Dicalegkan PKS (Lagi)

09.33.00


Waktu itu sudah nyaris tengah malam. Saya yang sedang asyik-masyuk tidur dibangunkan paksa oleh istri. “Bi, aku ditunjuk jadi caleg lagi. Menurut abi gimana?”, ucapnya sambil mengguncang-guncang badan saya yang sedang memeluk guling. Saya terjaga dan mengucek-ucek mata yang belekan.

“Ya terserah kamu say”, jawab saya sambil kembali menenggelamkan wajah ke dalam bantal. Obrolan soal politik di tengah malam belum membuat saya tertarik. Bukan kenapa, saya lagi ngantuk berat malam itu.

Maka jadilah obrolan soal caleg itu dilanjutkan keesokan harinya.

“Aku mau jadi caleg, asal bukan di dapil tempat Tante Fulanah maju”, ujarnya sambil melihat wajah saya yang nyaris tanpa minat untuk menyimak perkataannya.

“Aku nggak enak sama keluarga, bi, kalo misal diajuin jadi caleg di dapil itu”, urainya sambil menyebutkan alasan-alasan, termasuk ketika istri saya ‘gagal total’ mendapatkan dukungan maksimal saat menjadi caleg di Pemilu 2009 yang lalu.

“Ya tinggal kamu bilang aja ke temen-temen PKS, say”, jawabku.

“Nanti aku bilang”, ucapnya.

Keesokan harinya saya ditelepon oleh Wakil Ketua DPD, Ustadz Ali Makhfudz, perihal pencalonan istri saya sebagai caleg PKS. Saya katakan bahwa saya pada intinya ngikut apa kata istri aja. Kalo istri saya bersedia, saya pasti dukung. Kalo istri saya tidak bersedia, pasti ada alasannya.

“Pada intinya, sih, istri saya bersedia, Mas”, lanjut saya, “tapi dengan beberapa syarat”.

Maka saya pun mengutarakan perihal alasan keberatan istri saya bila dicalonkan di dapil yang sama tempat tantenya yang anggota dewan dan sekarang maju lagi sebagai caleg dari partai lain itu akan bertarung.

Nggak enak sama keluarganya istri saya, Mas”, urai saya, “lagipula tantenya yang anggota dewan itu kan rumahnya di samping rumah kami persis”.

Mas Ali, begitu beliau biasa disapa, berdehem tanda mengerti.

“Nanti kita hubungi lagi”, tutupnya.

Pagi ini, hari Kamis tanggal delapan belas April tahun dua ribu tiga belas, istri saya kembali mengangkat obrolan soal caleg.

“Abi, aku ternyata di dapil yang beda dengan dapilnya Tante Fulanah. Kalo misal begitu aku bersedia, bi”, serunya riang.

“Ya udah, tinggal kamu siapin berkas-berkas yang harus dipenuhi”, jawab saya.

Dan pagi ini, istri saya bercerita tentang banyak rencana yang akan dilakukannya terhitung sekarang. Mulai dari menyiapkan berkas ini, surat keterangan itu, menyiapkan biaya untuk pembuatan surat-surat itu, sampai strategi penjaringan dukungan buatnya. Saya menyimak kata-katanya dan menyiapkan hati untuk mendukungnya semampu saya.

“Semoga bisa dapet banyak dukungan, bil khusus dari keluarga besarmu, say”, ujar saya menyemangatinya.

PKS, setahu saya, memang partai yang berbeda dari partai lainnya. Bila di partai lain orang berlomba-lomba untuk maju menjadi caleg, bahkan saling sikut dan saling sikat di fase pra-pencalegan, tapi di PKS tidak ada ritual itu.  Biasanya, nama-nama yang diajukan akan dimusyawarahkan oleh tim tertentu, saya tidak tahu apa nama timnya, dengan pertimbangan dan perhitungan tertentu, yang saya juga tidak tahu bagaimana rumusannya. Dan ketika tim tertentu itu sudah memutuskan beberapa nama, maka mereka akan menghubungi nama-nama yang dimaksud untuk dimintai kesediaannya menjadi caleg melalui PKS. Bila nama yang ditentukan itu perempuan yang sudah bersuami, maka suaminya pun akan dimintai persetujuannya, sebagaimana yang saya sebutkan sebelumnya di atas.

Di Pemilu tahun 2009 yang lalu, istri saya juga diajukan sebagai caleg dari PKS, meski gagal mendapat dukungan yang maksimal, tapi dari situ saya jadi sedikit banyak tahu dengan mekanisme penjaringan caleg yang ada di partai tersebut.

Teringat pula dengan ‘kehebohan’ kecil yang diperbuat istri saya di kantor Polres Banggai ketika sedang membuat cap tiga jari dan Surat Kelakuan Cakap Kelakuan Catatan Kepolisian sehingga harus membuat seorang Kapolres memarahi salah satu kanitnya yang kala itu memaksa istri saya untuk memperlihatkan telinganya saat mau difoto, dan istri saya, tentu saja, menolaknya. Kehebohan itu akhirnya membuka ruang dialog antara PKS dan beberapa elemen Islam di kota Luwuk dengan pihak Kapolres mengenai perlu tidaknya memperlihatkan telinga – yang notabene adalah aurat bagi muslimah – saat akan diambil fotonya, yang berujung pada tidak perlunya memperlihatkan bagian itu saat akan difoto. Dan banyak cerita lainnya yang terjadi ketika itu.

Kira-kira, ada cerita apa lagi dari pencalegan istri saya kali ini? Saya tidak tahu. Moga cerita itu baik adanya.

Semoga. [wahidnugroho.com]


Tanjung, April 2013
Author fakta.id

Wahid Nugroho

Ini adalah blog pribadi. Semua yang tertulis di dalam blog ini adalah pendapat dan sikap saya secara pribadi dan tidak terkait dengan sikap dari instansi tempat saya bekerja.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »