<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098</id><updated>2012-01-21T12:40:57.384+08:00</updated><category term='Bincang Buku'/><category term='Cerita Foto'/><category term='Soliloqui'/><category term='Fiksi'/><category term='Merah Jingga'/><category term='Uncategorized'/><category term='Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna'/><category term='Coretan Corner'/><category term='Luwuk'/><category term='Keluarga'/><category term='Cintabuku'/><title type='text'>Pojok Serambi</title><subtitle type='html'>Hanya obrolan yang lazim dibahas di pojokan serambi.</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>66</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-2229205485911609692</id><published>2012-01-21T11:19:00.003+08:00</published><updated>2012-01-21T12:40:57.402+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Tentang Putri-Putri Kita</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-LAejw29P_tQ/TxotscE91PI/AAAAAAAAAaE/boe3Erb112Q/s1600/zkafelsss.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="231" src="http://4.bp.blogspot.com/-LAejw29P_tQ/TxotscE91PI/AAAAAAAAAaE/boe3Erb112Q/s320/zkafelsss.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Gadis muda berseragam SMA dengan balutan jilbab abu-abu itu terlihat begitu cantik dan manis. Lengkap dengan tas ransel kecil yang menempel di punggungnya dan netbook case berwarna hitam yang disandang di tangan kirinya, ia berpamitan kepada sang ibu di ujung pintu rumahnya. Setelah mencium tangan sang ibu dan menguluk salam, gadis muda itu segera beranjak ke sekolah. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di seberang rumah sang gadis, tampak seorang pemuda yang – sepertinya – sedang menanti kedatangan si gadis manis itu. Duduk di atas motor matic berwarna hitam, pemuda bersweater kuning cerah dan bertopi bisbol itu tampak melambaikan tangannya kepada sang gadis tadi. Sementara senyum sang pemuda mengarah kepada sang gadis, tampak kepulan asap rokok berhamburan dari wajah lusuh pemuda itu. Beberapa detik kemudian, si gadis manis sudah duduk di belakang sang pemuda lusuh itu, meninggalkan ibundanya yang masih berdiri di pintu rumahnya dengan pandangan masygul.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Entah apa yang sedang menggeliat di dalam pikiran sang ibu ketika melihat putri belianya berangkat sekolah dengan dibonceng oleh lelaki – yang mungkin – belum dikenalnya itu. Saya bisa bilang “belum dikenal” karena tak ada tanda-tanda si lelaki menguluk salam tanda berpamitan kepada ibunda sang gadis ketika ia menarik tuas gas maticnya barusan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Apakah ibu itu khawatir ketika melihat sang putri dibonceng oleh lelaki yang tidak dikenalnya, tanpa sopan santun pula? Apakah ibu itu cemas dengan pergaulan putrinya jika dilihat dari dandanan si pemuda? Raut wajah sang ibu yang tampak gundah ketika melihat pemandangan barusan itu seolah mengajari saya banyak hal karena bagaimanapun saya adalah orangtua dari dua orang putri yang cantik lagi gesit. Ah, seperti inikah perasaan sebagai orangtua?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Saya kadang ingin bertanya kepada para pemuda – bukan lelaki – yang, katakanlah, berpacaran dengan putri-putri belia itu. Apakah pemuda itu tidak berpikir ketika mereka mempunyai kakak perempuan, adik perempuan, atau bahkan putri-putri mereka, yang diajak pergi oleh orang asing yang tiada dikenalnya? Tidakkah mereka akan khawatir, cemas, gelisah, dan tak tenang ketika mengetahui bahwa kakak perempuan mereka, adik perempuan mereka, atau putri-putri mereka dinodai kehormatannya oleh pria yang tidak bertanggungjawab dan tidak dikenal pula?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Perempuan adalah lambang kehormatan sebuah keluarga. Ketika perempuan tak lagi bisa dijaga, maka apalagi yang bisa dijadikan sebagai perisai kehormatannya? Ketika harga diri seorang perempuan – kakak, adik, dan anak-anak perempuan kita – dengan mudahnya dilanggar oleh orang lain, tidakkah itu akan menorehkan luka dalam hati kita? Itulah mengapa Islam menganggap wanita sebagai tiang negara. Ketika wanita terpelihara dan terjaga kehormatannya, maka berbanding luruslah dengan kehormatan sebuah negara. Dan Islam juga pulalah yang mengatur bahwa setiap laki-laki &lt;span class="commentBody" data-jsid="text"&gt;akan  dimintai pertanggungjwaban atas empat orang wanita yang hidup bersamanya: istrinya,  anak-anaknya, saudara perempuannya, serta ibunya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Moga Allah mudahkan urusan kami dalam menjaga perempuan-perempuan yang telah diamanahiNya kepada kami. Amin. [wahidnugroho.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;H2, Januari ‘12&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-2229205485911609692?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/2229205485911609692/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=2229205485911609692&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2229205485911609692'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2229205485911609692'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2012/01/tentang-putri-putri-kita.html' title='Tentang Putri-Putri Kita'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-LAejw29P_tQ/TxotscE91PI/AAAAAAAAAaE/boe3Erb112Q/s72-c/zkafelsss.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-3756193183294257126</id><published>2012-01-19T18:28:00.001+08:00</published><updated>2012-01-19T18:29:09.216+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Luwuk'/><title type='text'>Naskun Di Luwuk</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-mTzOC_FA4mc/TxfwFZaoQ9I/AAAAAAAAAZw/wq_ns1gHgdc/s1600/naskun.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://4.bp.blogspot.com/-mTzOC_FA4mc/TxfwFZaoQ9I/AAAAAAAAAZw/wq_ns1gHgdc/s320/naskun.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Selama “terdampar” di Luwuk, ada beberapa spot warung naskun (nasi kuning) yang recommended menurut saya. Beberapa masih eksis sampai sekarang, dan beberapa udah pindah atau nggak tau dimana rimbanya. Oh iya, berhubung ini pendapat pribadi jadi ya sifatnya subjektif banget ya. Kalo ente ngerasain hal yg sama, berarti selera kita kurang lebih sama. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Oh iya, naskun bagi orang Luwuk itu mungkin kayak Nasi Uduk buat orang Jakarta kali ya. Menu sarapan yang lazim ditemuin di pagi hari bagi ente yang tinggal di Luwuk, dan kadang juga ada yang bakulan naskun malem-malem. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Naskunnya standar kayak naskun-naskun laennya. Cuman yang bikin beda itu topping dan sambelnya. Di Luwuk, naskunnya sederhana banget. Paling cuman ditemenin sama acar bihun yang dicampur sama suwiran ikan cakalang. Kalo mau beda dikit ada yang naskunnya pake bakwan ato telor rebus. Dan – sebagaimana yang saya sebut di atas – tingkat kepedesan sambel adalah pembeda yang paling mencolok antara naskun yang leker sama yang biasa-biasa aza (maklum, daku sambel-freak sih hehe).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Urutan di bawah ini bukan nunjukin peringkat, cuman saya ketik sesuai ingatan saya aja.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Pertama, Nasi Kuning Jaton (Pelita)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tau Jaton? Jaton adalah singkatan dari Jawa Tondano. Yap, penjual naskun ini berasal dari Jawa Tondano, meski doi ngakunya orang Banten bukan orang Jawa (lho?). Dengan warung imutnya, Naskun Jaton gak bisa dipandang enteng dari segi rasa. Nasinya pulen, rasanya gurih jiddan, dan pajabu ikan cakalang yang endang bambang. Belom lagi kering tempenya (orang Luwuk biasa nyebut “Acar”) yang kemeripik dan berbumbu &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pliket&lt;/i&gt; membuat warung imut ini sempat jadi langganan sarapan saya selama medio 2008-2010. Oh iya, yang paling “legend” dari naskun ini adalah sambalnya yang pedes syaithon. Padahal di awal rasa sambelnya agak-agak manis. Tapi lama-lama rasanya bikin keringet jagung nongol di jidat. Konon, kata si ibu penjualnya, kalo ada langganannya yang orang Manado beli naskun di sini, mereka berani bayar lebih buat nebus satu dua sendok makan sambelnya. Makanya gak heran kalo stok sambel di warung ini bisa nyampe 2 baskom gede.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sayang ownernya udah pindah ke Manado karena ngikut sang anak. Dan dengan pindahnya sang owner, praktis nggak ada lagi naskun Jaton yang rasanya maknyoss itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Kedua, Nasi Kuning Wijayanti (Pelita)&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kalo ini induk-semang alias empunya kos-kosan temen sekantor saya. Dari segi naskunnya gurih dan berasa banget santennya. Taburannya juga beragam. Tapi yang paling sering ya ikan cakalang suwir yang dibalado pedes dan bihun tumis. Seporsi harganya cuman goceng, tapi udah ngenyangin banget.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Ketiga, Nasi Kuning Pasar Simpong&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Penjual nasi kuning ini om-om paruh baya, orang Gorontalo. Biasanya si om ini ada di tekapenya pagi-pagi sambil bawa termos nasi yang gede banget dan nongkrong di salah satu sudut pasar dekat penjual buah. Naskunnya dari segi penampakan sih biasa-biasa aja: dibungkus daon pisang, plus acar bihun dan cakalang suwir. Harga naskunnya cuma noceng, tapi rasanya cuy, leker banged dah. Dan yang paling fenomenal itu sambelnya yang iblis banget pedesnyah. Saia sampe sakit perut gara-gara nenggak naskun ini 3 bungkus sekali makan hahaha (secara imut-imut banget ukuran naskunnya).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sayang, sejak kebakaran Pasar Simpong beberapa waktu yang lalu, saya udah nggak dapet lagi dimana tempat nongkrong si Om ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Keempat, Nasi Kuning Pasar Sentral&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kalo ketiga tempat makan naskun di atas udah jadi langganan saya sejak lama, nah yang terakhir ini baru aja jadi tempat makan favorit saya gara-gara dikasih tau sama mertua yang sering banget muji-muji rasanya Naskun Pasar Sentral. Lokasi lapaknya lumayan nyempil. Kalo ente lewat Cokro 2000, di depannya kan ada warung makan Bakso tuh (lupa nama warungnya apa), nah, di sebelah warung bakso itu ada gang sempit. Masuk aja ikutin gang sempit itu. Ntar ente bakal ketemu sama antrian orang yang lagi beli naskun di situ. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Antrian? Yup, antrian cuy. Orang yang beli di situ biasa beli naskunnya lebih dari 5 bungkus. Padahal sebungkus yang harganya tiga rebu aja udah banyak. Tapi emang nagih banget sih rasanya. Dan kayak kebanyakan orang Gorontalo yang jago bikin naskun enak, naskun ini juga endang bambang banged. Acar bihunnya maknyus dan berasa banged bumbunya. Belom sambelnya yang pedes mamp*s. Bikin saia gak cukup makan sebungkus kalo nenggak naskun ini. Oh iya, waktu jualan Naskun Pasar Sentral ini mulai bakda Maghrib sampai tengah malem. So, kalo lagi laper tengah malem en pengen cari makanan yang murmer tapi laziz jiddan, satronin aje lapak naskun yang satu ini gan hehe..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebenernya ada satu lagi tempat makan naskun yang enak. Tekapenya ada di Teluk Lalong, di kios pinggir jalan yang ada di sebelahnya kantor DPRD. Seperti biasa, naskunnya dibungkus daun pisang. Dari segi rasa kalo dirate ya sekitar 7 dari 10 lah. Cuman berhubung tekapenya di samping jalan raya yang berdebu, kalo mau makan di tekape keknya kurang nyaman. Tapi kalo mau dikafanin buat ditenggak di rumah, ya monggo kerso mawon hehehe..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ada yang mau nambahin? Saya juga bersedia dipanggil kalo ada yang mau nraktir makan, gak harus nasi kuning sih, asal jangan Onyop ato Mie Cakalang aja hahaha... Salam...&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;H2, Januari ‘12&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-3756193183294257126?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/3756193183294257126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=3756193183294257126&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3756193183294257126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3756193183294257126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2012/01/naskun-di-luwuk.html' title='Naskun Di Luwuk'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-mTzOC_FA4mc/TxfwFZaoQ9I/AAAAAAAAAZw/wq_ns1gHgdc/s72-c/naskun.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-593350534237299126</id><published>2012-01-19T11:16:00.002+08:00</published><updated>2012-01-19T11:23:00.585+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Anak-Anak Kita Ibarat Rem</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-vv5U8IxFkqc/TxeKmvfrZnI/AAAAAAAAAZo/mzmrx-lw9W4/s1600/bayi.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/-vv5U8IxFkqc/TxeKmvfrZnI/AAAAAAAAAZo/mzmrx-lw9W4/s320/bayi.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Apa elemen paling penting dari motor tercepat yang ada di kolong langit? Kalau saya yang ditanya seperti itu maka jawabannya sederhana saja: rem. Tentu sulit untuk dibayangkan jika Jorge Lorenzo atau Casey Stoner yang lagi asyik-masyuk ngebut dengan motor balapnya tapi ternyata tak ada rem yang terpasang disana. Setau say, cmiiw, teknik mengerem yang benar juga turut menentukan aksi si pembalap di lintasan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Dalam hidup yang tak mudah ini, ada saja godaan untuk melakukan hal-hal yang tak pantas untuk dilakukan. Hal-hal yang dapat menodai kesucian fitrah kita sebagai seorang manusia yang mulia di sisiNya. Hal-hal yang dapat mengundang dosa dan murkaNya. Oleh karenanya, kita membutuhkan semacam “rem” yang dapat mengontrol gerak langkah kita agar tidak terlalu jauh melenceng dari garis hidup yang diridhoiNya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ada banyak sekali hal yang bisa dijadikan “rem” dalam hidup. Anak-anak, menurut saya, adalah satu di antara sekian banyak rem itu. Wajah mereka yang polos, aksi mereka yang lucu dan lugu, polah tingkah mereka yang menyenangkan hati, meski tak jarang memegalkan hati, adalah (salah satu) rem termujarab bagi setiap orangtua.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ketika diri sedang malas ibadah, maka kekhawatiran anak-anak kita kelak akan mencontoh orangtuanya yang malas akan “membangunkan” semangat ibadah yang sedang tertidur pulas. Ketika diri malas membaca, maka kekhawatiran anak-anak kelak menjadi anak yang malas membaca akan melecut semangat baca kita yang tadinya tiarap. Maka anak-anak adalah rem agar kemalasan tak lagi hinggap, atau kelemahan tak lagi menambah lajunya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Begitu juga ketika terbersit niat dalam diri ini untuk melakukan hal-hal yang tidak baik. Atau terpercik keinginan untuk melakukan hal-hal yang mengundang murkaNya. Maka dengan mengingat wajah-wajah polos itu, - betapa berbahagianya diri kita saat mereka semua terlahir di dunia dengan tangisnya yang membahana, atau betapa bersyukurnya diri ini saat Allah menitipkan amanahNya itu kepada kita sementara banyak pasangan lain yang belum jua diberiNya, kita hapal benar bau kecut dan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ledis&lt;/i&gt; mereka atau rengekannya yang manja -, membuat niat yang tadinya melenceng kembali lurus. Yang tadinya lupa menjadi ingat, yang tadinya lemah menjadi kuat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya bukan orangtua yang sempurna. Saya juga (sudah pasti) berbuat salah dan khilaf. Sesekali tergelincir dan mangkir. Satu dua bahkan berkali-kali alfa dan lupa. Istri saya adalah sosok yang pas untuk menggambarkan tentang diri saya secara apa adanya, lebih dan kurangnya. Tapi anak-anaklah yang membuat saya sadar bahwa hidup ini bukan untuk diri saya sendiri. Apalagi ketika mengingat firman Allah dalam surat At Tahrim “Jagalah diri dan keluargamu dari api neraka”, bergidik rasanya tubuh ini. Menjaga diri sendiri dari api neraka saja sudah begitu sulit, ditambah lagi dengan menjaga anggota keluarga kita. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Maka saya bersyukur kepada Allah karena telah menghadirkan sosok anak-anak itu dalam hidup saya. Bersyukur karena merekalah yang seharusnya menjadi penyemangat kita dalam berbuat baik dan memperbaiki diri, bersyukur karena merekalah yang menjaga diri ini dari melakukan perbuatan yang tidak baik. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Bantu abimu untuk selalu taat padaNya ya, nak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;Robbij’alni muqima sholati wa min dzurriyyatii. Robbana hablana min azwajina wa dzurriyyatina qurrota a’yun, waj’alna lil muttaqiina imaama. Aamiin yaa mujiib.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt;H2, Januari ‘12&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-593350534237299126?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/593350534237299126/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=593350534237299126&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/593350534237299126'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/593350534237299126'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2012/01/anak-anak-kita-ibarat-rem.html' title='Anak-Anak Kita Ibarat Rem'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-vv5U8IxFkqc/TxeKmvfrZnI/AAAAAAAAAZo/mzmrx-lw9W4/s72-c/bayi.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-7525801049285796083</id><published>2012-01-19T09:12:00.002+08:00</published><updated>2012-01-19T09:16:07.306+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bincang Buku'/><title type='text'>Buku Yang Kubaca Season 2011</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-FyUt-hD2dmc/TxdtlhBX6xI/AAAAAAAAAZY/Tdb-duanz_g/s1600/buksss.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-FyUt-hD2dmc/TxdtlhBX6xI/AAAAAAAAAZY/Tdb-duanz_g/s320/buksss.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Melanjutkan tradisi yang sudah saya buat (semoga tradisi ini tidak di&lt;i&gt;bid’ah&lt;/i&gt;kan hehe), kali ini saya mau menengok kembali buku-buku yang sudah selesai saya baca di tahun 2011 ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Terhitung ada sekitar enam buah buku yang berhasil saya tamatkan &lt;strike&gt;(dengan susah payah)&lt;/strike&gt;. Enam buku itu terdiri dari tiga buku nonfiksi dan tiga buku fiksi. Cukup menurun bila dibandingkan dengan tahun 2010 yang lalu ketika saya, alhamdulillah, berhasil menamatkan empat belas buku. Tidak banyak, memang. Tapi jumlah itu sudah cukup “menyelamatkan” rencana saya agar tidak melewatkan setahun pun tanpa menamatkan sebuah buku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Berikut buku-buku yang sudah saya tamatkan:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Fiksi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;The Historian by Elizabeth Kostova&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;Ranah Tiga Warna by A. Fuadi&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;Trust, Harga Sebuah Kepercayaan by Charles Epping&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;Non Fiksi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span style="font: 7pt &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;The Man Who Loved Books Too Much by Allison Hoover Bartlett&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Growing Up Bin Laden by Jean Sasson, Najwa Ghaneem, Omar bin Laden&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Sang Penjegal Kisah Ibnu Saud Menguasai Arabia by Harold Courtenay Armstrong&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dari semua buku di atas, hanya buku Ranah Tiga Warna yang ditulis oleh penulis lokal, dan sisanya penulis luar. Sedangkan buku yang paling saya rekomendasikan, andai hanya dikasih satu kesempatan, maka buku The Historian-lah yang akan saya pilih sebagai Book Of The Year versi saya untuk tahun 2011 (reviewnya bisa dilihat di blog ini). &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Semoga ada peningkatan di tahun 2012 mendatang. Amin. [wahidnugroho.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;H2, Desember 2011&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-7525801049285796083?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/7525801049285796083/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=7525801049285796083&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7525801049285796083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7525801049285796083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2012/01/buku-yang-kubaca-season-2011.html' title='Buku Yang Kubaca Season 2011'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-FyUt-hD2dmc/TxdtlhBX6xI/AAAAAAAAAZY/Tdb-duanz_g/s72-c/buksss.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-3517635509627052796</id><published>2012-01-18T17:55:00.001+08:00</published><updated>2012-01-18T17:57:47.573+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merah Jingga'/><title type='text'>Di Suatu Masa Yang Akan Datang</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-lEsiuk0QE2E/TxaXAq3IoeI/AAAAAAAAAZQ/cvmCD8BCOaI/s1600/ouw.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://1.bp.blogspot.com/-lEsiuk0QE2E/TxaXAq3IoeI/AAAAAAAAAZQ/cvmCD8BCOaI/s320/ouw.jpg" width="276" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di suatu masa yang akan datang, kau dan aku. Saat usia telah menua, ketika raga mulai merenta, dan uban mewarna di kepala. Cinta tak lagi terukur lewat renjis tawa di udara, atau tingkah polah khas remaja. Tapi cinta jiwalah yang mengejawantah setiap langkah kita.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di suatu masa yang akan datang, kau dan aku. Saat celoteh anak dan balita tak lagi mengisi hari, hanya sepi yang kan kita rasai. Kusesap aroma tubuhmu yang manis, di sela sore bertabur gerimis. Kau belai rambut di kepalaku yang kian menipis, kuraba jemarimu yang makin terkikis.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di suatu masa yang akan datang, kau dan aku. Tak banyak yang bisa kita lakukan, hanya kedua mata yang saling berpandangan. Senyummu masih sama seperti dulu; sederhana, bersahaja, nan malu-malu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di suatu masa yang akan datang, kau dan aku. Kita mengenang kebersamaan yang telah lewat, meski berbilang tahun namun serasa begitu dekat. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di suatu masa yang akan datang, kau dan aku. Meski genggamanku tak lagi kuat dan pelukanku tak lagi erat, namun cinta di dalam hati ini kan selalu tsabat, meluap-luap, kukuh, dan hangat. [wahidnugroho.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;Tanjung, Januari 2012&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-3517635509627052796?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/3517635509627052796/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=3517635509627052796&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3517635509627052796'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3517635509627052796'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2012/01/di-suatu-masa-yang-akan-datang.html' title='Di Suatu Masa Yang Akan Datang'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-lEsiuk0QE2E/TxaXAq3IoeI/AAAAAAAAAZQ/cvmCD8BCOaI/s72-c/ouw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-8368138061253469802</id><published>2012-01-18T08:12:00.001+08:00</published><updated>2012-01-18T08:29:33.200+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna'/><title type='text'>Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Cb66F0yzJi8/TxYOZMguMeI/AAAAAAAAAZI/bDlvaD9DT4w/s1600/hasanclassic.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="307" src="http://2.bp.blogspot.com/-Cb66F0yzJi8/TxYOZMguMeI/AAAAAAAAAZI/bDlvaD9DT4w/s320/hasanclassic.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&amp;nbsp;&lt;/div&gt;Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah swt. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Wahai Ikhwan yang terhormat, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Sebelum kita memulai kajian tentang Kitab Allah swt, saya ingin mengingatkan wahai Ikhwan, bahwa ketika menyampaikan kajian-kajian ini, kita tidak semata-mata bertujuan untuk memperoleh pemahaman dan melakukan analisis ilmiah. Tujuan kita adalah membimbing ruhani dan akal untuk memahami makna-makna umum yang disinggung dalam Kitabullah. Sehingga dari sini kita dapat memiliki sarana untuk memahami Al Qur’anul Karim, ketika kita membacanya. Dengan demikian, kita telak melaksanakan sunah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;tadabur&lt;/i&gt;, &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;tadzakur&lt;/i&gt;, dan mengambil pelajaran sebagaimana disebutkan di dalam kitab Allah swt “Sesungguhnya Kami telah mudahkan Al Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran itu?” (QS Al Qamar 32). “Ini sebuah Kitab yang Kami turunkan kepadamu dengan penuh berkah, supaya mereka memperhatikan ayat-ayatNya dan orang-orang yang mempunyai pikiran mengambil pelajaran.” (QS Ahad 29).&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ikhwanku yang tercinta. Kajian-kajian tentang ayat-ayat Al Qur’an Al Karim yang hendak saya sampaikan ini, tidak saya maksudkan menghimpun secara lengkap dan luas aspek-aspek ilmiah dalam tema yang sedang kita bahas, tetapi saya sekedar ingin mengarahkan ruhani, hati, dan pikiran kepada maksud-maksud luhur yang dikehendaki oleh Kitab Allah swt, Al Qur’anul Karim, ketika mengemukakan suatu pengertian. Jika ini telah terwujud, wahai Akhi, maka di depan Anda dan di depan pembahas yang lain terbuka pintu yang lebar untuk mengadakan kajian dan analisa. Silakan mengkaji sekehendak Anda dan mempelajari sedetail-detailnya. Sungguh saya percaya, Ikhwan yang tercinta, saat-saat ketika kita berbahagia dengan perjumpaan kita semacam ini, tidak memberikan kesempatan yang leluasa kepada kita untuk mengadakan analisis ilmiah yang menguraikan tema pembahasan dari segala sisi. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ikhwanku, satu-satunya tujuan kita dari kajian-kajian ini adalah agar kita merenungkan isi kitab Allah swt. Ia ibarat lautan yang kaya dengan mutiara. Dari sisi manapun Anda mendatanginya, Anda akan memperoleh kebaikan yang berlimpah ruah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karena itu, pembahasan kita berkisar pada tujuan-tujuan yang bersifat global dan umum, yang dikemukakan oleh ayat-ayat Al Qur’anul Karim. Ikhwan sekalian, marilah kita tolong-menolong untuk menyingkapnya. Alhamdulillah, tujuan-tujuan tersebut cukup jelas dan gamblang. Harapan kita, semoga masing-masing dari kita memperoleh kunci pemahaman Kitab Allah, untuk memahami ayat-ayatNya. Dengan demikian, ia dapat menggunakan kunci tersebut untuk berinteraksi langsung dengannya setiap kali ia memperoleh waktu luang dan setiap kali ia ingin menambah cahaya, faedah, dan manfaat yang ditimbanya dari Kitab ini.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya tidak mengklaim bahwa kajian-kajian ini merupakan puncak dari segala kajian, karena setiap kali manusia melakukan penjelajahan pikiran dan pandangan mereka terhadap kitab Allah swt, niscaya dia akan mendapati makna-maknanya ibarat gelombang laut yang tak pernah habis dan tidak bertepi. Karena Al Qur’an adalah firman Allah Yang Mahatinggi dan Mahabesar.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pesan saya kepada kalian, wahai Ikhwan, hendaklah kalian menjalin hubungan dengan Al Qur’an setiap saat, supaya kalian mampu mendapatkan ilmu baru setiap kali berhubungan dengannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ya Allah janganlah Engkau biarkan kami mengurus diri kami sendiri walau sekejap pum, atau lebih cepat dari itu, wahai Sebaik-baik Dzat Yang Maha Mengabulkan!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div align="right" class="MsoNormal" style="text-align: right;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Hasan Al Banna&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-8368138061253469802?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/8368138061253469802/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=8368138061253469802&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8368138061253469802'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8368138061253469802'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2012/01/wasiatku-kepada-kalian-wahai-ikhwan.html' title='Wasiatku Kepada Kalian, Wahai Ikhwan'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Cb66F0yzJi8/TxYOZMguMeI/AAAAAAAAAZI/bDlvaD9DT4w/s72-c/hasanclassic.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-404435674149936224</id><published>2012-01-18T08:05:00.001+08:00</published><updated>2012-01-18T08:07:35.484+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna'/><title type='text'>Sekilas Tentang Tokoh Ini</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-r39u_OW6kVc/TxYMkvu6_eI/AAAAAAAAAZA/k_4vJe1sj_M/s1600/hasanclassic.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="307" src="http://2.bp.blogspot.com/-r39u_OW6kVc/TxYMkvu6_eI/AAAAAAAAAZA/k_4vJe1sj_M/s320/hasanclassic.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Saya mendengar tentang lelaki ini sejak sebelum beliau memindahkan dakwahnya dari Ismailia ke Kairo. Beliau seorang da’i yang sulit dicari bandingannya. Kaki beliau kokoh dalam menebarkan dakwah Islam. Saya sangat merasakan pengaruh yang positif dari beliau dalam perbaikan masyarakat. Itulah Imam Syahid Syaikh Hasan Al Banna – semoga Allah melimpahkan rahmat kepada beliau dan memasukkan beliau ke dalam syurgaNya yang luas, bersama para Nabi, shiddiqin, syuhada, dan orang-orang shalih –. Saya berkenalan dengan beliau di Kairo. Saya sering menghadiri ceramah yang beliau sampaikan di kantor Ikhwanul Muslimin pertama maupun kantor kedua, setiap hari Selasa, yang akhirnya dikenal sebagai “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Haditsuts Tsulatsa&lt;/i&gt;” atau yang beliau lebih suka menyebutnya “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Atifatuts Tsulatsa&lt;/i&gt;”.  &lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Hari Selasa ini, adalah hari-hari yang tersaksikan. Ribuan orang berkumpul dari berbagai penjuru Kairo, Iskandaria, sampai Aswan, bahkan dari luar Mesir. Mereka semua ingin mendengar Hasan Al Banna. Maka ia naik ke atas mimbar dengan jubah dan sorban putihnya, lalu sejenak mengitarkan pendangan kepada segenap hadirin, sebelum kemudian suara itu menggaung dengan kekuatan jiwa yang penuh dan kalimat-kalimat yang menyihir, yang segera merasuk dalam hati para pendengar. Suara itu tidak bertumpu pada retorika, juga tidak membakar emosi dengan teriakan. Suara itu sepenuhnya bertumpu pada kebenaran, membangun semangat dengan meyakinkan akal, menggelorakan jiwa dengan makna bukan dengan kata-kata, dengan ketenangan bukan dengan provokasi, dan dengan hujjah bukan dengan hasutan. Sehingga setiap orang yang pernah mendengarnya sekali, pasti akan terus mengikuti ceramah-ceramah itu secara rutin, betapapun kesibukan dan hambatannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya adalah salah seorang dari mereka yang terpesona dan antusias mendengarkan ceramah beliau, sehingga muncul keinginan pada diri saya untuk menyadurnya ke majalah “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;I’tisham&lt;/i&gt;”, meskipun pada masa itu orang-orang belum mengenal alat perekam (1940). Allah telah memberikan taufiq kepada saya untuk menyadurnya dengan metode yang jauh dari seni jurnalistik. Saya tidak mengerti dan tidak pernah mempelajari &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Stenografi&lt;/i&gt; dari seorangpun. Keinginan saya itu terwujud semata-mata karena ilham dan taufiq dari Allah swt agar saya berbahagia dengan terpeliharanya warisan agung ini. Semoga ia menjadi catatan amal baik saya. Maka, saya mulai mencatat ceramah hari Selasa itu sepanjang hidup Imam Syahid hingga menjelang wafatnya, r&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ahimahullah&lt;/i&gt;.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Saya mempunyai suatu kebiasaan, datang ke kantor Ikhwanul Muslimin menjelang Maghrib untuk melaksanakan sholat jamaah. Suatu ketika, setelah adzan dan iqomat, Imam Syahid pernah meminta saya mengimami shalat. Saya menolak karena malu dan segan kepada beliau. Beliau akhirnya berkata, “Shalatlah dengan perintah!” Maka tidak ada pilihan lagi bagi saya kecuali melaksanakan perintah dan mengikuti keinginan beliau tersebut. Seusai shalat, saya kembali bersama para hadirin mendengarkan ceramah beliau. Di antara mereka, saya adalah satu-satunya yang mencatat ceramah itu. Meski demikian, saya tidak meminta tempat khusus untuk menulis. Saya duduk di bagian paling belakang majelis tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Ada satu paradoks yang menakjubkan, yaitu saya selalu dikejutkan oleh berakhirnya ceramah beliau. Saya dapat mengira bahwa hal yang sama dirasakan pula oleh hadirin yang lain. Itu terjadi lantaran beliau menarik perhatian para pendengar di akhir ceramah dengan gaya yang lebih memikat daripada yang digunakan beliau untuk menarik perhatian mereka di awal ceramah. Saya tidak mengetahui, apa rahasianya. Tetapi, itu merupakan salah satu kelebihan beliau yang paling menonjol. Karunia Allah yang diberikan kepada siapa saja di antara hamba-hamba yang dikehendakiNya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Pada tahun 1945, Allah telah memberikan taufiq kepada saya untuk melaksanakan kewajiban haji. Jum’iyah Syar’iyah memberikan kehormatan kepada saya untuk memimpin delegasinya. Di sana saya berjumpa dengan Imam Syahid, di Negeri Haram dan Tanah Suci. Saya mendengarkan beberapa ceramah yang disampaikan beliau di penginapan “Mesir” di Makkah bersama para pimpinan delegasi Islam, atas undangan beliau. Saya juga mendengarkan ceramah beliau di Mina, Madinah Munawarah, dan di Darul Hadits. Semuanya saya catat. Perlu saya sebutkan di sini bahwa delegasi-delegasi itu berdatangan dari berbagai penjuru: dari Indonesia, Jawa, Srilanka, India, Madagaskar, Nigeria, Kamerun, Iran, dan Afghanistan. Mereka berkenalan dan berkumpul dengan beliau. Beliau berbincang-bincang dengan setiap delegasi mengenai masalah-masalah yang menjadi pusat perhatian mereka, tentang masalah dan problema yang mereka hadapi. Beliau menarik perhatian mereka, seakan-akan beliau datang dari negeri mereka, bukan mereka yang datang kepada beliau.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Karena itu wajar jika orang-orang berpandangan bahwa Hasan Al Banna merupakan figur yang unik di tengah-tengah manusia, bahkan di kalangan para pemimpin. Dengan watak dan karakternya, beliau telah mengukir sejarah dan mengubah arah perjalanannya. Beliau juga tergolong unik ketika wafat. Tidak ada yang menyalatkan beliau di masjid kecuali ayahnya. Tidak seorang pun di antara para pengikut beliau yang memenuhi dunia itu, yang berjalan di belakang keranda beliau, lantaran sebuah alasan yang sederhana, yaitu karena mereka pada masa itu sedang memenuhi penjara.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;Walaupun Imam Syahid Hasan Al Banna telah meninggal dunia, tetapi pemikiran beliau tidak akan mati. Pengaruh beliau masih ada dan terus berkembang, yang berwujud generasi-generasi yang dicetak beliau “di atas “meja hidangan” Islam dengan metode modern dan terlihat dalam perkembangan gerakan Islam yang mendunia, dimana beliau merupakan figur yang pertama kali menabur benihnya. Sungguh Hasan Al Banna adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mujadid&lt;/i&gt; (pembaharu) Islam di abad ke dua puluh. [wahidnugroho.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: justify;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: right;"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-size: 12pt; line-height: 115%;"&gt;Ahmad Isa ‘Asyur&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-404435674149936224?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/404435674149936224/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=404435674149936224&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/404435674149936224'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/404435674149936224'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2012/01/sekilas-tentang-tokoh-ini.html' title='Sekilas Tentang Tokoh Ini'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-r39u_OW6kVc/TxYMkvu6_eI/AAAAAAAAAZA/k_4vJe1sj_M/s72-c/hasanclassic.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-773127923602240253</id><published>2011-09-21T09:26:00.000+08:00</published><updated>2011-09-21T09:26:29.119+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Upgrade Domain</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;Bismillah. &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Alhamdulillah, domainnya sudah diapgred ke dotkom. Semoga bisa lebih memaksimalkan blog ini. Amin.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;[wahidnugroho.com]       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-773127923602240253?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/773127923602240253/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=773127923602240253&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/773127923602240253'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/773127923602240253'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/09/upgrade-domain.html' title='Upgrade Domain'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-2394768923319423306</id><published>2011-09-15T14:51:00.001+08:00</published><updated>2011-09-15T14:51:57.851+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>Tentang Anak-Anak Kita</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-F3nPhwAMMlI/TnGgKKhkiXI/AAAAAAAAAX0/_ZAwVCy8j9s/s1600/5.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://4.bp.blogspot.com/-F3nPhwAMMlI/TnGgKKhkiXI/AAAAAAAAAX0/_ZAwVCy8j9s/s400/5.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Sebuah kabar gembira datang dari ipar saya (saudara kembar istri) sore tadi. Persalinan putri pertamanya berjalan dengan lancar dan bayi yang dilahirkannya pun sehat. Mertua saya mengabarkannya dengan kata-kata yang menghambur bak air bah, seperti biasa yang beliau lakukan ketika sedang dilanda kepanikan. Alhamdulillah. Saya dan istri bahagia mendengarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Mendengar kabar itu, dini hari ini saya terdorong untuk membuka-buka beberapa koleksi foto kedua putri saya, Azka dan Fidel. Nggak terasa, keduanya semakin tumbuh dan berkembang. Polahnya semakin lucu dan menggemaskan, celotehannya semakin meramaikan hari, meski terkadang membuat hati dan badan pegal melihat aksi-aksi akrobatiknya. Bahkan mertua saya yang awalnya perhatian banget sama kerapihan rumahnya, sekarang cuek aja kalo kedua cucunya itu datang dan menghamburkan seluruh isi rumahnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Rumah kontrakan kami pun nasibnya nggak jauh beda dari rumah mertua. Mungkin sedikit lebih “parah” berhubung semua mainan dan buku-buku putri kami ada di sini semuanya. Malah saya sempat berkelakar dengan istri kalau rumah yang berantakan tandanya kedua putri kami sehat, dan, sebaliknya, rumah yang rapih tandanya kedua atau salah satu putri kami sakit. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Nyaris semua barang di rumah kami, yang memang sudah tak berperabot, bernasib menjadi mainan kedua putri saya. Mulai dari piring, gelas, sendok, garpu, sotil, panci, bejana minum, sumpit, buku-buku, handphone, keranjang pakaian, tempat pensil, sampai kardus tempat menyimpan sepatu dan sandal kami juga bernasib sama. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Terkadang, saat hati sedang keruh, “kekacauan” itu lumayan melelahkan hati. Tapi di lain sisi, saya cukup senang memerhatikan polah kedua putri saya ketika mereka sedang akur-akurnya. Entah apa yang mereka berdua pikirkan sehingga yang awalnya saling pukul dan menangis akhirnya kembali rukun dan tertawa bersamaan dengan celotehan yang hanya mereka berdua mengerti. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Saya memang bukan orangtua yang sempurna. Saya pun sesekali marah, kesal, dan dongkol&amp;nbsp; dengan aksi kedua putri saya. Saya akui itu. Kadang ketika sedang gemas-gemasnya, dan sudah kehabisan stok senyum dan kata serta kesabaran, kulit halus lembut mereka harus sedikit saya cubit untuk sekedar menahan mereka melakukan hal-hal yang berbahaya. Ketika air mata menganak sungai dan suara tangis mereka membahana, ada rasa bersalah di dalam diri ini. Saya pun mewajibkan diri untuk meminta maaf kepada keduanya ketika saya telah mencubit atau memarahi mereka. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Dalam sebuah kesempatan saya pernah melihat seorang ibu yang memarahi habis-habisan anak bayinya. Anak itu belum genap tiga tahun usianya, tapi sang ibu memarahi sang anak dengan hamburan kata-kata yang tak mungkin dapat dicerna anak seusianya. Ketika tangis sang anak meledak, ikut meledak pula kemarahan si ibu. Saya hanya mengelus dada saat melihat aksi sang ibu yang cukup menyita perhatian itu. Entah siapa yang harus saya kasihani, anaknya kah, atau sang ibu, atau malah keduanya? &lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Pemandangan itu telah mengajari saya tentang banyak hal. Anak-anak kita tetaplah anak-anak. Mereka memiliki dunia mereka yang sudah pasti berbeda dengan dunia kita sebagai orang dewasa. Mereka memiliki pola pikir yang kerumitan dan kedalamannya hanya mereka yang bisa mengurai dan mengukurnya. Keluguan dan kepolosan mereka, rasa ingin tahu yang meluap-luap yang kadang membahayakan jiwa mereka, adalah sketsa kehidupan yang mewarnai setiap desah nafas jiwa para orangtua. Tugas orangtua hanyalah mengarahkan agar sketsa itu bermetamorfosa menjadi lukisan terindah yang bisa membekali mereka untuk mengesankanNya kelak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Mohon maaf bila tulisan ini tak memberikan makna apapun bagi Anda yang sudah meluangkan waktu untuk membacanya. Saya hanya ingin meluapkan emosi yang bergolak di hati ini saat memandang wajah cantik kedua putri saya. Wajah yang selalu mengisi hari-hari saya dengan beragam ekspresi yang tak terhingga nominalnya. Itu saja.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;&lt;span style="line-height: 115%;"&gt;Simpong, September 2011 &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-2394768923319423306?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/2394768923319423306/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=2394768923319423306&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2394768923319423306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2394768923319423306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/09/tentang-anak-anak-kita.html' title='Tentang Anak-Anak Kita'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-F3nPhwAMMlI/TnGgKKhkiXI/AAAAAAAAAX0/_ZAwVCy8j9s/s72-c/5.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-1397796104892125853</id><published>2011-09-04T07:02:00.007+08:00</published><updated>2011-09-04T09:37:44.548+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cintabuku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bincang Buku'/><title type='text'>Bincang Buku: Ranah Tiga Warna &amp; The Historian</title><content type='html'>&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;span id="goog_609058674"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_609058675"&gt;&lt;/span&gt;Alhamdulillah, di awal bulan ke sembilan Masehi ini ada dua buku lagi yang sudah saya tamatkan. Buku pertama saya tamatkan dalam jangka waktu 2 hari: Ranah Tiga Warna, dan buku ke dua saya tamatkan dalam jangka waktu yang lumayan lama – sekitar 3 bulan: The Historian.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Ranah Tiga Warna&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Secara jujur saya akui bahwa baru Tetralogi Buru, buku serial karangan penulis lokal yang sudah pernah saya tamatkan. Selama ini, saya agak menghindari buku-buku fiksi dalam bentuk serial karena saya paling benci – dipaksa – menunggu (baca: penasaran) menamatkan sebuah buku dan kekhawatiran akan berubahnya kualitas buku yang pertama dengan yang ke dua, ke tiga, dan seterusnya. Lian Hearn adalah salah satu penulis yang membuat saya “frustasi” dalam hal ini. Trilogi Klan Otori yang sudah susah payah saya tamatkan, ternyata harus ditambah lagi dengan buku ke empat. Syukurlah saya hanya meminjam buku itu dari seorang teman, jadi saya tak perlu membeli buku ke empatnya, termasuk minat saya yang menguap untuk membacanya. Kita semua tentu masih ingat dengan antusiasme masyarakat ketika seri ke empat Tetralogi Laskar Pelangi belum diterbitkan dan euforia mereka saat bukunya sudah ada di pasaran. Saya tak termasuk dalam pusaran euforia itu, toh buku pertamanya saja belum saya tamatkan. Ini memang soal selera, dan saya tak suka jika selera baca saya harus diatur tempo dan dosisnya oleh sesuatu bernama Penerbit. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Negeri Lima Menara pun awalnya saya kira bukan buku serial. Mungkin ini karena kelengahan saya untuk menguliti buku ini secara lebih detail. Siapa tahu di satu dua sudut memang ada tulisan “buku sekian dari trilogi anu” yang dicantumkan penerbitnya. Saya hanya menemukan buku ini berada di dalam barisan buku-buku berdebu milik seorang kawan di Palu yang kamar kosnya sedang saya pinjam untuk sebuah keperluan. Buku berukuran agak tebal itu berhasil saya tamatkan dalam jangka waktu kurang dari 24 jam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ketika sampai di akhir buku, saya lumayan kecewa karena ternyata kisahnya belum selesai dan saya jadi “dipaksa” untuk menuntaskan rasa penasaran itu dengan cara menunggu buku selanjutnya terbit. Setelah sempat terlupa dengan kisah rinci di buku pertama, saya harus berterimakasih dengan seorang teman di kantor yang ternyata memiliki buku Ranah Tiga Warna ini. Setelah sempat saya diamkan beberapa hari, di hari pertama Lebaran, saya langsung membaca buku ini dengan rakus. