Lelaki Baik Hati

14.54.00
Saya tidak terlalu kenal dengan lelaki berusia sekitar 80 tahunan itu. Posturnya yang tinggi kurus, kulitnya cerah bercahaya, rambutnya memutih di nyaris semua bagiannya tampak biasa saja di mata saya. Pembawaannya ramah, tak terlalu banyak bicara, dan senyum selalu mengembang dari wajahnya. Malam itu adalah momen pertama saya bersua dengannya.

“Acara kecil-kecilan ini dibuat sebagai wujud rasa syukur kami karena mobil kami telah sampai dengan selamat di Luwuk”, ujarnya sambil menunjuk ke arah mobil jenis land cruiser bermerk Ford itu. Beberapa undangan tampak mengalihkan wajahnya ke arah yang ditunjuk oleh lelaki itu. Tampak sebuah mobil berwarna hitam dengan nomer polisi berawalan L terparkir di sudut rumahnya. Lelaki tua itu tampak tersenyum penuh syukur.

Tak seberapa lama, di hadapan kami telah terhidang hidangan urap lengkap dengan tahu tempenya, serta masakan daging dan, tentu saja, ikan bakar dengan dabu-dabunya. Setelah menyilakan para undangan untuk makan, pandangan saya masih lekat kepada sosok lelaki itu. Ia tampak memberi isyarat kepada putrinya untuk mengambilkan makanan baginya. Putri lelaki itu, yang berusia sekitar 40’an tahun, beliau seorang ibu yang sangat baik, dengan sigap mengambilkan sedikit nasi dan beberapa lauk ke dalam piring berwarna putih susu. Lelaki itu kemudian tampak menikmati suguhan urap dan beberapa potong tahu tempe yang ada di hadapannya.

Itulah momen pertama, sekaligus terakhir saya bersua dengannya. Peristiwa yang sudah terjadi beberapa bulan yang lalu itu terbayang kembali di benak saya ketika Ahad siang kemarin (26/6) saya menerima telepon dari seseorang tentang kabar lelaki baik hati itu. Terbayang tentang kebaikan hati beliau saat mewakafkan seluruh tanahnya, meski sebagian akhirnya dibebaskan dengan cara patungan melalui wakaf tunai, untuk proyek pembangunan masjid dan juga sekolah Islam di kawasan yang terkenal dengan “kawasan lampu merah-nya” Luwuk itu. Saya juga teringat dengan kebaikan putri dan menantu lelaki baik hati itu ketika kami semua berpeluh saat menyelesaikan proses pembangunan masjid tersebut dan mereka begitu ringan tangan untuk membantu memenuhi segala keperluan pembangunan masjid itu.

Kebaikan lelaki itu seolah belum bertepi. Hari Sabtu (25/6) kemarin, saya dikabari oleh ketua yayasan kami, yayasan yang diamanahi untuk melaksanakan proyek pembangunan beberapa masjid dan sekolah Islam, bahwa kami baru saja dihadiahi sebuah mobil pick up oleh lelaki itu, lelaki yang baik hati itu. Mobil berwarna biru keluaran tahun 2008 itu adalah mobil yang biasa kami gunakan untuk mengangkut kayu, serta untuk keperluan distribusi logistik ketika terjadi kebakaran hebat di sebuah sudut kota ini beberapa waktu yang lalu.

Beberapa detik kemudian, suara di ujung telepon membuyarkan lamunan saya tentang sosok lelaki yang baik hati itu. “Innalillahi wa inna ilayhi raji’un”, sahut saya perlahan saat mendengar kabar tentang lelaki baik hati yang ternyata sudah beberapa hari terbaring koma di rumah sakit.

Ahad sore kemarin, saya kembali menemui lelaki itu. Ia tetap dengan tubuh kurusnya, kulit cerahnya dan rambutnya yang kian memutih. Perlahan saya menyentuh lengannya yang dingin dan mengamati wajahnya yang tampak tenang seraya merapalkan doa, “Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afiyhi wa’fu’anhu”.

Lelaki baik hati itu bernama Haji Subhan. Ahad siang kemarin Allah telah memanggil beliau setelah hari-hari terakhirnya dihabiskan di rumah sakit karena gagal ginjal. Putrinya tampak terpukul dengan kejadian ini, beberapa sanak familinya juga tampak begitu sedih. Saya sendiri tidak mengenal beliau dengan baik, pun dengan kepribadiannya sehari-hari. Tapi kemuliaan hatinya, kebaikan budi dan keringanan tangannya saat membantu pembangunan masjid, sekolah dan kegiatan sosial lainnya telah membuat saya begitu kehilangan beliau. Kalaupun di yaumil akhir kelak, ketika segala amal dihisab dengan hitungan yang maha detail, saya tak berkeberatan untuk menjadi saksi atas segala kemuliaan hati lelaki yang baik itu di kala hidupnya. Sungguh, saya sama sekali tidak keberatan.


[wahidnugroho.blogspot.com]


Simpong, Juni 2011
Author fakta.id

Wahid Nugroho

Ini adalah blog pribadi. Semua yang tertulis di dalam blog ini adalah pendapat dan sikap saya secara pribadi dan tidak terkait dengan sikap dari instansi tempat saya bekerja.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »

3 celoteh

Write celoteh
mas ichang
AUTHOR
28 Juni 2011 12.44 delete

usia taka da yang bisa memprediksi, umur tak bsia ditebak. malaikat maut tak mengenal siapa baik siapa jahat. asal kontraknya sudah diteken dia akan datang tuk menunaikan tugas

Reply
avatar
Wahid Nugroho
AUTHOR
30 Juni 2011 08.42 delete

betul banget mas. walopun merasa kehilangan, setidaknya saya 'berbahagia' dengan apa yang sudah beliau lakukan, sebatas apa yg saya tau. semoga bisa menjadi bekalan terbaik di kehidupan beliau selanjutnya. amin.

Reply
avatar
Novi Tata
AUTHOR
21 Maret 2012 12.46 delete

saya merinding bacanya..
semoga kita bisa meneladani lelaki baik hati itu...

Reply
avatar