Kamis, 22 Oktober 2015

Ci Fidel dan Buku-Buku di Rumah

Istriku bercerita tentang ci Fidel, putri tengahku, ketika ia sedang menjaga stand Rumah Baca Jendela Ilmu di lapangan depan kantor Perpustakaan Daerah kemarin.

“Bi, kemarin aku liat ci Fidel ngambil buku KKPK (Kecil-Kecil Punya Karya, semacam novel karya anak-anak usia 10-15 tahun) trus dia buka-buka itu buku. Mukanya serius sekali, bi,” urai istriku.

“Waktu itu,” lanjutnya, “ada ibu-ibu pegawai Perpustakaan Daerah yang bilang ke aku, ‘Bagus ya anak-anaknya senang baca buku.’ Mungkin dia bilang begitu karena ngeliat ci Fidel yang lagi asyik baca. Langsung aku jawab ke ibu itu, ‘Dia belum bisa baca bu. Dia cuman liat-liat bukunya aja.’ Kayaknya ci Fidel udah waktunya diajarin mbaca, bi” pinta istriku.

Aku tersenyam-senyum sendiri saat mendengar cerita itu. Gambaran putri keduaku yang sedang membaca dengan berbagai posenya langsung membayang di kepala. Memang di antara ketiga anakku, putri tengahku ini adalah anak yang paling tekun, meski kecepatan menalarnya tidak seprogresif kakak dan adiknya. Dia juga anak yang paling cuek dan nggak terlalu ambil pusing sama lingkungannya. Dia tipe anak yang akan melakukan apa yang disukainya, berbeda dengan kedua saudarinya yang rada-rada jaim dan suka merhatiin apa kata orang tentang mereka.

Ci Fidel memang belum bisa membaca. Umurnya baru lima tahun setengah. Dia baru mengenal huruf dan masih kesulitan mengeja kata. Berbeda dengan kakaknya yang nyaris tidak kuajari membaca karena sudah bisa membaca sendiri sejak usia lima tahun, Fidel memang sengaja kudiamkan dan membiarkannya belajar sendiri. Sukur-sukur si kakak mau ngajarin walau ternyata si kakak malah asyik sendiri dengan kemampuannya.

Sering aku mendapati ci Fidel duduk di pojokan ruang tamu, angrem di atas kasur yang dilipat di situ, di tangannya ada komik Kobo Chan atau Detective Conan, dan dia ketawa-ketawa sendiri waktu membolak-balik halamannya. Waktu kutanya “Fidel lagi ngapain?” dia akan njawab “Lagi ngeliat buku, bi.” Dia menjawab “ngeliat buku” dan bukan “membaca buku” hehe. Jujur amat nih anak yak.

“Coba suruh mbak Azka buat ngajarin dia,” usulku kepada istriku. “Kali aja dia mau.”

Istriku manggut-manggut.

Obrolan tentang ci Fidel yang pengen bisa baca ini akhirnya jadi tema obrolan kami di mobil waktu mau mengantar anak-anak ke sekolah tadi pagi.

“Kayaknya kita memang perlu meluangkan waktu buat ngajarin dia mbaca, mi.”

“Iya, bi. Kasian anak itu udah suka mau baca tapi belum bisa-bisa,” jawab istriku.

Anak-anakku, apapun yang terjadi, harus kuajari membaca dan, lebih dari itu, mengajari mereka agar mencintai buku-buku yang kumiliki di rumah. Seorang teman yang memiliki koleksi buku ribuan di rumahnya pernah berkata kepadaku yang kurang lebih demikian: “Aku punya ribuan buku, tapi anak-anak dan istriku nggak ada yang suka membaca. Sepertinya aku harus bersiap jika kelak buku-buku itu akan bernasib seperti buku-buku Adam Malik, yang diloakkan secara kiloan setelah kepulangan pemiliknya karena generasi penerusnya nggak ada yang suka dengan buku.”

Dan perasaan akan tiadanya generasi yang akan merawat buku-bukuku ketika aku tiada kelak itu sedikit banyak menghantuiku juga. Sepertinya aku perlu membicarakan ini dengan istriku dan menunggu responnya seperti apa. Ini memang tugas yang nggak gampang. Dan juga berat. Sebagian orang mungkin akan mencibir tugas ini, menganggapnya nggak-penting-penting-amat dan menyarankanku untuk memikirkan tugas yang lain. Tapi tidak. Ini tugasku. Apapun kata orang soal tugas itu bukan masalah buatku. Tidak mengapa. Yang menjadi kekhawatiranku adalah soal buku-buku itu. Semoga kelak ketika mereka besar, mereka bisa membaca tulisanku ini dan memahami kekhawatiran abinya ini. [wahidnugroho.com]


Tanjung, Oktober 2015
Reaksi:

0 celoteh:

Posting Komentar