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ranah Tiga Warna berkisah tentang Alif di masa kuliahnya di Bandung. Suka dukanya Alif dalam meniti kehidupan perantau di bumi parahyangan terekam dengan cukup detail di sini, termasuk kisah merah jingganya dengan gadis berkilau yang tinggal di dekat kostnya. Kisah berkembang dengan pengembaraan Alif dalam program pertukaran pelajar ke Kanada, sebuah tempat di benua Amerika yang telah lama ia impikan untuk menginjaknya. Buku ini mengajarkan mutiara ke dua bernama Man Shabara Zhafira, setelah mutiara Man Jadda Wa Jadda di buku pertama, yang berarti siapa yang bersabar dia akan beruntung.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Alur dan isi cerita di dalam buku ini pun seiring sejalan dengan kilau mutiara itu. Bang Fuadi lumayan banyak menyajikan kisah pilu nan sendu dari perantauan Alif, termasuk ketika ayahandanya meninggal dan dirinya mengalami kesulitan finansial. Di sini pembaca akan mengalami pasang surut emosi ketika Alif, seorang yang dikenal di buku pertama memiliki kemauan dan tekad yang membaja harus berhadapan dengan cobaan hidup yang tak mudah. Namun dengan kesabaran dan pikiran positif, semua masalah dan cobaan hidup yang melandanya bisa dilewati, meski tak mudah, bahkan memberikan banyak sekali bekalan hidup bagi Alif. Jujur saja, saya jadi termotivasi dan tergugah dengan beberapa keping kisah si Alif dan segala pernak-perniknya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Memang ada beberapa bagian yang cukup &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;lebay&lt;/i&gt; di buku ini, tapi itu bukan masalah bagi saya. Saya suka dengan narasi penulis, guyonan-guyonan dan celetukannya, dan semua penulis asal Sumatera Barat memang memiliki warna uniknya tersendiri dalam menarasikan dan melabelisasikan sesuatu. Penulis juga menyelipkan dosis merah-jingga yang lumayan berimbang dan proporsional di buku ini. Meski di penghujungnya dosis itu terasa agak menguat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Akhir kisah ini agak klise dan lumayan gampang ditebak. Tapi saya tidak akan tulis akhirnya di sini, jadi silakan saja Anda nikmati sendiri bukunya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;The Historian&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Berawal dari beberapa pucuk surat dan sebuah buku tua yang tergeletak di atas lemari perpustakaan pribadi ayahnya, seorang gadis muda melakukan penelusuran yang berliku dari sebuah kepingan sejarah di masa lalu yang belum tersusun secara lengkap hingga hari ini. Kisah berkembang dengan “wawancara” sang gadis dengan ayahnya sambil mengunjungi beberapa negara Eropa yang eksotis, mistis dan romantis. Dari kisah-kisah yang dituturkan sang ayah tentang masa lalunya yang gelap, maka dimulailah perburuan kepingan sejarah yang kelam itu sampai akhirnya mengantarkan mereka pada sumber kegelapan itu untuk kemudian memusnahkannya: Vlad Tepes si Penyula atau yang dikenal dengan nama Dracula. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Butuh waktu nyaris tiga bulan bagi saya untuk menamatkan buku yang sangat, sangat luar biasa ini. Membaca buku ini saya diajak untuk berkunjung ke negeri-negeri kuno di Eropa Tengah, menikmati aroma masa lalu dari tumpukan buku dan manuskrip-manuskrip antik di perpustakaan-perpustakaan besar Eropa yang berdebu, serta mengunjungi beberapa situs bersejarah dunia Kristen abad pertengahan yang diselimuti aroma mitos, legenda dan kisah-kisah takhayul seputar abad pertengahan, termasuk seluk-beluk kehidupan Dracula. Asyiknya buku ini tidak melulu soal kekejaman Dracula yang legendaris, tapi juga aspek politik, ekonomi, dan sosio-kultural Sang Penyula disajikan secara gamblang oleh penulisnya, termasuk perseteruan sepanjang hayatnya dengan Sultan Mehmed II Sang Penakluk (Muhammad Al Fatih) di Kostantinopel. Enam ratus halaman lebih sudah saya baca, tapi rasa penasaran – sekaligus ketakutan – saya belum juga terpenuhi, apakah Dracula benar-benar masih hidup di zaman modern ini?&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Elizabeth Kostova konon memerlukan waktu – bayangkan – sepuluh tahun untuk menyelesaikan buku ini. Aroma buku ini sangat kelam, seram, tapi juga menggairahkan. Kostova sangat paham kapan dan dimana ia menempatkan gairah yang menggebu akan pengetahuan tentang sejarah dan kapan ia harus menempatkan horor yang mencekam dan memucatkan wajah. Terkadang, kisah horor itu agak sedikit terlupakan karena rasa ingin tahu akan bagian sejarah yang belum terkuak begitu kuat berdesakan di dalam tempurung akal saya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Maka tak heran kalau setiap bagiannya ditulis dengan sangat detail, rinci, dan sangat menguasai tema yang berlipat-lipat. Saya sampai bisa merasakan kecutnya susu kambing yang disajikan Baba Yanka di sebuah desa di pedalaman Bulgaria kepada Paul, ayah sang gadis muda itu karena saking jelas narasi penulisnya. Oh iya, buku ini akan terasa nikmat bila &lt;i&gt;dikrikiti&lt;/i&gt; pelan-pelan. Anda tentu takkan melewatkan pesona tanah Eropa yang dideskripsikan secara gamblang oleh Kostova.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Buku ini, menurut saya, seolah ingin mengatakan bahwa rasa ingin tahu terkadang bisa membunuh kita. Bisa dalam artian secara harfiah bisa sebaliknya. Kadang ada bagian dalam parade sejarah dunia yang panjang yang tidak ingin kita ketahui padahal ia nyata terjadi. Kisah-kisah hitam yang terjadi dalam sejarah manusia, bahkan dalam sejarah agama, perlu kita sikapi dengan arif dan bijaksana agar ada pelajaran dan hikmah yang bisa kita ambil darinya. Pengabaikan sejarah hitam nan kelam yang nyata terjadi itu justru akan semakin menjauhkan kita dari hakikat kemanusiaan yang memang tak lepas dari salah dan dosa serta menyuburkan benih-benih dendam kesumat yang menuntut kita untuk dibalaskan sampai tuntas.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tak banyak yang bisa saya sajikan di tulisan ini. Saya merasa, suara dentangan lonceng di biara-biara di balik pegunungan Bulgaria, atau aroma kuno tanah Hongaria, serta bau debu manuskrip langka di perpustakaan Istanbul masih begitu menguasai indra ini.Selebihnya silakan Anda nikmati sendiri citarasanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Simpong, September 2011 &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-1397796104892125853?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/1397796104892125853/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=1397796104892125853&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/1397796104892125853'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/1397796104892125853'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/09/bincang-buku-ranah-tiga-warna-historian.html' title='Bincang Buku: Ranah Tiga Warna &amp; The Historian'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-3502465954732693791</id><published>2011-08-25T09:50:00.003+08:00</published><updated>2011-08-25T09:59:16.385+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>Nostalgia Motor Lawas</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://img2.tokobagus.com/26/95/2660952_9288111_detail.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://img2.tokobagus.com/26/95/2660952_9288111_detail.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pagi ini gue jalan-jalan di kaskus dan nemu thread &lt;a href="http://www.kaskus.us/showthread.php?t=10276786"&gt;ini&lt;/a&gt;. Setelah ikutan posting di situ, gue jadi keingetan sama motor lawas almarhum bapak yang udah banyak berjasa buat &amp;nbsp;gue dan temen-temen gue. Kenapa gue bilang berjasa? Coz motor lawas itu dijadiin gue buat ajang belajar naek motor. Selain gue, temen-temen sebaya di lingkungan deket rumah juga ikutan belajar pake motor itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Oh iya, motor itu kalo nggak salah Kawazaki Binter 1982. Warnanya oranye, plat merah (gue lupa nomernya), sadelnya udah pada robek n tangkinya udah bocor, lampunya redup banget (belakangan malah rumah bohlamnya dilepas gara-gara udah koplak hehe), dan di tambalan tangkinya ada potongan sabun mandi hahaha. Mana pembakarannya juga udah ngaco, jadi sering kali businya ngambek bin ngadat. Walhasil, gue sampe lupa udah berapa kali ndorong motor itu gara-gara mogok. Belom lagi suaranya yang kayak kaleng rombeng. Ibarat kata gue nyalain motor di rumah, suaranya bisa nyampe rumahnya Bang Dani di TK.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Dulu gue belajar naek motor ini sama almarhum bapak di lapangan belakang rumah yang sekarang udah poll sama rumah-rumah. Di lapangan tanah merah yang dulu berfungsi buat maen bola itulah gue muter-muter tiap pagi dan sore. Di saat anak-anak yang baru puber belajarnya sama Astrea or Satria, gue belajar pake motor dekil itu. Awalnya sih malu, mana suaranya cempreng. Tapi seiring berjalannya waktu gue cuek eja. Yang penting bisa naek motor. Gue juga kelilingin komplek pajak n deplu buat nambah jam terbang (hasyah). Kadang gue keluar ke jalan Ceger atau nyoba-nyoba sampe ke Kreo puter ke Deplu. Pokoknya rute-rute yang nyante-nyante aja. Dan sebagaimana yang gue bilang, motor ini langganan mogok. Jadi kesabaran gue di masa belia bener-bener diuji sama kelakuannya yang gak tau adab itu hahaha..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ngemeng-ngemeng tentang mogok, gue jadi inget pas bulan Puasa entah taun berapa dulu. Kalo gak salah gue abis pulang dari rumah temen di Kreo karena ada urusan. Waktu itu udah jam 4 sore dan buka puasa masih sekitar 2 jam-an lagi. Nah, pas sampe di Pasar Kreo, motor itu mogok. Asli kagak mau nyala. Gue cek bensin, ternyata masih banyak. Gue bersihin busi sampe kinclong tapi masih ngadet juga. Wah, kacrut banget. Mana aus, capek, lemes. Jadilah gue ndorong motor itu dari Kreo sampe rumah gue di Pondok Betung. Bisa dibayangin gak sih? Bulan puasa, cuaca panas, eh ndorong motor mogok, jauh pula. Kan keliatannya nggak banget. Mosok orang ganteng bin keren gini ndorong motor mogok, motor jadul pulak hahaha.. Sesampenya di rumah, kurang lebih 1 jam-an kemudian, gue langsung tepar. Mau batalin puasa kok tanggung, mau lanjut kok lemes. Walhasil tidurlah gue sampe Maghrib. Kalo ngenang masa itu gue suka senyum-senyum sendiri. Dan emang gue akuin kalo momen yang paling gue kenang dari motor itu ya pas ndorong di bulan puasa itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Motor ini juga punya posisi yang cukup ”penting” di SMA gue dulu. Jadi ceritanya pas gue SMA (lupa jelasnya mulai kelas berapa) gue bawa motor ini ke sekolah. Kebayang donk, orang keren macem gue bawa motor lawas, suaranya berisik,&amp;nbsp; plat merah pula. So, kalo pas gue masuk gerbang sekolah, dijamin nyaris semua mata kan memandang ke arah suaranya yang cempreng itu. Trus tongkrongan motor ini jelas banget, di deket gudang paling pojok, di bawah pohon belimbing botol, deket gang ke arah Mushala As Sadariyah. Sengaja gue taro di situ biar disangkain motornya guru hahaha...&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Oh iya, berhubung sering banget mogok, motor ini juga sering banget gue parkir di sekolah. Gile aje mau ndorong ke rumah. Tau ndiri tekapenya SMA 90 kayak naek turun jurang gitu *tepokjidat. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pokoknya, banyak banget deh kenangan gue sama motor itu di masa SMA. Dan nyaris semuanya berkesan buat gue hehehe...&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Beranjak ke kuliah, gue juga sering bawa motor ini. Sebenernya dulu almarhum Bapak juga punya motor jadul satu lagi, Honda Astrea Star yang spakbornya dower itu wkwkwk. Cuman karena motor yang satu itu beliau pake buat ngojek n belanja, jadilah gue tetep setia pake si plat merah buat kemana-kemana. Kecuali pas beliau nggak pake motor itu, barulah gue culik dia.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Gue nggak inget persisnya kapan motor itu dateng. Seinget gue, waktu itu almarhum bapak dipindah tugas ke Cengkareng setelah sebelumnya di Kota. Almarhum bapak dulu gawe di Pemda DKI, gitu. Nah, pas beliau pindah di Cengkareng itulah motor ini datang. Kalo gak salah, pindahnya beliau ke Cengkareng berhubungan juga dengan masa pensiun beliau yang udah deket. Jadi pas beliau pensiun, motor itu diboyonglah ke rumah. Gue sendiri nggak tau (atau lupa) berapa persisnya harga tebusan motor itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sejak bapak sakit dan kuliah gue di STAN udah menjelang kelulusan, motor itu udah jarang banget dipake. Jadilah dia teronggok begitu aja di teras rumah. Keujanan, kepanasan, walo sesekali masih bisa dipake. Gue sendiri sebenernya pengen banget mbetulin motor itu cuman berhubung bokek bin kanker bin tongpes bin nggak punya duit jadilah niat hanya sekedar niat. Ketika bapak meninggal (atau sebelumnya gitu, gue lupa) dan gue ada di Luwuk, gue dapet kabar kalo motor itu udah dikiloin. Gak tau berapa lakunya. Walo dalam hati gue sebenernya nyesel banget nggak keburu ngoprek motor itu buat layak pakai. Padahal motor antik bin langka bin lawas banget tuh.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Huahh, bener-bener memorable motor-cycle banget!&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Satu hal lagi yang gue seselin, kenapa dulu gue gak sempet ndokumentasiin foto motor ini yak. Sekarang kalo ngenang lagi motor itu, gue suka nyesel banget nggak punya foto gue pas naek motor ini atau pas lagi belajar bareng almarhum bapak n temen-temen. Kalo inget itu kok tiba-tiba aja gue jadi sedih. [wahidnugroho.blogspot.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;H2, Agustus 2011&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Miss you so much, dad :’)&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-3502465954732693791?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/3502465954732693791/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=3502465954732693791&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3502465954732693791'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3502465954732693791'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/08/nostalgia-motor-lawas.html' title='Nostalgia Motor Lawas'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5958740387607709249</id><published>2011-08-21T00:32:00.002+08:00</published><updated>2011-08-22T08:22:20.301+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>Di Penghujung Ramadhan</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_2Nd4tF5pSEI/S_PEKlF3A5I/AAAAAAAAAGY/dWif0qO6fRg/s1600/WaningCrescentMoon.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://3.bp.blogspot.com/_2Nd4tF5pSEI/S_PEKlF3A5I/AAAAAAAAAGY/dWif0qO6fRg/s320/WaningCrescentMoon.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bulan pucat menggantung di angkasa hitam pekat. Sinar lembutnya menggenang di permukaan teluk yang berkabut. Malam berjalan begitu lambat, ditemani angin yang dinginnya sangat. Para nelayan masih sibuk menjala rezekinya di tengah laut, meninggalkan malam yang semakin beranjak larut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ombak di lautan bergerak lamban menyapa sang pantai. Berbilang muda-mudi bercengkerama di tepiannya dengan santai. Sebongkah tawa dan seutas senyum menghiasi wajah belia mereka. Yang putri berbalut kerudung tak menutupi dahi, yang putra masih dengan kopiah di kepalanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan berlalu oh tiada terasa, menuju penghujungnya yang sesaat lagi menyapa. Waktu berlalu tanpa membawa makna, amal, pahala apatah lagi ridhaNya. Tilawah dan dzikrullah makin hari berbilang jarang, sedang dosa yang menumpuk tak jua berkurang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aduh, ruginya diri ini, bila dosa khilaf tak diampuni. Bulan suci tak tentu kan datang lagi, menyapa hayat yang tak pasti kapan kan mati. &lt;/span&gt;[wahidnugroho.blogspot.com]&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Tanjung, Agustus 2011&lt;/i&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5958740387607709249?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5958740387607709249/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5958740387607709249&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5958740387607709249'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5958740387607709249'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/08/di-penghujung-ramadhan.html' title='Di Penghujung Ramadhan'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_2Nd4tF5pSEI/S_PEKlF3A5I/AAAAAAAAAGY/dWif0qO6fRg/s72-c/WaningCrescentMoon.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-1148939415286155864</id><published>2011-08-20T22:20:00.002+08:00</published><updated>2011-08-22T08:22:14.641+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merah Jingga'/><title type='text'>Sepenggal Kisah Klasik Untuk Masa Depan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_nPurwpW51B4/TUQXcSXzX9I/AAAAAAAAAMc/cocFy8J9aCc/s1600/couple_ours_zoom.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://1.bp.blogspot.com/_nPurwpW51B4/TUQXcSXzX9I/AAAAAAAAAMc/cocFy8J9aCc/s400/couple_ours_zoom.jpg" width="355" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;So make the best of this test, and don't ask why&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;It's not a question, but a lesson learned in time&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;It's something unpredictable, but in the end it's right. &lt;br /&gt;I hope you had the time of your life&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;(Green Day)&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Dulu gimana &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;de pe&lt;/i&gt; cerita bisa ketemu &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;maytua&lt;/i&gt;, mas?”&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pertanyaan itu menghentikan aktivitas sarapanku untuk beberapa saat. Kuteguk air putih dari gelas plastik yang ada di hadapanku. Kerongkonganku terasa sedikit lega saat air hangat-hangat kuku itu melewati rongganya yang penuh dengan kunyahan nasi dan telur &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ceplok&lt;/i&gt;. Kantin tampak sepi. Waktu masih menunjukkan pukul tujuh lewat beberapa menit. Ibu itu, sang penanya, tampak menunggu jawabanku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Saya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;te&lt;/i&gt; pernah ketemuan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;den&lt;/i&gt; dia, bu. Langsung nikah”, jawabku sekenanya. Penuh rasa penasaran, ibu itu bertanya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Masak kan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;te&lt;/i&gt; pernah ketemuan?”, wajahnya menunjukkan ekspresi tidak percaya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Iya. Coba saya tanya sama ibu &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;e&lt;/i&gt;, pernah liat saya ada &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ba jalan den&lt;/i&gt; cewek?”, tanyaku. Ia menggeleng. Ah, ia mungkin tak tahu detail itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Baru&lt;/i&gt;, bagaimana &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;de pe&lt;/i&gt; cerita mas bisa kawin &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;den&lt;/i&gt; mas &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pe maytua&lt;/i&gt;?”, kejarnya lagi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku tersenyum. Kuteguk kembali air putih di gelas plastik berwarna putih susu itu. Sambil memasukkan sesendok nasi dan potongan telur &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ceplok&lt;/i&gt; ke dalam mulut, aku menceritakan kisah pertemuanku dengan wanita yang kini menjadi istriku itu. Saat bercerita, aku memerhatikan ekspresi tak percaya yang terbit di wajah penanyaku itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Jadi &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Bagitu e&lt;/i&gt;?”, ujarnya takjub. Aku mengangguk mantap. Kutinggalkan sang penanya dengan ketakjubannya dan kembali menenggelamkan wajahku ke dalam sarapanku yang tinggal tak seberapa itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setiap kita mungkin punya cerita-&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;behind-the-scene &lt;/i&gt;tentang bagaimana kita bertemu dengan pasangan kita dan kisah saat kita memutuskan untuk menikahinya. Aku sendiri memilikinya. Kisah yang mungkin bagi Anda biasa saja, tapi bagiku istimewa. Tak ada pernak-pernik yang unik, tak ada dinamika yang menggelora. Segalanya berjalan cukup lancar kecuali satu hal: dana yang kumiliki tak seberapa banyak. Syukur alhamdulillah, kebaikan beberapa sahabat melancarkan semuanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pada suatu malam, ketika kedua putriku telah tenang dan sudah siap berlayar di alam mimpi, si kakak berbaring di sisiku dan si adek sedang asyik menyusu ke umminya, aku menceritakan kisah itu kembali kepada mereka. Sudah pasti, kedua putriku tak mengerti dengan ceritaku. Tapi tak masalah. Lisanku bertutur lancar sambil sesekali melirik wajah istriku yang cukup sering mengoreksi kisahku karena ada beberapa bagian yang sengaja kuriwayatkan secara salah. Aku anggap hiburan koreksi itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Tau nggak, abimu ini, nak, karena ganteng, keren, dan baik hati, jadi dulu banyak akhwat yang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ha-dua-ce&lt;/i&gt;, lho”, kisahku sambil tersenyum nakal. “Mungkin salah satu dari akhwat yang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ha-dua-ce&lt;/i&gt; itu ya ummi kalian ini”, celotehku sambil cengengesan. Istriku melotot dan melancarkan serangan cubitan kecil di pinggangku. Terlambat, serangan itu mendarat mulus di pinggangku yang tak terkawal. Aku mengaduh, pura-pura kesakitan. Istriku tersenyum penuh kemenangan. “Anak bayi mana &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ngerti&lt;/i&gt; sama &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;ha-dua-ce &lt;/i&gt;biii”, protesnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Singkatnya, beginilah kisah pertemuanku dengan istriku, ibu dari anak-anakku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kami tidak pacaran. Itu redaksi istriku. Sedangkan redaksiku, aku tidak lagi pacaran. Aku bahkan tak begitu mengenalnya saat belum menikah dulu. Yang kutahu hanyalah bahwa ia baru saja menyelesaikan diplomanya di sebuah kampus di luar Luwuk. Nama kampus dan jurusannya, jujur saja, aku tak tahu, dan tak tertarik untuk tahu. Pertama kali aku melihatnya adalah di pelataran parkir Masjid Agung. Saat itu, aku dan beberapa teman sedang berolahraga bersama dan ia datang dengan dibonceng oleh lelaki yang awalnya kukira adalah orangtuanya – belakangan lelaki itu kuketahui adalah kakak sulungnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ketika itu, aku sedang menjalani proses ta’arufku dengan seseorang. Proses kali ketiga tepatnya. Yang pertama gagal karena suatu hal. Yang ke dua juga gagal karena layu sebelum berkembang. Dan yang ketiga, sebelum aku “berproses” dengan calon istriku, juga gagal karena lain hal lagi. Semua kegagalan itu kuhadapi dengan biasa saja. Tak ada penyesalan, tak ada kegundahan. Aku memang bertekad tak melibatkan perasaan sebelum kata khitbah diucapkan oleh waliku kepada walinya. Tentang bagaimana rincian kegagalannya, cukup aku, istriku, perantaraku, dan Allah saja yang tahu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ia memang bukan yang pertama, kuakui. Tapi aku bersyukur dengan kegagalan demi kegagalan tersebut. Bersyukur karena saat berproses dengan istrikulah aku menemukan kemudahan demi kemudahan begitu deras mengalir. Allah mungkin memang menakdirkanku untuk menikahinya, pikirku saat itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Adalah seorang ustadzah yang mengenalkanku kepadanya. Prosesku yang kedua dan ketiga juga diurus olehnya, walau gagal. Ustadzah ini adalah istri dari temanku. Pada suatu pagi yang cerah, di lantai tiga kantor lamaku, aku menerima telepon dari suaminya, temanku itu. “Tolong ke rumah nanti siang ya”, pintanyaa. Aku mengiyakan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Selepas istirahat kantor, aku memenuhi permintaannya. Saat dalam perjalanan menuju rumahnya, aku sudah bisa menerka apa maksud di balik permintaan ini. Tapi kuikuti saja alurnya. Aku tak ingin merusak suasana, batinku.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setiba di rumahnya, sambil ditemani celoteh putra-putrinya yang tak pernah usai, temanku dan ustadzah – istrinya –, mulai membicarakan maksud permintaan mereka berdua kepadaku. Beliau, ustadzah, mengatakan bahwa ada seorang akhwat yang siap menikah. Orangnya begini dan begitu, jelasnya panjang kali lebar, sekian dan sekian. Aku menyimaknya. “Pak Wahid buat saja biodatanya”, tutup sang ustadzah. Aku mengiyakannya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Singkat cerita, aku menerima tawaran sang ustadzah dengan lapang dada. Sejak awal, aku memang sudah mempercayakan urusan ini kepada beliau. Ketika prosesku gagal dulu, beliau bahkan sempat berseloroh, “Andai anak perempuan saya yang paling besar udah lulus SMA, tak nikahin sama sampeyan deh, Mas Wahid”. Aku tahu perkataan itu bertujuan untuk menghiburku. Aku menyambutnya sambil bercanda, sudah pasti.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Akhirnya, detail sang akhwat calon istriku itu mulai terkuak begini dan begitunya. Tak sampai sepekan, aku memutuskan untuk meng-&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;khitbah&lt;/i&gt;-nya, dan sekitar sebulan kemudian kami berdua menikah, meski jujur saja, tak ada yang istimewa dari resepsinya yang, menurutku, cukup berantakan. Tapi aku tak menyesali yang sudah berlalu itu. Kadang, isu resepsi-berantakan tersebut kami jadikan bahan guyonan untuk sekedar menertawakan masa lalu dibarengi tekad untuk memperbaikinya saat anak-anak kami menikah kelak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;***&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kulirik putri pertamaku yang sudah terlelap. Sementara putri ke duaku masih asyik menyusu kepada umminya. Ia memang agak susah tidur, berbeda dengan sang kakak yang bisa tidur kapan dan dimana saja. Kupasang senyum menggoda untuk istriku dengan maksud mengungkit kisah rekaan kepada kedua putri kami barusan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Huu, abi ini emang suka pamer”, sungutnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Aku cengengesan mendengar cibirannya yang terdengar lucu itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Tapi cerita tentang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;akhwat-akhwat&lt;/i&gt; tadi bohongan, kan?”, tanyanya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Eh? [wahidnugroho.blogspot.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;H2, Agustus 2011&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Sebagian adegan dalam tulisan ini didramatisir di sana dan di sini :)&amp;nbsp;&lt;/i&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-1148939415286155864?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/1148939415286155864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=1148939415286155864&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/1148939415286155864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/1148939415286155864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/08/sepenggal-kisah-klasik-untuk-masa-depan.html' title='Sepenggal Kisah Klasik Untuk Masa Depan'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_nPurwpW51B4/TUQXcSXzX9I/AAAAAAAAAMc/cocFy8J9aCc/s72-c/couple_ours_zoom.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5088050597322220690</id><published>2011-08-18T09:33:00.003+08:00</published><updated>2011-08-18T09:59:13.588+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cintabuku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bincang Buku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretan Corner'/><title type='text'>20 Buku Yang Memengaruhi Hidup (2007-2011)</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-lM-0xj6I2tU/Te-WCe7rg7I/AAAAAAAAAUs/gKrqKk6bp8o/s1600/product-descr-book__v4948744_.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="272" src="http://2.bp.blogspot.com/-lM-0xj6I2tU/Te-WCe7rg7I/AAAAAAAAAUs/gKrqKk6bp8o/s320/product-descr-book__v4948744_.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Seorang &lt;a href="http://www.facebook.com/profile.php?id=1478228028"&gt;sahabat baik&lt;/a&gt; telah meminta saya untuk membuat daftar buku-buku yang menjadi favorit saya setelah tulisan tentang &lt;a href="http://wahidnugroho.blogspot.com/2011/08/20-nasyid-favorit-saya.html"&gt;20 Nasyid Favorit&lt;/a&gt; saya tempo hari. Tiba-tiba saja, saya jadi teringat empat tahun yang lalu, di bulan Desember, ketika saya membuat sebuah &lt;a href="http://newgie68.multiply.com/journal/item/33/Buku_Yang_Memengaruhi_Hidup"&gt;tulisan&lt;/a&gt; tentang buku-buku yang memengaruhi hidup saya. Setidaknya sampai medio tersebut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya membaca kembali tulisan – sederhana – itu, saya merasa memang sudah saatnya untuk sedikit memilah dan memilih buku-buku yang telah membentuk pemikiran saya selama kurang lebih empat tahun ini. Bertambahnya – nominal – usia dan berubahnya status marital, sedikit banyak akan memengaruhi kecenderungan baca saya. Saya akui, memang ada sedikit perubahan pada sisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menyusun daftar ini ternyata tidak mudah. Saya harus membuka-buka kembali catatan-catatan lama dan juga membaca kembali daftar buku-buku yang saya miliki dan yang sudah tak lagi saya miliki. Saya juga harus mengingat kembali buku-buku pinjaman yang pernah saya baca dari beberapa teman. Alhamdulillah, beberapa catatan di blog dan di arsip hardisk saya masih cukup baik tersimpan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Daftar berikut ini berisi dua puluh buku yang menjadi favorit saya dalam kurun waktu Maret 2007 – Agustus 2011. Subjektifitasnya tentu akan pekat terasa. Saya juga hendak memohon maaf apabila kedalaman tulisannya tidak terlalu menggembirakan. Saya hanya akan sedikit memberikan kesan singkat terhadap buku-buku yang dimaksud tanpa memisahkannya dalam kategori fiksi atau nonfiksi. Maklum saja, saya punya keterbatasan intelektual yang menghalangi saya untuk membuat review brilian dan bertabur istilah “langitan” yang berpotensi mengerutkan dahi pembacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1. Memoar Hasan Al Banna Untuk Dakwah dan Da’inya&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hasan Al Banna memang tidak pernah membuat buku. Buku-buku yang beredar saat ini atas namanya adalah kumpulan tulisan beliau yang dikumpulkan oleh para pengikutnya yang begitu mencintainya. Di antara semua bukunya yang begitu luar biasa, saya memilih &lt;a href="http://newgie68.multiply.com/reviews/item/1"&gt;Memoar Hasan Al Banna&lt;/a&gt; sebagai buku favorit saya. Alasannya sederhana: Buku ini mencerminkan ketulusan dan kebeningan jiwa penulisnya dalam mendakwahkan Islam di Mesir awal abad dua puluh yang kemudian mendunia hingga saat ini. Kisah yang sangat berkesan di buku ini adalah kisah tentang dakwah beliau di warung kopi yang akhirnya merekrut beberapa barisan awal organisasi Al Ikhwan Al Muslimun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2. Mencari Pahlawan Indonesia&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Agak sulit untuk menentukan buku Anis Matta yang manakah yang sangat kuat memengaruhi hidup saya. Awalnya saya sempat berpikir Biar Kuncupnya Mekar Jadi Bunga-lah yang akan saya pilih, berhubung buku itu merupakan kumpulan tulisan beliau di majalah Ummi yang saya baca ketika masih SD/SMP dulu (lupa). Tapi akhirnya, pilihan saya jatuh kepada buku ini. Anis Matta memang brilian. Ide-ide besar itu disusunnya satu demi satu dalam kalimat prosa yang padat berisi dengan balutan kentalnya nuansa sastrawi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3. The Da Vinci Code&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Terus terang saja saya suka selera humor Dan Brown dalam setiap karyanya yang luar biasa. Dan harus diakui bahwa The Da Vinci Code merupakan karya Dan Brown yang paling membuat saya terkesan. Kisahnya yang berlipat, dan tentu saja, penuh kontroversi menjadi pelezat terbaik untuk buku ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4. Taiko&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Di antara semua novel yang pernah baca sampai hari ini, ada dua buku yang paling “berat” untuk saya konsumsi. Taiko adalah buku yang pertama dan The Name Of The Rose-nya Eco adalah yang kedua. Taiko berhasil memaksa saya untuk menghapal sekian banyak nama, tempat, benteng, dan jalinan konflik yang ruwet berlatar jaman feodal Jepang abad ke lima belas. Kalau Musashi terasa sedikit menyebalkan, Taiko benar-benar melelahkan. Saya sendiri harus membaca buku-bantal-berfont-kecil-berspasi-rapat itu dua kali untuk benar-benar bisa memahami alur ceritanya. Dan sepertinya, saya akan membutuhkan kesempatan ketiga. Mungkin lain kali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5. Anak Semua Bangsa&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Membuat daftar buku terbaik tentu tidak akan melewatkan seorang Pram. Ini mungkin terasa subjektif, tapi Tetralogi Buru akan kehilangan “ruhnya” bila melewatkan buku ini. Setidaknya menurut saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6. Harafisy&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Harafisy benar-benar membuat saya terpesona, dan sedikit penasaran, dengan Naguib Mahfouzh dan karya-karya lainnya. Saya sempat tergoda untuk memiliki beberapa karya peraih nobel sastra tahun 1988 ini. Hanya saja, kesempatan itu belum tiba juga. Semoga esok hari atau nanti, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7. Rihlah Ilallah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya, boleh dibilang, pengagum berat Najib Kailani. Novelis Mesir yang juga seorang dokter ini memiliki seabreg karya yang benar-benar “mengguncang”. Tulisannya yang selalu beraroma anti-kemapanan (atau anti-kezaliman) sedikit banyak telah mewarnai pandangan saya tentang kezaliman seorang penguasa. Najib sendiri kerap mengecap lantai penjara karena keterlibatannya dengan organisasi Al Ikhwan Al Muslimun yang kala itu terlarang di Mesir. Rihlah Ilallah, atau yang dalam edisi bahasa Indonesia yang lain berjudul Mempelai Sang Dajjal (terbitan Fitrah Rabbani), saya pilih menjadi buku favorit dalam daftar ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8. Kisah-Kisah Dalam Al Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Doktor Shalah Abdul Fattah Al Khalidi adalah salah satu penulis favorit saya. Ada beberapa judul karyanya yang menjadi koleksi saya. Buku ini menjadi istimewa karena kejelian Doktor Al Khalidi dalam membedah kisah-kisah di dalam Al Qur’an dan merefleksikannya dengan kondisi kontemporer. Laiknya telaga yang bening untuk bercermin dan membasuh diri, saya kira karya ini bisa dibilang seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;9. Manhaj Haraki&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Tak perlu banyak kata: Luar biasa!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. Fiqhus Shirah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya memang penggila sirah. Masih ada banyak buku-buku sirah di luar sana yang belum saya baca. Tapi karya Al Buthy ini adalah buku yang setia menemani saya sejak masa kuliah hingga hari ini. Entah sudah berapa kali saya baca sebagian atau keseluruhannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;11. Kado Pernikahan Untuk Istriku&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya, buku-buku Muhammad Fauzil Adhim semuanya istimewa. Tapi buku ini adalah yang paling luar biasa menggugah diri saya untuk mempersiapkan diri sebaik-baiknya sebelum menikah. Calon istri saya (yang kini sudah menjadi istri saya) pun dulu saya pinjami buku ini sebelum kami menikah. Sampai hari ini, saya masih cukup sering membuka-buka kembali isinya untuk sekedar berkaca atas apa yang telah terjadi dalam usia pernikahan saya yang belum seberapa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;12. Kiat Sukses Hafizh Qur’an Da’iyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya dilupakan dengan judul lama dari buku ini berhubung saya membacanya saat masih kuliah dulu. Kovernya berwarna cokelat waktu itu. Kini, buku itu telah bermetamorfosa menjadi sebagaimana judul di atas. Dalam hal ini, saya berhutang sangat banyak kepada Ustadz Abdul Aziz Al Hafizh atas buku yang luar biasa ini. Barakallahu fiyk ya Ustadz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;13. Tarbiyah Ruhiyah&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Buku ini selalu saya baca ketika semangat beribadah saya berada pada titik nadir. Ada banyak sekali buku tentang tema ini, tapi buku karangan Doktor Abdullah Nashih ‘Ulwan ini memiliki tempat tersendiri bagi saya. Mungkin bagi sebagian Anda ada yang merasakan hal yang sama dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;14. La Tahzan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Shaidul Khathir karangan Ibnul Jauzi memang buku yang luar biasa. Tapi La Tahzan istimewa. Saya rasa, banyak yang setuju dengan pendapat saya ini. Kalaupun ada yang tidak, selera memang perkara yang tidak bisa dipaksakan, bukan? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;15. Ayat-Ayat Cinta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sebelumnya saya hendak meminta maaf karena saya bukan penikmat sastra karya anak negeri. Tapi buku ini sedikit banyak telah mengubah pandangan saya tentang hidup. Saat membaca kembali buku ini saya mungkin akan menilainya sebagai sebuah hal yang naif. Tapi biar bagaimanapun, kenaifan tetap penting dalam dunia yang penuh dengan tipu daya ini. Terima kasih dan barakallahu fiyk buat Kang Abik atas karya luar biasanya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;16. Tarbiyah Menjawab Tantangan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya membaca buku ini saat masih SMA melalui buku pinjaman dari seorang teman. Awalnya ada banyak hal yang saya tidak mengerti dari buku ini dan karenanya saya kemudian memfotokopi buku ini untuk dapat dinikmati lebih lanjut. Kini, sepuluh tahun telah berlalu sejak saat pertama kali saya membacanya. Bagian yang paling saya ingat dari buku itu adalah tentang “Tahu”. Anda yang pernah membacanya pasti tahu bagian “Tahu” itu hehe..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;17. Berinteraksi Dengan Al Qur’an&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya suka dengan semua karya Syaikh Qardhawy, yang saya koleksi. Tapi buku inilah yang sangat berkesan. Selain karena ini adalah buku pemberian seorang teman saat SMA dulu, isinya pun tak kalah memikat. Saya dulu bahkan sempat membuat ringkasan beberapa babnya saat masih kuliah. Tapi karena kelalaian, arsip, baik hardcopy maupun softcopy-nya hilang entah kemana. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;18. Thauqul Hamamah – Untaian Kalung Merpati – Di Bawah Naungan Cinta&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Kalau Ibnul Qayyim dalam Al Muhibbinnya mengenalkan saya dengan kesucian cinta, Ibnu Hazm telah mengajari saya bagaimana mengejawantahkan cinta yang suci itu dengan cara yang manis dan romantis. Bagi Anda yang gemar tema merah-jingga, buku ini wajib Anda baca. Oh iya, ketiga judul di atas semuanya sama saja. Yang pertama adalah edisi bahasa Arabnya, yang kedua judul terbitan Serambi, dan yang terakhir terbitan Republika.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;19. Pilar-Pilar Asasi&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pilar-Pilar Asasi dan Warisan Sang Murabbi saya kira sama saja. Berhubung isi dari buku yang pertama merupakan bagian dari buku yang kedua. Saya telah menikmati tulisan beliau sejak tahun 2000. Waktu itu, ada majalah Tarbawi lawas yang iseng-iseng saya baca di Mushala As-Sadariyah di SMA 90 Jakarta. Setelah membolak-balik beberapa bagiannya, saya terpaksa harus berhenti untuk menyimak tulisan-tulisan yang, kala itu sampai hari ini, sangat sulit untuk saya pahami. Assasiyat, demikian nama kolom yang memuat tulisan itu. Saya bahkan mengumpulkan uang untuk membeli beberapa edisinya untuk kemudian memfotokopi dan menjilid tulisan-tulisan beliau bersama dengan dua kolom favorit saya yang lain: Ruhaniyat-nya Ustadz Muhammad Nursani dan – belakangan – Serial Kepahlawanan-nya Ustadz Anis Matta. Sampai hari ini, kopian itu masih tersimpan cukup baik di rumah saya di Jurangmangu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;20. Andaikan Buku Sepotong Pizza&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Excellent! You should read ‘em!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan akhirnya, dua puluh buku terasa sangat sedikit untuk dijadikan sebagai daftar buku yang menjadi favorit saya. Secara pribadi, tak ada buku yang tidak saya suka, se-ngaco atau seburuk apapun sebuah buku saya tetap menghargainya sebagai sebuah karya intelektual yang tidak mudah untuk dibuat. Hanya saja, ada beberapa buku yang hanya dibaca sekilas lalu dan beberapa buku lainnya yang menghunjam dalam hingga ke relung-relung jiwa. Dua puluh buku di atas mungkin sebagian kecil di antara buku-buku yang menghunjam itu. Sebagaimana yang Frank Zappa katakan, “So many books, so little time”, saya rasa, daftar ini harus diperluas menjadi lima puluh, seratus, atau bahkan seribu. Insya Allah suatu hari nanti kalau Allah berkenan. &lt;/span&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;[wahdnugroho.blogspot.com]&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Simpong, Agustus 2011&lt;/i&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5088050597322220690?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5088050597322220690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5088050597322220690&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5088050597322220690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5088050597322220690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/08/20-buku-yang-memengaruhi-hidup-2007.html' title='20 Buku Yang Memengaruhi Hidup (2007-2011)'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-lM-0xj6I2tU/Te-WCe7rg7I/AAAAAAAAAUs/gKrqKk6bp8o/s72-c/product-descr-book__v4948744_.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-7503831962668882350</id><published>2011-08-11T10:39:00.002+08:00</published><updated>2011-08-22T08:22:33.076+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>20 Nasyid Favorit Saya</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/uploads/2011/05/nasheed.gif" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="400" src="http://blog.burhanshadiq.com/wp-content/uploads/2011/05/nasheed.gif" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;Daftar nasyid yang ada di bawah ini saya pilih berdasarkan selera-subjektif saya - kebanyakan nasyid-nasyid lama. Sebagiannya karena liriknya yang kuat, sebagian karena musikalitasnya yang enak, dan sebagian karena ada kenangan yang mengiringi lantunannya. Oh iya, urutan yang saya buat ini bukan berarti urutan secara hierarkis ya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;1.&amp;nbsp; Kesetiaan - Alginat&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Nasyid ini adalah tentang seorang suami yang mensyukuri kehadiran istrinya yang setia dan selalu menghadirkan cinta dan kasih sayang dalam kehidupannya. Saat mendengar nasyid ini, saya jadi teringat dengan istri saya di rumah hehe...&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;2.&amp;nbsp; Adik Remajaku - Raihan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali saya mendengar nasyid ini saat saya masih kuliah. Liriknya sangat menyentuh dan jujur aja, saat mendengar nasyid ini saya jadi inget sama adek saya sendiri. Saya sendiri sangat menyukai literatur yang membahas dunia remaja. Kini, saat menikmati lantunan nasyid yang indah ini, saya berharap agar pesan yang terkandung di dalamnya bisa saya sampaikan kepada anak-anak saya ketika mereka beranjak remaja kelak.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;3.&amp;nbsp; Mahligai Cinta - Fayruz&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;No doubt! The most beautiful wed-nasyed ever! &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;4.&amp;nbsp; KAHJ - Tazakka&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dari semua nasyid Tazakka yang saya tahu, Karena Aku HambaMu Juga adalah nasyid terbaik yang paling saya suka. Liriknya bertutur tentang kepasrahan seorang hamba saat mengakui kesalahan dan dosanya, serta komitmennya untuk berubah ke arah yang lebih baik. Good job Tazakka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;5.&amp;nbsp; Latar Dunia Islam - Suara Persaudaraan&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ini pilihan yang sulit. Nyaris semua nasyid SP saya suka tanpa kecuali. Nasyid-nasyid SP memiliki keunikan tersendiri yang belum tertandingi oleh nasyider manapun di Indonesia. Gaya melanggamnya dan lirik yang dalam adalah keunggulannya.&amp;nbsp; Akhirnya, pilihan saya jatuh kepada nasyid Latar Dunia Islam ini. Nasyid ini mengingatkan saya pada Bojonggede Depok. Di tempat itu, sekitar tahun 2004 atau 2005, saya dan beberapa teman alumni SMA mengadakan acara daurah buat adek-adek rohis kami di SMA. Acara yang berlangsung dengan segala ke-acakadut-annya itu alhamdulillah terselenggara juga dengan baik hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;6.&amp;nbsp; Belum Kita Lupakan - Nowseeheart&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beautiful nasyid, beautiful lyric, beautiful music. All about this nasyid is about beauty. I love it.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;7.&amp;nbsp; Nocturn - Azzam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Walaupun saya nggak ikut dalam proses perekamannya, dan liriknya serta aransemennya telah beberapa kali berganti, Nocturn bagi saya adalah nasyid terbaik yang pernah dibuat oleh Azzam. Good job, bro!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;8.&amp;nbsp; Hidupmu Kan Berarti - Fatih&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Hidupmu Kan Berarti adalah nasyid yang sangat menggugah. Dari sekian karya Fatih, nasyid inilah yang paling berkesan bagi saya. Liriknya sangat kuat dan mengena. Saat sendiri atau kala dalam perjalanan, saya cukup sering menyenandungkan nasyid ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;9.&amp;nbsp; Hidayah - Gradasi &lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Gradasi saya kenal waktu saya masih SMA. Waktu itu saya dan kawan-kawan pernah ikut lomba nasyid di Gedung G Kampus STAN dan kalo nggak salah inget, ada Gradasi yang tampil waktu itu. Nasyid ini sendiri saya pilih karena mengingatkan saya sama Bandung. Sekitar tahun 2005 atau 2006, saat saya dan teman-teman Al Qossam ikut lomba nasyid di UPI Bandung, nasyid inilah yang menemani perjalanan pulang saya (pake walkman "jarahan" so pasti hehehe). What a memorable nasyid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;10. Sang Murabbi - Izzatul Islam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Membuat daftar nasyid favorit tentu nggak lengkap kalo nggak masukin Izzis. Tim nasyid, yang boleh dibilang, legendaris ini sudah menemani perjalanan hidup saya selama kurang lebih 10 tahun, mulai dari kelas 1 SMA hingga saat ini. Dan hari demi hari, Izis semakin menemukan kematangan bermusiknya. Dari semua karya-karyanya, nasyid inilah yang masuk dalam daftar nasyid favorit saya. Alasannya? Bagi saya, tak perlu ada alasan untuk tidak mencintai nasyid ini.&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;11. Ramadhan Kembali - Justice Voice&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan Kembali selalu mengajak kenangan saya kembali ke masa-masa sekolah dulu. Nasyid ini juga selalu saya senandungkan bersama anak-anak Azzam saat kami tampil di mall atau pun acara-acara Ramadhan lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;12. Bingkai Kehidupan - Shouhar&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Saya pikir, Bingkai Kehidupan nyaris menjadi nasyid favorit bagi setiap orang yang mengenal tim nasyid ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;13. Cinta Ilahi - Snada&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Cerita tentang nasyid ini lumayan panjang. Singkatnya, waktu SMA dulu saya dan teman-teman pernah ikut lomba nasyid, dan nasyid inilah yang jadi nasyid wajibnya. Berhubung wawasan saya dan teman-teman dalam dunia per-nasyid-an masih terbatas, jadilah kami jumpalitan (tentu bukan dalam makna yang sebenarnya) buat nyari tau, nasyid seperti apa Cinta Ilahi itu hahaha... Alhamdulillah ketemu juga dengan bantuan seorang teman. Oh iya, hasil lombanya gimana? GT alias GATOT TOTAL :p&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;14. Kasihmu Amanahku - InTeam&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Beautiful!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;15. Apakah Benar Engkau Seorang Pejuang - Qathrunnada&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Dengar saja sendiri, Anda pasti suka :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;16. Putiku Sayang - Hijjaz&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Just love it!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;17. Sepi Perantau - Brother&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Perantau pertama kali saya dengar saat saya masih SMA. Dulu nasyid ini nggak terlalu berkesan buat saya, tapi pas saya udah pindah ke Luwuk, nasyid ini tiba-tiba saja menjadi sangat berkesan hehe... You know what i mean lah :p&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;18. Ibu - Sakha&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Sakha termasuk nasyid atau bukan ya? Kalo iya, maka lagu Ibu-nya yang masuk ke dalam daftar saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;19. Suci Sekeping Hati - Saujana&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Selain karena ini adalah cover version dari nasyid lamanya The Zikr, Suci Sekeping Hati membuat saya terkenang masa-masa siaran di IC Radio waktu kuliah dulu. Anda yang IC'ers pasti tau lah alesannya :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;20. Manusia - Shaffix&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;Great!&lt;br /&gt;&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Nah, kurang lebih seperti ini lah daftar 20 nasyid favorit saya. Bagaimana dengan Anda? [wahidnugroho.blogspot.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;H2, Agustus 2011&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-7503831962668882350?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/7503831962668882350/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=7503831962668882350&amp;isPopup=true' title='5 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7503831962668882350'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7503831962668882350'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/08/20-nasyid-favorit-saya.html' title='20 Nasyid Favorit Saya'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>5</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-2471072362886577404</id><published>2011-08-05T14:47:00.001+08:00</published><updated>2011-08-05T16:00:44.936+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>Pak...</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-gnxnWf-IOVs/TjuRdu7yp1I/AAAAAAAAAXQ/UHyZt3PVglo/s1600/makam+bapak.JPG" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-gnxnWf-IOVs/TjuRdu7yp1I/AAAAAAAAAXQ/UHyZt3PVglo/s1600/makam+bapak.JPG" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Pak, tak sanggup jemari ini &lt;/div&gt;&lt;div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Menuliskan kata lebih banyak lagi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Hanya air mata yang meleleh di pipi&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;Mengenang kebersamaan kita yang cepat terhenti...&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal" style="text-align: center;"&gt;(Luwuk, 5 Agustus 2011)&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-2471072362886577404?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/2471072362886577404/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=2471072362886577404&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2471072362886577404'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2471072362886577404'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/08/pak.html' title='Pak...'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-gnxnWf-IOVs/TjuRdu7yp1I/AAAAAAAAAXQ/UHyZt3PVglo/s72-c/makam+bapak.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-8109478777152006690</id><published>2011-07-18T09:18:00.001+08:00</published><updated>2011-07-18T09:19:06.558+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merah Jingga'/><title type='text'>Strip Dua</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.tahukah.com/wp-content/uploads/2011/05/test-pack.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt; &lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.tahukah.com/wp-content/uploads/2011/05/test-pack.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://www.tahukah.com/wp-content/uploads/2011/05/test-pack.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Entahlah. Saya tidak bisa meluapkan cita yang menyala di dalam hati ini dengan kata berderai. Ada semacam kebahagiaan yang membuncah saat kabar gembira itu datang. Walau sempat terbetik keraguan apakah kami bisa menjalani amanah ini dengan baik, tapi saya tetap berprasangka-baik kepadaNya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Saya sendiri merasa ada luapan energi yang begitu bergolak di dalam diri ini saat kegundahan itu berjumpa kepastian. Anak-anak adalah amanah sekaligus anugerah, bagaimanapun cara dan masa mereka hadir di dunia ini. Kehadirannya tentulah harus disambut dengan gembira, senyum, dan perasaan penuh kesyukuran padaNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga momen ini menjadi titik-tolak perubahan saya ke arah yang jauh lebih baik daripada sebelumnya. Allah, mudahkanlah urusan kami ini. Selamat datang Ramadhan, selamat datang pula (calon) anakku.. Insya Allah. [wahidnugroho.blogspot.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;H2, Juli 2011 &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-8109478777152006690?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/8109478777152006690/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=8109478777152006690&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8109478777152006690'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8109478777152006690'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/07/strip-dua.html' title='Strip Dua'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-7714738190810674352</id><published>2011-07-17T19:58:00.005+08:00</published><updated>2011-07-17T20:07:35.710+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cintabuku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Impian Sederhana Tentang Bacaan Anak-Anak Kita</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-03ncEpTzVTM/TiLNAIgyYnI/AAAAAAAAAWM/bi-Xr0XXFX0/s1600/dedebaca.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://2.bp.blogspot.com/-03ncEpTzVTM/TiLNAIgyYnI/AAAAAAAAAWM/bi-Xr0XXFX0/s1600/dedebaca.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-03ncEpTzVTM/TiLNAIgyYnI/AAAAAAAAAWM/bi-Xr0XXFX0/s1600/dedebaca.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Malam itu saya sedang asyik-masyuk dengan buku yang sedang saya baca. Istri dan kedua putri saya sudah terlelap sejak beberapa jam yang lalu. Buku berjudul Room To Read yang ditulis oleh John Wood itu sebenarnya sudah lama sekali saya tamatkan. Malam itu, entah kenapa, saya meninggalkan buku The Historian-nya Elizabeth Kostova yang sedang saya baca dan beralih ke buku berkover biru langit itu, untuk sekedar membolak-balikan satu dua halamannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Room To Read adalah sebuah memoar inspiratif yang ditulis oleh John Wood, seorang mantan eksekutif di Microsoft. Perjalanannya ke Nepal dan mendapati bahwa negeri itu diliputi oleh keterbatasan sarana pendidikan berupa buku telah mengubah jalan hidup John secara drastis. Pekerjaan yang mapan dan penghasilan yang besar ditinggalkannya untuk kemudian memulai kehidupannya sebagai seorang filantropis yang bergerak dalam bidang pendidikan melalui Room To Read, sebuah organisasi nirlaba yang didirikannya bersama teman-teman seidenya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tapi kali ini saya tidak sedang membuat tulisan tentang buku itu. Saya hanya tertarik dengan tulisan John ketika dia bercerita tentang masa kecilnya yang sangat lekat dengan buku. Begini katanya:&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Semangat saya untuk membangun sebuah perpustakaan bisa ditelusuri secara langsung ke masa kecil saya. Ingatan saya yang paling awal dan paling jelas adalah membaca. Hari Minggu, ibu saya biasanya merangkai cerita dari bagian komik surat kabar untuk kegembiraan saya. Mata saya mengikuti gambar-gambar berwarna itu dan saya menanamkan cerita-cerita itu ke dalam ingatan. Menjelang tidur, saya selalu mendesak agar dibacakan berulang-ulang karya-karya Dr. Seuss: Go, Dog. Go!; Green&amp;nbsp; Eggs and Ham; There’s a Wocket in my Pocket!&lt;/i&gt;&lt;i&gt;. Selama perjalanan yang panjang dengan keluarga di dalam mobil, hidung saya biasanya terikat di buku, sementara saudara laki-laki dan perempuan saya saling memukul. Saya membaca dengan begitu rakus sehingga anggaran terbatas orangtua saya tak bisa mengimbangi. &lt;/i&gt;“ [Room To Read, halaman 20]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kisah John berlanjut saat sang ayah membelikannya hadiah berupa sepeda di Hari Natal-nya yang kesepuluh. Dengan sepeda tersebut, John kecil menghabiskan akhir pekannya ke perpustakaan umum di Athens, Pennsylvania, yang berjarak tiga mil dari tempat tinggalnya. John juga bercerita tentang “pelanggaran kecil” yang dilakukannya bersama petugas perpustakaan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sebagaimana perpustakaan lainnya, perpustakaan tempat John membaca hanya mengizinkan delapan buku saja yang bisa dibawa pulang, sedangkan John menginginkan lebih dari itu. Ceritanya bisa ditebak. John membuat kesepakatan rahasia dengan petugas perpustakaan, yakni hanya dirinyalah yang boleh meminjam buku melebihi batas minimal menjadi dua belas buku. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;John juga menuliskan tentang kebiasaannya membaca selain buku pelajaran ketika kelas sedang berlangsung. Tentang bagian ini, saya akui kalau saya juga salah satu pelakunya. Biasa saat guru menjelaskan, saya akan meletakkan buku komik atau buku lain di balik buku pelajaran yang sedang dibahas atau di kolong meja. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Membaca kisah John kecil di atas, saya teringat dengan &lt;a href="http://wahidnugroho.blogspot.com/2011/07/bukunya-anak-anak.html"&gt;buku-buku yang saya belikan&lt;/a&gt; untuk kedua putri saya. Buku-buku bergambar dengan tema-tema sederhana untuk balita itu memang sengaja saya beli agar masa kecil kedua putri saya selalu lekat dengan buku. Sebelumnya, saya juga pernah membeli beberapa buku anak obralan yang nasibnya sudah berakhir menjadi serpihan kertas yang tak tentu lagi rimbanya. Perpustakaan mini saya pun sempat terkena imbas semangat “kreativitas” kedua putri saya itu. Buku yang sedang saya bahas ini pun, seingat saya, entah sudah berapa kali terkena ompol putri-putri saya hehehe...&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Impian saya ini sebenarnya sederhana saja. Kalau John dan beberapa anak lain di belahan dunia ini memiliki kenangan dengan buku-buku di masa kecil mereka, saya pun ingin anak-anak saya demikian. Hanya saja, bukan kisah Putri Salju atau Cinderella yang kelak akan mereka kenang, namun buku-buku bergizi yang akan membentuk &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mind-set&lt;/i&gt; mereka menjadi muslimah yang berarti dalam penilaianNya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Semoga saja, apa yang saya impikan ini juga menjadi impian bagi anak-anak Anda pula. Mungkin suatu hari entah kapan, anak-anak kita tak lagi berdiskusi tentang siapa yang lebih cepat antara si Kancil atau Kura-Kura, atau tentang ukuran sepatu kaca Cinderella yang tak muat di kaki Drunella, atau kisah hidung panjang si Pinokio dari daratan Italia yang tak jelas kebenarannya, tapi kisah-kisah kepahlawanan Khalid di medan Mu’tah, atau kisah para satria muslim di bukit Badar, atau kisah heroik penggali parit yang dikomandoi seorang pemuda Persia bernama Salman, atau kisah orang pemuda Al Fatih yang berhasil mendobrak tembok kukuh Konstantinopel.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Semoga. [wahidnugroho.blogspot.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;H2, Juli 2011 &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-7714738190810674352?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/7714738190810674352/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=7714738190810674352&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7714738190810674352'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7714738190810674352'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/07/impian-sederhana-tentang-bacaan-anak.html' title='Impian Sederhana Tentang Bacaan Anak-Anak Kita'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-03ncEpTzVTM/TiLNAIgyYnI/AAAAAAAAAWM/bi-Xr0XXFX0/s72-c/dedebaca.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-2743281173474196555</id><published>2011-07-15T09:16:00.002+08:00</published><updated>2011-07-15T09:27:34.576+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cintabuku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bincang Buku'/><title type='text'>Furs e Ordinacions</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://c2.api.ning.com/files/sGT*AotH66m1bNDv0QilUHsIZwNidg-VCRH*N7Y1VSpVQm3IlcmGO252Xs1dkoYYpSl0URXSuO2bVQFK5FflkG0vNdD*4a-a/bibliomania.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://c2.api.ning.com/files/sGT*AotH66m1bNDv0QilUHsIZwNidg-VCRH*N7Y1VSpVQm3IlcmGO252Xs1dkoYYpSl0URXSuO2bVQFK5FflkG0vNdD*4a-a/bibliomania.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Furs e Ordinacions Fetes par Los Gloriosos Reys de Aragon als Regnicols del Regne de Valencia atau Maklumat dan Peraturan untuk Valencia merupakan buku yang telah lama diincar oleh Don Vincente. &amp;nbsp;Buku yang dicetak pada tahun 1482 oleh Lamberto Palmart, percetakan pertama di Spanyol ini awalnya dimiliki oleh seseorang yang tak dikenal. Don Vincente sendiri adalah biarawan Spanyol abad sembilan belas yang mahsyur sebagai seorang pencuri buku. Setelah lama menghilang, ia kemudian membuka toko buku antik yang memiliki jumlah koleksi luar biasa besar di Barcelona. Konon, ia justru dikenal lebih banyak membeli buku ketimbang menjualnya. Furs e Ordinacions ini merupakan volume yang sudah lama diincarnya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pada tahun 1836, pemilik buku ini meninggal dunia dan ahli warisnya kemudian melelang buku tersebut. Sebagai buku yang diduga merupakan satu-satunya edisi yang masih tersisa, Don Vincente sangat terobsesi untuk memilikinya. Oleh karenanya, Don Vincente telah menyiapkan uang dalam jumlah yang sangat banyak agar bisa mendapatkan buku idamannya yang berusia tiga setengah abad itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Untung tak dapat diraih, malang tak bisa ditolak, justru Augustino Patxot, pemilik toko buku yang letaknya berdekatan dengan tokonya Don Vincente-lah yang berhasil mendapatkannya. Kegagalan itu menghancurkan hati Don Vincente. Sepanjang perjalanannya ke rumah usai pelelangan, ia tak henti-hentinya menggumamkan kemarahan. Laiknya orang yang hilang akal, ia &amp;nbsp;memaki dan mengancam semua yang ada di dekatnya. Ia bahkan tidak mengambil &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;reales de consolacion&lt;/i&gt;, semacam uang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;tips&lt;/i&gt; yang diberikan oleh penawar tertinggi kepada penawar tertinggi kedua menurut tradisi lelang di Spanyol, yang jumlahnya lumayan banyak.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Beberapa hari kemudian, terjadi kehebohan di lingkungan tempat tinggal Don Vincente. Sebuah kebakaran hebat melahap toko Augustino Patxot dan membakar sang pemiliknya hingga hangus. Di antara reruntuhan bangunan dan mayat sang pemilik, ditemukan juga mayat sembilan orang sarjana yang juga terbakar sampai hangus. Menariknya, di tubuh ke-sembilan mayat tersebut ditemukan luka tikaman benda tajam. Pihak berwenang yang menangani kasus ini mencium bau busuk dari tetangga sang korban, Don Vincente.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kegemparan yang terjadi di arena lelang tempo hari yang lalu menjadi alasan kecurigaan pihak berwenang untuk melakukan pemeriksaan terhadap kediaman Don Vincente. Dan benar saja. Setelah rumahnya digeledah, pihak yang berwenang menemukan banyak sekali buku yang disembunyikan Don Vincente di bagian tertentu rumahnya, termasuk buku Furs e Ordinacions yang menjadi asal-muasal kegemparan tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Don Vincente kemudian diadili. Awalnya ia menolak untuk mengakui perbuatannya. Namun setelah ia yakin bahwa hakim akan memelihara perpustakaannya ketika ia ditahan, dia pun mengakui perbuatannya yang telah mencekik Augustino Patxot sampai tewas dan menikam kesembilan sarjana lain yang sedang ada di situ dan kemudian membakar rumah tetangganya itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Hakim dan juri yang ada di pengadilan pun bertanya-tanya, kenapa bukan uang tapi justru buku yang dicuri oleh tersangka, dengan tenang Don menjawab, “Aku bukan pencuri”. Terperanjat dengan reaksi tersangka, hakim pun menanyakan alasan Don membunuh tetangganya itu. Dengan dosis ketenangan yang nyaris tak berubah, Don berkata, “Setiap orang pasti mati, cepat atau lambat, buku-buku yang bagus harus dipelihara."&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mendapati jawaban nyeleneh seperti itu dari kliennya, pengacara Don kemudian membantahnya dengan berkata bahwa kliennya tersebut sakit jiwa. Selain itu, sang pengacara menyampaikanb bahwa dia baru saja mendapatkan kabar bahwa ada edisi lain buku tersebut di Paris. Sang pengacara berpendapat bahwa dengan adanya alasan ini, buku yang ditemukan di rumah Don Vincente itu tidak terbukti sebagai milik Patxot. Hakim tidak menggubris ocehan sang pengacara dan langsung menjatuhkan hukuman mati kepada Don Vincente pada tahun 1836 di Barcelona. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kisah unik tersebut menginspirasi Gustave Flaubert untuk membuat sebuah cerita pendek yang berjudul Bibliomanie, yang ditulis&amp;nbsp; saat usianya menginjak lima belas tahun di tahun yang sama saat Don Vincente dieksekusi.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tom Raabe dalam Bibliocholism, The Literary Addiction mengatakan bahwa Bibliomania atau penyakit gila buku merupakan “penyakit kejiwaan” yang ditandai dengan kegemaran seseorang untuk membeli dan mengoleksi buku tanpa pernah dibaca. Bibliomania berbeda dengan Bibliophil, penyakit gila buku, yaitu membeli buku banyak-banyak dan membaca semuanya sampai-sampai usianya habis hanya untuk membeli dan membaca buku. Kisah Don Vincente di atas merupakan contoh dari Bibliokleptomania, yakni pencuri buku. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Selain Don Vincente, ada lagi kisah Stephen Carrie Blumberg, warga Ottumwa sebuah kota kecil di AS yang kisah pencurian bukunya sangat mahsyur, karena jumlah curiannya yang mencapai jutaan dollar. Atau seorang John Gilkey yang melakukan penipuan dengan beragam cara untuk bisa mendapatkan buku yang diincarnya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Orang-orang seperti Don Vincente, Gilkey, dan Blumberg memang tidak mencuri untuk keuntungan, karena buku-buku yang mereka curi ternyata hanya mereka simpan sebagai bagian dari koleksi perpustakaan mereka. Tapi kejahatan, atas dasar apapun, tentu tak bisa ditolerir, apalagi kalau sampai merugikan pihak lain dan, bahkan, menghilangkan nyawa seseorang.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kecintaan yang berlebihan memang kerap menyisakan luka jika hanya bertepuk sebelah tangan, termasuk dalam urusan perbukuan. Membaca kembali kisah Don Vincente di atas, terus terang saya cukup bingung ingin menyikapinya seperti apa. Apakah saya harus prihatin, marah, tertawa, atau bagaimana? &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Entahlah. [wahidnugroho.blogspot.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;H2, Juli 2011 &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-2743281173474196555?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/2743281173474196555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=2743281173474196555&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2743281173474196555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2743281173474196555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/07/furs-e-ordinacions.html' title='Furs e Ordinacions'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5773108222157314618</id><published>2011-07-15T06:35:00.002+08:00</published><updated>2011-07-15T09:29:41.084+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cintabuku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Amuk Anak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://images.detik.com/content/2009/11/20/770/anak-marah.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="202" src="http://images.detik.com/content/2009/11/20/770/anak-marah.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Mbak Azka, putri pertama saya, mengamuk. Ia mengoceh tak jelas, kakinya menendang ke segala arah, wajahnya berkerut, bibirnya yang sudah manyun semakin manyun ke depan. Entah apa maunya, saya tidak mengerti. Saya tanya kepadanya, “Mbak Azka mau apa?”, yang ditanya hanya mengekspresikan apa yang sudah saya sebut di awal paragraf ini. Saya jadi makin bingung.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di sela-sela kekacauan itu, saya melihat buku bergambar yang belum lama ini saya belikan untuknya. Buku berjenis &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;board book&lt;/i&gt;, buku berbahan karton yang kertasnya keras dan tak mudah sobek, itu segera saya ambil. Putri pertama saya yang sedang mengamuk langsung saya panggil dan saya dudukkan di atas paha saya. “Mbak Azka, kita baca buku, yuk”, ajak saya. Amuknya yang barusan menggelora perlahan mereda, dan dengan celotehnya yang khas, Mbak Azka tampak mulai termakan “bujuk rayu” saya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sekarang, Mbak Azka sudah tampak tenang. Sambil menciumi pipi montoknya, saya mulai mengajaknya untuk membaca buku yang sudah ada di tangan saya. Beberapa saat kemudian, kami berdua sudah asyik-masyuk membaca buku yang, ternyata, berjudul Aku Anak Sabar itu. Sepertinya, buku telah berhasil mengalihkan amukannya yang barusan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Cara ini, membujuk putri saya yang marah untuk membaca, ternyata sangat ampuh bagi putri pertama saya, tapi “belum” untuk putri kedua saya, Fidel. Kalau si adik sedang marah, membujuknya untuk membaca buku ternyata tidak meredakan amarahnya. Marah sang adik pun beda-beda-tipis dengan si kakak. Kalau si kakak marah, sangat mudah untuk dialihkan amarahnya. Berbeda dengan si adik. Kalau ada kemauannya yang tidak dituruti maka ia akan terus mengejarnya sampai dapat, meski harus menghamburkan literan air mata dan mengomel tak jelas dengan bahasa balitanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Pernah suatu pagi istri saya sakit perut dan ingin ke kamar mandi, sedangkan Fidel sedang asyik menyusu kepadanya. Entah karena nggak tahan atau bagaimana, istri saya langsung meninggalkan tugasnya dan langsung berjalan setengah berlari ke kamar mandi. Terkaget karena puting susu umminya tiba-tiba menghilang, Fidel langsung menjerit dan berlari ke luar kamar untuk mencari umminya. Bujukan dan rayuan saya tak mampu menghalangi langkahnya ketika itu. Beberapa detik kemudian, saya mendapatinya sedang menggedor-gedor pintu kamar mandi sambil berteriak, “Ami, tutu...”. Begitulah.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Setiap anak memang spesial, dan karena itulah perlakuannya pun spesial. Saya memang bukan orang terbaik untuk membincangkan tema meredakan amarah anak, karena terkadang, kondisi fisik dan mental yang letih cukup memengaruhi kadar emosi saya saat menangani anak yang marah. Tapi saya sadari, meredakan amarah anak memang punya seni tersendiri. Dalam hal ini, rasanya saya perlu belajar banyak dari para orangtua yang telah lebih dulu menjadi orangtua daripada saya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Siapa tau Anda bisa membantu saya untuk mengajari bagaimana cara yang tepat untuk memperlakukan amuk anak-anak kita. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Monggo&lt;/i&gt;. [wahidnugroho.blogspot.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;H2, Juli 2011 &lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5773108222157314618?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5773108222157314618/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5773108222157314618&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5773108222157314618'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5773108222157314618'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/07/amuk-anak.html' title='Amuk Anak'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-8937461939123007231</id><published>2011-07-09T06:18:00.002+08:00</published><updated>2011-07-11T08:22:50.391+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cintabuku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Foto'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Bukunya Anak-Anak</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-3DyZU6qKtKc/TheAVlTzs-I/AAAAAAAAAV4/tKKv7CyQFWE/s1600/bcaberdua.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://3.bp.blogspot.com/-3DyZU6qKtKc/TheAVlTzs-I/AAAAAAAAAV4/tKKv7CyQFWE/s320/bcaberdua.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-dlApJDqGig4/TheAoJZBLdI/AAAAAAAAAV8/JlfKP9A189o/s1600/azka.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="259" src="http://2.bp.blogspot.com/-dlApJDqGig4/TheAoJZBLdI/AAAAAAAAAV8/JlfKP9A189o/s320/azka.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-H6pR3YqUg1A/TheBN9R6j0I/AAAAAAAAAWA/pZPWhLA72U0/s1600/fid.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="295" src="http://1.bp.blogspot.com/-H6pR3YqUg1A/TheBN9R6j0I/AAAAAAAAAWA/pZPWhLA72U0/s320/fid.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;Jumat kemarin (8/7) saya pergi ke bandara Syukuran Aminudin Amir di Bubung untuk mengambil paket buku Halo Balita-nya mbak Azka dan dek Fidel yang saya pesan dari seorang teman di Jogja beberapa hari yang lalu. Semoga buku ini bisa bermanfaat dan, pastinya, tahan lama. Maklum aja, buku-buku mbak Azka n dek Fidel yang sebelumnya sukses berubah bentuk jadi serpihan n sobekan kertas hehehe... Semoga saya dan istri bisa istiqomah untuk menumbuhkan kecintaan membaca kepada kedua putri kami. Amin.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-8937461939123007231?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/8937461939123007231/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=8937461939123007231&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8937461939123007231'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8937461939123007231'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/07/bukunya-anak-anak.html' title='Bukunya Anak-Anak'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-3DyZU6qKtKc/TheAVlTzs-I/AAAAAAAAAV4/tKKv7CyQFWE/s72-c/bcaberdua.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-8357121310983619225</id><published>2011-07-05T06:51:00.002+08:00</published><updated>2011-07-05T15:01:31.149+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cintabuku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Menjaga Nyala Stamina Baca</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://www.pasarkreasi.com/dirmember/00001/sinun/content/content-1392-20081022-6-34-79/large/herianus-baca-quran_1392_l.jpg" imageanchor="1" style="clear: right; float: right; margin-bottom: 1em; margin-left: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="320" src="http://www.pasarkreasi.com/dirmember/00001/sinun/content/content-1392-20081022-6-34-79/large/herianus-baca-quran_1392_l.jpg" width="256" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&amp;nbsp;Lagi-lagi ada kabar gembira yang datang dari istri saya. “Aku sudah selesai baca buku yang ke dua, say”, ujarnya semalam. Dan setelah itu, dirinya kembali asyik memilah dan memilih buku apa lagi yang akan dibacanya sebagai buku ketiganya. Setelah sedikit berdiskusi dengan saya, jatuhlah pilihannya kepada buku kecil berjudul Perang Khandaq karangan Drg. Syukri Wahid. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Membaca itu ternyata kalo udah enak jadinya malah asyik ya”, akunya. Saya mengiyakan. Membiasakan diri untuk melakukan hal yang baru memang butuh adaptasi. Namun kalau chemistry-nya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;udah dapet&lt;/i&gt;, maka melakukannya tak lagi sulit. Termasuk dalam urusan membaca.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Nyaris semua orang suka membaca. Baik itu membaca buku, majalah, SMS, koran, iklan, pamflet, slip gaji, atau apapun. Tapi, tidak semua orang memiliki stamina kebetahan membaca yang cukup kuat, itu menurut saya. Lucunya, saya malah pernah menjumpai kasus orang-orang yang menjadikan aktivitas membaca sebagai salah satu terapi susah tidur. Ssst.. tapi jujur aja ya, saya juga termasuk orang yang pernah menjalani “terapi” ini lho, hehehe...&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Para ulama terdahulu merupakan generasi pembaca buku yang memiliki kerakusan baca stadium akut dan stamina baca tingkat tinggi. Kita mungkin ingat tentang koleksi buku-buku yang sangat berlimpah di perpustakaan Baghdad, Granada, dan di bumi Islam lainnya. Malahan, saya pernah membaca kisah seorang ulama yang saat tidurnya pun dikelilingi oleh bertumpuk-tumpuk buku. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lalu, bagaimana cara melatih kekuatan stamina baca kita? Ternyata, semangat yang membara saja tidak cukup. Ada cara lain yang sifatnya teknikal yang bisa kita gunakan untuk menjaga nyala stamina baca kita sehingga aktivitas baca yang awalnya membosankan menjadi kegiatan yang mengasyikkan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Pertama:&amp;nbsp; Kombinasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Maksudnya begini. Ketika kita sudah selesai membaca buku yang cukup tebal, maka kombinasikan dengan buku berukuran sedang atau tipis. Ini berguna untuk menjaga agar kita tidak mudah bosan saat membaca buku-buku berukuran tebal. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Kedua: Libatkan Sastra&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ini pengalaman saya pribadi. Ketika diri ini penat membaca buku-buku bertema berat, apalagi bila buku itu berukuran cukup tebal, pilihan selanjutnya biasa jatuh kepada buku-buku fiksi. Fiksi apapun. Bagi saya, fiksi baik novel maupun cerpen, atau juga puisi, berfungsi untuk mengendurkan syaraf-syaraf yang tegang saat kita membaca buku-buku yang berat.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Ketiga: Buat jeda&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jeda, kata Ibnul Qayyim, adalah bagian dari perjalanan juga. Jadi, ketika aktivitas membaca kita sudah sedemikian jauh dan larut, maka ambillah jeda barang sejenak untuk beristirahat. Mengisi masa jeda ini bagi setiap orang mungkin tidak sama. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;So&lt;/i&gt;, buatlah momen jeda itu menjadi setenang dan senikmat mungkin. Jeda itu bisa berupa jalan-jalan ke tempat yang menyenangkan. Mungkin bisa berjalan-jalan di taman, pantai, bukit belakang rumah, atau sekedar duduk-duduk di serambi masjid. Atau bisa juga dengan mencoba resep masakan baru, bercengkerama dengan anak dan pasangan kita, atau dalam bentuk lain.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Keempat: &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Qui Scribit Bis Legit&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Orang yang menulis, maka dia membaca dua kali. Begitu makna kalimat latin di atas. Imam Syafi’i mengatakan bahwa cara terbaik untuk mengikat bacaan kita adalah dengan cara menuliskannya kembali. Hernowo mengistilahkannya dengan “Mengikat Makna”. Jadi, kalau kita mau stamina baca kita cukup kuat, bahkan sangat kuat, untuk mengambil tantangan baca selanjutnya, maka tuliskan kembali apa-apa yang telah kita baca barusan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tulisan ini tidak perlu dalam bentuk resensi yang &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;njelimet&lt;/i&gt;. Mungkin dengan membuat &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;review&lt;/i&gt; singkat dari buku yang kita baca, “Hari ini saya menamatkan buku ini, yang dikarang oleh fulan dan bertemakan tentang ini dan itu, dan seterusnya dan sebagainya”. Jangan lupa, tuliskan pula kesan-kesan yang kita dapat dari buku yang kita baca itu. Ini penting karena keterikatan kita dengan buku yang kita baca membuat kadar informasi yang kita dapat tetap terjaga keberadaannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Cara keempat ini, menurut saya – berdasarkan pengalaman para sastrawan dunia – merupakan cara terbaik untuk menjaga nyala stamina baca kita. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Terakhir: Lakukan sekarang juga&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Niat yang baik tak perlu untuk ditunda-tunda bukan. Maka mulai saat ini, pergilah ke lemari buku Anda, pilah dan pilih buku apa yang Anda suka, dan bacalah buku itu saat ini juga. Atau kalau Anda saat ini sedang sibuk, bawalah buku itu ke kantor atau ke tempat aktivitas Anda, dan lahaplah ketika Anda sudah tiba di sana. Tapi jangan sampai mengganggu pekerjaan Anda ya, hehe..&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tulisan ini saya buat bukan karena saya adalah orang yang paling banyak membaca buku ketimbang Anda yang membaca tulisan ini. Saya hanyalah orang yang suka membaca dan ingin Anda pun juga menyukainya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Silahkan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;[wahidnugroho.blogspot.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i&gt;&lt;b&gt;Simpong, Juli 2011 &lt;/b&gt;&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-8357121310983619225?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/8357121310983619225/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=8357121310983619225&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8357121310983619225'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8357121310983619225'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/07/menjaga-nyala-stamina-baca.html' title='Menjaga Nyala Stamina Baca'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-9051980949673530869</id><published>2011-07-04T07:36:00.001+08:00</published><updated>2011-07-04T07:40:26.115+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cintabuku'/><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Motivasi Dosis Tinggi</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_CI2neP4hKhM/TVD_sQcVFhI/AAAAAAAAAAQ/x3ZH4Ocdh8M/s1600/baca-di-atap.jpg" imageanchor="1" style="clear: left; float: left; margin-bottom: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="240" src="http://2.bp.blogspot.com/_CI2neP4hKhM/TVD_sQcVFhI/AAAAAAAAAAQ/x3ZH4Ocdh8M/s320/baca-di-atap.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Prolog&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Sepekan belakangan ini, istri saya lagi rajin-rajinnya baca buku. Sebuah buku berjudul Aku Dan Al Ikhwan Al Muslimun karangan Dr. Yusuf Qardhawy yang cukup tebal itu berhasil dilahapnya dalam jangka waktu kurang dari lima hari. Saya kagum dengan &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;effort&lt;/i&gt;nya yang luar biasa itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Terkadang, saya mendapatinya tengah&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt; khusyuk&lt;/i&gt; membaca walau anak-anak sedang sibuk menghambur-hamburkan mainan mereka di atas lantai, atau kala sang adik tiba-tiba berteriak karena berkelahi dengan sang kakak. Kalau sudah begitu, istri saya segera meletakkan bukunya, mengantar anak-anak untuk ke kamar mandi atau sekedar melerai perkelahian mereka. Tak seberapa lama, dirinya sudah asyik-masyuk lagi dengan buku yang sudah dibacanya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Saya sendiri, selama istri menyelesaikan bacaannya, lumayan dicuekin. Tapi nggak masalah. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Toh&lt;/i&gt; saya juga lumayan sering &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;nyuekin&lt;/i&gt; istri kalo saya lagi asyik-asyiknya &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;mbaca&lt;/i&gt; buku hehe.. Tapi intinya, saya senang dengan antusiasmenya untuk membaca, atau lebih tepatnya antusiasmenya untuk membaca buku sampai tamat. Memang, dibutuhkan niat yang sangat kuat untuk dapat menamatkan sebuah buku. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tak jarang kesibukan dan kebosanan kerap melanda bagi kita yang sudah berniat untuk membaca buku sampai tuntas. Apalagi bagi kami yang sudah berlabel sebagai orangtua dengan dua anak bayi yang enerjik dan tak kenal lelah itu, misalnya. Atau bagi sebagian orangtua lainnya yang mungkin jumlah anaknya jauh lebih banyak dengan energi yang jauh lebih besar pula. Atau bagi beberapa orangtua yang tingkat kesibukannya begitu luar biasa sehingga waktu luang menjadi barang yang langka baginya. Tentunya dibutuhkan motivasi dosis tinggi untuk menamatkan sebuah buku bagi para orangtua seperti itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Bagi saya pribadi, ada tiga motivasi dasar yang mendorong saya, dan coba saya tularkan kepada istri dan keluarga saya, untuk membaca.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Pertama: Semangat Ibadah&lt;/b&gt; &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Perkara niat ini memang sesuatu yang klise. Tapi klise bukan berarti harus diabaikan begitu saja. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Iqra’&lt;/i&gt; (baca!) adalah perintah pertama bagi umat muslim yang tercantum di dalam Al Qur’an. Selain itu, ada banyak sekali ayat-ayat di dalam Al Qur’an yang memerintahkan kita untuk “mengetahui”, dan gerbang pertama menuju brankas pengetahuan adalah membaca.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Kedua: Kebutuhan akan informasi&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kenapa kita bekerja dengan sangat keras setiap hari? Alasan mendasarnya sangat sederhana. Karena kita butuh dengan uang, sebagai hasil dari pekerjaan itu, misalnya, selain motivasi lainnya. Begitu juga dengan membaca. Buku adalah jendela dunia. Begitu katanya. Bagi para &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Murabbi&lt;/i&gt;, misalnya, membaca adalah &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;basic-needs&lt;/i&gt; yang harus dipenuhi tanpa kompromi. Sedangkan kebutuhan lainnya dari membaca adalah sebagai sarana hiburan dan rekreasi jiwa.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Bila pemenuhan akan kebutuhan ini begitu kuat, maka menamatkan sebuah buku, yang dapat memenuhi kebutuhan itu, bukan sebuah kesulitan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Ketiga: Semangat keteladanan&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Bagi saya pribadi, poin ketiga ini adalah sebab yang paling memberikan saya motivasi dosis tinggi untuk membaca buku. Alasannya jelas, sebagaimana yang pernah saya tulis sebelumnya, cara termudah untuk menciptakan anak-anak yang suka membaca bermula dari keteladanan orangtuanya. Tak perlu banyak teori, tak perlu banyak argumentasi, membacalah di hadapan anak-anak kita akan memberikan efek yang begitu kuat bagi mereka untuk ikut membaca sebagaimana yang orangtuanya lakukan. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ini adalah impian pertama saya untuk anak-anak saya kelak. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Nggak&lt;/i&gt; muluk-muluk. Saya hanya ingin anak-anak saya menjadi generasi pembelajar yang memiliki kerakusan akut terhadap buku. Buku-buku yang baik dan bergizi, tentu saja. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b style="mso-bidi-font-weight: normal;"&gt;Epilog&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“So many books, so little time”, begitu kata Frank Zappa. Apa kata komposer ternama sekaligus maniak buku itu saya kira benar adanya. Dan semuanya berpulang kepada terbatasnya waktu yang ada. Dengan semakin bercabangnya tugas dan bertumpuknya kewajiban yang harus diselesaikan, kita memang harus berakrobat sedemikian rupa untuk merealisasikan semangat baca yang menyala itu. Ini memang bukan perkara mudah dan hanya kepadaNya-lah saya memohon pertolongan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Semoga Allah ringankan ikhtiar ini. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;[wahidnugroho.blogspot.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Simpong, Juli 2011 &lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-9051980949673530869?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/9051980949673530869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=9051980949673530869&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/9051980949673530869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/9051980949673530869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/07/motivasi-dosis-tinggi.html' title='Motivasi Dosis Tinggi'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_CI2neP4hKhM/TVD_sQcVFhI/AAAAAAAAAAQ/x3ZH4Ocdh8M/s72-c/baca-di-atap.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5565927362110217877</id><published>2011-06-30T08:39:00.003+08:00</published><updated>2011-06-30T08:51:11.686+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merah Jingga'/><title type='text'>Tentang Marah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/-nq6RUx5hDAw/TgvFmcqQbnI/AAAAAAAAAVg/cTOs9tlRHLg/s1600/marahan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="254" src="http://1.bp.blogspot.com/-nq6RUx5hDAw/TgvFmcqQbnI/AAAAAAAAAVg/cTOs9tlRHLg/s320/marahan.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Rihlah peringatan Hari Keluarga Rabu (29/6) kemarin menyisakan banyak cerita. Salah satu yang saya dan istri ingat adalah sambutan yang disampaikan oleh ustadz kami, Iswan Kurnia Hasan Lc. Dalam sambutan singkatnya, beliau mencuplik sedikit cerita dari istri almarhum &lt;a href="http://wahidnugroho.blogspot.com/2011/06/lelaki-baik-hati.html"&gt;Haji Subhan&lt;/a&gt; yang terus-menerus pingsan saat mengenang sosok suaminya yang luar biasa itu. Dimana luar biasanya? &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ustadz Iswan berkata bahwa sepanjang usia pernikahan mereka tak pernah sekalipun almarhum memarahi istrinya. Itulah sebabnya, saat sang istri mengingat kembali momen itu, ia langsung jatuh pingsan berulang kali. Saya takjub. Sebagian besar keluarga yang menghadiri acara itu juga takjub. Anda yang membaca tulisan ini mungkin akan berdecak kagum dengan “ketangguhan” sang suami tersebut.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Saya pernah mendengar kisah lain yang sedikit berbeda tapi substansinya sama: kesabaran. Syahdan ada seorang suami yang tak pernah mengeluhkan masakan istri, baik enak maupun tidak. Saya tidak tahu secara persis bagaimana kelanjutan kisah ini, apakah sang istri tetap nyaman dengan ketidak-bisa-masaknya, atau sebaliknya. Terus terang saya tidak terlalu tertarik untuk mengetahuinya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kemarin siang, ketika kami berempat dalam perjalanan pulang ke rumah, istri saya menceritakan kembali kisah tentang almarhum Haji Subhan itu kepada saya. Sebabnya bagi istri saya jelas: saya termasuk kriteria suami yang sering memarahinya, sehingga istri saya perlu untuk membangkitkan kembali cerita itu untuk menyindir saya. Jawaban saya saat disindir seperti itu singkat saja, “Saya ini Wahid, bukan Haji Subhan!”. Intonasi saya jelas dan tegas. &amp;nbsp;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Di sisi lain, saya jadi merasa sedikit bersalah – sekali lagi: sedikit – dengan sindiran istri saya itu. Saya harus akui kalau saya bukanlah tipe suami yang seheroik dua kisah di atas. Ketika masakan istri saya tak enak, saya katakan dengan jujur. Ketika saya tak suka istri saya begini dan begitu, saya katakan terus terang. Ketika saya merasa tak nyaman, saya ungkapkan apa adanya. Saya memang tak suka memendam emosi dan lebih suka untuk mengungkapkannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kadang, marah itu harus saya ungkapkan lewat kata-kata, kadang dengan diam. Bila emosi saya berada pada titik didih, saya biasanya diam atau memasang wajah masam. Saya bukan tipe suami yang marah dengan berisik. Biasanya, ketika emosi mereda, saya bicarakan permasalahan yang menggusarkan itu di dalam kamar ketika anak-anak sudah tertidur. Prinsip saya ketika sedang marah adalah, masalah tidak boleh dibawa tidur dan harus selesai hari ini juga. Kadang masalah itu selesai dengan singkat, kadang saya perlu mengulurnya beberapa jam.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ketika mendengar dua kisah gemerlap di atas barusan, saya sempat sedikit tergoda untuk merubah diri menjadi sosok suami yang heroik tersebut, atau setidaknya mendekati. Tapi hasilnya justru membuat saya tak nyaman. Rasul saja pernah marah. &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Well&lt;/i&gt;, marahnya Rasul memang sangat beralasan, ada banyak kisah yang berserak tentang hal ini di dalam hadits beliau. Setidaknya alasan itu yang saya berikan kepada istri saya kemarin. Tapi sindiran itu cukup menggelisahkan saya, setidaknya membuat saya kembali mengintrospeksi diri, apakah saya sesering itu marah, atau memarahinya? &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Jawaban atas pertanyaan saya di atas tentu hanya bisa dijawab oleh istri saya. Sekarang, sambil mencoba untuk berkompromi dengan godaan di atas, sepertinya saya butuh waktu sejenak untuk mengenang kembali saat-saat saya marah – dan memarahi – kepada istri saya. Apakah marah yang saya keluarkan itu sudah sesuai porsi dan situasinya, apakah marah yang saya lakukan itu sudah masuk akal alasannya, atau faktor-faktor lain yang menentukan konfigurasi dan komposisi emosi saya kepada wanita yang saya cintai itu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Bismillah. [wahidnugroho.blogspot.om]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Simpong, Juni 2011&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Ronda tengah malam.&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5565927362110217877?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5565927362110217877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5565927362110217877&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5565927362110217877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5565927362110217877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/06/tentang-marah_30.html' title='Tentang Marah'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-nq6RUx5hDAw/TgvFmcqQbnI/AAAAAAAAAVg/cTOs9tlRHLg/s72-c/marahan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-7458528096150510344</id><published>2011-06-27T14:54:00.002+08:00</published><updated>2011-06-27T15:03:16.626+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>Lelaki Baik Hati</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://img.webme.com/pic/t/tevhidnesli/infak.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://img.webme.com/pic/t/tevhidnesli/infak.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Saya tidak terlalu kenal dengan lelaki berusia sekitar 80 tahunan itu. Posturnya yang tinggi kurus, kulitnya cerah bercahaya, rambutnya memutih di nyaris semua bagiannya tampak biasa saja di mata saya. Pembawaannya ramah, tak terlalu banyak bicara, dan senyum selalu mengembang dari wajahnya. Malam itu adalah momen pertama saya bersua dengannya. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;“Acara kecil-kecilan ini dibuat sebagai wujud rasa syukur kami karena mobil kami telah sampai dengan selamat di Luwuk”, ujarnya sambil menunjuk ke arah mobil jenis &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;land cruiser&lt;/i&gt; bermerk Ford itu. Beberapa undangan tampak mengalihkan wajahnya ke arah yang ditunjuk oleh lelaki itu. Tampak sebuah mobil berwarna hitam dengan nomer polisi berawalan L terparkir di sudut rumahnya. Lelaki tua itu tampak tersenyum penuh syukur.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Tak seberapa lama, di hadapan kami telah terhidang hidangan urap lengkap dengan tahu tempenya, serta masakan daging dan, tentu saja, ikan bakar dengan dabu-dabunya. Setelah menyilakan para undangan untuk makan, pandangan saya masih lekat kepada sosok lelaki itu. Ia tampak memberi isyarat kepada putrinya untuk mengambilkan makanan baginya. Putri lelaki itu, yang berusia sekitar 40’an tahun, beliau seorang ibu yang sangat baik, dengan sigap mengambilkan sedikit nasi dan beberapa lauk ke dalam piring berwarna putih susu. Lelaki itu kemudian tampak menikmati suguhan urap dan beberapa potong tahu tempe yang ada di hadapannya.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Itulah momen pertama, sekaligus terakhir saya bersua dengannya. Peristiwa yang sudah terjadi beberapa bulan yang lalu itu terbayang kembali di benak saya ketika Ahad siang kemarin (26/6) saya menerima telepon dari seseorang tentang kabar lelaki baik hati itu. Terbayang tentang kebaikan hati beliau saat mewakafkan seluruh tanahnya, meski sebagian akhirnya dibebaskan dengan cara patungan melalui wakaf tunai, untuk proyek pembangunan masjid dan juga sekolah Islam di kawasan yang terkenal dengan “kawasan lampu merah-nya” Luwuk itu. Saya juga teringat dengan kebaikan putri dan menantu lelaki baik hati itu ketika kami semua berpeluh saat menyelesaikan proses pembangunan masjid tersebut dan mereka begitu ringan tangan untuk membantu memenuhi segala keperluan pembangunan masjid itu.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Kebaikan lelaki itu seolah belum bertepi. Hari Sabtu (25/6) kemarin, saya dikabari oleh ketua yayasan kami, yayasan yang diamanahi untuk melaksanakan proyek pembangunan beberapa masjid dan sekolah Islam, bahwa kami baru saja dihadiahi sebuah mobil &lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;pick up&lt;/i&gt; oleh lelaki itu, lelaki yang baik hati itu. Mobil berwarna biru keluaran tahun 2008 itu adalah mobil yang biasa kami gunakan untuk mengangkut kayu, serta untuk keperluan distribusi logistik ketika terjadi kebakaran hebat di sebuah sudut kota ini beberapa waktu yang lalu. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Beberapa detik kemudian, suara di ujung telepon membuyarkan lamunan saya tentang sosok lelaki yang baik hati itu. “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Innalillahi wa inna ilayhi raji’un&lt;/i&gt;”, sahut saya perlahan saat mendengar kabar tentang lelaki baik hati yang ternyata sudah beberapa hari terbaring koma di rumah sakit. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Ahad sore kemarin, saya kembali menemui lelaki itu. Ia tetap dengan tubuh kurusnya, kulit cerahnya dan rambutnya yang kian memutih. Perlahan saya menyentuh lengannya yang dingin dan mengamati wajahnya yang tampak tenang seraya merapalkan doa, “&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afiyhi wa’fu’anhu&lt;/i&gt;”. &lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;Lelaki baik hati itu bernama Haji Subhan. Ahad siang kemarin Allah telah memanggil beliau setelah hari-hari terakhirnya dihabiskan di rumah sakit karena gagal ginjal. Putrinya tampak terpukul dengan kejadian ini, beberapa sanak familinya juga tampak begitu sedih. Saya sendiri tidak mengenal beliau dengan baik, pun dengan kepribadiannya sehari-hari. Tapi kemuliaan hatinya, kebaikan budi dan keringanan tangannya saat membantu pembangunan masjid, sekolah dan kegiatan sosial lainnya telah membuat saya begitu kehilangan beliau. Kalaupun di yaumil akhir kelak, ketika segala amal dihisab dengan hitungan yang maha detail, saya tak berkeberatan untuk menjadi saksi atas segala kemuliaan hati lelaki yang baik itu di kala hidupnya. Sungguh, saya sama sekali tidak keberatan.&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;[wahidnugroho.blogspot.com]&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="MsoNormal"&gt;&lt;i style="mso-bidi-font-style: normal;"&gt;Simpong, Juni 2011 &lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-7458528096150510344?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/7458528096150510344/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=7458528096150510344&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7458528096150510344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7458528096150510344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/06/lelaki-baik-hati.html' title='Lelaki Baik Hati'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-8779196073216752551</id><published>2011-06-27T11:35:00.003+08:00</published><updated>2011-06-27T12:03:44.279+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna'/><title type='text'>Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna: Iftitah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-ZMdxJS42J0w/Tgf6TND4MhI/AAAAAAAAAVY/QeY1JJxlUDg/s1600/ceramahhaasan.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="202" src="http://3.bp.blogspot.com/-ZMdxJS42J0w/Tgf6TND4MhI/AAAAAAAAAVY/QeY1JJxlUDg/s400/ceramahhaasan.jpg" width="400" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide ini sebenarnya sudah tumbuh sejak lama. Beberapa tahun yang lalu, saya berniat untuk mempublikasikan salinan buku Manhaj Haraki dan Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna melalui blog ini, khususnya salinan buku Manhaj Haraki sudah pernah saya buat hingga sekitar tigapuluhan halaman. Entah karena kelalaian atau karena kejenuhan yang melanda, ditambah saya belum memiliki laptop kala itu dan beberapa kali gonta-ganti komputer kantor plus hilangnya flashdisk saya (apes banget sih hehe),&amp;nbsp; file &lt;i&gt;word &lt;/i&gt;yang sudah saya buat itu hilang entah kemana. Tak terlacak, sampai hari ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kali ini, ide yang dulu sempat tertunda akan coba saya realisasikan, hanya saja, buku yang akan saya salin adalah sebuah buku yang dulu pernah dicetak tebal bertajuk Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna. Sejak beberapa tahun yang lalu, saya dilupakan kapan persisnya, buku ini mulai dicetak dalam dua jilid oleh penerbit Era Intermedia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaannya adalah, kenapa harus buku itu? &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya telah melakukan survey kecil-kecilan di Google, dan sepertinya belum ada blogger/website yang memberikan porsi tertentu di blognya, dan juga fokus, untuk menyajikan tema ini (cmiiw). Padahal ada banyak sekali faidah dan juga kebaikan yang, insya Allah, berlimpah dari buku yang disusun oleh Ustadz Ahmad Isa Aasyur tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, perlu ada seseorang yang harus mau dan, semoga saja, mampu merealisasikannya. Sehingga, mutiara-mutiara yang terpendam itu bisa dinikmati pendarnya dan diambil manfaatnya yang berlimpah. Dan bagi para Anda yang membaca salinan ini, siapa tahu Anda bisa tertarik untuk membeli buku yang disusun berdasarkan kajian rutin yang dibawakan setiap hari Selasa oleh Imam Hasan Al Banna di markas besar Ikhwan. Sebuah kajian yang rutin disambangi oleh Syaikh Qardhawy, Syaikh Sayyid Sabiq, dan Syaikh Muhammad Ghadban di usia belia mereka. Kalau ulama sekelas beliau-beliau saja rutin mendatangi kajian Imam Syahid, apatah lagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, dengan mengucapkan basmallah dan menguatkan azzam di dada, proyek penyalinan buku berjudul Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna ini akan saya mulai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah mudahkan urusan ini dan menghitungnya sebagai timbangan kebaikan bagi saya dan kedua orangtua saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;[wahidnugroho.blogspot.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Simpong, Juni 2011 &lt;/i&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-8779196073216752551?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/8779196073216752551/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=8779196073216752551&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8779196073216752551'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8779196073216752551'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/06/ceramah-ceramah-hasan-al-banna-iftitah.html' title='Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna: Iftitah'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/-ZMdxJS42J0w/Tgf6TND4MhI/AAAAAAAAAVY/QeY1JJxlUDg/s72-c/ceramahhaasan.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-1184160021005663973</id><published>2011-06-27T07:58:00.001+08:00</published><updated>2011-06-27T07:58:53.671+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Foto'/><title type='text'>Anak Kecil Aja Kerja</title><content type='html'>&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;img border="0" height="300" src="http://1.bp.blogspot.com/-Vv6BX0uUeQk/TgfGQ9y-mJI/AAAAAAAAAU4/DAGOVkfFKpA/s400/azkafidelmainpasir.jpg" style="margin-left: auto; margin-right: auto;" width="400" /&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;Anak kecil aja kerjanya rajin, mosok kita enggak hehehe....&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;       &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-1184160021005663973?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/1184160021005663973/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=1184160021005663973&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/1184160021005663973'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/1184160021005663973'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/06/anak-kecil-aja-kerja.html' title='Anak Kecil Aja Kerja'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/-Vv6BX0uUeQk/TgfGQ9y-mJI/AAAAAAAAAU4/DAGOVkfFKpA/s72-c/azkafidelmainpasir.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-7073078706328511928</id><published>2011-06-26T07:18:00.002+08:00</published><updated>2011-06-27T15:53:24.819+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cintabuku'/><title type='text'>[Sekali Lagi] Tentang Membaca Setelah Menikah</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://asepd.files.wordpress.com/2011/05/reading-a-book-001.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="192" src="http://asepd.files.wordpress.com/2011/05/reading-a-book-001.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Bulan Juli tahun duaribusebelas, itu berarti usia pernikahan saya akan memasuki tahun keempatnya. Hmmm bener-bener nggak terasa. Seolah baru kemarin saya adalah seorang jomblo yang mengenaskan, kemudian menikah dengan seorang wanita yang cantik, lalu dikaruniai dua orang putri yang manis, pintar, dan lucu. Alhamdulillah, semua ini semata-mata karena nikmat Allah yang telah diberikannya kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini saya kembali membuka beberapa catatan lama. Ternyata, ada sebuah catatan di tahun 2007 yang pernah saya tulis berisikan daftar buku yang pernah saya baca dalam sebulan. Tercatat ada belasan buku yang berhasil saya tamatkan dalam sebulan. Waktu itu saya masih bujangan, of course. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masa-masa awal pernikahan adalah momen yang penuh dengan euforia pengantin baru, absolutely. Laiknya sepasang insan yang baru menikah tanpa didahului pacaran, medio awal pernikahan tersebut didominasi dengan masa saling mengenal dan memahami antara saya dan istri. Proses yang tak mudah, tentu saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berhubung sebelum menikah kami nggak saling kenal, percikan dan gesekan pun kerap terjadi antara kami berdua. Makanya nggak heran, kalau “prestasi” membaca saya di tahun 2008 yang lalu berada pada titik nadir. Hanya satu dua buku yang berhasil saya tamatkan ketika itu. Saya jadi ingat sebuah &lt;a href="http://wahidnugroho.blogspot.com/2008/08/nikah-dan-semangat-baca.html"&gt;tulisan&lt;/a&gt; yang pernah saya buat beberapa saat setelah menikah dulu. Tulisan itu merupakan ekspresi kegelisahan saya terhadap pola baca saya yang terkoreksi dengan hadirnya “orang baru” dalam hidup, istri saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sekarang, seiring bertambahnya usia pernikahan, bertambah pula rasa saling memahami antara saya dan istri walau percikan dan gesekan tadi masih ada. Pun ketika anak-anak terlahir, peran sebagai suami dan ayah saya coba jalanin dengan sebaik-baiknya, termasuk dalam urusan baca-membaca buku. Di &lt;a href="http://newgie68.multiply.com/journal/item/79/Buku_Yang_Kubaca_di_Tahun_2009"&gt;tahun 2009&lt;/a&gt;, jumlah buku yang saya baca mengalami peningkatan yang cukup signifikan, begitu pula di &lt;a href="http://newgie68.multiply.com/journal/item/155/Buku_Yang_Kubaca_Season_2010"&gt;tahun 2010&lt;/a&gt; kemarin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah saya kalkulasi, berdasarkan ingatan saya yang cetek ini dan dbantu dengan beberapa catatan, jumlah buku yang sudah saya baca setelah menikah ternyata sudah melebihi angka 40. Alhamdulillah. Ternyata, ketakutan saya ketika hendak menikah dulu bahwasanya menikah bisa menghalangi saya untuk menamatkan buku tidak terbukti. Setidaknya buat saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jumlah ini mungkin tidak seberapa bila dibandingkan dengan jumlah buku yang dihabiskan beberapa kenalan saya di Goodreads dalam setahun. Tapi dengan status saya sekarang, ditambah lagi dengan lingkungan yang menurut saya kurang mendukung upaya menamatkan sebuah buku, apa yang sudah saya capai, bagi saya pribadi, adalah hal yang cukup memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini dibuat bukan untuk gede-rasa atau gaya-gayaan. Saya cuma ingin menunjukkan kepada anak-anak saya, siapa tau mereka akan membaca tulisan ini saat mereka dewasa kelak, bahwa abinya mereka ini pernah membuktikan kalau pernikahan bukanlah &lt;i&gt;barrier&lt;/i&gt; – penghalang – untuk melakukan hal-hal yang luar biasa dalam hidup mereka. Bagi saya, menamatkan sebuah buku, setebal ataupun setipis apapun buku itu adalah hal yang luar biasa. Hal ini mungkin berbeda bagi lain orang, atau mungkin Anda yang sedang membaca catatan tak penting ini. Tidak masalah, sungguh tidak masalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tujuan saya yang lain adalah ingin membudayakan membaca di keluarga kami. Makanya, sebagian orang heran dan kaget saat mengetahui ada orang pajak yang nggak punya televisi di rumahnya (emangnya pegawai pajak itu harus selalu punya televisi ya?). Tapi saya tetap bergeming. Televisi, walaupun ada banyak acara menarik disana, tetap tidak melebihi kebutuhan saya (dan keluarga) untuk membaca buku. Dan cara yang paling mudah untuk mewarnai kanvas hati anak-anak saya yang masih putih bersih itu adalah dengan cara menjadi &lt;i&gt;role model&lt;/i&gt;, tauladan, dan contoh bahwa kedua orangtuanya adalah orang yang paling besar cintanya dengan buku dan membaca buku. Setidaknya begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, moga Allah mudahkan ikhtiar ini. [wahidnugroho.blogspot.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Simpong, Juni 2011 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-7073078706328511928?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/7073078706328511928/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=7073078706328511928&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7073078706328511928'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7073078706328511928'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/06/sekali-lagi-tentang-membaca-setelah.html' title='[Sekali Lagi] Tentang Membaca Setelah Menikah'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-505782575515570669</id><published>2011-06-25T01:22:00.001+08:00</published><updated>2011-06-27T06:02:35.428+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cintabuku'/><title type='text'>Buku Buku Baru</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-_K0JLBCw5rs/TgTHrbUwSZI/AAAAAAAAAUo/DGOOja-Kglc/s1600/2011-06-22+12.55.06.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://4.bp.blogspot.com/-_K0JLBCw5rs/TgTHrbUwSZI/AAAAAAAAAUo/DGOOja-Kglc/s1600/2011-06-22+12.55.06.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Hari Rabu kemarin, saya kedatangan paket dari Jurangmangu. Isinya adalah buku-buku yang saya pesan di beberapa toko buku online, yang saya timbun di Jakarta, dan ketika beratnya sudah lebih dari 10 kilogram, buku-buku itu dikirim ke Luwuk melalui ekspedisi kargo. Maklum, ongkos kirim dengan ekspedisi standar biayanya lumayan mahal, jadilah diakalin pake cara begitu. Selain buku, paket seberat kurang lebih 18 kilogram itu juga berisi baju-baju buat Ummu Azka dan kedua putri saya. Nyicil baju sebelum lebaran gitu hehe...&amp;nbsp;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Berikut ini adalah daftar buku-buku yang baru datang Rabu kemarin:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Manajemen Gerakan Dakwah Di Masa Krisis, Drg. Sukri Wahid&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ceramah-Ceramah Hasan Al Banna Jilid 1 dan 2, Ahmad Isa Aasyur&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Aku dan Al Ikhwan Al Muslimun, Dr. Yusuf Qardhawy&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Perang Suci, Dr. Karen Armstrong&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Dari Puncak Baghdad, Tamim Anshary&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Max Havelaar, Multatuli&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Inilah Politikku, Muhammad Elvandi&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Fiqih Politik Hasan Al Banna, Muhammad Abdul Qadir Abu Faris&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Manhaj Tarbiyah, Muhammad Syadid&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Ar Rasul, Said Hawwa&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Afatun Ala Ath Thariq, Sayyid Muhammad Nuh&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Untuk Muslimah Yang Tak Pernah Lelah Berdakwah,&lt;/span&gt;&amp;nbsp;&lt;span class="fullpost"&gt;Rochma Yulika, Umar Hidayat&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tarbiyah Ijtima'iyah, Hadi Munawar&lt;/li&gt;&lt;li&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;Tidak Ada Alasan Bagimu Meninggalkan Dakwah, Abdul Aziz Al-Aidan&lt;/span&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Retorika Haroki, Amirudin Rahim&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Tarbiyah Siyasiyah, Ahmad Dzakirin&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Taqwim Da'awi, Abdullah Yusuf al-Hasan&lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;Di bulan Juni ini sebenarnya ada 5 buku lagi&amp;nbsp; yang belum saya masukkan. Secara bukunya masih ditimbun di Jurangmangu, jadinya baru yang ini dulu aja deh. Mari membaca. [wahidnugroho.blogspot.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Simpong, Juni 2011 &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span id="goog_561009669"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span id="goog_561009670"&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-505782575515570669?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/505782575515570669/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=505782575515570669&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/505782575515570669'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/505782575515570669'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/06/buku-buku-baru.html' title='Buku Buku Baru'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/-_K0JLBCw5rs/TgTHrbUwSZI/AAAAAAAAAUo/DGOOja-Kglc/s72-c/2011-06-22+12.55.06.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-4989454219871938832</id><published>2011-06-24T14:48:00.002+08:00</published><updated>2011-06-27T15:13:47.340+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Luwuk'/><title type='text'>[MYCOM] Training For Teen: Andaikan Belajar Semangkuk Bakso</title><content type='html'>&amp;nbsp; &lt;br /&gt;Ahad (19/6) kemarin, bertempat di Aula Dinas Kesehatan Kabupaten Banggai, teman-teman dari Muslim Youth Community, disingkat MYCOM, ngadain sebuah acara yang keren banget lho, namanya Training For Teen. Kegiatan yang ngambil tema Andaikan Belajar Semangkuk Bakso ini diikuti oleh sekitar 60-an pelajar SMA dan Aliyah. Oh iya, pesertanya bukan cuman dari Luwuk aja lho, tapi juga diikuti teman-teman kita dari SMA di Toili sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hmm, ngomong-ngomong tentang tema, kok judulnya lucu ya, Andaikan Belajar Semangkok Bakso? Ini maksudnya belajar sambil makan bakso, atau makan bakso sambil belajar, atau malah makan bakso bareng-bareng? Hehe... Ternyata, maksud dari judul itu adalah gimana caranya supaya belajar yang identik sama kegiatan yang mbetein, bikin bosen, n bikin males jadi kegiatan yang asik dan juga nikmat, senikmat semangkok bakso. Temen-temen suka donk sama bakso, apalagi kalo baksonya gratisan (halah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wuah, kayaknya asik nih hehe... Yup, asik banget. Training yang diadain dari pagi sampe sore ini, diisi oleh pemateri-pemateri yang asik dan gaul lho. Di antaranya Kak Heru yang mbawain materi tentang Asyiknya Ngaji, trus ada Kak Wahid yang mbawain materi Andaikan Belajar Semangkok Bakso, dan ada juga Kak Ikhlas yang memotivasi para peserta untuk selalu giat belajar dan juga meraih prestasi di sekolah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah dibuka oleh salah satu Dewan Pembina MYCOM, Bapak Nurkolis Sinung S.Pd. dan juga ketua MYCOM, Marlan Ma'alum S.Pi, acara yang dipandu oleh kak Khadafi ini berlangsung meriah dan hangat. Selain materi yang asik dan nggak bikin bosan, pemateri dan juga panitia menyediakan games yang menarik dan juga doorprize yang keren-keren lho. Ada sekitar 6 buah buku yang dibagikan oleh panitia selain hadiah menarik lainnya. Wah wah wah, besok-besok kalo MYCOM ngadain acara lagi, jangan lupa hadiahnya ditambah lagi ya kak, hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendapat materi yang asik ini, para peserta meresponnya dengan beragam  pertanyaan dan tanggapan. Malahan, ada sebuah sesi dimana beberapa orang  peserta tampak asyik beradu argumen dengan sengitnya karena terjadi pro dan kontra saat pemateri membawakan sebuah studi kasus untuk mereka, padahal waktu itu sudah semakin sore lho. Wow, ternyata saking asiknya menikmati materi, mereka sampai lupa waktu lho hehe...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, biar tambah mantap, ini dia beberapa dokumentasinya ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;table align="center" cellpadding="0" cellspacing="0" class="tr-caption-container" style="margin-left: auto; margin-right: auto; text-align: center;"&gt;&lt;tbody&gt;&lt;tr&gt;&lt;td style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-Pk9T8ld3FIw/TgQwrICEiFI/AAAAAAAAAUU/8zORYwCcV1M/s1600/DSC_1239.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: auto; margin-right: auto;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/-Pk9T8ld3FIw/TgQwrICEiFI/AAAAAAAAAUU/8zORYwCcV1M/s320/DSC_1239.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;tr&gt;&lt;td class="tr-caption" style="text-align: center;"&gt;&lt;/td&gt;&lt;/tr&gt;&lt;/tbody&gt;&lt;/table&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Kak Wahid sedang membawakan materi&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;&amp;nbsp;&lt;/span&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/-f-cBiglUJ_A/TgQwtCLE5jI/AAAAAAAAAUY/EPsw6rikleg/s1600/DSC_1250.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://4.bp.blogspot.com/-f-cBiglUJ_A/TgQwtCLE5jI/AAAAAAAAAUY/EPsw6rikleg/s320/DSC_1250.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Salah satu peserta sedang bertany&lt;/span&gt;a&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/-ej52hfFXuX0/TgQwvuzNpUI/AAAAAAAAAUc/1JJ7ZSQsBv4/s1600/DSC_1265.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://2.bp.blogspot.com/-ej52hfFXuX0/TgQwvuzNpUI/AAAAAAAAAUc/1JJ7ZSQsBv4/s320/DSC_1265.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&amp;nbsp;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Salah seorang peserta putra sedang bertanya kepada Kak Ikhlas&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/-uzEjEAmg-qo/TgQwmPo4jII/AAAAAAAAAUM/hpg3zWXDxz8/s1600/DSC_1082.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" height="212" src="http://3.bp.blogspot.com/-uzEjEAmg-qo/TgQwmPo4jII/AAAAAAAAAUM/hpg3zWXDxz8/s320/DSC_1082.jpg" width="320" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-size: x-small;"&gt;Para peserta sedang bersiap menerima materi dari Kak Heru&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;Gak terasa, waktu sudah semakin sore. Para peserta pun tampak puas karena dapet banyak hadiah dari panitia (asik euy). Semoga apa yang teman-teman dapatkan bisa menjadi bekal untuk semakin berprestasi, baik di sekolah maupun di masyarakat ya. Amin. Sampai jumpa lagi di acara MYCOM selanjutnya.. ^^&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;[wahidnugroho.blogspot.com]&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;i&gt;Simpong, Juni 2011&lt;/i&gt;&lt;/div&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-4989454219871938832?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/4989454219871938832/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=4989454219871938832&amp;isPopup=true' title='4 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4989454219871938832'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4989454219871938832'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/06/mycom-training-for-teen-andaikan.html' title='[MYCOM] Training For Teen: Andaikan Belajar Semangkuk Bakso'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/-Pk9T8ld3FIw/TgQwrICEiFI/AAAAAAAAAUU/8zORYwCcV1M/s72-c/DSC_1239.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>4</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-8697942915127546169</id><published>2011-06-24T11:22:00.002+08:00</published><updated>2011-06-27T05:29:28.688+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><title type='text'>Bincang Buku: Trust Harga Sebuah Kepercayaan</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/R7con1DcHaI/AAAAAAAAAL0/U0cnW9iu760/s400/trust.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/R7con1DcHaI/AAAAAAAAAL0/U0cnW9iu760/s400/trust.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul Buku&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Trust Harga Sebuah Kepercayaan&lt;br /&gt;Pengarang&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Charles Epping&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Serambi&lt;br /&gt;Halaman&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: 536 halaman&lt;br /&gt;Harga&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;: Rp. 36.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Trust  adalah sebuah novel bergenre thriller tentang seorang konsultan TI  berkebangsaan Amerika di Helvetia Bank Zurich bernama Alex Payton yang  menemukan sebuah kode unik dalam database rekening di bank tersebut.  Kode yang belakangan diketahui sebagai sebuah nomer rekening perwalian  tersebut menyeret Alex bertualang ke pelbagai negara dan Amerika untuk  mencari siapa sebenarnya pemilik rekening bernilai nyaris setengah  miliar dollar tersebut sekaligus menguak misteri yang menyelimuti  rekenin tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini diawali dengan kisah Aladar  Kohen yang akan menempuh perjalanan dari Hongaria menuju Swiss melewati  Austria. Ini bukanlah perjalanan yang menyenangkan, karena Austria saat  itu sudah dianeksasi oleh Nazi yang sedang berusaha untuk membangkitkan  kembali Reich Jerman yang telah berusia ratusan tahun. Bagi seorang  Yahudi tulen seperti Aladar, keluar dari Hongaria melalui Austri tentu  bukan perkara mudah. Negara yang menjadi tujuan Aladar adalah Swiss. Di  negeri itulah Aladar kemudian bertemu dengan seorang bankir di Helvetia  Bank Zurich (HBZ) bernama Rudolph Tobler untuk membicarakan sebuah  perjanjian antara mereka berdua untuk menyelamatkan harta keluarga  Aladar. Aladar perlu melakukan hal ini agar harta mereka tidak disita  oleh pihak Nazi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada prolog buku ini kita akan  diperkenalkan dengan yang namanya Treuhand Konten, rekening perwalian.  Rekening perwalian adalah sebuah rekening yang dibuat atas nama orang  lain (biasa atas nama bankir) yang bertujuan untuk menyembunyikan  pemilik asli dari harta tersebut. Dengan semakin kuatnya tekanan Nazi  terhadap orang-orang Yahudi di beberapa negara Eropa, maka Treuhand  Konten ini menjadi jalan keluar yang masuk akal untuk menyelamatkan  harta benda orang-orang Yahudi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rekening perwalian ini  memiliki sistem yang sangat sederhana. Seorang nasabah mempercayakan  hartanya kepada seorang bankir dalam jangka waktu yang tidak ditentukan  dan kepemilikannya dapat diwariskan oleh keturunan sang nasabah,  tentunya dengan menunjukkan identitas dan juga bukti-bukti yang memadai.  Di negara Swiss sendiri, penggelapan atas pajak bukan termasuk tindak  pidana. Sistem kerahasiaan bank Swiss, sebagaimana tertuang dalam Swiss  Financial Market Supervisory Authority (FINMA) yang dikodifikasi secara  resmi sejak tahun 1934 tidak mengizinkan para bankirnya untuk  mempublikasikan identitas sang pemilik rekening. Di dalam sistem yang  sangat ketat itulah rekening perwalian ini berlokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu  bergulir. Seusai Perang Dunia dan juga histeria Nazi, dunia pun  memasuki era modern termasuk dunia perbankan. Sejak diterbitkannya The  Bank Secrecy Act of 1970, sistem kerahasiaan bank Swiss pun ikut  terkoreksi. Hal inilah yang nanti akan ditemui oleh Alex Payton dan  Rudolph Tobler Jr., putra tunggal Rudolph Tobler Sr., yang keduanya  bertemu dengan cara yang cukup unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke cerita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Petualangan  Alex dan Ruedi, panggilan Rudolph, serta beberapa teman Eropa dan  Amerika Latinnya, untuk mencari pemilik sebenarnya dari rekening, yang  belakangan diketahui, bernilai ratusan juta dolar tersebut membawa kita  menyusuri negara-negara Eropa dan juga benua Amerika. Di buku ini kita  akan disuguhi tentang seluk beluk dunia perbankan Swiss, eksotisme  negara-negara Eropa dan kebudayaannya, petite histoire tentang Yahudi,  sisi lain perang dunia, dunia komunikasi Hongaria, dan juga ketajaman  indra penciuman sang penulis yang dituangkannya dalam sebuah narasi  singkat padat. Mengenai keluasan dan kedalaman data tentang dunia  perbankan di buku ini ternyata tidak mengherankan, karena penulisnya,  Randy Charles Epping, adalah orang yang sudah puluhan tahun berkecimpung  dalam dunia perbankan internasional, termasuk Swiss, termasuk dua titel  master yang digondolnya dari Université de Paris IV-Sorbonne dan Yale  University. Universitas yang disebut belakangan tersebut juga menjadi  almamater dari Alex Payton, tokoh utama dalam novel ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh  iya, saya sedikit lupa untuk membeberkan ketegangan yang melanda saya  selama membaca buku ini mulai dari halaman pertama sampai akhir.  Narasinya berjalan cepat, walau kadang ada bagian yang bertele-tele,  seperti saat pertemuan Alex dengan Zsuzsi Vilmos di Hongaria. Buku ini  juga diterjemahkan dengan sangat baik oleh tim penerjemah Serambi,  sebuah penerbit yang cukup bereputasi dalam dunia penerjemahan buku-buku  asing. Ketegangan buku ini mencapai klimaksnya di sepertiga akhir  cerita. Pertemuan Alex dengan sindikat pencucian uang di Brazil serta  komplotannya di Swiss, yang ternyata berhubungan dengan rekening  perwalian tersebut, telah membahayakan hidup Alex dan juga  teman-temannya. Saya sendiri tidak akan menulis banyak tentang hal  tersebut. Sisanya bisa Anda nikmati dalam buku setebal 536 halaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Simpong, Juni 2011&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt; Menjelang Jum’atan, jadinya singkat aja ya hehe ^^ &lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Yang mau donlot ebooknya bisa kemari&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.4shared.com/file/yAY4YIKQ/Charles_Epping_-_Trust_Harga_S.htm" rel="nofollow" target="_blank"&gt;http://www.4shared.com/file/yAY4YIKQ/Charles_Epping_-_Trust_Harga_S.htm&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-8697942915127546169?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/8697942915127546169/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=8697942915127546169&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8697942915127546169'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8697942915127546169'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/06/judul-buku-trust-harga-sebuah.html' title='Bincang Buku: Trust Harga Sebuah Kepercayaan'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_IgAENqp3xpg/R7con1DcHaI/AAAAAAAAAL0/U0cnW9iu760/s72-c/trust.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-4269673369483284677</id><published>2011-06-24T11:20:00.001+08:00</published><updated>2011-06-27T05:29:36.454+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><title type='text'>Bincang Buku: Growing Up Bin Laden</title><content type='html'>&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://us.images.detik.com/content/2010/09/11/986/mstory-growing-up-bin-laden.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://us.images.detik.com/content/2010/09/11/986/mstory-growing-up-bin-laden.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Judul&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Growing Up Bin Laden&lt;br /&gt;Pengarang&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Jean Sasson, Najwa Ghaneem, Omar bin Laden&lt;br /&gt;Penerbit&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Literati &lt;br /&gt;Tebal&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : 543 halaman&lt;br /&gt;Harga&amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; &amp;nbsp;&amp;nbsp;&amp;nbsp; : Rp. 109.000&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku  sama sekali tak seperti ayah. Ketika dia menginginkan perang, aku  menginginkan perdamaian. Dan kini kami mengambil jalan hidup yang  berbeda, masing-masing menganggap diri kami benar. Ayah telah membuat  pilihan, dan aku pun demikian. Aku, akhirnya, adalah penguasa bagi  diriku sendiri. Aku tak keberatan hidup dengan cara itu.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;[Omar bin Laden]&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Pertama  kali melihat buku ini dipajang di etalase sebuah toko buku online, saya  langsung tertarik untuk memilikinya. Berita kematian Osama bin Laden di  Pakistan (berdasarkan klaim pihak militer US) yang terjadi beberapa  hari yang lalu salah satu faktor ketertarikan saya itu. Walaupun ada  banyak pro dan kontra seputar berita yang, bagi saya, masih sangat  diragukan kebenarannya itu, sosok seorang Osama bin Laden yang penuh  kontroversi menggelitik saya untuk mengetahui pribadinya secara  mendalam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak banyak memang buku-buku yang membahas sosok Osama  bin Laden dari sumber terdekatnya, keluarganya. Sebelum Growing Up Bin  Laden terbit, sudah ada beberapa buku yang membahas tentang The Most  Wanted Family On Earth ini, seperti yang ditulis oleh Carmen bin Laden,  yang sayangnya bukan ditulis oleh seorang bin Laden murni berhubung  Carmen adalah istri dari saudara tiri Osama. Atau buku yang berjudul The  Bin Laden yang ditulis oleh Steve Coll yang meskipun menuai banyak  pujian tapi, sayangnya, tidak memuat data yang berasal dari sumber  pertama di keluarga Bin Laden. Jadi, buku memoar ini bisa dikatakan  sebagai sumber tervalid (mungkin untuk saat ini) yang berceritera  tentang kehidupan seorang Osama bin Laden dari sumber yang paling dekat  dalam hidupnya: Najwa Ghaneem, istri pertama Osama, dan Omar bin Laden,  putra keempat Osama yang “gagal” diproyeksikan untuk menjadi The Next  Osama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Growing Up Bin Laden ini ditulis oleh Jean P. Sasson,  seorang penulis wanita berkebangsaan Amerika yang sudah menghabiskan  waktu puluhan tahun hidupnya untuk menulis buku-buku seputar kehidupan  masyarakat Saudi. Sebagaimana penulis barat kebanyakan, tema-tema yang  diangkat oleh Mrs. Sasson, seperti biasa, penuh dengan kontroversi. Ada  banyak bukunya yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.  Beberapa yang cukup terkenal adalah trilogi The Princess yang  mengisahkan tentang sisi lain kehidupan keluarga kerajaan Saudi yang,  sebagaimana saya sebut sebelumnya, penuh dengan kontroversi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke bin Laden.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Najwa  Ghaneem mengawali buku ini dengan kisah di masa kecilnya di Latakia,  sebuah kota pelabuhan di Suriah. Kenangan-kenangannya akan negeri indah  di sisi laut Mediterania itu, yang dilanjutkan dengan pertemuannya yang  pertama kali dengan Osama, yang merupakan sepupunya, sampai akhirnya  mereka menikah. Najwa Ghaneem mengakui bahwa Osama adalah seorang lelaki  yang sudah membuatnya jatuh cinta saat pandangan pertama. Sosok Osama  yang pendiam mendorong rasa penasaran Najwa untuk mengenalinya lebih  mendalam. Setelah melalui usaha yang tak terlalu mulus, Osama dan Najwa  akhirnya menikah di tahun 1974. Saat itu Osama berusia 17 tahun dan  Najwa berusia nyaris dua tahun lebih muda. Tak lama kemudian, Osama dan  Najwa pindah dari Suriah ke Jeddah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di Jeddah inilah Omar bin  Laden terlahir sebagai putra keempat Osama pada tahun 1981 setelah  sebelumnya tiga kakak laki-laki Omar lahir: Abdullah, Abdul Rahman, dan  Sa’ad.&amp;nbsp; Perkenalannya dengan Abdullah Azzam, tokoh karismatik asal  Palestina yang menggelorakan semangat keislaman Osama yang belakangan  menjadi ikon perlawanan bangsa Afghan saat perang melawan Uni Soviet,  serta invasi negari beruang merah itu ke Afghanistan pada tahun 1979  merubah pola pikir seorang Osama sehingga hari-harinya menjadi sibuk  dengan penggalangan dana untuk membantu perjuangan saudara-saudara  muslimnya di Afghanistan. Sebagai seorang organisatoris dan juga  aktivis, Osama adalah orang terbaik yang bisa melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  salah satu penyandang dana terbesar dan juga promotor paling  berpengaruh di kawasan Arab yang selalu menyerukan donasi kepada  Afghanistan, sosok Osama menjadi kian terkenal di mata internasional.  Usaha yang awalnya hanya berkisar pada pengumpulan dana dan juga  penyediaan logistik perang ini semakin berkembang. Osama merasa tak  cukup hanya berpartisipasi di&amp;nbsp; balik layar. Oleh karenanya, setelah  setengah dekade ia menghabiskan waktunya untuk melakukan penggalangan  dana, Osama mulai aktif terjun ke dalam perang Afghan-Soviet bersama  mentor spiritualnya, Abdullah Azzam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui sudut pandang istri  pertama dan putra keempatnya, sepak terjang Osama memberikan beragam  tanggapan bagi mereka berdua. Sebagai seorang istri yang selalu taat dan  begitu mencintai suaminya, Najwa Ghaneem tidak mempermasalahkan jalan  yang ditempuh oleh Osama meski usaha itu berisiko menghilangkan  nyawanya. Ia selalu mendukung apa yang dilakukan oleh suaminya itu,  meski terkadang isi hatinya berkata bahwa apa yang dilakukan oleh  suaminya sudah lebih dari cukup. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membaca kisah yang  dituturkan oleh Najwa, saya agak sedikit heran dengan pribadi Osama yang  tidak terbuka meski kepada istrinya sendiri. Pada beberapa bagian, saya  melihat kekhawatiran yang melanda Najwa tidak dicover dengan penjelasan  yang memadai dari suaminya tentang apa yang sebenarnya dia lakukan.  Saya pun jadi bertanya pada diri saya sendiri, apakah tidak pernah ada  komunikasi dua arah antara suami dan istri itu sampai sang istri harus  berakrobat sedemikian rupa untuk mengasuh anak-anaknya saat sang suami  pergi berjihad ke Afghanistan? Osama mungkin sudah menyediakan banyak  hal dari segi materi, meski tak semuanya memadai karena pandangan  sempitnya tentang modernisasi, tapi perhatian dan juga kasih sayang  seorang ayah kepada anak-anaknya, yang jumlahnya tidak sedikit, ternyata  cukup sulit saya dapatkan tercantum di buku ini. Ada beberapa bagian di  buku ini yang merekam kegelisahan anak-anak Osama karena kurangnya  perhatian dan kasih sayang dari ayah mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lain halnya dengan  Omar. Sebagai anak yang paling perasa di antara putra-putri Osama yang  lain, Omar tidak bisa menerima begitu saja apa yang dilakukan oleh  ayahnya. Pemberontakan Omar terhadap ayahnya terekam dengan baik di buku  ini, dengan subjektifitas yang kental tentunya. Omar merasa bahwa  ayahnya terlalu ketat dalam menjalankan agama sehingga ia,  saudara-saudaranya, dan juga ibunya, menjadi tersiksa karena ketatnya  aturan yang diberikan oleh sang ayah. Di bagian awal buku ini, kita akan  mendapati pribadi Omar yang dipenuhi dengan kegelisahan, ketidakpuasan,  dan juga kekecewaan terhadap sosok ayahnya. Diliputi ketatnya aturan  sang ayah dan hausnya kasih sayang seorang anak, yang sayangnya tidak  mendapat respon memadai dari sang ayah, Omar tumbuh menjadi anak yang  penyendiri dan pendiam. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di buku ini kita juga akan melihat  potret keluarga Osama secara jelas dan gamblang. Bagaimana kehidupan  keluarga mereka yang kaya harus berakhir dengan sangat “mengenaskan”  saat mereka harus diusir ke pegunungan Tora Bora di Afghanistan. Ada  beberapa bagian yang menarik selain fokus penulis pada kedua tokoh Omar  dan Najwa ini. Di antaranya adalah poligami Osama yang berjalan tanpa  masalah, walau ada yang berakhir dengan perceraian, tapi itu pun  berakhir dengan cara yang baik. Osama adalah lelaki yang sangat  menghormati wanita dan begitu mencintai ibunya, begitu setidaknya kesan  yang bisa saya dapat dari buku setebal 500an halaman ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada  banyak blank information di buku ini tentang pribadi Osama yang  sesungguhnya. Ketertutupan Osama terhadap anak dan istrinya, hanya bisa  ditafsirkan sepenggal-sepenggal oleh Najwa dan Omar, tentunya dengan  penilaian subjektif dari mereka berdua. Sehingga, walau buku ini, untuk  sementara, adalah buku yang cukup intim membahas Osama, apa yang menjadi  kegelisahannya terhadap Islam dan Barat tetap belum terekam dengan  maksimal. Tapi usaha penulis layak diacungi jempol, terutama saat  merangkai kenangan Najwa dan Ghaneem melalui beberapa bagian, sehingga  membaca memoar ini laiknya membaca sebuah cerita novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain  testimoni Najwa dan Omar, yang diakui penulisnya sebagai pengutipan  sepenuhnya tanpa mengubah isi cerita, penulis juga mencantumkan opini  pribadinya di beberapa bagian. Buku ini juga dilengkapi dengan  gambar-gambar eksklusif keluarga Osama, data lengkap keluarga dan apa  yang serta kronologis kejadian-kejadian penting mulai dari kelahiran  Osama sampai tahun 2009, tahun disusunnya buku ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai  orangtua, saya cukup kecewa dengan pola pendidikan yang diterapkan oleh  Osama kepada keluarganya. Tanpa kompromi, minim komunikasi, dan penuh  dengan dominasi. Beberapa di antaranya adalah penolakan Osama dengan  kehidupan modern yang, menurut saya, sangat keterlaluan, pengekangan  yang dia lakukan kepada anak-anaknya untuk menikmati masa kanak-kanak  mereka, dan juga, ini yang paling mengecewakan, pola komunikasi yang  cenderung searah dan tidak memberi ruang untuk perbedaan pendapat. Saya  tadinya berharap, dibalik sisi kontroversi seorang Osama, terdapat  sisi-sisi menyejukkan yang ia hadirkan ke dalam keluarganya, tapi  ternyata harapan saya menemui jalan yang cukup terjal. Osama bin Laden  mungkin bisa dibilang “sukses” menjadi seorang inspirator jihad bagu  sebagian kalangan, aksinya banyak dipuji dan juga militansinya untuk  membela Islam layak diperhitungkan, meski penuh kontroversi, tapi  sebagai kepala keluarga Osama, secara naif, bisa dikatakan gagal untuk  menyeimbangkan aktifitasnya di luar rumah dengan kewajibannya sebagai  seorang ayah dan sebagai kepala keluarga. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, di buku ini  kita juga akan mendapatkan informasi berharga mengenai perselisihan  Osama dengan keluarga besar kerajaan Arab Saudi serta  pendapat-pendapatnya tentang para pejabat kerajaan, tentu saja melalui  lisan seorang Omar. Selebihnya silakan Anda baca sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca  buku ini, saya jadi teringat dengan salah seorang tokoh besar Islam,  yang telah berhasil membumikan fikrohnya hingga lebih ke 80 negara,  Hasan Al Banna. Betapa beliau mampu menyeimbangkan kesibukannya di luar  rumah dengan kewajibannya sebagai seorang kepala keluarga. Betapa Hasan  al Banna telah berhasil mentarbiyah anak, istri, dan juga keluarga  besarnya untuk bisa menerima, bahkan ikut terlibat, dalam usaha  dakwahnya mulai dari skala Mesir dan Timur Tengah, hingga akhirnya  mendunia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa pendapat Anda tentang pengakuan seorang anak terhadap ayahnya di bawah ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kehidupan terasa menyenangkan ketika ayahku berada jauh, jauh sekali” [Omar bin Laden, halaman 124]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bandingkan perkataan Saiful Islam al Banna tentang ayahnya, Hasan Al Banna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ayah,  semoga Allah merahmatinya, sangat lembut perasaannya. Beliau sangat  memelihara perasaan anak-anak dengan begitu hati-hati. Beliau mempunyai  kemampuan yang menjadikan kami menurut tanpa memerlukan perintah untuk  mentaatinya. Kami menganggap beliau mempunyai wibawa demikian besar yang  menjadikan kami senang mengikuti keinginannya dan tidak mau  melawannya.” [Saiful Islam Al Banna, Ada Cinta Di Rumah Hasan Al Banna  hal. 39]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah.&lt;br /&gt;[wahidnugroho.blogspot.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Simpong, Juni 2011 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-4269673369483284677?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/4269673369483284677/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=4269673369483284677&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4269673369483284677'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4269673369483284677'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/06/bincang-buku-growing-up-bin-laden.html' title='Bincang Buku: Growing Up Bin Laden'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-8275217293755315870</id><published>2011-06-24T11:15:00.001+08:00</published><updated>2011-06-24T11:17:05.128+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merah Jingga'/><title type='text'>Kenikmatan Yang Menenangkan</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;div class="separator" style="clear: both; text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_8Dt9CV9AF3A/S0X_wHTHRGI/AAAAAAAAAUE/NCzQHjvJP5Y/s1600/etika-suami-isteri.jpg" imageanchor="1" style="margin-left: 1em; margin-right: 1em;"&gt;&lt;img border="0" src="http://3.bp.blogspot.com/_8Dt9CV9AF3A/S0X_wHTHRGI/AAAAAAAAAUE/NCzQHjvJP5Y/s1600/etika-suami-isteri.jpg" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;i&gt;&amp;nbsp;&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;&lt;i&gt;“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir”&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;b&gt;(Ar-Ruum 21)&lt;/b&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;span class="fullpost"&gt; &lt;br /&gt;Malam beranjak larut. Lelaki muda itu sudah mematikan motor lawasnya sejak dari kejauhan karena tak ingin mengganggu tetangga dan keluarganya yang sedang terlelap. Sambil menggiring motor  ke dalam rumahnya, lelaki muda itu menerawang ke langit malam yang tampak gelap kelabu. Sebentar lagi akan turun hujan tampaknya, pikirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di depan pintu rumahnya, lelaki muda itu menguluk salam sambil mengetuk kaca jendela yang keduanya dilakukan dengan sama pelannya. Tak beberapa lama, lampu di dalam rumah itu dinyalakan. Tampak siluet wanita berjilbab dari balik gorden sedang berjalan ke arah pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wa’alaikumsalam warahmatullah”, ujar suara di balik pintu yang merupakan istri lelaki itu. Wajah sang pemilik suara itu memancarkan senyuman terindahnya. Dibantunya sang suami untuk membereskan segala yang dibawanya. Tas laptop dan bungkusan berisi beberapa buku yang dibawa sang suami sudah berpindah ke tangannya. Sang suami menyandarkan tubuhnya sebentar di dinding ruang tamu tanpa kursi dan meja itu. Tak lama kemudian, sang istri datang dengan membawa segelas air putih yang langsung diserahkan kepada suaminya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indra penciuman lelaki itu menangkap aroma yang manis dari tubuh istrinya. Ditatapnya wajah sang istri sambil menikmati aroma yang menggetarkan itu. Cantik sekali, batinnya. Ditatap sang suami sedemikian rupa, wanita berkerudung itu jadi salah tingkah. “Anak-anak sudah tidur dari tadi”, ujarnya memecah kesunyian. Ada nada gugup dari ucapannya yang barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku mau cuci muka dan ganti baju dulu”, ucap sang suami sambil beranjak dari sandarannya. Wanita muda itu kemudian membantu suaminya untuk menanggalkan kemeja yang dipakainya. Saat sang istri melepaskan kancing baju suaminya satu persatu, sang suami memandangi kembali wajah istrinya yang lantas merona jingga karena menahan malu. Diusapnya wajah lembut sang istri dengan mesra. “Malam ini kamu cantik banget, sayang”, bisik suaminya sambil berlalu ke arah kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Beberapa saat usai membersihkan dirinya, pandangan sang suami tertuju kepada sosok istrinya. Tak seberapa lama, kedua anak manusia itu larut dalam gelora cinta yang paling purba.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada sumber energi dahsyat yang selalu membuat para lelaki sejati mengisi hidup mereka dengan semangat menggelora. Sumber energi itu adalah para wanita yang menjadi istri mereka. Bagi saya, istri adalah penawar dahaga di saat tubuh ini lelah berjelaga. Saat diri ini buntu menghadapi kilah dan ulah dunia, istrilah yang menjadi jalan keluarnya. Saat memandang wajah cantiknya, menghirup aroma legitnya, mendengar merdu suaranya, semangat yang meredup spontan berdegup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila mendengar suaranya, merasai aromanya, dan memandangi wajahnya sudah memberikan energi yang berlimpah, apatah lagi saat menikmati saat-saat intim bersamanya. Ada kenikmatan yang membanjiri lubuk hati ini ketika usai menunaikan tugas itu. Begitu pula ketika Allah menggunakan redaksi “litaskunuu ilayha” dalam firmanNya di atas, itu berarti ada kenikmatan yang lebih bersifat indrawi ketimbang maknawi dalam hubungan suami dan istri. Kenikmatan yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang telah menautkan cintanya dalam ikatan suci sebuah pernikahan. Kenikmatan yang bersumber dari mengalirnya gejolak syahwat di saluran yang tepat. Kenikmatan yang hanya bisa lahir dari percintaan yang halal nan berpahala. Kenikmatan yang menenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syahwat terhadap para wanita merupakan sumber vitalitas yang memberikan para lelaki gairah untuk bekerja dan berkarya. Itulah sebabnya Islam mengatur penyaluran yang tepat agar ia memberikan efek produktivitas bagi kehidupan manusia. Saluran itu adalah menikah. Ketika pintu-pintu yang awalnya diharamkan menjadi halal, ketika itulah segenap emosi dan potensi manusia menjadi terarah. Seorang lelaki sejati adalah mereka yang meredakan gejolak emosinya saat menemui wanita mereka. Semua kelelahan jiwa raga, keletihan ragawi dan hati akan luluh meluruh ketika tangan kasar mereka disentuh kulit lembut istri mereka, saat aroma kecut mereka terhapus dengan wewangian dari tubuh istri mereka, ketika raga mereka berpadu dalam cinta suci nan kudus itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai penutup, kepada teman-teman saya para suami, mari kita simak nasihat yang indah dari Sayyid Muhammad Al Baqir ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;"Wanita yang terbaik di antara kamu ialah yang membuang perisai malu ketika ia menanggalkan baju untuk suaminya, dan yang memasang kembali perisai malunya ketika ia berpakaian lagi."&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat membuat tulisan ini, saya teringat dengan syair lagu Sheila On Seven yang berjudul Ingin Pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;i&gt;Saat saat seperti ini&lt;br /&gt;Pintu t’lah terkunci lampu t’lah mati&lt;br /&gt;Kuingin pulang&lt;br /&gt;Tuk segera berjumpa denganmu&lt;/i&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah...&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span class="fullpost"&gt;[wahidnugroho.blogspot.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;b&gt;&lt;i&gt;Simpong, Juni 2011&lt;/i&gt;&lt;/b&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-8275217293755315870?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/8275217293755315870/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=8275217293755315870&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8275217293755315870'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8275217293755315870'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/06/kenikmatan-yang-menenangkan.html' title='Kenikmatan Yang Menenangkan'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_8Dt9CV9AF3A/S0X_wHTHRGI/AAAAAAAAAUE/NCzQHjvJP5Y/s72-c/etika-suami-isteri.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-2609100962633342309</id><published>2011-06-24T11:08:00.003+08:00</published><updated>2011-06-24T11:08:10.514+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>Akhirnya [Season 2]</title><content type='html'>&lt;span class="fullpost"&gt;    &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya bisa dibuka juga blog ini setelah sekian lama lupa password :nohope:&lt;br /&gt;Bismillah. Coba diramaikan kembali. [wahidnugroho.blogspot.com]&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-2609100962633342309?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/2609100962633342309/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=2609100962633342309&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2609100962633342309'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2609100962633342309'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2011/06/akhirnya-season-2.html' title='Akhirnya [Season 2]'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-2715573352599125869</id><published>2009-11-10T14:57:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:40:58.342+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Luka Kecil Itu...</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SvkQoqT9InI/AAAAAAAAASg/INfEKr_IUL4/s1600-h/DSC01232.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 240px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SvkQoqT9InI/AAAAAAAAASg/INfEKr_IUL4/s320/DSC01232.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5402367518746419826" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Kalau urusan menjaga fisiknya saja bisa kami lalaikan, maka bagaimana lagi dengan menjaga jiwanya”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;***&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lengan kiri anakku terluka. Entah siapa yang telah ceroboh sehingga ada garis sepanjang kurang lebih tiga sentimeter mengoyak kulit lengannya yang halus itu. Ketika kutanyakan kepada istri, ia hanya bisa menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mungkin kalau bukan Mamak (mertua saya) ya Peni (ipar saya), mas”, ujarnya menginvestigasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Bisa jadi”, jawabku singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, perhatianku tidak tertuju pada siapa yang salah dan sebagainya. Bisa saja dua orang yang disebut istriku tadi pelakunya, dan bisa juga orang lain. Itu pun belum tentu pelakunya mengetahui bahwa akibat kecerobohan kecilnya itu, lengan mungil putriku yang cantik telah terluka dibuatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pantesan tadi siang Azka nangis terus, mas”, kata istriku untuk merinci suasana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Oh, begitu..”, sahutku enggan memberi detail pada penderitaan yang dirasakan anakku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi bukan itu yang ingin ku tumpahkan dalam tulisan ini. Bukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tadi sore, ketika luka itu diketahui olehku, sontak jiwaku langsung berguncang hebat. Ada sesak yang menyeruak di dalam dada. Ada kesedihan yang begitu mendalam karenanya. Kesedihan yang tak mampu kulukiskan, bahkan dengan sejuta kata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ummu Azka”, ucapku memecah keheningan. Ia pun menoleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kalau luka kecil ini saja bisa membuat dadaku sesak, jiwaku terguncang, dan perasaan bersalah begitu menghantui diri ini, bagaimanakah perasaan para orangtua yang kehormatan anak gadisnya telah direnggut dengan cara-cara yang keji ya? Apa hati mereka nggak sakit? Apa mereka nggak marah sama pelakunya itu?”, tanyaku retoris sambil mengingatkannya tentang beberapa kejadian buruk yang menimpa sebagian kawan wanitanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Iya ya mas”, jawabnya singkat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Okelah, Anda bisa berkomentar bahwa saya terlalu berlebihan ketika menyikapi “hal kecil” ini. Tapi tidak! Ini bukan perkara kecil. Ini adalah miniatur dari perkara besar yang hendak Allah tunjukkan kepada kami, sehubungan dengan tanggungjawab kami sebagai orangtuanya. Ini berkaitan dengan tanggungjawab kami dalam mengemban amanah bernama ‘Anak’ yang kami begitu cintai dan sayangi. Yang dengan cinta itu kami rela untuk mengorbankan apa yang kami punya, dan apa yang kami rasa demi kebahagiaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena, kalau urusan menjaga fisiknya saja bisa kami lalaikan, maka bagaimana lagi dengan menjaga jiwanya? Bagaimana dengan iman dan kehormatannya? Bagaimana dengan kesucian dirinya? Perkara-perkara yang begitu kuat ingin kami jaga dan bina itu apakah bisa kami melakukannya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Robbana…” hanya kalimat itu yang bisa kulafadzkan ditengah gemuruh yang membadai di dalam dada ini. Berikan kami kekuatan untuk melindungi anak-anak kami ya Allah… [wahidnugroho.blogspot.com]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ruang PDI&lt;br /&gt;Oktober 2009&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-2715573352599125869?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/2715573352599125869/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=2715573352599125869&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2715573352599125869'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2715573352599125869'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2009/11/luka-kecil-itu.html' title='Luka Kecil Itu...'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SvkQoqT9InI/AAAAAAAAASg/INfEKr_IUL4/s72-c/DSC01232.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-4840455358342908417</id><published>2009-11-10T08:50:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:44:40.571+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>Padam</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.pasarkreasi.com/dirmember/00001/ultimateffect/content/content-1460-20081023-6-33-78/large/alone-in--the-dark_1460_l.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 600px; height: 399px;" src="http://www.pasarkreasi.com/dirmember/00001/ultimateffect/content/content-1460-20081023-6-33-78/large/alone-in--the-dark_1460_l.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Listrik boleh padam, cucian di kamar mandi boleh menumpuk, agenda boleh berantakan, pakaian boleh belum disetrika, tapi jangan sampe semangat kita redup karenanya. Okelah, silakan PLN disalahkan karena dibilang nggak becus kerjanya, bolehlah Pemda dikritik sana-sini karena terkesan cuek-bebek, nggak masalah kalo masyarakat pada demo dan mogok bayar rekening listrik, biarkan saja, itu hak mereka untuk menilainya. Hanya saja, jangan sampai itu semua kita jadikan alasan untuk mandek berkontribusi positif bagi bangsa ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan sampai, waktu kita hilang untuk mencaci sana-sini, jangan sampai usia kita habis untuk kritik ini dan kritik itu, jangan sampai kesempatan yang ada melayang karena kita sibuk mengisinya dengan kesia-siaan. Hayoh, bulatkan tekad, kuatkan semangat, lipatgandakan ikhtiar, perteguh kepasrahan kepadaNya, dan jadikan hidup kita lebih bermakna dengan memanfaatkan sekecil apapun kesempatan yang ada, sesingkat apapun waktu yang tersedia, dan pendek apapun jalan yang terbentang. Karena Rasulullah saja pernah menyuruh kita untuk menanam benih, meski besok kiamat tiba, apalagi kalo sekedar pemadaman listrik!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, there’s no more reason for us to stop struggling! No more reason for us hangin on the sadness! Keep fight for your life, coz there would’nt be no second chance for us!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke. On your mark! Get Set! Go!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;&lt;br /&gt;Baron, November 2009&lt;br /&gt;Hari (yang katanya) Pahlawan&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-4840455358342908417?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/4840455358342908417/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=4840455358342908417&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4840455358342908417'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4840455358342908417'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2009/11/padam.html' title='Padam'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-2932384069635267963</id><published>2009-03-17T08:24:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:44:31.116+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>Ngeblog Lagi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/Sb7uFIXIL7I/AAAAAAAAARY/ARKDY79VCeE/s1600-h/nulis.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 212px; height: 213px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/Sb7uFIXIL7I/AAAAAAAAARY/ARKDY79VCeE/s320/nulis.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5313946382255009714" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hehh,,, dah lama nggak ngeblog. Jaringan idup-mati, kompi dan kantor pun ganti-ganti, dan masih ditambah dengan mood menulis masih pulang pergi, lengkaplah sudah, blog ini hanya jadi semacam penambah benwit blogspot aja :p. Tapi, yah, biar udah nulis sebanyak gambreng (berapa itu?) tapi kalo nggak didokumentasikan di blog keknya masih kurang ngresep. Serasa ada yang kurang, gitu. Lagian, banyak juga fans-fans saya (heleh) yang merasakan kejemuan hidup gara-gara dah lama nggak mbaca tulisan saya (narsismode:on), he8x...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;September. Itu kurleb udah hampir setengah tahun yang lalu sejak tulisan saya yang terakhir di blog ini. Fiuhh,,, rasa-rasanya waktu ini berjalan semakin cepat dan tak dirasa saja. Dan tak terasa pula, sebentar lagi saya, insya Allah, akan menjadi seorang ayah. Hmmm....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan jadilah blog ini seperti ini. Setelah diacak-adut sedemikian rupa dan dipoles sana-sini. Bosen ah item-iteman terus. Pengen yang fresh dan nggak nyepetin (boso opo iki?) mata yang mbaca, jadinya warnanya semakin nggak jelas begini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;'Ala kulli haal, selamat datang (lagi) buat saya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baron, Maret 2009&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-2932384069635267963?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/2932384069635267963/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=2932384069635267963&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2932384069635267963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2932384069635267963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2009/03/ngeblog-lagi_16.html' title='Ngeblog Lagi'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/Sb7uFIXIL7I/AAAAAAAAARY/ARKDY79VCeE/s72-c/nulis.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-7751282878826032477</id><published>2008-09-29T05:26:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:44:16.006+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Suami Bagi Anak Perempuanku (Kelak)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://rgesit.blogsome.com/wp-admin/images/akhwat.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 129px; height: 172px;" src="http://rgesit.blogsome.com/wp-admin/images/akhwat.jpg" alt="" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Walid bin Abdul Malik. Siapa sih yang nggak kenal dengan pemuda ini? Keren, kaya, pintar, dan berkedudukan tinggi di masyarakat. Bapaknya adalah Abdul Malik bin Marwan, salah seorang khalifah Bani Umayyah pada masa itu. Secara garis keturunan pun, Walid termasuk dalam trah ningrat di tanah Arab. Intinya, secara keseluruhan, tidak ada satu pun cela yang melekat pada diri pemuda ini. Kalo kata grup band Andra and The Backbone, Walid adalah sesuatu yang, bisa dikatakan, ”sempurna...” (pake gayanya Dedi si vokalis Andra and The Backbone)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi, apa gerangan yang membuat seorang lelaki bernama Sa’id ibn Musayyab rahimahullah menolak Pangeran Walid sebagai calon suami dari anak perempuannya yang cantik itu? Dan yang lebih mengejutkan lagi, Sa’id justru lebih memilih Abu Wada’an yang notabene adalah seorang lelaki yang miskin dan berasal dari golongan masyarakat papa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ternyata, Sa’id sang ulama Madinah tidak tergoda dengan harta dunia. Ia lebih memilih muridnya yang miskin tapi memiliki pemahaman agama yang baik ketimbang sang pangeran yang kaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang, prinsip yang dimiliki Sa’id ibn Musayyab ini tampaknya belum familiar di masyarakat kita yang masih cenderung materialis. Dengan dalih kehormatan keluarga, mereka seolah menolak lelaki baik-baik yang hendak meminang anaknya dan lebih memasang kriteria kekayaan. Padahal dengan begitu, mereka (para orangtua itu) telah menjerumuskan mereka ke dalam kawah kebinasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya jadi ingat dengan sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam At Tirmidzi yang berbunyi seperti ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika datang kepada kalian (hai calon mertua) orang yang kalian sukai (ketaatan) agamanya dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu). Sebab, jika kamu sekalian tidak melakukannya, akan lahir fitnah (bencana) dan akan berkembang kehancuran yang besar di muka bumi.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian ada yang bertanya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wahai Rasulullah, bagaimana jika orang (pemuda) itu mempunyai (cacat atau kekurangan-kekurangan)?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, Rasulullah Saw. menjawab, (mengulangnya tiga kali)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jika datang kepada kalian orang yang bagus agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia (dengan putrimu)!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;So, syarat pemahaman agama adalah sebuah prinsip yang harus diambil oleh para orangtua dalam menikahkan anak perempuannya, dan sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, saya termasuk yang dimudahkan Allah dalam hal ini. Waktu hendak menikah dengan wanita yang sekarang telah menjadi istri saya sekarang, saya tidak dibebani apapun oleh calon mertua saya (mertuaku baek banget lo..^^). Asalkan mampu bertanggungjawab sudah cukup, begitu katanya. Meskipun apa yang dikatakan oleh mertua saya itu mendapat tantangan yang cukup keras, terutama dari keluarga besar suaminya, tapi mertua saya itu tetap kukuh (tentunya setelah diprovokasi oleh saya, he8x,,, :p). Tapi, yah, demi menghormati keluarga besar mereka, saya pun akhirnya harus mengikhlaskan sekian lembar uang saya untuk diserahkan kepada istri saya sebagai uang maharnya. Ndak papa lah, sekian ditukar sekian. Karena kalau saya pikir-pikir juga, apalah arti uang segitu dibanding keberkahan dunia dan akhirat saya (cie,,,).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya pun juga ingin meniru Ibnul Musayyab, begitu juga mertua saya, dan orangtua-orangtua lainnya yang memberikan kemudahan kepada cowok-cowok sholeh untuk meminang anak-anak perempuan mereka. Semoga kelak ketika Allah mengamanahi saya seorang anak perempuan yang cantik (seperti ibunya ^^), Allah pun berkenan untuk melapangkan dada ini untuk memudahkan setiap lelaki beriman nan baik akhlaqnya untuk meminang anak saya itu menjadi istri bagi dunia dan akhiratnya. Amin. Karena saya nggak mau kalau keluarga saya ditimpa bencana karena silaunya saya terhadap harta dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kapan ya...?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kambar, Agustus 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-7751282878826032477?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/7751282878826032477/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=7751282878826032477&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7751282878826032477'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7751282878826032477'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/09/suami-bagi-anak-perempuanku-kelak.html' title='Suami Bagi Anak Perempuanku (Kelak)'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-4179290098544718025</id><published>2008-09-28T14:11:00.001+08:00</published><updated>2011-06-27T06:31:38.326+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Uncategorized'/><title type='text'>Dapet Kenalan Baru</title><content type='html'>Siang tadi saya baru aja dapet telpon dari seseorang yang baru saya kenal. Rusdin namanya. Dia ini ternyata temen SMPnya istriku. Dari suaranya yang mirip sama suaranya si &lt;a href="http://www.friendster.com/16599555"&gt;Farid al Jomblowi&lt;/a&gt; (**sori brur^^v), saya dan dia langsung ngobrol dengan akrabnya. Persis banget kayak temen lama yang udah tahunan nggak ketemu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah ngobrol sana-sini, tahulah saya kalau anak muda yang satu ini adalah seorang penulis buku. Itu pun saya tahu dari istri saya, dan setelah membuka blognya &lt;a href="http://rusdin.wordpress.com/"&gt;di sini&lt;/a&gt;. Hmm, menarik juga. Padahal usianya lebih muda dari saya, tapi untuk urusan karya, saya memang harus belajar banyak dari ikhwan yang satu ini. Di usianya yang sedemikian muda, dia telah menerbitkan banyak sekali buku. Malahan, doi juga pernah nampang di salah satu majalah islam yang terkenal bernama Sabili. SBGTL. Subhanallah Banget Gitu loh. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ehem, tapi afwan ya bro, saya belum baca satu pun buku antum. Maklum, nggak gaul nih. He8x,,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, perkara usia bukanlah parameter yang shahih untuk mengukur tingkat kematangan seseorang. Kita ingat dengan Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhu. Seorang sahabat Rasulullah yang ketika mudanya telah menjadi mufassir yang handal. Bahkan boleh dikatakan, Ibnu Abbas ra ini adalah penghulu dari para mufassir yang ada di lembaran sejarah islam yang gemilang. Kita juga ingat dengan Asy-Syahid Imam Hasan Al Banna yang ketika mudanya diisi dengan kerja-kerja positif. Padahal semasanya, banyak anak-anak muda yang jauh dari jalan kebenaran, dan lebih memilih untuk menghabiskan waktu mudanya dengan kesia-siaan. Saya kira, kisah-kisah tentang pemuda-pemuda luar biasa ini telah banyak berserak di kehidupan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke teman baru saya yang satu ini, saya hanya bisa mengucap Alhamdulillah, segala puji bagiNya, yang telah mempertemukan saya dengannya. Semoga, dari silaturahim ini, saya bisa menimba banyak manfaat darinya. Bukankah jika kita bergaul dengan penjual minyak wangi maka kita akan tertular dengan wanginya? Begitu sabda Rasulullah saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ah, saya bahagia sekali jika tahu bahwa ada anak muda yang berprestasi seperti teman saya ini. Dan gara-gara peristiwa ini, entah kenapa, semangat saya jadi menyala kembali. Semoga tetap demikian adanya sampai esok dan selamanya kelak. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kambar, September 08&lt;br /&gt;Salam kenal bro ^^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-4179290098544718025?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/4179290098544718025/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=4179290098544718025&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4179290098544718025'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4179290098544718025'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/09/dapet-kenalan-baru.html' title='Dapet Kenalan Baru'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-6070977847906660282</id><published>2008-08-23T12:56:00.001+08:00</published><updated>2011-06-24T10:43:46.749+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cerita Foto'/><title type='text'>Indonesia Apa Adanya</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-ZEpob6LI/AAAAAAAAANU/7FchBW0XN98/s1600-h/indoneisa+apa+adanyah.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 373px; height: 278px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-ZEpob6LI/AAAAAAAAANU/7FchBW0XN98/s320/indoneisa+apa+adanyah.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237573196829157554" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memeringati HUT RI ke 63 yang udah telat banget, saya mau nyumbang foto nih. Foto ini diambil di Kecamatan Masama tanggal 17 Agustus kemaren pas saya mau pergi ke Balantak. Foto ini dibuat dengan meminjam henpon LG (tipenya lupa) punya temen saya. Hmmm, jadi inget sama masa kecil (tapi keknya masa kecil gw nggak pernah pake aksi pornoaksi begene deh :p). Maap kalo gambarnya burem. ^^&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-6070977847906660282?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/6070977847906660282/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=6070977847906660282&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/6070977847906660282'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/6070977847906660282'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/08/indonesia-apa-adanya.html' title='Indonesia Apa Adanya'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-ZEpob6LI/AAAAAAAAANU/7FchBW0XN98/s72-c/indoneisa+apa+adanyah.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-4440383846395782877</id><published>2008-08-23T12:42:00.001+08:00</published><updated>2011-06-27T06:26:05.228+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Luwuk'/><title type='text'>Akhirnya!</title><content type='html'>Akhirnya! Setelah lebih satu setengah tahun tinggal di Luwuk, saya berhasil berkeliling nyaris ke seluruh sudut kabupaten Banggai (sekedar info, Luwuk adalah ibukota kabupaten Banggai). Daerah yang dikenal sebagai kabupaten terluas di Sulawesi Tengah ini terdiri dari tigabelas kecamatan, yakni: Nuhon, Bunta, Pagimana, Bualemo, Balantak, Lamala, Masama, Luwuk Timur, Luwuk, Batui, Kintom, Toili, dan Toili Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi saya pribadi, apa yang sudah saya jalani ini bisa dikatakan sebuah torehan sejarah tersendiri. Karena, setidaknya sekali dalam seumur hidup saya yang baru menginjak angka duapuluhtiga ini, saya telah mengkhatamkan seluruh kecamatan di sebuah kabupaten tempat dinas pertama saya di KPP Luwuk, semenjak pertama kali datang ke daerah ini bulan Maret 2007 yang lalu. Alhamdulillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, jadi cerita lengkapnya begini. Hari Ahad (17/8) kemarin saya dan ketiga teman saya (Candra, Jo, dan Santo) berangkat dari Luwuk menuju Bualemo melalui jalur Selatan. Itu berarti kami akan melewati lima kecamatan mulai dari Luwuk itu sendiri, kemudian Luwuk Timur, Masama, Lamala, dan Balantak, sampai akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan hingga ke Bualemo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menempuh jarak kurang lebih 210an kilometer, sampailah kami di Bualemo. Jarak dua ratus sepuluh kilometer itu jangan dibayangkan sebagai sebuah jalan yang lurus dan mulus, tapi jalan yang kami lewati benar-benar jalan kecamatan yang bergunung-gunung (Balantak adalah kecamatan yang disesaki dengan perbukitan) dan ’keriting’ (berlubang) di sana-sini. Cukup membuat motor Supra saya jadi sedikit kelabakan dengan trek yang dahsyat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini dia reportase via fotonya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;a href="http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-WiVPLp7I/AAAAAAAAAMU/CP81UMLyLGU/s1600-h/di+atas+rakit.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237570408215717810" src="http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-WiVPLp7I/AAAAAAAAAMU/CP81UMLyLGU/s320/di+atas+rakit.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gambar 1. The Three Musketeer. Pas mau nyebrang ke Lamala&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-Wije_AII/AAAAAAAAAMc/-EQ5o9XdpSA/s1600-h/batas+balantak.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237570412040093826" src="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-Wije_AII/AAAAAAAAAMc/-EQ5o9XdpSA/s320/batas+balantak.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gambar 2. Mau masuk ke Balantak neh ^^&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-Wiurh6mI/AAAAAAAAAMk/k_WAMdjt2Hc/s1600-h/batas+bualemo.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237570415045503586" src="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-Wiurh6mI/AAAAAAAAAMk/k_WAMdjt2Hc/s320/batas+bualemo.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gambar 3. Habis dari Bualemo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-Wi1Izz0I/AAAAAAAAAMs/SBBidnZ2pLg/s1600-h/di+belakang+sana.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-style: italic;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237570416778923842" src="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-Wi1Izz0I/AAAAAAAAAMs/SBBidnZ2pLg/s320/di+belakang+sana.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gambar 4. Di atas pegunungan Balantak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-WkFQ3UlI/AAAAAAAAAM0/euXYJSn-sFI/s1600-h/pelangi.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-style: italic;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237570438287544914" src="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-WkFQ3UlI/AAAAAAAAAM0/euXYJSn-sFI/s320/pelangi.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gambar 5. Pelangi di atas langit Masama&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-XXtuxsNI/AAAAAAAAANM/1in45YrZOjs/s1600-h/wajah+asli+indonesia.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-style: italic;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237571325323751634" src="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-XXtuxsNI/AAAAAAAAANM/1in45YrZOjs/s320/wajah+asli+indonesia.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gambar 6. Wajah asli Indonesia ^^&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-XXtIZ4vI/AAAAAAAAANE/r2P-U5iDaok/s1600-h/jalan2+capek.JPG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-style: italic;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237571325162808050" src="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-XXtIZ4vI/AAAAAAAAANE/r2P-U5iDaok/s320/jalan2+capek.JPG" style="cursor: pointer; display: block; height: 322px; margin: 0px auto 10px; text-align: center; width: 445px;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gambar 7. Peta perjalanannya (hiks). Kita mulai dari selatan ke utara (garis merah)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-XXfp5VUI/AAAAAAAAAM8/txyueCnUAkE/s1600-h/vani+wahid+neh.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" style="font-style: italic;"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237571321545184578" src="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-XXfp5VUI/AAAAAAAAAM8/txyueCnUAkE/s320/vani+wahid+neh.jpg" style="cursor: pointer; display: block; margin: 0px auto 10px; text-align: center;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Gambar 8. He8x,,, sponsor dulu gitu ^^&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-4440383846395782877?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/4440383846395782877/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=4440383846395782877&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4440383846395782877'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4440383846395782877'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/08/akhirnya.html' title='Akhirnya!'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-WiVPLp7I/AAAAAAAAAMU/CP81UMLyLGU/s72-c/di+atas+rakit.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-6553101869896185891</id><published>2008-08-23T12:37:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:43:08.626+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merah Jingga'/><title type='text'>Kejatuhan Cinta</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-UhSHS_JI/AAAAAAAAAMM/0PyP-3ySEos/s1600-h/me+and+youw.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 222px; height: 166px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-UhSHS_JI/AAAAAAAAAMM/0PyP-3ySEos/s320/me+and+youw.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5237568191174212754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Mulanya saya tidak terlalu yakin bahwa saya bisa mencintainya, wanita yang saat ini telah menjadi istri bagi saya itu. Sebelum menikah dahulu, ramai orang meyakinkan saya bahwa cinta itu bisa diupayakan, meskipun saya belum terlalu mengenal calon istri saya itu. Akan  tetapi, kini saya benar-benar telah merasakannya. Setelah hampir dua bulan menikah, saya merasa bahwa saya telah jatuh cinta kepadanya. Saya telah jatuh cinta kepada bidadari itu, yang kini telah menjadi istri yang sah bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, ketika tubuh kami saling merapat dalam gurauan senja, pelan saya berbisik kepadanya bahwa saya sedang jatuh cinta dengan seorang wanita yang sangat cantik. Seketika itu juga dia langsung menolak tubuhnya seraya menekuk wajahnya. Saya perhatikan lekat-lekat wajahnya sambil mengusap lembut dahinya. Kemudian sambil bersungut, dia bertanya kepada saya, siapakah wanita yang saya maksud itu. Sambil tersenyum saya membisikkan sebuah kata kepadanya, ”Kamu”. Dalam hitungan sepersekian detik, dia langsung menunduk dan langsung memeluk tubuh saya. Erat sekali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri tidak terlalu paham dengan apa itu makna jatuh cinta. Yang saya pahami dari sebuah ceramah mengenai Cinta dari seorang ustadz beberapa tahun yang lalu adalah, bahwa dua orang yang sebelumnya tidak saling mencintai (mengenal), kelak mereka akan saling mencintai. Bagaimana bisa rasa cinta itu muncul? Jawabnya sederhana saja. Karena memang Allah telah menganugerahi rasa cinta itu kepada mereka berdua, suami istri itu. Penjelasannya seperti ini; bilamana ada dua orang yang keduanya sama-sama mencintai Allah, kemudian dua orang ini menikah karena Allah, maka kelak Allah akan menganugerahi cinta kepadanya. Dalam istilah saya, Allah akan ”menjatuhkan cinta” kepada sepasang insan itu sehingga jadilah cinta itu suci, dan abadi. Suci karena berasal dari yang Maha Suci, dan Abadi, karena berasal dari yang Maha Abadi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bisa jadi, inilah yang sedang terjadi kepada saya. Tepatnya, saya tidak sedang jatuh cinta. Tapi saya sedang kejatuhan cinta. Iya, Allah telah menjatuhkan sejumput cintaNya kepada saya sehingga saya mencintainya. Kalau menurut sebuah buku yang pernah saya baca, apa yang saya rasakan ini disebut sebagai "Penganugerahan Cinta". Mungkin analisa saya bisa saja salah. Tapi setelah saya lihat sebuah ayat di dalam Al Quran, saya kira analisa saya ada sedikit benarnya. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS Ar Ruum 21)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peling, Mei 2008&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Sambil memandang lelapmu&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dari catatan lama&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-6553101869896185891?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/6553101869896185891/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=6553101869896185891&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/6553101869896185891'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/6553101869896185891'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/08/kejatuhan-cinta.html' title='Kejatuhan Cinta'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SK-UhSHS_JI/AAAAAAAAAMM/0PyP-3ySEos/s72-c/me+and+youw.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5289147535942621697</id><published>2008-08-23T12:30:00.001+08:00</published><updated>2011-06-27T06:48:09.773+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>SETAHUN YANG LALU</title><content type='html'>Surat Untuk Bapak&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ada cerita tentang masa yang indah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Saat kita berduka saat kita tertawa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Peterpan, Semua Tentang Kita)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak setahun yang lalu, tahun duaributujuh. Tak lagi kusapa senyummu, duhai lelaki yang keras hati. Tak lagi kudengar parau suaramu, yang kadang tersela dengan batuk karena uzurmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak setahun yang lalu, tahun duaributujuh. Tak lagi bisa kunikmati kisah dan kesahmu. Tak lagi dapat kusimak, gundah gelisahmu akan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak setahun yang lalu, tahun duaributujuh. Tak lagi kudengar sayup-sayup tilawahmu selepas waktu shubuh, tatkala ku berbicara dengan wanitamu. ”Tak dengar”, begitu katamu jika diri ini hendak melepas rindu berdialog dengan kerut di sapamu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semenjak setahun yang lalu, tahun duaributujuh. Apa kabarmu, Pak? Di alam yang tak terlihat sinar mentari jua cahaya rembulan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui coretan ini, izinkanlah aku, anakmu yang tersayang ini, menceriterakan satu dua hal kepadamu. Mungkin kau tak bisa mengerti apa yang kukatakan, pak, tapi setidaknya kegundahan di hati ini bisa kuluapkan. Sebagaimana kau yang dulu setia mendengar keluh-kesahku akan dunia kala hidupmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak. Kabarku baik dan sehat, alhamdulillah. Hanya saja anakmu ini sedang ada sedikit sakit. Yah, biasalah, pak, sakitnya orang miskin. Diare dan maag. Kalau orang kaya mana sempet maag, lha wong makanan saja terhambur di sana dan di sini. Kuman-kuman diare pun aku yakin nggak akan berani mampir ke perut mereka. Lha wong dari ujung rambut sampai ujung kaki saja sudah dijejali produk-produk anti kuman. Belanja pun di supermarket mewah yang takkan pernah ditemui genangan air dan atap bocor di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak. Aku sekarang sudah beli motor pak. Motor yang dulu sering bapak impikan untuk aku miliki. Motor yang dulu bapak angankan untuk aku naiki, ke kampus, ke sekolah, ke kantor, dan kemanapun mauku. Aku tahu dan mengerti, anganmu itu dulu hanya sebatas angan. Karena kau tak mampu membelikanku motor baru. Motormu yang antikpun tak terurus. Bukan karena kau tak peduli, pak, tapi karena memang karena kau memang tak mampu. Aku mengerti pak, usahlah kau gulanakan kalbumu. Oh iya, adik juga sudah punya motor baru pak. Alhamdulillah, aku ada rejeki berlebih. Jadinya, ya, aku coba nyicil motor buat dia. Bapak tau bagaimana reaksi anak bungsumu itu ketika mendapatkan motor baru? Aku yakin, kau akan bahagia melihatnya, pak. Dia sangat senang, bahagia, terharu, atau apalah itu namanya. Intinya, dia begitu senang dengan hadiahnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak. Apa bapak sudah mengetahui tentang pernikahan anakmu ini? Anakmu ini sudah menikah pak. Dengan seorang wanita yang, kurang lebih, sesuai dengan apa yang kau kehendaki bertahun lalu. Saat ini, pak, menantumu itu tengah mengandung calon cucumu. Sayang ya pak, bapak nggak bisa ketemu sama dia. Tapi aku yakin, insya Allah kita akan bertemu kelak di syurgaNya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak. Ternyata jadi kepala rumah tangga itu tidak mudah, ya? Harus begini harus begitu. Pikir ini dan itu. Pusing karena itu dan ini. Menanggungjawabi ini dan itu. Berencana itu dan ini. Aku baru tahu, mungkin dulu kegundahanmu jauh melebihi kegundahanku saat ini. Dulu gajimu tak seberapa, tanggunganmu justru beberapa. Tapi, dengan segala keterbatasanmu dalam mengarungi hidup yang keras ini, aku jadi tersadar, betapa kau sungguh seorang lelaki yang bertanggungjawab. Kau rela bekerja siang malam membanting tulang, sampai tak ada lagi yang bisa kau banting, demi menghidupi dan memenuhi kebutuhan anakmu ini, pak. Dari sini aku jadi menyesal, pak, karena dulu ketika hidupmu aku pernah mengkritik kepemimpinanmu seperti ini seperti itu. Astaghfirullah, malu diri ini ketika mengingat itu pak. Serasa hina diri ini ketika mengenang masa itu. Maafkan aku pak, anakmu yang tak tahu diri ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak. Kuliah adik alhamdulillah lancar. Meski ada satu dua mata kuliah yang tidak lulus, tapi setidaknya dia sudah berusaha pak. Aku jadi ingat tatkala anak bungsumu itu meneleponku, menyatakan penyesalannya karena tidak lulus di salah satu mata kuliah. Tapi biar begitu, pak, aku yakin kau akan bangga dengan anakmu itu, pak. Karena setidaknya, dia sudah mewujudkan salah satu mimpimu untuk menguliahkan dua-dua anakmu. Meski kau hanya seorang pegawai negeri golongan rendah, tapi kau pantaslah berbangga kepada kedua-dua anakmu ini. Yang satu lulusan sekolah kedinasan anu dan yang dua sedang kuliah di PTN itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak. Alhamdulillah, aku udah jadi PNS. Sebagaimana yang dulu kau inginkan atasku. Kau dulu mengatakan, bahwa PNS itu enak. Enak dikala tuanya, karena ada jaminan dari pemerintah. Enak, karena penghasilan sudah pasti dan tetap. Enak karena begini dan begitu. Kurang lebih seperti itulah kisahmu dulu kepadaku yang belum juga bisa mengikat tali sepatuku sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak. Bisnis mamak agak seret. Beberapa waktu yang lalu BBM naik lagi. Harga-harga kebutuhan pokok otomatis naik. Cabe sekilo jadi sekian, gula sekilo jadi sekian, minyak goreng sekilo jadi sekian, minyak tanah mulai langka, ini itu mulai mahal. Ah, apa gerangan yang hendak kau pikirkan, pak, jika sampai hari ini kau masih hidup dan melihat realita dunia yang semakin sulit dan sempit ini. Kriminalitas begitu menggila, nekat dan makin beringas. Tak pandang laki perempuan tua muda kaya miskin, semua disikat, semua digilas. Begitu edannya jaman kiwari ini pak. Beruntunglah, kau yang tak lagi ikut gundah dengan semua itu, pak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak. Ingin sekali diri ini bercerita banyak kepadamu. Ingin sekali tangan ini menuliskan beribu, berjuta kisah yang sudah lewat kepadamu. Ingin sekali jemari ini mengelus rambutmu yang menipis dan penuh uban, mengusap wajahmu yang dipenuhi keriput kasar karena tuamu. Ingin sekali telinga ini mendengarkan lantunan ayat suci yang lazim kau lakukan selepas shalat shubuh di atas kursi kayu itu. Ingin sekali diri ini kau ingatkan, ”Motor sudah dicuci belum? Motor sudah diganti oli belum? Motor sudah dibeliin bensin belum?” dan tanya-tanya lainnya yang biasa kau lontarkan kepadaku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak. Maaf jika anakmu yang lemah ini jarang mendoakanmu di malam-malam yang sepi. Maaf, jika anakmu yang payah ini kerap melupakanmu dalam munajat-munajat panjangku. Maaf, pak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak. Ingin sekali mata ini menatap senyummu, tangismu, marahmu, tawamu, diammu, tidurmu, dan semua yang melekat pada dirimu. Meski ku tahu, itu semua tidak mungkin. Itu semua tidak akan pernah mungkin terjadi di dunia fana ini, pak. Tapi aku yakin, aku yakin dan selalu yakin, bahwa semua itu akan kembali kutemui di sana, pak, di tempat dimana tak ada lagi kegelisahan dan keresahan. Tempat dimana hanya kesenanganlah yang menjadi bahan pembicaraan, tempat dimana tak lagi dijumpa sedih dan tangis. Yang ada hanya bahagia semata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahumaghfirlahu warhamhu wa’afihi wa’fu’anhu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peluk rindu penuh cinta dariku&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kampung Baru, Agustus 2008 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;5 Agustus 2007 – 5 Agustus 2008 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5289147535942621697?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5289147535942621697/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5289147535942621697&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5289147535942621697'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5289147535942621697'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/08/setahun-yang-lalu.html' title='SETAHUN YANG LALU'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-8523444429872275442</id><published>2008-08-23T12:25:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:42:42.669+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretan Corner'/><title type='text'>Menulis Adalah Investasi Pikiran: Sebuah Sudut Pandang</title><content type='html'>Apa pendapat Anda tentang sebuah tulisan? Saya kira akan ada jawaban yang beragam ketika kita menemui pertanyaan semacam ini. Kalau saya sendiri akan menjawab, ”Tulisan adalah sebuah investasi pikiran”. Ya, investasi. Tulisan, menurut saya, bisa dikatakan sebagai salah satu bentuk dari investasi pikiran. Dan blog adalah salah satu produk dari investasi itu, selain buku tentunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, di era yang semakin maju ini, banyak orang telah menjadikan blog sebagai sebuah sarana untuk mengungkapkan, baik cipta, rasa dan karsa seseorang kepada khalayak ramai, selain sebagai media informasi tentunya. Di sisi lain, baik kita yakini maupun tidak, secara sadar kita telah menginvestasikan pikiran kita melalui tulisan-tulisan yang kita buat dalam sebuah blog. Blog, menurut Jonru, adalah sarana yang paling efektif untuk mengekspresikan diri kita melalui sebuah tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari penjelasan singkat ini saya bisa melihat kecenderungan seseorang melalui tulisan-tulisannya dalam sebuah blog. Meski saya paham bahwa pendapat saya ini bisa diperdebatkan. Hanya saja, ketika saya membaca sebuah blog, maka saya, seolah, dihadapkan pada sebuah kondisi yang sebenarnya tengah menjelaskan kepada saya mengenai apa dan siapa si pemilik blog ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika saya berkunjung ke blog si A yang isinya kebanyakan adalah lelucon, maka saya bisa menyimpulkan bahwa si A ini adalah orang yang humoris. Ketika saya berkunjung ke blog si B yang penuh dengan renungan-renungan kontemplatif, maka saya bisa menyimpulkan bahwa si B adalah seorang yang arif. Begitu pula ketika saya membaca blognya si C yang kebanyakan ulasannya adalah tentang buku dan buku, maka jangan salahkan saya jika si C akan saya deskripsikan sebagai orang yang gemar membaca. Sama halnya ketika sebuah blog diisi dengan puisi dan segala yang berbau seni, maka saya bisa simpulkan bahwa orang tersebut memiliki jiwa seniman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, oke. Pendapat saya ini tidak bisa sepenuhnya Anda terima. Karena terkadang saya pernah menemui seorang penulis yang luar biasa tapi dari segi penampakan (penampakan?) tidak timbul kesan dalam diri saya bahwa ia adalah orang yang pernah membuat tulisan tersebut. Dari sini saya jadi ingat dengan sebuah pepatah yang berbunyi, “Don’t judge the book by it’s cover”. Maaf jika ada kesalahan dalam penulisan, karena saya bukan seorang ahlul-Inggris yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah blog.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika orang lain menilai blog sebagai sarana untuk berekspresi, maka saya lebih melihatnya sebagai sebuah investasi. Kenapa investasi? Karena dari blog yang kita buat, tulisan yang kita susun, pandangan yang kita berikan dan informasi yang kita bagi, itu sama saja dengan investasi kebaikan yang bisa berguna bagi siapapun yang membacanya. Termasuk dalam istilah saya ini blog-blog yang berisi cerita-cerita lucu dan sebangsanya. Bagaimanapun, saya menilai kelucuan yang ada di dalamnya itu sebagai salah satu bentuk hiburan bagi jiwa saya yang terkadang mengalami kepenatan, bete, dan sebagainya. Dalam hal ini, bergantung dari sudut pandang mana kita menilainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan tulisan sampah? Saya tidak setuju dengan istilah sampah ini. Semua tulisan, menurut saya, adalah berharga. Saya sendiri sangat menghargai orang-orang yang telah bersusah-payah untuk menulis, apapun yang mereka tulis. Adapun sampah tidaknya sebuah tulisan, menurut saya lagi, adalah terletak pada nilai yang terkandung di dalam tulisan itu. Apakah mendorong pembacanya untuk berbuat kebaikan atau justru sebaliknya. Apakah tulisan itu mengajak pembacanya untuk melakukan hal-hal yang bermanfaat atau justru sebaliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir. Satu yang pasti, dengan menulis, maka pikiran kita akan terpelihara, demikian ujar Hernowo, pengarang buku Mengikat Makna. Menulis akan mencegah kita dari kepikunan dan kelemahan ingatan. Dan dengan menulis, maka pikiran kita akan terinvestasikan. Sehingga, melalui tulisan yang kita investasikan itu, kita dapat berharap kemanfaatan yang bisa dikais setelah orang lain membacanya. Karena sebuah tulisan bisa bercerita banyak, meski waktu telah lewat bermasa, dan jarak telah tercakup sedemikian panjangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Namanya juga sebuah sudut pandang. Tentunya akan ada banyak sudut yang tidak terekspos jika hanya menggunakan satu sudut ketika memandangnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kambar, Agustus 2008 &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tetap belajar menulis. &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-8523444429872275442?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/8523444429872275442/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=8523444429872275442&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8523444429872275442'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8523444429872275442'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/08/menulis-adalah-investasi-pikiran-sebuah.html' title='Menulis Adalah Investasi Pikiran: Sebuah Sudut Pandang'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5447185858340820797</id><published>2008-08-16T13:51:00.001+08:00</published><updated>2011-06-27T05:29:41.532+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Fiksi'/><title type='text'>Bumi Manusia : Sebuah Testimoni</title><content type='html'>&lt;a href="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SKZriRdOPkI/AAAAAAAAALk/3B30iNX-VR4/s1600-h/BumiManusia.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234989853410475586" src="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SKZriRdOPkI/AAAAAAAAALk/3B30iNX-VR4/s320/BumiManusia.jpg" style="cursor: pointer; float: left; height: 184px; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 120px;" /&gt;&lt;/a&gt;Judul buku    : Bumi Manusia&lt;br /&gt;Pengarang    : Pramoedya Ananta Toer&lt;br /&gt;Penerbit    : Lentera Dipantara&lt;br /&gt;Tebal        : 535 halaman&lt;br /&gt;Cetakan    : III, Desember 2006&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Seorang terpelajar harus juga berlaku adil sudah sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Pramoedya Ananta Toer)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bumi Manusia, termasuk tiga buku lainnya yang termasuk dalam Tetralogi Buru, diciptakan oleh Pram, begitu Pramoedya biasa dipanggil, saat berada di kamp kerja paksa di pulau Buru akibat keterlibatan Pram dengan Lekra, sayap kebudayaan PKI. Buku ini sebelumnya diceritakan secara lisan oleh Pram kepada teman-temannya di penjara, yang menandakan betapa Pram sangat menguasai kisah ini secara kuat, sampai akhirnya ditulis dua tahun setelah penceritaan secara lisan itu dengan sarana yang sangat terbatas. Naskah buku ini bahkan sempat dibakar oleh petugas penjara. Namun berkat kegigihan Pram dan bantuan dari seorang wartawan Australia, karya ini akhirnya berhasil diselamatkan sebelum akhirnya diterbitkan di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Buku ini adalah sebuah roman sejarah. Mengisahkan tentang kehidupan Minke, seorang priyayi Jawa yang tengah gelisah dengan kondisi wangsa dan bangsanya yang terpuruk dalam kerendahdirian dan kebodohan. Di satu sisi, pergumulannya dengan peradaban Eropa telah mengangkat derajat Minke di antara bangsanya sendiri pada status yang cukup menggembirakan. Akan tetapi, semua kedigdayaan itu hanya berskala regional, karena di kalangan masyarakat Eropa totok dan Indo, Minke tetap warga kelas tiga yang tidak ada bedanya dengan Pribumi lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Coba perhatikan dialog berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Kau mimpi. Aku takkan jadi bupati.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dengarkan dulu. Aku akan bertanya: Hai philogynik, mata kranjang, buaya darat, mana haremmu?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Rupa-rupanya kau masih anggap aku sebagai Jawa yang belum beradab.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Mana ada Jawa, bupati pula, bukan buaya darat?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku takkan jadi bupati.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Minke hidup di tengah prasangka bangsa Eropa yang merendahkan Inlander (kaum Pribumi) hingga sedemikian rupa. Sehingga yang ada di pikiran mereka adalah, Pribumi itu bodoh, budak, tak berguna, dan, rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada banyak dialog cerdas yang terdapat dalam buku ini. Kekritisan dibalut dengan kecerdasan, mengiringi hampir di semua halamannya. Lihat saja dialog Minke dengan Jean Marais berikut ini ketika Minke terkena sassus (gosip)yang kurang enak terkait pergaulannya dengan Nyai Ontosoroh, seorang Nyai Pribumi yang sangat cerdas dan berhasil menggugah relung intelektual Minke. Wanita inilah yang kelak akan menjadi mertua sekaligus orang yang memengaruhi pemikiran Minke terhadap dunia:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pendapat umum perlu dan harus diindahkan, dihormati, dan benar. Kalau salah, mengapa dihormati dan diindahkan? Kau terpelajar, Minke. Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi dalam perbuatan. Itulah memang arti terpelajar itu. Datanglah kau padanya barang dua tiga kali lagi, nanti kau akan dapat lebih mengetahui benar-tidaknya pendapat umum itu.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jadi kau anjurkan aku datang lagi ke sana?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku anjurkan kau menguji benar-tidaknya pendapat umum itu. Ikut dengan pendapat umum yang salah juga salah. Kau akan ikut mengadili satu keluarga yang mungkin lebih baik dari hakimnya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jean, kau memang sahabatku. Aku kira kau akan adili aku.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tak pernah aku mengadili tanpa tahu duduk perkara.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Zaman itu, Nyai (baca: gundik) identik dengan kebobrokan moral dan kebodohan. Sehingga jika ada seorang wanita Pribumi mendapatkan predikat Nyai, sudah dipastikan, masyarakat akan mencap jelek wanita itu. Tapi ternyata, Nyai Ontosoroh adalah Nyai yang berbeda dengan Nyai kebanyakan. Ia mampu membaca dan berbahasa Belanda dengan sangat baik. Sebuah hal yang hampir mustahil terjadi di masa itu. Itulah yang menarik Minke untuk bergaul dengan Nyai Ontosoroh walaupun ramai orang membicarakan mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, buku ini tetaplah sebuah roman. Sehingga yang namanya kisah cinta tetap tak lupa disisipkan oleh Pram. Kisah cinta dalam buku ini berbicara tentang Minke dan Annelies Mellema, anak dari Nyai Ontosoroh yang merupakan Indo. Ada sebuah dialog antara Minke dan Annelies yang cukup membuat saya tersenyum sendiri saat membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Pernah kau lihat gambar Sri Ratu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tentu saja. Cantik bukan kepalang!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Ya. Kau tak salah.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Mengapa?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kau lebih daripadanya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara keseluruhan, buku ini memang menarik perhatian saya. Entah apa yang ada di dalam benak Jaksa Agung di era awal delapan puluhan sehingga melarang peredaran buku ini. Padahal buku ini begitu laris di luar negeri bak kacang goreng. Bahkan paska pelarangan terbitnya, Bumi Manusia termasuk buku yang paling banyak dicari setelah karya Marx di masa itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pram, melalui karyanya ini, adalah satu-satunya orang Indonesia yang pernah masuk nominasi penerima nobel sastra. Namun karena ada suara-suara sumbang yang bicara tentang masa lalu Pram yang gelap, nominasi itu pun hanya bisa maju mundur tanpa ada kejelasan hasilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bicara mengenai buku ini, maka kita akan berinteraksi dengan pemikiran-pemikiran Pram terhadap nasionnya lewat tokoh Minke. Selain itu, Pram juga meletakkan kritik-kritiknya atas peradaban Eropa yang maju tapi tak mengenal kemanusiaan, kejawaan yang membelenggu, kebodohan dan keengganan Pribumi untuk maju, serta sindiran-sindiran Pram terhadap bangsanya yang masih terjebak dalam kekerdilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihatlah dua kritiknya terhadap kekerdilan budaya Jawa dan kejumawaan Eropa berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Ya Allah, kau nenek moyang, kau, apa sebab kau ciptakan adat yang menghina martabat turunanmu sendiri begini macam? Tak pernah terpikir olehmu, nenek-moyang yang keterlaluan! Keturunanmu bisa lebih mulia tanpa menghinakan kau! Sial dangkal! Mengapa kau sampai hati mewariskan adat semacam ini?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Apabila tak ada yang mau mendengarkan, tahulah aku: omongkosong saja segala ilmu-pengetahuan Eropa yang diagung-agungkan itu. Omongkosong! Pada akhirnya semua akan berarti alat hanya untuk merampasi segala apa yang kami sayangi dan kami punyai: kehormatan, keringat, hak, bahkan juga anak dan istri.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya melihat Pram sebagai sosok yang sangat menghargai perempuan. Ini terlihat dari hadirnya empat tokoh wanita yang turut mewarnai dan bahkan memengaruhi pemikirannya dengan sangat dominan. Keempat perempuan itu adalah Nyai Ontosoroh, Ibundanya sendiri, Annelies Mellema, dan Juffrouw Magda Peters. Selain itu ada juga Miriam dan Sarah de la Croix yang turut berdiskusi dengan pemikiran Minke lewat surat-suratnya yang penuh ekspektasi terhadap kemajuan Pribumi di masa depan. Banyaknya perempuan yang berpengaruh dalam tokoh ini memang berakar dari pribadi Pram sendiri yang dikabarkan sangat dekat dengan ibunya. Sehingga tak heran jika Pram mewakilkan sosok ibunya itu lewat dua tokoh perempuan: Nyai Ontosoroh dan Ibundanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari segi fisik, buku ini memiliki cover yang cukup antik. Warna hijau tua dipadu dengan warna krem yang lembut, membingkai sebuah lukisan yang bergambar dua orang pria dan dua orang perempuan yang sedang duduk di atas bendi tanpa atap. Di belakang mereka ada sebuah rumah dan lapangan yang sangat luas bergaya Eropa abad 19. Dialog-dialog di dalam buku ini sangat unik, karena Pram menggunakan gaya bahasa Indonesia lama dalam penceritaannya. Dengan kesalahan pengetikan yang nyaris tidak ada, pemilihan huruf dan spasi yang cukup baik, menambah nyaman mata saya saat membaca buku yang cukup tebal ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ohya, Bumi Manusia ini sudah menerima banyak sekali penghargaan internasional, mulai dari Amerika, Jepang, Australia, Norwegia, Filipina, Belanda dan sebagainya. Buku yang sudah diterjemahkan ke dalam lebih dari 50 bahasa asing ini memang telah memberikan sumbangan pemikiran yang brilian terhadap dunia yang kala itu, mungkin juga sekarang, tengah berada dalam cengkeraman tirani penguasa yang bobrok dan korup. Inilah mungkin yang menyebabkan Pram tergolong ke dalam idealis cerdas, karena ia melakukan perlawanan tidak melalui jalan kekerasan, tapi melalui jalan pemikiran dan penulisan. Tak heran, ada ungkapan yang pernah saya dengar mengenai Pram ini yang berkata, “Pram adalah manusia yang dicintai dunia, tapi dibenci bangsanya sendiri.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Di tangan Pram, sejarah terasa begitu hidup dan menghidupkan, karena kita diposisikan sebagai pelaku utama saat mengikuti kisah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Selamat membaca!&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu Adam, Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5447185858340820797?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5447185858340820797/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5447185858340820797&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5447185858340820797'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5447185858340820797'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/08/bumi-manusia-sebuah-testimoni.html' title='Bumi Manusia : Sebuah Testimoni'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SKZriRdOPkI/AAAAAAAAALk/3B30iNX-VR4/s72-c/BumiManusia.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-2620806414409362684</id><published>2008-08-15T21:23:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:45:22.888+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretan Corner'/><title type='text'>Qui Scribit, Bis Legit</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SKYKoPM_ktI/AAAAAAAAALc/iungemY8FYo/s1600-h/books.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer; width: 210px; height: 210px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SKYKoPM_ktI/AAAAAAAAALc/iungemY8FYo/s320/books.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5234883303256855250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang menulis, itu berarti dia membaca dua kali. Kurang lebih demikianlah arti dari kalimat latin di atas. Karena dengan menulis, itu berarti kita menyampaikan kembali apa-apa yang telah kita dapatkan sebelumnya dari apa yang sudah kita baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan yang kita buat sebenarnya berasal dari kemampuan kita dalam membaca pertanda-pertanda yang tersebar di penjuru mayapada. Saat tangan kita menekan tuts keyboard maupun menulis di atas berhelai kertas, itu berarti bahwa kita telah memindahkan segala yang tersimpan dalam ruang baca kita kepada sebuah media baru yang bisa diketahui dan dinikmati banyak orang. Media itu bernama tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ruang baca sendiri tidak terbatas pada pengertian ruang baca pada umumnya, yakni dengan membaca buku semata. Ruang baca itu bisa berwujud apa saja dan dimana saja. Ruang baca bisa terdapat pada angin yang berhembus, pada malam yang gelap, pada debu yang bertebangan, pada tangis seorang anak, pada cinta orangtua, pada sampah yang berserakan, pada teman kita yang sedang marah atau jatuh cinta, dan juga pada banyak hal. Termasuk pada diamnya kita, maka di situlah terdapat ruang baca. Saya menyebutnya dengan inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inspirasi adalah motor penggerak bagi penulis untuk menulis. Dengan perantara inspirasi, maka tabungan pengetahuan dan pengalaman yang tertimbun di dalam diri seorang calon penulis akan mudah untuk disalurkan dalam berbagai bentuk. Saluran itu bisa berupa catatan harian (diary), puisi, essai, opini, resensi, atau coretan ringan seperti yang saya lakukan ini. “Apa yang terjadi adalah sebuah kisah”, demikian ujar Kaisar Oktavianus Augustus. Sehingga, tak ada salahnya untuk berbagi kisah-kisah yang penuh hikmah dan pelajaran, karena semua manusia pasti memiliki kisahnya sendiri. Ruang bacanya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sinilah tantangan yang dihadapi oleh para penulis dalam merancang sebentuk saluran yang sesuai dengan keinginan, kemampuan, dan juga kebutuhannya. Tidak ada aturan yang baku dan mengikat bahwa kita harus menulis ini atau itu. Tidak ada. Yang ada adalah sebuah kesepakatan tak tertulis agar tulisan yang kita buat bisa bermanfaat bagi sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kunci utama dari semua itu adalah mencoba. Dengan mencoba, maka kita akan mengetahui letak kekurangan dan kesalahan pada karya kita. Dengan mencoba, maka kita akan memiliki pengalaman, dan pengalaman adalah guru yang terbaik. Sudah cukup bagi kita untuk berkutat pada gumaman-gumaman pelan dan suara-suara lemah yang hanya bergaung di ujung lorong. Sekaranglah saatnya bagi kita untuk mengukir gumaman itu di tembok-tembok waktu yang panjang. Karena dengan begitu, kita telah berusaha untuk mewariskan sebuah nilai yang kelak, harapannya, akan tetap dikenang oleh sejarah. Practice, practice, and practice. Begitulah ujar seorang penulis ketika ia ditanya tentang tips menulis yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sudah mencoba untuk memulai dan sedang berusaha untuk menikmati masa percobaan saya itu dengan sebaik dan serileks mungkin. Meluaskan ruang baca saya hingga ke sudut-sudut yang jarang terekspos. Menyebarkan jaring-jaring penangkap inspirasi yang kian banyak bertebaran di segala penjuru mata angin. Karena saya bertekad untuk menghasilkan karya-karya yang, mengutip perkataan Andrea Hirata sang pengarang tetralogi Laskar Pelangi, mampu menggerakkan pembacanya untuk melakukan hal-hal yang luhur setelah membacanya. Begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saatnya berburu inspirasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu Adam, kamarku berantakan sekali&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Dari tumpukan file lama&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-2620806414409362684?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/2620806414409362684/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=2620806414409362684&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2620806414409362684'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/2620806414409362684'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/08/qui-scribit-bis-legit.html' title='Qui Scribit, Bis Legit'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SKYKoPM_ktI/AAAAAAAAALc/iungemY8FYo/s72-c/books.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-4590754781456998234</id><published>2008-08-03T12:22:00.001+08:00</published><updated>2011-06-27T06:26:06.766+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Luwuk'/><title type='text'>Hanya Di Luwuk Saja</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SJU025gI_nI/AAAAAAAAALU/gabCQOONIlQ/s1600-h/luwuk_kilosatu3.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5230144660013907570" src="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SJU025gI_nI/AAAAAAAAALU/gabCQOONIlQ/s320/luwuk_kilosatu3.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a href="http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.infokom-sulteng.go.id/images/wisata/banggai/luwuk2.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://www.infokom-sulteng.go.id/kabupaten.php%3Fid%3D104&amp;amp;h=192&amp;amp;w=256&amp;amp;sz=18&amp;amp;hl=id&amp;amp;start=2&amp;amp;sig2=lUMhm9NWSs5nzUp3TH2bTg&amp;amp;tbnid=QZXW0nyvJYHPaM:&amp;amp;tbnh=83&amp;amp;tbnw=111&amp;amp;ei=5jOVSP7SApes6gPUxPnQCg&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Dluwuk%26gbv%3D2%26hl%3Did%26sa%3DG" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" src="http://images.google.co.id/imgres?imgurl=http://www.infokom-sulteng.go.id/images/wisata/banggai/luwuk2.jpg&amp;amp;imgrefurl=http://www.infokom-sulteng.go.id/kabupaten.php%3Fid%3D104&amp;amp;h=192&amp;amp;w=256&amp;amp;sz=18&amp;amp;hl=id&amp;amp;start=2&amp;amp;sig2=lUMhm9NWSs5nzUp3TH2bTg&amp;amp;tbnid=QZXW0nyvJYHPaM:&amp;amp;tbnh=83&amp;amp;tbnw=111&amp;amp;ei=5jOVSP7SApes6gPUxPnQCg&amp;amp;prev=/images%3Fq%3Dluwuk%26gbv%3D2%26hl%3Did%26sa%3DG" style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; width: 320px;" /&gt;&lt;/a&gt;Hanya ada di Indonesia. Kalo nggak salah, acara ini ada setiap pagi di sebuah acara berita yang ditayangkan di salah satu stasiun televisi swasta di negeri ini. Acara tersebut berisi tentang fenomena-fenomena yang hanya ada di Indonesia. Mulai dari makanan sampai kebiasaan rakyat negeri yang jumlah penduduknya sudah lebih dari dua ratus juta ini.&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya juga nggak mau kalah dunk. Secara saya tinggal di sebuah kota yang namanya masih cukup asing di telinga rakyat Indonesia, yakni di Luwuk. Tau nggak Luwuk itu dimana? Nah, belom tau khan? Karena itulah, saya ingin membagi fenomena-fenomena yang hanya ada di Luwuk. Atau tepatnya, khas Luwuk deh. Kan bisa jadi fenomena ini ada di daerah lain, tapi dengan nama yang berbeda. Kali aja ada di antara Anda yang suatu hari nanti penempatan di Luwuk inih^^. Ok, kita mulai yuks^^.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Sambel Ijo&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suka masakan Padang? Nah, kalo suka, biasanya ada satu hidangan yang khas banget masakan Padang ini. Namanya sambel ijo. Tau donk. Itu tuh, sambel yang dibuat dari cabai hijau dan diulek agak2 kasar. Nah, kalo makan di warung Padang nggak pake sama yang namanya sambel ijo ibarat makan sayur tanpa sayuran, alias nggak lengkap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalo Anda berkunjung ke Luwuk, coba deh cari warung masakan Padang dan tanya, ada sambel ijonya apa nggak. Dan jawabannya adalah tidak ada. Ketika saya tanya kenapa, seorang ibu yang memiliki sebuah warung Padang berkata kepada saya, "Orang sini nggak doyan sambel ijo pak. Kalau pun dibuat ntar saya bisa dibilang orang pelit karena nyajiin sambel yang cabenya masih mentah".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, begitulah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Martabak Telor dan Terang Bulan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mau beli martabak manis di Luwuk? Hati2 lho, jangan sampe kebolak-balik. Kenapa? Karena kalau kita mau beli martabak manis tapi pas bilang ke penjualnya kita mau beli martabak, bisa-bisa kita dibuatin martabak telor. Karena kalau mau beli martabak manis, tapi bilangnya terang bulan, bukan martabak. Di Luwuk, Terang bulan itu berarti martabak manis, dan martabak berarti martabak telor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oh iya, di Luwuk juga jangan harap bisa dapet martabak telor yang bahan dasarnya telor bebek. Karena orang Luwuk nggak doyan. Aneh rasanya, begitu kata mereka. Padahal justru martabak yang pake telor bebek itu yang enak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Oncom&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Anda yang combrolovers tentunya tau donk sama yang namanya oncom. Itu lho, makanan ringan yang dibuat dari parutan singkong, kelapa, dan diisi dengan tumis oncom. Di Luwuk, jangan harap bisa ketemu sama makanan yang satu ini. Karena di Luwuk tidak ada oncom. Tanyalah ke mama-mama di pasar-pasar Luwuk apa itu oncom, dan pastikan mereka akan menggeleng sembari berbalik bertanya, "Apa itu oncom?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yah, secara ndak ada oncom, akhirnya saya kalau mau buat sayur asem terpaksa nggak pake oncom deh. T_T&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;Ojek&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana Bogor yang (katanya) dijuluki dengan kota yang banyak angkot, maka Luwuk dijuluki sebagai kota seribu ojek. Bayangin aja, ada sekitar seribu tukang ojek di Luwuk ini, malah bisa jadi jumlahnya bisa lebih dari itu. Padahal dulu jumlah tukang ojek dibatasi oleh pemerintah agar tidak semrawut dan lebih tertib. Namun dengan bergantinya birokrasi tentu saja akan membawa kebijakan baru buat warganya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efeknya? Kalo bisa hindari deh berjalan kaki di Kota Luwuk. Karena apa? Karena baru keluar rumah udah diklakson sama tukang ojek. Baru jalan sedikit udah diklakson tukang ojek lainnya. Belom lagi wajah-wajah nyalang para tukang ojek yang sedang berburu calon penumpang, ngebikin jalan santai di Luwuk jadi bikin ilfill ajah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, itu baru sebagian kecil aja beberapa fenomena yang hanya ada di Luwuk. Sisanya nanti disambung lagi, insya Allah. Secara masih ada banyak cerita yang mau saya sharing tentang Luwuk dan pernak-perniknya. Nah, bagaimana dengan daerah Anda?&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-4590754781456998234?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/4590754781456998234/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=4590754781456998234&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4590754781456998234'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4590754781456998234'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/08/hanya-di-luwuk-saja.html' title='Hanya Di Luwuk Saja'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SJU025gI_nI/AAAAAAAAALU/gabCQOONIlQ/s72-c/luwuk_kilosatu3.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-1040479567452703449</id><published>2008-08-02T11:31:00.001+08:00</published><updated>2011-06-27T06:03:11.570+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Cintabuku'/><title type='text'>Nikah dan Semangat Baca</title><content type='html'>&lt;a href="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SJPVi2gW_xI/AAAAAAAAAKs/AdNEcs3xPk4/s1600-h/buku.jpg" onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}"&gt;&lt;img alt="" border="0" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229758387030785810" src="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SJPVi2gW_xI/AAAAAAAAAKs/AdNEcs3xPk4/s320/buku.jpg" style="cursor: pointer; float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt;" /&gt;&lt;/a&gt;Saya akui, frekuensi baca saya paska menikah terasa menurun. Apalagi pada medio tiga bulan pertama. Hampir tidak ada satu judul buku pun yang berhasil saya tamatkan pada jangka waktu ini, meskipun kegiatan membaca saya masih ada. Oleh karenanya, ketika dalam pekan ini saya berhasil menamatkan dua buah buku yang cukup tebal, saya merasa begitu berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menulis judul ini, saya jadi teringat dengan sebuah tantangan yang dilontarkan oleh seorang sahabat kepada saya. Tantangannya simpel. Dia hanya ingin melihat apakah menikah akan memengaruhi frekuensi baca saya yang, ketika belum menikah bisa dikatakan, cukup edan. Tantangan itu sendiri dilontarkan karena frekuensi baca sahabat saya ini telah ’ditaklukkan’ oleh kehadiran istrinya, dan penaklukkan itu pun berlanjut ketika anak-anaknya lahir ke dunia. Itulah mengapa, dia mengajukan tantangan itu kepada saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjawab penawaran itu, spontan saya menjawab bahwa ada banyak sekali variabel yang akan memengaruhi kualitas dan kuantitas baca seseorang. Dan saya sama sekali tidak menafikan bahwa kehadiran seseorang, entah itu istri atau anak, dalam kehidupan kita pastilah akan memengaruhi dua hal tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah kenapa, saya merasa bahwa saya sedang membuat sebuah apologi saat menjawab tantangan itu. Tapi, saya percaya bahwa kita bisa bijak melihat persoalan ini. Bahwa kita tidak bisa begitu saja ’menyalahkan’ sebuah perkawinan atau kehadiran anak sebagai variabel tetap yang memengaruhi turunnya kuantitas baca, meskipun kita tidak pungkiri bahwa memang seperti itulah realita yang ada. Adapun yang harus kita perhatikan, bahwa saat hidup kita berubah, maka manajemen hidup kita pun juga harus kita ubah. Termasuk dalam hal ini menajemen baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, saya menyimpulkan bahwa menurunnya frekuensi baca saya paska menikah bukan dikarenakan adanya sang belahan jiwa yang kini sudah menemani. Akan tetapi lebih kepada lemahnya perhatian saya terhadap manajemen baca yang saya kira sudah usang dan layak dikaji kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun istri, saya lebih melihatnya sebagai partner bagi saya dalam hal ini. Sehingga, ketika saya hendak membuat komitmen terhadap manajemen baca ini, saya, pastilah, harus mengkomunikasikannya kepada istri tercinta. Sehingga tidak ada yang akan dirugikan dalam hal ini, baik kewajiban saya sebagai seorang suami, maupun kewajiban saya untuk menuntut ilmu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah menghendaki. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kampung Baru, Juli 2008 &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Evaluasi sederhana paska 3 bulan menikah&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-1040479567452703449?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/1040479567452703449/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=1040479567452703449&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/1040479567452703449'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/1040479567452703449'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/08/nikah-dan-semangat-baca.html' title='Nikah dan Semangat Baca'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SJPVi2gW_xI/AAAAAAAAAKs/AdNEcs3xPk4/s72-c/buku.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-3865478158918597573</id><published>2008-08-02T10:48:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:46:26.136+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretan Corner'/><title type='text'>KETIKA PARPOL BERINTERAKSI DENGAN BUDAYA</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Ditulis oleh : Wahid Nugroho&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;PNS dan Penikmat Budaya&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu hari, mata saya menangkap sebuah pemandangan yang cukup unik. Pemandangan itu adalah sebuah pamflet kecil yang tertempel di dinding sebuah toko. Pertanyaannya adalah, apa yang menarik dari sebuah pamflet? Kalau dibilang menarik, saya kira tidak juga. Karena ukuran pamflet itu yang cukup kecil dan tidak mencolok mata. Tapi kalo disebut, unik, saya tidak akan menolak istilah ini. Kenapa? Karena pesan yang tercantum di dalam pamflet itulah yang membuat mata saya jadi enggan berpaling untuk melewatkannya. Kata-kata itu berbunyi begini: PKS, Bole Bagitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, bicara mengenai partai politik dan budaya, maka PKS-lah, sampai hari ini, yang dapat memanfaatkannya dengan cantik. Padahal kita sama-sama ketahui bahwa PKS adalah partai yang berbasiskan islam. Dan seperti kebanyakan parpol berbasis islam, yang saya tahu, hampir tidak ada satu pun dari mereka yang memerhatikan hal yang satu ini. Karena di saat mereka masih berkutat dengan isu-isu yang sifatnya ideologis, PKS tampaknya telah berlepas dari isu-isu itu. Dalam hubungannya dengan budaya, PKS, menurut saya, adalah yang berhasil memanfaatkan unsur yang satu ini dalam teknik berpolitik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula dengan parpol lainnya. Saat para aktivis parpol dan pengamat politik sibuk menghitung dan menganalisa kemungkinan-kemungkinan dalam pemilu mendatang, PKS ternyata tidak sekonyong-konyong terjebak dalam isu itu semata. Di sisi lain, saat PKS sibuk mempersiapkan pemilu, mereka ternyata sudah menaruh perhatian, bahkan menggarap isu ini dengan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa tolok ukur saya berbicara seperti ini? Sederhana saja. Cobalah sejenak kita melihat ke luar, apa saja produk budaya dari parpol islam ini yang sudah dapat kita nikmati. Nasyid adalah salah satunya. Dahulu, di era tahun 90an, nasyid baru berupa lagu-lagu berbahasa arab dengan syair-syair yang isinya lebih bersifat heroik. Tapi sekarang, nasyid telah menggarap tema-tema yang lebih bersifat umum. Bahkan, di beberapa daerah, muncul nasyider-nasyider, sebuah istilah untuk pelantun nasyid, yang mengemas nasyid mereka dengan balutan bahasa daerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita ingat dengan kemenangan Ahmad Heryawan dan Dede Yusuf di Pilgub Jawa Barat beberapa waktu yang lalu, maka kita juga harus memerhatikan salah satu strategi mereka dalam berkomunikasi pada masyarakat dalam setiap kampanyenya. Apa itu? Ternyata mereka memanfaatkan nasyid berbahasa Sunda sebagai bahasa politik mereka kepada masyarakat Jawa Barat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seingat saya, dari dulu, bahkan sampai sekarang, PKS tidak pernah melewatkan suguhan nasyid ini dalam setiap aksinya. Mulai dari demonstrasi-demonstrasi yang mereka lakukan maupun dalam aksi kampanyenya. Dan mulailah kita mengenal tim nasyid Izzatul Islam, Ruhul Jadid, dan Shoutul Harokah. Yang terakhir ini adalah tim nasyid yang diarsiteki oleh salah seorang anggota DPR dari partai berlambang padi emas ini. Saya sendiri pernah mendapat kiriman sebuah lagu Jawa yang isinya ajakan untuk memilih PKS dari teman saya di Jawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baru-baru ini malah kita dapati berita tentang PKS yang melakukan launching film buatan kader PKS sendiri yang berjudul Sang Murabbi. Sebuah film yang mengisahkan salah seorang tokoh pendiri PKS yang juga anggota DPR yang telah wafat tahun 2005 yang lalu, yakni Ustadz Rahmat Abdullah. Sebuah pertanda yang semakin menegaskan PKS sebagai parpol yang sangat menaruh perhatian dengan budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali ke masalah pamflet. Saya jadi teringat dengan Ramadhan tahun lalu yang merupakan Ramadhan pertama saya di kota Berair ini. Waktu itu saya melihat beberapa spanduk ucapan dari parpol ini dengan kemasan yang sangat unik. Yakni, lagi-lagi, mereka (PKS) menggunakan bahasa lokal, meski pasaran, dalam pesan-pesan Ramadhan mereka. Satu hal yang belum pernah saya dapatkan dari parpol lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekelumit contoh yang saya sebutkan di atas, tidaklah salah jika PKS telah berhasil menembus sekat budaya yang selama ini mengerangkeng partai Islam atau partai berbasis agama. PKS telah menjadi contoh, bahwa parpol pun bisa pula melahrkan basis sosial baru berdasarkan budaya alternatif, tanpa kehilangan identitas politiknya yang hakiki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke depannya, saya melihat PKS perlu menggarap aspek ini dengan serius. Karena bukan tidak mungkin, orang-orang yang tadinya curiga dengan pergerakan PKS, karena ketidaktahuan mereka, dapat lebih terbuka hatinya untuk memberikan dukungan kepada PKS di pemilu mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Tulisan ini pernah dimuat di Luwuk Post&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-3865478158918597573?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/3865478158918597573/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=3865478158918597573&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3865478158918597573'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3865478158918597573'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/08/ketika-parpol-berinteraksi-dengan.html' title='KETIKA PARPOL BERINTERAKSI DENGAN BUDAYA'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5375111684382583029</id><published>2008-08-02T09:50:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:46:20.624+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretan Corner'/><title type='text'>MEMBACA DAN MENULIS ITU LUAR BIASA</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SJO9hq1cwwI/AAAAAAAAAKU/L8mQqLhpEfY/s1600-h/essay_writing1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 215px; height: 238px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SJO9hq1cwwI/AAAAAAAAAKU/L8mQqLhpEfY/s320/essay_writing1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5229731978439082754" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sepekan belakangan ini saya sedang asyik-asyiknya melahap buku-buku yang membahas mengenai membaca dan menulis. Beberapa buku yang sedang saya lahap itu sebenarnya adalah buku-buku lama yang sudah pernah saya baca, tapi entah kenapa, saya merasa ingin sekali menikmati kembali tulisan-tulisan bertenaga yang disajikan oleh para penulis buku tersebut. Adapun buku yang sedang saya nikmati ada dua, yakni Membuat Anak Gila Membaca (MAGM) karangan Muhammad Fauzil Adhim dan Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza (ABISP) karangan Hernowo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua buku itu kebetulan saya impor dari luar kota. Buku ABISP saya beli di Bandung dan buku MAGM saya beli ketika berada di Gorontalo beberapa bulan yang lalu. Dua buku ini sangat menarik, khususnya buku yang berjudul ABISP, karena saya merasa dipecut untuk bisa menghasilkan ”sesuatu” dari apa yang pernah saya baca. ”Sesuatu” itulah yang dimaksud dengan manfaat. Hernowo menjelaskan bahwa efek lanjutan dari orang yang suka membaca adalah menulis. Menuliskan apa yang sudah dibaca merupakan salah satu upaya untuk mengikat makna dari buku yang telah kita lahap itu. Mungkin kalimat simpelnya adalah, dengan menuliskan kembali hasil bacaan kita ke dalam tulisan, maka bacaan yang telah kita lahap itu bisa kita lebih kita pahami dengan maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini tentu saja sejalan dengan apa yang saya pahami dari kitab suci saya, Al Quran. Saya ingat sekali, bahwa wahyu pertama dalam Al Quran adalah 5 ayat pertama di surat Al Alaq yang berbunyi ”Iqra’”, yang artinya adalah ”bacalah!”. Ayat ini menandakan bahwa islam adalah agama yang menjadikan membaca sebagai sesuatu yang ditekankan oleh agama. Jadi, kalau ada orang Islam yang kurang suka membaca, itu berarti dia belum memahami agama ini secara baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian, saya jadi teringat, bahwa setelah ayat ”bacalah!” ini turun, datanglah wahyu selanjutnya yang merupakan kelanjutan dari apa yang kita sebut sebagai ”tradisi intelektual”, yakni Qalam. Qalam sendiri dalam bahasa indonesia artinya adalah pena, dan pena, kita ketahui, adalah alat untuk menulis. Dari sini kita bisa simpulkan bahwa membaca dan menulis adalah sebuah unsur penting yang dimiliki oleh agama islam sehingga agama ini, bisa dibilang, adalah agama yang mendorong kemajuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kalau ada orang yang menuduh islam sebagai agama yang terbelakang, kuno dan sebagainya, maka saya sarankan kepada mereka untuk kembali mempelajari agama ini dengan akal dan hati yang jernih. Bahkan bisa dibilang, hasanah dunia pendidikan yang ada di dunia ini memiliki hutang besar kepada peradaban islam, yang sama-sama kita ketahui dipenuhi dengan penemuan-penemuan yang menakjubkan. Salah satu contohnya adalah angka. Angka yang sekarang kita pakai di dunia adalah angka arab. 1,2, dan seterusnya. Bayangkan jika sampai hari ini kita masih menggunakan angka Romawi. Tentu kita bisa bayangkan kesulitan yang terjadi di dunia ini. Adapun mengapa dunia islam sekarang ini sempat mengalami kemunduran, maka orang islamlah yang pertama kali harus kita tunjuk sebagai penanggungjawabnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, dari sinilah, saya kemudian jadi tersadar, betapa luar biasanya orang-orang yang rajin membaca dan menulis. Apalagi jika tulisannya itu dapat menjadi nutrisi bagi jiwa-jiwa yang membacanya. Jadi, kepada Anda yang punya kebiasaan membaca, dan menulis, saya sampaikan apresiasi saya kepada Anda. Ketahuilah bahwa apa yang Anda lakukan itu, jika dilandaskan keikhlasan niat, maka itu insya Allah akan menjadi amal sholih bagi Anda. Dan berbanggalah, bahwa kebiasaan membaca dan menulis bukanlah sebuah kebiasaan yang katro dan ndeso. Berbanggalah, bahwa apa yang Anda lakukan itu insya Allah akan mendapat apresiasi dari Allah subhanahuwata’ala sebagai bagian dari memenuhi perintahNya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya pun berharap demikian. Semoga apa yang saya tulis ini dapat menjadi manfaat bagi Anda yang telah meluangkan waktu berharga Anda untuk membacanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bole bagitu?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kampung Baru, Agustus 2008 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5375111684382583029?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5375111684382583029/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5375111684382583029&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5375111684382583029'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5375111684382583029'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/08/membaca-dan-menulis-itu-luar-biasa.html' title='MEMBACA DAN MENULIS ITU LUAR BIASA'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/SJO9hq1cwwI/AAAAAAAAAKU/L8mQqLhpEfY/s72-c/essay_writing1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5065467715346469490</id><published>2008-05-12T20:16:00.001+08:00</published><updated>2011-06-24T10:47:13.940+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Istri Saya Belum Gila</title><content type='html'>Tenang, saya harap Anda tenang dulu ketika membaca judul di atas. Jangan dulu saya divonis aneh karena mengharapkan istri saya menjadi gila. Maksudnya bukan sepert itu. Gila yang saya maksud di sini adalah gila membaca, bukan gila yang lainnya. He3x..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi begitulah. Setelah sebulan menikah, saya jadi tahu dengan seluk-beluk istri saya yang ternyata tidak segila saya dalam hal membaca. Waktu itu ketika saya sedang angkut-angkut barang dari kosan lama ke rumah mertua, istri saya berkata bahwa koleksi buku saya banyak sekali. Ketika saya tanyakan kembali kepadanya tentang koleksi bukunya, ternyata jumlahnya jauuuh sekali di bawah jumlah koleksi buku saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika membantu saya menata buku di rak, istri juga sempat saya ajak diskusi mengenai urusan baca-membaca. Pertanyaan saya adalah, dalam sebulan bisa habis baca berapa buku. Jawabannya menarik perhatian saya, karena ternyata, lagi-lagi, jumlahnya di bawah jumlah minimal baca saya. Begitu pula saat pertanyaan saya berlanjut ke hal-hal lain yang berhubungan dengan baca-membaca, saya menangkap ada beberapa hal yang harus saya sampaikan kepadanya, terutama yang bersangkutan dengan semangat membaca buku. Alhamdulillah, respon dari istri saya cukup baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, berangkat dari diskusi yang pernah saya lakukan dengannya itu, ada keinginan dalam hati ini untuk menularkan kegilaan membaca kepadanya, atau minimal semangat untuk membaca dalam dirinya lebih meningkat dari sebelum menikah dengan saya (cieee,,,). Karena jujur saja, dalam hal baca-membaca, ternyata istri saya masih “waras” membaca, dan belum jadi “gila” membaca seperti saya. He3x..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Langkah pertama yang saya lakukan untuk meningkatkan minat bacanya adalah dengan memberitahukannya keutamaan membaca, terutama jika dikaitkan dengan tradisi ilmiah umat islam yang tercantum dalam ayat-ayat Al Quran. Kemudian saya juga membelikannya beberapa majalah, seperti UMMI, FEMINA, dan sebagainya. Selanjutnya, saya juga terkadang sengaja meletakkan buku di sembarang tempat seperti di ruang tengah, kamar, dan dapur. Tujuannya, agar dia merasa bahwa dimana-mana ada buku. Sehingga pada saat dia memiliki waktu luang, setidaknya dia bisa membaca buku-buku tersebut, walaupun tidak sampai habis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terakhir, saya biasa mengevaluasinya secara harian maupun pekanan. Secara harian dengan bertanya, ”Hari ini baca buku apa?”, dan secara pekanan dengan, ”Pekan ini sudah selesai baca berapa buku?”, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenapa saya begitu bersemangat untuk menulari istri saya rasa ”gila” membaca itu? Sederhana saja. Saya terinspirasi dengan buku karangan Muhammad Fauzil Adhim yang berjudul Membuat Anak Gila Membaca yang mengatakan bahwa orangtua memiliki peran yang sangat signifikan dalam hal membangun semangat membaca pada anak, utamanya pada anak usia pramembaca. Oleh karenanya, sebelum saya memiliki anak (insya Allah), saya ingin membentuk ibunya dahulu untuk memiliki semangat membaca, bahkan ”gila”. Sehingga kelak jika Allah sudah menganugerahi kami anak, saya dan istri sudah memiliki persiapan yang cukup untuk membuat anak kami itu mempunyai semangat yang lebih tinggi dari kami, khususnya dalam hal baca-membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah meridhoi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Peling, Mei 2008 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5065467715346469490?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5065467715346469490/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5065467715346469490&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5065467715346469490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5065467715346469490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/05/istri-saya-belum-gila.html' title='Istri Saya Belum Gila'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5507511499441129347</id><published>2008-05-12T20:10:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:47:20.607+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Suami "Tau Beres Aja Deh" ? Cape deh...</title><content type='html'>Apakah Anda adalah seorang suami yang suka memasak? Masalah bisa ataupun mengenai rasanya kita terakhirkan dulu, karena yang penting Anda suka dulu dengan kegiatan perdapuran yang satu ini. Bagaimana dengan saya sendiri? Saya suka memasak. Baik sebelum menikah dulu, maupun setelah menikah. Rasanya ada yang kurang kalau tangan ini tidak mengiris, mengulek, menumis, atau nongkrong di dapur. Maklumlah, waktu kecil dulu saya suka sekali menemani ibu saya memasak, sambil bertanya ini dan itu. Nasihat ibu dahulu yang saya masih ingat adalah, ”Walaupun kamu laki-laki, tidak ada salahnya bisa mengerjakan pekerjaan perempuan. Semua itu pasti ada manfaatnya”, urainya sambil mengulek sambal. Maka jadilah saya suka memasak sayur bening, sayur asem, sayur lodeh, balado terung dan teri, nasi goreng (ini andalan saya), sambal (ini juga andalan saya), dan lain-lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah menikah, saya masih tetap suka memasak. Walaupun dinilai aneh oleh beberapa saudara istri (baik om, tante, maupun sepupunya) karena melihat suami masuk ke dapur dan memasak. Hal itu karena ada sebuah kebiasaan yang berlaku di Sulawesi bahwa yang namanya suami itu ya tahu beres saja dan istrilah yang melayani semua kebutuhan suami, dalam hal ini memasak. Pokoknya, suami tahu jadi aja deh. Kurang lebih begitulah jawaban dari seorang tante saat melihat saya membantu istri saya memasak. Wah, kalo yang ini mah bukan ”gw banget” deh, batin saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil tersenyum saya menjawabnya dengan, ”Bagaimana kalau pas istri saya yang sakit? Otomatis saya masak sendiri kan. Mosok mau makan mi instan terus”. Dan sang tante hanya bisa tersenyum ketika mendengarkan tanggapan saya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Suami juga harus bisa memasak”, lanjut saya, ”karena bisa saja nanti ada saat-saat dimana istri tidak bisa melayani kita dan justru kitalah yang melayaninya. Bisa pada saat dia sakit atau hendak melahirkan. Mosok sih saya tega ngebiarin istri saya masak padahal dianya sendiri sedang ada uzur”, urai saya sambil mengaduk sayur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Lagi pula saya begini kan supaya istri saya makin disayang istri”, pungkas saya sambil melirik penuh arti ke istri saya. Ia pun tersenyum. Begitu pula dengan sang tante. ”Emang dasar pengantin baru...”, tukasnya sambil geleng-geleng kepala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;”Eit”, sergah saya, ”Nggak hanya untuk pengantin baru aja lho tan, pengantin lama juga boleh-boleh aja kok”. Dan kami pun tertawa bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya, begitulah. Suami yang bisa memasak bukanlah sebuah aib, bagi saya, karena itu adalah salah satu wujud kecintaan kita kepada istri. Mungkin saat istri kita tengah bepergian dan kita sedang memiliki waktu luang, maka singgahlah sebentar ke pasar setelah mengantarkan sang istri tersayang ke tempat kegiatannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menunggu sang istri pulang, buatlah satu dua menu kesukaannya, atau mungkin menu favorit kita. Kemudian ketika menjemput istri kita pulang, sampaikanlah kepadanya bahwa, ”sayang, aku tadi masak lho buat kamu”. Ketika kita melihat ekspresi terkejut di wajahnya, maka katakanlah, ”ntar kamu nilai ya, enak nggaknya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampainya di rumah, ajaklah si dia ke meja makan. Persilakanlah ia duduk di kursi favoritnya. Kemudian, tuangkanlah segelas air minum dan persilakan ia minum untuk santai. Kalau sang istri merasa tak enak karena dilayani suami sedemikian rupa maka katakanlah kepadanya, ”tenang sayang, hari ini aku yang jadi pelayan kamu”, sambil mengelus lembut pundaknya. Ketika membuka tudung nasi berilah waktu sebentar buat sang istri untuk memandangi karya kita itu. Mungkin makanan yang tersaji hanya tempe dan tahu goreng, sambal dan sayur bening, tapi untuk menghargai si dia cobalah tanyakan kepadanya untuk menyebutkan masakan apa yang ada di depannya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau si dia berkata, ”Wah, sayur kesukaanku nih”, dengan pandangan matanya yang berbinar ke arah kita. Kemudian katakanlah kepadanya dengan lembut sambil menatap tajam ke dalam matanya, ”Bukan sayang, makanan ini namanya bukan sayur bening atau tempe goreng, tapi ini adalah makanan cinta karena aku memasaknya dengan luapan rasa cinta kepadamu. Cintalah yang membuat aku pergi ke pasar, mengiris ini dan itu, menumis ini dan itu, sampai akhirnya terhidang di hadapanmu seperti ini”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasilnya? Wow, saya jamin istri Anda akan melupakan rasa makanan yang Anda buat karena saking terseponanya dengan perlakuan Anda itu, he3x.... Meskipun begitu, bukan berarti kita membuat masakan yang asal-asalan, tapi setidaknya berikanlah usaha terbaik Anda saat membuat masakan itu. Apalagi kalau rasa masakannya mak nyuss, hmmm, percayalah, istri Anda akan memberikan kompensasi yang cukup mengejutkan buat Anda pada kesempatan yang berbeda kelak. he3x...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke-oke, ini mungkin akan terdengar sangat gombal dan nggak banget bagi Anda. “mosok sih gw musti sibuk-sibuk ngejogrok di dapur kek begitu”, demikian mungkin protes sebagian dari Anda. Tapi hei, tunggu dulu. Bagi sepasang suami istri, baik baru maupun lama, ini adalah salah satu upaya memelihara cinta, bahkan menghidupkan jalinan cinta yang tengah meredup. Lagipula, menyenangkan istri juga bernilai ibadah di sisi Allah jika kita melakukannya dengan hati yang ikhlas. Atau mungkin bisa saja ketika suatu hari Anda berbuat salah kepada istri Anda, cobalah untuk meminta maaf dengan cara yang tak biasa, salah satunya dengan cara seperti ini. Semoga dengannya hati si dia akan luluh dan membukakan pintu maafnya kepada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, selain dengan apa yang saya sampaikan di atas, silakan Anda improvisasikan sendiri ya. Selamat mencoba. ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peling, Mei 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5507511499441129347?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5507511499441129347/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5507511499441129347&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5507511499441129347'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5507511499441129347'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/05/suami-tau-beres-aja-deh-cape-deh.html' title='Suami &quot;Tau Beres Aja Deh&quot; ? Cape deh...'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5245950261808208181</id><published>2008-03-19T21:13:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:47:34.547+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>Jombloers: Saya Mengundurkan Diri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R-ESpHf_xmI/AAAAAAAAAKM/W--tbGnRodw/s1600-h/walking_alone.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R-ESpHf_xmI/AAAAAAAAAKM/W--tbGnRodw/s320/walking_alone.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5179441544049968738" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar, betapa berat bagi saya untuk membuat keputusan ini. Tapi demi kebaikan saya di masa yang akan datang, dengan penuh keikhlasan saya pun akhirnya memutuskan bahwa: Saya akan segera mengundurkan diri dari komunitas jombloers. Bukan hanya di forum ini, tapi juga di forum-forum lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan! Saya minta jangan halangi keinginan saya ini. Karena sebenarnya sudah sejak lama saya berniat untuk mundur dari komunitas tersebut. Bukan! Bukan karena saya tidak merasa nyaman berada di sana, bukan itu. Bukan pula karena saya tidak sayang kepada kaum jombloers lainnya sehingga saya harus meninggalkan mereka dan melipatgandakan kesendirian mereka, bukan pula itu. Namun ada hal lain yang hendak saya capai dari keputusan ini. Hal lain yang semoga saja bernilai ibadah jika saya ikhlas dan sesuai dengan petunjukNya saat menjalaninya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya kira Anda semua sudah paham dengan maksud saya ini. Kalau belum, biar saya sedikit menjelaskannya kepada Anda. Jujur, saya bukan termasuk orang yang kuat berada dalam komunitas itu terlalu lama. Selain karena bisa berefek kepada imunitas jiwa dan raga saya, terlalu lama berada di sana juga bisa membuat hati ini serasa tidak tenang. Tidak tenang bagaimana maksudnya? Saya anggap Anda sudah paham, apa yang dimaksud dengan “ketidaktenangan” itu. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi sebelum saya mengundurkan diri secara resmi, saya hendak mengucapkan banyak-banyak rasa terima kasih saya kepada saudara-saudara di komunitas tersebut. Saya berterimakasih atas semangat saling mendukung, mengingatkan dan menguatkan dari saudara-saudara saya itu selama saya berada di sana. Saya juga berterimakasih atas masukan dan saran dari mereka, yang tentunya bertujuan baik bagi saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di sisi lain, saya juga hendak meminta maaf kepada mereka, apabila dalam kebersamaan nan kesendirian ini saya kerap berbuat salah dan khilaf. Semoga mereka sudi memaafkan saya sebagaimana saya yang sudah memaafkan khilaf dan salah mereka jika mereka pernah melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa sih kesimpulan dari celotehan yang tidak jelas ini? Begitu mungkin protes Anda ketika membaca tulisan ini. Saya maklum adanya dengan sikap itu berhubung saya tidak secara to the point memaparkan inti dari celotehan yang bertele-tele ini. Jadi singkat saja. Saya ingin meminta do’a dan restu Anda semuanya, baik yang jomblo maupun yang sudah berbojo; Baik pengantin lama, pengantin baru, maupun yang terancam jadi calon pengantin pun juga boleh. Untuk apa? Untuk mendoakan kebarokahan bagi pernikahan saya dengan calon istri saya yang insya Allah akan dilangsungkan pada:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 0);"&gt;Akad nikah Jum’at, 11 April 2008 pukul 16.00 WITA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 0);"&gt;Resepsi Sabtu 12 April 2008 pukul 19.30 WITA &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 0);"&gt;Bertempat di kediaman mempelai wanita&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold; color: rgb(255, 204, 0);"&gt;Jl. Pulau Kalimantan Kelurahan Simpong, Kecamatan Luwuk, Banggai, Sulawesi Tengah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah pemberitahuan ini saya sampaikan. Kepada Anda yang berkesempatan untuk datang, terutama yang berdomisili di Palu, Poso, Gorontalo, Manado dan sekitarnya, saya persilakan untuk menghadiri acara ini. Yang di Jawa, Bali, Sumatera, Kalimantan dan Papua pun juga boleh datang. Tapi dengan catatan, ongkosnya Anda tanggung sendiri yah ^^&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, saya meminta do’a dari Anda semua, agar Allah senantiasa meluruskan niat di dalam hati saya untuk senantiasa karenaNya. Agar Allah menurunkan berkahNya kepada ikhtiar ini sehingga keberkahan itu dapat terbagi pula kepada lingkungan di sekitar kami kelak, dimanapun itu. Terima kasih saya kepada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div style="text-align: center;"&gt;Kami yang insya Allah berbahagia&lt;br /&gt;Vani Mustapa &amp;amp; Wahid Nugroho&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;JT, Maret 2008&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Special thanks buat D, N, Y, J dan K&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5245950261808208181?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5245950261808208181/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5245950261808208181&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5245950261808208181'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5245950261808208181'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/03/jombloers-saya-mengundurkan-diri.html' title='Jombloers: Saya Mengundurkan Diri'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R-ESpHf_xmI/AAAAAAAAAKM/W--tbGnRodw/s72-c/walking_alone.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-8596256847753253601</id><published>2008-02-29T20:46:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:47:39.407+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Merah Jingga'/><title type='text'>Ra Popo Nduk....</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R8gDlE66U7I/AAAAAAAAAJ4/NULhPawsMj4/s1600-h/old+couple.jpeg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R8gDlE66U7I/AAAAAAAAAJ4/NULhPawsMj4/s320/old+couple.jpeg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5172388107545891762" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Perutku malam itu terasa begitu lapar. Aku pun memutuskan untuk membeli nasi goreng ke daerah Ceger. Beberapa menit kemudian, aku sudah nangkring di atas sepeda motor lawasku itu. Setelah timbang-menimbang mau beli nasi goreng di mana, aku akhirnya memilih untuk membeli nasi goreng yang ada di daerah Kalimongso. Kalau aku tidak khilaf, di depan kost-kostan Puri Lestari ada penjual nasi goreng yang penjualnya sepasang suami dan istri yang sudah cukup berumur. Kelihatannya, tempat itu cukup ramai kalau malam, dan yang pasti, katanya enak. “Ah, kesana saja deh”, ujarku memutuskan. Ok, keputusan sudah dibuat. Tinggal melaju ke lokasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu agak dingin karena baru saja turun hujan. Aku merapatkan letak jaketku untuk menjaga supaya tubuhku tetap hangat. “Hmmm… dingin-dingin begini memang paling pas untuk makan nasi goreng”, batinku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan tibalah aku di lokasi penjual nasi goreng tersebut. Kulihat, sebuah gerobak tua yang menghadap ke kost-kostan Puri Lestari dan di bawahnya tanah becek karena habis diguyur hujan. Di hadapanku, tampak bapak tua sang penjual nasi goreng itu sedang melayani beberapa orang pembeli, yang tampaknya adalah mahasiswa. Aku memesan satu porsi untuk dimakan di tempat. Setelah itu, aku mengambil tempat duduk di tempat yang sudah disediakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Yang pedes ya pak, tapi tolong jangan pakai vetsin”, pesanku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Si bapak penjual mengangguk sambil tersenyum, “Ya, mas”, balasnya sambil tangan kanannya mengaduk nasi yang ada di dalam wajan. Sementara itu, istrinya terlihat sedang sibuk menata kertas pembungkus dengan irisan timun dan tomat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tampaknya,di antara beberapa pembeli yang ada saat itu hanya aku saja yang tidak membungkus untuk dibawa pulang. Mungkin, hawa dingin yang cukup menusuk malam ini memang membawa kenikmatan tersendiri bagi para mahasiswa itu untuk menikmati nasi goreng panas di dalam kamar mereka yang hangat. Tapi aku kelihatannya tidak terlalu terpengaruh dengan suasana malam itu. Bagiku yang penting kenyang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak lama kemudian, nasi gorengku sudah jadi. Tampak uapnya mengepul, mencoba mengalahkan udara dingin malam itu. Hanya sepersekiandetik kemudian, beberapa sendok nasi goreng itu sudah terjun bebas ke dalam perutku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Weh, emang bener kata si Fulan, nasi goreng di sini rasanya emang lumayan enak”, batinku sambil melahap satu dua sendok nasi. Nyam, uenak tenan. Alhamdulillah. Sambil menikmati nasi goreng yang rasanya mak nyus itu, aku melirik ada beberapa pembeli lagi yang datang untuk memesan. Tapi lagi-lagi, tak ada yang dimakan di tempat, semuanya dibungkus untuk dibawa pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prakk..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ritual makan enak itu tiba-tiba terhenti. Kutolehkan pandanganku ke arah suara tersebut. Tampak sang istri penjual nasi goreng itu menjatuhkan sepiring nasi putih yang sedianya dipersiapkan untuk dimasukkan ke dalam wajan. Saat itu, wajahnya terlihat gugup, mungkin takut dimarahi suaminya sendiri di depan banyak pelanggannya. Gerakannya pun tampak panik ketika membereskan kekacauan kecil itu. Sang suami segera menghentikan sejenak kegiatan mengaduk nasi gorengnya. Dikecilkannya api kompor dan dihampirinya sang istri dengan gerakan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aku pun sudah bisa menebak apa yang akan terjadi, bahwasanya sang suami akan meneg….&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Kowe ra popo nduk?”, tanya suaminya dengan suara yang sangat lembut. Tangan kanannya langsung menggamit pundak sang istri. Sedang dari bibirnya terlihat senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Senyum? Yang benar saja?!”, seruku dalam hati karena heran melihat adegan ajaib (baca: romantis) di depan mataku itu. Sontak, spasi itu jadi semakin bertambah. Aku pun tertarik memerhatikan pasangan pengantin lama itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Aku ra popo mas. Maaf nggeh”, ucap sang istri dengan nada bersalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wes gak popo nduk, seng penting kowe apik-apik wae”, ujar sang suami, masih dengan suara lembutnya. “Nek uwes, gek ndang wayahono segone ben gek ceket rampung yo”, sambungnya, masih dengan suaranya yang lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Injeh mas”, sang istri membalas perlakuan suaminya itu dengan senyum. Telah hilang gurat kepanikan itu dari wajahnya. Sejenak kemudian, dua orang itu sudah sibuk dengan urusannya masing. Dan aku? Aku masih melongo karena peristiwa itu. Aku masih belum percaya atas apa yang kusaksikan barusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Subhanallah! Apa yang baru kusaksikan ini seperti dongeng saja! Suami itu tidak marah saat istrinya melakukan kesalahan, malah ditanggapinya kesalahan itu dengan sikapnya yang santun. Sebuah penyelesaian yang penuh dengan cinta. Subhanallah, lisanku tak henti-hentinya mengucapkan itu dengan lirih. Tanpa kusadari, ada semacam perasaan sejuk yang mengalir di dalam hatiku saat itu. Perasaan apa itu, aku tak tahu. Mungkin terharu, atau bisa jadi bahagia. Tapi apa yang membuatku bahagia? Begitu tanyaku di dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin perlakuan sang suami itu yang membuatku bahagia. Perlakuan yang sangat memuliakan istri, perlakuan seorang laki-laki sejati yang tahu akan makna cinta yang sejati. Bahwasanya cinta itu seharusnya mengobati, bukanlah menyakiti. Duh, aku tak menyesal telah mengorbankan hangatnya kamarku dengan peristiwa yang menghangatkan itu dalam udara malam yang dingin ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalui peristiwa itu, aku pun jadi mengkoreksi diriku sendiri. Entah sudah berapa orang yang sudah ‘kusemprot’ karena mereka telah melakukan kesalahan di depan mataku. Dan entah sudah bertapa hati yang kulukai karena ‘semprotan’ku itu. Ya Allah, terima kasih sudah mengajarkanku satu lagi ilmu tentang kehidupan. Semoga ke depannya aku bisa lebih santun lagi dalam menyikapi kesalahan yang dilakukan orang terhadapku. Semoga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan kepada bapak itu, astaghfirullah, aku mohon ampun kepadaMu ya Allah jika telah berburuk sangka kepadanya. Aku tahu, prasangka lirih tadi tidak didengarnya, tapi aku yakin bahwa Engkau Mengetahuinya ya Allah. Oleh karenanya, maafkan hambaMu yang gemar berprasangka ini ya Allah. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadilah malam itu aku mendapatkan sebuah pelajaran yang berharga dari seorang bapak tua penjual nasi goreng itu dan istrinya. Aku hanya bisa berdoa, semoga Allah selalu menjaga keharmonisan mereka berdua hingga ajal memisahkan mereka. Dan ketika hendak membayar, tak lupa kuucapkan terimakasihku yang terdalam kepadanya, meski mungkin ia hanya menganggapnya sebagai ucapan terimakasih pelanggan kepada penjualnya. Biar saja. Allah Maha Tahu dengan apa yang ada di dalam hatiku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, aku jadi teringat dengan hadits ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari Akhir, janganlah ia menyakiti tetangganya, dan hendaklah engkau sekalian melaksanakan wasiatku untuk berbuat baik kepada para wanita. Sebab mereka itu diciptakan dari tulang rusuk dan tulang rusuk yang paling bengkok ialah yang paling atas. Jika engkau meluruskannya berarti engkau mematahkannya dan jika engkua membiarkannya, ia tetap akan bengkok. Maka hendaklah kalian melaksanakan wasiatku untuk berbuat baik kepada wanita.” (Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Shadaqallah wa shadaqa rasulullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu Adam, Februari 2008&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Mengenang peristiwa dua tahun yang lalu…&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-8596256847753253601?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/8596256847753253601/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=8596256847753253601&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8596256847753253601'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8596256847753253601'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/02/ra-popo-nduk.html' title='Ra Popo Nduk....'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R8gDlE66U7I/AAAAAAAAAJ4/NULhPawsMj4/s72-c/old+couple.jpeg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5634694837072494380</id><published>2008-02-02T20:13:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:47:47.189+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretan Corner'/><title type='text'>Kutipan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R6RfcFF2q1I/AAAAAAAAAJg/-P-1khxax8A/s1600-h/writing_ls.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R6RfcFF2q1I/AAAAAAAAAJg/-P-1khxax8A/s320/writing_ls.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162356008881138514" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Mana yang lebih dulu, ayam atau ayam ‘ide’?”&lt;/span&gt; &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Herodotus)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita yang suka menulis pastilah pernah mengalami yang namanya kebuntuan. Kebuntuan ini bisa berasal dari perasaan yang sedang tidak mood, atau karena memang tidak ada sesuatu yang bisa diungkapkan dalam tulisan. Nah, untuk merangsang agar inspirasi kita saat menulis dapat lahir dan mengalir, saya punya sedikit tips untuk Anda. Cobalah mulai menulis berdasarkan sebuah kutipan. Ya, kutipan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contohnya saat kita hendak bicara tentang belajar tapi akal serasa buntu untuk memulainya, maka lihatlah perkataan Plato berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Rasa ingin tahu adalah ibu dari segala ilmu”.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, saya percaya, kebuntuan itu akan pecah dan tangan Anda akan mulai bergerak untuk mempreteli kutipan itu menjadi rangkaian kalimat dan paragraf yang Anda kehendaki. Atau saat kita hendak membahas tentang keadilan Tuhan, cobalah memulai dari dari perkataan Pram berikut ini:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Tuhan tidak pernah berpihak kepada yang kalah.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para ulama klasik pun tak jarang memulai tulisan mereka dari sebuah kutipan yang akhirnya diperluas melalui pemikiran dan pandangan mereka. Biasanya mereka akan mengutip sebuah ayat atau hadits untuk kemudian dibahas sedemikian rupa sehingga mutiara ilmu yang ada di balik kutipan ayat dan hadits itu bisa dirasai manfaatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syafi’i sendiri, sepengetahuan saya, pernah menarik seribu kesimpulan hukum lengkap disertai dalil dari renungan atas sebuah hadits pendek dalam semalam. Bayangkan! Hanya berasal dari sepotong hadits pendek, beliau rahimahullah berhasil melahirkan seribu inspirasi yang juga berarti melahirkan seribu manfaat, bahkan lebih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah mengapa, saya paling suka mencorat-coret buku saat membaca. Saya biasa memegang stabilo atau pensil untuk menandai bagian ataupun kalimat yang menarik perhatian saya dari sebuah buku. Kalimat-kalimat yang saya tandai itu nantinya akan saya salin kembali ke dalam komputer ataupun ke sebuah buku yang berisi kumpulan kutipan dari buku-buku yang sudah saya baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain itu, kebiasaan saya mencorat-coret buku ini cukup membantu saya saat menulis maupun berdiskusi. Karena saya terkadang mengikutkan kutipan-kutipan yang sudah saya rekam itu baik dalam tulisan maupun perkataan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana? Mau mencoba? Cobalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu Adam, Januari 2008&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5634694837072494380?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5634694837072494380/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5634694837072494380&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5634694837072494380'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5634694837072494380'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2008/02/kutipan.html' title='Kutipan'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R6RfcFF2q1I/AAAAAAAAAJg/-P-1khxax8A/s72-c/writing_ls.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-8407412057604341540</id><published>2007-12-29T09:47:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:47:55.197+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>Darius dan Donna</title><content type='html'>&lt;div style="text-align: left;"&gt;&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R6RhqlF2q2I/AAAAAAAAAJo/N9iOdf356Vo/s1600-h/hal101006dona_logo.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0px auto 10px; display: block; text-align: center; cursor: pointer;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R6RhqlF2q2I/AAAAAAAAAJo/N9iOdf356Vo/s320/hal101006dona_logo.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5162358457012497250" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Tadi pagi (Senin, 24/12) saya sarapan di rumah makan Sudi Mampir yang ada di dekat kantor. Sambil menikmati sarapan, saya mendengarkan acara infotainment yang sedang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta dari televisi yang ada di rumah makan tersebut. Acara tersebut sedang menyiarkan tentang rencana pasangan selebriti Indonesia yang hendak mengisi liburan mereka dengan berwisata ke luar negeri. Kedua selebriti tersebut bernama Donna Agnesia dan Darius Sinathriya (bener nggak ya tulisannya).&lt;br /&gt;&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;“Liburan akhir tahun ini kami sekeluarga berencana untuk liburan ke luar negeri, tepatnya ke Australia”, begitu kurang lebih ujar sang suami kepada wartawan infotainment tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, saya sedang tidak berniat untuk membahas liburan si Darius dan Donna. Toh saya tidak memiliki hubungan apa-apa dengan kedua orang tersebut. Akan tetapi, sebagaimana kedua orang itu, saya juga punya rencana untuk mengisi liburan akhir tahun nanti. Ke luar negeri? Sepertinya tidak. Mau pulang ke Jakarta? Tidak juga. Lalu mau kemana ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada dua kegiatan yang sudah saya agendakan. Pertama, saya akan naik gunung ke daerah yang namanya Batu Tikar pada tanggal 30 Desember sampai 1 Januari 2008 nanti bersama teman-teman saya di kepanduan. Kedua, tepat sebelum berangkat, saya dan kawan-kawan berencana untuk menghadiri acara walimahan (resepsi pernikahan) seorang kawan di Luwuk. Demikianlah dua agenda saya di liburan akhir tahun nanti insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, apa hubungan tulisan ini dengan Darius dan Donna? Yah, saya jadi teringat dengan perkataan, entah Donna atau Darius saya lupa, yang katanya bersyukur bahwa tahun ini mereka dapat merayakan tahun baru ke dua mereka sebagai suami isteri. Sebagaimana kawan saya yang hendak menikah menjelang akhir tahun nanti, maka mereka pun juga akan melewati tahun 2008 masehi sebagai sepasang suami isteri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan saya? Wah, sepertinya saya (terpaksa) harus lulus dari tahun 2007 ini dengan tetap berpredikat sebagai seorang bujangan (hiks) kembali. Kasian deh gue....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Eit, tapi tunggu! Bukannya masih ada tahun baru Hijriah? Hmmmm.... Bisakah?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datu Adam, Desember 2007&lt;br /&gt;Ngantuk (-_-)’&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-8407412057604341540?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/8407412057604341540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=8407412057604341540&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8407412057604341540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/8407412057604341540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2007/12/darius-dan-donna.html' title='Darius dan Donna'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R6RhqlF2q2I/AAAAAAAAAJo/N9iOdf356Vo/s72-c/hal101006dona_logo.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-3663981693598297075</id><published>2007-12-16T14:43:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:48:02.299+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretan Corner'/><title type='text'>Gus Pur</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R2TKDm8t6aI/AAAAAAAAAJA/KRCMksn1gxY/s1600-h/2118536.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 188px; height: 131px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R2TKDm8t6aI/AAAAAAAAAJA/KRCMksn1gxY/s320/2118536.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5144458837707581858" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Gus Pur. Saya pikir hampir tidak ada yang tidak kenal dengan nama yang satu kini. Tapi kalau ternyata ada di antara Anda ada yang belum tahu, maka saya akan sedikit menjelaskannya kepada Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gus Pur adalah seorang tokoh yang menjadi tiruan Gus Dur dalam sebuah acara parodi Newsdotcom yang disiarkan oleh salah satu stasiun televisi swasta di Indonesia. Tokoh ini diperankan dengan nyaris sempurna oleh Handoyo, seorang PNS di lingkungan Depkes yang sekitar tiga setengah tahun lagi akan pensiun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tulisan ini tidak bermaksud untuk membahas tentang kehidupan seorang Handoyo a.k.a Gus Pur secara panjang lebar. Tulisan ini hanya akan menyinggung tentang peran yang dimainkan Handoyo itu, yakni Gus Pur. Kita menyebutnya sebagai epigon, atau bahasa umumnya berarti mengikuti/mengekor.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Epigon adalah sebuah hal yang tidak dapat dipisahkan dari dunia tulis-menulis. Epigon dalam dunia kepenulisan berarti kita mengikuti gaya tulisan seseorang dalam karya yang kita buat. Menjadi epigon sebenarnya bukanlah sebuah kesalahan. Karena ternyata para penulis besar pun juga melakukannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lihat saja Pramoedya Ananta Toer yang mengaku bahwa tulisannya benar-benar terpengaruh dengan gaya tulisan John Steinbeck. John Steinbeck adalah pengarang peraih Nobel Sastra kelahiran Amerika Serikat yang digjaya dengan novel-novel realisnya seperti Mice and Man (diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Pram menjadi Manusia dan Tikus), The Grapes of Wrath dan Pearl. Atau seorang Muhammad Anis Matta yang sangat terpengaruh dengan gaya analisa dan sistematis dari Hasan Al Banna dan bertutur yang cekatan dari seorang David J. Schwartz dalam setiap tulisannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadi epigon, menurut Nursalam A.R, berarti menjadi seorang bayi. Ia butuh mengamati dan ia butuh asupan bergizi. Sehingga, dalam tahap awal proses kreatif seorang penulis, ia membutuhkan semacam model yang dijadikannya sebagai acuan atau koridor dalam membuat tulisan-tulisannya kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, masih menurut Nursalam, bayi butuh menjadi dewasa. Ia butuh menjadi diri sendiri. Para penulis atau pengarang besar meraksasa karena mereka kreatif membebaskan diri dari meniru gaya para penulis terdahulu yang dikagumi. Di sinilah seorang penulis jangan sampai membatasi kemampuan mengeksplorasi tulisannya pada karya-karya penulis yang dikaguminya saja. Karena penulis seperti itu hanya akan selamanya akan kerdil dalam bayang-bayang orang-orang besar yang dikaguminya itu. Nursalam menyebutnya sebagai, “Sang epigon primitif ini tak akan pernah mengungguli para pengarang aslinya”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang penulis yang masih belajar, proses epigonisasi ini jelas dibutuhkan, namun harus ada batas jarak yang ditetapkan sebagai batas waktu baginya untuk terus menjadi seorang epigon dan berubah menjadi dirinya sendiri yang orisinil. Bahkan ada sebuah obsesi untuk jauh melampaui orang yang ditirunya itu. Jika tidak, maka kita hanya akan berada di bawah bayang-bayang orang yang kita kagumi sekaligus mengubur dalam-dalam eksistensi kita sebagai seorang manusia yang memiliki banyak potensi, dan juga unik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Daftar pustaka:&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Artikel berjudul “Menjadi Epigon, Salahkah?” oleh Nursalam A.R. dari www.penulislepas.com&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;  &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu Adam, Desember 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-3663981693598297075?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/3663981693598297075/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=3663981693598297075&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3663981693598297075'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3663981693598297075'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2007/12/gus-pur.html' title='Gus Pur'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R2TKDm8t6aI/AAAAAAAAAJA/KRCMksn1gxY/s72-c/2118536.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-3043018266310917883</id><published>2007-12-16T14:29:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:48:09.205+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretan Corner'/><title type='text'>Membaca Puisi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R2TIlG8t6ZI/AAAAAAAAAI4/bGhvOmWCUpU/s1600-h/rendra2.thumbnail.gif"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R2TIlG8t6ZI/AAAAAAAAAI4/bGhvOmWCUpU/s320/rendra2.thumbnail.gif" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5144457214209943954" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca puisi adalah salah satu kebiasaan saya selain membaca buku-buku fiksi lainnya seperti novel dan cerpen. Saya tidak ingat persis, kapan pertama kali memiliki kebiasaan ini. Yang jelas, saya sangat menikmati kegiatan membaca puisi sebagai sebuah sarana penyegaran hati. Terkadang, saya menemukan beberapa kosa kata baru dan menarik dari puisi yang saya baca, hingga diri ini terdorong untuk mencatat kemudian mencari maknanya. Atau sekedar untuk menuruti kecenderungan jiwa yang sedang ingin tenggelam dalam suasana melankolis, romantis, sampai kritis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara puisi yang saya baca, ada beberapa penulis yang sangat saya sukai karya-karya puisinya. Di antaranya adalah Ibnu Hazm, Chairil Anwar, Taufik Ismail, Sapardi Djoko Damono, Anis Matta, Yon's Revolta, Rudolph Damanik, Abdurahman Faiz, Astrid Widjaja dan masih banyak lagi. Demikianlah nama beberapa sastrawan yang kerap saya nikmati karya-karyanya, terutama puisi. Bahkan tak jarang saya juga menghapal beberapa bait yang menjadi favorit saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayangnya, saya bukan tergolong orang yang cukup cerkas dalam hal berinteraksi dengan puisi. Sehingga terkadang, saya hanya menikmati aspek keindahan bahasanya saja, tanpa menghiraukan pesan implisit yang terkandung di dalamnya tanpa bisa menentukan apakah ini puisi bagus atau tidak. Tapi tak jarang, saya juga ingin menerka-nerka, apa gerangan pesan yang coba disampaikan sang pengarang lewat untaian bait-bait puisi ini. Orang biasa menyebut penggalian pesan ini sebagai sebuah penafsiran tematik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berangkat dari sini, saya jadi teringat dengan pesan dari salah seorang sastrawan besar negeri ini yang bernama Sapardi Djoko Damono. Katanya, "Puisi yang bagus (baca: indah), ibarat ‘sebiji kacang di balik kaca kristal’. Dari luar terlihat bahwa itu sebiji kacang, tapi tampak lebih indah, mungkin fantastik dan memesona. Seperti ada misteri, dari satu sisi seperti kembar, dari sudut pandang lain bisa tampak puluhan kacang. Kadang-kadang samar atau gemebyar ketika ada pantulan cahaya dari luar. Sebiji kacang yang memesona. Kacang itu adalah isi puisi, dan kaca kristal itu estetika puisi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rumit juga ya? Tapi benarkah sebuah puisi selalu serumit itu? Saya sendiri berpendapat: tidak. Karena sebuah puisi pada hakikatnya memang akan mengandung banyak tafsir, demikian ujar Ahmadun Yosi Herfanda. Masuk akal juga. Lha wong Al Qur'an saja yang nyata-nyata firman Allah juga mengalami banyak penafsiran, apatah lagi puisi yang jelas-jelas berasal dari manusia biasa. Sebagaimana puisi mengandung multitafsir maka, kata A. Teeuw, terbuka kemungkinan terjadinya salah tafsir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana caranya agar dialektika penafsiran itu tidak muncul saat kita menikmati sebuah puisi? Suminto A. Sayuti mengatakan bahwa, "Kemungkinan tafsir puisi tergantung pada kekayaan intelektual pembaca. Semakin kaya pengetahuan pembaca akan makin dapat memberikan tafsir yang kaya pula pada puisi".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, semakin luas pengetahuan kita, khususnya dalam bidang sastra maupun dalam hal cakupan bacaan kita, akan memudahkan kita dalam menerjemahkan pesan dari sebuah puisi dengan cermat dan tepat. Selain itu, sense of art yang cukup tajam dari seorang penikmat puisi juga dapat mengendus pesan-pesan yang coba disampaikan oleh pengarang melalui puisi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi pada intinya, setiap kita berhak untuk menilai arti sebuah puisi, termasuk menentukan mutu dan kualitas isinya, mulai dari tukang gali sumur sampai ke tingkatan direktur. Puisi yang bagus bukanlah puisi dengan gaya bahasa yang njelimet dan menbuat mumet pembacanya, tapi puisi yang bagus adalah puisi yang dapat mengajak penikmatnya untuk berdialog dengan lebih lugas tanpa bantuan pengantar apapun dari seorang kritisi sastra. Sebagaimana ujar Ahmadun Yosi Herfanda, "Andalah, pembaca, yang paling berhak untuk menikmati, berdialog langsung, sekaligus memberi tafsir yang lebih kaya pada sebuah karya sastra".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terakhir, izinkan saya mengutip sebuah puisi yang menjadi kesukaan saya yang kerap saya senandungkan saat dalam kesendirian.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Suatu saat dalam sejarah cinta kita&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kita mengenang masa depan kebersamaan&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Kemana cinta kan berakhir&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Di saat tak ada akhir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Akhir Sejarah Cinta Kita oleh Muhammad Anis Matta)&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu Adam, Desember 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-3043018266310917883?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/3043018266310917883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=3043018266310917883&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3043018266310917883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/3043018266310917883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2007/12/membaca-puisi.html' title='Membaca Puisi'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R2TIlG8t6ZI/AAAAAAAAAI4/bGhvOmWCUpU/s72-c/rendra2.thumbnail.gif' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-7630594512963253992</id><published>2007-12-08T09:14:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:48:15.481+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretan Corner'/><title type='text'>Menulis Sajalah…</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1nxDnKP7BI/AAAAAAAAAIo/nfazPMG21lM/s1600-h/wEmily+left+hand+writing.JPG"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 252px; height: 189px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1nxDnKP7BI/AAAAAAAAAIo/nfazPMG21lM/s320/wEmily+left+hand+writing.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141405493974002706" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;"Jangan memikirkan apa yang hendak Anda tulis, tapi tulislah apa yang sedang Anda pikirkan!" &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Muhammad Anis Matta)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:130%;"&gt;IJINKAN&lt;/span&gt; saya bertanya kepada Anda: apa hubungan antara angka dua puluh enam dengan bulan November? Mungkin keduanya tidak akan bermakna apapun bagi Anda. Tapi, dua hal tersebut memiliki makna tertentu bagi saya. Kenapa? Karena selama bulan November 2007 kemarin saya telah membuat tulisan sejumlah dua puluh enam judul. Selain itu, ada enam judul tulisan yang merupakan salinan dari buku-buku yang saya baca, dan sembilan belas judul lainnya yang belum saya kembangkan menjadi sebuah tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah ada angin apa yang membuat saya bisa melakukan semua ini. Alhamdulillah. Bisa jadi ini adalah akibat "pergaulan bebas" yang terjadi antara saya dengan tumpukan buku yang berserakan di kamar. Saya pernah mendengar ucapan seorang penulis, bahwa efek samping orang yang suka membaca adalah menulis. Baik menuliskan kembali apa yang sudah dibacanya, maupun menulis hal-hal lainnya yang dibahas ataupun disinggung dalam bacaannya itu. Benar-benar efek samping yang menarik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada hakikatnya, saya setuju sekali dengan ide itu: orang yang suka membaca biasanya suka pula menulis. Saya pikir, inilah yang sedang terjadi dalam diri saya. Setelah sekian kurun waktu bergaul dengan tumpukan buku, lahirlah semacam "rasa ingin menyampaikan" apa yang sudah saya baca itu kepada orang lain. Rasa ingin menyampaikan itu dikemas dengan bahasa yang dibentuk melalui pemikiran seorang saya berdasarkan informasi yang ada di dalam buku yang saya baca itu. Maka lahirlah beberapa coretan kecil saya yang isinya mengulas tentang buku-buku itu dan hal-hal yang berhubungan dengannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya kebiasaan menulis ini sudah terbangun saat saya masih duduk di bangku SMA. Dahulu saya pernah ditunjuk untuk membuat mading ROHIS. Dari situlah kebiasaan corat-coret saya bermula. Kebiasaan ini semakin mendapatkan tempat ketika saya diamanahi sebagai mentor, karena saya paling suka membuat artikel-artikel sebagai materi untuk saya sampaikan kepada binaan saya. Apalagi setelah saya ditugaskan untuk menjadi anggota organisasi kemahasiswaan di kampus, dimana saya juga diserahkan kunci sekretariatnya. Sehingga jadilah saya sering berkutat di sekretariat itu sekedar untuk melampiaskan hajat corat-coret saya di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Baiklah, kembali ke masalah tulisan. Dalam suatu kesempatan, ada seseorang yang pernah bertanya, bagaimana caranya untuk mulai menulis. Jawaban dari pertanyaan ini sangatlah sederhana: Menulis. Itu saja. Jangan pernah berpikir bahwa kita tidak berbakat sehingga tulisan kita tidak sedap dibaca. Jangan. Buang jauh-jauh kekhawatiran itu di dalam diri kita yang hendak mulai menulis. Karena menulis itu bukan urusan bakat semata. Menulis itu lebih karena adanya pembiasaan untuk menulis. Dengan banyak berlatih, maka kita akan semakin mengetahui kelebihan dan kelemahan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan lupa pula untuk mempublikasikan tulisan kita kepada orang lain, bisa lewat blog, email, atau forum diskusi. Karena biasanya akan ada yang memberikan respon terhadap tulisan kita itu termasuk mengkritisi dan memberikan masukan. Nah, dari sinilah kita akan mendapatkan banyak sekali pelajaran yang bisa kita gunakan untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. "Hanya tulisan yang dipublikasikan saja yang punya nyawa dan pengaruh kepada pembacanya", demikian ujar Edi Zaques, seorang pengarang buku-buku bestseller.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, kepada kita semua yang hendak menulis saya serukan, "menulis sajalah!". Janganlah kita memikirkan apa yang akan kita tulis, menarik atau tidak tulisan kita itu, dan sebagainya, namun tuliskanlah saja apa yang sedang kita pikirkan dan rasakan. Tulislah saja dengan apapun cara yang kita suka. Jangan takut salah, karena tidak ada kata salah dalam proses belajar. Semuanya adalah sebuah proses yang sedang kita jalani menuju ke arah yang lebih baik, khususnya dalam urusan tulis-menulis, dan saya pikir ini adalah sebuah upaya awal untuk merangsang 'nafsu menulis' kita. Selanjutnya, terserah Anda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt; &lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu Adam, Desember 2007&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-7630594512963253992?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/7630594512963253992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=7630594512963253992&amp;isPopup=true' title='3 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7630594512963253992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7630594512963253992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2007/12/menulis-sajalah.html' title='Menulis Sajalah…'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1nxDnKP7BI/AAAAAAAAAIo/nfazPMG21lM/s72-c/wEmily+left+hand+writing.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-4296986781209329619</id><published>2007-12-08T09:02:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:48:38.057+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretan Corner'/><title type='text'>Menciptakan Sejarah Kita Sendiri</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1nvonKP7AI/AAAAAAAAAIg/eEIluGEU0KY/s1600-h/books11.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 149px; height: 120px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1nvonKP7AI/AAAAAAAAAIg/eEIluGEU0KY/s320/books11.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5141403930605906946" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;(Pramoedya Ananta Toer)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;HARI&lt;/span&gt; Sabtu (10/11) lalu adalah sebuah hari yang sangat bersejarah dalam perjalanan kepenulisan saya. Bersejarah, karena pada hari itulah tulisan saya untuk yang pertama kalinya dimuat oleh salah satu media cetak lokal di Luwuk, yakni Luwuk Post. Luwuk Post adalah bagian dari Jawa Post News Network.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu, saya menulis sebuah opini panjang yang berjudul "Tarbiyah (Harus) Menjawab Tantangan Zaman, Sebuah Otokritik Bagi PKS Kabupaten Banggai". Mungkin karena saking panjangnya, tulisan itu sampai harus dibagi menjadi dua bagian alias bersambung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide dari tulisan tersebut hanyalah sekedar penyegaran sekaligus evaluasi tarbawi bagi gerakan Tarbiyah yang ada di Indonesia, khususnya di Kabupaten Banggai, dalam merespon perkembangan zaman yang makin sarat dengan tantangan ini. Termasuk melakukan kilas balik dua puluh lima tahunan ke belakang terhadap kiprah dan review terhadap periodeisasi gerakan Tarbiyah di Indonesia selama kurun waktu tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sadar, bahwa bahasan ini tergolong cukup berat dan kurang terlalu diminati bagi orang kebanyakan. Bahkan tulisan saya ini bisa dikatakan tergolong 'rawan' akan kritikan dan bukan tidak mungkin, kecurigaan. Demikianlah jelas teman saya yang membaca tulisan saya itu. Namun, saya tidak ingin menulis hanya karena ingin menyenangkan semua pihak. Saya menulis karena saya ingin menyuarakan apa yang saya pikirkan dan rasakan. Kegundahan saya, kecemasan saya, termasuk harapan-harapan saya terhadap perkembangan gerakan ini di masa depan. Adapun jika ada yang ingin mengkritisi, mencaci-maki, mencurigai dan sejenisnya, maka saya siap untuk meladeninya. Tentu saja dalam ruang dialog yang sama, yakni dalam bentuk tulisan dan bukan tudingan-tudingan yang penuh dengan kecurigaan yang dangkal dan tidak ilmiah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, saya tidak ingin merasa puas sampai pada titik ini saja. Ke depannya, saya menargetkan untuk bisa mencantumkan tulisan saya di media tersebut setidaknya dua kali dalam sebulan. Target ini mengharuskan saya untuk menggesah diri lebih maksimal lagi. Salah satunya ialah dengan lebih banyak membaca dan menganalisa perputaran dunia ini secara lebih cermat dan cerdas dari sudut pandang gerakan Tarbiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja, ikhtiar ini harus didahului dengan mengikhlaskan niat saya dan memfokuskan orientasinya pada perbaikan ummat. Saya berharap, coretan kecil ini bisa menjadi seruan yang gaungnya bisa memenuhi salah satu sudut sejarah manusia. Karena baru inilah yang saya bisa lakukan di sela keterbatasan saya sebagai manusia biasa. Semoga Allah meridhoi ikhtiar saya ini. Amin ya rabbal 'alamiin. Dan kepada Anda semua saya serukan: Ayo menulis! Dan ciptakanlah sejarahmu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu Adam, November 2007 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-4296986781209329619?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/4296986781209329619/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=4296986781209329619&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4296986781209329619'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4296986781209329619'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2007/12/menciptakan-sejarah-kita-sendiri.html' title='Menciptakan Sejarah Kita Sendiri'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1nvonKP7AI/AAAAAAAAAIg/eEIluGEU0KY/s72-c/books11.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-33640568888202762</id><published>2007-12-06T21:02:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:48:43.491+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bincang Buku'/><title type='text'>Tidak (Dulu) Untuk Fiksi</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1f0b3KP68I/AAAAAAAAAHo/kBubhycBJW0/s1600-h/read.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 170px; height: 155px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1f0b3KP68I/AAAAAAAAAHo/kBubhycBJW0/s320/read.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140846259167292354" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berdasarkan coretan yang saya buat beberapa waktu yang lalu tentang hutang baca buku saya yang makin menumpuk, akhirnya saya pun membuat keputusan di atas. Keputusan ini berubah menjadi tekad yang ingin saya wujudkan dalam beberapa waktu ke depan, setidaknya sampai bulan Januari tahun besok. Ya, betul. Saya ingin berhenti dulu membaca buku-buku fiksi, baik itu berupa cerpen maupun novel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa alasan yang melandasi keinginan saya ini. Alasan pertama adalah untuk mengganti suasana terhadap bacaan-bacaan saya saja. Saya menyadari bahwa membaca novel terlalu banyak terkadang akan menimbulkan pemikiran yang terlalu fleksibel, bahkan cenderung terlalu cair, selain juga akan berpengaruh kurang baik pada stabilitas emosi saya. Hal itu menurut saya bisa menjadi kontraproduktif, karena dunia ini berjalan pada tataran realitas, dan tidak semua novel yang saya baca berhubungan langsung dengan realitas itu. Walaupun ada satu dua yang memilikinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya mempunyai dasar empirik mengenai hal ini. Karena setelah saya hitung-hitung, ternyata sudah ada lebih dari sembilan belas novel yang saya baca dalam tujuh bulan terakhir ini. Jumlah yang menurut saya tidak sedikit. Jumlah ini jika saya bandingkan dengan buku-buku nonfiksi yang sudah saya baca hingga bulan ini, maka angka itu saya rasa sudah terlampau banyak. Apalagi buku-buku fiksi yang saya baca rata-rata berhalaman tebal dan sebaliknya untuk buku-buku nonfiksi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, saya mulai mengarahkan bacaan-bacaan saya kepada buku bergenre nonfiksi terutama yang membahas tentang sejarah dan pemikiran Islam. Sehingga mulailah saya membaca buku-buku yang lebih bernuansa ilmiah seperti Bangkit Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah karangan Doktor Muhammad Ash-Shalabi, Wajah Dunia Islam karangan Doktor Sayyid Muhammad Al Wakil, Otobiografi Hasan Al Banna karangan Anis Al Hajaji, Dari Kader Untuk Bangsa yang merupakan kumpulan tulisan kader-kader PKS di media cetak, Aku Menggugat Maka Aku Kian Beriman karangan Jeffrey Lang, dan tiga buah buku Tarikh Al Ikhwan Al Muslimun karangan Syaikh Jum'ah Amin Abdul Aziz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedangkan buku-buku novel seperti The Bartimaeus Trilogy, dua novel karangan Najib Kailani, beberapa novel karangan Agatha Christie, dan sebuah novel berjudul Sognando Palestina karangan Randa Ghazy, yang belakangan ini sedang saya nikmati, harus saya simpan dulu untuk sementara. Nanti kalau waktunya sudah tepat, maka saya akan kembali melahap buku-buku novel itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alasan selanjutnya adalah karena saya sedang ingin membuat sebuah tulisan yang sedikit bernuansa ilmiah namun memiliki gaya bertutur seperti sebuah novel yang hidup dan renyah. Itulah mengapa saya banyak membaca novel dalam beberapa bulan terakhir ini. Salah satu sebabnya ialah karena saya ingin mengadopsi teknik penyampaian sebuah fakta ilmiah melalui tulisan yang ringan dan imajinatif seperti itu, tentu saja, dengan tanpa menghilangkan unsur keilmiahannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun novelis yang sangat ingin saya comot gaya berceritanya adalah Najib Kailani. Kenapa Najib Kailani dan bukan Eiji Yoshikawa atau Najib Mahfudz? Satu saja jawabnya: karena Najib Kailani-lah yang menurut saya telah berhasil menyajikan cerita sejarah dengan cara yang apik, menarik, jujur, dan mampu menggerakkan pembacanya. Itulah yang saya lihat dari beberapa karyanya, mulai dari Ar-Rihlah Ilallah, Mawakib Al Abrar, Al Yaumul Maw'ud, dan Layali Turkistan, yang kesemuanya adalah novel sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu, kisah apa yang sebenarnya ingin saya ceritakan kembali melalui versi seorang saya yang masih belajar ini? Setidaknya ada dua kisah. Yang pertama adalah tentang pasukan Al Inkisyariyah dalam Kesultanan Turki Utsmani, khususnya dalam hal sistem rekrutmennya yang menurut saya banyak dikaburkan oleh sejarah. Yang kedua adalah kisah tentang pembunuhan Hasan Al Banna dan konspirasi di baliknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya sudah ada beberapa, baik buku, artikel, bahkan tesis, yang membicarakan tentang tema ini. Adapun saya hanya berusaha untuk belajar membuat sebuah tulisan yang sedikit ilmiah namun memiliki bahasa penyampaian yang renyah dan mudah dicerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa referensi yang sudah saya siapkan terkait dengan dua tema besar itu dan kini saya sedang dalam proses untuk membacanya sampai habis. Saya berharap ini adalah sarana pembelajaran bagi saya sekaligus sebagai upaya pelurusan sejarah tentang sebuah peristiwa yang sudah terjadi berpuluh tahun, bahkan berabad-abad yang lalu. Kapan terealisirnya? Wallahu 'alam, saya belum tahu. Tapi 'ala kulli haal, semoga Allah meridhoi dan memudahkan ikhtiar sederhana ini. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu Adam, November 2007 &lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-33640568888202762?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/33640568888202762/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=33640568888202762&amp;isPopup=true' title='1 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/33640568888202762'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/33640568888202762'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2007/12/tidak-dulu-untuk-fiksi.html' title='Tidak (Dulu) Untuk Fiksi'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1f0b3KP68I/AAAAAAAAAHo/kBubhycBJW0/s72-c/read.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>1</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-4167895748730021981</id><published>2007-12-06T20:37:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:48:47.720+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bincang Buku'/><title type='text'>Sepotong Karton dan Tumpukan Hutang</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1fwlnKP67I/AAAAAAAAAHg/yq6n2BUZUds/s1600-h/ist2_2193842_world_of_books.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 226px; height: 150px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1fwlnKP67I/AAAAAAAAAHg/yq6n2BUZUds/s320/ist2_2193842_world_of_books.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5140842028624505778" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setidaknya ada lima belas buku yang masih mengantri untuk saya baca semenjak pertengahan bulan Oktober kemarin hingga pertengahan November ini. Saya mengetahuinya dari sepotong karton yang terpasang di dinding kamar saya. Sepotong karton itulah yang memuat "jadwal baca buku" saya dalam sebulan. Isinya mulai dari judul buku, pengarang, penerbit, mulai baca, selesai baca, dan keterangan yang berisi kesan saya atas buku yang sudah saya baca itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kolom-kolom yang sudah saya isi baru pada bagian judul buku, pengarang, penerbit, dan tanggal mulai baca. Sisanya masih menunggu untuk diberikan 'keputusan', khususnya pada bagian yang paling esensial yaitu: tanggal selesai baca dan keterangan. Karena bagian itulah yang menunjukkan bahwa saya sudah selesai membaca dan memberikan pendapat singkat terhadap apa yang sudah saya baca itu. Tapi kenyataannya, kolom-kolom itu masih saya 'gantung' tanpa kejelasan alias masih kosong. Inilah yang saya katakan sebagai "tumpukan hutang".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tumpukan hutang itu adalah daftar buku yang sedang saya baca dan belum saya selesaikan membacanya, sebagaimana yang sudah saya singgung di atas. Adapun kelimabelas buku yang menjadi "tumpukan hutang" itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1.    Why Men Don't Listen And Women Can't Read Maps karangan Allan dan Barbara Pease&lt;br /&gt;2.    Sognando Palestina karangan Randa Ghazy&lt;br /&gt;3.    Night At Turkistan karangan Najib Kailani&lt;br /&gt;4.    Wajah Dunia Islam karangan Dr. Sayyid Muhammad Al Wakil&lt;br /&gt;5.    Bangkit dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah karangan Dr. Ali Ash-Shalabi&lt;br /&gt;6.    Dari Kader Untuk Bangsa karangan Kader PKS&lt;br /&gt;7.    Kumpulan Kisah-Kisah Dinasti Ming karangan Feng Menglong&lt;br /&gt;8.    Aku Menggugat Maka Aku Kian Beriman karangan Dr. Jeffrey Lang&lt;br /&gt;9.    Perang Eropa Jilid 1 Karangan P.K. Ojong&lt;br /&gt;10.    Supernova 2 karangan Dee&lt;br /&gt;11.    Dua buku karangan Jonathan Stroud berjudul The Amulet Of Samarkhand dan The Golem's Eye, serta&lt;br /&gt;12.    Tiga buku Tarikh Al Ikhwan Al Muslimun karangan Jum'ah Amin Abdul Aziz&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua ini terjadi karena kesalahan saya yang suka menunda-nunda bacaan saya dan karena, ini yang terburuk, seringnya saya tergoda untuk 'menyelingkuhi' komitmen baca saya di awal. Selain itu, menumpuknya hutang tersebut juga dikarenakan ada beberapa kesibukan yang kerap 'merampas' waktu baca buku yang memang sudah saya alokasikan sebelumnya. Ah, tapi intinya sama saja, semua ini sebenarnya karena manajemen waktu saya yang buruk. Saya pikir, itulah letak utama kesalahan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang, membaca buku telah menjadi 'ritual' wajib bagi saya setiap harinya. Seolah ada yang kurang jika satu hari berlalu tanpa membaca selembar buku pun, tentu saja di luar membaca Al Quran. Pokoknya, tiada hari tanpa membaca buku. Kurang lebih begitulah idealisme saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, saya tidak ingin lagi menggantung nasib buku-buku yang sudah terlanjur saya cantumkan di potongan karton itu. Apalagi di belakang sana sudah mengantri banyak sekali buku yang harus saya baca. Sehingga, untuk menguatkan kembali semangat baca saya dan memenej waktu saya secara lebih baik, saya pun akhirnya mengambil jalur yang cukup radikal, yakni dengan memberikan batas waktu penyelesaian hutang tersebut. Bahasa kerennya waktu Jatuh Tempo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bahkan, mau tidak mau saya juga harus menyiapkan Surat Tagihan Pembaca (STP), Surat Teguran (ST) karena tidak membaca, hingga Surat Paksa (SP) agar membaca. Karena kalau tidak begitu, bisa-bisa saya hanya akan menjadi kutu buku, dan bukan lagi predator buku. Yah, kurang lebih begitulah.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu Adam, November 2007&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;Katanya hari ini mau ada kunjungan anggota DPR ke Luwuk.&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-4167895748730021981?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/4167895748730021981/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=4167895748730021981&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4167895748730021981'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4167895748730021981'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2007/12/sepotong-karton-dan-tumpukan-hutang.html' title='Sepotong Karton dan Tumpukan Hutang'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1fwlnKP67I/AAAAAAAAAHg/yq6n2BUZUds/s72-c/ist2_2193842_world_of_books.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-7054577847527534525</id><published>2007-12-02T23:21:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:48:54.635+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bincang Buku'/><title type='text'>Investasi Intelektual</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1LPpnKP66I/AAAAAAAAAHY/WkMREmFF4L0/s1600-R/bookswsd.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 235px; height: 194px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1LPpnKP66I/AAAAAAAAAHY/h7jC1lpCrws/s320/bookswsd.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139398438576712610" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Beberapa waktu yang lalu saya membuat daftar buku-buku yang telah saya beli sampai dari bulan Maret (yakni dari waktu keberangkatan saya ke Luwuk) sampai bulan November di tahun 2007 ini. Setelah saya hitung-hitung ternyata jumlahnya mencapai tiga puluh enam buku dengan total harga hampir mencapai angka dua juta rupiah. Jika dibuat rata-rata, itu berarti saya membelanjakan uang minimal Rp. 210.000 dalam sebulan selama kurun waktu Maret sampai Oktober akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari jumlah ke tiga puluh enam buku itu, enam di antaranya adalah buku yang sebelumnya sudah pernah saya baca namun saya belum memilikinya, yakni: Ayat-Ayat Cinta, Arsitek Peradaban, Menuju Cahaya, Karena Angin Cinta, Dari Gerakan Ke Negara, dan Pilar-Pilar Kebangkitan Umat. Sedangkan sisanya adalah buku yang benar-benar belum pernah saya baca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, dari ketigapuluhenam buku itu, ada tujuh belas buku yang bergenre novel. Ini berarti hampir lima puluh persen dari total buku yang saya beli. Hal lainnya yang sedikit berbeda adalah, saya membeli buku berbahasa arab untuk yang pertama kalinya dalam hidup saya. Satu jilid kitab Tafsir Ibnu Katsir yang saya pesan lewat kawan saya di Jakarta. Sedangkan hal menarik lainnya adalah, saya 'berhasil' menemukan satu buku yang sudah saya cari-cari dari tahun 2003 lalu, yakni buku karangan Ustadz Anis Matta berjudul Menikmati Demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut adalah daftar buku yang sudah saya beli dalam kurun waktu Maret sampai November 2007 baik yang saya beli ketika saya di Luwuk, Manado, Palu, Makassar maupun Jakarta:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. The Alchemist --&gt; Paulo Coelho&lt;br /&gt;2. Langit-langit Cinta (Ahlul Hamidia) --&gt;  Najib Kailani&lt;br /&gt;3. Meretas Kebebasan (Mawakib Al Ahrar) --&gt; Najib Kailani&lt;br /&gt;4. The Devil's Dance --&gt; Saddam Husein&lt;br /&gt;5. Laila Majnun --&gt; Nizami&lt;br /&gt;6. Blessing In Disguise --&gt; Dr. Khalid Ad Disuqi&lt;br /&gt;7. Sognando Palestina --&gt; Randa Ghazy&lt;br /&gt;8. Karena Angin Cinta (Al Yaumul Maw'uud) --&gt; Najib Kailani&lt;br /&gt;9. Dari Gerakan Ke Negara --&gt; Anis Matta&lt;br /&gt;10. Menuju Cahaya --&gt; Anis Matta&lt;br /&gt;11. Arsitek Peradaban --&gt; Anis Matta&lt;br /&gt;12. Pilar-Pilar Kebangkitan Umat --&gt; Muhammad Abdullah Al Khatib&lt;br /&gt;13. Ayat-Ayat Cinta --&gt; Habibburahman El Shirazy&lt;br /&gt;14. Dzikir-Dzikir Cinta --&gt; Anam Khoirul Anam&lt;br /&gt;15. Problem dan Solusi Kaderisasi --&gt; Abdul Hamid Al Bilali&lt;br /&gt;16. Tarbiyah Askariyah --&gt; Khalid Ahmad Syantut&lt;br /&gt;17. Potret 28 Tokoh Tabiin --&gt; Azhari Ahmad Mahmud&lt;br /&gt;18. Saksikan Bahwa Aku Seorang Muslim --&gt; Salim A. Fillah&lt;br /&gt;19. Taj Mahal --&gt; John Shors&lt;br /&gt;20. Pangeran Pencuri --&gt; Cornelia Funke&lt;br /&gt;21. Night At Turkistan (Layali Turkistan) --&gt; Najib Kailani&lt;br /&gt;22. Mempelai Sang Dajjal (Ar Rihlah Illallah) --&gt;Najib Kailani&lt;br /&gt;23. Di Danau Tak Berbatas --&gt; Tim O'Brien&lt;br /&gt;24. Tafsir Ibnu Katsir edisi Bahasa Arab 4 Jilid --&gt; Ibnu Katsir&lt;br /&gt;25. Maling Sebuah Republik --&gt; Sunaryono K.S. Basuki&lt;br /&gt;26. Saudagar Buku Dari Kabul --&gt; Asne Seierstad&lt;br /&gt;27. Why Men Don't Listen And Women Can't Read Maps à Allan and Barbara Pease&lt;br /&gt;28. Maharani --&gt; Pearl S. Buck&lt;br /&gt;29. Dari Kader Untuk Bangsa --&gt; DPP PKS&lt;br /&gt;30. 11 Amanah Lelaki Menjemput Keping Hikmah --&gt; Bayu Gawtama&lt;br /&gt;31. 3 buku Tarikh Al Ikhwan Al Muslimun jilid 1-3 --&gt; Jum'ah Amin Abd. Aziz&lt;br /&gt;32. Menikmati Demokrasi --&gt; Anis Matta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya masih merasa belum cukup atas apa yang sudah saya lakukan ini. Karena saya masih punya rencana untuk membeli buku-buku yang masuk ke dalam daftar "Buku Wajib Punya" saya. Setidaknya ada sekitar lima puluhan buku lagi yang masih ingin saya buru dengan anggaran mencapai jumlah enam juta rupiah. Kapan tercapainya? Wallahu 'alam. Karena saya masih ingin menikmati buku-buku yang saya beli itu hingga habis dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya termasuk tipe orang yang suka membeli buku dengan cara mencicil satu demi satu. Karena saya merasa kalau saya membeli buku dalam skala massif (alias sekali banyak), biasanya buku-buku itu tidak akan terselesaikan semua dan tak jarang 'nasibnya' berubah dari barang bacaan menjadi barang pajangan. Saya tidak mau seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan tetapi lain halnya jika ada even seperti book fair dan sejenisnya, maka biasanya saya akan memborong buku seperti orang kesetanan. Namun saya lebih menjadikan ajang book fair atau expo seperti itu untuk mencari buku-buku lawas dan jarang ada di toko. Atau sekedar mencari buku-buku dari penerbit yang tidak terlalu 'terkenal' dan sulit dicari. Itu saja.             &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya menganggap urusan belanja buku ini sebagai sarana investasi intelektual. Bahkan saya lebih senang jika harus membelanjakan uang saya untuk membeli buku ketimbang untuk belanja baju atau barang-barang keperluan lainnya. Entah kenapa, kantong ini serasa lebih 'lapang' jika harus disalurkan untuk membeli buku ketimbang membeli hal-hal selainnya. Ini bukan berarti hal-hal lain tidak penting bagi saya. Tapi memang itulah yang saya rasakan selama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan saya sederhana saja. Saya ingin memiliki sebuah perpustakaan keluarga yang bisa menjadi sarana rekreasi intelektual di rumah saya kelak. Perpustakaan inilah yang ingin saya jadikan sebagai salah satu sumber bahan baku bagi madrasah keluarga sekaligus tabungan ilmu bagi keturunan saya suatu hari nanti. Dan menurut saya, demi masa depan, tak ada yang dikatakan sia-sia untuk merajutnya menjadi sesuatu yang bernilai kebaikan dan berorientasi pada perbaikan. Semoga saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Datu Adam, November 2007&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Thanx banget buat Bang Yaser yang sudah menyumbangkan buku Agatha Christie dan Stephen R. Covey-nya kepada saya&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-7054577847527534525?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/7054577847527534525/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=7054577847527534525&amp;isPopup=true' title='2 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7054577847527534525'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/7054577847527534525'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2007/12/investasi-intelektual.html' title='Investasi Intelektual'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1LPpnKP66I/AAAAAAAAAHY/h7jC1lpCrws/s72-c/bookswsd.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-4555921407870537512</id><published>2007-12-02T21:13:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:48:59.609+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Bincang Buku'/><title type='text'>Membacalah, Selagi Bisa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1Kv9nKP6kI/AAAAAAAAADg/szUUImrn5aI/s1600-R/Books01.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 194px; height: 145px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1Kv9nKP6kI/AAAAAAAAADg/ip4URyQ6AXQ/s320/Books01.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139363597802007106" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;“Pengetahuan itu sendiri adalah kekuasaan/kekuatan.” &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;(Dikutip dari Meditationes Sacræ De Hæresibus karya Francis Bacon)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sedang baca buku apa bulan ini? Demikianlah bunyi sebuah topik yang pernah saya lontarkan dalam sebuah forum diskusi di intranet DJP. Tidak ada maksud apapun kecuali sekedar menyediakan sebuah ruang untuk mengevaluasi sampai sejauh mana kita memanfaatkan waktu luang yang tidak banyak itu dengan kegiatan yang positif, dalam hal ini mengisinya dengan kegiatan membaca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sendiri senantiasa meluangkan waktu satu hingga dua jam sehari untuk membaca buku, atau minimal empat jam per pekan. Buku-buku yang saya baca memiliki tema yang beragam. Mulai dari buku-buku keislaman, seperti fiqih, sirah (sejarah), pemikiran barat, sampai buku-buku sastra, entah itu novel, cerpen, maupun puisi. Saya juga tidak membatasi sumber bacaan saya itu hanya dari buku. Adakalanya saya membaca artikel-artikel yang saya download dari internet, atau sekedar membaca tulisan-tulisan sebagian dari Anda semua di Intrablog ini. Kalau ada yang menarik, maka saya akan men-downloadnya, untuk kemudian saya nikmati isinya di kala senggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membaca, ujar salah satu kawan saya di Intrablog (komunitas blog di intranet DJP), ibarat berwisata ke sebuah tempat yang baru. Di sana kita akan menemui hal-hal yang sebelumnya tidak ketahui. Ada banyak pengetahuan akan hal baru yang akan kita temui di tempat itu. Sedangkan menurut Bowman and Bowman (1991: 265) membaca merupakan sarana yang tepat untuk mempromosikan suatu pembelajaran sepanjang hayat (life-long learning). Membaca berarti melakukan suatu teknik bagaimana cara mengekplorasi “dunia” mana pun yang kita pilih dan memberikan kesempatan untuk mendapatkan tujuan hidup kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam sebagai agama yang sempurna, menempatkan kegiatan asasi ini sebagai wahyunya yang pertama. Bahwa gerbang utama untuk menjadi tahu itu adalah dengan membaca. Ini adalah unsur yang paling asasi dari ilmu. Ilmu mendahului iman, begitu jelas para ulama. Oleh karenanya, adalah hal yang sangat tidak masuk akal jika kita menilai islam sebagai diin yang tidak peduli dengan pendidikan. Justru islamlah, menurut saya, agama yang menegaskan bahwa agama dan ilmu bukan sesuatu yang berbeda. Mereka sama-sama penting dan saling memengaruhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang doktor matematika asal Amerika yang bernama Jeffrey Lang bahkan menilai bahwa wahyu pertama yang berarti “Bacalah!” itu adalah sebuah indikasi Islam sebagai agama yang modern dan peka terhadap perkembangan zaman. Perintah ini, membaca, hampir tidak ditemukan dalam ajaran agama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karen Armstrong mencoba merekam kenyataan ini dalam bukunya yang berjudul Buddha. Di dalam bukunya tersebut, Doktor Armstrong mengatakan bahwa, “Ada sebuah doktrin tak tertulis bahwa menyusun biografi Siddharta Gautama adalah suatu tindakan yang tidak sesuai dengan ajaran Buddha. Bahkan bila ada orang yang berupaya mencari tahu tentang sosok sang Buddha, seorang biksu pendiri aliran Lin-Chi Buddha Zen mengatakan, ‘Jika anda bertemu dengan Sang Buddha, bunuh saja’”(sebagaimana tertera pada bagian kata pengantar dari bukunya yang berjudul “Buddha”, diterbitkan oleh Bentang).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan setahu saya, dalam keyakinan lain, ada sebuah doktrin yang menyuruh untuk menuangkan timah panas ke dalam telinga sebagian ummat yang dianggap tak pantas untuk membaca kitab sucinya. Selain adanya privatisasi hak sebagian orang yang diberi otoritas untuk dapat mengakses kepada kitab sucinya, sedangkan selainnya tidak. Islam tidak seperti itu. Perintah membaca menegaskan bahwa islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi hak asasi manusia, yakni menuntut ilmu. Allah ternyata sudi untuk berkomunikasi dengan hambaNya, tidak seperti mereka yang suka memonopoli fasilitas itu secara sepihak dan mengklaimnya dengan alasan agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya, adalah sebuah hal yang sangat aneh dan menggelikan bilamana ada seorang muslim yang tidak suka membaca. Padahal itu adalah perintah purba yang paling asasi dari Tuhannya. Langsung kepada hamba-hambaNya. Jadi, membacalah selagi kita ada dan bisa. Seperti halnya Jostein Gaarder dan Klaus Hagerup yang berkata bahwa, “Aku tahu, setiap kali aku membuka sebuah buku, aku akan bisa menguak sepetak langit. Dan jika aku membaca sebuah kalimat baru, aku akan sedikit lebih banyak tahu dibandingkan sebelumnya. Dan segala yang kubaca akan membuat dunia dan diriku menjadi lebih besar dan luas.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayo membaca!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datu Adam, Oktober 2007&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-4555921407870537512?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/4555921407870537512/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=4555921407870537512&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4555921407870537512'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4555921407870537512'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2007/12/membacalah-selagi-bisa.html' title='Membacalah, Selagi Bisa'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1Kv9nKP6kI/AAAAAAAAADg/ip4URyQ6AXQ/s72-c/Books01.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-4039540790355107598</id><published>2007-12-02T20:30:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:49:08.386+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Coretan Corner'/><title type='text'>Susahnya Menulis</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1Kl_XKP6iI/AAAAAAAAAB4/zv2TWofsxFo/s1600-R/writing1.jpg"&gt;&lt;img style="margin: 0pt 10px 10px 0pt; float: left; cursor: pointer; width: 212px; height: 159px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1Kl_XKP6iI/AAAAAAAAAB4/irmp8gUZK_g/s320/writing1.jpg" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5139352632750500386" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"menulis itu sulit! Tetapi saat kita tidak menulis malah lebih sulit"&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;(Fajar Agustanto)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua pekan terakhir ini adalah masa-masa sulit saya untuk menulis. Saya tidak tahu mengapa. Padahal inspirasi tulisan itu berserak dimana-mana dan datang silih berganti. Namun begitulah, tangan serasa kaku dan imajinasi di dalam kepala ini seolah tak memiliki sanad yang kuat dengan ide yang tengah berhamburan itu. Intinya, saya sedang berada dalam posisi sulit untuk menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya akui, menulis memang bukan kerja yang mudah. Bahkan bisa dibilang sulit bagi kaum pemula seperti saya. Namun saya tidak sepenuhnya setuju jika menulis adalah urusan bakat semata. Saya menilai bahwa menulis adalah sebuah hasil dari pembiasaan dan pembelajaran. Pembiasaan untuk menyampaikan pikiran dan perasaan dalam media yang bisa dinikmati orang lain, yakni tulisan itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemikiran ini saya dapatkan saat memerhatikan komunitas blog ini, yang boleh dikatakan sebagai wadah bagi penulis-penulis pemula, terutama saya. Maka mulailah saya untuk menulis. Dan saya akui, menulis itu tidak mudah. Redaksinya lainnya, menulis itu susah. Tapi saya tidak mau menyerah. Susahnya menulis itu lebih dikarenakan keengganan kita untuk menyuarakan apa yang ada di hati dan pikiran kita. Inilah, menurut saya, yang menjadi dinding penghalang pertama bagi orang yang ingin menulis, atau ingin menjadi penulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Intinya, menulis itu susah. Menulis itu tidak mudah. Itulah dinding penghalangnya. Namun ternyata akan lebih sulit lagi, akan lebih susah lagi jika kita tidak menulis. Inilah jalan keluarnya. Yakni dengan memosisikan kesulitan itu tidak pada saat menulisnya, namun pada saat ke-tidakmenulis-nya. Sehingga judul tulisan ini akan lebih tepat jika berbunyi, Susahnya Jika Tidak Menulis. Tapi biarlah. Anggap judul di atas sebagai trik saya untuk menarik perhatian pembaca, khususnya Anda. He3x..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesimpulannya, ciptakanlah perasaan tak nyaman dalam diri kita jika tidak menulis. Atau menurut istilah saya, jari ini dianggap mati jika tidak lagi menulis. Maka menulislah, walaupun tidak ada yang membaca tulisan kita. Menulislah walaupun tulisan kita tidak pernah dimuat di media cetak. Menulislah, walaupun tulisan kita dihujat. Menulislah, karena ini adalah kerja untuk keabadian. Jadi menulislah, karena betapa sulitnya jika kita tidak menulis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Datu Adam, ba'da Shubuh&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-4039540790355107598?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/4039540790355107598/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=4039540790355107598&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4039540790355107598'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/4039540790355107598'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2007/12/susahnya-menulis.html' title='Susahnya Menulis'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_FjIZBMMg7DE/R1Kl_XKP6iI/AAAAAAAAAB4/irmp8gUZK_g/s72-c/writing1.jpg' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-6898040666153319098.post-5464847380347737395</id><published>2007-12-02T19:51:00.000+08:00</published><updated>2011-06-24T10:49:14.419+08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Soliloqui'/><title type='text'>Iftitah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Assalamu'alaykum wr wb.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat datang di blog sederhana saya ini. Saya berharap agar karya sederhana ini bisa membagi manfaat bagi kita semua. Masukan dan saran perbaikan saya harapkan dari Anda semuanya. Terima kasih.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Wassalamu'alaykum wr wb&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/6898040666153319098-5464847380347737395?l=www.wahidnugroho.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.wahidnugroho.com/feeds/5464847380347737395/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=6898040666153319098&amp;postID=5464847380347737395&amp;isPopup=true' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5464847380347737395'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/6898040666153319098/posts/default/5464847380347737395'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.wahidnugroho.com/2007/12/iftitah.html' title='Iftitah'/><author><name>Wahid Nugroho</name><uri>http://www.blogger.com/profile/08553970275912715068</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='33' height='26' src='http://2.bp.blogspot.com/-3e9bA2F04_w/Tnvxmu9q-7I/AAAAAAAAAYg/cnUnkYUN2p0/s220/utyuio.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry></feed>
