Tentang Perbedaan

10.29.00

Allah menciptakan kita semua dalam kondisi yang berbeda antara satu dengan yang lainnya. Saya seperti ini, Anda seperti itu. Isi kepala saya begitu, isi kepala Anda begini. Kecenderungan hati saya kesana, kecenderungan hati Anda kesini. Selera saya disini, selera Anda disana. Saya ganteng, Anda kurang ganteng. Saya keren, Anda kurang keren. Saya cakep, Anda kurang cakep. Kita memang berbeda. Karena itulah masing-masing kita unik.

Kita unik karena kita punya ciri khas tersendiri yang tidak dimiliki oleh orang lain. Bisa jadi ada satu, dua, sepuluh, bahkan seribu kesamaan antara saya dan Anda. Tapi dalam detail tertentu kita pastilah berbeda.

Contohnya dalam hal makan sambel. Anda bisa jadi suka sambel yang pedasnya membahana (ups, maaf saya pinjam kata-kata ini), saya suka sambel yang pedasnya merambat dengan sopan, yakni sambel yang awalannya berasa agak manis tapi lama-lama bikin mata menangis. Di seberang sana mungkin ada yang suka sambel dengan terasi yang banyak, di seberang sini mungkin sebaliknya. Di sebelah sana mungkin suka sambel yang dicampur gula aren, di seberang sini mungkin tidak. Di sudut sini mungkin suka sambel yang isinya cabe rawit saja, di sudut sana mungkin suka sambel yang dicampur dengan cabe keriting. Nah, karena dalam urusan makan sambel saja kita sudah punya perbedaan yang cukup mencolok dan membahana (halah, kepake lagi kata-kata ini) seperti itu, maka keragaman fikir kita pun pasti akan ada.

Saya jadi ingat ketika di awal-awal pernikahan dulu istri saya membuatkan masakan favoritnya untuk saya, yang celakanya itu bukan masakan favorit saya, bernama kuah asam. Anda yang dari Sulawesi pasti tau donk apa itu kuah asam? Kuah asam adalah ikan yang dimasak kuah. Semacam sup ikan dan segala rempah-rempahnya. Istri saya mungkin tidak tahu kalau saya bukan pecinta ikan. Lha ikan goreng yang kemeripik aja kadang tidak saya makan, apalagi ikan yang basah kuyup begitu. Maka tanpa mengurangi rasa cinta saya kepadanya, masakan itu pun tidak saya sentuh sama sekali dan saya katakan kepadanya, “Kalau mau masak kuah asam silakan, tapi saya tidak ikut makan”.

Ketika ada situasi seperti ini, setiap kita mungkin punya sikap yang berbeda. Saya cenderung terus terang ketika tidak suka akan sesuatu dan tidak suka menyimpan ketidaksukaan saya itu, Anda mungkin sebaliknya lebih memilih menyimpan dan menyelesaikannya dalam diam. Lalu mana sikap yang benar dan mana yang salah? Tidak ada yang salah, semuanya benar. Intinya adalah soal komunikasi. Mengkomunikasikan ketidaknyamanan, ketidaksukaan, ketidaksetujuan itu secara elegan dan beradab kepada pasangan kita masing-masing.

Kembali ke soal kuah asam. Lalu, apakah saya jadi tidak cinta kepadanya hanya karena urusan kuah asam? Apakah cinta harus diukur dari semangkok kuah asam? Apakah perkara kuah asam ini tidak bisa dikompromikan sehingga saya dan istri harus berantem tujuh hari tujuh malam dan pisah ranjang sampai akhir bulan? Tentu saja tidak, bagi saya.

Kuah asam itu soal kecil begitu juga soal tidur yang mendengkur, sambel yang terlalu pedas, bau badan yang kurang membuat nyaman, warna baju yang tidak sepadan, atau perkara tertentu yang terjadi di atas ranjang  (dan mungkin juga tidak terjadi di atas ranjang #IYKWIM). Ini perkara kecil. Bisa dibicarakan, bisa dikompromikan, bisa diselesaikan secara baik-baik. Bentuk penyelesaiannya bisa beragam, intensitas penyelesaiannya juga beragam. Intinya adalah komunikasi, kesabaran, dan kejujuran hati.

Karena ini soal kecil, soal sepele dan remeh temeh, maka jangan sampai menjadi penghalang kita untuk berbahagia dalam pernikahan, meski ada perbedaan yang cukup menganga antara diri kita dengan pasangan kita. Jangan sampai perkara sepele itu menjadi faktor yang menentukan bahagia dan tidaknya pernikahan kita. Misi besar yang kita usung kala mengucap ijab qabul itu terlalu berharga, jauh terlalu berharga, bila harus digadaikan dengan urusan sepele ini.

Menyatukan dua pribadi itu, kata Eko Novianto dalam buku Engkaulah Matahariku, seperti memadukan dua batang kayu.

Agar sambungan itu kokoh kedua batang kayu tersebut harus disambung dengan teknik tertentu. Dalam proses penyambungan dengan teknik tertentu itu, masing-masing kayu harus merelakan sebagaian dirinya dipotong, dibentuk, dan disesuaikan dengan potongan kayu yang lain. Proses pemotongan, pembentukan, dan penyesuaian ini harus dilakukan pada kedua batang kayu secara harmonis. Bukan hanya pada salah satunya. Jika dilakukan hanya pada salah satunya, hasilnya tidak optimal. Padahal kedua batang kayu itu telah tumbuh kuat. Telah lulus quality control. Bahkan keduanya terbentuk secara sistemik untuk menjadi banyak tujuan.

Maka tendensi dan selera pribadi yang telah membentuk diri kita seperti ini bukan untuk dihilangkan sama sekali, tapi hanya perlu untuk dikompromikan dan dikomunikasikan. Kita hanya perlu meletakkan semua rasa “pribadi” itu dalam satu tujuan bersama. Tujuan yang lebih besar dan mulia untuk membangun peradaban ini. Sehingga, bila tendensi itu tidak searah dengan tujuan besar yang sudah dicanangkan tersebut, maka tendensi itu perlu untuk ditinggalkan bahkan dibuang. Hanya saja pertanyaannya adalah, apakah kita sudah menyiapkan ruang besar di dalam jiwa untuk menampung “buangan” itu? Hanya masing-masing kita yang bisa menjawabnya. 

Perbedaan itu, seyogyanya, membuat kita kaya. Iya, kaya. Saya, Anda, dan kita semua. 


Mohon maaf atas ceracauan ini. [wahidnugroho.com]


H2, November 2012
Author fakta.id

Wahid Nugroho

Ini adalah blog pribadi. Semua yang tertulis di dalam blog ini adalah pendapat dan sikap saya secara pribadi dan tidak terkait dengan sikap dari instansi tempat saya bekerja.

Artikel Terkait

Previous
Next Post »