Sekilas Tentang Tokoh Ini

08.05.00
Saya mendengar tentang lelaki ini sejak sebelum beliau memindahkan dakwahnya dari Ismailia ke Kairo. Beliau seorang da’i yang sulit dicari bandingannya. Kaki beliau kokoh dalam menebarkan dakwah Islam. Saya sangat merasakan pengaruh yang positif dari beliau dalam perbaikan masyarakat. Itulah Imam Syahid Syaikh Hasan Al Banna – semoga Allah melimpahkan rahmat kepada beliau dan memasukkan beliau ke dalam syurgaNya yang luas, bersama para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih –. Saya berkenalan dengan beliau di Kairo. Saya sering menghadiri ceramah yang beliau sampaikan di kantor Ikhwanul Muslimin pertama maupun kantor kedua, setiap hari Selasa, yang akhirnya dikenal sebagai “Haditsuts Tsulatsa” atau yang beliau lebih suka menyebutnya “Atifatuts Tsulatsa”.

Hari Selasa ini, adalah hari-hari yang tersaksikan. Ribuan orang berkumpul dari berbagai penjuru Kairo, Iskandaria, sampai Aswan, bahkan dari luar Mesir. Mereka semua ingin mendengar Hasan Al Banna. Maka ia naik ke atas mimbar dengan jubah dan sorban putihnya, lalu sejenak mengitarkan pendangan kepada segenap hadirin, sebelum kemudian suara itu menggaung dengan kekuatan jiwa yang penuh dan kalimat-kalimat yang menyihir, yang segera merasuk dalam hati para pendengar. Suara itu tidak bertumpu pada retorika, juga tidak membakar emosi dengan teriakan. Suara itu sepenuhnya bertumpu pada kebenaran, membangun semangat dengan meyakinkan akal, menggelorakan jiwa dengan makna bukan dengan kata-kata, dengan ketenangan bukan dengan provokasi, dan dengan hujjah bukan dengan hasutan. Sehingga setiap orang yang pernah mendengarnya sekali, pasti akan terus mengikuti ceramah-ceramah itu secara rutin, betapapun kesibukan dan hambatannya.

Saya adalah salah seorang dari mereka yang terpesona dan antusias mendengarkan ceramah beliau, sehingga muncul keinginan pada diri saya untuk menyadurnya ke majalah “I’tisham”, meskipun pada masa itu orang-orang belum mengenal alat perekam (1940). Allah telah memberikan taufiq kepada saya untuk menyadurnya dengan metode yang jauh dari seni jurnalistik. Saya tidak mengerti dan tidak pernah mempelajari Stenografi dari seorangpun. Keinginan saya itu terwujud semata-mata karena ilham dan taufiq dari Allah swt agar saya berbahagia dengan terpeliharanya warisan agung ini. Semoga ia menjadi catatan amal baik saya. Maka, saya mulai mencatat ceramah hari Selasa itu sepanjang hidup Imam Syahid hingga menjelang wafatnya, rahimahullah.

Saya mempunyai suatu kebiasaan, datang ke kantor Ikhwanul Muslimin menjelang Maghrib untuk melaksanakan sholat jamaah. Suatu ketika, setelah adzan dan iqomat, Imam Syahid pernah meminta saya mengimami shalat. Saya menolak karena malu dan segan kepada beliau. Beliau akhirnya berkata, “Shalatlah dengan perintah!” Maka tidak ada pilihan lagi bagi saya kecuali melaksanakan perintah dan mengikuti keinginan beliau tersebut. Seusai shalat, saya kembali bersama para hadirin mendengarkan ceramah beliau. Di antara mereka, saya adalah satu-satunya yang mencatat ceramah itu. Meski demikian, saya tidak meminta tempat khusus untuk menulis. Saya duduk di bagian paling belakang majelis tersebut.

Ada satu paradoks yang menakjubkan, yaitu saya selalu dikejutkan oleh berakhirnya ceramah beliau. Saya dapat mengira bahwa hal yang sama dirasakan pula oleh hadirin yang lain. Itu terjadi lantaran beliau menarik perhatian para pendengar di akhir ceramah dengan gaya yang lebih memikat daripada yang digunakan beliau untuk menarik perhatian mereka di awal ceramah. Saya tidak mengetahui, apa rahasianya. Tetapi, itu merupakan salah satu kelebihan beliau yang paling menonjol. Karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja di antara hamba-hamba yang dikehendakiNya.

Pada tahun 1945, Allah telah memberikan taufiq kepada saya untuk melaksanakan kewajiban haji. Jum’iyah Syar’iyah memberikan kehormatan kepada saya untuk memimpin delegasinya. Di sana saya berjumpa dengan Imam Syahid, di Negeri Haram dan Tanah Suci. Saya mendengarkan beberapa ceramah yang disampaikan beliau di penginapan “Mesir” di Makkah bersama para pimpinan delegasi Islam, atas undangan beliau. Saya juga mendengarkan ceramah beliau di Mina, Madinah Munawarah, dan di Darul Hadits. Semuanya saya catat. Perlu saya sebutkan di sini bahwa delegasi-delegasi itu berdatangan dari berbagai penjuru: dari Indonesia, Jawa, Srilanka, India, Madagaskar, Nigeria, Kamerun, Iran, dan Afghanistan. Mereka berkenalan dan berkumpul dengan beliau. Beliau berbincang-bincang dengan setiap delegasi mengenai masalah-masalah yang menjadi pusat perhatian mereka, tentang masalah dan problema yang mereka hadapi. Beliau menarik perhatian mereka, seakan-akan beliau datang dari negeri mereka, bukan mereka yang datang kepada beliau.

Karena itu wajar jika orang-orang berpandangan bahwa Hasan Al Banna merupakan figur yang unik di tengah-tengah manusia, bahkan di kalangan para pemimpin. Dengan watak dan karakternya, beliau telah mengukir sejarah dan mengubah arah perjalanannya. Beliau juga tergolong unik ketika wafat. Tidak ada yang menyalatkan beliau di masjid kecuali ayahnya. Tidak seorang pun di antara para pengikut beliau yang memenuhi dunia itu, yang berjalan di belakang keranda beliau, lantaran sebuah alasan yang sederhana, yaitu karena mereka pada masa itu sedang memenuhi penjara.

Walaupun Imam Syahid Hasan Al Banna telah meninggal dunia, tetapi pemikiran beliau tidak akan mati. Pengaruh beliau masih ada dan terus berkembang, yang berwujud generasi-generasi yang dicetak beliau “di atas “meja hidangan” Islam dengan metode modern dan terlihat dalam perkembangan gerakan Islam yang mendunia, dimana beliau merupakan figur yang pertama kali menabur benihnya. Sungguh Hasan Al Banna adalah mujadid (pembaharu) Islam di abad ke dua puluh. [wahidnugroho.com]


Ahmad Isa ‘Asyur
Author fakta.id

Wahid Nugroho

Ini adalah blog pribadi. Semua yang tertulis di dalam blog ini adalah pendapat dan sikap saya secara pribadi dan tidak terkait dengan sikap dari instansi tempat saya bekerja.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »