menikah tanpa didahului pacaran, medio awal pernikahan tersebut didominasi dengan masa saling mengenal dan memahami antara saya dan istri. Proses yang tak mudah, tentu saja.

Berhubung sebelum menikah kami nggak saling kenal, percikan dan gesekan pun kerap terjadi antara kami berdua. Makanya nggak heran, kalau “prestasi” membaca saya di tahun 2008 yang lalu berada pada titik nadir. Hanya satu dua buku yang berhasil saya tamatkan ketika itu. Saya jadi ingat sebuah tulisan yang pernah saya buat beberapa saat setelah menikah dulu. Tulisan itu merupakan ekspresi kegelisahan saya terhadap pola baca saya yang terkoreksi dengan hadirnya “orang baru” dalam hidup, istri saya.

Sekarang, seiring bertambahnya usia pernikahan, bertambah pula rasa saling memahami antara saya dan istri walau percikan dan gesekan tadi masih ada. Pun ketika anak-anak terlahir, peran sebagai suami dan ayah saya coba jalanin dengan sebaik-baiknya, termasuk dalam urusan baca-membaca buku. Di tahun 2009, jumlah buku yang saya baca mengalami peningkatan yang cukup signifikan, begitu pula di tahun 2010 kemarin.

Setelah saya kalkulasi, berdasarkan ingatan saya yang cetek ini dan dbantu dengan beberapa catatan, jumlah buku yang sudah saya baca setelah menikah ternyata sudah melebihi angka 40. Alhamdulillah. Ternyata, ketakutan saya ketika hendak menikah dulu bahwasanya menikah bisa menghalangi saya untuk menamatkan buku tidak terbukti. Setidaknya buat saya sendiri.

Jumlah ini mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan jumlah buku yang dihabiskan beberapa kenalan saya di Goodreads dalam setahun. Tapi dengan status saya sekarang, ditambah lagi dengan lingkungan yang menurut saya kurang mendukung upaya menamatkan sebuah buku, apa yang sudah saya capai, bagi saya pribadi, adalah hal yang cukup memuaskan.

Tulisan ini dibuat bukan untuk gede-rasa atau gaya-gayaan. Saya cuma ingin menunjukkan kepada anak-anak saya, siapa tau mereka akan membaca tulisan ini saat mereka dewasa kelak, bahwa abinya mereka ini pernah membuktikan kalau pernikahan bukanlah barrier – penghalang – untuk melakukan hal-hal yang luar biasa dalam hidup mereka. Bagi saya, menamatkan sebuah buku, setebal ataupun setipis apapun buku itu adalah hal yang luar biasa. Hal ini mungkin berbeda bagi lain orang, atau mungkin Anda yang sedang membaca catatan tak penting ini. Tidak masalah, sungguh tidak masalah.

Tujuan saya yang lain adalah ingin membudayakan membaca di keluarga kami. Makanya, sebagian orang heran dan kaget saat mengetahui ada orang pajak yang nggak punya televisi di rumahnya (emangnya pegawai pajak itu harus selalu punya televisi ya?). Tapi saya tetap bergeming. Televisi, walaupun ada banyak acara menarik disana, tetap tidak melebihi kebutuhan saya (dan keluarga) untuk membaca buku. Dan cara yang paling mudah untuk mewarnai kanvas hati anak-anak saya yang masih putih bersih itu adalah dengan cara menjadi role model, tauladan, dan contoh bahwa kedua orangtuanya adalah orang yang paling besar cintanya dengan buku dan membaca buku. Setidaknya begitu.

Demikianlah, moga Allah mudahkan ikhtiar ini. [wahidnugroho.blogspot.com]


Simpong, Juni 2011

Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar